Minggu, 26 Desember 2010

Elegi Duka


saya dan bendoro Gus Uyan, pengamat musik terbaik abad ini

untuk nuran


aku akan mengajarimu cara menangis yang profetik dan gilang gemilang
disela-sela sibuk waktu konsermu yang riuh itu
tentang cara sedu sedan yang baik dan benar
sesuai primbon dan eyd yang disahkan mentri pendidikan
lalu kau bisa tampil kece dengan dandanan syahdu di ulang tahun kematian orang orang

Kamis, 23 Desember 2010

Disela Malam Sebelum Natal

Untuk Fransisca


ada sisa pelangi dimatamu Chi,
yang tak bosan kupandangi meski usang
yang pada malam harinya berubah jadi tokek warna merah muda
berderet-deret bersuara nyaring,
pada dentang sunyi malam yang kedua belas

Paginya kita bertemu lagi Chi,
lewat embun, kokok ayam dan rintihan pulang vampir-vampir jompo
lewat jalan lapang disebelah rumah, lalu hilang di ujung subuh
dan menyesap sisa jejak yang disergap angin gunung

aku menatap matamu Chi
yang redup, sunyi dan bening serupa kaca-kaca
bersembunyi dibalik ramai pasar tawa beruk kota

aku ingin kita berjalan Chi, bergandeng lengan,
agar nampak mesra sekali seperti sedang jatuh cinta
agar tak gegas lenyap seperti uap
karena waktu selalu khianat pada bahagia

aku masih tak bosan memandang matamu Chi
yang di dalamnya ada bintang kecil, sungai susu dan labirin gula-gula
yang meski sudah bangkrut, tapi sesak dengan kenangan-kenangan
jangan kau berkedip, menutup matamu yang indah itu Chi
nanti sungai itu tumpah, bintang itu hilang dan labirin itu rusak
(diam-diam menyeka mata air yang lupa menetes)

ayo kita pulang Chi
Membangun rumah dari serak-serak rindu
Lalu disekat dengan awan dan hutan


Jember
20:19
23/12/2010

Rabu, 22 Desember 2010

Apologi Anak Badung pada Sebuah Hari Ibu


Mungkin Mak, saya masih belum bisa khatam Qur'an seperti yang Mak inginkan selalu. Masih belum bisa Duha dan Tahajud seperti yang Mak inginkan. Tapi yakinlah Mak, saya hanya meyakini satu tuhan dan satu nabi penutup seperti yang Mak selalu yakini.

Mungkin Mak, saya masih belum bertingkah santun dan berkata sopan seperti yang Mak selalu tekankan. Masih belum bisa beradab seperti yang Mak selalu lakukan. Tapi yakinlah Mak, aku hanya berlaku demikian untuk jadi diri sendiri, seperti yang Mak selalu isyaratkan.

Mungkin Mak, saya masih belum punya istri solehah berkerudung rapat seperti yang Mak selalu sindirkan. Masih belum bisa mencari istri untuk diajak membangun keluarga sakinah sesuai citra Ali dan Fatimah. Tapi yakinlah Mak, bahwa kelak, siapapun yang saya nikahi, akan menjaga tiang agama dan mencintai Mak seperti saya.

Mungkin Mak, saya masih belum lulus dari kuliah seperti yang Mak selalu tanyakan. Masih belum bisa memberikan gelar Sarjana yang Mak idamkan. Tapi yakinlah Mak, saya selalu mencari ilmu dengan segala kerendahan hati dan kerakusan yang profetik, seperti yang selalu Mak tanamkan.

Mungkin Mak, saya masih belum bisa memberikan bantuan hepeng agar Mak bisa naik haji. Masih belum bisa memberi tabungan seperti yang Mak selalu inginkan dalam Doa-Doa malam. Tapi yakinlah Mak, saya selalu bertaruh pada nasib dan diri sendiri. Kelak saat semua manusia berpaling pada uang, sayalah yang akan mendoakan Mak lebih keras dari riuh sepertiga malam terakhir.

Mungkin Mak, saya masih belum bisa sholat dengan taat. Masih belum bisa bersujud dengan segala khidmat dan keikhlasan seperti yang selalu Mak lakukan dalam 5 wajib dan 2 sunah sehari. Tapi yakinlah Mak, bahwa meski nanti leher ditebas, tubuh dinista, dan hidup dihina. Kalimatullah Syahadat tak akan lepas tertukar dewa-dewa digital.

Mungkin Mak, saya masih belum menjadi seorang Amtenaar seperti yang selalu Mak tawarkan. Masih belum bisa mengabdi pada tumpah darah negara ini seperti yang Mak contohkan pada Kakek. Tapi yakinlah Mak, saya selalu mencintai negeri ini, Indonesia, dengan cara yang mungkin belum bisa Mak pahami.

Mungkin Mak, saya masih belum bisa berhenti membaca komik seperti yang Mak selalu cemburukan. Masih belum bisa singgah dari derap-derap boks dialog dan gambar dalam komik. Tapi yakinlah Mak, saya selalu berpijak pada setiap realitas dan kejujuran yang Mak katakan.

Mungkin Mak, saya masih belum saya masih belum mau dewasa seperti yang Mak selalu ingatkan. Masih belum bisa bertanggung jawab pada diri sendiri dan orang lain seperti yang Mak contohkan tiap saat. Tapi yakinlah Mak, saya tidak akan membuat orang lain disusahkan dengan ulah saya, seperti yang Mak selalu ingatkan.

Mungkin Mak, saya masih belum mau pulang dan meneruskan usaha kerupuk seperti yang Mak selalu bisikan. Masih belum bisa membesarkan usaha yang Mak bangun dari kerak keringat dan jelaga air mata. Tapi yakinlah Mak, di sisa umur Mak yang ada tak akan saya birakan Mak menangis dan berkeringat lagi demi saya. Mak menangis dan berkeringatlah untuk Akherat Mak yang Firdaus itu.

Mungkin Mak, saya masih belum bisa melupakan buku-buku dan syair-syair puisi yang Mak benci ini. Masih belum bisa lepas dari labirin mimpi dan kasur imaji yang nyaman. Tapi yakinlah Mak, saya akan selalu ingat masa-masa keras dimana setiap pagi Mak bangun pagi untuk mengolah adonan kerupuk dan menggorengnya ditengah terik siang paling keji. Saat saya bangun nanti, hanya Mak yang menikmati sisa hari.

Mungkin Mak, saya masih belum tau mana yang baik dan mana yang benar seperti yang Mak selalu nasihatkan. Masih belum bisa adil membagi cinta pada Bapak, masih belum bisa menahan amarah pada Bapak. Tapi yakinlah Mak, saya menghormati Bapak dengan cara yang tersembunyi, dengan cara yang tak perlu dunia tahu.

Mungkin Mak, saya masih belum tahu dimana kelak saya akan berlabuh seperti yang Mak selalu khawatrikan. Masih belum bisa menghilangkan keraguan dan kebimbangan yang Mak selalu coba hilangkan. Tapi yakinlah Mak, saya kelak akan membuat semua orang mengenal Dhani anak Emak yang baik. Mungkin tidak kaya, mungkin tidak pintar, mungkin bukan jadi pejabat, tapi dalam nadi seorang Dhani tak ada tetes nanah yang membuatmu akan malu Mak.
Maka dengan ini Mak, saya berjanji, hanya untuk Mak seorang. Saya akan menjadi orang bermanfaat seperti yang Mak selalu harapkan.


*untuk Semua Ibu paling juara di Jagat Raya

Senin, 20 Desember 2010

Hari Ini (seperti) Lima Tahun yang Lalu

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, hujan masih tetap basah dan terik matahari pukul 12 siang tetap berjelaga jalang. Saya berdiri disebuah tugu bertuliskan Universitas Jember. Sebuah prasasti banal bentuk identitas kedirian Lembaga. Entah apa artinya, namun yang jelas ia berdiri gagah menyambut segenap civitas akademika baik muda maupun purna.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, rumput depan gedung rektorat masih hijau dan air masih sering mampet di masjid Kampus. Menyisiri Boulevard Unej ditengah siang panas adalah tindakan bodoh. Namun seperti usang usia almamater ini, kerinduan akan menyusuri jalan-jalan kampus tak kuasa menahan diri untuk diam dan tidur siang. Sebuah kerinduan yang komplementer dengan rentang waktu kuliah yang tak kunjung usai.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, Tukang Parkir Rektorat tersenyum ramah dan Satpam rektorat garang dengan dada membusung. Seperti biasa jika saya lupa memakai sepatu, satpam depan gedung akan berlagak kuasa dan membentak pedas. Padahal saya yakin, berapa hasil dua kali duaratus dua belas ia tak paham. Tapi apaboleh buat, seperti biasa saya hanya diam. Percuma melawan kebebalan tukang pukul yang digaji atas otot bukan otaknya.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, Fakultas Ekonomi masih saja ranum menggoda dan Fakultas Tehnik gagah perkasa. Saya menghindari panas yang mulai keparat ini dan duduk cangkrukan di fakultas ekonomi. Fakultas surga yang mahal. Semua berlabel harga mulai dari otak, paras, tubuh dan tempat duduknya. Tidak ada yang gratis, bahkan sepotong senyum bisa menjadi komoditas. Saya hanya numpang lewat dan berteduh. Mungkin hanya udara dan jalan yang belum dilabeli harga.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, kafe-kafe masih saja ramai pengunjing dan UKM-UKM sepi berhantu. Saya memutuskan lanjut berjalan kebelakang fakultas Ekonomi. Menuju riuh dan teduhnya Fakultas Sastra yang ramah. Dimana dulu saya ingat sebagai sebuah ranjang ekstasi kreasi seni kampus ini. Berpuisi, berkelindan dengan teater atau sekedar ajang orasi. Tapi entah kenapa ranjang ini mulai keras dan tidak nyaman digunakan. Lelaki tampan dan wanita rupawan mulai menjamah populasi seniman yang dulunya berontak nyaman. Ada sebuah reruntuhan paham disini, saya tidak bisa lagi mengenali penghuni sastra macam Gie, macam Rendra atau macam Chairil. Semuanya terpoles, bergincu dan artificial. Sastra telah menjadi Etalase dan catwalk. Saya terasing.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, saya masih belum paham tuts Blackberry dan percaya Apple Mac hanya mitos kaum urban. Saya memutuskan untuk lanjut bergerak menuju warung Mak No dibelakang kampus Sastra. Disebuah jalan ironis bernama jalan jawa VII. Dekat kampus namun masih ada yang buta huruf. Alienasi atas akses pendidikan boleh jadi kambing hitam, tapi kemana mahasiswa pengabdi dan pendobrak itu? Dalam warung Saya tidak sendiri, mungkin ada 4 orang lainnya. Sangat muda, bersemangat dan penuh energi. Namun tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Gadget telah merengut kesadaran manusia, melempar mereka kedalam monolog paling purba. Egosentrisme teknologi. Dunia terasa jauh lebih baik saat apel dan blackberry adalah buah.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, angin masih saja kejam pada mereka yang ringkih dan mendung menolak datang pada puncak gersang. Saya tak mau menjadi patung di warung Mak No, menjadi yang liyan karena tak bisa memiliki gadget mahal seharga kuliah saya 10 smeseter. hari mulai sore dan senja mulai turun malu-malu. saya berjalan ke barat. Menuju keremangan fakultas saya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. saya masuk dari tembok besar yang menyangga gedung tersebut. Dulu ada pintu kecil, tapi kini sudah tidak ada. harus hilang atas nama estetika. Padahal pintu itu sudah dilewati 10 angkatan FISIP, yang mungkin salah satunya sudah menjadi orang besar. Tapi sekali lagi, apalah arti sebuah pintu dihadapan kebijakan dan peraturan.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, Bu Lek masih tetap cerewet didengar dan kopi pahit hitam itu masih nikmat disesap. Kampus saya sudah semakin dewasa, sudah mulai berbenah. ada kelas internasional, sudah ada kelas ber AC, setiap kelas memiliki proyektor, dan sebuah lapangan basket kini mewujud gagah. Kampus saya semakin tampan, kini setiap mahasiswa boleh membawa mobil dan motor karena parkiran terhampar luas. mahasiswa boleh mengakses internet gratis, dengan laptop tentunya. Tetapi saya masih merindukan masa lalu, duduk diwarung kumuh berdiskusi tentang kuliah sampai malam, berjibaku dengan wacana di lorong kelas dan sibuk mempersiapkan bacaan untuk tugas yang menggunung. saya mungkin adalah artefak masa lalu, manusia yang gagal berdamai dengan romantisme.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, buku-buku Camus masih diperpustakaan tetap berdebu dan antrian pusat komik masih melingkar panjang. Saya lelah dihajar kenangan, mungkin ini waktu yang tepat untuk pulang. Memikirkan ulang arah hidup, berdiksusi dengan masa depan, dan berdamai dengan ego. Bukankah kemenangan diri adalag saat kau meruntuhkan ego demi sebuah kedewasaan? Merayakan kedirian dengan jalan yang paling bijak. Saya sendiri menyusuri jalan FISIP lalu ke perpustakaan yang masih mesra menunggu saya untuk seperti dulu berkutat lama dalam kemesraan yang genit. Mencanda buku-buku tandon yang tak pernah dibuka sejak dibeli, atau sekedar mencumbui sajak-sajak Dante yang tak terbaca. Ia masih disana, berdiri mesra sementara langit sudah tergelincir gelap. Malam sudah tiba dan saya belum dewasa.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, tuts hitam keyboard Tegalboto masih luntur dan monitor usang hasil hibah masih menyalak terang. Dan inilah saya, mengingat momen saat menjadi bagian dari ribuan mahasiswa baru yang berbaris memasuki ruang kuliah dengan semangat belajar menggebu. Namun akhirnya harus kecewa dipecundangi cita-cita. Adakah yang salah? Mungkin buku dan diskusi yang dusta atau boleh jadi nasib tertukar kejam. Saya masih belum mau menyerah dengan keadaan. setidaknya tidak sekarang dan tidak disini. Tidak dihadapan Tegalboto dan almamater saya. Tidak saat say masih tegak berdiri dan belum runtuh dihantam umur. Menyerah pada keadaan adalah keterpecundangan!

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, bulan masih separuh matang di awal minggu dan saya masih sendiri. Bukan sekedar sentimental belaka, ini sekedar share. Saya sudah berada diambang studi yang mereka sebut dengan wisuda. Dan sedang berjuang melawan dilema transisi. Entah ini post power syndrome atau sekedar haus perhatian belaka. Namun kesepian-kesepian paska kesibukan memang pengkhianat paling mutakhir yang bisa diciptakan nalar.

Kalau Saja Saya

Jadi andaikata seperti ini, memang benar saya ini megalomaniak, besar mulut dan banyak omong. Ya mbok sekali-kali jangan diam tapi bilang, kalo saya ini adalah seorang keparat. Tak perlu jadi Nero kan untuk membakar Roma? Kira kira begitu. Jangan tunggu saya menghancurkan diri untuk kemudian diberitahu. Ya namanya manusia, kalo salah sekali duakali dibiarkan. Tapi kalo terus terusan salah kalian biarkan, ya kalian juga keparat.

Saya toh mengakui kalo misalnya saya ini sekedar penjiplak, mungkin, seringkali malah menolak jujur pada diri sendiri. Tapi bukankah Plato hanya mengutip Dialog bersama Socrates? Bukan, kalau anda pikir saya menyamakan diri, ya itu namanya naif. Apalah saya didepan mahaguru Filsafat Aristoteles itu. Saya masih belum memiliki nyali seperti Zizek yang secara acak adut meruntuhkan semua norma. Ya saya sekedar Dhani, itu yang anak Kesejahteraan Sosial 2005 yang sampai taun 2010 belum juga lulus.

Ini sekedar andai dan semua yang andai itu tak perlu biaya. Gratis, bebas dan mudah. Andai saya tidak jadi saya sekarang ya mungkin saya tidak kenal kalian dan tidak akan menulis seperti ini. Ya mungkin saya akan jauh lebih baik-baik saja, lebih kurus, dan lebih laku. Ini masih dalam konteks andai, bukankah andai itu bebas untuk sekedar konstruksi? Bebas dari segala macam hukum, mau hukumnya Newton, Hawkin ataulah Einstein. Apalagi hukumnya Muhammad, Sidharta atawa Musa. Bebas sebebasnya Nurdin jadi Ketua PSSI.

Anggap saja seperti ini, saya yang kebetulan namanya pasaran, Arman Dhani Bustomi. Pada tahun 2007 gak ikut-ikutan ababil masuk Lembaga Pers Mahasiswa yang so called organisasi perjuangan. Mungkin saat ini saya sudah bekerja disalah satu perusahaan multi nasional di nusantara. Sudah punya pacar anak Ekonomi yang cakep, bohai, seksi dan setengah berkerudung. Kemana-mana naek Yamaha Vixion dan Honda Tiger minimal naek motor modifan seharga kuliah saya selama 10 tahun. Saya akan nampak keren, dalam definisi anak muda, pakaian kantor, IPhone dan Gadget lainnya.

Saya gak paham dengan konsumerisme dan saya gak paham dengan outsourcing. Dua kata itu asing, wong tiap hari saya musti kerja keras untuk memenuhi setorang, target penjualan dan bonus akhir tahun. Saya adalah apa yang saya jual sebulan ini. Anggap saja demikian. Seandainya saya tidak masuk ke organisasi ABABIL macam Tegalboto, pasti saat ini saya sudah tidak perawan. Buat apa? Wong gak terlalu penting, representasi banal atas norma sudah saya injak dalam-dalam atas nama kelelakian dan kejantanan. Ya, saya jantan karena sudah tidak perjaka. Bahwa saya akan menderet-deretkan nama gadis A, cewek B, Tante C dan sebagainya. Karena saya pejantan tangguh yang luar biasa.

Anggap saja begini, atas konsekwensi memiliki Vixion, IPhone dan Pacar Cantik saya masuk dalam nominasi manusia unggulan versi diskotek, distro dan disana sini. Wong punya duit, punya kuasa dan meski agak dipaksa punya tampang setara Primus Yustisio. Jadi abdi dunia gaul, penegak budaya massa dan avant garde mode. Saya akan asing pada Efek Rumah Kaca apalagi Pure Saturday. Hidup saya penuh dengan Armada, ST 12, Drive dan yang paling penting Radja. Apalagi yang lebih indah daripada suara lengking ian kasela dengan dadam dadadam nya?

Sekali lagi saya adalah manusia pilihan, jauh dari kesusahan apalagi hiruk pikuk pergerakan. Apapula pergerakan itu? Taik kucing macam apa? Apalah arti sebuah ikatan komunal didepan raksasa korporasi milyaran dolar? Di depan Sukhoi dan M16? Membusuk diludahi peluru atas ide absurd bernama idealisme? Bah! amit-amit cabang bayi, semoga semua keturunan saya dijauhkan dari yang namanya pemikiran kiri dan ketersesatan wacana!

Kalau pun kemudian saya memutuskan untuk jadi abdi negara itu pun sebuah pilihan investasi yang benar. Sedikit membayar pada apa yang anda sekalian sebut sebagai cukong, calo atau makelar. Amtenaar bung amtenaar! apa yang lebih gagah daripada menggunakan seragam dan merayakan upacara setiap hari senin? tidak ada bung tidak ada. Y mungkin yang lebih gagah adalah saat kita berdiri tegak mengantri gaji ke 13. itu saja.

Coba saja saat tergelincir dalam jurang nista pers mahasiswa saya lekas-lekas keluar dan bertobat, ya tidak perlu saya dikakangi beban moril idealisme. Sungguh setan dan sial sekali mereka yang kemudian sedikit banyak diberakin ide ini? Mewujudkan tatanan dunia yang sempurna, tanpa cela dan konsisten? Berak macam apa ini yang tidak mau dibasuh? Menyusahkan saya saja, ini jikalau kemudian saya menjadi Amtenaar, bakal menjadi semacam rem untuk saya menerima salam tempel dan sedekah tanpa syarat. Ya namanya manusia, masa pemberian ditolak? kan haram. Idealisme itu sungguh setan sekali, makanya saya setuju pada Machiavelli.

Anggap saja kemudian sekarang saya menyesal, lalu kabur, dan menyerah. Ya gak masalah, Ini Indonesia bukan amerika. kalo menyerah dan pasrah itu kodrat, bukan mental kita untuk berjuang. 350 tahun dijajah, mereka yang melawan toh didikan barat. Kita ini abdi, budak, dan inlander. gak usah sok-sokan jadi pejuang dan melawan. nanti lucu. semacam komedi tapi tidak komikal hanya ironis.

Tapi kalau kemudian anda mengamini, ya konyol, ini hanya gumam. Dan mereka yang meyakini gumam, sepertinya akan selalu tersesat arah.

Senin, 13 Desember 2010

Tentang Ning yang Ku Tahu


Dalam hidup saya meyakini tidak ada cewek seperti ranger pink. Jago silat, pinter dan cakep. Tapi tuhan selalu punya lelucon yang tidak selesai. Ia menciptakan Riskaning “Suning” Dianti. Ibarat mobil, Suning itu Humvee, eksotis tapi besar. Dan ini kisah tentang dia.

Halaman parkir gedung Sutarjo penuh sesak dengan orang. Kedua pintu di sisi sebelah selatan gedung itu dibanjiri oleh orang. Para pemuda-pemudi yang memakai baju toga itu berdesakan dengan berbagai macam orang. Ada yang membawa orang tuanya, kekasihnya, ada pula yang diseret oleh tukang foto wisuda. Disekeliling halaman parkir itu muncul lapak-lapak foto dadakan yang dibangun seadanya. Sebagian besar para pelaku wisuda disana tersenyum lepas, beberapa bingung dengan ponsel menempel di pipi. Di tengah lapangan ada dua lajur karpet yang dijejer melintang, diatasnya terdapat foto para pelaku wisuda yang dipotret pagi sebelumnya. Matahari terik bersinar tepat diatas ubun-ubun. Suasana riuh ramai karena suara tukang foto berpadu dengan teriakan keceriaan para pelaku wisuda. Universitas jember saat itu sedang melaksanakan upacara Wisuda periode Ke dua untuk tahun 2010.

Tulilit tulilit. Ponsel saya berbunyi. Sebuah sms, “beh kamu dimana? Aku disebelah timur deket kursi, lagi duduk capek” bunyi sms itu. Saya bergegas melaju kearah utara, lalu menuju pintu sebelah kanan dari lapangan parkir Gedung Sutarjo itu. Saya celingak-celinguk, keluar-masuk, tapi wajah orang yang saya cari tak kunjung muncul. Saya mengeluarkan ponsel saya, lalu mencoba telepon. Tetapi kemudian tenoot, lowbat, kemudian mati. “juancuk” seru saya. Selalu saja mati di waktu yang tak tepat.

Sehari sebelumnya..

Sudah dua hari saya sakit perut, maagh yang selalu kumat kalau saya nekat gak makan seharian. Beberapa hari terakhir saya sedang berambisi menyelesaikan game Final Fantasy XII, game real playing game besutan SquareEnix. Dan berakibat berkurangnya porsi makan. Walhasil Saya sedang meringkuk diatas kasur memegang perut, saat 7610 saya berbunyi. Sama seperti hari sebelumnya Ning menghubungi saya via sms, kali ini pukul 10 malam. Mengingatkan bahwa besok dia mau Yudisium. Saya wajib hadir, dia pengen ngerasain difoto pake “kamera bagus”, maksudnya Nikon D90 saya. Kasian, memang dia kaum duafa yang fakir jepret. Padahal saya sudah berulang kali bilang, kalo motret dia itu merusak komposisi, selalu gak seimbang, dan butuh lensa yang Wide. Tapi tetep saja ngotot, Ya sudah apa boleh buat demi kecintaan saya pada kelestarian ragam fauna indonesia, saya rela memotret dia bersama kawanan-nya

Ning adalah representasi nyata dari Jaiko. Adik giant yang tembem dan ginuk-ginuk. Ia adalah gadis yang menyenangkan, murah senyum dan seperti memiliki stok positive attitude dua ton. Saya jarang melihat ia muram atau marah, mungkin hanya 3 kali saya melihat ia begitu. Saat pertama kali bertemu di kampus FISIP, saat pertama kali kerja sama dalam tim dan saat ia dipaksa wisuda secara prematur. Sikap itulah yang barangkali membuat saya jatuh cinta sampe mati dengan gadis ini. She is natural born adorable girl.

Detik itu juga saya dikejutkan dengan fakta bahwa dalam 2 hari Suning akan lulus. Akan keluar dari kepompong perkuliahan almamater Universitas Jember. Dan berjibaku dengan banyak orang untuk melepaskan status sebagai pengangguran terdidik. Namun bukan tentang pengangguran yang saya pikirkan, tetapi fakta bahwa dia akan lulus dan meninggalkan saya. Apa yang lebih buruk dari perpisahan?

Ning adalah pelangi. Dia memiliki banyak hal yang akan membuat anda kagum, kesal, iri dan mencintainya tanpa syarat. Pada satu sisi ia adalah pribadi yang disiplin, taktis, konsisten dan ulet. Namun disisi lain dia adalah pribadi ceroboh, panikan, dan mudah marah. Segala macam perasaan itu bertemu, bertumbuk dan membentuk ekstasi tersendiri. Ya seperti perasaan anda bertemu dengan senja yang dilihat sesaat. Menyilaukan, sempit dan buang-buang tenaga.

Ning adalah langit yang memudar saat mendung. Mundur ke masa-masa 4 tahun lalu saat kami berkenalan secara formal, pada awal masuk UKPKM Tegalboto. Sebuah Unit Kegiatan Pers tingkat Universitas Di Jember, meski pada akhirnya saya baru menyadari kalau sekret organisasi itu lebih mirip sarang penyamun gagal daripada markas kaum intelektuil. Saat itu saya mengenal Ning sebagai sosok pemalu, yang selalu bersembunyi dibalik sahabatnya Widya (Idz). Ia lebih banyak diam, berbisik pada Idz, dan sedikit sekali berinteraksi dengan anggota kelompok yang lain. Awalnya saya kira dia menderita gangguang mulut sehingga susah ngomong atau memang dia seorang pendiam (dan suatu saat saya mengutuk pemikiran saya ini). Entahlah, yang jelas saat itu saya tidak memperhatikan Ning, saat itu Ning hanya sekedar figuran karena tokoh utamanya adalah Idz.

Ning adalah seorang sahabat yang pekat. Sementara Idz adalah seorang gadis manis berhidung tidak mancung. Sangat menarik perhatian lelaki Jablay macam saya. Saya lebih memandang Idz saat itu dan melupakan keberadaan Ning. Malah saat itu saya pikir ia hanya pengganggu saja. Karena dimana ada Idz selalu ada Ning. Namun ekspektasi saya mengenai Ning hancur berantakan saat kami bekerja dalam tim untuk pertama kalinya. Penggarapan sebuah Buletin. Ning adalah salah satu orang yang ikut berperan didalamnya. Ia tidak sukses menulis, namun saya melihat kesungguhan kerja keras dari matanya. Matanya adalah api. Jika anda pernah membaca Musashi karya Eiji Yoshikawa. Maka Ning adalah penganut Bushido yang paling taat. Ia gagal dalam proyek buletin pertama kami, namun ia sukses menyindir ego saya lewat kerja kerasnya yang teramat sangat.

Ning adalah sepasang mata yang menelanjangi. Kami jadi sering bertemu sejalan karir yang terus menjulang pada UKM tersebut. Yah, biasa sebagai pria berbakat, rendah hati, sedikit tampan dan cerdas macam saya. Diklat dasar magang saat itu cuma sekedar sarapan (padahal berat koyok asu, sumpah pada Rafli dan Dyah semoga mereka sukses!). Hampir setiap sore kami bertemu, mulai bertukar sapa, mulai banyak berbincang, dan mengenal satu sama lain. Sungguh momen syahdu yang mungkin sangat saya rindukan suasananya. Perlahan tapi pasti saya mulai mengenal Ning dan Ning sudah tau segala sifat saya dalam sekali lihat. Bahwa saya adalah seorang “megalomaniak pembual yang gak tau diri”.

Ning adalah seorang seniman. Saya yakin itu, karena dalam setiap karya yang ia buat. Ia tidak pernah setengah-setengah. Selalu total dan bertanggungjawab. Maka bukanlah sebuah kejutan jika ia pada tahun 2008 lalu memenangi kompetisi desain poster KPK yang diadakan di Jember. Ia tidak memenangi 1 tetapi 2 gelar sekaligus. Sebagai Juara 3 dan juara Favorit lomba poster KPK. Saya ingat sekali, sehari setelah pengumuman yang juga bertepatan dengan Ulang Tahun saya dan Mas Widi. Ia mentraktir saya Pizza Hut. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan karena saya sebelumnya belum pernah menimatir 'Roti Umbel" tersebut. poor me

Ning adalah seorang Jenderal bintang Lima. Jika anda pernah mendengar Student Journalistic Festival, sebuah ajang pertemuan pers siswa SMA sekarisidenan besuki. Maka anda harus pula mengenal Ning. karena dia adalah seorang mastermind yang menggerakan kami awak tegalboto untuk bekerja keras demi mensukseskan acara itu. Ning adalah seorang motivator yang unik, dia selalu mendorong saya dan teman-teman untuk berusaha lebih keras dengan mengucapkan kata-kata sarkastik, sindiran dan ejekan maut. Namun itu semua tak ada apa-apanya dibandingkan dengan lirikan maut yang ia lakukan kalau sedang sangat kesal. sebagai imajenasi, taukah anda karakter Dolores Umbridge dalam Harry Potter seri ke 5? Bayangkan wajah sangar menyebalkan itu sedang melirik dengan perasaan dua kali lebih menyebalkan daripada sifat Ebenezer Scrooge dalam kisah Christmas Carol Charles Dickens. Well, buat saya lebih baik dirajam dan disuruh makan ban lebih baik daripada menerima tatapan mata sinis itu.

Ning adalah sebuah paradoks. Bekerja dengannya sama dengan bekerja dengan Yahudi ditambah efisiensi orang Jepang dan kejamnya Margaret Tatcher. Ia seroang biadab yang tidak mengenal apologi, jika anda sudah menyanggupi, maka anda harus bekerja sangat-sangat-sangat keras untuk memenuhi ekspektasi seorang Ning. Dan siapkan mental anda untuk dihina begitu rupa jika gagal, namun jangan harapkan pujian. Karena sebuah komitmen tanggung jawab buatnya adalah keharusan.

Ning lahir 23 Juli 23 tahun yang lalu di Bondowoso. Ironis memang, ia lahir di kota yang sama dengan saya. Namun memiliki perilaku dan perangai yang berbeda 180*. Dalam hidup, saya tidak pernah digampar dan dipermalukan oleh perempuan. Meski saya malu-maluin. saya selalu bersikap sangat cool dan bergaya penuh kelas. Namun dihadapan seorang ning, semua representasi saya tadi dihancurkan berkeping keping. Malah Ning memiliki a very famous Quotes about me. "lontong diketok-ketok, dadi wong kok ngomong tok" tambahkan sedikit tamparan di muka. Well, saya rela menjadi Ignacio dalam Nacho Libres. rela Lillahitallah gak pake spandex dan pake cawet saja. rasanya itu lebih mulia daripada di hina gadis ini. and truth is bitter right?

Ning adalah sebuah harapan yang tak usai. Salah satu hal yang mungkin layak mendapat predikat buruk dari seorang Ning adalah sikap ceroboh dan panikannya. Ning adalah seorang paranoia nomor satu jika melihat perencanannya mengalami gangguan. ia bisa menjadi sangat annoying dan histeris jika hal yang diharapkannya tidak sesuai rencana. Walhasil kita semua yang berada didekatnya merasakan dampak tersebut. Mulai dari ikutan panik, marah dan gemas. Bakat buruk lainnya adalah ning suka menjatuhkan suatu barang tanpa sebab. Ini adalah bakat buruk yang sering membuatnya berurusan dengan kerusakan barang. mungkin itu saja kelemahan Ning. dan jika anda sekalian pikir pantat besar Ning adalah kekurangan, maka terkutuklah kalian dalam lubang neraka paling jahannam. Pantat itu adalah sumber inspirasi dunia, jika Da Vinci dan Monet masih hidup. Mereka akan menjadikan pantat Ning sebagai sebuah magnum opus!

Adalah saya, Dinda, Talitha, Idz, Mas Widi, mas Dedy, dan mas Kresna adalah serangkaian korban kangen yang dilukai Ning. Ia begitu tega lulus dan meninggalkan kami. Tapi meminjam lagu buruk bagus dari Cinderella, Coming Home, 'I see the fire in your eyes, but a Woman's gotta make her way'. Ning adalah seorang wanita dewasa yang tau akan masa depannya. She is Rockstar. Dia akan memenuhi mimpinya untuk keliling indonesia, menjadi Bupati Gresik, dan Melayout Ulang tampilan lembaga sensor film sebelum sebuah film di putar dibioskop.Dia selalu mempunyai sejuta cara untuk berkarya, sejuta cara untuk mendorong sahabatnya, sejuta cara untuk selalu ceria. dan Ning is my alltime hero. kalo anda?