Rabu, 22 Desember 2010

Apologi Anak Badung pada Sebuah Hari Ibu


Mungkin Mak, saya masih belum bisa khatam Qur'an seperti yang Mak inginkan selalu. Masih belum bisa Duha dan Tahajud seperti yang Mak inginkan. Tapi yakinlah Mak, saya hanya meyakini satu tuhan dan satu nabi penutup seperti yang Mak selalu yakini.

Mungkin Mak, saya masih belum bertingkah santun dan berkata sopan seperti yang Mak selalu tekankan. Masih belum bisa beradab seperti yang Mak selalu lakukan. Tapi yakinlah Mak, aku hanya berlaku demikian untuk jadi diri sendiri, seperti yang Mak selalu isyaratkan.

Mungkin Mak, saya masih belum punya istri solehah berkerudung rapat seperti yang Mak selalu sindirkan. Masih belum bisa mencari istri untuk diajak membangun keluarga sakinah sesuai citra Ali dan Fatimah. Tapi yakinlah Mak, bahwa kelak, siapapun yang saya nikahi, akan menjaga tiang agama dan mencintai Mak seperti saya.

Mungkin Mak, saya masih belum lulus dari kuliah seperti yang Mak selalu tanyakan. Masih belum bisa memberikan gelar Sarjana yang Mak idamkan. Tapi yakinlah Mak, saya selalu mencari ilmu dengan segala kerendahan hati dan kerakusan yang profetik, seperti yang selalu Mak tanamkan.

Mungkin Mak, saya masih belum bisa memberikan bantuan hepeng agar Mak bisa naik haji. Masih belum bisa memberi tabungan seperti yang Mak selalu inginkan dalam Doa-Doa malam. Tapi yakinlah Mak, saya selalu bertaruh pada nasib dan diri sendiri. Kelak saat semua manusia berpaling pada uang, sayalah yang akan mendoakan Mak lebih keras dari riuh sepertiga malam terakhir.

Mungkin Mak, saya masih belum bisa sholat dengan taat. Masih belum bisa bersujud dengan segala khidmat dan keikhlasan seperti yang selalu Mak lakukan dalam 5 wajib dan 2 sunah sehari. Tapi yakinlah Mak, bahwa meski nanti leher ditebas, tubuh dinista, dan hidup dihina. Kalimatullah Syahadat tak akan lepas tertukar dewa-dewa digital.

Mungkin Mak, saya masih belum menjadi seorang Amtenaar seperti yang selalu Mak tawarkan. Masih belum bisa mengabdi pada tumpah darah negara ini seperti yang Mak contohkan pada Kakek. Tapi yakinlah Mak, saya selalu mencintai negeri ini, Indonesia, dengan cara yang mungkin belum bisa Mak pahami.

Mungkin Mak, saya masih belum bisa berhenti membaca komik seperti yang Mak selalu cemburukan. Masih belum bisa singgah dari derap-derap boks dialog dan gambar dalam komik. Tapi yakinlah Mak, saya selalu berpijak pada setiap realitas dan kejujuran yang Mak katakan.

Mungkin Mak, saya masih belum saya masih belum mau dewasa seperti yang Mak selalu ingatkan. Masih belum bisa bertanggung jawab pada diri sendiri dan orang lain seperti yang Mak contohkan tiap saat. Tapi yakinlah Mak, saya tidak akan membuat orang lain disusahkan dengan ulah saya, seperti yang Mak selalu ingatkan.

Mungkin Mak, saya masih belum mau pulang dan meneruskan usaha kerupuk seperti yang Mak selalu bisikan. Masih belum bisa membesarkan usaha yang Mak bangun dari kerak keringat dan jelaga air mata. Tapi yakinlah Mak, di sisa umur Mak yang ada tak akan saya birakan Mak menangis dan berkeringat lagi demi saya. Mak menangis dan berkeringatlah untuk Akherat Mak yang Firdaus itu.

Mungkin Mak, saya masih belum bisa melupakan buku-buku dan syair-syair puisi yang Mak benci ini. Masih belum bisa lepas dari labirin mimpi dan kasur imaji yang nyaman. Tapi yakinlah Mak, saya akan selalu ingat masa-masa keras dimana setiap pagi Mak bangun pagi untuk mengolah adonan kerupuk dan menggorengnya ditengah terik siang paling keji. Saat saya bangun nanti, hanya Mak yang menikmati sisa hari.

Mungkin Mak, saya masih belum tau mana yang baik dan mana yang benar seperti yang Mak selalu nasihatkan. Masih belum bisa adil membagi cinta pada Bapak, masih belum bisa menahan amarah pada Bapak. Tapi yakinlah Mak, saya menghormati Bapak dengan cara yang tersembunyi, dengan cara yang tak perlu dunia tahu.

Mungkin Mak, saya masih belum tahu dimana kelak saya akan berlabuh seperti yang Mak selalu khawatrikan. Masih belum bisa menghilangkan keraguan dan kebimbangan yang Mak selalu coba hilangkan. Tapi yakinlah Mak, saya kelak akan membuat semua orang mengenal Dhani anak Emak yang baik. Mungkin tidak kaya, mungkin tidak pintar, mungkin bukan jadi pejabat, tapi dalam nadi seorang Dhani tak ada tetes nanah yang membuatmu akan malu Mak.
Maka dengan ini Mak, saya berjanji, hanya untuk Mak seorang. Saya akan menjadi orang bermanfaat seperti yang Mak selalu harapkan.


*untuk Semua Ibu paling juara di Jagat Raya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar