Jumat, 27 Agustus 2010

Semalam bersama Ayos Purwoaji


Ayos Purwoaji, man with tight leather, not a porn star!


Ruang 6 x 5 meter itu sebagian besar berbalut karpet warna merah. Memiliki 4 jendela besar, dua diantaranya memakai teralis besi. Didekat pintu masuk ada dua meja besar, diatasnya berserakan kertas berbagai jenis, di salah satu sudut meja ada semacam termos yang digunakan sebagai dispenser darurat. Tempat itu remang-remang gloomy, salah satu dari dua lampu yang terpasang tidak bekerja sesuai tanggung jawabnya. Disepanjang dinding ruang itu terpajang berbagai macam potret. Mulai dari potret pegunungan bromo, model, dan kawah ijen. Lalu disebelah kiri pintu ada semacam sekat yang memisahkan antar ruang di tempat itu. Didalamnya terdapat pula sepasang meja yang diatasnya terdapat sepasang komputer. Tempat itu bernama Unit Kegiatan Pers Kampus Mahasiswa Tegalboto.

Tegalboto baru saja menyelesaikan rapat integral berbasis komunikatif verbal antar divisi saat pria berambut tipis itu tiba. Wajahnya oval, giginya putih rapi, memakai kaca mata dengan frame agak tebal, dan senyampang nampak jambang di kedua sisi pipinya berpadu dengan rambut tipis itu. Pria itu kemudian masuk kedalam ruang dengan karpet merah. Menyapa dengan suara halus dan logat bahasa Indonesia sesuai EYD. Senyumnya manis, kulitnya lebih putih dari yang saya kira. Pria ini yang selama beberapa hari menjadi beban pikiran saya. Ayos Purwoaji Lagi Tersayat Ngeritenan, pekerja seni baik budi dari Padepokan Tinggi Sepuluh Nopember.

Diruang utama sebelumnya berjejer 6 pria, salah satunya tampan dan mengemaskan. Mereka adalah Nuran wibisono; pria dengan tampang metal hati dangdut, Arys Aditya; filsuf cum penyair jawapos penggemar Naruto, Didik Saputra; internisti penyuka wanita paruh baya, Marlutfi Yoandinas; putra kyai asli Situbondo, dan Widi Widahyono; desainer yang sayang ibu. Dan yang terakhir adalah saya, pria tampan menggemaskan dengan sejuta pesona.

Nuran Wibisono, animal molester!


“Raaaan! Pacarmu teko Raaaaan!” saya berteriak.

“sopo cok?” kata nuran Sembari keluar dari ruang redaksi.

Ayos kemudian perlahan masuk ke ruangan Tegalboto, wajahnya pucat pasi, seperti tahu bahwa malam ini kehormatannya yang tinggal sebiji itu, akan kami rengut dengan brutal. Ia kemudian duduk bersimpuh dan bersalaman dengan kawan saya Lutfi. Malam itu ia memakai celana Jeans biru dan kaos putih yang dibalut sweatshirt warna coklat. Ia seksi malam itu, meski gak seseksi pacar saya Norah Jonez.

Gayanya konyol, seperti seorang santri yang ketemu habib, Ayos mencium tangan lutfi lalu menempelkan bekas salaman tadi kejidatnya. Berulang kali. Saya jadi teringat acara di NG, ritual ini di Uganda, merupakan salam antar sesama pria jantan. Tapi sayang Ayos sudah tidak jantan lagi.

“wah mas Dhani, alumni pantau” kata Ayos pada saya.

“ah mas Ayos dari tempo” saya jawab

“jancuk jancuk”

“jancuk kembali”

“piye Dhan? Dapat apa saja dari pantau kemarin? Siapa saja yang ngisi? Enak gak? Tanya ayos.

Saya gak pernah tau ayos punya bakat sebagai satpam, baru pertama kali ketemu sudah banyak nanya. Tapi karena beliau ini adalah salah satu “hero” saya. Maka dengan senang hati saya jawab.

“wah banyak” (jawaban standar, karena gak tau mau mulai dari mana)

“Anderas Harsono sama janet Stelee” (berasa ngisi ulangan)

“ya lumayan lah” (bingung mau jawab enak apa gak, soalnya belum sempet ngicipin rasanya Andreas dan Janet)

Ayos kemudian duduk dihadapan saya, dan memulai obrolan ringan dengan Lutfi. Padahal dari kemarin saya sudah sangat kebelet ingin ketemu orang ini, tapi sekalinya ketemu kok ya speechless. Berasa ketemu sing mbaurekso gitu. Selesai bercengkrama dengan Lutfi, Ayos memandang saya lekat-lekat. Syahdu. Seakan ada pertanyaan namun tertahan. Mungkin karena muak dengan wajah saya, ia kemudian memutuskan bertanya.

“lha rambutnya kemana? Padahal saya liat di fesbuk bagus gitu”

“hahaha, Emak saya ngelarang”

“lha kenapa emangnya?”

“ya Ibu saya bilang, tukang cukurnya gak ada yang genah ta?”

Lalu kami mulai bicara ngelantur hal-hal bodoh yang tidak pantas untuk dituliskan disini. Karena melanggar kazanah budaya dan bahasa yang ada. Jika anda kemudian bertanya-tanya siapakah Ayos Purwoaji Lagi Tersayat Ngeritenan ini? Sampai bisa ditulis dalam blog saya yang super keren ini? Maka anda adalah orang sesat, yang harus mandi kembang 7 rupa dan mencium Hajjar Aswat untuk bisa melepaskan dosa asal tersebut!

Ayos adalah pemilik sah dan meyakinkan dari blog naudzubillah super dahsyat bernama hifatlobrain. Sebuah blog -yang sekilas mirip situs porno- travelogue yang terkenal seantero Uganda dan Mozambique. Dengan tagline absurd nan filosofis “Lemak jadi Raja, Akal jadi Dodol”. Ayos akan membimbing anda semua kesebuah perjalanan spritual sesat menuju tempat-tempat eksotis di Indonesia!

Semua berasal pada tanggal 5 Januari 2007 pada pukul 07.12 malam. Pria ini menciptakan blog yang kelak dikenal orang karena tulisan dan sensasinya. Kenapa saya bilang sensasi? Selain penulis blog dan desainer tanpa status, ia dikenal sebagai partner in crime begundal arjasa bernama Nuran Wibisono. Tak kurang dari 3 buku elektronik dibuat dan sukses dibagikan. Bahkan beberapa orang ditengarai menjadikan buku tersebut sebagai kitab suci.

Tetapi mari fokus pada Ayos, karena Nuran hanya sekedar figuran di tulisan ini. Konon kata orang ia menyukai Mlaku-mlaku, fotografi dan mendengarkan musik jazz macam Incognito, Earth Wind and Fire, Fourplay, Yellow Jacket, Lee Ritenour, Ridho Roma, D’Bagindaz, Armada dan D’nasip. Bukankah ini luar biasa? Hal inilah yang membuat saya saat itu jadi blank, tidak tahu harus berkata apa. Namun kebuntuan itu terpecahkan saat Ayos bertanya tentang kursus saya di Pantau

“terus-terus memangnya apa saja yang diajarkan (di Pantau), kmaren?”

“ya banyak, sebagian besar Janet dan Andreas menekankan tentang pentingnya srtuktur, tentang bagaimana menjaga irama tulisan dan menjaga agar pembaca tidak cepat bosan”

“janet itu seperti orang jawa, sungkanan, jadi semua tulisan dia bilang baik, bagus gitu, tapi andreas orangnya sadis, blak-blakan”

“hahahahaha, lha emang Andreas bilang apa?”

“yo kayak tulisannku yang ancur itu lah hahahahaha”

Saya lupa juga menceritakan tentang Engine, selain pentingnya Structure, Janet mengajarkan saya pentingnya Engine. Ibarat obat, engine itu adalah viagra. Suatu hal yang membuat sebuah kisah ngaceng. Seperti kisah Anthony Shadid, wartawan Washinton Post dalam A boy who ‘was like a flower’. Kesederhanaan dan emosi cerita membuat pembaca menjadi kecanduan. Menurut saya, Ayos pernah menulis yang semacam demikian dalam posting yang berjudul Holy Cloves Land J.

Lalu Nuran datang mendekat, sepertinya ia tahu kalo saya lagi flirting-flirting dengan Ayos. Nuran kemudian duduk di dekat Ayos. Mungkin takut saya rebut.

“Terus ketuane tegalboto siapa sekarang?” tanya Ayos.

“yo iki mat” kata nuran menunjuk saya.

“wah pak ketua,, pak ketua”

“hahahah hasyu, ayolah kita ngopi dimana gitu”

“di Quick Chiken (semacam rumah makan waralaba agak mahal) tah?” kata nuran

“loh tadi aku liat tutup” jawab Ayos.

“maksud’e warung sebelane Quick Chiken!” kata saya.

Setelah menemukan kata mufakat, musyawarah besar penentuan lokasi kami tutup, dengan memutuskan ngopi di warung sebelah Quick Chiken. Saya kemudian dobonceng mas Widi, Ayos dengan Nuran, dan Lutfi dikerubutin Aris dan Didik sekaligus. Kami kemudian berjalan ke arah jalan jawa, perjalanan lancar tanpa hambatan, meski di beberapa titik perjalanan kami terjebak macet. Namun sesampainya di lokasi, ternyata warung tersebut sangat ramai.

“piye iki?” tanya nuran

“embuh mat”

“nang gubug wae tah?”

“oyi wes, sek ngenteni arek-arek sik”

Mas lutfi tertinggal karena harus membonceng dua babon secara bersamaan. Tak lama kemudian mereka datang, lalu kami melanjutkan perjalanan menuju ke gubug. Dari jalan Jawa kemudian kami menuju jalan Karimata. Lalu berbelok kesebuah jalan kecil di seberang gereja Karimata. Dan sampailah kami di Gubug, warung kopi yang agak Mbois.

Kami kemudian duduk di sebelah kanan pintu masuk. Lalu memesan minuman. Sambil menunggu minuman tiba kami mulai ngobrol macam-macam. Tetapi Ayos sepertinya belum puas tentang kisah saya di Pantau, padahal saya malu sekali, cerita kok sama tukang nulis bagus.

Lalu tentang Investigasi gmana?” ujar Ayos.

Ya pertama dari hal sederhana, seperti hal janggal, kayak tulisan Bondan winarno dalam Bre X, ato tulisannya Hunter S Thompson di hells angel”

“okelah kalo masalah contoh emang banyak, maksudnya gmana?”

“ya bagaimana kita bisa menggambarkan bahwa penyelidikan berita ini mejadi penting dan memang menyangkut nasib orang banyak”

“maksudnya?”

“Seperti kisah Hiroshima-nya John Hersey, dia kan menceritakan betapa dahsyatnya bom atom, sehingga banyak orang yang merasa bahwa bom tersebut tidak usah dipakek lagi”

Banyak pertanyaan yang diajukan oleh Ayos membuat saya agak keteteran. Saat kami ngobrol Ayos lebih slow, lebih banyak mengutarakan pertanyaan, dan jarang bicara jika tak ditanya. Namun tetap, binal dalam segala suasana. Ia dan Nuran memang benar-benar best combo, ibarat konser, kamu bisa nonton Ritchie Blackmore dan Ray Charles ngejam bawain lagu Imagine. Sukab! Dan ini bukan sekedar testimoni menjilat. Kalian semua bisa ketik nama Ayos dan Nuran di Google yang maha pencari. Dan voila, anda akan menemukan jajaran kasus pelecehan seksual terhadap hewan! Hehehe.

Pada mulanya adalah iri, saya mengenal Ayos lewat sebuah majalah besutan ITS yang berjudul ITS Point edisi Nopember 2006. Jauh sebelum Ayos dan Nuran memutuskan jadi couple. Saat itu Ayos ditampilkan sebagai tokoh mahasiswa berprestasi, sejujurnya saya benci model tulisan macam beginian. Karena biasanya yang ditulis adalah mahasiswa dengan wajah ganteng ato cantik dengan IP ciamik. Saya dan Nuran tentu bukan kategori mahasiswa macam beginian. Namun ITS Point kala itu mengejutkan saya, Ayos digambarkan sebagai mahasiswa imbisil berprestasi di luar bidang akademik. Ia merupakan pemenang asean writing contest 2006 dan juara 2 surabaya sparkling. Wotdefak? Sumpah saat itu saya iri sekali!

Buat saya kuliah itu tentang belajar dan bukan tentang nilai bagus di lembar hasil studi. Bukankah asu kalo misalnya IP 4 tapi gak tahu maksud dari perkuliahan yang dijalani. Namun Ayos dalam kesempatan itu membuka mata saya, ‘hei cuk, if you got somethin’ better prove it!’. Saya yang hanya bisa grundel, ditampol untuk bikin suatu karya. Dan jangan hanya bisa mengkritisi tanpa suatu output yang jelas. Maka dengan niat jihad fisabilillah dan dilandasi rasa narsis riya’, saya mulai menulis, berkarya dan membuat blog! Ya blog! Agar setidaknya karya saya (siapa tahu) bisa menginspirasi orang lain.

Buat Ayos, hifatlobrain serupa Pacar kebanggan. Sehingga sejak kelahiran sampai sekarang ia membuat 240an postingan yang berkualitas. Teknik penulisan yang jenaka, tata artistik yang superb dan konsep blog yang mabtab membuat pembacanya betah berlama-lama matengin monitor. Seperti pengakuan Ria Hayati di akun Fesbuknya “hflbnya mas aklam panyun memang selalu cerdik, sebulan tidak punya pulsa internet membuat saya punya banyak pr baca.. tapi saya senaang, bertambah porsinya... langsung dilahap saja :D”. ngepet kan?

Dalam suatu postingan Ayos menulis tentang mencari tuhan di Google. Sebuah refleksi spiritualitas yang mantab jaya. Semacam igauan dari orang yang membaca komik. Tulisan itu begitu sederhana, jujur dan runut. Jauh dari kesan menggurui dan dogmatis. Saya jadi ingat tulisan mbak Karen Armstrong di Islam a short History kalo baca tulisan Ayos ini. Mbak Karen berujar :“Modernisasi masyarakat melibatkan perubahan sosial intelektual. Kalo dulu nyari tuhan di masjid, sekarang tadarusan di warnet. Asoy.

Bukan itu saja yang menjadikan Ayos dan blognya begitu istimewa. Salah satunya adalah dedikasi. Ayos berusaha membuat semacam pertaruhan akan masa depan. Ia memang tidak tahu kemana nasip akan membawa namun ia sudah dihantui kecemasan;


Salah satu ketakutan terbesar saya adalah: suatu saat nanti saya harus bekerja dan saya tidak bisa meneruskan blog ini”.


Itu merupakan kalimat takzim paling kusyuk yang diucapkan seniman pada karya seninya. Dan saya yakin, khainul yakin, blog yang dibuat Ayos ini akan everlasting.

Malam semakin larut dan minuman kami di gubug sudah habis. Kami memutuskan untuk Hit The Road lagi. Destinasi berikutnya adalah bakso bius. Bakso yang konon punya kasiat sekali makan langsung tidur. Kami bertujuh langsung menuju ke Pasar Tanjung. Malam semakin dingin, tapi hati saya panas. Dengan pergumulan pertanyaan, “heh su, kapan nulis apik?”. Sebuah pertanyaan retoris, karena saya gak tau musti jawab apa.

Malam itu saya banyak belajar, tentang persahabatan, tentang menerima kawan homo, dan tentang bagaimana berkarya untuk kemaslahatan umat. Ayos mengajarkan saya banyak, meski malam itu saya yang banyak bicara. Tipikal. Ini bukan sebuah testimoni. Ini sebuah agitasi, pamflet bagi anda yang banyak bicara. Menantang anda untuk membuat karya. Saya juga, musti banyak refleksi dan menulis. Siapa tau, who know’s, mbok menowo, saya mendapat kehormatan tulisan saya disunting dan dimuat di blog asoy semacam hifatlobrain. Tabik.

Kamis, 26 Agustus 2010

47 Tahun Sejarah Perjuangan

Wiji Thukul adalah sebuah kisah yang belum tamat. Manusia yang seumur nafas ditempa kerasnya hidup. Hingga pada akhirnya ia moksa tak tentu rimba. 47 tahun lalu ia dilahirkan, sebagai pria yang mungkin memang dikisahkan untuk menjadi peluru. Peluru yang dengan jalang, menelikung penindasan-penindasan.

Wiji thukul adalah kata-kata yang tak tuntas diucapkan. Sebuah kalimat yang menggantung, menunggu orang untuk menyelesaikan. Seperti mendung yang pekat, tapi tak kunjung hujan. Barisan kata-kata Wiji Thukul tak lekang menunggu jawaban. Jawaban dari mereka yang sembunyi di balik baying-bayang.

Wiji Thukul adalah barisan-barisan yang tak bubar. Ia patuh runtut menunggu ketidakadilan diselesaikan. Hutang dibayar. Pendidikan gratis. Hakim adil. Dan jendral-jendral ditangkap. Bukan karena ia komandan barisan. Karena ia sebuah garis tegak lurus. Yang menolak dibengkokan dengan moncong senapan.

Wiji Thukul adalah teater yang tak selesai. Kumpulan kisah kisah yang haus perhatian. Narasi-narasi yang jujur. Bukan sinetron yang menjual mimpi. Tragedi satir yang menanti humor. Bukankah dramaturgi tak diajarkan di kolong jembatan dan di lampu merah? Lalu mengapa teater ini tak kunjung selesai.

Wiji Thukul adalah corong usang. Yang berbisik ;

“Aku Masih utuh dan kata-kata belum binasa”

aku bukan artis pembuat berita
tapi memang
aku selalu kabar buruk
buat para penguasa
puisiku bukan puisi
tapi kata-kata gelap
yang berkeringat
dan berdesakan mencari jalan
ia tak mati-mati
meski bola mataku diganti
ia tak mati-mati
meski bercerai dengan rumah
ia tak mati-mati
telah kubayar apa yang dia minta
umur-tenaga-luka
kata-kata itu selalu menagih
padaku ia selalu berkata
:kau masih hidup!

Wiji Thukul adalah perjuangan melawan lupa. Labirin tanpa akhir. Yang kemudian diasingkan lewat teks-teks banal. Kisah-kisah perselingkuhan. Opera sabun. Di khianati keong racun. Dan akhirnya berakhir pada selokan-selokan sejarah. Namun ini sekedar alarm. Karena “aku memang masih utuh, dan kata-kata belum binasa”

Jumat, 20 Agustus 2010

5 songs to suicide; a guide for brokenhearted!

Pada awalnya adalah Blues, sabda seorang kawan pada saya. Tapi saya menolak, manusia Gua tidak mengenal instrumen bersenar 6 semacam gitar dan growhl Hardcore lah yang pertama kali muncul menurut saya. Jadi dengan sangat goblok dan menggelora saya bilang Hardcore adalah induk semua musik. Tapi emang pada dasarnya saya gak tau apa-apa tentang musik maka dengan mudah saya di sikat sama pria laknat itu. Dan semenjak itu saya berikrar “jangan macam-macam dengan kawat gigi dan musik kalo bersama nuran, atau hidupmu akan serasa di neraka tingkat 7”. Amien.

Selain boker dan kencing sambil kayang, saya percaya Aunurahman Wibisono diciptakan untuk musik dan traveling. Jadi saat ia mempublish lima lagu paling romantis sejagat, sebagai umat yang baik, saya sih manggut-manggut aja dan menerima wahyu tersebut dengan baik dan benar. Namun karena pada dasarnya manusia adalah mahluk geblek, ya saya bertanya-tanya. Kalo ada lagu romantis ada dong lagu yang gak romantis, khususon lagi lagu patah hati. Cumak karena orang gak suka sama yang patah-patah (kecuali patah-patahnya Anisa Bahar), maka belum ada yang bikin 5 lagu patah hati paling josh sejagat. Ya sudah, saya bikin saja kalo begitu.

1. Macy Gray -  I Try

Selain bibir tebal dan suara bagus, saya dengan yakin bisa bilang kalo Macy Gray is good for nothing, tapi pandangan itu berubah pada medio 2008 saat saya patah hati. Dan i try ibarat gheto yang menampung segala riuh rendah kesedihan saya. Macy Gray sungguh mengerti bahwa saat kita pisah, kadang ada ruang kosong yang wuuut tiba-tiba ilang. Serupa blackhole, atau feses kala boker. Lagu ini cocok buat anda yang ingin mati perlahan sambil menyayat pembulu darah di pantat.

I believe that fate has brought us here
And we should be together
But we're not
I play it off but I'm dreamin of you
I'll keep it cool but I'm fiendin.
I try to say goodbye and I choke
I try to walk away and I stumble
Though I try to hide it it's clear
My world crumbles when you are not near

2. Ray Charles -  I can't Stop Loving You

Dalam hati, Ibu dari Ray Charles Robinson sudah tau sejak kecil jika anaknya kelak akan menjadi seorang ladies man, penakluk wanita. Tapi bahkan dengan pesona bintang, bang Ray begitu ia biasa dipanggil di pasar, pernah juga patah hati. Dan betapa rindu dan sakit itu bisa datang serupa kentut. Bahwa seorang pecinta yang rapuh rela mengulang waktu dan memperbaiki kesalahannya. Bahwa seorang pecinta ditakdirkan untuk selalu ingat dan tak berhenti mencintai. Dan kepada kenanganlah kita menghujat ya kan sodare-sodare? Lagu ini cocok dinikmati dengan tahu campur dan segelas baygon.

(I can't stop loving you)
I've made up my mind
To live in memory of the lonesome times
(I can't stop wanting you)
It's useless to say

So I'll just live my life in dreams of yesterday
(Dreams of yesterday)
Those happy hours that we once knew
Tho' long ago, they still make me blue

They say that time heals a broken heart
But time has stood still since we've been apart

3. Sheila on 7 - Dan

Saya selalu yakin mereka adalah Power Rangers yang memutuskan untuk membentuk band karena semua monster di bumi sudah musnah. Di masa puber saya yang indah, awal masuk es em pe, saya mendengar tembang kita - yang kemudian jadi theme song sinetron lupus – dari Sheila on Seven. Sungguh saya jatuh cinta pada Duta dan kawan-kawan, bisa menerjemahkan cinta monyet dalam bahasa orang utan seperti saya. Seperti halnya remaja saya jatuh cinta, dan seperti halnya mahluk lainnya saya juga patah hati. ‘Dan’ menjadi sebuah Requiem atas cinta saya yang belum berkembang, bahkan layu sebelum waktunya. Kami berdua sama-sama terluka, sama-sama sakit dan sama-sama ingin saling melupakan. Bedanya dia bisa, saya enggak. Goblok. Oh ya, lagu ini bagus jika ditutup dengan suara megah dari gelegar pistol yang ditembakan ke kepala anda.

Dan
Perlahan kau pun
Lupakan aku mimpi buruk mu
Dimana telah ku tancapkan duri tajam
Kau pun menangis menangis sedih
Maafkan aku

Dan
Bukan maksud ku
Bukan ingin ku melukaimu
Sedarkah kau di siniku pun terluka
Melupakanmu menepikanmu
Maafkan aku

4. The Cure - Boys Don't Cry

Saya curiga Gabriel Garcia Marques adalah tokoh intelektual dibalik terciptanya lagu ini. Bukankah ia pernah berujar “Nobody deserves your tears, but whoever deserves them will not make you cry.” Dan voila Robert Smith cs memutuskan membuat lagu memukau tentang kesombongan anak laki-laki di depan mantan pacar yang sebenarnya masih mereka cintai. Dan kadang seorang laki laki terlalu bodoh untuk bertindak jujur sampai pada akhirnya mereka kehilangan. Lagu ini sangat cocok bagi anda yang mempertimbangkan mati lemas karena menghisap Carbonmonoksida dari knalpot mobil anda.

I would tell you
That I loved you
If I thought that you would stay
But I know that it's no use
That you've already

Gone away
Misjudged your limits
Pushed you too far
Took you for granted
I thought that you needed me more

5. Norah Jones - Don't Know Why

Lagu ini dinyanyikan memang sebelum yayang Norah (yang sekarang lagi long distance ama saya) putus ama Basisnya beberapa waktu lalu. Kita tahu Norah Jones adalah American Gifted Jazz Star. Suaranya yang serak-serak basah membuat kita tahu bahwa jazz dan cinta memang ditakdirkan bersama. Namun persetan Camus saat ia berujar “Blessed are the hearts that can bend; they shall never be broken.” Lagu ini memang tentang kesabaran orang yang ditinggalkan, bahkan hati yang paling luas pun akan pecah. Bukankah fitroh bagi hati untuk perih? Entahlah, but anyway lagu ini baiknya diputar sebelum anda memasang tiang gantungan. Karena saat anda tercekik frase dibawah ini akan sangat menyakitkan.

My heart is drenched in wine
But you'll be on my mind
Forever
Something has to make you run
I don't know why I didn't come
I feel as empty as a drum
I don't know why I didn't come


Sebenarnya masih ada delapan belas milyar tujuh puluh dua juta enambelas lagu patah hati yang mau saya rekomendasikan. Termasuk di antaranya Asmara Jati Nangor the Panas Dalam, Angkuhnya Burgerkill, Sampaikan salamku nya Jackpot, Bagian Yang Hilang nya Funky Kopral. Tapi saya yakin antum sekalian tidak percaya, karena memang tidak ada lagu sebanyak itu. Sedangkan dalam 5 tahun terakhir dari band karbitan saya mencatat ada beberapa lagu mewek ser ser yang memang akan bagus secara karya jika digarap secara serius macam Kenangan Terindahnya Bambang Samson, Tapi Bukan Akunya Samuel Giman (gigi mancung) Kerispatih. Tak lupa pula lagu keren dari our very own Nazriel Ilham of Peter Pan yang sudah payah membuat lagu Semua Tentang Kita.

Jika ada sumur diladang, boleh kita menumpang mandi. Kalo saya putus cinta lagi, nanti bikin daptar lagi. Oke boy en girl, karena waktu imsak sudah tiba. Saya selaku umat beriman dan bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa ijin undur diri. Jika ada salah kata sungguh itu disengaja untuk kebutuhan hiburan semata. Wassalam!
\

Kenangan Dalam Botol


Pada awalnya adalah ingatan.

Kamu selalu tahu bahwa aku membenci matahari yang terlalu terik datang di waktu musim hujan. Karena aku suka hujan. Oh mungkin aku lupa bilang. Karena waktu yang menembus bilik-bilik ingatan membuatku lupa apa saja yang telah kulepas dari mulutku ini. Mungkin kata atau umpatan. Aku lupa, mungkin karena sangat ingin lupa, peri-peri yang menjaga sungai kenangan mengabulkan inginku. Tetapi di hari terik ini entah kenapa ingatan tentangmu datang lagi.

Kenapa selalu tentang ingatan?

Aku mau berkisah tentang ingatan, yang kusimpan rapi dalam kertas dan kumasukan dalam botol kecap tebal. Kisah tentang ingatan yang segar berumur sewindu purnama. Dalam kisah itu sebagian besar tentang kamu, tentang kita dan sedikit tentang hal-hal yang kita sukai. Ingatan itu masih kusimpan rapi dalam botol, bukan karena aku sentimentil. Tapi aku tak tahu cara menghancurkannya. Aku mau ingatan itu hilang tapi setiap kubuang, selalu kembali dengan cara yang sama. Dengan pita merah dan sepucuk surat tertulis “kumohon jangan kau buang”.

Aku terdiam tolol dan kembali menyimpan ingatan itu.

Ingatan itu menyakitkan, karena ia bercerita tentang kamu. Tentang senyum yang lepas, tentang rindu yang tebal, dan tentang lubang besar yang hilang. Dimana semantik-semantik cinta yang mulai bertunas? (Apa hakku mengatakan itu cinta dan bukan nafsu?) Itu sudah dikubur, semenjak kau dan aku saling menyakiti. Saat aku berdusta tentang banyak wanita dan kau berkata tentang seorang pria. Aku menolak menangis tapi air dalam kantung mataku deras turun. Kau tidak tahu, karena aku tak mau kau tahu. Itu menyakitkan.

Kapan rasa sakit itu dimulai?

Di tengah bulan November yang panas, yang gerah. (Kenapa selalu gerah dan panas?) Kenangan remeh temeh tentang betapa kamu yang memakai baju putih dan rok hitam itu begitu purna. Ingatkah kau? Bukankah aku berjumpa kau dalam sebuah ruangan penuh dengan manusia, tetapi kenapa hanya kau yang tinggal dan di ingat? Dimana kemudian kau datang kepada sarang buas dimana nalar dan kebebasanku di buai. Kita bertemu lagi untuk yang kedua, (saat itu aku yakin ini jodoh) awal perkenalan kita biasa saja. Aku pun sebenarnya hanya suka, tak jatuh kagum barang sedetik. Tapi nanti kau pun akhirnya ajarkan aku betapa kau itu begitu menarik. Saat itu kau tetap begitu purna meski kusam dan berkeringat. (Dan itu awal mula Aku benci matahari Terik!)

Aku selalu ingat. Tapi entah kau.

Aku ingat sedikit jalan-jalan di kota ini, yang basah setelah hujan. Tentang awal tinggal dirimu di sebuah induk semang. Bukankah kawanku yang menghantarkanmu? Tentu kau masih ingat padanya. Tapi kau bilang kau bosan, kau tak suka, kau tak suka dilarang bermain di loteng. Tentu aku ingat kau suka bermain di Loteng. (Ah aku tak pernah tahu sedalam apa hubunganmu dengan gravitasi). Kau selalu suka tempat tinggi. Aku membutuhkanmu. Aku butuh perempuan tangkas yang tak bisa diam, yang tak peduli kulit hitam karena berjalan panas. Perempuan yang berebut membaca buku Raditya Dika, setelah semalaman berdebat mana yang lebih baik dari Manikebu dan Lekra, perempuan yang memaksaku mengantri nonton laskar pelangi dan menangis menghukat nasib Lintang yang suram, perempuan yang teguh bilang Kerispatih itu keren meski kau tau aku jelas-jelas memandang mereka najis haram, Perempuan yang menolak patriarki tetapi begitu senewen minta di manjakan, Perempuan yang mau repot memasak, belajar membikin kue dan memaksaku untuk memakannya. Terus dan terus dan terus sampai aku bilang kue bikinanmu enak. Lalu kau tersenyum puas. Kemandirian yang dibangun atas semangat kepanduan, (hei pernahkah ku bilang aku juga penganut dasa dharma dan tri satya pramuka?) yang baru kuketahui belakangan kau adalah pandu perempuan paling manis yang pernah kukenal. Terpujilah sir Robert Baden Powell ujarku tiga kali.

Itu kamu, yang membuat saya luluh.

Kemudian kita saling menyapa, meski mungkin hanya lewat teks. Karena kamu tahu? Aku tak punya nyali, hanya omong besar, namun tak pernah ada keberanian bertegur kata. Tetapi aku tak pernah lupa detik, gestur, ekpresi, suara, lekuk, gerak dan moment saat kau menyapa dengan khas. Kau sebut namaku dengan imbuhan “Mas”, maka terkutuklah Nietsche yang membunuh tuhan. Karena ia tak pernah melihat momen ini sebagai hal paling kudus dalam hidup. Ia dengan kata sederhana meruntuhkan menara Babilon dalam diriku, memporak-porandakan peradaban patriarki ala Sparta. Hingga aku lengser di ujung rupa penjelmaan si pendobrak Artemis yang menitis dalam dirimu. Aku mabuk, orgasmus dan menggelepar dalam trance tak berucap. Lalu jatuh sayang kepadamu adalah tindakan wajib dan tak membutuhkan sikap aposteriori. Tidak perlu Kant untuk membuktikannya. Karena itu wajib dan semua yang wajib hukumnya Fardhu! Itu bukan monopoli titah wahabi tapi semua umat yang pake embel-embel agama di KTP nya. Dan di ujung hari aku bertakbir Amor Platonicus!

Aku rindu kau dalam banyak bahasa.

Keberanian untuk mengucap rindu itu lahir dari rahim-rahim biner dalam layar ponsel buatan Bavaria. Ya aku kemudian berani untuk mengambil resiko jatuh sayang padamu. Ya serupa nyali Perseus yang memusnahkan Kraken, aku putuskan untuk mengenalmu, mengejarmu, dan berusaha memilikimu. Aih? Tidak, kau bukan untuk dimiliki, kau bukan benda, kau lebih luhur dari padan kata surga dan suci sekaligus. Meraih ya meraih, sehingga keberadaanku kau akui, aku akan meraih predikat itu. Aku mulai berani bertukar sapa dalam jejaring provider seluler. Karena menatapmu langsung akan membuatku ringkih, lemah dan tak berdaya. Sedikit demi sedikit aku membangun sedimen keberanian untuk bertemu denganmu, mengajakmu makan di kaki lima tanpa takut diare atau hepatitis. Aku selalu kagum atas sikapmu yang tak ambil pusing, acuh diri dan penampilan. Itulah kamu, tidak perlu rapal mantra aji jaran goyang atau puji laku pengasihan. Hatiku ini rontok untukmu! Sedikit demi sedikit dalam diri ini terpatri sebuah sarkofagus, dengan ikrar. Hingga pada batas masa penciptaan yang diakhiri 4 penunggang kuda, aku tak akan menyesali keputusan ini. Keputusan untuk jatuh sayang, meski akhirnya sangat perih.

Hujan adalah kenangan yang pecah

Seperti hujan, ingatanku tentangmu itu mendung, basah, dingin dan pecah. Tetapi sampai detik ini aku masih jatuh sayang. Bukankah sayang itu pamrih? Ia memintaku tetap ingat sebagai imbalan jatuh sayangku padamu. Tentu kau ingat saat kuminta kau masak? Ya masak, kau bilang kau bisa masak, aku tak percaya, kau bilang coba saja, kujawab buktikan, dan esoknya kau bawakan aku makan. Dan sungguh aku tak percaya kenikmatan kaviar atawa escargot deux ala paris mampu menandingi kesederhanaan masakanmu. Kau memang bukan Farah Quin, tetapi masakanmu jujur, sejujur mata terang berbinar serupa bintang saat kubilang masakanmu enak. Lain waktu kau bilang kau bikin kue, sedikit gosong, tak apalah, karena itu yang masak kau, pare mentah pun kulahap (semakin gombal, tapi benar kata Iwan Fals, cuma orang yang sedang goblog yang tak gombal bersamamu). Kau adalah dualisme Durga, kau begitu gagah dilapangan dengan bola ditangan, tapi kau juga selalu menangis karena takut gelap. Iya, aku masih ingat. Kau sengaja menelponku sesaat sebelum tengah malam, karena ingin pipis tapi takut gelap. Kubilang pergi. Kau bilang gelap, kau takut. Ya sudah aku temani, kau memaki bagaimana bisa? Kujawab bisa, hidupkan lampu! Dan kau tertawa dengan suara manis.

Aku selalu suka suaramu.

Gendud kau panggil aku. Aku memang gendut, tapi aku suka gendut. Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan ujar Rendra mesra, kau pun begtu Juwitaku. Aku begitu kagum pada dawai suara yang rentak keluar dari bibir mungilmu. Dan suara itu yang kadang membuatku mabuk kepayang. Aih! Tak sadarkah kau suaramu itu seperti nyanyian Requiem yang dirindukan serdadu sekarat di padang mashyar? Oh ini bukan seram, ini kesungguhan sayang, ini adalah suara pembebasan. Apalagi yang dirindukan orang serkarat selain kematian yang agung? Dan aku rela mati dalam tebasan suaramu di riuh rendah Valhala, menunggu kedatangan kurir Valkyrie! Suaramu adalah rindu yang ditahan waktu pada saat permulaan masa. Dan yakinlah duhai Juwita hitam manis, derai angin dari kotamu tak akan mampu merengkuh indah khalam suaramu.

Hingga kau kusakiti…

Zuhud dalam keterbatasan membuatku mudah cemburu, sinis, peka, kejam, paranoid, pesimis, posesif, fanatis, banal, scizophrenic dan jahil. Aku pada dasarnya adalah mahluk lemah yang bersembunyi pada setumpuk tebal buku-buku yang tak lunas di mengerti. Hanya pada pengetahuan yang setengah aku berani bergaya. Aku cemburu atas semua kelebihanmu, kemandiranmu, pesonamu, kebaikan hatimu, perangaimu, olah lakumu, bahasamu, suaramu, wajahmu, sikapmu, marahmu, cemberutmu, tawamu dan yang paling utama, aku benci bakatmu untuk dicintai. Itulah dengki, dosa yang mengutuk iblis dalam pengasingan, dengki karena yang Maha Agung mencintai Adam lebih dari Iblis. Aku dengki atas kelebihanmu, aku cemburu atas cintamu yang luas, aku marah pada sikapmu yang adiluhung!

Aku menyayangimu dengan cara yang bodoh

Kuakui itu, aku adalah pria bodoh yang menukar emas dengan seonggok tahi. Aku rela menukar keberadaanmu demi sekerat ego. Aku dan egoku yang setolol Duryudana! Aku mulai menyakitimu dengan kata-kata kasar. Kata-kata yang keluar tanpa tendeng aling-aling. Kata-kata rusuh yang muncul dari pikiran primitif. Sikapku yang kasar dan perangaiku yang buruk. Akulah Caligula, manusia yang gila karena kehilangan cinta. Tapi itu tak memberikan pembenaran atas sikapku yang bodoh, ucapanku yang keji dan tingkahku yang menjijikan. Aku hanya tak tahu cara menyayangimu, nafsu memiliki yang membuncah serupa api yang membakar nalarku. Saat ku tahu kau dekat dengan seorang pria. Kecemburuan itu datang perlahan, menyusup perlahan dan membakar bara dalam hatiku. Aku cemburu dan aku bodoh! Sungguh, kau boleh merajamku dengan sejuta sayat paku yang direnda racun laba-laba Black Widow yang perih itu. Andai bisa menyuap betara Kala untuk mengulang waktu, maka rela kuruntuhkan Jonggring Soloka beserta isinya! Tapi tak pernah ada andai yang terkabul dalam hidup manusia. Andai tetap menjadi andai.

Keangkuhan yang luntur

Pada malam-malam suci dimana sebuah kitab umat di turunkan aku bergumam. “sedang apa kau? Sudahkah kau bahagia? Apakah kau mendapat jawab atas doa-doamu?”. Hanya angkuh ruang dan dengki yang menahanku untuk lari berontak melihatmu. Untuk memastikan kau tersenyum dan baik-baik saja. Tapi apa daya, rupanya sayangku padamu masih kalah oleh ego. Aku menangisi keputusanmu, keputusanmu untuk menerima pria lain untuk membahagiakanmu. aku tahu itu dari seorang kawan yang juga kawanmu. Betapa sakit jiwaku, rasanya seperti dicabik perlahan-lahan. Sakit dan perih. Aku menahan sakit yang tak kunjung padam, hidupku linglung, hatiku luka, mataku sayu, semangatku padam dan segala rupa keromantisan novel remaja seakan mengejek. Aku tahu ini salahku sendiri dan aku pun paham luka ini mesti aku sendiri yang mengakhiri. Luka ini akan berhenti perih jika aku berhenti mengingatmu.

Kisah ini punya akhir.

Ya, aku selalu percaya kisah yang baik harus punya akhir. Bukan berarti Happy Ending ala Disney. Karena Lemony Snicket dan Solzhenitsyn mengajarkanku untuk tak berharap pada akhir bahagia-namun tetap- kepalaku yang keras, ogah belajar dari kitab-kitab. Sehingga kemudian aku bertanya “Bagaimana cara mencintai angin yang menolak tunduk dan hanya hendak berhembus tunggang langgang tanpa sekat? Bukankah kau serupa udara yang bersifat Omnipresent? Tak mau di ikat dan terbang bebas. Dan semakin mengingat aku semakin luka. Ah entahlah biar luka ini aku yang tanggung, aku memang menutup mata, kau tau? Karena ku pikir kau tak akan kehilangan aku. Ya, kau dan temanmu yang banyak, hidupmu yang riuh, dan cintamu yang luas. Kau tak akan kehilangan aku. Aku si bungkuk buruk rupa dalam kisah karya Victor Hugo. Yang hanya bisa mencintai dengan jalan yang paling sunyi.

Ini mungkin akan menyakitkan..

Aku tahu, ini menyakitkan. Tapi obat yang baik selalu pahit. Ingatan tentang mu datang serupa banjir bandang, yang wussshhh wussshhh datang tanpa mampu dihentikan tapi kemudian Dor! Hilang begitu saja. Tapi sebelum peri-peri yang baik membuang semua ingatanmu ke dalam botol kecap, aku tetap mau berkisah. Kisah tentang ingatan kamu. Mungkin kau lupa, tapi aku selalu ingat.