Jumat, 23 Juli 2010

Insiden tentang Tuhan



Beberapa hari lalu Saya nonton lagi Angels and Demons. Film hasil adaptasi novel berjudul sama karangan Dan Brown itu memiliki narasi yang memukau . Tentu saja tentang ide ketuhanan, eksistensi manusia, agama dan sains adalah tema basi. Karena banyak orang sarjana dan santri yang membahas tema ini. Saya juga merasa tidak punya kapabilitas ekstra untuk bicara mengenai ketuhanan. Tapi ada beberap hal yang menggelitik tentang ide besar agama mengenai tuhan dan praksisnya dilapangan.


Hari itu, Rabu 21 Juni 2010 kira-kira pukul 14.50 Saya kedatangan tamu. Seorang tionghoa yang sudah sangat dekat dengan keluarga. Sebut saja ia Han. Ia adalah salah seorang pedagang dan juga seorang kepala keluarga yang baik. Seperti kebanyakan orang tionghoa di Indonesia, Han sangat ramah, beragama katolik taat tapi masih melaksanakan adat konghucu, dan punya sense bisnis yang tajam. Hari itu kami berdiskusi banyak mengenai agama islam. Ia banyak bertanya tema-tema yang sensitif bagi kebanyakan orang, mengenai fiqih, tauhid dan syari’ah. Berhubung Saya bukan santri dan kebanyakan pengetahuan agama hanya dari bahan bacaan saja. Banyak  jawaban yang saya berikan adalah “Wallahua’lam” dan “belum tau”. Ya daripada bicara ngawur dan sok tahu nanti malah menjerumuskan dan jadi fitnah.


Han bertanya tentang hukum orang yang memberikan nyabis (memberi uang pada kyai saat anjangsana di daerah Pendalungan Jawa Timur), poligami, toleransi agama, mazhab dan aliran dalam islam, serta perbandingan kehidupan muslim antar negara. Ia merasa tidak habis pikir mengapa banyak sekali muslim (khususnya yang miskin) rela berhutang untuk melakukan tindakan nyabis. Padahal dirinya sendiri masih kekurangan, ia lantas bercerita dalam ajaran agamanya ia dilarang melakukan hal yang memaksakan diri meski untuk sesuatu yang baik. Ya Saya jawab,  dalam islam juga demikian. Segala hal yang berlebihan itu tidak baik bahkan ada beberapa yang haram. Nah nyabis itu seumur-umur belum pernah ada hadist atau surat dalam Al-Quran yang membenarkan hal tersebut.


Saya sendiri pun kok merasa kyai-kyai yang menerima nyabis itu sedikit keterlaluan, agama, bila memang ia bebas dari nilai duniawi harusnya tidak dihargai secara materi. Dan seharusnya ia menjadi medium pencerahan umat yang tersesat. Lah kalo kemudian ia menjadi komoditas apa bedanya agama dengan jasa konsultasi psikologis? Marthin Luther pun dahulu menyatakan perang terhadap gereja karena adanya komodifikasi keagamaan. Sehingga ia secara radikal melakukan perlawanan dengan menempelkan beberapa esai kepada pintu gereja. Apa para kyai itu menunggu untuk datangnya Marthin Luther lain untuk menempelkan kritik di depan pintu pesantrennya? Semoga saja tidak.


Karen Armstrong dalam banyak bukunya mulai dari the Holy War sampai History of God menceritakan secara tersirat tentang kedekatan dan relasi atas tiga agama samawi (Islam, Kristen dan Judaisme) memiliki pergolakan sejak awal terbentuknya agama-agama itu. Dan seringkali pergolakan itu diakhiri dan diatasi dengan jalan darah. Perbedaan tafsir dan pemaknaan dalam agama tadi akhirnya banyak melahirkan sekte dan aliran-aliran tersendiri yang diantaranya berseteru. Lalu kenapa ada agama bila perseteruan terjadi dalam agama itu sendiri? Perbedaan antar manusia merupakan fitrah dan sesuatu yang given, jadi tidak usah memaksakan kehendak.


Mungkinkah ini hanya sebuah euforia ‘kebebasan berpikir’ karena luasnya akses buku dan informasi dewasa ini? Itu asumsi awal Saya. Tapi sekali lagi itu tidak bisa menjadi pembenaran. Bila memang sudah demikian bebas euforia itu, Saya mungkin sudah jadi sok-sokan atheis macam teman-teman di kampus. Toh saya masih percaya Tuhan dan masih ibadah meski agak bolong-bolong. Karena, walau kadang ada rasa skeptis akan sesuatu yang transenden, Saya tetap percaya ada entitas luar biasa yang menciptakan jagat raya. 


Ini juga bisa menjadi dasar penolakan terhadap pendapat Camerlengo Patrick McKenna dalam Angels and Demons saat ia berucap “Apa yang akan dimiliki tuhan, jika metode penciptaan pun pada akhirnya dikuasai sains?” Jika Ia selemah itu maka Tuhan tak perlu di sembah. Karena Tuhan Saya adalah Tuhan yang hebat, Tuhan yang menciptakan manusia semacam Stalin dan Hitler, tapi Ia juga menciptakan Bunda Theresa dan Munir. Sebab itu tak perlu syarat untuk ber Tuhan.


Sore itu Han rupanya sedang curhat mengenai susahnya membangun rumah ibadah gereja di Indonesia. Pembangunan Gereja selalu saja menemukan rintangan dari lingkungan tempat pembangunan. Padahal dari pihak pemerintah sudah mengijinkan, hanya saja masyarakat di sekitar lokasi pembangunan seringkali menolak adanya rumah ibadah di lingkungan mereka. Terkadang ada rasa heran dan tidak habis pikir mengapa demikian? 


Saya pikir Mochtar Loebis benar soal Manusia Indonesia sebagai manusia yang munafik dalam beberapa hal. Kita mengagungkan bhineka tunggal ika tapi melarang ibadah keagamaan suatu kaum. Ahmadiyah misalnya, boleh jadi mereka salah, tapi siapa yang dapat menjamin mereka tidak benar? Jika kita boleh melakukan islamisasi seorang individu, apa hak kita melarang orang berpindah agama jadi nasrani? Atau saat kita ramai-ramai menghibahkan lahan untuk pembangunan masjid, mengapa orang seringkali kebakaran jenggot jika tanah disebelah rumah mereka akan dibangun Klenteng atau Gereja? Kita sering tidak adil dalam hidup dan beragama.


Han bercerita juga bagaimana dulu ia sebagai etnis tionghoa seringkali mengalami diskriminasi disebut “Iyok”, sebutan kasar untung orang tionghoa. Apalagi saat mereka ingin beribadah di gereja. Tionghoa dan kristen di zaman Orde Baru merupakan kombinasi handal untuk mengalami pelecehan. Diskriminasi dalam beragama boleh jadi berkurang, bukan berarti tidak ada. Gereja yang jumlahnya sedikit sekali dibanding dengan Masjid. Terjadi karena pembangunannya seringkali terbentur ijin masyarakat. Haruskah hak asasi manusia dalam beragama terbentur konsensus? Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya jika islam mengalami diskriminasi seperti di Perancis. Boleh jadi kemerdekaan beragama itu mitos.


Saya tidak meminta kebebebasan mutlak yang menafikan keberadaan tuhan seperti yang ada dalam pemikiran Albert Camus dalam l'homme Revolte. Apalagi kebebasan yang menihilkan keberadaan tuhan seperti yang dilakukan Nietzsche dalam Der Wille zur Macht. Kebebasan dan kemerdekaan yang kemudian berakhir pada menafikan keberadaan tuhan dan agama. Kita tentu tidak menghendaki kondisi kebebasan mutlak tanpa ada batasan. Hanya sikap toleransi saja, cukup itu. Rangkaian cerita tadi membuat Saya berpikir ulang tentang agama. Oh bukan, bukan Saya ingin menanggalkan agama. Sekedar berefleksi, kenapa kualitas iman saya luntur? Kenapa keberagaman malah jadi masalah? 


Mengapa seringkali perbedaan diatasi dengan darah? Ah biarlah bukankah pada akhirnya agama itu selalu jadi ruang privat? Saat saya berbagi dalam ruang publik ini, anda berhak menilai dengan standar yang berbeda. Ini sekedar gumam, gumam yang dihembus untuk umat yang resah. Sayup sayup saya mengigat “Do’a” Chairil Anwar. “Tuhanku, di pintu Mu Saya mengetuk, Saya tidak bisa berpaling”

Selasa, 20 Juli 2010

Membumikan ide Liberal

Mungkin John Stuart Mill akan ereksi darah saat ia datang ke Indonesia dan melihat ide liberalismenya jadi duri dalam daging bagi beberapa orang. Mutan neo Liberalisme yang dianggap sebagai momok menakutkan dan bertanggung jawab atas kemiskinan struktural di negara ini. Tapi ada baiknya kita ikut menyalahkan dan merajam Webber yang dengan Spirit of Capitalism nya mendorong orang untuk kaya raya agar bisa bersanding dekat dengan tuhan. Neo-lib yang katanya turunan haram dari liberalisme ekonomi lewat perusahaan asing dan pejabat bejat telah mengakangi harkat hidup orang banyak. Bahkan beberapa wacana pergerakan mahasiswa Indonesia (khususnya yang bendera organisasi berwarna merah) masih berupa perjuangan kelas dan menganggap ide bahwa sumber kemelaratan bangsa ini adalah kapitalisme asing, cukong-cukong Neo-Lib, dan gerombolan komprador. Seperti Newmont, Exxon, Freeport dan perusahaan-perusahaan rokok yang menjadi tuan rumah di negeri orang. Permasalahan inilah yang bagi beberapa organisasi gerakan mahasiswa ekstra kampus masih dan harus dilawan.

Beberapa waktu lalu saya di-tag sebuah posting berita tentang liberalisme oleh begawan Sigit, senior saya yang absurd dan fans berat Abu Rijal Bakery. Isi posting itu kira-kira tentang pemikiran seseorang tentang ide-ide liberalisme yang dijabarkan ala freedom institute. Tentang seorang mahasiswa yang dari lingkungannya menganggap liberalisme sebagai suatu musuh pergerakan dan penghisap kemakmuran bangsa, tapi di akhir tulisan ia bilang liberalism is not bad at all. Awalnya saya pikir “Uasu gak pernah ngerasain susahnya bayar SPP dan kos-kosan, perlu di diklat anak ini”. Soalnya anak ini dari Unej, karena biar gendut berlemak dan berkarisma vokalis sedikit banyak saya tahu anak-anak pergerakan, mulai dari seni, pencinta alam, sampai jawara PS. Tapi belum pernah dengar nama anak ini. Lalu selang beberapa lama kawan saya yang menderita imbisil dan gangguan saluran anal akut Nuran Wibisono berkata “ biarlah, orang punya pendapat masing-masing” tak pikir, bener juga cangkem orang ini. Ya biarlah, saya toh bukan penggemar berat Marx juga, kenapa musti kebakaran jenggot kayak FPI yang gak diajak LunMay ehem ehem.

Akhirnya beberapa teman di rumah baca Tikungan dan PPMI kota Jember memfasilitasi adanya diskusi tentang liberalisme. Ahai bagus juga idenya, itung-itung pencerahan dan kuliah gratis tentang liberalisme. Biar kata orang saya cakep dan berbudi pekerti luhur sesuai PPKn, saya buta sama sekali dengan liberalisme. Stuart Mill dan Fukuyama gak bisa dijadikan tolak ukur seseorang paham liberalisme dan demokrasi ala barat kata teman saya suatu saat. Oleh karena itu marilah kemari hei hei kita diskusi liberalisme di rumah baca. Hari itu hari jumat pahing, awalnya saya mau pulang ke Bondowoso, karena masa tinggal saya di Jember habis. Tetapi karena saya-kok-cek- penasarannya-dengan-bung-penulis-liberalisme-di-web-freedom-institute ini, akhirnya saya putus-kan tinggal sejenak dan menimba ilmu seadanya.

Diskusi dimulai dengan pengantar dari Arys Aditya calon DEN PPMI kota Jember yang menerangkan bahwa ide liberalisme pada awalnya digadang oleh Epicurus. Filsuf yang memperbolehkan kaum perempuan untuk belajar ilmu pengetahuan pada masa yunani klasik. Saya yakin-seyakin-yakinnya dia nyatut pernyataan itu dari buku Bryan Magee the History of Philosophy, karena disana Magee bilang bahwa Epicurus adalah seorang Humanis Liberal yang memberikan hak pendidikan bagi siapapun yang mau dan mampu belajar, biar dia budak, perempuan, item, kriting, homo, laknat, berjenggot, atheis, ekstra, bukan ekstra, siapapun boleh ikut. Sehingga karena idenya yang radikal dan bebas pada zamannya, ia menjadi salah satu filsuf yang tidak disukai. Liberalisme ala Epicurus menurut Magee adalah ide bahwa seseorang boleh mendapatkan segala hak yang melekat padanya tanpa dibatasi oleh jenis kelamin atau status. Hei coba tebak? Padahal Hamurabbi sudah bikin hukum perlindungan janda dan wanita sebelum Epicurus, tetapi kenapa bukan dia yang jadi tokoh humanis liberalis? Ya karena sejarah milik barat (saya mau ngelantur, dilarang protes!).

Lalu Arys memperbandingkan ide liberalisme pada sektor pendidikan, sampai bagian ini saya masih nyambung karena ada buku Dharmaningtyas yang secara menggelora menuduh BHP sebagai aksi Neo-Lib dalam pendidikan. Tetapi saat liberalisme menginjak pada tataran sistem politik dan ekonomi, otak saya aus mendadak. Saya Cuma bisa mesam-mesem macak ngerti padahal saya mikirin kok ya susah banget bahasanya. Pantes liberalisme dianggap musuh, wong susah dimengerti. Pikiran saya kosong selama beberapa saat hingga pada suatu masa saya di dorong-dorong, “mas jawab mas, ditanyain tuh” kata orang disebelah saya. Heh? Tanya apa? Oh liberalisme, akhirnya saya musti putar otak jawab pertanyaan itu, tapi saya kan gak tahu pertanyaannya apa. Akhirnya dengan ajian cocot bacot bubar yang diajarkan Betara Cahyo Purnomo Edi (Dewa bibir pengendali aliran feses dan sistematika kentut) saya jawab ngalur ngidul tentang liberalisme yang sebenarnya sayah hanya meraba-raba saja dari tulisan Stuart Mill, Soros, Fukuyama, Huntington dan Baudrillard. Lho kok Baudrillard? Emang dia pakar liberalisme? Ya gak goblok! Tapi Baudrillard kan pernah ngebacot soal Hiperealitas Amerika dan Politics of Seduction di Amerika. Lha kok malah bahas Amerika? Dimana lagi kita bicara soal liberalisme selain langsung dari pabriknya di Land of Liberty?

Baudrillard bilang “hope is not a very lucid idea. I realise that Utopias are very active in the US the green movement, the feminist movement and so on. These are the so-called hope-bringing movements that aspire to be revolutionary but in actual fact in the American hyperreality they are part of the same publicity game” nah lo. Kalo harapan saja merupakan komoditas publikasi bagaimana dengan yang lain? Dilain tulisan Baudrillard berusaha cataut nama Barthes tentang banalitas dan ilusi ekonomi Amerika yang didominasi oleh monopoli korporasi. Saya berusaha menyanggah pernyataan bahwa dalam liberalisme ekonomi kapitalistik, monopoli itu haram, lha Baudrillard tahun 1993 saja sudah mengenali bibit monopoli di Amerika. Ia mencontohkan soal superioritas General Motors, bagaimana ia menguasai industri hulu sampai hilir. Gak percaya? Liat saja film dokumenter Michael Moore soal GM. Dan inti dari semua itu adalah Konsumsi boy! Bukankah ide besar dari liberalisme ekonomi adalah memberikan kesempatan seluasnya bagi pasar untuk bersaing dan mencapai kekayaan. Bagaimana cara seorang pedagang kaya? Jualan yang laku dibeli dan itu sama dengan konsumsi kawan! Maka kita nyanyikan requiem pada harapan dan ide sosialisme.

Pada diskusi itu lumayan banyak yang hadir, tumben pikir saya. Biasanya juga 3-4 orang, kalo gak saya, Arys, Qomar, Zaki ya Risky. Ah mungkin saya terlalu skeptis, kebetulan rame saya pengen cari muka dikit siapa tahu dari peserta diskusi yang cantik dari Ecpose di pojokan itu bisa suka sama saya. Lalu saya jabarkan sedikit dengan bacot sotoy saya pada pengunjung dan Rafli ( mahasiswa yang menulis soal liberalism is not bad at all tadi ) kalau saya bukan mahasiswa kiri gandrung Marx atau kaum konservatif kanan WASP ala Amerika. Saya adalah penganut zuhud Tegalbotoisme, jangan berpihak kecuali tau benar dan tuntas. Jadi saya gak ada masalah dengan liberalisme. Malah liberalisme itu cucok bang get sama saya. Ide soal kebebasan berpendapat, berserikat, berorganisasi, dan a bunch of porn site! Ayolah kita akui kawan mana ada negara komunis yang memberikan kebebasan berpendapat? Negara fasis mana yang menghargai perbedaan? Gak ada kan? Heil Liberalism! Akan tetapi seperti biasa tidak ada paham yang superior, liberalisme atas nama individu seringkali menafikan kepentingan umum, tirani minoritas, rasisme, korporasi media dan omong kosong equality before the law. Kita tentu ingat kasus Mumia Abu Jamal, Bubble Burst, Watergate, agresi Iraq, Blackwater, lobi AIPAC dan Lady Gaga! Mereka adalah sekumpulan cacat dalam liberalisme politik, ekonomi, hukum dan kebudayaan di Amerika. Khusus yang terakhir itu cacat paling parah!

Dalam diskusi itu banyak yang saya pelajari, Rafli yang notabene anak angkatan 2009 dari jurusan paling saya benci itu memang punya potensi. sehingga saya teringat hikayat Imam Syafi’i dalam suatu kisah, bersama imam Hanafi ia pernah bertemu dalam suatu forum, dimana ia membahas hukum islam mengenai talaq bagi suami yang sedang khilaf, Imam Syafi’I mengatakan bahwa hukum talaq itu sah dan imam Hanafi mengatakan tidak sah. Lalu ada seorang anak kecil berumur 8 tahun mengangkat tangan, seraya mengucapkan beberapa hadis shahih berikut dengan sanadnya bocah itu mengatakan bahwa hukum talak yang dilakukan karena khilaf tanpa saksi adalah tidak sah. Dan ima Syafi’I memanggil anak itu dan menimangnya. Sambil berkata anak ini benar dan saya salah. Kebesaran hati macam itu yang tidak saya miliki, sampai hari ini saya masih kesal kok bisa ada anak pintar, masih baru masuk kuliah, lebih ganteng dari saya lagi. Sudah cukup saya kaget dan kesal atas kemampuan Arys dan benda bernama Yandri yang kecerdasannya setara super saiyan 4. Diatas langit masih ada langit dan dalam hutan masih ada lubang!

Rafli mengajarkan saya tentang memandang keluar bahwa ia mencontohkan pemikiran Bill Gates, keparat pemilik microsoft, yang memberikan dua pilihan apakah anda akan membenci saya sebagai kapitalis atau Bill Gates sebagai seorang philantropis yang memberikan banyak bantuan kemanusiaan. Okelah saya gak akan mampu mengalahkan Bill dan Miranda Gates soal bantuan mereka di Afrika atau bagaimana mereka memberikan banyak beasiswa ke calon kampus S3 saya di Cambridge pada mahasiswa di negara dunia ke 3. Gak mampu saya, sungguh gak mampu, tapi jika kemudian ia mencontohkan apa perlu kita mempertahankan subsidi pendidikan 20%? Saya jawab sangat perlu! Perlu sekali malah, Rafli lupa ada Butet Manurung batak manis yang rela blusukan masuk ke pedalaman hutan untuk memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak suku anak dalam, atau Dik Doank yang pontang panting bikin pendidikan ekstra terestial keluar dari definisi kurikulum link and match untuk mencapai siswa yang wellbeing nya baik. Okelah memang benar di Fakultas Ekonomi UI banyak sekali mahasiswa pergi kuliah dengan mobil mewah, keparat macam mereka tidak perlu di subsidi. Karena masih ada saudara kita di Universitas Cendrawasih yang masih harus keluar masuk hutan untuk bisa kuliah. Memang benar dalam mekanisme pasar kita bebas memilih barang paling berkualitas dengan uang yang kita miliki, tapi jangan lupa ada mbok Tarmi yang masih mengumpulkan sisa-sisa sayur di pasar untuk kemudian dijual untuk makan 3 anaknya.

Liberalisme adalah sistem manis yang enak tenan, jika anda memiliki kemampuan dan kualitas. Dan jika tidak? Ya siap-siap saja jadi alas kaki dan warga kelas sampah, karena dalam liberalisme dewi Fortuna tidak memutar roda nasib, ia di bayar untuk tetap menjaga roda nasib. Liberalisme bukan selalu musuh besar yang mesti dihadapi dengan parang tersaji. Ingat kita bukan FPI sedang menghadapi perbedaan. Liberalisme adalah paham yang baik, kondisi ideal dalam bahasa Soros untuk menyambut Open Society ala Popper. Tapi dengan kondisi super unik dari masyarakat indonesia, apakah hal itu mampu? Saya ragu. Sangat ragu malah. Tetapi ya semoga ini hanya sekedar sikap skeptis saya yang lainnya. Bukankah band The President Of United States of Amerika pernah bilang; “ I want to be naked and famous!”.

*ditulis dalam dengung sajak senyap Coolio dalam Gangsta’s Paradise