Selasa, 14 September 2010

Dr. Faustus dan Tragedi Kejujuran


Christopher Marlowe suatu saat pernah membuat sebuah teks drama memukau tentang relasi manusia dan kuasa atas pengetahuan. Drama itu berjudul The Tragical History of Doctor Faustus, sebuah drama yang secara cerdas menguliti batasan rasio dan paradoks manusia. Dimana alkisah hiduplah Dr. Faustus, seorang cerdas yang meyakini logika sebagai pusat kedigdayaan manusia. Dan ia rela menukar jiwanya kepada Lucifer melalui perantara Mephistophilis. Dengan harapan ia akan mendapatkan pengetahuan paling purna yang dimiliki manusia dan mencapat kesempurnaan hayati.

Saya ingin menulis ini karena dorongan untuk mementaskan apologi (bukan afirmasi) kepada beberapa teman, sahabat, guru dan kenalan yang secara frontal mengempur saya dalam hal penulisan. Jika anda cukup mengenal saya, atau pernah ngobrol dengan saya. Maka mungkin anda akan dibikin muak, kesal dan jengah dengan banyaknya kutipan dan nukilan kata atau buku yang saya sertai dalam suatu diskusi. Dalam beberapa kesempatan, orang menilai saya sebagai individu sombong dan banal. Namun ada sedikit orang yang terjebak mempercayai mitos bahwa kapasitas pengetahuan saya melebihi Einstein. Lewat tulisan ini, saya ingin menjawab. Kalian benar dan saya salah. Sayalah Kikuchiyo, sang pecundang dan pembual dalam karya jenius Akira Kurosawa "The Seven Samurai".

Berawal dari sebuah pesan sederhana namun dalam, yang berbunyi "Kebenaran bisa berasal dari mana saja. Saya merasa itu klise yang pahit" dari seorang kakak yang baik hati. Oryza Ardiansyah namanya. Saat itu saya sedang bercerita tentang beberapa orang tokoh di persma.com yang secara gencar menyerang tulisan-tulisan saya. Dengan alur argumen kelas kambing, namun memang dalam beberapa hal ia benar. Mereka mengejek dan menghina saya sebagai orang yang asal comot nama, sok pinter, meninggi dan sok tau. Hanya karena saya banyak menulis dengan menggunakan banyak nama referensi dan bacaan. Saya berapologi bahwa tulisan saya memang didasari oleh argumen yang lemah dan kutipan tadi untuk memperkuat pemikiran saya. Dan kutipan itu tidak bermaksud sombong, saya hanya ingin menunjukan bahwa ada beberapa bagian dalam tulisan saya yang bukan hasil karya saya namun cuplikan pemikiran dan karya orang lain. Memang dalam beberapa hal kutipan tadi terlalu banyak dan kesannya sangat menggurui. Sungguh, saya hanya ingin memberikan pencerahan atas tulisan saya. Sehingga tidak menyesatkan orang dengan membuat mereka berpikir tulisan tersebut 100% orisinil hasil karya saya sendiri. Bukankah jujur itu baik?

Disisi lain saya juga ingin mempraktekan hasil didikan seorang kawan yang telah mengajari saya untuk bersikap fair dalam menulis. Karena saat dulu awal saya belajar menulis saya pernah tidak mencantumkan sumber penulisan sehingga ada kesalahpahaman terhadap isi tulisan saya. Saat itu saya dimaki habis-habisan dan dimarahi layaknya seorang anak yang habis mencuri mangga. Saya diam, karena memang saya salah dan tidak seharusnya melakukan tindakan pencatutan tanpa sumber. Copyrights is not all about profit, is about a respect and honour to such people who work so hard to made something. Saya bersyahadat saat itu tidak akan pernah menulis tanpa mensertakan sumber yang menginspirasi saya dalam mencipta karya. Tetapi jika ini dirasa berlebihan dan salah, saya tidak perduli. Saya tidak akan murtad dari iman yang sudah saya ucapkan.

Dari bincang tersebut mas Oryza menyindir saya dengan kata-kata "jangan-jangan kamu iri sama dia?". Saya heran, mengapa saya dikatakan iri? Padahal saat itu saya sedang sangat kesal karena hasil kerja saya tidak dihargai. Selanjutnya ia berujar "ya karena kamu tidak mampu (untuk melakukan apa yang mereka buat)". Saya terdiam sesaat, saya jujur terhenyak atas kata-kata beliau. Mungkinkah saya iri? Dan kesal sehingga melakukan pembenaran dengan tindakan penginaan dan cacian? Mungkin, bukankah seringkali saat manusia lemah ia akan menyerang balik tanpa berpikir matang? Dan inikah yang kemudian menghinggapi saya? Semoga tidak, dalam organisasi yang saya ikuti, kedewasaan berfikir dan menerima kritik adalah harga mati. Jika kemudian saya menjadi fasis dan totaliter karena suatu kritik. Maka saya adalah golongan kaum sampah dan taik kucing dalam bahasa kami.

"Kebenaran bisa berasal dari mana saja. Saya merasa itu klise yang pahit"

Kaitan antara Dr. Faustus karangan dari Christopher Marlowe dan tulisan ini adalah. Dr. Faustus rela menjual jiwanya demi ilmu pengetahuan kepada Lucifer. Serta ia menjebak Mephistophilis untuk menjadi hambanya. Karena ia ingin membuat manusia sebagai tuan dari dirinya sendiri. Namun pada akhirnya Dr. Faustus terjebak keinginannya sendiri dan jatuh dalam 7 dosa awal. Dalam diri saya pun demikian, demi keagungan atas nama ilmu pengetahuan terkadang saya terjebak dalam ribuan kata dalam buku dan sibuk mencernanya sendiri. Terkadang saya lupa untuk melihat realitas yang kadang duduk besebelahan dengan saya. Menunggu untuk disambut dan diatasi. Meski dalam cerita Christopher Marlowe Dr. Faustus akhirnya tertelan sumpahnya dan mengalami siksa tanpa akhir dari Lucifer. Kawan-kawan melakukan upacara penguburan keagamaan demi mengenang Dr. Faustus. Setidaknya ada sebuah pengampunan tak bersambut dari Dr. Faustus.

Teman saya yang lain mengatakan saya adalah korban dari “Anxiety of Influence”. Istilah yang dikemukakan Harold Bloom terhadap orisinalitas dank e-terpengaruh-an seorang penyair terhadap penyair sebelumnya. Atau dalam bahasa saya yang sederhana, inspirasi yang menyebabkan seseorang berkarya. Hal inilah yang seringkali menjadi dasar kritik seseorang dalam menilai karya tulis, dalam artian, seberapa besar orang itu meniru/mencontek gaya penulisan orang lain. Tetapi dalam sudut pandang saya yang sempit ini, tidak ada yang namanya orisinalitas, yang ada hanya inovasi dan modifikasi. Dan sekali lagi saya katakana, lebih baik jujur mencantumkan sumber inspirasi kita daripada ngaku-ngaku suatu hal padahal nyontek.

Kejujuran adalah sebuah tragedi yang terjadi akibat runtuhnya bangunan kesombongan yang rapuh. Sebuah cambuk dari kawan yang telak menimpa saya malam ini mungkin jadi pelajaran. Sebuah refleksi atau sekedar pencerahan. Ini adalah apologi bukan sebuah pernyataan menyerah. Najis buat saya menyerah dalam perang yang belum dimulai. Ini adalah sebuah pamflet awal perang. Perang yang akan saya mulai dengan karya saya. Tunggu dan saksikan fagot!

1 komentar:

  1. : saya juga baru baca nih novel, tragis sih, sampai-sampai teman saya merinding karena membaca sumpah perjanjian dengan setan...

    hehe

    BalasHapus