Kamis, 02 Desember 2010

Teruntuk ruang yang menciptakan jarak

R, adakah kau sampai disana? Baru seminggu kau hilang dan Aku masih rindu. Kicau suaramu yang cepat itu memabukan dan ekspresi geram yang kau bikin, indah bukan buatan. Adakah yang bilang padamu jika kau itu serupa kembang api tahun baru?

R, aku percaya tidak pernah ada kerinduan yang lunas terbayar. Maka biar aku kisahkan sebuah penantian panjang akan luka. Kau pasti akan berpikir bahwa aku menjadi hiperbolis lagi. Mungkin, tapi serupa garis pada pantai, aku hanya mencoba berpikir lebih panjang.

R, luka itu tidak selalu perih. Kadang ia hanya berdarah, mengendap lalu memberikan bekas. Tapi sungguh luka yang akan kukisahkan ini bukan tentang perih. Tapi tentang kenangan yang membekas. Taukah kau apa daya kenangan? Ia serupa kentut yang hadir pada saat yang tak pernah diduga, kau tak akan mengenali rupa kentut itu, kau akan mengenali sensasinya.

R, luka ini dalam namun sekali lagi tak perih. Jikapun perih akan kubuang jauh. Karena luka yang kau pahat ini adalah tentang kesadaran. Kau menyadarkan aku tentang kedewasaan, tentang tanggung jawab dan tentang pentingnya bersenang-senang. Dan tahukah kau, luka ini kau sayat pelan Serupa Prometheus yang dikutuk Zeus, luka ini tak akan kubiarkan bersembuh.

R, luka itu berkecambah dalam perbincangan kita. Perbincangan larut malam (dan seringkali sampai subuh) yang kita lalui. Perbincangan tentangmu, tentang hidup yang keras, sungai yang dalam, tanah yang hilang dan mimpi yang tinggi.

R, luka itu melebar, berkembang dan mengeras. Adalah obsesi akan penaklukan yang menunjukan jalan. Bahwa dalam setiap luka ada pesan dan keberanian untuk sembuh. Kau membuatku mengerti, bahwa untuk menghargai hidup maka aku harus terluka sangat hebat.

R, aku menikmati luka tapi bukan masokis. Adalah sesat menikmati kesakitan, namun terpujilah mereka yang mengamini pencerahan lewat luka. Luka mungkin mengajarkan rasa sakit, dan rasa sakit mengajarkan kesembuhan. Dan kesembuhan mengajarkan kedewasaan. Namun luka yang tak berperih mengajarkan sikap.

R, aku tahu kau benci kata gombal. Padahal demi langit yang biru dan tanah yang basah, aku tak mahir menggombal. Dulu saat SMA, nilai gombalku selalu merah, guru selalu memandangku sendu 'sungguh malang nasib wanitamu kelak, karena kau tak pandai mengumbar rasa'.

R, sungguh aku ingin bertemu. Bukan karena takut saat ini aku tak di depanmu. Tapi hutang tanggung jawab mencegahku pergi, setelah tugas ini selesai aku akan kesana. Menemuimu untuk menagih janji, sepiring somai dan segelas dawet. Bukankah tentang makanan kita selalu sepaham?

R, maaf aku suka mengintip. Mengintip wajahmu dalam jaringan bit. Yang melengkung luas seperti gurun, namun syahdu seperti senja warna emas pada bulan Januari. Tapi kau selalu meracau betapa pendek, hitam dan jeleknya dirimu. Namun aku selalu bergumam, tentang betapa sempurna, indah dan sederhananya dirimu.

R, aku tahu kau tak suka nasihat. Tidak dari orang payah macam aku, tapi kumohon. Baik-baiklah kau disana, ingatlah untuk istirahat. Selembar badanmu yang tipis itu mungkin kuat, namun karang paling keraspun akan rapuh diterjang angin.

R, bisakah kau turuti aku sekali saja? Berhentilah khawatir pada orang lain, hatimu yang hampir maha luas itu suatu saat akan penuh dengan curahan hati orang lain. Dan pada akhirnya akulah yang paling khawatir melihatmu resah.

R, aku benci kau marah. Dan sialnya marahmu itu seperti hujan musim semi, aku tak pernah tau kapan akan terjadi. Bukankah sudah kubilang, aku tak mengerti tak mengerti perempuan, dan aku tak mengerti kau. Bahkan ilmu semiotika paling wahid pun, tak mampu mengurai penanda dan petanda rasa yang kau umbar. Sungguh aku tuna citra, karena pesonamu yang bening itu.

R, Pada awalnya adalah pesona akan nalar, yang dibalut dalam sebuah mata indah tulus dibalik kaca. Aku percaya matamu yang luas itu adalah anugrah. Yang mampu menahan laju gelombang kesedihan yang paling besar sekalipun.

R, ini adalah paragraf terakhir. Aku rindu kau, rindu pada marahmu, tawamu dan suaramu. Kita mungkin belum bertemu. Tapi bukankah siang dan malam tak pernah bertemu, namun mereka padu dalam nasib? Jadi jika kau telah sampai di negeri sana. Kabarkan aku luka. Karena hanya luka yang menjauhkanku dari mengingat jarak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar