Senin, 31 Mei 2010

Siluet Keringat

Pemasangan salah satu dari tiang penyangga utama
Alua Mas Soerachmat Universitas Jember (1/12/2009)



Pekerja membangun Gedung Mas Soerachmat di Universitas Jember
gedung perkuliahan baru yang digunakan untuk Program Studi Sistem Informasi
(1/12/2009)



Foto pekerja asal Banyumas dalam proses pembangunan
perpustakaan 7 lantai di Univeritas Jember. (1/12/2009)


Halal

Kemarin Tanya, beda duit halal duit haram

Kau bilang tak beda

Aku bilang beda


Duit haram ada sperma

Duit halal di kotak amal


Kita setuju lalu pulang

Makan dari kotak amal

Uang sperma buat amal

Biar besok bisa makan

Pagi

Itu pagi kenapa datang tepat waktu?

Aku masih mau mimpi. Biar sebentar!

Matikan! Matikan semangat.

Biar nanti bikin yang bagusan, yang ada renda merah jambu



Sekarang selimut naikan, guling bantal juga

Mimpi ketemu artis bintang pakek dasi.

Itu selambu gelapkan, biar suara ayam subuh tak kelihatan

Tidur, sebentar siang bisa segar.

Mimpi ayo Tidur.

Demi pusara cobain aku bersumpah


Di Mississippi dimana blues berdiri melawan tirani aku berjanji

Tak akan berhenti berlari menuntut adil!


Di Broadway dimana lagu dan gerak bukan imaji aku berjanji

Mereka yang terlentang ditundukan parang akan bangkit kembali untuk meradang!


Atas nama Osborne dan sepuluh Marilyn Manson yang dikebiri

Berhenti makan McD! Ini bayi butuh susu!

Itu langit-langit

Hei yang diatas! Cepat turun! Ini sampah sudah banyak! Segera buang!

Jangan bikin wangi, percuma! ini bau sejak dulu.


Hei yang di atas! Cepat turun! kamu lupa berhenti?

Waktu sudah habis, yang lain nunggu birahi pengen naik


Hei yang diatas! Cepat turun, itu langit-lagit cuma sebuah!

Bukan buat kamu saja, semua punya privilege


Itu langit-langit mesti dibuat runtuh

Biar semua di bumi sama tinggi


Lalu semua pergi mencari, cari lagi langit-langit

Itu langit-langit memang legit, susah turun jadi legit


Itu langit-langit bikin sembelit, takut turun ingin tetap dikempit

Asu ! Cepat turun, itu langit-langit mesti dibuat runtuh!

Gadis berkawat gigi itu


Amicitiae nostrae memoriam spero sempiternam fore[i]


Sebetulnya saya malas menuliskan kisah manusia yang satu ini. Jika bukan karena saya baik hati dan tidak sombong, mungkin saya lebih memilih untuk latihan fitness dan membentuk otot-otot trisep saya di gym. Yah apa boleh buat saya menulis sekedarnya saja, untuk mengisi waktu kosong daripada memikirkan kasus Manohara. Ya memang benar mukanya bombastis, namun bukanlah alasan yang esensial untuk membahas manusia ini. Tapi hidup adalah kejutan, maka marilah kita kenali sedikit sosoknya. Konon katanya, seperti yang tertulis di kartu tanda penduduk Republik Indonesia. Nama gadis ini adalah Thalita Aprilia. Nama yang aneh mengapa namanya bukan Bejo Prawiro Dirjo atau Bambang Sugema Coledge? Entahlah hal itu masih menjadi rahasia sampai sekarang.


Menurut sumber yang bisa dipercaya, ia tinggal di salah satu kota diujung pulau jawa. Menilik data intelejen yang saya miliki, ia tinggal di kota Banyuwangi. Lokasi sebenarnya dirahasiakan demi kepentingan penyelidikan pihak berwenang. Selama ini ia tercatat sebagai mahasiswa(i) program studi Diploma Tiga Perpajakan Universitas Jember. Entah kenapa ia mengambil studi ini. Tapi menurut kabar burung yang berterbangan di jalanan, alasannya sederhana. Ia tidak lulus SPMB. Pelajaran moral nomor #21, jika kau tidak lulus SPMB jangan bunuh diri masih ada program studi diploma!


Secara fisik ia seperti manusia kebanyakan, masih dalam spesies Homo Sapiens generasi pertama. Berbadan semampai, kurus, dan nampak seringkali berjalan bungkuk. Hal ini masih dikonfirmasi adakah hubungan antara kebungkukannya dengan rantai evolusi manusia darwin yang hilang. Gadis ini sebenarnya cukup manis jika anda memaksakan diri menatapnya tanpa henti selama dua hari. Sungguh, ia punya pesona tersendiri yang hanya bisa dilihat dengan mata batin. Tetapi ingat, jangan melakukan kontak fisik secara langsung bisa-bisa anda di gampar!


Penampilanya modis khas gaya anak muda gaul masa kini. Tentu saja didikan majalah-majalah post- teenage yang high end. Celana pensil, kaos distro dan sekali-kali jaket butut yang saya yakin dulunya berwarna hitam. Soal pakaian ia tidak banyak ulah, ini mungkin salah satu dari sedikit hal yang membuat saya kagum padanya. Yah seperti yang banyak kita ketahui, perempuan sangat rewel terhadap penampilannya. Namun mahluk yang sepertinya perempuan ini tidak seperti itu. Gaya semau isun (saya dalam bahasa osing) dan acapkali menolak memakai rok membuatnya tampak “wow” dimata saya.


Sesungguhnya saya malu dan takut untuk mengingat awal perkenalan kami, bukan karena taruma psikis akibat kekerasan seksual. Namun lebih pada ingatan jika saya mengira dia cewek manis yang lumayan bikin hati saya keder. Jika anda ingin tau bagaimana perasaa saya saat itu, hmm agak susah membayangkannya. Ah mungkin seperti ini. Perasaan saya saat itu seperti perasaan Amerigo Vespuci saat menemukan benua Amerika, perasaan Julius Caesar saat menaklukan Eropa atau seperti perasaan Minke saat pertama kali bertemu dengan Annelies.


Perkenalan kami dimulai saat sama-sama menjadi panitia Inauguarasi Fisip Unej. Kebetulan ia teman salah satu orang yang saya ajak menjadi panitia. Sosoknya kala itu sangat menggoda, saya ingat saat itu gadis ini menggunakan baju berwarna abu-abu V-neck yang memperlihatkan pesona cuek yang begitu menggoda. Kala itu rambutnya lurus sebahu, penampilan seadanya, dan sedikit sekali berbicara. Ohhw anda bisa bayangkan betapa menarik dan manisnya ia kala itu.


Sungguh saya yang rapuh dan lugu tidak tahu bahaya apa yang saya hadapi saat mengenal gadis ini. Pesonanya membius dan menaklukan otak pendek saya. Yah kala itu saya masih polos, masih rajin mengaji dan masih belum hobi ngutang kopi dimana-mana. Singkatnya saya masih baik-baik saja saat itu. Bayangkan anda menemukan gadis dengan pesona gabungan Ronaldino dan Luna Maya disaat yang bersamaan, apa yang akan anda lakukan? Saat itu saya hanya bisa diam, sok cuek berharap berat badan saya yang berlebih bisa menjadi pesona untuk dia.


Tetapi nyatanya hal ini hanya sebuah kamuflase saja sodara-sodara. Thalita adalah gadis bengis yang kejam. Bayangkan saja sodara-sodara, dia rela membuat orang tertipu dengan senyum manisnya. Kemudian membuat kita menjadi budak, disiksa, lalu kemudian diinjak-injak. Itulah dia saudara-saudara! Oh! Kembalikan masa mudaku!


Gadis penderita insomnia ini memiliki indikasi memiliki gangguan anorexia juga. Ia seringkali ditemukan onlen pada tengah malam sedang online dan ia jarang sekali terlihat makan di depan umum. Ada sebuah informasi yang mengatakan bahwa gadis ini hanya makan nasi putih dan sayuran hijau saja. Diet yang ketat, entah apa tujuannya. Hati-hati jika anda berada didekatnya. Bisa saja dia sedang mempraktekan ilmu hitam yang bisa mengubah manusia menjadi ubur-ubur atau burung blekok.


Untunglah bencana ini sudah bisa teratasi. Menurut kabar burung yang berterbangan di jalanan, gadis ini telah diterima di salah satau perguruan ternama di kota pahlawan. Kabar diterimanya gadis ini sontak disambut gegap gempita Univeritas Jember dan pegiat pers Tegalboto. Tempat dimana ia biasa menyebarkan teror dan bahaya. Sekarang dia masalah Surabaya dan Unair! Hahahahahah akhirnya kami bisa terbebas dari teror yang melanda ditanah Jember! Terima kasih tuhan!


Kepergian yang seharusnya menyenangkan ini, entah kenapa membuat gundah gulana. Memang sebagai bencana ia harus dibuang jauh-jauh, namun keberadaanya sudah menjadi da sein dalam keseharian saya. Sebuah mistik keseharian yang mengisi hari-hri saya. Memang dia sangat menyebalkan, namun ia seorang teman yang selalu ada saat dibutuhkan. Ia rela duduk berjam-jam mendengar celotehan saya, makian saya, kesedihan saya dan kemarahan saya. Meski saya curiga sebenarnya ia autis, namun ia seorang pendengar yang baik.


Ia memang selalu sial dalam percintaan, belum pernah ada mahluk menyerupai laki-laki yang bersedia menjadi pacarnya. Namun hal ini tidak membuatnya lantas berhenti dan putus asa. Ia tetap berusaha, mencari laki-laki dijalanan ibukota, pecinan dan sebagian di pasar. Berharap kelak menemukan seorang prince charming yang mirip Desta club Eighties. Meski akhirnya yang ia temukan hanya seorang laki-laki obesitas kribo yang cukup manies (saya sendiri maksudnya). Tetapi dalam hati saya selalu yakin ia akan memperoleh segala hal yang ia cita-citakan nantinya.(amien)


Kebengisan gadis ini memang sudah tidak perlu dipertanyakan. Namun hal itu lebih karena ia sayang terhadap saya dan teman-teman saya. Ia rela marah-marah apabila ada hal yang tidak beres, memperingatkan kami sahabatnya yang jatuh untuk bangkit dan terus menjalani hidup. Walaupun ada bukti ia penyembah batu, namun beberapa orang meyakini gadis ini tidak pernah lupa sholat. Ia seringkali puasa meski alasan sebenarnya sedang tak punya uang.


Semoga saja Surabaya bisa sabar dan menjadikan Thalita sadar. Bahwa kemajuan (gigi) yang dimilikinya adalah nyata dan dapat menjadikannya sebagai orang yang sukses. Saya jarang sekali memuji gadis ini, karena memang ia lebih pantas dihina dan dirajam. Tetapi ia sudah membuat beberapa karya grafis yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia juga pernah menggoreskan pena tajamnya di UKPKM Tegalboto. Hal ini akan saya kenang dalam sudut hati saya yang paling hangat.


Adalah sebuah keterpaksaan menulis biografi untuknya, namun ada sebuah perasaan banga dan cinta kasih bisa mengenalnya. Mungkin saat ia membaca tulisan ini ia akan tertawa , mengumpat lalu mengirimkan saya brownies amanda 2 loyang (amien). Tiba-tiba muncul sebuah kerinduan yang berkecambah dihati, saat saya menulis kata-kata ini. Semoga saja ia tetap menjadi nenek sihir yang bersahabat dan tidak akan melupakan kami sahabatnya di Jember ini. Serta saya sebagai satu-satunya fans abadi senyuman gigi mancung miliknya. Akhirul kata Deus vobiscum - semoga tuhan bersamamu tah. Wassalamualaikum...


[i] (I hope that the memory of our friendship will be everlasting)

Moehamad Rosyidin ; tentang Titi, seksi dan image.



Hari itu panas sekali, kira-kira 34’ C. Berkubang dalam kolam renang mungkin sangat menyenangkan. Saat itu waktu menunjukan pukul 11 siang. Tapi Ochi, pria macho itu biasa disapa. Nampak segar bugar dan tak nampak gurat kelelahan diwajahnya. Mungkin efek global warming belum bisa menjamah keperkasaan Ochi yang dicapai lewat latihan berjam-jam di Gym 2 kali seminggu. Wajahnya lumayan tampan, meski untuk bukan ukuran standart yang akan diterima oleh casting sinetron. Namun cukup tampan untuk bisa menaklukan perempuan-perempuan yang ada di Unej ini. Tawanya yang khas sulit untuk bisa ditiru bahkan oleh Negara Cina sekalipun. Tawanya yang berderai-derai dengan sudut bukaan mulut tertentu sehingga bisa menimbulkan suara ahag-ahag-ahag yang khas.

Tepat pukul 11.10 siang nampak 2 mahasiswi berjalan beriringan. Serta merta Ochi menyenggol tanganku. Memberi tanda untuk memperhatikan salah seorang diantaranya. Perempuan manis berkerudung coklat bernama titi (bukan nama sebenarnya) itu tersenyum sangat manis. Sesaat saya sendiri dibuat sangat terpukau. Bagaimana tidak? Titi sangat cantik, manis, modern namun tetap religius secara bersamaan. Kini saya tahu mengapa Ochi sering mangkal di jembatan tiap hari. Mungkin inilah penyebabnya Titi. Seorang gadis manis, wow sekarang dia akan memiliki satu lagi penggemar rahasia.

Setelah titi dan temanya berlalu saya bertanya kepada Ochi “mas ayu yo? Seger delok’e”

“iyo le, Titi namanya” ochi berujar sambil tetap cool.

“akhir-akhir ini populasi mahasiswi berkerudung mulai bertambah yo? Kira-kira kenapa mas?” tanyaku sok imut.

“populasi gundulmu, mbok piker kewan populasi?” katanya sambil tertawa khas.

Menurutnya kecendurungan mahasiswa mulai banyak berkerudung bisa jadi merupakan pengaruh dari film Ayat-ayat cinta (AAC). Kesuksesan novel dan filmnya berdampak secara tidak langsung terhadap trend mahasiswi dalam life style mereka. Kemudaian saya berikan perbandingan dengan mahasiwi-mahasiswi berpakaian up-to-date (baca:seksi). Saya menyanggah pendapatnya tentang teorinya tentang AAC karena meski film dan novelnya sukses. Populasi mahasiwi-mahasiswi up-to-date juga menunjukan jumlah yang banyak atau jika boleh meminjam bahasa teman saya Erik. Jumlahnya meningkat secara significant.

Ia kembali menjelaskan dengan senyum manisnya, bahwa life style juga memiliki beberapa variabel-variabel pembentuknya. Seperti bacaan, dorongan kebutuhan dan apa yang kita konsumsi. Apa yang kita baca adalah apa yang membentuk pemikiran kita. Bacaan memberikan kontribusi terhadap cara kita berfikir, mengkonstruksi logika kita dan menawarkan pilihan idealisme. Ochi juga mengeluhkan penurunan kualitas buku bacaan mahasiswa saat ini yang hanya terjebak pada buku-buku self empowering dan buku-buku pembentukan kepribadian. Buku-buku semacam itu hanya buku bacaan ringan (ia mengklasifikasinyanya sendiri).

Variabel kedua adalah dorongan kebutuhan, mahasiswi-mahasiswi up-to-date tadi mungkin memiliki kebutuhan from nobody become somebody, kebutuhan menjadi pusat perhatian, kebutuhan menjadi terkenal atau dikenal dan yang terakhir kebutuhan akan pujian. Subjektifitas yang masuk akal aku menyebutnya. Wanita mempunyai kecenderungan untuk disayang dan dimanja. Hal inilah yang kemudian berkembang menjadi kebutuhan akan keberlangsungan sebuah eksistensi perempuan.

Variabel ketiga adalah apa yang mahasiswi-mahasiswi up-to-date tersebut konsumsi. Apa yang konsumsi akan mendefinisikan kita, begitu ochi berpendapat. Sebagai contoh mahasiswi berpakaian trendy merek dari butik terkenal, sepatu yang lagi nge-hips, make up ini itu. Mahasiswi tadi ingin mencitrakan diri sebagai seseorang yang high class. Akan sangat kontras dengan saya yang gak tau malu dan slengean. Saya ini merupakan produk-produk cuci otak TB.

Sebagai sebuah perbandingan. Teman (mesum) baik saya. Inu Basidjanardana dalam mengatakan bahwa sebuah proses simbolisasi bawah sadar seseorang terjadi akibat adanya factor eksternal yang kemudian tanpa disadari oleh individu itu berubah menjadi simbolisasi diri yang kemudian digunakan untuk menarik masa. Dalam kasus ini, perempuan secara tidak sadar menginternalisasi trend, buku bacaan dan apa yang mereka konsumsi menjadi bagian dari pesona yang kemudaian membuat mereka tampak sangat menarik. Simply irresistible.

Kembali lagi tentang Titi (yang senyumnya kini bikin saya panas dingin) yang cantik dan anggun dengan kerudung. Saya bertanya-tanya tentang keputusannya mennggunakan kerudung. Dengan variabel-variabel yang ditawarkan Ochi tadi saya belum mendapatkan jawabannya. Saya berpendapat bahwa kondisi social dimana Titi tinggal dan pola pendidikan yang diberikan orang tuanya, bisa jadi hal paling berpengaruh dalam pembentukan Titi saat ini. Saya sepakat dengan pemikiran dari Irmayanti Meliono dalam artikelnya perempuan dan ritual. Ia berpendapat bahwa didalam lingkungan social budaya, perempuan melakukan interaksi, dan berdialong dengan berbagai orang. Melalui dialog tersebut terjadi hubungan yang akrab dan harmonis, karena masing-masing dapat menerima dan menghargai berbagai pendapat sejauh didukung dengan argument yang logis dan rasional. Dengan memberikan pemahaman demokratis akan pentingnya pemakaian kerudung dan segala hal yang akan mengikutinya. Merupakan sebuah doktrinisasi ritual agama yang tidak memaksa malah mengajak dengan lembut dan efektif.

Soeharto,paranoid dan post colonial

Hari itu makin panas saja. Pantat dan tenggorokanku terasa perih. Tapi sekali lagi manfaat olahraga menjadikan Ochi tahan banting di segala situasi dan kondisi. Dia tetap tenang-tenang saja meski memakai jaket, dan gurat lelah apalagi panas tak tampak diwajahnya. Tiba-tiba saya melihat teman saya Indra sedang bersama temannya yang berasal dari luar jawa. Terbersit sebuah pertanyaan ringan yang hendak saya lontarkan pada pria (yang katanya manis) disebelah saya ini.

“mas opo’o yoh kok arek-arek Padang iku senengane kumpul karo arek sak daerah’e?” aku bertanya sambil menyeka keringat dijidatku.

“yoh mergane mungkin mereka merasa nyaman saja dengan teman-teman sesamanya” katanya tetap saja dengan wajah (sok) cool yang membuatku bikin merinding.

Lebih jauh ia menjelaskan bahwa sikap ekslusifitas itu merupakan bentuk dari upaya menjaga identitas cultural yang mereka punyai. Jauh dari rumah dimana kita biasa tinggal, berbahasa berbudaya dan berperilaku. Semua itu membuat mereka merasakan ketakutan akan terkikisnya sebuah identitas yang dibangun dari mana kita berasal. Dengan ekslusifitas dari sesama daerah, yang biasanya dipayungi oleh organisasi-organisasi premordial. Mereka mahasiswa-mahasiswa daerah tidak perlu merubah bahasa dan perilaku khas daerah masing-masing. Ochi juga berpendapat bahwa sikap tersebut bisa jadi juga disebabkan oleh inferioritas berada di tempat yang jauh dari rumah. Ia membuat teori menarik tentang kosnpirasi Soeharto dengan usaha jawanisasi Indonesia.

Ochy berpendapat bahwa, dulu saat orde baru masih berkuasa Soeharto berusaha memarginalkan orang luar daerah dengan segala cara. Seperti pembatasan kekuasaan jabatan yang biasanya hanya dipegang oleh militer atau orang jawa saja. Ia kemudian menguatkan teori konspirasi Soeharto (saya menyebutnya begitu) dengan program transmigrasi. Ia mempertanyakan kenapa harus orang jawa yang harus pergi keluar? Jika ingin memajukan kenapa tidak melakukan pendidikan putra-putra daerah luar jawa, dan memandirikan mereka. Dan jika masalahnya adalah jumlah penduduk jawa yang luarbiasa meningkat, mengapa program KB tidak dioptimalkan? (Dua peryantaan terakhir adalah kesimpulan saya sendiri)

Saat panas yang tidak tertahankan mulai merambat naik, omongan ngelantur tadi mulai makin ngealntur. Sambil menikmati kwaci hasil curian teman saya anak AN, pembicaraan kami ngelantur soal apa itu inferior. Berhubung saya metaok saya pikir inferior itu interior. Jadinya dalam pikiran otak saya yang segede upil gajah ini mempertanyakan antara interior dengan teori konspirasi Soeharto. Namun jawaban pertanyaan tersebut terjawab saat ia mengatakan post-kolonial. Post-kolonial melahirkan sikap inferioritas, yaitu sikap rendah diri akibat terlalu lama dijajah. Setidaknya itu arti yang dijelaskan Dyah (orang suku papua, mantan pimred TB) pada saya. Inferioritas akhirnya melahirkan ketidak percayaan diri, menganggap apa yang dilaur dirinya lebih baik dan lebih indah. Sehingga orang—orang inferior cendrung menjadi rendah diri dan menutup mata atas potensi yang ada.

Arti Pergerakan

Panas sudah sangat kurang ajar, membakar setiap lemak dari selulit tubuh saya. Saya minum tegukan terakhir pocary sweat saya. Sesaat mata usil saya melihat teman-teman ekstra dari I kuadrat. Kemudian iseng-iseng saya bertanya pendapatnya tentang teman-teman ekstra.

“mas sampean ngerti ceritone PSM tah?” kataku.

“sing endi? Oh iyo aku tau rungu” ia menjawab.

“konyol gak sih, mereka mempermasalahkan hal-hal yang gak penting!” kataku.

Untuk kalian yang belum mengerti ada apa dengan PSM fisip, ijinkan saya untuk menceritakannya. PSM adalah sebuah UKM yang sulit terlacak keberadaanya di fisip. UKM yang memiliki anggota namun tidak memiliki kesekretariatan. UKM yang kemudian pada kongres Fisip dipermasalahkan izin, keberadaan dan struktur pengurusnya. Yang menjadi masalah adalah mereka UKM PSM dalam keikutsertaanya mengikuti kongres tidak mengikuti AD/ART kongres. Disinyalir keberatan diajukan oleh teman-teman ekstra –yang kita sama ngerti tabiatnya- yang duduk dalam kepengurusan HMJ dan BEM.

Menurutnya organisasi ekstra kampus (ekstra) yang memproklamirkan dirinya organisasi pergerakan hanya sebuah organisasi kosong saja. Menurut Ochi, ekstra hanya terjebak pada wacana internal organisasi dan berhenti disitu saja. Tidak ada tindak lanjut dari wacana yang didiskusikan. Berbagai hal mendasari fenomena tersebut. Seperti : doktrinasi dari anggota senior dari organisasi ekstra tersebut. Adanya kepentingan dari tiap individu dalam keanggotaan ekstra tersebut. Dan yang paling parah adalah, mereka hanya bisa menilai orang lain tanpa ada kemauan dan kemampuan untuk introspeksi diri. Hal ini berdasarkan pengalamanya saat menjadi mahasiswa baru nan culun dimana ia mendengar penghinaan dan cibiran dari salah satu ekstra yang merasa superior dan mengiferiorkan ekstra lain. Dengan gagah berani kemudian ia menjawab “heh asal kamu tahu saya ini anggota organisasi ekstra **** (sensor untuk melindungi korban), kami ini malam berwacana, pagi langsung aksi!” kemudian dia melanjutkan. “dari pada kamu **** (sensor untuk melindungi pelaku) hanya bisa berwacana kosong tanpa ada implementasi nyata” katanya berapi-api mirip pak karno saat hendak buang hajat.

Rafli mantan Pemimpin Umum saya sebelumnya pernah berteori. Mereka (anak-anak ekstra) hanya terjebak pada kepentingan saja. Mereka terjebak pada ekslusifitas dari kelompoknya sendiri sehingga gagal membangun citra baik keluar. Ochi juga berasumsi bahwa setiap ekstra memiliki pelindung dibelakangnya. Ekstra merupakan produk terusan dari partai kelompok-kelompok tertentu yang bertopeng pergerakan. Ekstra hanya sebuah produk perpanjangan tangan partai dalam melakukan kaderisasi di ranah kampus, yang seharusnya bebas dari partai politik!.

Ochi juga mengkritisi salah satu ekstra yang menawarkan kemapanan matrealisme melalui kedok penelitian lapangan, survey, dan beasiswa. Apa korelasi dari sebuah pergerakan dan hal-hal tadi? Tidak ada, semua itu hanya sebuah umpan dalam menarik keanggotaan dalam organisasi munafik yang berkedok pergerakan. Jika dengan dibandingkan dengan Tegalboto, yang dengan sangat kejam dan brutal mendidik anggotanya dalam berproses. Eksistensi diukur dari karya, mending diam. Anda lebih baik diam daripada bicara namun tanpa karya.

Pesan Pram yang romantis untuk para penulis


Menulislah terus. Jangan pedulikan apa dibaca orang atau tidak.

Suatu saat pasti tulisan itu akan berguna.

Gus dalam sebuah pamflet Obat



Saya tidak begitu mengenal orang tua yang satu ini, dan tidak akan berpura-pura sok kenal. Buat saya ia hanya seorang tua yang sensasional, sok dan sombong. Tindak tanduknya menyebalkan, tidak tahu etika, udah cacat tapi masih saja cari perhatian saja. Saya sendiri salah satu orang yang setuju ia dilengserkan 7 tahun lalu. Jujur, saya kurang begitu percaya akan kemampuannya saat menjadi presiden. Buat saya bagaimana ia bisa memimpin negara, jika melihat dan berjalan saja susah. Pernyataannya banyak sekali kontroversi, doyan mencopot menteri, selalu mendengar bisikan dan yang jelas ia suka sekali jalan-jalan keluar negeri.

Sampai suatu saat saya membaca sebuah komik kecil tentang hidupnya. Saat itu saya di Jogja, di kontrakan seorang kawan. Saya begitu terkesima dengan jalan hidupnya, bagaimana ia menjalani dan mengisi masa mudanya. Bagi saya yang gelagapan membaca Karl Marx akan sulit membayangkan jika ia pada masa SMA sudah tuntas melahap Das Kapital. Pemikirannya tentang pluralisme, kesetaraan gender dan sekedar teguh pendirian meski dicerca. Lahir dalam keluarga “darah biru” Nahdatul Ulama, dan sanggup berbicara dalam banyak bahasa. Tidak membuat ia menjadi manusia yang sombong. Kerendahan hati dan sulitnya mendendam, konon yang membuat banyak umat menjadi jatuh hati padanya.

Hanya sedikit orang yang memahami keluwesannya dalam bertindak, bukan karena ia seorang aburd macam Albert Camus. Namun lebih seperti Socrates tua yang pergi ke pasar menyalakan petasan kesadaran atas tatanan norma munafik yang banal. Gus putra seorang kyai besar, yang membangun organisasi tua dari bawah. Merintis pelan-pelan sehingga menjadi sebuah raksasa besar yang berbasiskan keilmuan islam pesantren tradisional. Gus adalah seorang tua bijak yang besar dari deretan didikan dan bacaan yang gagal fanatis dalam pesona agama dogmatis.

Ialah Gus yang berani membiarkan ketakutan dibungkam, melepaskan kemerdekaan bagi kaum sipit untuk berekspresi, untuk berkeyakinan dan untuk memberi angpau saat imlek. Ialah Gus yang siap berdiri paling depan dalam usaha toleransi dan pembaruan atas nama kedamaian. Dan bukan paham sempit buta peledak diri di jalanan. Ialah Gus yang datang pelan dituntun perbedaan untuk menyatu dalam bahasa kedamaian, pelan, sendirian dan tabah. Ia mungkin pernah jatuh di tikam sekumpulan Hyena bersafari di senayan. Sekumpulan anak taman kanak-kanak yang belum tuntas membahasakan kepentingan rakyat dari pada kepentingan nikmat.

Gus yang lari dari negeri piramid menuju negeri Syahrazad untuk belajar bebas. Bukan bebas tanpa tanggung jawab, tapi bebas dengan sikap. Sikap untuk melenyapkan hal yang kukuh kolot statis menuju sikap yang luwes moderat dinamis. Ia bukan wali,sungguh mati bukan. Ia tak patut disembah, bukan karena ia berucap tuhan tak perlu dibela. Karena ia yakin ia hanya sekedar manusia dengan sedikit kelebihan yang dimiliki. Ia sama seperti kau, saya, kita dan mereka. Namun tak memiliki mata yang seringkali tertutup kepentingan, nafsu dan fanatisme.

Islam adalah Rahmatan Lil Alamin itu final dan titik. Lalu kenapa ada yang membawa parang berteriak Allahuakbar? Dengan semangat merusak dan menghancurkan mereka yang berbeda. Ia kah tuhan? Bukan Ia hanya sekumpulan domba yang tersesat dari gembala-gembala sabar dan syukur. Gus mungkin sering dihujat, menerima baptis, satanis atau bahkan kafir! Oh bukan, bukankah agamamu adalah agamamu dan agamaku adalah agamaku? Lalu mengapa kalian memaksakan?

Gus adalah aspirin, viagra dan segenap lexotan dalam satu waktu. Ia memberikan trance dalam perbedaan, meredakan nyeri ketakutan, dan memberikan gairah persatuan. Ia tak perlu resep, tak perlu dosis, karena kitalah yang tau apa penyakit kita. Apakah itu kebencian, prasangka, fanatisme sempit atau bahkan superioritas diri. Maka ambilah sebutir, rasakan bedanya, berjalanlah dalam lorong sempit bernama kesadaran diri. Yang diapi t gereja persatuan, masjid perdamaian, dan pura kebebasan. Tarik tujuan anda, ia mungkin sudah dicerai berai tanah, tersublimasi menjadi dzat yang menunggu jumpa di akherat. Sama seperti Gandhi, Mirza, Sidharta dan putra Maria. Lalu kenapa kau masih disini dan diam? Ambilah sebutir. Lalu rasakan bedanya, jika sakit anda masi berlangsung, maafkan saya mungkin memang stadium penyakit anda sudah akut. Dan perlu amputasi hati.

Minggu, 30 Mei 2010

Saat Redaksi Harus Memilih

Kebenaran adalah omongan banyak orang, namun urusan sedikit orang

(George Berkeley)


Seorang kawan pernah terkejut saat saya berteriak mengumpat saat menonton sebuah berita. Sesaat ia menegur saya mengapa saya marah-marah dan mengucapkan sumpah serapah. Secara pribadi saya jengkel dengan kualitas pemberitaan salah satu stasiun televisi lokal. TV One yang saat itu memberitakaan tentang penggerebekan teroris di Temanggung, Jawa Tengah. Salah satu reporter lapangan TV One yang saya anggap sok tahu adalah Ecep S. Yasa. Seorang wartawan yang kemudian dikarbit menjadi wartawan spesialis terorisme oleh TV One.


Kekecewaan dan kemarahan saya bukan karena alasan pribadi. Kualitas pemberitaan dan akurasi pemberitaan TV One yang membuat perasaan saya tidak karuan. Sadar atau tidak kemampuan tim redaksi TV One dalam pemberitaan penggrebekan Temanggung sangat buruk. Berulangkali statement yang diberikan oleh pembawa berita dan reporter lapangan TV One meleset dari apa yang dikatakan. Seorang wartawan senior asal Jember, Oryza Ardiansyah pernah berkata kepada saya. “Wartawan ibarat pedagang yang menjual kepercayaan. Seorang wartawan memberitakan sesuatu yang belum dilihat, di dengar dan diketahui secara jelas oleh khalayak”. Maka sangat penting untuk menjaga kepercayaan itu.


Sejalan dengan pemikiran itu, saya pribadi kemudian menjadi kesal dan mempertanyakan apa saja kerja tim redaksi berita TV One. Bagaimana bisa dalam pemberitaan media mereka bisa sangat kecolongan sehingga bisa berulang kali memberitakan informasi yang salah bahkan ngawur? Haram hukumnya sebuah media memberi pemberitaan ngawur, salah apalagi bohong. Robert Vare, yang pernah bekerja untuk majalah The New Yorker berpendapat sama. Kesucian seorang wartawan terletak pada fakta dan akurasi kebenaran beritanya. Maka cukuplah hal ini menjadi afirmasi kemarahan dan sumpah serapah saya atas kualitas pemberitaan TV One saat itu.


Politik redaksi: nurani vs pasar


Pers mahasiswa adalah sebuah entitas penerbitan pers alternatif. Pers yang konon katanya bebas dari kungkungan kepentingan dan mencoba menjadi idealis. Kabarnya demikian, namun seringkali pemberitaan media dan fakta dilapangan kontras dan berbeda. Pemberitaan yang bias makna, syarat kepentingan dan seringkali tanpa disertai cover both side.


Pemberitaan media yang demikian bisa dikatakan sebagai media yang tak layak terbit atau media sampah. Karena media yang tidak mampu menyuarakan kebenaran harus dimusnahkan. Meningat media yang mempunyai fungsi sebagai penyampai kabar, informasi, dan sebuah media komunikasi. Coba bayangkan apa yang terjadi jika sebuah berita yang salah dipercaya?


Ada seorang pujangga media yang sangat kritis pada abad ini. Noam Chomsky namanya. Ia banyak mengkritisi pengaruh kekuasaan dan korporasi media dalam suatu pemberitaan. Kita biasa mendengar dalam sebuah kapal, pantang memiliki dua nahkoda. Pers umum atau yang biasa saya sebut sebagai industri media, terdapat banyak sekali pembuat keputusan terhadap bagaimana pemberitaan suatu media. Mulai dari pemilik modal, dewan redaksi, dan idiologi politik suatu media.


Idiom bad news is good news masih menjadi iman yang sangat lekat dalam industri media. Seringkali dalam pemberitaan media melebih-lebihkan suatu kejadian, disisi lain malah sedikit sekali mendapat porsi perhatian. Sebagai contoh, pemberitaan penyiksaan Manohara menjadi sebuah sensasi yang sangat luarbiasa. Ia direpresentasikan sebagai gadis lemah yang diculik, disiksa dan direngut haknya oleh keluarga kerajaan Malaysia. Sangat kontras sekali dengan proporsi pemberitaan Nirmala Bonat atau 2.239.566 buruh migran asal Indonesia yang direngut hak asasinya (Kamis, 17 Juni 2004 Tempo interaktif).


Apa yang membuat sebuah objek pemberitaan menjadi tidak imbang? Mungkin Chomsky punya jawabannya. Dalam The market is advertisers -- that is, other businesses. The product is audiences! Manohara dan berjuta buruh migran secara kualitas kemanusiaan adalah sama, yang membedakan adalah nilai jual beritanya. Hampir setiap hari kita akan menemui kasus pelanggaran hak asasi terhadap buruh migran, namun akan jarang sekali kita menemui kisah penculikan, penganiayan dan pelecehan seksual terhadap model cantik. Maka dimulailah dagelan pemberitaan dalam media kita, mulai dari stasiun televisi, koran, radio dan media online membeo dalam pemberitaan. Alasannya sederhana, karena hal itu menjual. Persetan dengan fakta dan realitas lainnya.


Masmimar Mangiang salah satu wartawan penulis di Pantau, pernah berucap “Media massa punya kewajiban membantu publik dengan kejujuran, dan dengan memuliakan fakta”. Media jurnalistik harusnya memiliki sebuah integritas dalam pemberitaan. Pemberitaan yang jujur, menyuarakan liyan, bebas nilai dan menjadi sebuah media koreksi terhadap status quo. Terdengar idealis? Harus! Idealisme menjadikan seorang manusia berarti dan terkendali. Sebuah idealisme akan menjadi bahan bakar untuk mengendalikan atau mengkoreksi kondisi yang menyimpang.


Adalah kebenaran fungsional yang coba ditawarkan oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Menurut mereka kebenaran yang ada dalam media terbentuk dalam banyak lapisan dan bias lingkungannya. Sehingga dalam pemberitaan kita harus mencari sebanyak mungkin fakta lapangan yang ada. Tentu saja dengan seobjektif dan seakurat mungkin.


Ada sebuah pepatah latin Ridentem dicere verum quid vetat? Artinya “apa yang mencegah manusia untuk menertawakan kebenaran?” terlalu banyak kebohongan yang kita telah terima. Mengakibatkan kita mempercayai kebohongan tersebut sebagai sebuah kenyataan. Realitas berita di lapangan harus kita tampilkan apa adanya, tanpa perlu ditambahi, dibumbui dan di rekonstruksi agar lebih menarik. Keakuratan dan kebenaran dalam sebuah pemberitaan, menjadi tolak ukur kualitas media yang menyampaikan.


Akhir kata. Biarlah pergulatan pemikiran antara nurani dan pasar menjadi sebuah pedoman kita dalam melaporkan sebuah pemberitaan. Apakah kita akan menuruti pasar dengan memberikan berita kosong bombastis atau memberitakan kebenaran sepahit apapun itu. Semua kembali kepada anda.