Minggu, 30 Mei 2010

Memaknai lagi Kode Etik(a) Jurnalisme




Saat kecil saya bercita-cita jadi Power Rangers karena dengan begitu saya bisa menjadi pembela kebenaran. Lalu berubah lagi ingin menjadi Son Go Ku, karena setiap kali hampir mati maka ia akan semakin kuat. Superhero adalah pilihan saya untuk menjadi pembela kaum liyan dan tertindas. Tapi semua itu tidak ada yang sukses saya jalani, mungkin karena kurang good looking atau memang dalam dunia nyata tidak ada yang namanya superhero. Suatu saat saya nontong film Spiderman, Peter Parker dan kameranya. Okelah Spiderman hebat karena ia di gigit laba-laba, tapi dengan menjadi manusia yang memberitakan kebenaran. He is the true hero, tanpa memakai topeng, seorang wartawan bisa menjadi sangat heroik dan berani bertanggung jawab dengan apa yang ia lakukan.

Dan itu hanya bisa dilakukan oleh media. Seperti yang diucapkan Mark Twain, seorang penulis .”Dijagat raya ini hanya ada dua hal yang menerangi, yang pertama adalah matahari di langit dan press (media masa atau wartawan) dibumi”. Maka saya putuskan untuk jadi wartawan. Meski cuma wartawan kampus. Belajarlah saya pada Bill Kovach, seorang santo dalam dunia Jurnalisme. Betapa tidak? Lebih dari separuh hidupnya, Bill Kovach didedikasikan untuk jurnalisme. Dan bebrapa kali berita yang ia tangani mendapatkan Pulitzers[i]. Ia kemudian menyusun sebuah buku yang ia kerjakan bersama Tim Rosenstiel tentang jurnalisme. Mereka setidaknya merumuskan 9 langkah jitu untuk menjadi wartawan yang berintegritas. Integritas dalam artian seorang wartawan yang tidak hanya memiliki sikap profesionalitas tinggi, namun juga wartawan yang memberitakan kebenaran.

Dalam bukunya the elements of journalism, Bill Kovach merumuskan 9 sikap dan tahapan untuk mencapai sebuah sikap purna wartawan mumpuni. Lalu apa kaitannya dengan pembahasan kali ini? Menurut saya setidaknya mereka (Bill dan Tim) sudah membuat semacam code of ethics dalam bukunya tersebut. Terkait dengan pembahasan kita kali ini. Ia menjelaskan bahwa dalam sebuah pemberitaan bias kepentingan dan kemampuan seorang wartawan dalam menyampaikan wartawan dapat memperngaruhi pembacanya. Oleh karena itu seorang wartawan harus tahu bagaimana mereka harus bersikap dalam memperoleh berita dan mempertanggung jawabkan pemberitaan yang dibuatnya.

Agar sebuah pemberitaan dapat berkualitas serta bertanggungjawab beberapa organisasi kewartawanan di Indonesia dan dunia membuat beberapa serikat kerja atau organisasi kewartawanan. Fungsinya adalah agar terdapat kontrol dan pengawasan terhadap kinerja dan kualitas pemberitaan dari seorang wartawan. Aliansi Jurnalis Independen misalnya memiliki kode etik tersendiri yang merupakan sebuah harga mati keanggotaan mereka. Hal ini didasari bahwa sikap seorang jurnalis, terlepas wacana keberpihakan, harus independen dan tidak berpihak pada siapapun.

Kemerdekaan dan sikap independen ini dituangkan dalam pasal dua Kode Etik Jurnalis Independen yang berbunyi “Jurnalis senantiasa mempertahankan prinsip-prinsip kebebasan dan keberimbangan dalam peliputan dan pemberitaan serta kritik dan komentar”. Hal serupa juga diungkapkan oleh Pewarta Foto Indonesia pasal ke tiga mereka yang berbunyi “Pewarta Foto adalah profesional yang mandiri dan independen untuk menggambarkan kebenaran. Kedua pasal tadi adalah sebuah contoh dari beberapa kode etik serikat wartawan yang ada di Indonesia dan usaha mereka dalam membentuk wartawan yang berkualitas.

