Selasa, 01 Juni 2010

The gift and the curse

Hidup adalah sebuah mekanisme tuhan dalam menyeleksi umatnya. Sebuah mekanisme jenius dalam menyaring umat-umat pilihan dalam kriteria tuhan. Sistem diberikan dengan sangat jelas berikut reward dan punishment yang mengikutinya. Bagi beberapa orang, hidup tidak lebih bagaikan sebuah permainan. Tak lebih dari sebuah persinggahan sementara, hidup hanya tentang bermain sebagai satu karakter unik yang hidup di alam buatan tuhan.


Manusia sendiri hidup dengan dibekali akal dan insting. Seperangkat instrument rumit dengan pengoperasian sederhana. Instrumen yang digunakan dengan tujuan untuk bertahan hidup dalam permainan ini. Akal memberikan kemampuan berpikir secara metodologis. Mengobservasi, menyusun data, merangkai hipotesa dan membuat konklusi sederhana setelahnya. Akal menawarkan penafsiran masuk akal terhadap segala hal. Memprediksi jauh kedepan. Mengartikan simbol-simbol alam. Dan memanfaatkan semua itu untuk eksistensinya.


Manusia tidak hanya memiliki akal dalam hidup, namun juga memiliki insting, yang kemunculannya sebagai bentuk pertahanan tidak sadar manusia. Insting dilahirkan (mungkin?) sebagai gerakan radikal dalam pemikiran bawah (tanah) sadar manusia. Insting muncul sebagai bentuk tandingan dari akal. Insting muncul secara tiba-tiba, tak terduga dan tidak terencana. Insting selalu tidak butuh alasan logis dalam segala tindakannya. Insting terkadang menyelamatkan manusia dari perhitungan logis yang dibuat akal. Insting menolak kuasa akal atas manusia. Insting adalah gerakan sayap kiri radikal yang selalu merongrong hegemoni akal.


Jika sejauh ini anda setuju dengan apa yang saya katakan, saya menawarkan konsep sederhana berikut. Kemunculan akal merupakan manifestasi dari keberfungsian otak, sedangkan insting adalah produk lokal pengalaman manusia secara keseluruhan. Keduanya muncul secara bergantian dan tidak terpola. Dominasi keduanya melahirkan perasaan. Perasaan adalah kaum netral dari dua hal tersebut.


Perasaan menunggangi akal, membenarkan dan merasionalisasi setiap hal yang berkaitan dengan perasaan. Perasaan meretas insting, muncul tiba-tiba, bergrilya dalam insting dan sesaat hilang tanpa bekas. Perasaan muncul bagai sebuah virus yang menginveksi otak dan meracuni pemikiran manusia. Manusia mengenal perasaan dengan berbagai nama seperti amarah, dendam, dengki, cemburu, iri, angkuh dan cinta. Agama menyebutnya sebagai nafsu dan psikologi menyebutnya symptom. Namun saya lebih mengenalnya sebagai the gift and the curse.


Anugerah karena dengan perasaan saya bisa mengenal apa itu kebencian dan mengontrolnya. Saya mengenal keangkuhan dan menundukannya. Saya mengenal dendam dan melampiaskannya (pelampiasan dendam adalah anugerah menurut saya). Semua itu menjadikan saya manusia super (saya memang narsis lalu?). kehidupan adalah permainan yang menyenangkan jika semua adalah anugerah. Tapi tuhan tidak membuat hidup semudah dan semenyenangkan itu. Kutukan membuat hidup kita jadi lebih hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar