Kamis, 21 Oktober 2010

Teruntuk Hari Aksara (yang sudah lewat)


Sejak kemarin saya gatal untuk onlen lagi, sekali lagi untuk onlen, menyatakan keberadaan diri lewat facebook. Kitsch sekali memang, seolah-olah yang namanya eksistensi itu diukur dengan sebanyak apa saya bikin status dalam sehari atau mungkin dalam satu jam. Selain dorongan untuk onlen entah kenapa saya ingin sekali menulis, menulis apa saja, menulis tentang rindu, tentang hidup, tentang wayang, tentang apa saja boleh. Padahal tak lebih dari sebulan ini Arys, Pemimpin Redaksi saya marah tiap hari karena tulisan saya untuk majalah tak juga selesai. Skripsi saya juga hanya diliat dan tak sempat disentuh, untuk yang terakhir saya punya Apologi. Sejak bimbingan terakhir saya memang sakit, entah sakit apa, kepala saya pusing, mual, dan tulang sendi saya sakit. Kata teman itu gejala hamil, lha kok hamil? Kalo saya hamil siapa ibunya?

Kembali ke urusan menulis, saya mau bercerita tentang ketakutan saya beberapa bulan terakhir. Tentang teror psikis yang sebenarnya saya buat sendiri, tentang rasa takut akan masa depan. Tentang hidup yang belum terjadi, rasa takut yang lahir gara-gara pertanyaan sederhana. "Untuk apa saya menulis?". Kiranya saya sudah diajarkan untuk menulis, menulis dan menulislah. siapa tau nanti dari tulisanmu itu bisa mempengaruhi banyak orang dan bermanfaat. Idealnya demikian, namun beberapa kali saya malah sering di kritik dengan pertanyaan elementer tentang "mas, sampean itu nulis apa? kok susah, kok gak nyambung, kok ngawur?" dan kok kok yang lainnya.

Pada suatu masa saat saya masih belum terlalu gemuk dan hitam, ada seseorang yang berkata "menulislah karena kamu ingin, bukan karena orang lain atau bahkan karena gaya-gayaan". Saya lupa siapa yang berkata demikian, atau mungkin memori otak saya secara kolektif mengambil frase kata itu dari buku entah saya lupa. Jika kata-kata tadi boleh dikata sebuah dokrin maka boleh kiranya saya berkata bahwa saya telah didoktrin dengan sangat parah dengan kalimat tersebut. Entah mengapa, menulis dan merayakan keberaksaraan terkesan sangat seksi, sangat intelektual, sangat pintar, sangat Renaissances dan sangat hebat. Tetapi karena pemahaman yang tidak utuh atas kalimat tersebut membuat saya menjadi tersesat dalam kekeliruan pemahaman "Tulis semau kamu".

Boleh jadi itu sesat, karena tulis semau kamu adalah suatu sikap kekanak-kanakan. Menulis semau kita tanpa sebuah dasar dan pemikiran mendalam akan sangat berbahaya. Orang boleh bilang Mein Kampf itu asu karena menarasikan superiortias dan melahirkan fasisme. Toh si empunya menulis buku tersebut dalam keadaan sadar. Atau Manifesto Komunis, saya tidak yakin jika pada akhirnya hantu-hantu komunis tadi ingin melakukan revolusi dengan pembantaian keluarga Tsar secara brutal. Tapi pada akhirnya komunisme di Imani sebagai agama baru.

Pramoedya Ananta Toer adalah sedikit dari beberapa orang yang membuat saya kesengsem dengan dunia tulis menulis.Tetralogi pulau burunya meracuni saya untuk mengidolakan sosok Minke. Melupakan superman, batman dan jiban dalam tataran idola saya selama ini. Minke seolah-olah menjadi messiah yang menuntun saya dalam kesesatan masa. Saya jadi keranjingan membaca, karena dengan begitu stok kata-kata sulit saya bertambah, istilah semakin banyak saya hapal dan makin banyak pengarang yang saya kenal dan saya culik namanya. Jejak Langkah, buku ke tiga dalam Tetralogi Pulau Buru semakin melambungkan daya khayal saya bahwa tulisan adalah instrumen magis yang mampu menggerakan raga dan masyarakat luas. Revolusi dimulai dari sebuah kata sederhana yang dijahit menjadi kalimat dan menyatu dalam sebuah tubuh tulisan!

Selain menjadikan saya nampak pintar, menulis itu eskapis, terapi, wahana dan sekedar sanctuary. ijinkan saya jelaskan sedikit, soal menjadi nampak pintar itu mudah sekali. cukup gunakan metode Name drooper, book drooper, statistik drooper dan drooper drooper yang lainnya. drooper atau nama kerennya "ngutip" adalah sekedar metode sederhana menaikan pamor, wibawa dan esteris tulisan secara banal. mengesankan dan menyeolah-olahkan si empu tulisan itu berwaskita tinggi, dalam ilmu dan bijak bestari. itu jika dilihat dari kaca mata fana, name drooper itu seringkali membuat gerah pembaca. saya tahu itu karena pada awal-awal karir tulis menulis saya (sampe sekarang) kritik atas Name drooper itu yang paling rajin nampang pada permukaan komentar awal tulisan saya. dan saya selalu mempunyai apologi untuk itu, dan saya menolak merubah kebiasaan tersebut. karena itu prinsip, idiologi, agama atau apalah terserah anda menyebut hal tersebut. mengurangi kebiasaan itu boleh saya lakukan, tapi menghilangkan sama sekali? bah! dosa!

Kawan saya pernah bilang itu adalah Anxiety of Influence, kawan lain menyebutnya gegar budaya literasi, yang lainnya genit intelektual. Tapi saya rasa itu tidak fair, menulis adalah sebuah laku tanggung jawab, bukan sekedar kita menyampaikan pemikiran an sich. Buat saya itu seperti menjadi tindakan yang hipokrit. penilaian yang tidak dilakukan atas pengamatan menyeluruh. memang teks saat dilahirkan dari ujung tuts keyboard dan di publish adalah milik khalayak. penulis sudah tidak punya hak lagi dalam mengarahkan pemikiran si pembaca. tapi penulis masih punya hak menjawab dan berbagi pemikiran kan?

Penulis itu layaknya tuhan, itu pendapat saya, sekali ia menerbitkan tulisan ia mempunyai tanggung jawab terhadap keberadaan tulisannya. entah nantinya ia akan mati atau hilang sama sekali, yang jelas apa yang ia tulis jangan sampai menyesatkan atau bahkan menjadi propaganda. Tulisan dimana pikiran kita dituangkan akan selalu ditafsir ulang (bila dibaca). Itu sebuah kodrat hayati, sesuatu yang given. Munafik jika ada seorang penulis yang bilang "ah saya menulis untuk saya sendiri" itu sekedar pembelaan kelas teri yang lebih sampah dari kata-kata Harmoko saat pengarahan di dunia dalam berita. 

Menulis itu sejatinya bekerja untuk pencerahan, memberikan cahaya dalam gelap masa, instrumen kontenplatif, cermin dan meberikan panduan pada mereka yang tak tahu arah. itu saya yakini begitu rupa, sampai-sampai saya ingin dalam setiap hal yang menurut saya salah, saya seperti kerasukan untuk berteriak "hei itu salah!". dan saya mengejawantahkan teriakan itu dalam tulisan. beberapa cenderung menghakimi, fasis, berputar-putar dan sesat. boleh jadi demikian, karena terlalu banyak hal yang ingin saya kemukakan dalam tulisan. sebuah bangunan analisis yang terdiri dari kutipan pemikiran tokoh ini dan itu. bukan karena saya tidak punya pendapat pribadi. Tap lebih sebagai bentuk tau diri untuk tidak bersikap semaunya, berkata semaunya, dan sok tau.

Benar adanya jika beberapa dari kalian mencurigai awal karir penulisan saya itu adalah suatu bentuk riya' saya mengakui hal itu. Malah sampai sekarang juga masih, sedikit banyak berkurang. ibarat nasi goreng, makin lama panasnya akan habis dan nasi akan kurang renyah dimakan. mungkin saya sudah sampai pada titik jenuh dimana saya merasa sia sia dalam bertindak. Apakah saya sudah benar memutuskan untuk menulis? apakah pengetahuan yang saya bagi bermanfaat? dan detik-detik yang berlalu dalam proses pembentukan penulisan ini sepadan? is it worth it?


*hari Aksara 10 Oktober

Tidak ada komentar:

Posting Komentar