Kamis, 28 Oktober 2010

Lihat Hujan Ini

Saya dan kamu yang jauh, lihat hujan ini.
Tak berhenti menelikung rinduku padamu.
Tapi, tunggu sebentar. Aku akan ke toilet.
Biar kubuang marahku pada cahaya yang tak kunjung terang.
Kubuang ke jamban.
Tempat yang sama saat kau ludahi rinduku minggu lalu

lihat hujan ini, berderai-derai tak bisa lerai
mirip tangismu saat memintaku pergi saat itu
tapi aku menolak, karena aku bebal dan menolak tunduk
meski pada penolakan pertama, kedua, dan kemarin yang ke duaratus empat

lihat hujan ini bersungut-sungut tak mau usai
sudah tulis sajak ini sejak kemarin, mencatut pujangga tua, muda dan kanak-kanak
tapi kau tak mau luluh juga, ada apa?
sajak tak lagi mampu menyenangkanmu?

Lihat hujan ini, berlari
Lalu jatuh tersungkur ketanah, membawa aroma basah
Larut dibawa angin, masuk ke hidung dan keluar dari pantat
Ini, didepan jamban warna merah, tempat kau ludahi rinduku minggu lalu

Biarlah hujan ini.
Saat reda nanti, biar kukirim sisa rinduku setengah kodi
Terserah kamu. Habis rinduku.
Lalu pulang, tidur dirumah, menolak bangun mengingat kamu.
Lunas.

Kamis, 21 Oktober 2010

Homunculus

Entah apa yang dipikirkan oleh Piere Rivere saat membantai seluruh keluarganya-termasuk ibunya yang sedang mengandung- di Normandia pada tahun 1836. Boleh jadi ia sedang kerasukan atau ia hanya sedang iseng dan tiba-tiba ingin membantai. Saya tidak pernah tau dan dunia juga tidak pernah tahu, yang jelas sejak saat itu definisi kewarasan atas hukum di dunia boleh jadi berubah. Sebuah konsensus sementara yang mencoba meng-humanisasi orang gila; “Orang yang tidak waras dilarang diadili!”.


Di Indonesia kita kemudian mengenal Dukun AS, yang membantai 42 orang dengan alasan pesugihan. Dukun AS adalah manusia biasa, serupa dengan Muhammad, serupa dengan Hitler dan serupa dengan Bunda Theresa. Jika narasi sejarah tak luput dari Anxiety of Influence, maka boleh saya berdendang riang tentang kisah homo homini lupus. Dimana manusia adalah serigala bagi manusia lainnya, yang membedakan adalah posisi otoritas mangsa dan pemangsa. Bukankah sejarah manusia biasa berkutat pada pergulatan atas kuasa menentukan norma dan aturan-aturan?

Bisa jadi benar jika sejarah dunia adalah sejarah tentang perebutan kuasa atas norma. Tetapi tidak semua norma tadi tulus jujur untuk kemaslahatan umat. Malah sebagian besar adalah tentang darah yang dibaptis atas nama peradaban. Pembantaian sebuah suku atas nama barbarisme, pemusnahan umat agama karena menyimpang, atau genosida atas nama keagungan ras? Bukankah sejarah yang mencatat Columbus sebagai penakluk Amerika, namun sedikit sekali yang mengungkap jika yang maha Agung Columbus juga melakukan pembantaian atas kaum indian Arawaks Amerika.


Mungkin karena muak dengan kemunafikan bernama norma dan sikap banal ke-beradaban itu, Marquis de Sade merayakan orgy untuk mengejek kewarasan. 120 days of Soddom serta segala macam rupa penyimpangan seks diperagakan seakan-akan manusia tidak mengenal tata krama, sebuah Ode atas keliaran yang kemudian ditutup dengan makan seperangkat tahi. Kejijikan pada kemunafikan lebih menusuk pada sanubari Sade, lebih dari siksa penjara Bastille yang menggerogoti tubuh di sisa umurnya. Adakah yang salah dari hal itu?


Sekali lagi sejarah mengenal perilaku Sade sebagai sebuah kegilaan, penyimpangan, subversi atas status quo dan sepenggal bentuk sikap barbar. Tetapi ia adalah avantgarde kewarasan, kejujuran, dan seperangkat alat pemutar balik definisi abnormalitas. Adakah manusia yang bertindak demikian? Tentu jawabannya bisa jadi ya dan tidak, tapi nyatanya ada.


Apakah ke-tak-warasan melulu tentang pembunuhan? Tentang olah laku tak wajar? Tidak juga, bukankah kita mengenal Galileo yang musti di asingkan karena pencerahan dan juga kita mengingat Socrates yang musti minum racun karena pertanyaan. Keterbatasan pemikiran, perbedaan dan Xenopobia membuat manusia takut akan sesuatu yang baru. Dan akhirnya masyarakat punya definisinya sendiri tentang kewajaran, tentang baik buruk, benar salah dan segalanya.


Maka tak salah jika Teto memilih untuk mengabdi pada yang mulia ratu Wilhelminna dan bukan pada kaum republik. Mangunwijaya boleh jadi sekedar menyentil, Burung-Burung Manyar hanya ingin jujur memberi perspektif. Ini kisah tentang manusia yang berusaha digubah sejarah. Mereka yang mencoba hidup secara berbeda, menentang arus, menolak definisi dan mengabaikan kemapanan. Bukankah wajar untuk memilih pada pihak pemenang dan berlindung pada mereka yang kuat. Namun dari berbagai alasan Teto tetap pada pemikiran Nederland punya jawaban atas bangsa ini. Apakah ini gila?


Apa kemudian yang membentuk Diri dan kewajaran tadi? Konsensus atau hanya sekedar apologi? Kisah Thích Quảng Đức dan Cristhoper McCandless yang menjadi martyr atas apa yang mereka yakini boleh jadi adalah sebuah petasan kecil yang menghancurkan definisi mapan dan kebahagiaan yang diyakini oleh kebanyakan manusia. Thích Quảng Đức yang memutuskan untuk melakukan self immolation sebagai bentuk protes memicu keruntuhan rezim Ngô Đình Diệm di Vietnam, pembakaran diri untuk sebuah kejatuhan rezim? Mungkin bukan harga yang sepadan namun terbukti bisa menginspirasi perubahan.



Cristhoper McCandless atau Alexander Supertramp pengelana yang menolak “kemapanan” dalam arti sesungguhnya, meleburkan diri dalam belantara alam liar Alaska untuk menjalani semacam tapa brata. Manungaling kawula jagat, menyatu dengan alam sekitar. Serupa dengan jalan moksa resi-resi dalam kisah wayang purwa, melakukan jalan kematian dengan nyepi. Dan Cristhoper McCandless toh mati bahagia dengan sebuah tulisan sederhana yang ia tulis “I HAVE HAD A HAPPY LIFE AND THANK THE LORD. GOODBYE AND MAY GOD BLESS ALL!”.

Lalu apa kiranya yang membuat indvidu-invidu tadi berbeda begitu rupa? Adalah “homunculus” ujar para cendikia jiwa dan magis, manusia dalam manusia. Psikologi dan sihir menemukan apologinya sendiri. Ada manusia dalam manusia yang melakukan representasi atas segala hal; Citra, rasa, warna, dan suara. Hingga pada akhirnya membuat pemahaman atas realitas disekitar tubuh. Jika norma adalah sebuah keberadaan yang imajiner maka Homunculus inilah yang melakukan interpertasi terhadap nilai-nilai, lupakan perasaan, karena pengampu keputusan bukan di ‘hati’ tapi didalam ‘kepala’.


Lalu apakah ini semua tentang Interpertasi kewarasan, norma, nilai dan hukum? Bah, itu hanya sekedar gaya-gayaan. Karena apakah interpertasi bisa diwakili oleh seperangkat statistik atau teori-teori? Jika ya jelaskan apa itu cinta dan gila. Beribu teks dan lembar Papirus mengumbar definisi dan logika tentangnya, namun tetap tak pernah ada pemahaman yang utuh. Kita semua tersesat dalam gegar definisi kewarasan penguasa. Dan pada akhirnya, biarlah Bertold Brecht bicara tetang Gelap Masa.[]

Teruntuk Hari Aksara (yang sudah lewat)


Sejak kemarin saya gatal untuk onlen lagi, sekali lagi untuk onlen, menyatakan keberadaan diri lewat facebook. Kitsch sekali memang, seolah-olah yang namanya eksistensi itu diukur dengan sebanyak apa saya bikin status dalam sehari atau mungkin dalam satu jam. Selain dorongan untuk onlen entah kenapa saya ingin sekali menulis, menulis apa saja, menulis tentang rindu, tentang hidup, tentang wayang, tentang apa saja boleh. Padahal tak lebih dari sebulan ini Arys, Pemimpin Redaksi saya marah tiap hari karena tulisan saya untuk majalah tak juga selesai. Skripsi saya juga hanya diliat dan tak sempat disentuh, untuk yang terakhir saya punya Apologi. Sejak bimbingan terakhir saya memang sakit, entah sakit apa, kepala saya pusing, mual, dan tulang sendi saya sakit. Kata teman itu gejala hamil, lha kok hamil? Kalo saya hamil siapa ibunya?

Kembali ke urusan menulis, saya mau bercerita tentang ketakutan saya beberapa bulan terakhir. Tentang teror psikis yang sebenarnya saya buat sendiri, tentang rasa takut akan masa depan. Tentang hidup yang belum terjadi, rasa takut yang lahir gara-gara pertanyaan sederhana. "Untuk apa saya menulis?". Kiranya saya sudah diajarkan untuk menulis, menulis dan menulislah. siapa tau nanti dari tulisanmu itu bisa mempengaruhi banyak orang dan bermanfaat. Idealnya demikian, namun beberapa kali saya malah sering di kritik dengan pertanyaan elementer tentang "mas, sampean itu nulis apa? kok susah, kok gak nyambung, kok ngawur?" dan kok kok yang lainnya.

Pada suatu masa saat saya masih belum terlalu gemuk dan hitam, ada seseorang yang berkata "menulislah karena kamu ingin, bukan karena orang lain atau bahkan karena gaya-gayaan". Saya lupa siapa yang berkata demikian, atau mungkin memori otak saya secara kolektif mengambil frase kata itu dari buku entah saya lupa. Jika kata-kata tadi boleh dikata sebuah dokrin maka boleh kiranya saya berkata bahwa saya telah didoktrin dengan sangat parah dengan kalimat tersebut. Entah mengapa, menulis dan merayakan keberaksaraan terkesan sangat seksi, sangat intelektual, sangat pintar, sangat Renaissances dan sangat hebat. Tetapi karena pemahaman yang tidak utuh atas kalimat tersebut membuat saya menjadi tersesat dalam kekeliruan pemahaman "Tulis semau kamu".

Boleh jadi itu sesat, karena tulis semau kamu adalah suatu sikap kekanak-kanakan. Menulis semau kita tanpa sebuah dasar dan pemikiran mendalam akan sangat berbahaya. Orang boleh bilang Mein Kampf itu asu karena menarasikan superiortias dan melahirkan fasisme. Toh si empunya menulis buku tersebut dalam keadaan sadar. Atau Manifesto Komunis, saya tidak yakin jika pada akhirnya hantu-hantu komunis tadi ingin melakukan revolusi dengan pembantaian keluarga Tsar secara brutal. Tapi pada akhirnya komunisme di Imani sebagai agama baru.

Pramoedya Ananta Toer adalah sedikit dari beberapa orang yang membuat saya kesengsem dengan dunia tulis menulis.Tetralogi pulau burunya meracuni saya untuk mengidolakan sosok Minke. Melupakan superman, batman dan jiban dalam tataran idola saya selama ini. Minke seolah-olah menjadi messiah yang menuntun saya dalam kesesatan masa. Saya jadi keranjingan membaca, karena dengan begitu stok kata-kata sulit saya bertambah, istilah semakin banyak saya hapal dan makin banyak pengarang yang saya kenal dan saya culik namanya. Jejak Langkah, buku ke tiga dalam Tetralogi Pulau Buru semakin melambungkan daya khayal saya bahwa tulisan adalah instrumen magis yang mampu menggerakan raga dan masyarakat luas. Revolusi dimulai dari sebuah kata sederhana yang dijahit menjadi kalimat dan menyatu dalam sebuah tubuh tulisan!

Selain menjadikan saya nampak pintar, menulis itu eskapis, terapi, wahana dan sekedar sanctuary. ijinkan saya jelaskan sedikit, soal menjadi nampak pintar itu mudah sekali. cukup gunakan metode Name drooper, book drooper, statistik drooper dan drooper drooper yang lainnya. drooper atau nama kerennya "ngutip" adalah sekedar metode sederhana menaikan pamor, wibawa dan esteris tulisan secara banal. mengesankan dan menyeolah-olahkan si empu tulisan itu berwaskita tinggi, dalam ilmu dan bijak bestari. itu jika dilihat dari kaca mata fana, name drooper itu seringkali membuat gerah pembaca. saya tahu itu karena pada awal-awal karir tulis menulis saya (sampe sekarang) kritik atas Name drooper itu yang paling rajin nampang pada permukaan komentar awal tulisan saya. dan saya selalu mempunyai apologi untuk itu, dan saya menolak merubah kebiasaan tersebut. karena itu prinsip, idiologi, agama atau apalah terserah anda menyebut hal tersebut. mengurangi kebiasaan itu boleh saya lakukan, tapi menghilangkan sama sekali? bah! dosa!

Kawan saya pernah bilang itu adalah Anxiety of Influence, kawan lain menyebutnya gegar budaya literasi, yang lainnya genit intelektual. Tapi saya rasa itu tidak fair, menulis adalah sebuah laku tanggung jawab, bukan sekedar kita menyampaikan pemikiran an sich. Buat saya itu seperti menjadi tindakan yang hipokrit. penilaian yang tidak dilakukan atas pengamatan menyeluruh. memang teks saat dilahirkan dari ujung tuts keyboard dan di publish adalah milik khalayak. penulis sudah tidak punya hak lagi dalam mengarahkan pemikiran si pembaca. tapi penulis masih punya hak menjawab dan berbagi pemikiran kan?

Penulis itu layaknya tuhan, itu pendapat saya, sekali ia menerbitkan tulisan ia mempunyai tanggung jawab terhadap keberadaan tulisannya. entah nantinya ia akan mati atau hilang sama sekali, yang jelas apa yang ia tulis jangan sampai menyesatkan atau bahkan menjadi propaganda. Tulisan dimana pikiran kita dituangkan akan selalu ditafsir ulang (bila dibaca). Itu sebuah kodrat hayati, sesuatu yang given. Munafik jika ada seorang penulis yang bilang "ah saya menulis untuk saya sendiri" itu sekedar pembelaan kelas teri yang lebih sampah dari kata-kata Harmoko saat pengarahan di dunia dalam berita. 

Menulis itu sejatinya bekerja untuk pencerahan, memberikan cahaya dalam gelap masa, instrumen kontenplatif, cermin dan meberikan panduan pada mereka yang tak tahu arah. itu saya yakini begitu rupa, sampai-sampai saya ingin dalam setiap hal yang menurut saya salah, saya seperti kerasukan untuk berteriak "hei itu salah!". dan saya mengejawantahkan teriakan itu dalam tulisan. beberapa cenderung menghakimi, fasis, berputar-putar dan sesat. boleh jadi demikian, karena terlalu banyak hal yang ingin saya kemukakan dalam tulisan. sebuah bangunan analisis yang terdiri dari kutipan pemikiran tokoh ini dan itu. bukan karena saya tidak punya pendapat pribadi. Tap lebih sebagai bentuk tau diri untuk tidak bersikap semaunya, berkata semaunya, dan sok tau.

Benar adanya jika beberapa dari kalian mencurigai awal karir penulisan saya itu adalah suatu bentuk riya' saya mengakui hal itu. Malah sampai sekarang juga masih, sedikit banyak berkurang. ibarat nasi goreng, makin lama panasnya akan habis dan nasi akan kurang renyah dimakan. mungkin saya sudah sampai pada titik jenuh dimana saya merasa sia sia dalam bertindak. Apakah saya sudah benar memutuskan untuk menulis? apakah pengetahuan yang saya bagi bermanfaat? dan detik-detik yang berlalu dalam proses pembentukan penulisan ini sepadan? is it worth it?


*hari Aksara 10 Oktober

Mengapa saya berhenti Demonstrasi

I would have to know for once and for all, what rights I had as a human being and as a citizen.

(Rosa Parks)

Kali ini saya mau bercerita sedikit tentang Rosa Parks. Seorang gadis Afrika Amerika yang sangat luar biasa. Seorang gadis yang ikut andil dalam meruntuhkan kebijakan rasialis Jim Crows Laws di Amerika. Ia dikenal sebagai tokoh dalam aksi ‘Montgomery Bus Boycot’. Namun sebelumnya ijinkan saya terlebih dahulu untuk berkisah tentang Jim Crows Laws, sebuah hukum yang bertujuan untuk melakukan perlindungan dengan jalan segregasi atau pemisahan fasilitas antara kaum kulit putih dan hitam di Amerika. Perlindungan yang dimaksud adalah perlindungan terhadap kesetaraan, “equal but seperated”. Dalam konstitusi Amerika paska perang sipil Amerika meyakini bahwa semua manusia adalah setara, bebas dan memiliki hak untuk mengemukakan pendapat. Hal ini juga memicu dicabutnya kebijakan perbudakan di Amerika pada akhir abad ke XIX.

Jim Crows Laws sebenarnya bertujuan baik, yaitu untuk memberikan kaum kulit hitam untuk memperoleh haknya setara dengan kaum kulit putih. Namun pada implementasinya malah semakin memberikan penindasan rasial. Hal ini berlaku pada pembagian fasilitas publik dengan labelisasi kulit hitam dan kulit putih. Hukum ini bukannya tanpa pertentangan, dalam perkembangan sejarah amerika sendiri setidaknya ada 3 peristiwa besar yang menandai keruntuhan hukum ini. Salah satunya adalah ‘Montgomery Bus Boycot’, sebuah aksi yang dipicu penolakan Rosa Parks untuk menyerahkan tempat duduknya dalam sebuah bus. Hal ini terjadi karena adanya pemisahan tempat duduk antara warga kulit hitam dan kulit putih dalam sarana transportasi seperti bus dan kereta api. Warga kulit hitam seringkali tidak diperbolehkan naik sebuah angkutan dengan alasan ini, sehingga pada suatu saat Rosa Parks nekat menaiki sebuah bus dan menolak untuk dipindahkan.

Menurut Jim Crows Laws warga kulit hitam boleh menaiki sebuah transportasi umum dengan syarat-syarat tertentu. Dimana 75% kursi penumpang adalah milik warga kulit putih dan ada beberapa tempat di barisan kursi bus tidak boleh ditempati oleh warga kulit hitam, seperti didekat pintu masuk, dibarisan depan dan apabila duduk bersamaan dengan warga kulit putih. Hal ini tentu saja sangat diskriminatif dan merepotkan. Maka pada tanggal 1 desember 1955 Rosa Parks menolak permintaan James Blake -supir bus- untuk pindah tempat duduk. Fakta yang menarik lainnya, James F Blake adalah supir yang sama yang pernah menolak mengangkut Rosa Parks dan membiarkan kehujanan pada beberapa tahun 1943 dengan alasan kuota 25% jatah kulit hitam telah dipenuhi padahal saat itu kursi bus masih ada beberapa yang kosong.

Setelah insiden itu Rosa Parks ditahan karena melakukan pembangkangan terhadap Jim Crows Laws. Ia diputuskan bersalah dan harus membayar denda senilai $10 dan $4 sebagai biata peradilan. Namun insiden itu telah meletupkan sebuah gerakan sosial di Amerika. Saat Rosa Parks ditahan muncul seruan ‘Montgomery Bus Boycot’ sebagai bentuk solidaritas terhadap Rosa Parks, tercatat 35.000 orang melakukan pemboykotan terhadap kebijakan Jim Crows Laws di Bus. Setelah Rosa Parks dibebaskan, ia bersama Marthin Luther King Jr, seorang aktifis anti rasial Amerika melakukan kampanye nasional penolakan terhadap kebijakan segergasi tersebut. Gerakan itu meluas keseluruh daerah selatan Amerika yang memang dikenal sebagai basis warga rasis.

Rosa Parks adalah seorang ibu rumah tangga biasa, yang bekerja disebuah mini market. Namun sejarah mengenalnya sebagai salah satu tokoh aktifis kesetaraaan hak internasional. Keputusannya untuk menolak memberikan tempat duduk sebagai bentuk pembangkangan sipil menginspirasi banyak gerakan di dunia untuk menghapuskan kebijakan rasialisme. Sangat mengagumkan bagaimana sebuah gerakan sosial bisa mempengaruhi suatu kebijakan negara bahkan dunia. Sampai akhir hayatnya pada tanggal 24 Oktober 2005 ia masih dikenang dunia sebagai “Ibu gerakan pembangkangan terhadap rasialisme”. Sebuah gelar yang sangat mengharu biru.

Saya jadi teringat pada gerakan sosial di Indonesia yang saya nilai mandeg dan kehilangan arah paska 98. Tercatat ratusan kali aksi massa dan demonstrasi di Indonesia bukannya meraih simpati malah menjadi sangat-sangat kitsch dan murahan. Saya membedakan aksi massa dan demonstrasi berdasarkan pemahaman saya sendiri. Aksi massa berdasarkan padu padan katanya adalah sebuah gerakan sekumpulan orang atau yang bertujuan tertentu, sedangkan demonstrasi adalah ujuk laku seseorang, sekelompok orang atau masyarakat sebagai bentuk aktualisasi diri, tindakan politis dan pernyataan pendapat. Demonstrasi tidak melulu dilakukan oleh banyak orang, Rosa Parks di Amerika dan Thích Qung Đc di Vietnam membuktikan itu. Agar sebuah suara dan pendapat di dengar tidak perlu menurunkan ratusan orang atau melakukan keributan, cukup dengan sebuah aksi spontan yang didasari oleh pemahaman dan tanggung jawab.



Masyarakat dan Aksi Massa

Pada tanggal 20 Oktober kemarin, Indonesia sedang diramaikan dengan festival aksi massa. Saya menyebutkan demikian karena kata Demonstrasi (dalam pemahaman saya) terlalu sakral untuk disematkan pada aksi tanpa juntrungan itu. Aksi yang terjadi hampir serentak di 16 kota besar di Indonesia itu mayoritas diwarnai kericuhan. Kericuhan dalam sebuah Aksi Massa itu adalah hal yang biasa, namun jadi menjemukan dan memuakan jika Aksi Massa dijadikan ajang untuk melakukan tindakan kekerasan. Mahasiswa dan organisasi kemasyarakatan Indonesia (mengacu pada kegiatan massa 1 dekade terakhir) telah aggal meraih simpati masyarakat. Hal yang sebenarnya sangat esensial sebagai faktor penunjang keberhasilan suatu Aksi.

Keberadaan masyarakat dalam hal ini tidak melulu berbentuk keikutsertaan turun kejalan dan melancarkan protes secara komunal. Tetapi lebih kepada rasa hormat dan keterwakilan terhadap isu-isu yang menjadi pendorong Aksi Massa tadi. Di Indonesia Mahasiswa sebagai Agent of Change, yang dalam perkembangan demokrasi telah menjadi salah satu motor penggerak perubahan. Kita tentu masih mengingat angkatan 60an dan angkatan 98. Dimana Mahasiswa pada kedua zaman itu melakukan pengawalan dan demonstrasi terhadap isu-isu yang memang menyangkut harkat hidup orang banyak. Mengenai kemiskinan, rezim totaliter dan korupsi. Masyarakat dan mahasiswa Indonesia saat itu bersinergi menghasilkan kekuatan yang mampu merubah tatanan sosial dan politik yang ada.

Absennya peran dan dukungan masyarakat, dalam Aksi Massa 1 dekade terakhir boleh jadi akibat titik kulminasi, dari sebuah gerakan sosial yang tidak berujung pada perubahan sosial yang nyata. Harus diakui bahwa perubahan sosial yang terjadi paska 98 sebagian besar dinikmati oleh golongan terdidik, teknokrat dan pebisnis saja. Analisis saya sederhana saja, banyaknya ungkapan “jaman pak Harto enak, apa-apa murah”. Hal ini bagi mereka kaum intelektual yang mengelami pengekangan dan penindasan kebebasan tentu saja sangat menggelikan. Memang pada Zaman Orba banyak sekali penindasan dan kekerasan terhadap rakyat. Namun isu-isu tersebut hanya beredar dan melingkupi pada golongan aktifis dan tempat dimana penindasan itu terjadi.

Maksud saya adalah saat terjadi pembantaian warga di Santa Cruz di Timor Timur atau pembantaian warga aceh di Simpang Craft. Media massa nasional saat itu tidak memberitakannya secara masif dan keadaan baik-baik saja karena stabilitas harga pangan dan keamanan terjaga. Dua hal yang cukup efektif untuk meredam keingintahuan masyarakat terhadap sebuah peristiwa. Memang terlihat dangkal analisa saya tadi, tetapi pada kenyataannya adalah apa yang memicu gerakan sosial di Indonesia memang tak jauh-jauh dari urusan perut. Lupakan pelanggaran HAM, lupakan Korupsi karena kita hanya peduli jika kita lapar! Jika kita mau mengingat sedikit peristiwa tahun 60an saat penggulingan Orla, disaat proyek mercusuar Soekarno gagal dan Indonesia mengalami Inflasi tinggi akibat pemotongan nilai mata uang. Rakyat sontak gelisah dan marah, karena harga-harga bahan pokok makanan semakin mahal.

Pada saat 98 juga demikian adanya, revolusi Mei 98 yang berujung pada kejatuhan Soeharto terjadi bukan karena kasus penculikan Aktifis, atau penyerangan kantor PDI, atau karena terjadi pembunuhan pada mahasiswa Trisakti dan Semanggi. Hal itu dipicu karena krisis moneter yang melahirkan reaksi berantai pada penurunan nilai tukar rupiah pada dolar, kenaikan harga bahan pokok, dan menghilangnya beberapa komoditas bahan bakar seperti bensin dan minyak tanah. Seperti halnya peristiwa Malari tahun 75, kerusuhan di Jakarta 98 berakhir menjadi sentimen rasial. Jika dahulu pada produk-produk jepang yang merepresentasikan kapitalisme, maka kini adalah warga negara keturunan Cina. Bangsa ini bergerak bukan karena empati, tapi lebih pada urusan perut!



Demonstrasi/aksi massa bentuk demokrasi?

Jika kemudian pada tanggal 20 Oktober kemarin mereka yang melakukan Aksi Massa berlindung pada topeng demokrasi, demokrasi ala Amerika. Maka perlu lah mereka bercermin terhadap sistem, kesadaran politik dan pendidikan yang ada pada Amerika. Saya disini bukan dalam kapasitas pembela kepentingan Amerika ala Freedom Institute. Dalam banyak hal saya mengakui Amerika adalah Negara hebat, sistem pemerintahan dan hukumnya menjamin penuh terhadap kesejahteraan rakyatnya. Kebijakan-kebijakan hukum dan politik yang dibuat sebagian besar (bukan berarti tidak ada yang pro modal) dalam 3 dekade terakhir memang bertujuan untuk mensejahterakan rakyat.

Dalam sistem hukum Amerika, pemerintah dan pemilik modal atau perusahaan besar tidak selalu menjadi pihak yang berkuasa dan bisa ongkang-ongkang kaki terhadap hukum. Mereka jika terbukti bersalah dan meyakinkan dapat dikenai hukum jika melakukan pelanggaran. Kasus-kasus seperti Rosa Parks dan Erin Brokovitch bisa membuat negara mengubah sebuah undang-undang atau membuat sebuah perusahaan raksasa melakukan ganti rugi jutaan dolar pada masyarakat yang ditindas! Tentunya hal itu tidak dicapai dalam waktu 2-3 tahun, Amerika membutuhkan ratusan tahun, perang sipil, genosida kaum indian dan diskriminasi rasial untuk mencapai sistem ideal saat ini. Dan salah satu bentuk demokrasi di Amerika yang sering berlaku adalah demonstrasi atau Aksi Massa. Di Amerika sendiri memang memiliki budaya protes, kita tentu masih ingat aksi penolakan konfrensi WTO di Seattle yang dikenal sebagai Battle of Seattle dan aksi Rage Againts The Machine di Wallstreet dalam rangka protes terhadap kebijakan Kapitalistik lewat pembuatan Video Clip Sleep Now In the Fire bersama sutradara flamboyan Michael Moore.

Aksi Massa tanpa tujuan yang jelas, pemahaman yang merata dan dukungan luas hanyalah omong kosong. Bukan berarti saya anti pada Aksi Massa, saat saya masih duduk di bangku awal kuliah saya pernah menjadi satu dari ratusan mahasiswa yang melakukan protes terhadap kenaikan harga BBM dan protes terhadap pungutan uang Gedung di Universitas. Saya akui saat itu saya sangat Naif dan memandang dunia dari kaca mata hitam putih saja. Selalu ada dua rasionalitas dalam sebuah pertentangan. Demonstrasi juga demikian, saat saya protes Harga BBM, saya tidak tahu benar apa alasan kenaikan BBM tersebut. Melalui banyak diskusi dan membaca literatur saya mendapat pemahaman bahwa kenaikan itu tidak perlu terjadi jika kita melakukan swasembada minyak dan pengelolaan yang tepat. Penarikan Uang Gedung itu perlu, karena perpustakan FISIP Unej, kampus dimana saya kuliah terakhir melakukan pengadaan buku tahun 2000, lima tahun sebelum saya masuk kuliah dan kini kondisi bukunya juga acak adut, ruang kelas yang minim peralatan, dan akses internet yang naik turun. Jika kemudian saya protes terhadap uang gedung yang “hanya“ 1 juta itu. Maka saya harus siap dengan segala fasilitas kelas dua yang akan saya nikmati 4 tahun kedepan.

Buat saya sebuah Aksi Massa/Demonstrasi adalah suatu bentuk pendidikan dan aktualisasi politik. Karena dalam sebuah Aksi Massa/Demonsrasi seringkali terjadi orasi, interaksi dan deklamasi terhadap pemikiran, fakta-fakta, data-data dan seruan seruan yang berujung pada penyampaian informasi. Sampai pada titik tadi saya sepakat dan mendukung aksi tersebut. Namun menjadi sangat menyedihkan dan melenakan jika kemudian aksi tersebut dijadikan ajang gaya, show off, eksistensi dan proyek kepentingan. Terjadi distorsi pemahaman sebuah demonstrasi/aksi massa sebagai bentuk demokrasi, sejatinya demonstrasi adalah suatu ajang protes terakhir ketika semua proses demokrasi sudah dianggap mandeg dan tumpul. Menurut saya ada beberapa tahapan protes dan tuntutan sebelum sebuah aksi berujung pada demonstrasi. Tentu saja konteksny adalah protes yang vis a vis dengan korporasi dan pemerintah (catat pemerintah bukan negara!).

Tahapan pertama adalah nota protes/surat keberatan, hal ini merupakan tahapan paling awal yang ideal untuk menyatakan keberatan terhadap sebuah kebijakan atau kekecewaan. Seperti halnya surat pembaca dalam media massa, metode ini juga suatu bentuk demokrasi mini. Anda menyatakan keberatan dengan penjelasan dan argumentasi anda. Tentu tidak serta merta “pokoknya tolak”, tetapi disertai alasan-alasan, jika anda seroang akademisi boleh lah disertai data statistik atau fakta empiris lapangan. Dengan demikian anda tidak ‘asal protes dan nolak’. Tahapan yang kedua adalah pertemuan dan perundingan. Artinya anda meminta audensi terhadap pihak yang anda keberatkan tentu dengan fasilitator dan pihak penengah. Dalam suatu sengketa tidak perlu gradak-gruduk langsung libas, jika memang kita berpendidikan dan memiliki sebuah integritas intelektual maka jalan paling berderajat adalah musyawarah. Tentu tahapan ini dilakukan jika tahapan pertama dianggap gagal atau tidak mencapai titik temu.

Tahapan berikutnya adalah tuntutan hukum, hal ini merupakan hal yang lumrah di sebuah negara demokratis (jika memang ada). Bert Klandermans dalam Social Psychology of Protest, mengungkapkan bahwa tidak melulu protes diberlangsungkan dijalanan, namun juga terjadi pada ranah hukum, malah seringkali lebih efektif. Logikanya sederhana, Undang-undang merupakan hukum yang mutlak dipatuhi, sehingga jika terjadi pelanggaran maka serta merta para aparatus negara musti patuh. Saya menihilkan variabel-variabel (x) seperti pejabat hukum korup atau mafia peradilan. Karena jika anda mengaku sebagai aktifis demokrasi, maka fakta bahwa tahapan hukum harus dilalui merupakan hal yang mau tidak mau musti dilewati. Di Indonesia sendiri sudah ada (meski tidak banyak) kasus antara masyarakat vs pemerintah/perusahaan yang dimenangkan oleh masyarakat.

Tahapan berikutnya apabila semua jalan buntu adalah Aksi Massa. Dalam Aksi Massa sendiri masih ada beberapa tahapan, karena aksi massa tidak melulu turun kejalan, berorasi atau kemudian melakukan kerusuhan massal. Ada beberapa contoh tahapan, sekali lagi ini hanya interpertasi saya saja dari beberapa literatur dan esai semisal dari Bert Klandermans, Abdul Wahib Situmorang, Robert Mirsel, Jeff Kisseloff, Soe Hok Gie, Jurnal Mahasiswa Balairung dan Civil Disobidience Companion in focus. Ada banyak tahapan (atau jenis) aksi massa, seperti aksi diam, aksi duduk, blokade, long march, boikot, dan yang sedang ngetrend saat ini kerusuhan!

Setidaknya saya memahami ada benang merah dari tulisan-tulisan mengenai pembangkan sipil, protes dan demokratisasi, yaitu aspirasi dan nilai tawar. Dalam sebuah aksi massa yang menjadi fokus adalah sebaik apa anda menyampaikan aspirasi dan bagaimana kekuatan tawar anda terhadap isu protes yang akan dilangsungkan. Dengan demikian anda mampu melakukan negosiasi terhadap pihak pemangku kebijakan untuk merubah, mencabut atau berkompromi terhadap isu protes yang anda layangkan. Dari sinilah ide besar sebuah protes yang dilakukan dalam bentuk aksi massa, dan tidak serta merta ‘pokoknya lawan’.

Saya pribadi menyadari tentang konsepsi dan tujuan protes melalui aksi massa/demonstrasi baru-baru ini saja. Sekitar 2 tahun terakhir, setelah diskusi, debat dan obrolan ringan warung kopi. Semua selalu dimulai dari pertanyaan yang sama ‘mengapa kamu demonstrasi?’. Sederhana namun sangat rumit untuk menjawabnya, saya tidak yakin saat anda mengerahkan ribuan atau bahkan 50 orang saja, mereka memiliki pemahaman yang utuh mengapa mereka melakukan protes. Dalam artian kebanyakan dari mereka yang melakukan protes tidak serta merta paham tentang apa yang di-protes-kan dan apa yang dituntut. Misal, saat 20 Oktober kemarin, kebanyakan tuntutan adalah mencabut mandat SBY selaku presiden yang secara sah terpilih melalui pemilu (terlepas perdebatan mengenai politik uang dan lainnya). Iseng-iseng saya bertanya kepada salah seorang kawan yang melakukan protes, apakah ia mencoblos SBY saat itu, dia jawab tidak. Lha apa hak anda untuk mencabut mandat yang tidak anda berikan? Lalu ia mengatasnamakan rakyat, rakyat yang mana? Sedangkan rakyat yang ia bela (sepertinya) tenang-tenang saja, malah beberapa terganggu dengan aksi (seringkali) rusuh mereka.

Sungguh menggelikan buat saya melihat itu semua, membela sesuatu yang masih buram dan melawan sesuatu yang diawang-awang. Memang mengorganisir massa yang memiliki pemahaman utuh atas isu protes memang tidak mudah. Namun bukannya sulit, kita tentu ingat people power di Filipina yang menggulingkan Marcos. Semua diawali dari pembunuhan tokoh oposisi Ninoy Aquino. Tidak kurang dari 2 juta orang memadati manila untuk menggulingkan rezim Marcos. Sebuah gerakan yang berawal dari Empati dan kemuakan terhadap penindasan. Di Indonesia? Bah, pembunuhan Aktifis Munir dan Theuys S Eulay saja dianggap sebagai angin lalu. Malah seolah-olah menjadi berita kriminal biasa. Saya sendiri berpendapat bahwa, ‘hanya saat lapar saja bangsa ini mau berontak, jika kenyang peduli setan dengan pembantaian apapun’. Sekali lagi ini hanya pendapat dan analisis saya.

Semakin lama menjalani hidup sebagai mahasiswa yang bergiat di organisasi, semakin saya menyadari perubahan di sekeliling saya. Demonstrasi dan Aksi Massa yang dulu menjadi sebuah kanal aspirasi yang didukung masyarakat, kini malah semakin dianggap memuakan. Malah seringkali menjadi objek kemarahan dari masyarakat itu sendiri, karena mengganggu kenyamanan. Disini bukan kapasitas saya untuk menghakimi, namun ada baiknya jika sebuah aksi hendaknya didahului oleh serangkaian analisis dan pendidikan terhadap masyarakat dulu. Apa dan mengapa sebuah aksi musti terjadi, sehingga tidak menyebabkan pelaku Aksi (khususnya mahasiswa) menjadi kambing hitam biang kerusuhan.

Saya sendiri sudah berhenti melakukan Demonstrasi paska dicabutnya UU BHP. Beberapa kawan di Jurusan Hukum mengajari saya tentang celah hukum yang bisa dimanfaatkan, untuk melawan kebijakan yang kita anggap salah ayau menciderai kepentingan rakyat. Sehingga kemungkinan berbenturan dijalanan vis a vis dengan aparat keamanan tidak perlu terjadi. Saya sendiri kemudian mengganti pola gerakan perlawanan yang dulu secara frontal berada di jalanan, kemedia kertas dan pena. Menulis dan menulis untuk sebuah perubahan yang saya yakini.

Kembali saya teringat Rosa Parks, saat Ia bergandengan tangan bersama Marthin Luther King Jr dalam "The Great March on Washington". Bersama secara damai menyanyikan ‘we shall overcome’, tanpa tindakan rusuh dan tetap menjaga kewarasan. Lalu bagaimana dengan anda?