Sikap independensi memang susah dilakukan, dan memang menurut saya tidak ada yang danamany ketidak berpihakan. Semua orang berpihak, namun pertanyaan selanjutnya adalah berpihak pada siapakah mereka? Perusahaan? Narasumber? Masyarakat? Atau pada diri sendiri? Terlepas dari itu semua saya menawarkan sebuah pemahaman baru terhadap keberpihakan, yaitu berpihaklah pada akurasi, verifikasi dan fakta lapangan. Beritakanlah apapun resikonya, selama kalian memperoleh berita itu dengan benar jangan takut!

Bob Wordward dan Carl Bernstein dari Washington Post melakukan itu, melalui pemberitaan mereka dalam skandal Watergate, mereka mampu membuat Presiden Nixon terguncang dan akhirnya mengundurkan diri! Hal ini tak lepas dari sikap dan mentalitas seorang wartawan yang haus dan selalu ingin tahu. Tetapi sikap tersebut bukannya dengan tanggung jawab. Seperti penggambaran Steve Lopes dalam The Soloist. Ia begitu telaten dan sabar dalam usaha mencari pemberitaan. Namun tetap mengutamakan etika dan verifikasi, sehingga berita yang ia buat tidak hanya sekedar artikel biasa. Seorang wartawan yang baik mesti memiliki tanggung jawab dan etika dalam pemberitaannya. Hal inilah yang kemudian membedakan seorang wartawan dan pekerja infotaimen.

Andrew N. Carpenter Ethics mengatakan Ethics, the study of the nature of morality and judgment [ii]. Sebagai cabang dari ilmu filsafat. Etika berusaha mempelajari, merumuskan dan menerapkan moralitas dan penilaian terhadap suatu hal sebagai jalan hidup. Etika adalah sebuah sikap moral yang dilaksanakan atas dasar nilai-nilai yang diyakini oleh penganutnya. Seorang wartawan yang baik setidaknya memiliki sikap penghormatan terhadap hak-hak orang lain. Baik hak privasi, hak untuk menolak wawancara, hak untuk melindungi narasumber kita. Dalam Kode Etik Jurnalis Independen pasal 6 mengatakan “Jurnalis menggunakan cara-cara yang etis untuk memperoleh berita, foto dan dokumen”. Sehingga kita tidak mencederai hak orang lain namun tetap bisa memperoleh pemberitaan yang layak.

Namun bagaimana jika berita yang sangat penting muncul namun hal tersebut adalah privasi seseorang? Perlu kita memiliki sebuah pemahaman terhadap definisi privasi. Privasi seseorang adalah kehidupan pribadi mereka yang tidak terkait dengan harkat hidup orang banyak dan hal tersebut tidak merugikan orang lain. Contoh, apakah penting bagi kita untuk mengungkit kasus perceraian seorang artis? Bisa ya namun juga bisa jadi tidak. Menjadi penting karena kita memberitakan bahwa status artis A yang sebelumnya menikah dengan B saat ini sudah berubah dan berakhir. Itu merupakan berita, namun apakah hal tersebut terjadi karena tidak punya momongan, perselingkuhan atau bahkan kelainan seks? Itu merupakan permasalahan pribadi yang tidak semua orang berhak tahu! [iii]

Namun disisi lain terhadap keberadaan anomali dalam jagat jurnalistik. Wartawan-wartawan tanpa integritas yang biasa disebut wartawan bodrex, wartawan amplop atau wartawan pemeras. Saya selalu yakin, menjadi wartawan bukanlah pekerjaan, melainkan panggilan hati. Wartawan bekerja lebih keras daripada seorang kuli atau buruh. Buruh setidaknya memiliki jam kerja yang jelas. Sedangkan wartawan kapanpun harus siap mencari berita! Jika menjadi wartawan adalah panggilan hati, maka kemungkinan besar akan ada goodwill untuk memperoleh dan mencari berita demi kebenaran. Dan jika tidak akan muncul wartawan yang hanya mencari sensasi. Mengutip Arya Gunawan “wartawan bisa dipersalahkan jika dalam karya jurnalistiknya ada niat buruk terselubung (actual malice) tanpa tujuan membela kepentingan publik yang lebih luas”.[iv]

Adalah Oryza Ardiansyah, seorang wartawan veteran yang pernah mengajarkan saya tentang integritas. “Wartawan ibarat pedagang yang menjual kepercayaan. Seorang wartawan memberitakan sesuatu yang belum dilihat, di dengar dan diketahui secara jelas oleh khalayak ujarnya. Kepercayaan dalam suatu pemberitaan adalah hal yang sangat sakral. Kepercayaan tersebut didapat dari kemampuan seorang wartawan dalam memperoleh berita dan menjamin kebenaran dari berita tersebut Robert Vare, yang pernah bekerja untuk majalah The New Yorker berpendapat sama. Kesucian seorang wartawan terletak pada fakta dan akurasi kebenaran beritanya. Maka hal inilah yang membedakan sebuah berita dan propaganda.

Propaganda VS Berita

Dalam suatu kesempatan Allen Breed, reporter dari Assosiated Press, pernah berujar. “without accuracy you got no story at all, in fact, you’ve got disservice[v]. Akurasi merupakan kesempurnaan dalam pemberitaan. Tanpa akurasi berita, sebuah berita adalah isapan jempol belaka, bisa jadi fitnah atau hanya sekedar gosip. Akurasi berita didapat melalui rangkaian uji verifikasi dan tindakan check and balances yang ketat. Ingatkah anda pada peristiwa pada 1 Mei 2003 saat George Bush membuat berita "Mission Accomplished". Diatas USS Abraham Lincoln, ia mempropagandakan kemenangan pasukan Amerika atas pemerintahan Iraq. Padahal saat itu perang masih berlangsung.

Kebohongan yang diulang-ulang, niscaya akan menjadi kebenaran. Jozef Goebbels menteri propaganda Nazi pernah berucap. Ia melakukan propaganda dan pembenaran atas perang dunia II perlu dilakukan untuk mengusir dan memusnahkan kaum Yahudi yang dianggap sebagai biang kerok kekalahan Jerman pada perang dunia I. Dalam contoh lain film Thank You for Smoking bisa menjadi acuan. Nick Naylor, seorang negosiator (pelobi) melakukan pembenaran dan propaganda melawan statemen bahwa merokok itu terlarang. Dalam banyak media massa ia mengungkapkan bahwa pernyataan rokok berbahaya itu salah. Dan yang terhebat adalah adegan dimana ia memaksa seroang penderita penyakit paru-paru untuk melakukan pernyataan bahwa merokok itu tak berbahaya. Gila bukan?

Pers umum dan media massa utama seringkali tidak lepas dari kontrol kepentingan dan propaganda. Tentu masih segar ingatan kita tentang pertarungan Abu Rizal Bakrie dan Surya Paloh dalam kursi jabatan ketua umum Golkar. Mereka melalui media pers yang dimilikinya melakukan propaganda besar-besaran dan klaim terhadap suara. Belum lagi perang image dan distorsi media yang mereka ciptakan. Pernah malah dalam satu kesempatan yang sama pemberitaan mereka tumpang tindih.

