Jumat, 03 September 2010

Ode Untuk Rindu yang Tak Selesai


R, ada sekeping ruang hitam yang menolak terisi saat kau pergi. Ini bukan bualan, karena membual membuatku lapar dan kau tau aku tak suka lapar. Ini tentang kisah-kisah kita yang di nistakan waktu waktu. Bukankah waktu membangun kenangan? dan kenangan itu serupa tinja yang menolak di basuh.

R, aku kangen, bukankah sudah kubilang kemarin? aku tak suka kangen sama seperti aku tak suka ular berbisa. Uh kamu ini, bisanya cuma bikin kangen dan kasmaran. Sudahlah, bukankah kita punya masing masing cerita yang tak mau di bahas? kau dengan masa lalu dan aku tentang masa depan. maka berhentilah bicara. biar keheningan ini membuncah dan aku tak rindu lagi.

R, dimana kau simpan marah dan tangismu? bukankah kau dulu datang dengan kesedihan yang serupa badai? Yang bikin aku selalu kelimpungan dan lupa mandi karena harus menjawab pertanyaanmu. Apa itu luka? apa itu sakit? apa itu benci dan apa itu dendam? ujarmu suatu masa. aku cuma bisa diam. karena kau mengajarkan aku untuk tak beraksara dalam suara saat kau ingin menulis kata.

R, kawanku bilang kau itu lemah. tapi aku tak pernah lihat. kau mungkin rapuh, tapi tak akan lemah. aku percaya. karena butuh nyali untuk meloncat pagar besar di alun-alun hanya untuk jatuh dan berdebat dengan satpam. Meski kau akhirnya pulang malu-malu. Bukankah hidup untuk menguji nyali? Kau rapuh, tapi tak lemah!

R, kenapa ya bulan itu pucat? Kau bilang 'agar tak menyaingi warna bintangku di pojok sana'. kau lebih suka bintang daripada bulan. mungkinkah karena terlalu banyak yang menyukai bulan sehingga kau berpaling pada bintang? kau selalu begitu. membenci keramaian yang disukai. kau menyukai kerang, batu, petir apa saja asal bukan bulan.

R, tau kah kau? aku sekarang sudah kurusan. ya kurusan. kau bilang kau benci gelambir lemak di perutku. tapi kau tak suka kehilangan pipi tembamku. aku bingung, bagaimana menegosiasikan lemak perut dan pipi. kau lupa memeberi manualnya. ah! selalu saja, kenapa aku harus mengikuti semua pintamu? kau tak adil. tak pernah adil. selalu meminta yang tak bisa kutolak!

R, aku kemarin makan bakso. makanan yang tak pernah kau bagi meski aku minta dengan sangat. bakso bulat yang ada di sepanjang jalur kereta di sebelah utara kota. ya aku tau. itu makanan kesukaanmu. entah kenapa. makan bakso membuatku jadi sentimentil. kuputuskan makan separuh. karena mangkuk dan sendoknya terlalu keras untuk kukunyah.

R, untuk kesekian kalinya. kapan aku boleh telpon? aku penasaran suaramu. mungkinkah seindah Janis Joplin? aku yakin sungguh yakin suaramu merdu. Hanya saja kau terlalu angkuh untuk mengakuinya. dan menolak bicara. atau hanya sekedar gendang telingamu tak suka suara-suara dari telepon? aku jadi ingat usman kawanku waktu kecil ia tak suka petasan yang diledakan di telinganya. mungkin kau cocok dengan dia.

R, kapan kau mau jalan lagi denganku? aku rindu mata sendu dan langit-langit dahimu yang rubuh itu. aku suka melamun saat kau bicara. kita tak perlu kencan, hanya diam-diam saja. memandangi matahari yang terbit di depan stadion sambil makan tahu dan minum teh. bukankah syahdu saat kau bilang 'gila, tuhan pinter ya bikin momen'. tapi buatku tetap 'gila, hebat ya tuhan bikin kamu'.

R, ini loh, teman-teman suka bertanya kapan kau akan jujur. aku bilang jujur apa. jujur bahwa kau mencintai kesendirian dan tak ada gunanya aku berharap tentang hubungan yang serius. aku tertawa keras, keras sekali, sampai mau terkencing di muka mereka. aku tak pernah berharap apa-apa dari mu. mengenal saja sudah cukup. dan mencintai? apalagi status hubungan? bikin aku muak. ya muak. aku yakin kau juga demikian. ya kan?

R, aku mau tobat menulis puisi. apalagi tentang hujan. karena hujan membuat basah. tau kan? iya kamu benci hujan yang membuat cucianmu basah. aku senang mendengar omelanmu. tapi aku tak suka sorot mata marah yang kau timpakan saat aku membuat puisi hujan. "aku benci kenangan kau bilang" aku juga. aku benci melihatmu marah.


R, ini paragraf terakhir. Nanti kalau kau telah sampai di Praha. kabarkan aku rumah Kafka. Dimana ia menuliskan pengadilan. Jadi jika kau pulang, akan kuadili kau dengan banyak dakwaan. Tentang masakan yang tak jadi, tentang janji yang batal, tentang pesan yang tak berbalas, tentang hujan yang basah dan tentang rindu yang tak selesai. Karena kau bersalah. Meninggalkan ruang hitam di dadaku.

3 komentar:

  1. macak manis ben diperkosaaaa :D

    BalasHapus
  2. huahahaha, itu udah jadi ama Como ran, huahahaha. biarlah, asal temen senang aku bahagia, ihiiir!

    BalasHapus
  3. saya iri dengan wanita yang bisa membuat mas dhan menulis seperti ini.

    sungguh

    BalasHapus