Selasa, 14 September 2010

Dr. Faustus dan Tragedi Kejujuran


Christopher Marlowe suatu saat pernah membuat sebuah teks drama memukau tentang relasi manusia dan kuasa atas pengetahuan. Drama itu berjudul The Tragical History of Doctor Faustus, sebuah drama yang secara cerdas menguliti batasan rasio dan paradoks manusia. Dimana alkisah hiduplah Dr. Faustus, seorang cerdas yang meyakini logika sebagai pusat kedigdayaan manusia. Dan ia rela menukar jiwanya kepada Lucifer melalui perantara Mephistophilis. Dengan harapan ia akan mendapatkan pengetahuan paling purna yang dimiliki manusia dan mencapat kesempurnaan hayati.

Saya ingin menulis ini karena dorongan untuk mementaskan apologi (bukan afirmasi) kepada beberapa teman, sahabat, guru dan kenalan yang secara frontal mengempur saya dalam hal penulisan. Jika anda cukup mengenal saya, atau pernah ngobrol dengan saya. Maka mungkin anda akan dibikin muak, kesal dan jengah dengan banyaknya kutipan dan nukilan kata atau buku yang saya sertai dalam suatu diskusi. Dalam beberapa kesempatan, orang menilai saya sebagai individu sombong dan banal. Namun ada sedikit orang yang terjebak mempercayai mitos bahwa kapasitas pengetahuan saya melebihi Einstein. Lewat tulisan ini, saya ingin menjawab. Kalian benar dan saya salah. Sayalah Kikuchiyo, sang pecundang dan pembual dalam karya jenius Akira Kurosawa "The Seven Samurai".

Berawal dari sebuah pesan sederhana namun dalam, yang berbunyi "Kebenaran bisa berasal dari mana saja. Saya merasa itu klise yang pahit" dari seorang kakak yang baik hati. Oryza Ardiansyah namanya. Saat itu saya sedang bercerita tentang beberapa orang tokoh di persma.com yang secara gencar menyerang tulisan-tulisan saya. Dengan alur argumen kelas kambing, namun memang dalam beberapa hal ia benar. Mereka mengejek dan menghina saya sebagai orang yang asal comot nama, sok pinter, meninggi dan sok tau. Hanya karena saya banyak menulis dengan menggunakan banyak nama referensi dan bacaan. Saya berapologi bahwa tulisan saya memang didasari oleh argumen yang lemah dan kutipan tadi untuk memperkuat pemikiran saya. Dan kutipan itu tidak bermaksud sombong, saya hanya ingin menunjukan bahwa ada beberapa bagian dalam tulisan saya yang bukan hasil karya saya namun cuplikan pemikiran dan karya orang lain. Memang dalam beberapa hal kutipan tadi terlalu banyak dan kesannya sangat menggurui. Sungguh, saya hanya ingin memberikan pencerahan atas tulisan saya. Sehingga tidak menyesatkan orang dengan membuat mereka berpikir tulisan tersebut 100% orisinil hasil karya saya sendiri. Bukankah jujur itu baik?

Disisi lain saya juga ingin mempraktekan hasil didikan seorang kawan yang telah mengajari saya untuk bersikap fair dalam menulis. Karena saat dulu awal saya belajar menulis saya pernah tidak mencantumkan sumber penulisan sehingga ada kesalahpahaman terhadap isi tulisan saya. Saat itu saya dimaki habis-habisan dan dimarahi layaknya seorang anak yang habis mencuri mangga. Saya diam, karena memang saya salah dan tidak seharusnya melakukan tindakan pencatutan tanpa sumber. Copyrights is not all about profit, is about a respect and honour to such people who work so hard to made something. Saya bersyahadat saat itu tidak akan pernah menulis tanpa mensertakan sumber yang menginspirasi saya dalam mencipta karya. Tetapi jika ini dirasa berlebihan dan salah, saya tidak perduli. Saya tidak akan murtad dari iman yang sudah saya ucapkan.

Dari bincang tersebut mas Oryza menyindir saya dengan kata-kata "jangan-jangan kamu iri sama dia?". Saya heran, mengapa saya dikatakan iri? Padahal saat itu saya sedang sangat kesal karena hasil kerja saya tidak dihargai. Selanjutnya ia berujar "ya karena kamu tidak mampu (untuk melakukan apa yang mereka buat)". Saya terdiam sesaat, saya jujur terhenyak atas kata-kata beliau. Mungkinkah saya iri? Dan kesal sehingga melakukan pembenaran dengan tindakan penginaan dan cacian? Mungkin, bukankah seringkali saat manusia lemah ia akan menyerang balik tanpa berpikir matang? Dan inikah yang kemudian menghinggapi saya? Semoga tidak, dalam organisasi yang saya ikuti, kedewasaan berfikir dan menerima kritik adalah harga mati. Jika kemudian saya menjadi fasis dan totaliter karena suatu kritik. Maka saya adalah golongan kaum sampah dan taik kucing dalam bahasa kami.

"Kebenaran bisa berasal dari mana saja. Saya merasa itu klise yang pahit"

Kaitan antara Dr. Faustus karangan dari Christopher Marlowe dan tulisan ini adalah. Dr. Faustus rela menjual jiwanya demi ilmu pengetahuan kepada Lucifer. Serta ia menjebak Mephistophilis untuk menjadi hambanya. Karena ia ingin membuat manusia sebagai tuan dari dirinya sendiri. Namun pada akhirnya Dr. Faustus terjebak keinginannya sendiri dan jatuh dalam 7 dosa awal. Dalam diri saya pun demikian, demi keagungan atas nama ilmu pengetahuan terkadang saya terjebak dalam ribuan kata dalam buku dan sibuk mencernanya sendiri. Terkadang saya lupa untuk melihat realitas yang kadang duduk besebelahan dengan saya. Menunggu untuk disambut dan diatasi. Meski dalam cerita Christopher Marlowe Dr. Faustus akhirnya tertelan sumpahnya dan mengalami siksa tanpa akhir dari Lucifer. Kawan-kawan melakukan upacara penguburan keagamaan demi mengenang Dr. Faustus. Setidaknya ada sebuah pengampunan tak bersambut dari Dr. Faustus.

Teman saya yang lain mengatakan saya adalah korban dari “Anxiety of Influence”. Istilah yang dikemukakan Harold Bloom terhadap orisinalitas dank e-terpengaruh-an seorang penyair terhadap penyair sebelumnya. Atau dalam bahasa saya yang sederhana, inspirasi yang menyebabkan seseorang berkarya. Hal inilah yang seringkali menjadi dasar kritik seseorang dalam menilai karya tulis, dalam artian, seberapa besar orang itu meniru/mencontek gaya penulisan orang lain. Tetapi dalam sudut pandang saya yang sempit ini, tidak ada yang namanya orisinalitas, yang ada hanya inovasi dan modifikasi. Dan sekali lagi saya katakana, lebih baik jujur mencantumkan sumber inspirasi kita daripada ngaku-ngaku suatu hal padahal nyontek.

Kejujuran adalah sebuah tragedi yang terjadi akibat runtuhnya bangunan kesombongan yang rapuh. Sebuah cambuk dari kawan yang telak menimpa saya malam ini mungkin jadi pelajaran. Sebuah refleksi atau sekedar pencerahan. Ini adalah apologi bukan sebuah pernyataan menyerah. Najis buat saya menyerah dalam perang yang belum dimulai. Ini adalah sebuah pamflet awal perang. Perang yang akan saya mulai dengan karya saya. Tunggu dan saksikan fagot!

Selamat Lebaran

"Selamat Lebaran, siapapun anda, Sahabat"

Minggu, 12 September 2010

sajak untuk kemih

Apa yang lebih jujur dari sempak yang bau apak sperma?

Yang di dalamnya masih menetes butir putih,

calon-calon anak yang dibunuh sebelum hidup.

Apa yang lebih mistis dari sempak yang merah darah perawan?

yang tiap tengik nodanya bercerita,

tentang sepenggal mahkota dilukai benda tumpul hina.

Apa yang lebih manis dari sempak yang sobek separuh?

Yang dilekuk gurat kainnya masih hangat,

dengan reguk tangis pemilik mahkota.

Apa yang paling meriah dari sempak dipasang?

tentang sebuah seru teriakan lirih

"kemaluan hina ini berhutang nikmat pada garba-garba luka"

Home Redemption

Apa nama jalan menuju judul, sajakku? Namanya jalan panjang, penyairku.
(Joko Pinurbo dalam Sajak Panjang)

Baru-baru ini saya baru selesai membaca buku, Mushashi karya Eiji Yoshikawa. Buku yang bercerita tentang perjuangan Shinmen TakezĂ´ yang berkelana mencari jati diri. Dan pada akhirnya dikenal dunia sebagai master samurai melalui petualangannya yang hebat. Saya selalu mengagumi mereka para penjelajah dan keberanian mereka dalam merantau. Serupa perkataan Puthut EA “…sampai detik ini aku masih punya keyakinan, perjalanan selalu menjadi resep mujarab penawar rasa hampa”. Dan kata-kata itu yang kemudian merangsang saya untuk melakukan perjalanan-perjalanan nantinya.

Saya jarang melancong. Karena memang sebagian besar hidup saya dilakukan di tempat kelahiran saya. Bondowoso. Sebuah kota-hampir primitif tapi asri- di Jawa Timur. Mulai dari sekolah, kuliah, pacaran, nonton bokep, nyolong mangga, bolos dan berkelahi. Semua kesenangan masa muda dan sedu sedannya. Kepada lagi saya harus berterimakasih atas jarak yang begitu dekat? Selain kepada kedua orang tua saya. Mulai dari Sekolah yang dekat, Kampus yang dekat, tempat nongkrong yang dekat, (mantan) pacar yang dekat, dan sederetan kedekatan-kedekatan yang mulai basi jika saya tuliskan disini.

Pada dasarnya memang saya suka menjelajah, atau dalam bahasa katrok, jalan-jalan. Saya punya cita-cita (yang sempat diprotes keras oleh Ibu) untuk bisa bekerja di Jakarta. Kota megapolitan nan hebat yang mengundang saya untuk bermimpi tentang ketenaran. Atau di Surabaya, sebuah kota historis yang menyimpan nilai perjuangan dari zaman Bung Tomo sampai Kartolo. Tetapi lambat laun saya dewasa dan merasakan pedihnya kota-kota tersebut saya mundur perlahan. Kota besar dan saya tidak akan pernah akur.

Bukan tanpa alasan jika pada akhirnya hubungan saya dan kota besar itu tak pernah mesra. Di Jakarta yang katanya keren itu saya tak menemukan belas kasihan (kecuali saat saya main ke rumah seorang taghut blasteran padang betawi). Dan umpatan berima benci dengan mudah diudarakan. Oh bukan, saya tidak ingin jadi sentimentil. Tetapi pengalaman saya beberapa kali ke Jakarta sebagai individu merdeka (meminjam terminologi Seringai), saya merasakan aura egois dalam setiap langkah di kota-kota tersebut.

Saya mungkin hanya korban dari kotak pandora bernama televisi. Sebuah tontonan dan mitos Jakarta yang ditayangkan dalam televisi. Sebuah diorama atas kondisi yang sebenarnya 98% konstruksi. Jakarta Land of Dream, fitnah paling keji yang saya terima setelah Lady Gaga itu adalah musisi Avantgarde. Dauglas Kelner menyebut keadaan ini sebagai Megaspectacles. “fixate attention on events that distract people from the pressing issues of their everyday lives with endless hype on shocking crimes, sports contests and personalities, political scandals, natural disasters, and the self-promoting hype of media culture itself” (Media Spectacle - Dauglas Kelner. 2003). Dan fakta itu membuat saya ingin mengencingi muka saya sendiri.

Tak pelak kenyataan ini membuat saya masygul dengan para perantau di Ibukota. Saya yakin nyali mereka setingkat dengan Perseus saat menaklukan Kraken. Ibukota yang sadis itu mereka gagahi dan reguk kenikmatannya dengan kerja yang kadang serabutan. Entah jadi kuli, supir, direktur perusahaan calo tiket, koruptor, anggota DPR, lonte, koruptor, PNS BUMN, pedagang nasi Padang, koruptor, istana negara, joki three in one, koruptor, Polri dan mungkin juga jadi penulis. Pekerjaan yang bukan hanya menuntut keuletan namun juga kepandaian dalam mencari celah. Ini bukan Azam dalam kisah Ketika Cinta Bertasbih. Ini Jakarta bung, bukan Mesir. Jakarta jauh dari Mekkah, otomatis doanya juga susah nyampenya.

Saya juga kadang heran, untuk apa manusia berkerja. Cari makan. Terus setelah kebutuhan makan dipenuhi? Ya buat beli blackberry, nonton di 21, beli Benz dan ratusan daftar yang hendak dipenuhi itu berjejer panjang. Pada akhirnya manusia-manusia tadi hanya akan terjebak pada keinginannya yang banal. Lalu diamini dengan sederet apologi-apologi bahwa konsumsi itu perlu untuk keberlangsungan eksistensi diri dan komunal. Karena kerja keras tersebut pada akhirnya hanya untuk memenuhi kebutuhan yang saya gak yakin itu penting.

Kebetulan bulan September ini ramadhan, setiap ramadhan entah kenapa ada yang namanya lebaran. Dan setiap mau lebaran muncul peristiwa migrasi besar yang mengalahkan migrasi unggas. Peristiwa migrasi ini disebut sebagai Mudik. Entah kenapa dinamai demikian, karena dalam KBBI belum ditemukan definisi Mudik (atau KBBI saya yang usang?). Peristiwa dimana rombongan jema’ah manusia proto kuli, pulang dari mencari nafkah di (ibu)kota-kota besar, pulang dari menuntut ilmu, atau bahkan pulang dari kegagalan nasib kembali ke tempat so called rumah.

Seumur hidup saya tidak mengenal budaya mudik. Lagian buat apa? Toh saya lahir, besar, berak, orgasme, terluka, kerja, kuliah, makan dan sebagainya dan sebagainya di dekat rumah. Lalu untuk apa mudik? Bukan kapasitas saya untuk menghakimi mudik. Karena ibarat Roy Suryo, Cuma tau potoshop langsung di daulat jadi pakar telematika. Saya gak mau ambil komentar, karena Mudik tidak pernah saya alami. Saya mungkin hanya sekedar berkomentar dari sudut jauh keilmuan yang diperkuat dari kutipan-kutipan biar dikira pinter.

Mudik secara harfiah adalah pulang kampung. Tetapi apabila dikaitkan dengan konteks ruang dan waktu. Mudik adalah perpindahan manusia/ sekelompok manusia, dari suatu kota menuju kampung tempat kelahiran/memiliki nilai sentimentil, pada masa bulan Ramadhan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Itu definisi ngasal, karena Saya tidak tahu etimologi dari kata Mudik, mungkin dari bahasa jawa? Muleh Dhisik atau pulang dulu/ pamit pulang. Entah saya tidak tahu.

Statistik dari Metro TV mengatakan ada sekitar 20 juta lebih orang yang akan melakukan Mudik. Itu sekitar 10 % dari total populasi sementara Indonesia. Bayangkan 20 juta orang memenuhi jalanan dan angkutan umum. Dan semua itu dilakukan hanya untuk mudik semata. Gila. Mungkin Saya lebih suka menyebutnya sebagai Exodus. Mengapa? Ingatkah anda pada kisah Musa? Yang memimpin kaum Bani Israel/Yahudi menuju tanah yang dijanjikan? Well ini kebalikannya. Mereka kembali dari Tanah yang menjanjikan menuju tempat dimana mereka dilahirkan. Apalagi kalau bukan untuk menunjukan kejayaan dan hasil kerja keras selama di kota.

Saya jadi teringat nukilan sebuah kisah dari bukunya David Chaney yang judulnya Lifestyles (1996). Pada Abad ke 18 dan 19 ada urbanisasi besar-besaran di Inggris. Pertumbuhan kota-kota yang dimiliki oleh tuan tanah yang menjanjikan kemakmuran mendorong orang-orang hutan untuk pergi ke kota, dimana mereka mencari nafkah dan mengenal peradaban. Memang tetap ada orang-orang yang tinggal di hutan yang kemudian dianggap sebagai pelaku sihir (witchcraft). Beberapa orang yang kemudian sukses dikota menolak kembali ke desa karena alasan tidak ingin dianggap liar (savage) karena hidup dari pembunuhan hewan di hutan.

Tetapi dalam beberapa hal mereka tetap mengenal roots melalui ritual natal. Beberapa ada yang kembali ke desanya. Dan menetap, sebagian lagi tidak kembali sama sekali. Mungkin karena perbendaan kebudayaan. Keguyuban dalam keluarga tradisional Indonesia telah mengakar kuat. Disitulah saya pikir alasan mengapa kemudian Mudik bisa terjadi.

Secara historis orang-orang jawa, setahu saya tidak memiliki kebudayaan merantau. Dan bagaimana asal muasal budaya yang melahirkan ritual Mudik. Jika kemudian anda berargumen bahwa ada majapahit yang merantau sampai ke negeri Champa atau penggambaran kisah Pram dalam Arus Balik. Saya jawab. Majapahit itu bukan merantau tetapi agresi militer. Dan sepengatahuan saya kebudayan merantau dimiliki oleh orang-orang bugis dan sumatra. Jikalau mereka mudik, itupun terjadi apabila mereka sudah sukses/kaya saja. Jadi dimana sebenarnya periodesasi mudik itu dimulai?

Saya coba dari tahu dengan membaca penelitian Dr. Frances Gouda dalam Dutch Culture Overseas (1995). Dimana ia berkisah pada zaman Cultuurstelsel orang-orang belanda banyak membawa orang jawa untuk dibawa ke seluruh Indonesia untuk dijadikan budak tanam paksa di kebun-kebun milik Belanda. Dimana mereka tentu jumlahnya tidak sedikit, ribuan bahkan. Dalam satu masa Indonesia kemudian merdeka, and bang! Mereka ingin kembali ke kampung halaman masing-masing, itulah mungkin awal mula terjadinya mudik. Who knows?

Seno Gumira Ajidarma pernah bikin buku kumpulan esai judulnya Affair; obrolan tentang Jakarta (2004). Sebuah esai santai yang berkeluh kesah tentang Jakarta dan segala macam taik kucingnya. Ada sebuah bab menarik disana, Jakarta tanpa Indonesia. Saya membacanya sebagai Jakarta tanpa Pendatang, apa jadinya? Tentu kebun jeruk masih akan tetap jadi kebun jeruk dalama arti sebenarnya, sudirman tidak akan macet setiap jam 7 dan jam 5 sore, tidak akan ada metromini ngebut, tidak akan ada rumah di kolong jembatan dan yang jelas tidak akan ada Mudik. Well, setidaknya tidak dari Jakarta. Dan kita bisa tenang dirumah tanpa harus kawatir keadaan saudara di jalan karena mudik.

Saya tidak mempermasalahkan mudik, saya mempermasalahkan keselamatan para pemudik. Bangsa ini pelupa dan para pemimpinya hobi pura-pura lupa. Kecelakaan dijalan tetap jadi pembunuh nomor satu di Indonesia, lebih banyak daripada kematian akibat penyakit jantung dan santet digabung sekaligus. Infrastruktur kenyamanan jalan, angkutan umum, sarana transportasi murah dan calo tiket keparat masih jadi PR besar. Bukan, PR yang belum pernah serius dikerjakan. Kecelakaan dijalan bukan sekedar shit happens, itu merupakan tanggung jawab dari para pengelola pajak untuk menjamin keamanan para penggunanya.

Mudik itu mistis. Mantra yang menarik orang, dari tempat begitu jauh hanya untuk dapat kembali sejenak pada suasana rumah. Suasana kampung yang sentimentil. Tidak subtil memang, tetapi siapa yang bisa menilai sebuah kenangan? Lalu Mudik itu pembebasan, Sebelas bulan bekerja, lalu satu minggu di kampung halaman untuk sebuah penembusan dosa. Bercengrama dengan keluarga, teman, handai taulan, mantan pacar, tetangga, musuh dan lainnya. Hei? Dimana lagi kita bisa menjadi begitu dekat dengan masa lalu selain di kampung kelahiran?

Mudik adalah sebuah pelarian, eskapis kata kawan saya. Sebuah momen dimana kita terbebas dari hiruk pikuk kerja, rush hour, deadline, dan rapat-rapat penuh emosi. Lalu dalam momen yang sebentar itu kita harus kembali, menjadi diri sendiri. Mudik adalah kembali, kembali jadi diri sendiri, jadi anak, jadi adik, jadi cucu, jadi tetangga, jadi apasajalah. Kemudian sampai pada momen pelacuran, saat dimana kita musti kembali kerja, cari uang, menjilat, marah-marah, jual diri dan sebagainya. Untuk kembali lagi tahun depan dalam Mudik yang begitu syahdu. Selamat menunaikan ritual mudik, semoga selamat sampai tujuan.


Histeria-Histeria

Mari bermain dalam ruang imaji tanpa tepi. Berlari dalam katalis supra banal. Dan telanjang dalam perspektif definisi. Kita masing-masing adalah Alice in wonderland. Kita adalah Frodo yang berziarah ditemani cincin kuasa. Dan pada akhirnya menyerah pada realitas hiper fiksi produksi google. Beranikah anda bermimpi?

Beberapa bulan lalu saat maen ke Jogja dan mampir sebentar disarang penyamun, saya diberi oleh-oleh film. Sebuah film yang berjudul The Imaginarium of Doctor Parnassus, film yang saya sebut supra-dupra-asoi artinya film yang bisa dilihat berkali-kali tanpa bosan. Dalam list saya hanya sedikit film kualitas supra-dupra-asoi. Paling Cuma Forrest Gump, V for Venddeta, dan My Girl seri pertama. Saya tidak akan membahas tentang The Imaginarium of Doctor Parnassus, anda bisa lihat pembahasan itu di blog teman saya. Ia mungkin bisa lebih handal dan cerdas dalam menjelaskan makna film itu, sedang saya disini hanya akan berbagi wacana kosong. Jika berkenan mari kita berangkat.

Saya sedang bermimpi menjadi Tony dalam film itu, menjual impian produksi iblis dan tuhan. Menawarkan mimpi paling liar untuk ditukar kenikmatan purna. Bersediakah kita? Saya mengharap-kan kata amien serentak. Tolong serentak jangan parsial, biar kita komunal. Jika masuk Surga bisa rombongan, dan jika pun harus mampir ke Neraka bisa paketan. Ayo apa mimpi anda yang tersembunyi dan paling liar? Keluarkanlah. Mimpi itu murah, meraihnya yang sangat mahal. Mimpi itu mudah, meraihnya yang susah. Lalu mampir kesini, masuk dalam dunia cermin. Sebenarnya siapa anda? Mudah menjawabnya jika ada cermin bukan? Lalu mungkinkah ada dunia dibaliknya? Coba tebak dan masuklah. Gumam saya adalah gumam resah. Karena gumam tak perlu arti ia hanya mau dimengerti. Terserah anda bagai mana mengartikannya.

Lalu apa sebenarnya mimpi anda? Dan bagaimana anda akan berusaha dalam pemenuhan mimpi tersebut? Saya ini mungkin sedang resah, sedang mengalami post graduate syndrome. Berdiri didalam lobi antara idealisme masa muda dan realitas keras dunia. Takut untuk melangkah keluar dan berlari dari comfort zone. Serasa twenty something, tahu kan? Itu lirik Jamie Cullum. Ia berujar “After years of expensive education, A car full of books and anticipation, I'm an expert on Shakespeare and that's a hell of a lot, But the world don't need scholars as much as I thought”. Yihaaa! Dia harus jadi santo! Yakin saya, sabdanya begitu mantab dan keras.

Jujur saya memang tidak menyenangi dunia kerja, dimana kita harus tunduk menghamba pada orang lain. Lalu digencet habis-habisan untuk mengejar tenggat, target penjualan atau laporan keuangan. Saya terlalu banyak kenal orang yang pada akhirnya tidak bisa menikmati hidup dan dirinya sendiri karena dikukung oleh keinginan konsumtif dan kesalihan normatif dari cara pandang masyarakat. Seseorang dianggap sukses jika ia kerja kantorang atau bahkan jadi amtenaar. Tetapi saya memimpikan hal lain. Saya ingin hidup dan bekerja dengan jiwa paling binal dan liar, mengabdi pada kebebasan, bukankah hidup adalah mencatat sejarah?

Adalah Marquis de Sade, seorang sastrawan masokis paling liar yang pernah saya tahu. Penulis novel 120 Days of Soddom, sebuah novel erotis penuh pemberontakan norma dan asusila paling subversif pada zaman Napoleon. Ia menuliskan kisah pesta seks dan orgy selama 120 hari dengan detail adegan dan semua perilaku seks yang paling menyimpang. Dari sodomi, masokisme, oral, pedofilia dan oedispus. Semua adegan tersebut ditutup dengan adegan konsumsi terhadap tahi. Oke itu menjijikan, tetapi dia adalah orang yang paling merdeka yang menghamba pada kebebasan absolut dalam penulisan. Sejauh ini saya pikir begitu.

Marquis de Sade juga salah seorang yang meginspirasi Foucault. Dengan pemikiran yang paling liar mengenai seks, Focault membuat magnum opus berjudul Historie de la Sexualitie. Telaah kritis mengenai tirani moralitas dan norma terhadap ruang privat manusia. Foucault mengindikasikan bahwa sebenarnya ada sebuah konspirasi besar dalam masyarakat dalam penentuan baik dan buruk, salah dan benar, suci dan haram. Konspirasi yang pada akhirnya mengekang kebebasan manusia dalam berpendapat, bereksistensi dan berkepribadian. Dalam History of Madness misalnya, ia mengemukakan alasan Panoptikon sebagai bentuk represi aparat terhadap masyarakatnya. Sebuah kepatuhan yang dibangun dari rasa takut akan simbol-simbol aparatus negara. Lalu pada akhirnya akan ada bentuk penindasan-penindasan elementer terhadap masyarakat melalui simbol tersebut. Seperti keraguan dalam berpendapat, kebebasan yang dibatasi dan kemampuan yang dikekang.

Kebebasan yang dikekang selalu melahirkan resistensi. Perlawanan dari segala macam hal, mulai budaya, sosial, politik dan keagamaan. Karena sejatinya manusia merdeka. Foucault dan Andy Warhol mungkin belum pernah kenal. Tetapi warhol adalah sebuah simbol penolak dominasi seni pop. Serupa Foucault, Warhol disiksa oleh ketenaran karyanya, pengkultusan dan ekspektasi besar terhadap kegemilangan. Foucault adalah seorang individualis yang karyanya sinis, seolah mengejek masyarakat, namun hal itulah yang membuat ia makin terkenal. Warhol juga demikian, karya-karya nya yang anti pop, malah membuatnya makin pop. Ia menolak segala macam penghargaan dan nominasi, karena menurutnya itu hal bodoh. Namun ia kemudian dikultuskan sebagai seniman flamboyan yang anti kemapanan. Selalu ada dualisme pemahaman terhadap suatu aksi. Dan seringkali terhadi salah tafsir dalam pemaknaan, dan celakanya tafsir yang salah tersebut seringkali jadi pedoman yang di imani dengan baik.

Warhol menggeberak dunia dengan silouete warna-warni dari foto ikon seks Amerika Marilyn Monroe. Sederhana namun menghentak, bukankah simplicity is the best? Warhol memanifestasikan kegairahan dalam kanvas. Memaknai lekuk wajah Monroe sebagai nafsu. Dan menurut saya ia benar, siapa yang tidak ingin menikmati Monroe? J.F.K saja terpikat. Namun bukan itu yang menjadi poros, tetapi lebih kepada seduction of leisure. Baudrillard menyebutnya sebagai ‘vulgar but easy’. Pop dan lugas. Apalagi yang diharapkan dari seorang seniman yang dengan mudah menyampaikan pesan tanpa perlu seorang kurator sok pintar menerjemahkan sebuah karya?

Lebih jauh Baudrillard bercerita dalam Seduction tentang rayuan. Dimana rayuan bukanlah tentang hirarki alamiah, namun lebih kepada ritual dan perayaan terhadap tanda-tanda. Iklan, model, televisi dan poster telah menjadikan hidup manusia lebih susah daripada apa-apa yang ditawarkan. Kehidupan lebih mudah melalui teknologi malah membuat manusia menjadi menghamba pada produksi. Pernahkah anda menjadi korban mode yang menginginkan benda yang sebetulnya tidak anda butuhkan? Ponsel, I pad, Blackberry dan gadet-gadget lainnya? Itulah histeria konsumsi.

Apolonious, seroang filsuf yang hidup sezaman dengan Gaius Julius Caesar. Manusia yang ingin merdeka dengan menjadi budak. Menurutnya kemerdekaan bukanlah sesuatu yang diberi, melainkan sesuatu yang diperjuangkan. Perbudakan teknologi, pengetahuan dan kekuasaan telah merasuk begitu rupa dalam diri kita sehingga kita lupa sebenarnya kita sedang di tindas. Diperparah lagi dengan sifat pelupa dan pemaaf yang akut, menjadikan manusia (Indonesia) seringkali tidak belajar dari kesalahan. Lalu akhirnya menjadi affirmatif dan pasif. Cerminan paling busuk yang digambarkan Herber Marcuse dalam One Dimensional Man.

Disinlah saya, masih dalam persimpangan antara so called idealism versus life itself. Pencapaian yang saya kira luarbiasa, nyatanya tidak membuat saya menjadi berharga. Malah semakin membuat saya diasingkan. Perkataan-perkataan saya serupa sabda yang ditunggu pelaksanaannya. Histeria linguitik. Entah mengapa, kapan hari, atau bahkan seumur hidup saya, saya dituduh sebagai manusia bermulut besar. Mungkin karena terlalu banyak janji yang belum terpenuhi, atau orang terlalu buta dan tidak mau tahu atas pencapaian lain yang telah saya buat? Entahlah.

Saya jadi teringat Muhammad Ali, si mulut besar juara dunia tinju kelas berat itu. Orang yang selalu menepati omongannya yang besar. And then again, when he loses nobody argued. Atau almarhum Tupac Shakur dan Notorius B.I.G duo legenda rap scene dari westcoast dan eastcoast. Seumur hidup mereka diciptakan untuk membual dan mereka hidup dari itu. Manusia itu cenderung alpa, saya juga. Namun sangat ironis dan satir jika hanya menertawakan kegagalan sementara keberhasilan dinilai separuh. Mereka yang dikecewakan seringkali gagal bersifat adil dalam memandang sesuatu. Menyedihkan sekali. Dan inilah saya, pembual paling hebat yang anda kenal. Histeria saya akan membuat anda terkapar. Karena saya adalah pembual yang memenuhi janjinya pada waktu yang tepat, bukan seorang pembual yang tepat waktu. Tabik.


Rabu, 08 September 2010

Konspirasi Malam


Berawal dari keisengan dua laki-laki yang mencoba bertunangan dalam dunia maya. Lahirlah kenakalan yang menyenangkan. Sebuah tawaran untuk menulis secara mendadak. Apalagi tujuannya selain merayakan spontanitas? Dengan Ini saya menyebut kenakalan tersebut sebagai "Konspirasi Malam".


Ini adalah tawaran untuk melakukan penulisan, itung itung sebuah latihan. Setiap malam secara acak kita akan memilih tema yang disepakati. lalu mencoba menuangkan tema tersebut dalam sebuah bentuk tulisan. entah puisi, entah prosa, entah cerpen, entah laporan magang. apa saja. yang jelas kalian menulis tema tersebut dengan spontanitas.

Saat ini Konspirasi Malam telah sampai pada edisi #5. Dan sudah menarik lebih dari 10 penulis yang mau dibohongi oleh saya. hahahaha. Marilah berkarya. Bukankah kebebasan menulis yang membuat manusia merdeka dalam karya?

Ini adalah beberapa tema yang sempat jadi bahan perkosaan kami para penulis medioker.

"Air"


"Langit"


Kepada kamu duhai Skripsi


Aku dan kata-kata yang berhenti pada koma.

Hai kalimat yang belum tertulis.
Kemanakah kau?
Aku yang dihantam kecemasan ini.linglung
Musti Kujawab apa harapan untuk tamat ini?
Aku dirajam ketakutan, sehambar kertas putih yang tak juga tertulis.

karena kau tak kunjung ketemu.
Kepada siapa aku musti bertanya?
Tentang kata-kata yang tak ada
sedang buku-buku tebal dan kitab-kitab lusuh sudah tuntas kucerna

lalu kau sebenarnya hadir di sela-sela kerisauan
namun tak memiliki rupa
dan juga jasad


Hai kau kalimat yang tak bernubuat.
aku ini bertanya
mengiba
memohon
berdoa
dan bersimpuh

kemana kau musti kupacu
kuraih
dan kutulis?


Sesak ini hati yang tiap hari jadi benalu
yang jadi beban. dan yang jadi tumpuan.

hai kau kata-kata yang tak memiliki rupa
tak punyakah kau hati?
sedang disini aku meratap, menunggu, menunduk dan menyesap

aku penulis yang lupa huruf
yang alpa aksara
dan sesat terhadap kalimat-kalimat
dimana lagi aku musti tunduk duhai kata!
Apakah dalam teori-teori? Rumus-Rumus? Istilah-Istilah?
Katakan!

aku mejura padamu.
duhai kata yang esa lagi kuasa
kembalilah dalam penaku yang usang
dan kembali tertulis


karena kau sudah lelah, dihutang nyawa dan kenyang hormat
yang kemudian semu.
karena kata taka da lagi

Aku dan kata-kata yang berhenti pada koma
tunjukan padaku dimana titik
agar bisa berhenti berharap lega.

Untuk Bapak dan lima tahun bulu kemaluan


Ibu bilang, Bapak itu bekerja di Kalimantan supaya aku anaknya ini bisa makan dan sekolah yang baik. Agar tidak lagi jadi gembel yang musti menghamba pada belas kasih supaya bisa makan. Tapi aku tahu Ibu bohong, Bapak sudah mati, ditikam orang di pelabuhan waktu rebutan penumpang dengan calo-calo goblok yang tak tamat sekolah rakyat. Ya, aku tahu ini dari Mu'iz, karena Bapak Mu'iz yang menikam Bapakku tiga kali di leher sampai mati.

Hari ini sudah 4 tahun 11 bulan sejak Bapak tidak pulang. Aku tahu, karena tiap malam sebelum tidur, tanpa sepengetahuan Ibu, aku mencabut bulu jembut ku dan ku simpan baik-baik dalam toples. Dan aku tahu karena jembut dalam toplesku sudah berjumlah 1765 helai hitam dan bau tengik. Dimana dalam toples bening itu, aku menyimpan dendam tentang kerinduan yang tak berbalas. Dan seribu tujuhratus enampuluhlima harapan akan kedatangan Bapak.

Aku sayang Ibu, tapi aku lebih sayang Bapak. Bapak yang dahinya hitam karena sering bersujud kala malam, Bapak yang tak lupa memasang bendera tiap bulan Agustus, Bapak yang tak pernah alpa meronda tiap Senin, Bapak yang selalu makan ketan sebelum pergi kerja, dan yang paling penting bapak yang selalu membawaku ke pelabuhan untuk melihat matahari terbit. Aku kangen momen itu.

Kata orang Bapak itu maling, bejat, tukang mabuk, dan suka berjudi. Aku tau itu tidak benar, Bapak hanya pinjam milik orang tapi tak pernah sempat minta ijin. Bapak selalu saja memukul Ibu dan Aku saat mabuk, tapi tak pernah membuang kami ke jalanan seperti Bapak Mu’iz yang sarjana itu, Bapak mungkin suka bertaruh sehingga kadang harus pulang jalan kaki karena motornya tergadai, tapi Bapak tak pernah mengurangi hak kami keluarganya.

Sejak Bapak hilang -atau lebih tepatnya mati ditusuk orang- aku selalu saja pergi ke Pelabuhan tiap matahari rubuh. Mungkin tidak tiap hari, kalau aku sempat aku akan datang. Berharap bahwa Bapak Mu’iz yang sarjana itu salah tikam orang dan Bapak memang benar-benar pergi ke Kalimantan untuk pergi cari uang yang banyak. Jadi aku tak perlu lagi sendiri datang ke pelabuhan untuk melihat matahari terbit sendirian. Karena kesunyian yang muncul setelah subuh itu lebih menikam daripada kehilangan.

Pagi ini selepas Sholat subuh aku pergi ke bilik Ibu, untuk sekali lagi bertanya dimana Bapak. Aku ingin Ibu jujur bahwa Bapak telah mati, karena kejujuran yang pahit lebih baik daripada dusta yang dibalut gula-gula.

Ibu masih mengenakan mukena usang warna biru saat aku buka pintu kamarnya. Senyumnya masih sama, masih serupa bulan sabit di malam paling terik. Kemudian mengangkat tangan dan menunjuk ke arah ranjang. Aku disuruh duduk sementara ia membereskan altar pemujaanya pada tuhan yang dibawa Muhammad.

“eh, sudah sholat kau? Tak mengaji? Mamak kangen suara kau membaca Ar-Rahman, suaramu itu macam Soekarno berpidato, tak bosan Mamak mendengarnya” seraya mencium keningku.

“sedang malas Mak, Buyung tak suka baca Ar-Rahman, Buyung suka baca Al-Ghasiah, Bapak suka surat itu, apalagi dibaca keras-keras di masjid”

“eh, tapi bapak kau kan Jauh, disini ada Mamak, kenapa tak kau suarakan untuk Mamak Kau ini?” Ibu menatap lekat-lekat.

“nanti, kalo mamak sudah bilang Bapak dimana”

Ada jeda yang menyesakkan setelah aku mengucapkan kalimat itu. Jeda yang menukik seperti udara yang menipis. Aku tahu Ibu akan sekali lagi berbohong. Tentang Bapak yang mati ditikam. Tentang Bapak yang bekerja di Kalimantan dan serentetan teater murahan betapa Bapak jadi heroik untuk kami keluarganya. Dan aku tahu itu, kebohongan yang apak tidak akan mudah disembunyikan. Dan Ibuku terlampau jujur untuk bisa berbohong.

“Bapak Kau itu di Kalimantan Buyung, berapa kali musti Mamak kau ini kasi tau, bebal kau nak? Mau jadi malin kundang?”

“tidak Mak, Buyung hanya kangen. Kata orang Bapak Mati ditikam, benar itu mak?” aku tetap bersikeras.

“bah, bohong itu. Percaya kau Mamak kau ini bohong? Muslim kau? Ingat kata Tuan Guru Ahmad, berbohong itu sifat ahli neraka, dan Mamak kau ini tak mau masuk neraka”

Akhirnya dialog subuh itu berakhir dengan sebuah perdamaian semu, nanti jika puasa sudah mau tiba. Ibu akan meminta Bapak pulang, dan menemui aku. Aku tahu itu mustahil. Karena Bapak mungkin sudah jadi tanah ditumpas belatung dan cacing dalam tanah. Atau mungkin sudah tuntas dilahap ikan di lautan. Mana yang benar aku tak ambil pusing. Karena nyata Bapak sudah mati, itu kata orang, dan makin hari prasangka itu makin aku yakini.

Bukan buatan jika prasangka yang terbang dijalanan itu kemudian aku yakini sebagai sebuah kebenaran. Sudah putus mungkin kesabaranku menanti telepon dari Bapak atau sekedar surat. Jikapun ia di pedalaman, tak adakah hari libur untuk merajang rindu bertanya kabar tentang keluarganya? Itulah kekuatan prasangka, yang diracun harapan mampu mengubah keyakinan jadi selongsong murtad.

….

Dan puasa yang dijanjikan itupun tiba. Serupa perayaan pagan, semua umat Muhammad mendayu-dayu dalam masjid. Seolah menjadi santo paling purna. Mereka yang dulunya fakir Qur’an, tiba-tiba jadi ahli murotal. Mereka yang juhud berjudi, tiba-tiba jadi ta’mir masjid teladan. Bukankah ini bulan penuh rahmat? Semoga bukan polesan banal yang menkufurkan keyakinan akan kebenaran titah.

Bapak tak jua memberi kabar, hanya celoteh Ibu makin sering terdengar jikalau aku terlambat tarawih. Entah mengapa, umat-umat yang lusuh itu mewajibkan sunnah sedang yang wajib dibiarkan lacur di jalanan. Tapi aku tahu, Ibu hanya tak mau aku ingat Bapak. Jadi Ia paksa aku hanyut dalam ibadah-ibadah tuma’ninah ini. Tapi Ibu tak tahu, aku selalu ingat, dan lupa bukan hobiku.

Setiba malam yang dituduh Nuzulul Qur’an aku datang sekali lagi ke bilik Ibu. Kali ini dengan sebongkah keyakinan. Malam ini akan kupaksa ibu berucap jujur. Bahwa Bapak telah mati dan Ibu telah berdusta. Sehingga ia terbebas dari api neraka dan aku syah sebagai anak durhaka.

Tetapi yang kutemukan hanya Ibu yang mengangis menatap surat. Ubannya yang rimbun semakin mengkalutkan hatiku. Ibu sudah tua dan kenapa Ibu menangis? Ibu adalah singa betina yang tak pernah kutengok menangis meski baku pukul dengan Bapak saat mabuk? Namun mengapa kali ini air mata begitu murah rontok dari matanya yang bening?

“Mak, kenapa kau? Ujarku sambil pelan-pelan duduk di ranjang Ibuku.

“ah, tak ada Buyung, kenapa nak? Dan seperti maling ia simpan surat itu baik-baik.

surat dari Bapak Mak? Apa katanya? Akan pulang Bapak, Mak?” lalu kudekap tangan Ibu yang mulai mengkerut kasar.

“Buyung, kau sudah besar, sebentar lagi kau akan jadi murid universitas, ada hal yang musti kau tau soal Bapak kau buyung”

Ini dia, kejujuran yang akan membebaskan Ibu dari dosa. Dan sertifikat kedurhakaanku. “apa itu mak? Jika bapak mati, Buyung tau mak, bapak mati ditikam Ayah Mu’iz, Mamak tak perlu lagi bohong dan Buyung bisa lega”

“bukan buyung, itu kabar tolol yang dihembuskan tukang obat yang tak tahu malu, Bapak kau masih hidup, tapi ia tak di kalimantan, ia ditempat lain di republik ini” tangan ibu makin keras menggengam.

“Tapi Mamak mau, kau tidak membenci Bapakmu atau menjadi semacam Bapak kau”

Ibu bukan aktris sinetron, menjadi dramatis bukan salah satu keahliannya. Ibu adalah laut pasang, ia terlihat seperti apa yang ia rasakan. Dengan kalimat pendek-pendek dengan tekanan ini aku tau Ibuku sedang serius. Atau ia sedang menceritakan kebenaran yang terlampau berat. Aku tahu ini, karena saat ini sama dengan momen dimana Ibu menceritakan bahwa Bapak sedang bekerja di Kalimantan dan tak akan kembali dalam waktu yang lama.

“iya Mak, Buyung akan berusaha”

“mamak mau kau berjanji” ibu menarik tanganku dan meletakkannya di dahinya.

“Buyung tak mau berjanji yang tak bisa Buyung lakukan Mak”

“Mamak tahu, karenanya Mamak mau Kau berjanji untuk Mamak”

Aku benci berjanji, karena janji adalah sebuah ikrar akan kepastian kata-kata.

“hhhss… Baik Buyung berjanji”

Sebilah senyum muncul dari wajah tua itu. Aku penasara dengan lanjutan kata-katanya dan dalam diam aku menanti.

“Bapakmu menganggap dirinya Patriot, tapi Mamak menganggap dia Idiot” ia menghembuskan nafas.

“Bapakmu ingin menunjukan kecintaan selaku umat dengan menumpahkan darah umat yang lain. Ia pikir dengan Jihad darah ia akan lebih terhormat di mata Tuhan. Mamak tau Bapak kau itu terlalu bodoh untuk bisa mengerti tafsir. Tapi apa daya, Mamak hanya seorang Istri yang tak punya nyali dalam berdebat”

“bapak Kau sekarang ada ditanah para dewa, yang pantainya luas dan gunungnya sejuk. Ia pikir ia akan melawan maksiat dengan mesiu. Mamak tau itu salah, namun Mamak tak ada daya untuk ubah pikir Bapak Kau yang serupa kerbau itu.”

“Bapak jadi rampok mak?”

“Bukan Buyung, Bapakmu mau jadi pahlawan agama, tapi dengan cara yang paling tolol. Ia meledak kan diri bersama orang-orang yang menikmati hidup”

“jadi Mati Bapak Mak?”

“iya Buyung, Bapak mu mati dalam kebodohan yang diampu langit. Maafkan Mamak Kau ini Buyung. Surat tadi adalah surat pertama dan terakhir yang dikirim Bapak Kau sebelum akhirnya ia mati di ludahi api. Sekarang Mamak minta kau maafkan Bapak Kau, dan Jangan pernah kau tiru perbuatan Bapak kau itu”

Malam itu adalah malam terakhir aku dan ibu membahas tentang Bapak. Karena malam itu Bapak resmi mati dan aku tak jadi durhaka. Butuh bertahun-tahun kemudian bagiku untuk mencerna maksud perkataan Ibuku. Tentang Bapak yang jadi ekstrimis. Aku tak habis pikir, bagaimana mungkin bapak yang tak lulus sekolah bisa jadi ekstrimis? Dan bagaimana pula bapak bisa pergi ke tanah dekat jawa yang konon letaknya ditengah nusantara? Sampai sekarang aku tak habis pikir.

….

Bertahun-tahun kemudian disinilah aku, berdiri di pelabuhan yang sama dimana aku dan Bapakku selalu melewatkan waktu. Menatap matahari terbit dan menghirup udara setamak-tamaknya. Kali ini aku datang bersama toples bening dan dua ribu helai bulu jembutku. Ya, karena pada malam ke duaribu aku kemudian memutuskan untuk percaya bahwa Bapak memang mati dan aku resmi jadi anak durhaka.

Toples itu aku tatap erat-erat, bulu jembut usang yang bertumpuk-tumpuk itu adalah manifestasi kebencian dan dendam yang tak berbalas pada Bapak. Dimana setiap helainya bercerita tentang malam-malam sunyi tanpa kehadiran Bapak. Tapi kini itu sudah tuntas, aku dan Ibu telah ikhlas. Bahwa Bapak adalah orang goblok yang tak perlu di rindukan. Toples itu aku lempar ke laut, bukan sentimentil upacara perpisahan. Karena toples itulah ruang yang mengingatkanku pada Bapak. Dan kini aku relakan kepada laut untuk mencerna bulu jembutku. Karena kenangan serupa tahi, yang menolak dibasuh.


(cerpen yang dibuat untuk Adhie teman Rani, serta Aufa dan “Balada orang tua” nya. Kalian menonjokku dengan kenyataan bahwa sebenarnya aku tak punya kepribadian. Bukankah hidup untuk mencari rupa?)

Selasa, 07 September 2010

My next generation




Malam (29/8/2010) itu sebenarnya saya tidak ada niat menonton acara Kesenian Musik Patrol yang diadakan unit kegiatan kesenian kampus Universitas Jember (Unej). Saya sedang capek sekali, karena baru saja melakukan perjalanan dari Bondowoso-Jember. Namun karena sudah kadung berjanji pada Halim kawan saya untuk membuat semacam tulisan mengenai Patrol, ya saya putuskan untuk nonton patrol.

Patrol adalah semacam kelompok musik etnik ritmik, seringkali diperdengarkan saat bulan ramadhan untuk membangunkan orang-orang agar bisa sahur. Instrumen dari musik patrol sangat sederhana, beberapa jenis kentungan, perkusi dan seruling. Jika memiliki sedikit modal berlebih, bisa memberi sedikit modifikasi sound sistem dan lampu-lampu dengan bantuan tenaga genset.

Malam Itu acara "Carnaval Musik Patrol" menginjak tahun kesepuluh. Satu dekade ajang kreasi seni yang mengangkat tema lokalitas. Beberapa hari sebelumnya saya dan Halim sempat bertemu di kampus, tepatnya di Gedung Rektorat. Kami membahas tentang eksistensi keberadaan kesenian Patrol di Jember, serta bagaimana pengaruhnya terhadap masyarakat Jember. Kami bicara panjang lebar dan berdebat tentang keotentikan kesenian ini. Namun kami sepakat, bahwa kesenian ini perlu dikenalkan dan disebarluaskan. Oleh karena itu malam ini saya berniat menulis acara Patrol tersebut.

Dipintu gerbang ‘boulevard’ Unej saya bertemu dengan Oryza Ardiansyah, wartawan Bejat (beritajatim.com), yang juga kebetulan menjadi senior saya. Beliau kemudian mengajak saya untuk melakukan peliputan bersama, dia yang wawancara dan saya yang motret. Kami berdua kemudian memutuskan untuk memulai peliputan dari sekumpulan kelompok Patrol di sebelah utara tugu. Kelompok yang kami wawancarai bernama ‘Kharisma’.

Pemimpin kelompok Patrol itu bernama Pak Slamet, beliau berasal dari Gebang. Wajahnya bulat, ada semburat kumis tipis muncul diatas bibirnya. Malam itu ia mengenakan celana kain warna hitam, dipadu dengan jaket jeans warna senada, di kepalanya memakai kopyah rajutan dan kaus merah putih ala sakera nongol sedikit diantara jaket pak Slamet. Malam itu ia serupa Sakera, hanya lebih modis dan gaul. mulutnya tak berhenti tersenyum saat Mas Oryza mengajaknya berbicara. Dengan bahasa Indonesia yang padat dialek madura, pak Slamet menceritakan kecintaannya pada musik Patrol.

saya ikut musik patrol dari taun 89 dek, waktu itu nama kelompoknya masih Arisma

Lebih dari 20 tahun pak Slamet mengenal musik patrol, dan sampai hari ini masih tetap setia mengawal keberadaan musik tersebut. Pak Slamet mengaku, dedikasinya ini dilandasi atas kecintaan belaka. Ia kemudian menceritakan pengalamannya dahulu saat masih aktif dalam kesenian musik Patrol. Dan bagaimana perhatian dari pemerintah daerah Jawa Timur kala itu.

Ya dulu kan sering dipanggil, yang ke Surabaya, Malang, pas masih jaman pak Basofi (mantan Gubernur Jatim)”

Meski kemudian seiring perkembangan waktu para personil ”Arisma” fokus pada kehidupan masing-masing dan meninggalkan kesenian Musik Patrol. Namun pak Slamet masih tetap menyisakan obsesi untuk terus melestarikan kesenian ini. Sehingga ia nekat mengumpulkan uang tiga juta rupiah untuk membangun infrastruktur kelompok Musik Patrol miliknya.
Peserta Carnaval Musik Patrol malam itu


saya kerjanya wiraswasta dek, jahit, ini habisnya tiga juta, ya dapet ngumpulin, dari panitia cuma dibantu enamratus duapuluhlimaribu. ”

Pak Slamet datang bersama kelompok patrol yang para pesertanya sebagian besar masih remaja usia sekolah. Bahkan ada yang masih sekolah kelas 4 SD. Salah satu dari peserta adalah anak Pak Slamet sendiri yang bernama Riko. Sejak kecil ia ingin memperkenalkan kesenian Patrol pada anaknya itu, agar nanti ia diharapkan bisa meneruskan cita-citanya.

Riko, putra pak Slamet, penerus kesenian (semoga) 

saya pengen ini terus ada yang ganti, makanya (tim) ini tak namai generasi.” pak Slamet sendiri merasakan betapa kesenian ini seperti kehilangan semangatnya. Padahal dulu pada tahun 90an sangat banyak kelompok-kelompok musik patrol di Jember. Tetapi karena kurangnya apresiasi dan sarana untuk menuangkan karya, ada kelompok musik patrol yang kemudian vakum atau bubar sama sekali.

Pak Slamet sendiri mengharapkan adanya perhatian dari pemerintah untuk mengembangkan kesenian ini. Tidak perlu uang namun lebih kepada perhatian. ”Ndak perlu kasih uang dek, yang penting perhatian, masak lomba patrol kayak gini yang adain Unej” ia juga berkisah. Sebenarnya malu juga untuk minta bantuan dana dari Pemerintah Daerah meski sebenarnya bisa. ”Buat apa dek? Wong ngadakan (acara patrol) aja ndak, masak mau minta uang”.

Pak Slamet, tetap berkarya dengan kumis tipisnya


Pak Slamet mungkin adalah salah satu orang yang merasa bahwa menjaga kesenian harus dengan menanamkan kecintaan sedini mungkin. Saya jadi teringat musik dari the Who dengan lagunya My Generation. Sebuah lagu yang sempat in di tahun 60an akhir. Lagu yang mengumandangkan pemberontakan generasi. Sebuah generasi yang seperti kehilangan identitas dan menolak jadi tua. Hingga pada akhirnya mereka berusaha melepaskan diri dari segala yang lampau. Siapkah kita, jika pada akhirnya kesenian ini jadi artefak?

People try to put us d-down (Talkin' 'bout my generation)
Just because we g-g-get around (Talkin' 'bout my generation)

Minggu, 05 September 2010

Kisah Para Pecundang

Tahukah kau kisah para pecundang?

Mereka yang menyerah pada ketakutan.

Mereka yang tunduk pada keadaan.

Mereka yang mengiba pada alasan.

Mereka yang lari dari pertarungan.

Mereka yang kalap pada tanggung jawab.

Mereka yang rusuh pada amanah.

Inilah kisah para pecundang.

Yang dikisahkan orang-orang kalah

Bagaimana - Bagaimana

Bagaimana cara melukiskan rasa cinta tanpa harus menumbuhkan kemarahan?

Kau harus belajar dari seekor induk bebek yang mengajari anaknya keluar dari kolam. Pelan-pelan ia akan mengajarkan sesuka apapun kau pada lembutnya air, daratan akan selalu jadi rumah yang baik.

Bagaimana menggambarkan benci yang ditahan sesak dada?

Kau harus belajar pada bendungan yang didadanya diberikan beban besar namun tetap memberikan ruang bagi air kecil mengalir pelan-pelan, hingga pada suatu masa semua air dalam bendungan itu ambrol memperoleh kemerdekaannya.

Bagaimana menuliskan kecemburuan yang menghimpit?

Kau harus belajar pada ruang-ruang gelap dalam gua yang seru sedan tangis hitamnya merindukan hangat sinar dari cahaya. Dimana ia belajar mengukir kecemburuan? selain dalam bilik-bilik sesak pekat di tubuhnya.

Bagaimana merapalkan kedengkian yang meledak?

Kau harus belajar pada petir yang menyambar pada saat langit paling mendung di bulan Nopember. Saat semua awan-awan hitam berkumpul dan memusyawarahkan tegangan pada langit yang cerah. Dan memaksa mereka menggelegarkan kemarahan yang paling purba.

Bagaimana mengeja kerinduan yang malu-malu?

Kau harus belajar pada matahari terik yang sedang terbit. Ia menyampaikan pesan hangat pada dinginnya pagi yang naik pelan-pelan dan memperkenalkan panas terik di ubun-ubun.

Bagaimana menghidu dendam yang paling tengik?

Kau harus belajar pada para lintah darat seusai gagal panen padi paling subur pada awal tahun. Mereka akan mengenali jiwa yang putus asa di hujat nasib dan memperkenalkan sumpah pada setan-setan yang dijauhi oleh iblis di neraka.

Bagaimana menjalankan hutang yang tak lunas?

Kau harus belajar pada malam yang mengejar siang. Ia selalu lebih dekat daripada napas yang akan putus. Sangat lelap dan senyap ia mendekat, namun selalu saja hadir subuh, yang menggagalkan pertemuannya dengan siang.

Bagaimana menyembuhkan luka yang tak kering?

Kau harus belajar pada desir angin saat lewat kebun mawar. Ia memberikan kesenangan, tanpa perlu merusak keindahaan yang tersusun. Bukankah wangi itu maya dan luka serupa wangi yang bersajad?

Bagaimana menemukanmu?

Kau tak perlu, dalam setiap detak napasmu yang selesai, aku hadir. Maka lupakanlah pencarian. Karena kau akan seringkali bertemu dengan kenyataan yang perih saat kau berharap pada penyair.

Tahukah kau cara menikmati luka ?

tahukah kau cara menikmati luka ?

yang perih terang

yang sakit hitam

yang pedih jujur (?)

ajarkan aku menertawakannya

ajarkan dalam sepi yang paling riuh

(lalu diam-diam menangis)

apakah kau tau?

itu luka-luka mu

luka - luka ku

luka- luka kita

hanya serupa ilusi

yang gagal di mengerti

oleh akal yang tunduk pada hati

Tentang Malam

tahukah kau tentang langit yang berdetak dalam khalam-khalam yang dibahasakan manusia?

tentang surga yang tinggi

tentang singgasana yang agung

tentang bidadari yang telanjang

lalu menekuk indah bulan dalam gelap

(padahal kau tau warna bulan saat terang)

sungguh malam ini kau akan lihat

langit itu hanya sebuah gayung bocor

dari tuhan yang bosan bercanda