Senin, 20 Desember 2010

Hari Ini (seperti) Lima Tahun yang Lalu

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, hujan masih tetap basah dan terik matahari pukul 12 siang tetap berjelaga jalang. Saya berdiri disebuah tugu bertuliskan Universitas Jember. Sebuah prasasti banal bentuk identitas kedirian Lembaga. Entah apa artinya, namun yang jelas ia berdiri gagah menyambut segenap civitas akademika baik muda maupun purna.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, rumput depan gedung rektorat masih hijau dan air masih sering mampet di masjid Kampus. Menyisiri Boulevard Unej ditengah siang panas adalah tindakan bodoh. Namun seperti usang usia almamater ini, kerinduan akan menyusuri jalan-jalan kampus tak kuasa menahan diri untuk diam dan tidur siang. Sebuah kerinduan yang komplementer dengan rentang waktu kuliah yang tak kunjung usai.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, Tukang Parkir Rektorat tersenyum ramah dan Satpam rektorat garang dengan dada membusung. Seperti biasa jika saya lupa memakai sepatu, satpam depan gedung akan berlagak kuasa dan membentak pedas. Padahal saya yakin, berapa hasil dua kali duaratus dua belas ia tak paham. Tapi apaboleh buat, seperti biasa saya hanya diam. Percuma melawan kebebalan tukang pukul yang digaji atas otot bukan otaknya.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, Fakultas Ekonomi masih saja ranum menggoda dan Fakultas Tehnik gagah perkasa. Saya menghindari panas yang mulai keparat ini dan duduk cangkrukan di fakultas ekonomi. Fakultas surga yang mahal. Semua berlabel harga mulai dari otak, paras, tubuh dan tempat duduknya. Tidak ada yang gratis, bahkan sepotong senyum bisa menjadi komoditas. Saya hanya numpang lewat dan berteduh. Mungkin hanya udara dan jalan yang belum dilabeli harga.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, kafe-kafe masih saja ramai pengunjing dan UKM-UKM sepi berhantu. Saya memutuskan lanjut berjalan kebelakang fakultas Ekonomi. Menuju riuh dan teduhnya Fakultas Sastra yang ramah. Dimana dulu saya ingat sebagai sebuah ranjang ekstasi kreasi seni kampus ini. Berpuisi, berkelindan dengan teater atau sekedar ajang orasi. Tapi entah kenapa ranjang ini mulai keras dan tidak nyaman digunakan. Lelaki tampan dan wanita rupawan mulai menjamah populasi seniman yang dulunya berontak nyaman. Ada sebuah reruntuhan paham disini, saya tidak bisa lagi mengenali penghuni sastra macam Gie, macam Rendra atau macam Chairil. Semuanya terpoles, bergincu dan artificial. Sastra telah menjadi Etalase dan catwalk. Saya terasing.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, saya masih belum paham tuts Blackberry dan percaya Apple Mac hanya mitos kaum urban. Saya memutuskan untuk lanjut bergerak menuju warung Mak No dibelakang kampus Sastra. Disebuah jalan ironis bernama jalan jawa VII. Dekat kampus namun masih ada yang buta huruf. Alienasi atas akses pendidikan boleh jadi kambing hitam, tapi kemana mahasiswa pengabdi dan pendobrak itu? Dalam warung Saya tidak sendiri, mungkin ada 4 orang lainnya. Sangat muda, bersemangat dan penuh energi. Namun tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Gadget telah merengut kesadaran manusia, melempar mereka kedalam monolog paling purba. Egosentrisme teknologi. Dunia terasa jauh lebih baik saat apel dan blackberry adalah buah.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, angin masih saja kejam pada mereka yang ringkih dan mendung menolak datang pada puncak gersang. Saya tak mau menjadi patung di warung Mak No, menjadi yang liyan karena tak bisa memiliki gadget mahal seharga kuliah saya 10 smeseter. hari mulai sore dan senja mulai turun malu-malu. saya berjalan ke barat. Menuju keremangan fakultas saya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. saya masuk dari tembok besar yang menyangga gedung tersebut. Dulu ada pintu kecil, tapi kini sudah tidak ada. harus hilang atas nama estetika. Padahal pintu itu sudah dilewati 10 angkatan FISIP, yang mungkin salah satunya sudah menjadi orang besar. Tapi sekali lagi, apalah arti sebuah pintu dihadapan kebijakan dan peraturan.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, Bu Lek masih tetap cerewet didengar dan kopi pahit hitam itu masih nikmat disesap. Kampus saya sudah semakin dewasa, sudah mulai berbenah. ada kelas internasional, sudah ada kelas ber AC, setiap kelas memiliki proyektor, dan sebuah lapangan basket kini mewujud gagah. Kampus saya semakin tampan, kini setiap mahasiswa boleh membawa mobil dan motor karena parkiran terhampar luas. mahasiswa boleh mengakses internet gratis, dengan laptop tentunya. Tetapi saya masih merindukan masa lalu, duduk diwarung kumuh berdiskusi tentang kuliah sampai malam, berjibaku dengan wacana di lorong kelas dan sibuk mempersiapkan bacaan untuk tugas yang menggunung. saya mungkin adalah artefak masa lalu, manusia yang gagal berdamai dengan romantisme.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, buku-buku Camus masih diperpustakaan tetap berdebu dan antrian pusat komik masih melingkar panjang. Saya lelah dihajar kenangan, mungkin ini waktu yang tepat untuk pulang. Memikirkan ulang arah hidup, berdiksusi dengan masa depan, dan berdamai dengan ego. Bukankah kemenangan diri adalag saat kau meruntuhkan ego demi sebuah kedewasaan? Merayakan kedirian dengan jalan yang paling bijak. Saya sendiri menyusuri jalan FISIP lalu ke perpustakaan yang masih mesra menunggu saya untuk seperti dulu berkutat lama dalam kemesraan yang genit. Mencanda buku-buku tandon yang tak pernah dibuka sejak dibeli, atau sekedar mencumbui sajak-sajak Dante yang tak terbaca. Ia masih disana, berdiri mesra sementara langit sudah tergelincir gelap. Malam sudah tiba dan saya belum dewasa.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, tuts hitam keyboard Tegalboto masih luntur dan monitor usang hasil hibah masih menyalak terang. Dan inilah saya, mengingat momen saat menjadi bagian dari ribuan mahasiswa baru yang berbaris memasuki ruang kuliah dengan semangat belajar menggebu. Namun akhirnya harus kecewa dipecundangi cita-cita. Adakah yang salah? Mungkin buku dan diskusi yang dusta atau boleh jadi nasib tertukar kejam. Saya masih belum mau menyerah dengan keadaan. setidaknya tidak sekarang dan tidak disini. Tidak dihadapan Tegalboto dan almamater saya. Tidak saat say masih tegak berdiri dan belum runtuh dihantam umur. Menyerah pada keadaan adalah keterpecundangan!

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, bulan masih separuh matang di awal minggu dan saya masih sendiri. Bukan sekedar sentimental belaka, ini sekedar share. Saya sudah berada diambang studi yang mereka sebut dengan wisuda. Dan sedang berjuang melawan dilema transisi. Entah ini post power syndrome atau sekedar haus perhatian belaka. Namun kesepian-kesepian paska kesibukan memang pengkhianat paling mutakhir yang bisa diciptakan nalar.

2 komentar:

  1. malam ini, persis seperti 5 tahun yang lalu..
    Saat dada berdegup kencang memikirkan taktik paling mutakhir untuk memilih jalan keluar,
    keluar dari keterkungkungan idealisme konyol nan patriarkis seseorang yang bernama ayah.
    "Untuk apa sekolah tinggi? Habiskan uang saja, toh nanti juga larinya ke dapur." itu katanya,

    malam ini, persis seperti 5 tahun yang lalu..
    Saat ketakutan, kegelisahan, dan kekosongan mulai meruak..
    Gegap gempita masa SMA yang indah..
    Senyum-senyum tulus yang selalu merekah..
    Wajah-wajah polos tanpa riasan namun sangat mempesona..
    Tiba-tiba terinterupsi dengan fakta nyata: mau aku kemana?

    Malam ini, persis seperti 5 tahun lalu..
    Saat lagi-lagi mimpi harus menunggu,
    Saat ego harus ikhlas merunduk,
    Dan hati kecil terus saja merutuk.

    Tunggu aku mimpi, kau kan kujemput.

    BalasHapus
  2. jangan takut, bahwa mungkin kita harus menunggu 6 tahun 2 bulan 3 hari untuk sampai pada mimpi yang berdebar-debar itu

    BalasHapus