Minggu, 05 Desember 2010

Cerita Dibalik Wajah

Adakah definisi untuk sebuah kewarasan? Apakah itu gila dan dimana letak salah abnormalitas? Sedikit sekali yang bisa dikatakan dari ruang lingkup pemahaman kata-kata tersebut. Karena mereka (abnormalitas) dianggap tabu, sudah tamat dan selesai diperbincangkan. Maka segala macam upaya untuk mendefinisi ulang (ab)normal(litas) adalah sebuah usaha untuk mempertanyakan status quo dan cenderung berujung pada subversi pemikiran. Terlalu jauh? Boleh jadi tetapi bukan tidak boleh kan?

Berkaca pada upaya membangun kesadaran kritis akan keberadaan diri yang semakin absurd. UKPKM Tegalboto memulai rencana warasa untuk mendobrak kemapanan definisi. Sebuah utopia ambisus, yang dengan segala keterbatasan dan kekurangan melahirkan ide untuk membongkar “kewarasan jiwa”. Ide ini bukan bim salabim muncul begitu saja, tentu melalui berbagai perdebatan seru, pertengkaran hebat, sikap marah yang kekanak-kanakan dan pada akhirnya melahirkan kompromi disana sini. Demi sebuah ambisi, bahwa manusia memang diciptakan untuk menjadi “Tidak Waras”.


Menarasikan ketidakwarasan kedalam sebuah citra visual bukannya sulit, hanya tidak mudah. Karena berbagai definisi atas ketidakwarasan yang kami baca, diskusikan, perdebatkan dan simpulkan, melahirkan sebuah paradoks. “Jika tidak waras adalah berbeda, maka kita semua adalah orang yang tidak waras”. Lalu bagaimana cara untuk mecitrakan ketidakwarasan tadi? Lalu kami urun rembug, musyarawah sebagaimana manusia bermartabat dan waras mencari jalan keluar. Kami menghubungi Fatati Nur Diana, seorang Desainer muda yang visioner, untuk membantu kami dalam merancang ulang citra kewarasan dalam sebuah kemasan pakaian.

Bersama Riskaning Diyanti mantan Koordinator Litbang UKPKM Tegalboto yang kini sedang meniti karir sebagai Ambtenarr di KPU Provinsi Jatim, kami berupaya menusuk pemahaman pembaca tentang citra Kegilaan. Tentang kewarasan yang munafik. Hampir 3 jam lamanya, kami berkutat dengan diskusi panjang mengenai bagaimana citra tersebut harus diwujudkan. Apakah kita akan sekedar mengekor pada pemahaman awal kegilaaan -melalui kesemerawutan- atau kami mendefinisi ulang kegilaan atas citra kami sendiri? Disinilah peran Ning sebagai supporting make up artist membantu Fattati Nur Diana dalam mewujudkan citra itu.

Dan inilah dia sebuah representasi sederhana (yang tidak sempurna) atas ketakwarasan yang kami simpulkan. Sosok seorang perempuan muda yang dalam keadaan labil memegang gunting tanaman yang bernoda darah. Terinspirasi dari berbagai kasus penjagalan yang marak terjadi beberapa waktu ini. Pakaian dengan warna putih menjadi simbol kemurnian dan kesucian yang sebenarnya hanya tampilan luar, wajah pucat dengan lingkar mata gelap menjadi sebuah penggambaran insomnia, sebuah penyakit yang seringkali dituduh muncul akibat beban jiwa yang terlalu berat. Dan gunting penuh darah, adalah sebuah ritus yang menjadi bagian hidup manusia tanpa disadari, pembantaian atas mereka yang lemah.


Akhirul khalam ijinkan saya berkisah tentang suatu hikayat, Hikayat api pengetahuan. Dalam suatu masa Prometheus sang Titan membawa api pengetahuan pada manusia. Sehingga manusia kini mampu hidup dengan memaksimalkan fungsi pikiran dan membuang jauh hidup barbar mereka. Namun Oracles dari Delphi meramalkan, suatu saat api pengetahuan itu akan padam dan manusia akan kembali pada masa-masa dimana mereka tidak lagi berpikir, kemudian menjadi hewan “pintar”. Dan sepertinya masa itu sudah semakin dekat.

1 komentar:

  1. hihihi...saya suka sekali saya disitu...benar-benar saya...ya..SAYA ABNORMAL, karena itu saya unik, dan saya berbeda :)

    BalasHapus