Senin, 31 Mei 2010

Gadis berkawat gigi itu


Amicitiae nostrae memoriam spero sempiternam fore[i]


Sebetulnya saya malas menuliskan kisah manusia yang satu ini. Jika bukan karena saya baik hati dan tidak sombong, mungkin saya lebih memilih untuk latihan fitness dan membentuk otot-otot trisep saya di gym. Yah apa boleh buat saya menulis sekedarnya saja, untuk mengisi waktu kosong daripada memikirkan kasus Manohara. Ya memang benar mukanya bombastis, namun bukanlah alasan yang esensial untuk membahas manusia ini. Tapi hidup adalah kejutan, maka marilah kita kenali sedikit sosoknya. Konon katanya, seperti yang tertulis di kartu tanda penduduk Republik Indonesia. Nama gadis ini adalah Thalita Aprilia. Nama yang aneh mengapa namanya bukan Bejo Prawiro Dirjo atau Bambang Sugema Coledge? Entahlah hal itu masih menjadi rahasia sampai sekarang.


Menurut sumber yang bisa dipercaya, ia tinggal di salah satu kota diujung pulau jawa. Menilik data intelejen yang saya miliki, ia tinggal di kota Banyuwangi. Lokasi sebenarnya dirahasiakan demi kepentingan penyelidikan pihak berwenang. Selama ini ia tercatat sebagai mahasiswa(i) program studi Diploma Tiga Perpajakan Universitas Jember. Entah kenapa ia mengambil studi ini. Tapi menurut kabar burung yang berterbangan di jalanan, alasannya sederhana. Ia tidak lulus SPMB. Pelajaran moral nomor #21, jika kau tidak lulus SPMB jangan bunuh diri masih ada program studi diploma!


Secara fisik ia seperti manusia kebanyakan, masih dalam spesies Homo Sapiens generasi pertama. Berbadan semampai, kurus, dan nampak seringkali berjalan bungkuk. Hal ini masih dikonfirmasi adakah hubungan antara kebungkukannya dengan rantai evolusi manusia darwin yang hilang. Gadis ini sebenarnya cukup manis jika anda memaksakan diri menatapnya tanpa henti selama dua hari. Sungguh, ia punya pesona tersendiri yang hanya bisa dilihat dengan mata batin. Tetapi ingat, jangan melakukan kontak fisik secara langsung bisa-bisa anda di gampar!


Penampilanya modis khas gaya anak muda gaul masa kini. Tentu saja didikan majalah-majalah post- teenage yang high end. Celana pensil, kaos distro dan sekali-kali jaket butut yang saya yakin dulunya berwarna hitam. Soal pakaian ia tidak banyak ulah, ini mungkin salah satu dari sedikit hal yang membuat saya kagum padanya. Yah seperti yang banyak kita ketahui, perempuan sangat rewel terhadap penampilannya. Namun mahluk yang sepertinya perempuan ini tidak seperti itu. Gaya semau isun (saya dalam bahasa osing) dan acapkali menolak memakai rok membuatnya tampak “wow” dimata saya.


Sesungguhnya saya malu dan takut untuk mengingat awal perkenalan kami, bukan karena taruma psikis akibat kekerasan seksual. Namun lebih pada ingatan jika saya mengira dia cewek manis yang lumayan bikin hati saya keder. Jika anda ingin tau bagaimana perasaa saya saat itu, hmm agak susah membayangkannya. Ah mungkin seperti ini. Perasaan saya saat itu seperti perasaan Amerigo Vespuci saat menemukan benua Amerika, perasaan Julius Caesar saat menaklukan Eropa atau seperti perasaan Minke saat pertama kali bertemu dengan Annelies.


Perkenalan kami dimulai saat sama-sama menjadi panitia Inauguarasi Fisip Unej. Kebetulan ia teman salah satu orang yang saya ajak menjadi panitia. Sosoknya kala itu sangat menggoda, saya ingat saat itu gadis ini menggunakan baju berwarna abu-abu V-neck yang memperlihatkan pesona cuek yang begitu menggoda. Kala itu rambutnya lurus sebahu, penampilan seadanya, dan sedikit sekali berbicara. Ohhw anda bisa bayangkan betapa menarik dan manisnya ia kala itu.


Sungguh saya yang rapuh dan lugu tidak tahu bahaya apa yang saya hadapi saat mengenal gadis ini. Pesonanya membius dan menaklukan otak pendek saya. Yah kala itu saya masih polos, masih rajin mengaji dan masih belum hobi ngutang kopi dimana-mana. Singkatnya saya masih baik-baik saja saat itu. Bayangkan anda menemukan gadis dengan pesona gabungan Ronaldino dan Luna Maya disaat yang bersamaan, apa yang akan anda lakukan? Saat itu saya hanya bisa diam, sok cuek berharap berat badan saya yang berlebih bisa menjadi pesona untuk dia.


Tetapi nyatanya hal ini hanya sebuah kamuflase saja sodara-sodara. Thalita adalah gadis bengis yang kejam. Bayangkan saja sodara-sodara, dia rela membuat orang tertipu dengan senyum manisnya. Kemudian membuat kita menjadi budak, disiksa, lalu kemudian diinjak-injak. Itulah dia saudara-saudara! Oh! Kembalikan masa mudaku!


Gadis penderita insomnia ini memiliki indikasi memiliki gangguan anorexia juga. Ia seringkali ditemukan onlen pada tengah malam sedang online dan ia jarang sekali terlihat makan di depan umum. Ada sebuah informasi yang mengatakan bahwa gadis ini hanya makan nasi putih dan sayuran hijau saja. Diet yang ketat, entah apa tujuannya. Hati-hati jika anda berada didekatnya. Bisa saja dia sedang mempraktekan ilmu hitam yang bisa mengubah manusia menjadi ubur-ubur atau burung blekok.


Untunglah bencana ini sudah bisa teratasi. Menurut kabar burung yang berterbangan di jalanan, gadis ini telah diterima di salah satau perguruan ternama di kota pahlawan. Kabar diterimanya gadis ini sontak disambut gegap gempita Univeritas Jember dan pegiat pers Tegalboto. Tempat dimana ia biasa menyebarkan teror dan bahaya. Sekarang dia masalah Surabaya dan Unair! Hahahahahah akhirnya kami bisa terbebas dari teror yang melanda ditanah Jember! Terima kasih tuhan!


Kepergian yang seharusnya menyenangkan ini, entah kenapa membuat gundah gulana. Memang sebagai bencana ia harus dibuang jauh-jauh, namun keberadaanya sudah menjadi da sein dalam keseharian saya. Sebuah mistik keseharian yang mengisi hari-hri saya. Memang dia sangat menyebalkan, namun ia seorang teman yang selalu ada saat dibutuhkan. Ia rela duduk berjam-jam mendengar celotehan saya, makian saya, kesedihan saya dan kemarahan saya. Meski saya curiga sebenarnya ia autis, namun ia seorang pendengar yang baik.


Ia memang selalu sial dalam percintaan, belum pernah ada mahluk menyerupai laki-laki yang bersedia menjadi pacarnya. Namun hal ini tidak membuatnya lantas berhenti dan putus asa. Ia tetap berusaha, mencari laki-laki dijalanan ibukota, pecinan dan sebagian di pasar. Berharap kelak menemukan seorang prince charming yang mirip Desta club Eighties. Meski akhirnya yang ia temukan hanya seorang laki-laki obesitas kribo yang cukup manies (saya sendiri maksudnya). Tetapi dalam hati saya selalu yakin ia akan memperoleh segala hal yang ia cita-citakan nantinya.(amien)


Kebengisan gadis ini memang sudah tidak perlu dipertanyakan. Namun hal itu lebih karena ia sayang terhadap saya dan teman-teman saya. Ia rela marah-marah apabila ada hal yang tidak beres, memperingatkan kami sahabatnya yang jatuh untuk bangkit dan terus menjalani hidup. Walaupun ada bukti ia penyembah batu, namun beberapa orang meyakini gadis ini tidak pernah lupa sholat. Ia seringkali puasa meski alasan sebenarnya sedang tak punya uang.


Semoga saja Surabaya bisa sabar dan menjadikan Thalita sadar. Bahwa kemajuan (gigi) yang dimilikinya adalah nyata dan dapat menjadikannya sebagai orang yang sukses. Saya jarang sekali memuji gadis ini, karena memang ia lebih pantas dihina dan dirajam. Tetapi ia sudah membuat beberapa karya grafis yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia juga pernah menggoreskan pena tajamnya di UKPKM Tegalboto. Hal ini akan saya kenang dalam sudut hati saya yang paling hangat.


Adalah sebuah keterpaksaan menulis biografi untuknya, namun ada sebuah perasaan banga dan cinta kasih bisa mengenalnya. Mungkin saat ia membaca tulisan ini ia akan tertawa , mengumpat lalu mengirimkan saya brownies amanda 2 loyang (amien). Tiba-tiba muncul sebuah kerinduan yang berkecambah dihati, saat saya menulis kata-kata ini. Semoga saja ia tetap menjadi nenek sihir yang bersahabat dan tidak akan melupakan kami sahabatnya di Jember ini. Serta saya sebagai satu-satunya fans abadi senyuman gigi mancung miliknya. Akhirul kata Deus vobiscum - semoga tuhan bersamamu tah. Wassalamualaikum...


[i] (I hope that the memory of our friendship will be everlasting)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar