Minggu, 09 Januari 2011

Untuk R yang baik dan keras kepala



Ijinkan aku menulis surat pendek yang isi didalamnya adalah barisan kekagumanku pada semua pesonamu yang sederhana. Tentang rindang indah suaramu, dahimu yang teduh, rambutmu yang lembut, tingkahmu yang menggemaskan, kudusnya suasana saat kamu merajuk, sifat manjamu yang tulus dan betapa dalam senyummu, Tuhan menitipkan riuh sabda pesona Hawa.

Kutulis surat ini dalam lantunan nada Erik Endarto, lagu sederhana tentang salah persepsi, tapi bukankah itu tak penting R? Karena semua hal yang akan kutulis adalah tentangmu, tentang sepetak cahaya indah yang memancar dari matamu yang lugu.

Di luar hujan turun dengan ramai R, seolah gemas menungguku bergegas bercerita tentangmu. Sesekali langit mengirim geletar petir putih di pematang sawah, dimana camar, kadal, kodok dan pak tani sedang santai mendengkur. Dan angin pun tak mau kalah mendesau jalang, diterbangkannya segala bungkus rokok, kutang, kupon togel dan lembar-lembar skripsiku.

Apakah yang sedang kau lakukan R ? Apakah kamu sedang memasak Indomie ? Apakah kamu sedang memikirkan indah gaun malam Chanel ? Atau kamu masih saja mendengar sajak kecil Yellow Chris Martin dan berharap ia datang ke depan pintu kamar kosmu mendendangkan lagu itu seolah kau adalah Gwyneth Paltrow ? Entahlah Tapi semoga kau baik-baik saja disana dan yakinlah R, semua gemintang cahaya langit memang hanya bercahaya untukmu.

Kutulis ini surat ini dengan sendu R, bukan karena sedih, karena entah mengapa setiap kali aku mengingat senyummu itu, kehendak mataku tak mau tunduk lalu mengalirkan semacam getaran, yang centil, yang manja dan cerewet.

Sementara kudengar hujan hujan tak lagi badai, namun perlahan menjadi gerimis yang damai, dan cahaya matahari subuh lambat naik di jalurnya. Secara tangkas ia membagi adil cahayanya dibilik bilik bumi, diatas pondok, di pinggir kali dan sepetak sawah. Tetapi sekali lagi bukankah itu tak penting untukmu R?

Sepetak sawah yang gugup disinari matahari subuh mungkin tak begitu menarik untukmu R. Sama seperti semua kabar yang dibisikan tipiwan, tentang harga cabai yang melambung, Nurdin Halid yang menolak mundur, cerpen-cerpen Djenar maesa, buku baru Goenawan Moehamad, album baru Lady Gaga, bau kentut atau warna kulit tembok yang semakin memudar…

Apakah kamu tahu R, kita bisa saja SMSan seperti biasanya, begitu biasa, seperlunya, berbasa basi, aku mengirim pesan gombal, kau membalas karena kesal, atau bahkan itu adalah sejawat sikap dermamu padaku. Berbuat baik pada pria gendut kasmaran – tapi, kali ini biarkan aku menulis ini untukmu, demi sesuatu yang bisa kau ingat. Sebuah hal kecil yang melahirkan kenangan. Siapa tahu, karena kenangan adalah benda paling kejam yang bersembunyi pada bilik-bilik perasaan manusia. Dan aku berharap saat kau mengenangku, mengenang tentang sebuah perjuangan untuk mengagumi keindahan ciptaan Tuhan. Dan itu kamu R.

Siapa tahu. Kita kan boleh berharap segala sesuatu yang paling kecil, paling sepele, paling tidak penting, tapi mungkin indah bagi kita berdua, bisa tetap tinggal abadi ? Seperti daun melayang tertiup angin, yang kita tidak tahu lagi di mana, namun masih tetap tinggal indah dalam kenangan kita.

Kukira kamu masih ingat sepotong waktu di depan angkringan itu R. Dalam taburan hujan abu merapi yang mempertemukan kita, mempertemukan nasib dan kita dalam sebentuk jaring laba laba bernama kenangan. Entah apa yang kau pesan saat itu R, karena waktu, cahaya, warna dan perasaanku berhenti bekerja, saat aku sesekali mencuri pandang padamu. Betapa segala teorema energi waktu dari Einstein, Hawking ataupun James T Kirk tak berguna dihadapan pesonamu.

Begitulah memang aku ketemu kamu R, di sebuah ruang di bagian semesta yang gelap di mana waktu tak tercatat, seperti bisikan, di mana kita hanya saling menyentuh, dan tak selalu ketemu, tapi bisa saling merasa, dan dengan itu toh bisa membangun dunia kita sendiri. Dari kelam ke kelam kita arungi waktu R, dan dengan gumam perlahan-lahan karena ruang bukan milik kita, dan setiap orang selalu merasa punya kepentingan yang sama besarnya. Barangkali juga karena kepentingannya jauh lebih besar dari urusan kita. Bisakah diterima perasaan kita begitu penting untuk sebuah kota yang gemerlapan di mana senja tiada artinya ?

Awan serak yang membawa serta hujan itu sepertinya betah berlama-lama hinggap diaatas rumahku R. Mungkin ia ingin turut serta memastikan detik-detik yang berlalu saat ini adalah usahaku untuk mengisahkanmu. Mungkin dia curiga, cemburu dan penasaran, tentang bagaimana aku akan menggambarkanmu R. Awan yang sejak semalam hingga saat ini dengan setia mengintai dibalik atap genting bocorku yang sudah selama ini kubiarkan menganga, tak apa toh itu tetap tak penting buatmu kan R?

Sinar matahari pagi juga mulai datang R, sinar yang mungkin kamu luput temui jika bangun kesiangan. Lalu mengumpat karena hari itu kau ada jam kuliah dan presentase video bersama kelompokmu yang menyebalkan, tapi tetap kamu cintai dengan tulus. Beruntungnya mereka, karena andai saja aku disana, aku ingin dicintai kamu dengan secukupnya saja, tidak berlebihan. Barangkali aku hanya harus merasa semua ini sudah cukup, dan bersyukur karena sempat mengalami saat-saat yang indah. Saat secara wajar kita berkenalan. Dan Seperti itulah perasaan kita ketika memandang matahari subuh yang jujur dan pekat, meresapi keindahan sewajarnya.

R yang berlesung pipi paling juara di Jawa,

Barangkali memang kita memang tidak usah terlalu peduli dengan semua ini. Karena serbuk-serbuk perasaan yang tersisa, juga telah lenyap ditiup angin bercampur baur dengan debu yang berterbangan, yang hanya kadang-kadang saja akan kita kenali kembali, jika arah angin menuju ke arah kita. Perasaan-perasaan yang akan membuat kita berkata : ” Aku seperti pernah berada di sini, pada suatu masa entah kapan , dari masa lalu atau masa depan.” Memang banyak hal yang tidak harus kita mengerti R, ada saatnya kita tidak harus mengerti apa-apa, tidak perlu memaklumi apa-apa dan tidak perlu menyesali apa-apa,

Tapi ya biarlah, que sera-sera, kita simpan saja sedikit kenangan tentang pertemuan pertama kita itu. Biarlah mengendap jika kau ingin buang, silahkan buang R, karena mungkin kenangan itu tak lebih berharga dari ingatanmu tentang senin, sroto koya dan pengalaman pertama naik motor melintasi Kudus. Bukankah kita cukup bahagia, meskipu hanya sekedar menyapa ?

Karena sekedar kata ‘hai’ atau ‘helo’ tidak akan menyakiti begitu banyak. Seperti halnya begitu banyak bencana yang datang, tentang ruang dan bumi yang selalu mengeluh. Begitu banyak kepedihan di jalanan, darah berceceran, dan kita begitu sibuk dengan perasan kita sendiri — tapi apalah salahnya ? Aku sering berpikir tentang betapa fana hidup kita. Sepotong riwayat di tengah jutaan tahun semesta. Dua orang di belantara peristiwa. Apakah kamu sempat bertanya R? Mungkinkah kita masih punya arti, dalam ukuran tahun cahaya ?

Aku pun sering tergagu dalam sekelebat pertanyaan, tentang apa maksud kita hidup, atau kali ini tentang arti pertemuan kita ? Tentang nuansa Jogja yang pilu, tentang angka 13/11/2010, tentang kecintaanmu pada Coldplay, tentang persahabatanmu yang tulus, cintamu pada ibu, tentang empati yang mempertemukan kita. Semuanya kabur, tak pernah tamat, tak pernah lunas dan tak mungkin termaknai secara tuntas – namun siapa juga yang menuntut semua ini sempurna?

Kita sudah tahu semua ini memang tidak bisa jadi apa-apa, dan barangkali memang tidak perlu menjadi apa-apa. Kita toh sudah senang meski hanya saling memandang, dan menengok segala penyesalan sebelum pertemuan, dan tahu memang tidak ada yang bisa disalahkan, sehingga kita memang tidak perlu bertanya, ” Kenapa harus jadi begini ?”

Ya sudahlah, mau bagaimana lagi? Hidup barangkali memang seperti sinetron, barangkali seperti itulah hidupku R – seperti sinetron. Dari satu tragedi ke tragedi lainnya, dari satu ironi ke ironi lainnya, dari satu elegi ke elegi lainnya. Dengan satu episode berbeda setiap kali pulang dan berangkat, sementara aku tidak punya banyak kuasa untuk menentukan endingnya.

Kudengar suara cicit tikus di atas atap, suara siul burung belibis dan derik jangkrik yang mulai hilang. Barangkali kamu juga mendengarnya R, begitu riuhnya pagi ini, seperti tidak ada lagi ruang untuk do’a-do’aku yang sampai padamu. Sementara Gedung-gedung terus tumbuh ke atas, hanya untuk menampung manusia. Mereka semua akan menjadi bagian dari Sinetron itu R, sinetron dengan musim yang baru tentang orang-orang yang terus-menerus memburu sensasi dalam hidupnya. Barangkali, ya barangkali, kita memang harus berpesta sebelum tenggelam dalam sebuah perkabungan yang panjang.

Aku disini saja R, menulis pesan untukmu, disalah satu gubuk di pinggiran desa yang temaram dan sejuk. Pastilah hidup ini mengaharu biru R, sangat sering membuat kita lupa pada kebahagiaan. Atau bahkan sebaliknya? Hidup adalah riuh ramai pasar malam yang menenggelamkan kita dalam sesak umur yang tak seberapa? Entahlah, Aku malas memikirkannya R, karena sejak semalam tadi Aku terus menulis pesan ini untukmu R. Sekedar seremoni pada keagungan Tuhan yang telah menciptakanmu begitu sempurna, ode pada gairah hidup dalam sepiring tempe mendoan, atau bahkan bisik lirih dzikir atas album baru Pure Saturday.

Mungkin aku sekedar mencoba merasa bahwa kehidupan yang fana itu masih ada, masih menggerakkan serat-serat halus perasaan kita, sekedar untuk membuktikan bahwa kita belum menjadi dodol yang lumutan.

Jika saja aku bisa mengatakan pesan ini langsung pada hatimu R, aku akan melakukannya, seperti geletar sifat hangat yang tersublim dalam cahaya mentari pagi ini R, yang setiap hari kita rasakan tanpa mengenali rupa kehangatan itu. Tetapi aku tak bisa melakukannya R, aku hanya bisa berceloteh dalam pesan ini, karena kamu tahu, seringkali aku tak mampu berbicara lancar dihadapan wanita, barangkali agak kacau dalam berkata-kata, tidak seperti dalam pesan ini, aku bebas berkata dan mengumbar perasaan dengan leluasa. Maafkanlah aku R, barangkali aku memang tidak dilahirkan untuk dapat menikmati kebersamaan berdua dengan wanita tanpa melakukan hal kikuk bodoh.

R yang manis, yang baik, anggun dalam kesederhanaan

Diluar matahari pagi sudah beranjak remaja, dan tiba-tiba aku merasa ringkih. Cahaya merah keemasan yang perlahan menjadi kuning terang bagaikan akhir dari sebuah episode sinetron yang karam. Dimana perlahan-lahan tokoh utama cerita telah busuk dimakan kebahagiaan dan kenyang diludahi kegetiran, sementara tunas-tunas mudan yang ranum telah siap secara seronok untuk tampil kehadapan panggung kehidupan ini.

Sementara aku masih disini R, masih dalam petak sempit gubug di tengah cakrawala peradaban bit dan nir kabel. Di kejauhan aku mulai menangkap desir suara pabrik-pabrik motor yang mulai menguapkan mesin mereka. Entah mengapa kebisingan yang mulai ramah ini tak mampu mengalihkan ingatanku tentangmu R. Apakah aku harus nekat datang ke Banjar, dengan sebelumnya kursus intensif untuk memahami frase dan segala imbuhan dalam bahasa Banyumasan? Entahlah R, aku masih takut untuk memulai. Bukankah segala hal yang pertama, membuahkan luka?

Aku sudah capek R, capek memanjakan perasaan. Barangkali memang sudah waktunya kita harus menjadi kejam kepada diri kita sendiri. Membiarkan perasaan kita menggelepar seperti ikan, dan mencoba hidup bersama dengan kenyataan. Masalahnya, apakah kenyataan mau hidup sama kita ?

Sementara dalam pikiranku yang paling liar, aku meyakini jika umurku tak akan sampai 30. Dan aku akan meratap disisa umurku dalam kesendirian, mematung tanpa kawan dan sesekali rambutku rontok karena uban. Atau jangan-jangan aku akan mati dan melupakanmu R, secara tersembunyi menikmati kehidupan yang merangkak gelap, ketika aku sedang menulis pesan untukmu.

Baru saja secercap aroma terhidu R, aroma sambal terasi dan ikan asin yang dibungkus dalam daun jati. Apakah kau cukup makan selama ini R? Apakah kau cukup istirahat? Dan apakah migrain keparat itu sudah lekang menggodamu lagi? Karena memang kamu yang selalu, selalu, dan selalu kukenang dan kucemaskan. Ah—sedang apa kamu R, sedang duduk melamun sendirian atau pusing membikin laporan ? Apakah kamu masih minta ditemani untuk buang air di tengah malam, sementara langit-langit malam begitu santun menjagamu dari gelap ? seandainya aku bisa sekali menunaikan tugas suci itu. Seandainya R, bolehkan aku berharap? karena harapan tak selalu mahal R.

Inilah suratku R, surat seseorang yang menyandarkan kehidupannya pada kenangan, dan kenangan itu adalah kamu. Kita semua memang menjadi tua R, tak apa, langit diluar menjadi biru, terang dan muda – tapi siapakah yang akan merasa kehilangan ? Kita tidak akan pernah pergi ke mana-mana R, percayalah, kita, kamu dan aku, akan tetap tinggal di sini, saling mengenang ketika hujan tiba, selamanya, karena aku telah menulis surat tentang kita, dalam huruf-huruf yang membentuk kata-kata cetak, yang tidak akan pernah hilang lagi untuk selama-lamanya.



*) sebagian kata dan paragraf dikutip dari Novel Seno Gumira Adjidarma ”Jazz Parfum dan Insiden”,

Tentang wanita yang mencintai kesunyian bernama Toer


Barangkali dalam hidupnya yang luarbiasa, Pramoedya Ananta Toer, hanya mencintai dan membuka diri sebagai mahluk komunal secara utuh pada istri keduanya Maemunah Thamrin.

Kemarin saya membaca sebuah kabar dari akun Twitter milik Saut Situmorang. Kabar tersebut adalah kabar kematian Maemunah Thamrin. Istri dari almarhum Pramoedya Ananta Toer, saat itu saya kaget sekali. Sesaat setelah memanjatkan doa, kabar itu saya teruskan di Twitter dan Facebook milik saya. Tanggapannya bermacam-macam, seorang kawan di Makasar dan Jakarta turut mengkonfirmasi kebenaran itu. Saya membenarkan kabar kematian tersebut. Yang lain hanya bisa memberi jempol tanpa ikut berdoa, semoga Allah mengampuni jempol orang-orang tersebut.

Saya pribadi tidak mengenal Maemunah Thamrin secara jelas. Karena ia bukanlah sesosok pesohor macam Shinta Jojo atau Lady Gaga. Bukan pula penyair atau sastrawan. Ia hanya seorang wanita luarbiasa yang mirip dengan ibu saya. Sesederhana itu. Saya sendiri mengenal (wajah) Maemunah Thamrin dari sampul dalam Buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu jilid II. Dan dalam beberapa bagian buku tersebut terdapat fragmen-fragmen yang menggambarkan Maemunah Thamrin sebagai wanita dengan kualitas kebaikan dan ketabahan tanpa banding.

Dalam hidup saya jarang sekali mengenal wanita-wanita tangguh yang mempunyai mentalitas seperti baja. Selain Ibu dan sahabat saya Ning, wanita yang saya kenal cenderung menye-menye dan berkualitas sandal jepit. Diam saat diinjak dan putus jika digunakan lari. Maemunah dalam banyak kesempatan, digambarkan sebagai perempuan kelas wahid yang mau mengerti dan tabah dalam menghadapi hidup. Pramoedya Ananta Toer boleh jadi dikenal sebagai sastrawan hebat yang berkali-kali dinominasikan sebagai peraih Nobel sastra, tetralogi Pulau Burunya laku dan dicari banyak orang. Tetapi awal-awal kehidupan penulisnya kondisi tak lebih baik dari anak jalanan. Miskin dan sakit-sakitan.

Kehidupan Pram yang keras dan susah ini, digambarkan dari karyanya Cerita Dari Blora dan Bukan Pasar Malam. Sehingga bolehlah kiranya kita menganggap bahwa kerasnya pendirian Pram dalam hidup, ditempa oleh pengalamannya semasa muda. Yang mungkin oleh Istri pertamanya salah ditafsir dan dimaknai sebagai hidup yang tak berguna dan sengsara. Dalam banyak kesempatan Pram menggambarkan istri pertamanya dengan kurang baik. Seperti “merongrong suaminya karena kurang keras bekerja” atau dalam Bukan Pasar Malam mata yang dulu bagus dan yang kini tak menarik hatiku lagi itu”. Tetapi sudahlah, kita tidak sedang mengenang Istri pertama Pram.

Disisi lain Pram, begitu santun, kasmaran, dan sangat centil menggambarkan Maemunah sebagai Istri yang sempurna. Kepada putri ke Empatnya Astutiek atau Tieknong, dalam sebuah surat, Pram menceritakan awal pertemuannya dengan Maemunah. Saat itu Maemunah menjaga stand buku Toko Gunung Agung. Dalam sebuah fragmen Pram berkata “Pertemuan dan perkenalan dengan ibumu membikin semangat hidupku bangkit kembali. Dengan dia aku akan hidup.” Sebelumnya Pram yakin bahwa ia akan mati sebelum umur 30, namun kini ia menemukan bara kehidupan baru. Seakan hidup Pram yang kedua dimulai pada saat ia bertemu dengan Maemunah.

Saat berkenalan dengan Maemunah ternyata Pram tidak mengetahui perihal siapakah Hadji Abdulah Thamrin, Ayahanda Maemunah yang juga saudara dari M.H Thamrin itu. Apalagi perihal kekayaan Ayahanda Maemunah yang banyak memiliki rumah di Jakarta saat itu. Maemunah pun tampaknya tidak begitu peduli dengan materi, karena dengan Pram ia tidak berbagi cerita tentang kekayaannya. Barangkali itu pula yang membuat Pram jadi Kasmaran. Dalam hal ini Pram menggambarkan perasaannya “Seakan-akan kami berdua bertemu sebagai orang yang tak punya sangkut paut dengan apapun. Hubungan kami Polos, tanpa sesuatu syarat, suatu hubungan yang sederhana, indah tanpa Pretensi.”

Dalam banyak kehidupan penulis dan pengarang besar, peran seorang istri memang sangat luar biasa. Bahkan beberapa penulis mengabadikan kisah pertemuan dengan istrinya dalam suatu cerpen atau novel, dan kisah itu malah jadi suatu magnum opus. Sebut saja James Joyce dengan istrinya Nora yang kemudian melahirkan Ulysses atau Tolstoi dan Sofya Tolstaya istrinya dalam kisah Karzak dan Penyerbuan. Pram sendiri kemudian mengabadikan kisah pertemuannya dengan Maemunah kedalam cerpen ‘Sunyi Senyap di Siang Hidup,’ sayangnya saya belum beruntung untuk dapat membaca karya tersebut.

Kehidupan mereka bukannya lancar jaya atau indah seperti kisah Cinderela. Malah mungkin sangat dramatis, lebih dramatis dan emosional daripada cerita-cerita bikinan Punjabi. Kehidupan mereka menggambarkan kehidupan kebanyakan orang Indonesia pada tahun 50-60an. Keras dan sulit dalam menghadapi kehidupan sebagai warga negara yang baru merdeka. Ajip Rosidi yang sempat sangat dekat dengan keluarga Pram menggambarkan kehidupan pengantin baru itu dengan sangat lihai, ia berkata “Saya sering mengunjungi Pram dan Maemunah di rumah petaknya…hanya satu ruangan tidur…dapur, berlantai tanah. Bagian depan rumahnya memakai Ram kawat…yang biasa dipakai untuk kandang ayam.” Bukan kehidupan yang ideal bagi pasangan Newly Wed, saya sendiri tidak yakin bisa hidup semacam itu.

Ajip Rosidi juga mengagumi sikap menerima dan ikhlas yang dijalankan oleh Maemunah dalam menghadapi kualitas kehidupan seperti itu. Ia berkata “namun tidak pernah terdengar ia mengeluh karena memilih pengarang melarat sebagai suami.” Karena perlu saya dan anda catat, saat itu Maemunah adalah putri seorang juragan tanah yang kaya raya dan memiliki banyak tanah. Namun ia tidak menuntut banyak kepada Pram, ia juga menerima sikap keras kepala dan idealis Pram yang tidak mau menerima belas kasihan orang tuanya, malah memberikan kebebasan sepenuhnya para Pram. Untuk sikapnya ini Pram dengan gemas berkomentar bahwa, sikap semacam ini sebagai suatu hal yang justru dilawan oleh women’s liberation Amerika serikat!

Setelah menikah dengan Maemunah, kehidupan Pram yang berantakan paska becerai dengan istrinya boleh dikatakan semakin membaik. Ia mulai makan dengan teratur meski hanya nasi dan lauk garam. Mulai mampu memperbaiki rumah petaknya itu. Mampu mengganti kendaraan dengan lebih baik. Lalu akhirnya mampu membangun rumah sederhana meski dengan bantuan Haji Thamrin ayahanda Maemunnah. Maemunah dengan kesabaran besar mendampingi Pram melewati itu semua. "Maemunah menemaniku melewati kemiskinan yang luar biasa" kata Pram pada anaknya yang sekaligus menepis anggapan bahwa Maemunah telah merebut Pram dari keluarganya.

Maemunah sendiri adalah sosok perempuan sederhana yang tidak neko-neko. Setiap hari ia bekerja selayaknya ibu rumah tangga. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada pemikir Feminis, Maemunah kerap kali hanya diam dan diam saat kondisi rumah tangganya dengan Pram sedang mengalami kesulitan hidup. Meski susah ia tetap mencuci pakaian milik Pram 2 kali sehari, memasak, dan merawat anak-anak Pram tanpa sekalipun tercatat ia pernah menuntut atau marah terhadap kondisi keluarga. Dari akun FB salah satu murid Pram, Muhidin M Dahlan, saya membaca bahwa Maemunah atau yang ia biasa sebut sebagai 'Oma' malah pernah berkelakar "Pram nggak boleh tahu dan ngurusi soal dapur".

Setelah membaca proto-biografi Pram Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, saya baru menyadari peran Maemunah. Ia adalah semangat hidup dan mercusuar keyakinan Pram. Lastmi Pamuntjak malah menuliskan jika “Kehadiran Maemunah Thamrin yang setia, tabah dan manis budi, bagi Pramoedya bagaikan matahari yang terbit di ufuk timur itu”. Yang saat berada dalam penjara di Roemah Tahanan Chusus (RTC) Salemba, Maemunah menemani dengan begitu sabar.

Bahkan saat mengalami pengasingannya di pulau Buru, Pram yang seorang individualis tulen itu, meminta agar Maemunah menikah lagi dan rela menceraikannya. Karena Pram sadar betul, dalam pemerintahan fasis Soeharto, entah kapan ia akan bebas. Jawaban yang diberikan dan sikap yang ditunjukan oleh Maemunah sangat mengiris-iris hati. Lebih mengharukan daripada momen dimana Nurdin Halid memutuskan mundur dan melakukan Harakiri.

Maemunah dengan telaten merawat ke anak-anaknya, meski ia tahu ia bersuamikan orang yang dicap sebagai antek PKI. Dalam surat Tieknong kepada Ayahnya di Pulau Buru, tanpa sengaja ia menceritakan betapa heroiknya Maemunah. Bahwa Ibunya itu menuntut agar Tieknong terus belajar keras, sehingga bisa sekolah di Sekolah Asisten Apoteker, bahwa kelak jika memiliki uang, Tieknong dan Yudi bisa berangkat ke pulau Buru untuk menjenguk Pram, bahwa, Ibunya dengan lembut melindungi fakta penangkapan Pram dengan penjelasan yang masuk akal, dan meyakinkan pada Tieknong dan adik-adiknya ia tak perlu malu menjadi anak Pram malah seharusnya Ia bangga. Buat saya itu adalah sikap paling manis dan sayang ibu paling hebat sepanjang masa.

Dan inilah saya mengenang ‘Oma’ yang tidak pernah saya kenal dan temui. Hanya merasakan rasa cinta dan kedekatan yang begitu rupa karena gambaran kecil melalui tulisan-tulisan yang ada tentangnya. It doesn’t need to know someone to feel sad, that why it call emphaty, kata Al Pacino dalam film Frankie and Johnie.

Kehidupan adalah kefanaan dan proses menyiapkan diri untuk menuju kematian. Setidaknya itu menurut saya, bukan menjadi fatalis. Hidup Maemunah Thamrin sebagai pendamping dan ibu dari anak-anak Pramoedya Ananta Toer telah selesai sudah. Dan yang tertinggal hanya kenangan kisah hidup seorang wanita biasa yang dicintai dengan sempurna. Sesederhana itu obituari ini dibuat. Hanya sekedar post sciptum dari segala yang telah terjadi dalam hidup Maemunah Thamrin, Dan malam di luar terus juga menelan umur manusia.

Minggu, 26 Desember 2010

Elegi Duka


saya dan bendoro Gus Uyan, pengamat musik terbaik abad ini

untuk nuran


aku akan mengajarimu cara menangis yang profetik dan gilang gemilang
disela-sela sibuk waktu konsermu yang riuh itu
tentang cara sedu sedan yang baik dan benar
sesuai primbon dan eyd yang disahkan mentri pendidikan
lalu kau bisa tampil kece dengan dandanan syahdu di ulang tahun kematian orang orang

Kamis, 23 Desember 2010

Disela Malam Sebelum Natal

Untuk Fransisca


ada sisa pelangi dimatamu Chi,
yang tak bosan kupandangi meski usang
yang pada malam harinya berubah jadi tokek warna merah muda
berderet-deret bersuara nyaring,
pada dentang sunyi malam yang kedua belas

Paginya kita bertemu lagi Chi,
lewat embun, kokok ayam dan rintihan pulang vampir-vampir jompo
lewat jalan lapang disebelah rumah, lalu hilang di ujung subuh
dan menyesap sisa jejak yang disergap angin gunung

aku menatap matamu Chi
yang redup, sunyi dan bening serupa kaca-kaca
bersembunyi dibalik ramai pasar tawa beruk kota

aku ingin kita berjalan Chi, bergandeng lengan,
agar nampak mesra sekali seperti sedang jatuh cinta
agar tak gegas lenyap seperti uap
karena waktu selalu khianat pada bahagia

aku masih tak bosan memandang matamu Chi
yang di dalamnya ada bintang kecil, sungai susu dan labirin gula-gula
yang meski sudah bangkrut, tapi sesak dengan kenangan-kenangan
jangan kau berkedip, menutup matamu yang indah itu Chi
nanti sungai itu tumpah, bintang itu hilang dan labirin itu rusak
(diam-diam menyeka mata air yang lupa menetes)

ayo kita pulang Chi
Membangun rumah dari serak-serak rindu
Lalu disekat dengan awan dan hutan


Jember
20:19
23/12/2010

Rabu, 22 Desember 2010

Apologi Anak Badung pada Sebuah Hari Ibu


Mungkin Mak, saya masih belum bisa khatam Qur'an seperti yang Mak inginkan selalu. Masih belum bisa Duha dan Tahajud seperti yang Mak inginkan. Tapi yakinlah Mak, saya hanya meyakini satu tuhan dan satu nabi penutup seperti yang Mak selalu yakini.

Mungkin Mak, saya masih belum bertingkah santun dan berkata sopan seperti yang Mak selalu tekankan. Masih belum bisa beradab seperti yang Mak selalu lakukan. Tapi yakinlah Mak, aku hanya berlaku demikian untuk jadi diri sendiri, seperti yang Mak selalu isyaratkan.

Mungkin Mak, saya masih belum punya istri solehah berkerudung rapat seperti yang Mak selalu sindirkan. Masih belum bisa mencari istri untuk diajak membangun keluarga sakinah sesuai citra Ali dan Fatimah. Tapi yakinlah Mak, bahwa kelak, siapapun yang saya nikahi, akan menjaga tiang agama dan mencintai Mak seperti saya.

Mungkin Mak, saya masih belum lulus dari kuliah seperti yang Mak selalu tanyakan. Masih belum bisa memberikan gelar Sarjana yang Mak idamkan. Tapi yakinlah Mak, saya selalu mencari ilmu dengan segala kerendahan hati dan kerakusan yang profetik, seperti yang selalu Mak tanamkan.

Mungkin Mak, saya masih belum bisa memberikan bantuan hepeng agar Mak bisa naik haji. Masih belum bisa memberi tabungan seperti yang Mak selalu inginkan dalam Doa-Doa malam. Tapi yakinlah Mak, saya selalu bertaruh pada nasib dan diri sendiri. Kelak saat semua manusia berpaling pada uang, sayalah yang akan mendoakan Mak lebih keras dari riuh sepertiga malam terakhir.

Mungkin Mak, saya masih belum bisa sholat dengan taat. Masih belum bisa bersujud dengan segala khidmat dan keikhlasan seperti yang selalu Mak lakukan dalam 5 wajib dan 2 sunah sehari. Tapi yakinlah Mak, bahwa meski nanti leher ditebas, tubuh dinista, dan hidup dihina. Kalimatullah Syahadat tak akan lepas tertukar dewa-dewa digital.

Mungkin Mak, saya masih belum menjadi seorang Amtenaar seperti yang selalu Mak tawarkan. Masih belum bisa mengabdi pada tumpah darah negara ini seperti yang Mak contohkan pada Kakek. Tapi yakinlah Mak, saya selalu mencintai negeri ini, Indonesia, dengan cara yang mungkin belum bisa Mak pahami.

Mungkin Mak, saya masih belum bisa berhenti membaca komik seperti yang Mak selalu cemburukan. Masih belum bisa singgah dari derap-derap boks dialog dan gambar dalam komik. Tapi yakinlah Mak, saya selalu berpijak pada setiap realitas dan kejujuran yang Mak katakan.

Mungkin Mak, saya masih belum saya masih belum mau dewasa seperti yang Mak selalu ingatkan. Masih belum bisa bertanggung jawab pada diri sendiri dan orang lain seperti yang Mak contohkan tiap saat. Tapi yakinlah Mak, saya tidak akan membuat orang lain disusahkan dengan ulah saya, seperti yang Mak selalu ingatkan.

Mungkin Mak, saya masih belum mau pulang dan meneruskan usaha kerupuk seperti yang Mak selalu bisikan. Masih belum bisa membesarkan usaha yang Mak bangun dari kerak keringat dan jelaga air mata. Tapi yakinlah Mak, di sisa umur Mak yang ada tak akan saya birakan Mak menangis dan berkeringat lagi demi saya. Mak menangis dan berkeringatlah untuk Akherat Mak yang Firdaus itu.

Mungkin Mak, saya masih belum bisa melupakan buku-buku dan syair-syair puisi yang Mak benci ini. Masih belum bisa lepas dari labirin mimpi dan kasur imaji yang nyaman. Tapi yakinlah Mak, saya akan selalu ingat masa-masa keras dimana setiap pagi Mak bangun pagi untuk mengolah adonan kerupuk dan menggorengnya ditengah terik siang paling keji. Saat saya bangun nanti, hanya Mak yang menikmati sisa hari.

Mungkin Mak, saya masih belum tau mana yang baik dan mana yang benar seperti yang Mak selalu nasihatkan. Masih belum bisa adil membagi cinta pada Bapak, masih belum bisa menahan amarah pada Bapak. Tapi yakinlah Mak, saya menghormati Bapak dengan cara yang tersembunyi, dengan cara yang tak perlu dunia tahu.

Mungkin Mak, saya masih belum tahu dimana kelak saya akan berlabuh seperti yang Mak selalu khawatrikan. Masih belum bisa menghilangkan keraguan dan kebimbangan yang Mak selalu coba hilangkan. Tapi yakinlah Mak, saya kelak akan membuat semua orang mengenal Dhani anak Emak yang baik. Mungkin tidak kaya, mungkin tidak pintar, mungkin bukan jadi pejabat, tapi dalam nadi seorang Dhani tak ada tetes nanah yang membuatmu akan malu Mak.
Maka dengan ini Mak, saya berjanji, hanya untuk Mak seorang. Saya akan menjadi orang bermanfaat seperti yang Mak selalu harapkan.


*untuk Semua Ibu paling juara di Jagat Raya

Senin, 20 Desember 2010

Hari Ini (seperti) Lima Tahun yang Lalu

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, hujan masih tetap basah dan terik matahari pukul 12 siang tetap berjelaga jalang. Saya berdiri disebuah tugu bertuliskan Universitas Jember. Sebuah prasasti banal bentuk identitas kedirian Lembaga. Entah apa artinya, namun yang jelas ia berdiri gagah menyambut segenap civitas akademika baik muda maupun purna.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, rumput depan gedung rektorat masih hijau dan air masih sering mampet di masjid Kampus. Menyisiri Boulevard Unej ditengah siang panas adalah tindakan bodoh. Namun seperti usang usia almamater ini, kerinduan akan menyusuri jalan-jalan kampus tak kuasa menahan diri untuk diam dan tidur siang. Sebuah kerinduan yang komplementer dengan rentang waktu kuliah yang tak kunjung usai.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, Tukang Parkir Rektorat tersenyum ramah dan Satpam rektorat garang dengan dada membusung. Seperti biasa jika saya lupa memakai sepatu, satpam depan gedung akan berlagak kuasa dan membentak pedas. Padahal saya yakin, berapa hasil dua kali duaratus dua belas ia tak paham. Tapi apaboleh buat, seperti biasa saya hanya diam. Percuma melawan kebebalan tukang pukul yang digaji atas otot bukan otaknya.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, Fakultas Ekonomi masih saja ranum menggoda dan Fakultas Tehnik gagah perkasa. Saya menghindari panas yang mulai keparat ini dan duduk cangkrukan di fakultas ekonomi. Fakultas surga yang mahal. Semua berlabel harga mulai dari otak, paras, tubuh dan tempat duduknya. Tidak ada yang gratis, bahkan sepotong senyum bisa menjadi komoditas. Saya hanya numpang lewat dan berteduh. Mungkin hanya udara dan jalan yang belum dilabeli harga.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, kafe-kafe masih saja ramai pengunjing dan UKM-UKM sepi berhantu. Saya memutuskan lanjut berjalan kebelakang fakultas Ekonomi. Menuju riuh dan teduhnya Fakultas Sastra yang ramah. Dimana dulu saya ingat sebagai sebuah ranjang ekstasi kreasi seni kampus ini. Berpuisi, berkelindan dengan teater atau sekedar ajang orasi. Tapi entah kenapa ranjang ini mulai keras dan tidak nyaman digunakan. Lelaki tampan dan wanita rupawan mulai menjamah populasi seniman yang dulunya berontak nyaman. Ada sebuah reruntuhan paham disini, saya tidak bisa lagi mengenali penghuni sastra macam Gie, macam Rendra atau macam Chairil. Semuanya terpoles, bergincu dan artificial. Sastra telah menjadi Etalase dan catwalk. Saya terasing.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, saya masih belum paham tuts Blackberry dan percaya Apple Mac hanya mitos kaum urban. Saya memutuskan untuk lanjut bergerak menuju warung Mak No dibelakang kampus Sastra. Disebuah jalan ironis bernama jalan jawa VII. Dekat kampus namun masih ada yang buta huruf. Alienasi atas akses pendidikan boleh jadi kambing hitam, tapi kemana mahasiswa pengabdi dan pendobrak itu? Dalam warung Saya tidak sendiri, mungkin ada 4 orang lainnya. Sangat muda, bersemangat dan penuh energi. Namun tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Gadget telah merengut kesadaran manusia, melempar mereka kedalam monolog paling purba. Egosentrisme teknologi. Dunia terasa jauh lebih baik saat apel dan blackberry adalah buah.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, angin masih saja kejam pada mereka yang ringkih dan mendung menolak datang pada puncak gersang. Saya tak mau menjadi patung di warung Mak No, menjadi yang liyan karena tak bisa memiliki gadget mahal seharga kuliah saya 10 smeseter. hari mulai sore dan senja mulai turun malu-malu. saya berjalan ke barat. Menuju keremangan fakultas saya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. saya masuk dari tembok besar yang menyangga gedung tersebut. Dulu ada pintu kecil, tapi kini sudah tidak ada. harus hilang atas nama estetika. Padahal pintu itu sudah dilewati 10 angkatan FISIP, yang mungkin salah satunya sudah menjadi orang besar. Tapi sekali lagi, apalah arti sebuah pintu dihadapan kebijakan dan peraturan.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, Bu Lek masih tetap cerewet didengar dan kopi pahit hitam itu masih nikmat disesap. Kampus saya sudah semakin dewasa, sudah mulai berbenah. ada kelas internasional, sudah ada kelas ber AC, setiap kelas memiliki proyektor, dan sebuah lapangan basket kini mewujud gagah. Kampus saya semakin tampan, kini setiap mahasiswa boleh membawa mobil dan motor karena parkiran terhampar luas. mahasiswa boleh mengakses internet gratis, dengan laptop tentunya. Tetapi saya masih merindukan masa lalu, duduk diwarung kumuh berdiskusi tentang kuliah sampai malam, berjibaku dengan wacana di lorong kelas dan sibuk mempersiapkan bacaan untuk tugas yang menggunung. saya mungkin adalah artefak masa lalu, manusia yang gagal berdamai dengan romantisme.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, buku-buku Camus masih diperpustakaan tetap berdebu dan antrian pusat komik masih melingkar panjang. Saya lelah dihajar kenangan, mungkin ini waktu yang tepat untuk pulang. Memikirkan ulang arah hidup, berdiksusi dengan masa depan, dan berdamai dengan ego. Bukankah kemenangan diri adalag saat kau meruntuhkan ego demi sebuah kedewasaan? Merayakan kedirian dengan jalan yang paling bijak. Saya sendiri menyusuri jalan FISIP lalu ke perpustakaan yang masih mesra menunggu saya untuk seperti dulu berkutat lama dalam kemesraan yang genit. Mencanda buku-buku tandon yang tak pernah dibuka sejak dibeli, atau sekedar mencumbui sajak-sajak Dante yang tak terbaca. Ia masih disana, berdiri mesra sementara langit sudah tergelincir gelap. Malam sudah tiba dan saya belum dewasa.

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, tuts hitam keyboard Tegalboto masih luntur dan monitor usang hasil hibah masih menyalak terang. Dan inilah saya, mengingat momen saat menjadi bagian dari ribuan mahasiswa baru yang berbaris memasuki ruang kuliah dengan semangat belajar menggebu. Namun akhirnya harus kecewa dipecundangi cita-cita. Adakah yang salah? Mungkin buku dan diskusi yang dusta atau boleh jadi nasib tertukar kejam. Saya masih belum mau menyerah dengan keadaan. setidaknya tidak sekarang dan tidak disini. Tidak dihadapan Tegalboto dan almamater saya. Tidak saat say masih tegak berdiri dan belum runtuh dihantam umur. Menyerah pada keadaan adalah keterpecundangan!

Hari ini seperti lima tahun yang lalu, bulan masih separuh matang di awal minggu dan saya masih sendiri. Bukan sekedar sentimental belaka, ini sekedar share. Saya sudah berada diambang studi yang mereka sebut dengan wisuda. Dan sedang berjuang melawan dilema transisi. Entah ini post power syndrome atau sekedar haus perhatian belaka. Namun kesepian-kesepian paska kesibukan memang pengkhianat paling mutakhir yang bisa diciptakan nalar.