Berbeda dengan pers umum, pers mahasiswa adalah sebuah entitas penerbitan pers alternatif. Pers yang konon katanya bebas dari kungkungan kepentingan dan mencoba menjadi idealis. Kabarnya demikian, namun seringkali pemberitaan media dan fakta dilapangan kontras dan berbeda. Pemberitaan yang bias makna, syarat kepentingan dan seringkali tanpa disertai check and balances. Atau dalam bahasa Bill Kovach, jurnalisme semu. Pemberitaan media yang demikian bisa dikatakan sebagai media yang tak layak terbit atau media sampah. Karena media yang tidak mampu menyuarakan kebenaran harus dimusnahkan. Meningat media yang mempunyai fungsi sebagai penyampai kabar, informasi, dan sebuah media komunikasi. Coba bayangkan apa yang terjadi jika sebuah berita yang salah dipercaya?

Dengan pemahaman semacam ini saya berusaha menawarkan kepada anda sekalian tentang pentingnya pemahaman terhadap perbedaan antara sebuah berita dan propaganda basi. Kita selalu dicekoki oleh berbagai macam berita dan informasi tiap harinya. Mulai dari surat kabar, televisi, radio bahkan dalam sebuah diskusi ringan di warung kopi. Adalah sikap bijak untuk selalu mengedepankan sikap waspada dan tidak mudah percaya. Verifikasi dan pemahaman utuh terhadap konteks historis suatu berita. Misalnya saat suatu media mempropagandakan bahwa keluarga Bakrie dan PT. Minarak Lapindo jaya telah menghabiskan dana lebih dari 7 Triliun rupiah dalam usaha ganti rugi terhadap warga porong. Apakah kita akan langsung percaya? Tentu tidak, harus dilihat juga siapa yang membeitakan, siapa pula yang memiliki media tersebut dan proses penangan bencana tersebut sampai hari ini seperti apa. Sehingga kita tidak paham sepotong-sepotong yang memungkinkan kerancuan dan salah paham.

Propaganda memiliki elemen berita, itu benar namun bisa jadi berita yang ada dimanfaatkan untuk kepentingan si pemilik berita. Misalnya pada kasus pemberitaan tentang Ponari di Jombang, orang-orang ramai memberitakan informasi bahwa ada tabib cilik yang mampu memberikan penyembuhan secara magis. Hal ini benar dalam konteks informasi, namun apakah anak tersebut benar-benar mampu menyembuhkan? Itu suatu hal yang lain, suatu media hendaknya melakukan verifikasi dalam hal kebenaran berita. Verifikasi bisa dengan melakukan riset, wawancara, analisa atau bahkan penelitian empiris. Hal ini bertujuan untuk membuat suatu pemberitaan tidak salah kaprah dan berakhir menjadi propaganda belaka. Propaganda sering kali dilakukan oleh pemilik media yang juga ikut berkecimpung kedalam dunia politik.

Adalah bijak untuk memahami kode etik bukan hanya sekedar pajangan. Tapi sebagai way of work atau bahkan way of life. Sehingga dalam memberitakan suatu hal kita memiliki tanggung jawab penuh dan mampu memberikan yang terbaik. Dan pada akhirnya nurani, benteng terakhir umat manusia dalam bertindak yang mampu memberi jawaban. Berkompromi atau gagah menegakan kebenaran. Credite amori vera dicenti - Believe love speaking the truth..



[i] Penghagaan tertinggi mengenai karya-karya terbaik dalam dunia jurnalistik di Amerika

[ii] Andrew N. Carpenter, dalam Microsoft Encarta Reference Library 2005

[iii] Dalam banyak referensi Kode Etik serikat wartawan. Terdapat banyak sekali poin yang menekankan hal ini. AJI misalnya mengatakan “ Jurnalis menghormati privasi seseorang, kecuali hal-hal itu bisa merugikan masyarakat”. Dalam lain kesempatan Pewarta Foto Indonesia mengungkapkan Pewarta Foto menjunjung tinggi kehidupan pribadi, kecuali menyangkut kepentingan umum

[iv] dalam tulisan Tak Mudah Mengadili Pers: Tanggapan untuk Tjipta Lesmana (Kompas, 30/10/2003)

[v] Dalam “what is news?” Assosiated Press Reporting hand book.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar