Minggu, 12 September 2010

Home Redemption

Apa nama jalan menuju judul, sajakku? Namanya jalan panjang, penyairku.
(Joko Pinurbo dalam Sajak Panjang)

Baru-baru ini saya baru selesai membaca buku, Mushashi karya Eiji Yoshikawa. Buku yang bercerita tentang perjuangan Shinmen TakezĂ´ yang berkelana mencari jati diri. Dan pada akhirnya dikenal dunia sebagai master samurai melalui petualangannya yang hebat. Saya selalu mengagumi mereka para penjelajah dan keberanian mereka dalam merantau. Serupa perkataan Puthut EA “…sampai detik ini aku masih punya keyakinan, perjalanan selalu menjadi resep mujarab penawar rasa hampa”. Dan kata-kata itu yang kemudian merangsang saya untuk melakukan perjalanan-perjalanan nantinya.

Saya jarang melancong. Karena memang sebagian besar hidup saya dilakukan di tempat kelahiran saya. Bondowoso. Sebuah kota-hampir primitif tapi asri- di Jawa Timur. Mulai dari sekolah, kuliah, pacaran, nonton bokep, nyolong mangga, bolos dan berkelahi. Semua kesenangan masa muda dan sedu sedannya. Kepada lagi saya harus berterimakasih atas jarak yang begitu dekat? Selain kepada kedua orang tua saya. Mulai dari Sekolah yang dekat, Kampus yang dekat, tempat nongkrong yang dekat, (mantan) pacar yang dekat, dan sederetan kedekatan-kedekatan yang mulai basi jika saya tuliskan disini.

Pada dasarnya memang saya suka menjelajah, atau dalam bahasa katrok, jalan-jalan. Saya punya cita-cita (yang sempat diprotes keras oleh Ibu) untuk bisa bekerja di Jakarta. Kota megapolitan nan hebat yang mengundang saya untuk bermimpi tentang ketenaran. Atau di Surabaya, sebuah kota historis yang menyimpan nilai perjuangan dari zaman Bung Tomo sampai Kartolo. Tetapi lambat laun saya dewasa dan merasakan pedihnya kota-kota tersebut saya mundur perlahan. Kota besar dan saya tidak akan pernah akur.

Bukan tanpa alasan jika pada akhirnya hubungan saya dan kota besar itu tak pernah mesra. Di Jakarta yang katanya keren itu saya tak menemukan belas kasihan (kecuali saat saya main ke rumah seorang taghut blasteran padang betawi). Dan umpatan berima benci dengan mudah diudarakan. Oh bukan, saya tidak ingin jadi sentimentil. Tetapi pengalaman saya beberapa kali ke Jakarta sebagai individu merdeka (meminjam terminologi Seringai), saya merasakan aura egois dalam setiap langkah di kota-kota tersebut.

Saya mungkin hanya korban dari kotak pandora bernama televisi. Sebuah tontonan dan mitos Jakarta yang ditayangkan dalam televisi. Sebuah diorama atas kondisi yang sebenarnya 98% konstruksi. Jakarta Land of Dream, fitnah paling keji yang saya terima setelah Lady Gaga itu adalah musisi Avantgarde. Dauglas Kelner menyebut keadaan ini sebagai Megaspectacles. “fixate attention on events that distract people from the pressing issues of their everyday lives with endless hype on shocking crimes, sports contests and personalities, political scandals, natural disasters, and the self-promoting hype of media culture itself” (Media Spectacle - Dauglas Kelner. 2003). Dan fakta itu membuat saya ingin mengencingi muka saya sendiri.

Tak pelak kenyataan ini membuat saya masygul dengan para perantau di Ibukota. Saya yakin nyali mereka setingkat dengan Perseus saat menaklukan Kraken. Ibukota yang sadis itu mereka gagahi dan reguk kenikmatannya dengan kerja yang kadang serabutan. Entah jadi kuli, supir, direktur perusahaan calo tiket, koruptor, anggota DPR, lonte, koruptor, PNS BUMN, pedagang nasi Padang, koruptor, istana negara, joki three in one, koruptor, Polri dan mungkin juga jadi penulis. Pekerjaan yang bukan hanya menuntut keuletan namun juga kepandaian dalam mencari celah. Ini bukan Azam dalam kisah Ketika Cinta Bertasbih. Ini Jakarta bung, bukan Mesir. Jakarta jauh dari Mekkah, otomatis doanya juga susah nyampenya.

Saya juga kadang heran, untuk apa manusia berkerja. Cari makan. Terus setelah kebutuhan makan dipenuhi? Ya buat beli blackberry, nonton di 21, beli Benz dan ratusan daftar yang hendak dipenuhi itu berjejer panjang. Pada akhirnya manusia-manusia tadi hanya akan terjebak pada keinginannya yang banal. Lalu diamini dengan sederet apologi-apologi bahwa konsumsi itu perlu untuk keberlangsungan eksistensi diri dan komunal. Karena kerja keras tersebut pada akhirnya hanya untuk memenuhi kebutuhan yang saya gak yakin itu penting.

Kebetulan bulan September ini ramadhan, setiap ramadhan entah kenapa ada yang namanya lebaran. Dan setiap mau lebaran muncul peristiwa migrasi besar yang mengalahkan migrasi unggas. Peristiwa migrasi ini disebut sebagai Mudik. Entah kenapa dinamai demikian, karena dalam KBBI belum ditemukan definisi Mudik (atau KBBI saya yang usang?). Peristiwa dimana rombongan jema’ah manusia proto kuli, pulang dari mencari nafkah di (ibu)kota-kota besar, pulang dari menuntut ilmu, atau bahkan pulang dari kegagalan nasib kembali ke tempat so called rumah.

Seumur hidup saya tidak mengenal budaya mudik. Lagian buat apa? Toh saya lahir, besar, berak, orgasme, terluka, kerja, kuliah, makan dan sebagainya dan sebagainya di dekat rumah. Lalu untuk apa mudik? Bukan kapasitas saya untuk menghakimi mudik. Karena ibarat Roy Suryo, Cuma tau potoshop langsung di daulat jadi pakar telematika. Saya gak mau ambil komentar, karena Mudik tidak pernah saya alami. Saya mungkin hanya sekedar berkomentar dari sudut jauh keilmuan yang diperkuat dari kutipan-kutipan biar dikira pinter.

Mudik secara harfiah adalah pulang kampung. Tetapi apabila dikaitkan dengan konteks ruang dan waktu. Mudik adalah perpindahan manusia/ sekelompok manusia, dari suatu kota menuju kampung tempat kelahiran/memiliki nilai sentimentil, pada masa bulan Ramadhan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Itu definisi ngasal, karena Saya tidak tahu etimologi dari kata Mudik, mungkin dari bahasa jawa? Muleh Dhisik atau pulang dulu/ pamit pulang. Entah saya tidak tahu.

Statistik dari Metro TV mengatakan ada sekitar 20 juta lebih orang yang akan melakukan Mudik. Itu sekitar 10 % dari total populasi sementara Indonesia. Bayangkan 20 juta orang memenuhi jalanan dan angkutan umum. Dan semua itu dilakukan hanya untuk mudik semata. Gila. Mungkin Saya lebih suka menyebutnya sebagai Exodus. Mengapa? Ingatkah anda pada kisah Musa? Yang memimpin kaum Bani Israel/Yahudi menuju tanah yang dijanjikan? Well ini kebalikannya. Mereka kembali dari Tanah yang menjanjikan menuju tempat dimana mereka dilahirkan. Apalagi kalau bukan untuk menunjukan kejayaan dan hasil kerja keras selama di kota.

Saya jadi teringat nukilan sebuah kisah dari bukunya David Chaney yang judulnya Lifestyles (1996). Pada Abad ke 18 dan 19 ada urbanisasi besar-besaran di Inggris. Pertumbuhan kota-kota yang dimiliki oleh tuan tanah yang menjanjikan kemakmuran mendorong orang-orang hutan untuk pergi ke kota, dimana mereka mencari nafkah dan mengenal peradaban. Memang tetap ada orang-orang yang tinggal di hutan yang kemudian dianggap sebagai pelaku sihir (witchcraft). Beberapa orang yang kemudian sukses dikota menolak kembali ke desa karena alasan tidak ingin dianggap liar (savage) karena hidup dari pembunuhan hewan di hutan.

Tetapi dalam beberapa hal mereka tetap mengenal roots melalui ritual natal. Beberapa ada yang kembali ke desanya. Dan menetap, sebagian lagi tidak kembali sama sekali. Mungkin karena perbendaan kebudayaan. Keguyuban dalam keluarga tradisional Indonesia telah mengakar kuat. Disitulah saya pikir alasan mengapa kemudian Mudik bisa terjadi.

Secara historis orang-orang jawa, setahu saya tidak memiliki kebudayaan merantau. Dan bagaimana asal muasal budaya yang melahirkan ritual Mudik. Jika kemudian anda berargumen bahwa ada majapahit yang merantau sampai ke negeri Champa atau penggambaran kisah Pram dalam Arus Balik. Saya jawab. Majapahit itu bukan merantau tetapi agresi militer. Dan sepengatahuan saya kebudayan merantau dimiliki oleh orang-orang bugis dan sumatra. Jikalau mereka mudik, itupun terjadi apabila mereka sudah sukses/kaya saja. Jadi dimana sebenarnya periodesasi mudik itu dimulai?

Saya coba dari tahu dengan membaca penelitian Dr. Frances Gouda dalam Dutch Culture Overseas (1995). Dimana ia berkisah pada zaman Cultuurstelsel orang-orang belanda banyak membawa orang jawa untuk dibawa ke seluruh Indonesia untuk dijadikan budak tanam paksa di kebun-kebun milik Belanda. Dimana mereka tentu jumlahnya tidak sedikit, ribuan bahkan. Dalam satu masa Indonesia kemudian merdeka, and bang! Mereka ingin kembali ke kampung halaman masing-masing, itulah mungkin awal mula terjadinya mudik. Who knows?

Seno Gumira Ajidarma pernah bikin buku kumpulan esai judulnya Affair; obrolan tentang Jakarta (2004). Sebuah esai santai yang berkeluh kesah tentang Jakarta dan segala macam taik kucingnya. Ada sebuah bab menarik disana, Jakarta tanpa Indonesia. Saya membacanya sebagai Jakarta tanpa Pendatang, apa jadinya? Tentu kebun jeruk masih akan tetap jadi kebun jeruk dalama arti sebenarnya, sudirman tidak akan macet setiap jam 7 dan jam 5 sore, tidak akan ada metromini ngebut, tidak akan ada rumah di kolong jembatan dan yang jelas tidak akan ada Mudik. Well, setidaknya tidak dari Jakarta. Dan kita bisa tenang dirumah tanpa harus kawatir keadaan saudara di jalan karena mudik.

Saya tidak mempermasalahkan mudik, saya mempermasalahkan keselamatan para pemudik. Bangsa ini pelupa dan para pemimpinya hobi pura-pura lupa. Kecelakaan dijalan tetap jadi pembunuh nomor satu di Indonesia, lebih banyak daripada kematian akibat penyakit jantung dan santet digabung sekaligus. Infrastruktur kenyamanan jalan, angkutan umum, sarana transportasi murah dan calo tiket keparat masih jadi PR besar. Bukan, PR yang belum pernah serius dikerjakan. Kecelakaan dijalan bukan sekedar shit happens, itu merupakan tanggung jawab dari para pengelola pajak untuk menjamin keamanan para penggunanya.

Mudik itu mistis. Mantra yang menarik orang, dari tempat begitu jauh hanya untuk dapat kembali sejenak pada suasana rumah. Suasana kampung yang sentimentil. Tidak subtil memang, tetapi siapa yang bisa menilai sebuah kenangan? Lalu Mudik itu pembebasan, Sebelas bulan bekerja, lalu satu minggu di kampung halaman untuk sebuah penembusan dosa. Bercengrama dengan keluarga, teman, handai taulan, mantan pacar, tetangga, musuh dan lainnya. Hei? Dimana lagi kita bisa menjadi begitu dekat dengan masa lalu selain di kampung kelahiran?

Mudik adalah sebuah pelarian, eskapis kata kawan saya. Sebuah momen dimana kita terbebas dari hiruk pikuk kerja, rush hour, deadline, dan rapat-rapat penuh emosi. Lalu dalam momen yang sebentar itu kita harus kembali, menjadi diri sendiri. Mudik adalah kembali, kembali jadi diri sendiri, jadi anak, jadi adik, jadi cucu, jadi tetangga, jadi apasajalah. Kemudian sampai pada momen pelacuran, saat dimana kita musti kembali kerja, cari uang, menjilat, marah-marah, jual diri dan sebagainya. Untuk kembali lagi tahun depan dalam Mudik yang begitu syahdu. Selamat menunaikan ritual mudik, semoga selamat sampai tujuan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar