Sabtu, 15 Januari 2011

All you need is lap.

Jadi andai kata begini, kamu yang sedang jatuh, disakiti, teraniaya dan terjatuh kemudian ditinggalkan, dijauhi dan diucapkan kata ‘adios amigos’ oleh orang yang kamu anggap tersayang terkasih dan tercinta. Kamu merasa sedih, perih dan tersapih. Dan serasa ingin menyerah, menyerah pada keadaan yang ada. Lebih baik mati daripada diperlakukan seperti ini. Ya manusiawi kamu manusia, bukan dewa, bukan malaikat, bahkan setan saja punya harga diri ya kan?

Lalu kamu kemudian mengharapkan jalan keluar yang mudah, yang murah, yang efisien, yang gak ribet dan pastinya gak ngerepotin siapa-siapa. Kamu ingin semua yang kamu rasakan itu hilang, tentang perih yang tak tertahankan, tentang sakit yang tak terucapkan dan tentang sedih yang tak terlukiskan. Kamu ingin menukarkan semua rasa itu dengan apapun, ditukar dengan sebuah rasa kosong, sebuah rasa hampa dan mungkin sebuah rasa sepi. Ya manusiawi, kamu manusia, terkadang perasaan yang diberi Tuhan itu begitu khianat.

Dalam keadaan yang terekan menjadi bodoh itu mudah, tapi bersikap cedas itu luarbiasa sulit. Dalam keadaan yang membuat kamu jadi lemah, segala macam kekuatan yang kamu miliki itu malah seakan hilang, seakan gak berguna dan seakan gak berarti. Padahal segala kekuatan kamu itu ada ditempatnya, gak kemana-mana, masih berguna dan masih bermanfaat. Sesederhana kamu lupa, maka hal sederhana yang bisa kamu lakukan adalah mengingat. ‘aku kuat dan aku mampu’ say the magic word, kamu tahu efek kekuatan yang kamu miliki itu bakal meningkat jauh lebih dari apa yang orang bisa bayangkan.

Kamu masih resah, masih gundah, masih tidak percaya, masih takluk dan masih terpuruk. Wajarlah kamu manusia, bukan wonderwoman, bukan superman, dan bukan macan. Kamu manusia sesederhana itu kamu harus menerima kodrat. Tetapi jangan lupa, kamu jadi manusia dengan perangkat yang lengkap, punya otak yang terakhir saya ingat bisa kamu gunakan untuk berpikir, kamu punya hati yang bisa kamu gunakan untuk berbagi dan kamu masih punya anggota badan yang bisa kamu gunakan untuk melawan. Semuanya ada, tinggal bagaimana kamu menggunakan semua yang kamu miliki untuk bangkit dan menyelesaikan apa yang menjadi beban kamu.

Apa sebenarnya salahku, sampai harus mengalami semua ini?’ kamu pasti akan menanyakan hal ini. Itu hal klasik, hal standar dan hal biasa yang selalu diajukan pada setiap orang yang mengalami permasalahan. Tetapi jarang to kamu bertanya, ‘apa yang bisa saya pelajari dari semua ini? Apakah saya akan jadi lebih baik?’ Maka cobalah untuk bertanya dengan pola pertanyaan semacam itu. Karena kalau kamu mampu, kamu akan jadi hebat, jadi luarbiasa dan jadi jagoan. Kalo sudah ahli nanti ajari saya, karena saya sampe sekarang masih ndak bisa begitu.

Cobalah untuk sibuk, cobalah untuk melupakan dan cobalah untuk mengingat. Saat kamu sibuk, kamu akan lupa dan saat kamu lupa, cobalah mengingat segalanya dengan perspektif yang lebih bijak, lebih dewasa dan lebih luas. Karena dalam sebuah permasalahan seringkali relasi yang ada adalah tentang ‘aku sebagai subjek’ bukan ‘aku sebagai objek’. Memang setiap masalah adalah tentang kamu? Belum tentu, seringkali masalah adalah bagaimana kamu menempatkan diri dan memandang masalah itu. Belajarlah untuk memandang lebih luas, karena hidup terlalu sempit jika kamu pikir ‘hanya tentang aku’.

Bayangkan seperti ini, posisikan diri kamu sebagai Jiban, sebagai Sailermoon, sebagai robocop dan sebagai spongebob. Kamu punya kehidupan pribadi, kamu punya masalah sendiri dan kamu punya kebutuhan mandiri. Lalu kamu juga memiliki rasa tanggung jawab terhadap orang lain yang membutuhkan bantuan, yang membutuhkan pertolongan dan membutuhkan hiburan. Berat kan jadi patron? Itulah kamu, tidak ada manusia yang tidak jadi patron. Bahkan Spongebob bertanggung jawab menghibur kita, meski dia sendiri sedang sedih, sedang runyam dan sedang marah. Toh dia tetap melucu dan tetap melawak. Kita tinggal tertawa tanpa mau peduli dengan urusannya. Tenang, wajar kok kalau kita gak mau peduli dengan urusan orang lain.

Orang Belanda bilang voor wat hoort wat, orang jawa pelit bilang jer basuki mawa bea, cukong penjara bilang ada fulus situ mulus. Gak ada yang gratis di dunia ini, ongkos kencing saja sudah naik jadi seribu rupiah di stasiun Gambir. Untuk bahagia kamu harus sedih, untuk senang kamu harus sakit, dan untuk gembira kamu harus menderita. Apa enaknya kehidupan yang senang terus, yang gembira terus, yang bahagia terus? Gak enak, hidup jadi datar. Tubuhmu akan kena diabetes karena kebanyakan makan manis, tubuhmu akan obesitas karena kebanyakan makan enak, kamu akan menopouse dan impoten karena terlalu banyak orgasme. Sesederhana itu hidup, ya buat sekarang susah buat memahami itu, karena kamu masih berpikir, kalo kamu itu orang yang paling menderita di dunia. Hamdan ATT boleh jadi orang termiskin di dunia, tapi orang paling menderita di dunia ya tetap kamu.

Mengasihani diri itu enak, menyenangkan, dan yang pasti melenakan. Kamu akan melihat seribu satu alasan mengapa kamu musti dibantu, musti dihibur dan musti dituruti. Well permasalahanya adalah orang lain juga mengalami masa-masa itu, dan kebanyakan dari mereka sudah tuntas melewati hal itu tanpa banyuan orang lain. Mereka merasa gak punya kewajiban buat menolong kamu, menghibur dan menuruti kamu. Malah kamu itu akan ditertawakan, disindir dan dihina. Kamu itu manusia, punya akal punya badan, kenapa minta bantuan? Ayo berdikari!

Seringkali kamu terjebak dalam dilema satu malam. Apa yang kamu pikirkan sekarang akan seratus delapanpuluh derajat berbeda keesokan harinya. Gak papa itu manusiawi. Soe Hok Gie kamu tau? Salah satu jagoanku pernah melenting hidupnya, tergeletak di titik nadir, mempertanyakan hidup dan perjuangannya. Toh tidak membuat dia jadi fatalis dan mengafirmasi kehidupan sebagai tirani. Dia keluar dari kepompong yang saat ini kamu rasakan dan sukses menjalani hidup.

Hidup adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya tanpa kita bisa mengerti, tanpa bisa menawar, terimalah dan hadapilah’. Itu prinsip Gie, kuceritakan padamu agar kamu paham. Dijagat raya yang maha luas dan Indonesia yang sempit ini, bukan cuma kamu yang sedih dan merasa tersakiti. Banyak orang yang mengalaminya, memang tidak ada stratifikasi atau tingkatan kesedihan, tetapi ada banyak cara menghadapi kesedihan. Kalau kamu diam dan Cuma mengeluh, kamu tidak hanya menyakiti diri sendiri. Tapi juga menyakiti orang-orang yang peduli padamu. Dan kamu tahu? Itu tidak cool, it feel like shit.

Sekarang kamu sudah baikan? Bagus kalo sekalian paham. Kalo kamu pikir ini motivasi. Kamu salah besar, saya sendiri masih bingung sama hidup saya yang berantakan. Jadi cuma orang bodoh yang menyandarkan kepercayaan pada saran orang yang hidupnya berantakan. Ini cuma gumam, ini sekedar celotehan seorang kawan yang gemas atas keadaanmu. Ambil kain lap ini, usapkan pada air matamu. Ya ya aku tahu kain lap nya kotor, bau dan tidak bersih. Sama dengan suasana hatimu sekarang, biar yang kotor, bau dan tidak bersih itu melakukan tugasnya. Membersihkan hatimu. Lalu kamu bisa bangun dan jadi diri kamu sendiri. Proficiat!

Kamis, 13 Januari 2011

Maaf,


“Whether the future is a kind or a cruel god is, of course, its own affair: Humanity too often claps with just one hand” (earth of mankind)

Pada suatu kesempatan Goenawan Mohamad (GM) pernah menulis sebuah surat kepada Pramoedya Ananta Toer (Pram). Kira-kira isinya adalah kekecewaan GM terhadap sikap Pram yang menolak permintaan maaf Gus Dur atas sikap Orde Baru terhadap Pram. Penolakan itu sendiri karena Pram menganggap permintaan maaf itu hanya basa-basi. Dan Pram tak butuh basa-basi, sudah cukup Pram ditindas, diasingkan, dikekang pendapatnya dan karya-karyanya dihancurkan. Dalam banyak hal saya masih percaya, keadilan di Indonesia masih berada entah dimana.
Penolakan Pram inilah yang oleh GM dianggapnya kurang bijaksana, atau dalam bahasa GM ‘telah bersuara parau ketidakadilan’. GM menganggap bahwa Pram sudah melupakan aspek penting dari minta maaf, seseorang seringkali dalam sikap minta maaf itu merendahkan diri untuk memohon. Gus Dur dalam hal ini selaku Presiden, sudah meminta maaf atas nama Pemerintah, pemimpin NU dan seorang yang egaliter. Tak cukupkah itu semua bagi Pram? Lalu siapakah yang benar dalam konteks masalah ini? Entahlah, yang jelas soal ‘Maaf” saya punya pendapat sendiri.
Buat Saya meminta maaf atau memberi maaf itu persoalan mudah. Tinggal berucap, serong tangan, bersalaman, tuntas sudah prosesi maaf itu. Tetapi jauh yang lebih subtantif dari permasalahan Maaf dan Memaafkan itu lebih kompleks, dan jauh lebih kaffah dari yang nampak di permukaan. Maaf membutuhkan tindak lanjut baik perubahan sikap, aksi nyata atau dalam banyak kesalahan ganti rugi atas ketaknyamanan yang dibuat. Karena seringkali (bangsa ini) menganggap semua permasalahan bisa diselesaikan dengan sekedar maaf.
Kemarin (12 Januari 2010) seorang kawan aktifis Migran Care mengirim pesan pada Saya. Isinya seruan untuk patungan sebesar seribu rupiah. Uang tersebut hendaknya akan dikumpulkan dan digunakan untuk membantu kepulangan para buruh migran, yang kini terdampar di sebuah kolong jempatan di Arab Saudi. Sontak saya marah dan kesal, bukan karena ia minta uang. Tapi karena rasa marah atas ketakberdayaan saya selaku manusia, selaku warga negara dan selaku umat beragama. Pemerintah macam apa yang tidak mampu menolong warga negaranya, sampai-sampai rakyatnya diminta patungan untuk membantu rakyat lainnya? Pemerintah yang gagal atau saya yang naif?
Saya adalah manusia, terlepas keberadaan Tuhan, kita memiliki empati dan simpati. Empati untuk bisa merasakan penderitaan orang lain dan simpati untuk ikut peduli atas persoalan orang lain. Tetapi kenapa, permasalahan macam ini tidak lekas kelar? Kemana kepedulian saya dan manusia-manusia lain? Apakah semua hati manusia sudah beku dan mati seperti halnya tokoh Scrooge dalam Crishtmas Carol nya Charles Dickens? Manusia yang hanya peduli pada urusan perut dan citranya sendiri, manusia yang terjebak pada pragmatisme semu hidup.
Sampai detik ini saya masih tercatat sebagai warga kabupaten Bondowoso, yang berada di Jawa Timur, dan kebetulan masih di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dimana mungkin saja saya masih diwakilkan di DPR dan mungkin juga masih dipimpin oleh Presiden. Sepertinya demikian, tetapi entah mengapa saya jadi ragu-ragu. Mungkinkah pemerintah saya ini akan melindungi saya? Mengayomi saya? Mensejahterakan saya? Atau melayani saya? Sementara pada buruh migran yang per Desember 2010 telah memberi pemasukan devisa lebih dari 5,031 milyar dollar, pemerintah tidak mampu melindungi, mengayomi, mensejahterakan apalagi melayani?
Kebetulan saya lahir dalam keluarga yang agamanya islam. Dan kebetulan pula keluarga saya adalah keluarga yang moderat. Tidak dalam artian mengatasnamakan agama dalam legitimasi perbuatan. Masih diberi kelonggaran untuk mencaritahu, memperdebatkan dan mempelajari agama saya. Meyakini konsepsi Syahadat bukan sekedar habluminallah tetapi juga habluminannass. Tetapi buat menolong orang-orang itu kok rasanya berat? Rasanya sulit? Ngapain ditolong? Mereka sendiri yang ke Arab Saudi, jadi TKI gelap. Kalo disiksa ya resiko, kalo mati ya takdir, kenapa saya musti peduli sementara pemerintah aja gak mau tahu.
Malamnya (12 Januari 2010) Menkopolhukam membuat jumpa Pers. Bercerita bahwa Prseiden tidak berbohong. Tentang data kemiskinan, tentang komitmen memberantas korupsi dan tentang penanggulangan mafia hukum. Soal TKI gmana? Seingat saya pada kasus Sumiati, TKI yang bibirnya digunting, tubuhnya disiksa itu, Presiden kita yang katanya terhormat itu pernah bikin janji, mau menangani secara serius. TKI yang terlantar akan dibantu, pengawasan akan diperketat. Tapi sejak tahun kemarin sampai hari ini gak ada tuh buktinya. Ini saya yang goblok atau presidennya yang bohong?
Kembali pada Pram tadi dalam surat jawabannya untuk GM, Pram berujar ‘Orang seperti saya menderita karena tiadanya hukum dan keadilan. Saya kira masalah ini urusan negara, menyangkut DPR dan MPR, tetapi mereka tidak bicara apa-apa. Itu sebabnya saya menganggapnya sebagai basa basi. Saya tidak mudah memaafkan orang karena sudah terlampau pahit menjadi orang Indonesia.’ Barangkali Pram benar, tidak perlu kita percaya pada orang-orang itu, lembaga-lembaga itu. Karena harapan yang kosong seringkali terlalu menyakitkan daripada pukulan fisik.
Pada akhirnya saya kemudian larut dalam ketidakberdayaan dan hanya mampu mengutuk. Melawan dari luar hanya akan membentur tembok, sedangkan menjadi bagian dari sistem sama artinya kita menyerahkan diri untuk dipancung. Keduanya bukan pilihan mudah, saya tidak punya konsistensi mental yang kuat. Mungkin saya hanya bisa mengamini Pram ‘Goenawan mungkin mengira saya pendendam dan mengalami sakit hati yang mendalam. Tidak, saya justru sangat kasihan dengan penguasa yang sangat rendah budayanya, termasuk merampas semua yang dimiliki bangsanya sendiri.

Untuk Jim


Untuk : James Augustine Aloysius Joyce

Di Fluntern Cemetery, Zűrich, Swedia


Hai Jim, apa kabar? Aku berharap kau baik-baik saja dan kukira kini kau sudah senang kan? Berkumpul dengan Nora, kedua anakmu dan tentu saja Stephen cucumu yang keras kepala itu. Tentu saja kau bahagia, segala pencapaianmu yang luar biasa itu hanya sedikit dari kecintaanmu pada keluargamu kan? Jim, Aku ingin sekali bertukar kabar padamu, tapi tentu saja, itu sulit. Kita sama-sama sibuk dalam dunia kita masing-masing, seringkali malah kita berlagak lupa tentang keberadaan kita. Sampai pada akhirnya kepura-puraan itu menjadi kenyataan dan kita benar-benar lupa. Tetapi bukankah itu semua wajar kan Jim?

Aku baru saja menyelesaikan Dubliners Jim, sungguh buatku itu cerita yang konyol. Bukan, bukan maksudku mengejek, kau tentu saja seperti banyak diakui orang lain di dunia adalah seorang jenius. Konyol maksudku adalah, bagaimana mungkin kau menceritakan suatu kota, yang bahkan kau sendiri tidak berada dikota itu saat menulisnya. Malah kau menulisnya dengan sangat baik, lebih baik daripada Bono mengkampanyekan perdamaian dunia. Kau tentu kenal Bono kan Jim? Rocker gaek yang suka pakai kaca mata itu? Jika belum, nanti akan aku kenalkan, kau harus mendengarkan lagunya Jim. Setidaknya lagu-lagu Bono selangkah lebih dekat dengan Tuhan, meski sampai akhir hayat kau menolak mendekati segala hal yang berbau imanen kan Jim?

Jim yang baik, ingatkah kau pada Irlandia? Tanah yang kau cintai dengan cara yang tersembunyi, bahkan jauh tersembunyi sehingga Nora pun merasa kau membenci Irlandia. Tahukah kau? Jika Irlandia kini memiliki pemain sepak bola hebat, ya aku tak tahu kau suka bola atau tidak. Yang jelas, aku Suka Manchester United Jim. Kamu harus suka, cobalah untuk suka. Daripada kau sepertinya hanya diam dalam kebisuan. Kau mencintai Irlandia kan Jim? Hayo ngaku saja, aku tahu Jim. Kamu begitu mencintai negaramu dengan sangat lihai. Jika tidak kau cintai, kau tak mungkin membuat Dubliners, Potrait dan Ulysses dengan latar belakang Irlandia kan Jim? Hayo kau sudah ketauan Jim tak usah mengelak lagi.

Ya biarlah jika kau tak mau mengaku, kau terlalu keras kepala, sangat keras kepala. Tapi sudahlah Jim toh semua orang punya hal yang ingin disimpan sendiri tanpa orang lain yang tahu. Hei Jim apakah kau tahu jika dunia sudah mengingatmu, mengenangmu, menceritakanmu, menafsirkanmu dan menjadikanmu sebuah patron? Santo sastra, ya sekali lagi mungkin kau tidak tahu. Kau tertalu acuh pada hal-hal yang tak kau mengerti. Lagi pula kau hanya ingin menulis ya tho Jim?

Kemarin seorang kawan bertanya tentang apa arti tanggal 13 Januari buatku, sebenarnya kawan itu ingin mengingatkan bahwa tanggal itu aku harus bayar SPP lagi. SPP dari kuliahku yang tak kunjung selesai, Ia menyindirku. Tapi dengan mantab Kubilang bahwa tiap tanggal 13 Januari adalah hari dimana Aku berkirim surat denganmu Jim. Ya meski Aku tahu, kamu tidak akan membalas surat-suratku. Tapi tak apalah, toh kita selalu berusaha meski seringkali hasilnya tidak terduga.

Kawanku itu lanjut bertanya, memang ada apa tanggal 13 Januari. Ya Kujawab, kalo itu adalah hari dimana kau istirahat dari Jagad Pramuditha untuk selamanya. Kawanku rupanya masih penasaran. Memang siapa Kau itu, sampai tiap 13 Januari musti Kukenang. Kubilang Kau itu adalah penulis, ealah dia malah ketawa “penulis kok pakek di inget-inget”. Ya rasanya pengen sekali menyumpal mulut kawanku itu dengan sandal, tapi kok ya kasihan. Toh bukan salah dia juga kalau tidak mengenal dan menghargaimu.

Dengan perlahan kujelaskan bahwa kau itu orang hebat. Ya namanya manusia, berbeda-beda. Apa yang Aku anggap hebat ya belum tentu hebat untuk orang lain. Contohnya ya kawanku ini, standar hebatnya adalah punya motor terbaru dengan modifan paling kinclong, jago disko di kelab malam, atau lulus kuliah lantas jadi PNS. Ya biarlah Jim, orang kan bebas berpendapat. Seperti yang kau gambarkan lewat Stephen Dedalus dan Leopold Bloom yang saling bertolak belakang itu kan Jim. Seolah-olah kau hendak berkata ‘tidak ada orang yang benar-benar bersih dan tidak ada orang yang benar-benar kotor’.

Kawanku itu rupanya penasaran denganmu Jim, penasaran bagaimana Kau itu bisa mempengaruhi dunia dan Kujelaskan pula bahwa seorang manusia itu selain dikenang hidupnya juga dikenang Karyanya. Jika kamu tak bisa membuat sejarah, maka catatlah namamu dalam sejarah. Kubilang begitu pada kawanku itu Jim. Pusing sekali katanya Jim, omonganku mungkin terlalu bertele-tele dan berawang-awang. Entahlah padahal Aku bicara dengan sederhana. Kawanku itu mendesak lagi Jim. ‘ceritakan padaku tentang Joyce’ katanya. Aku jadi bingung, mau memulai darimana. Karena banyak buku yang membahas tentangmu tiap tahun terbit, ratusan skripsi atau karya ilmiah sampai sekarang, masih tak habis menjelaskanmu Jim. Lalu apalah aku ini jika dipaksa bercerita tentangmu?

Sedikit berkilah Aku bercerita tentang Homerus sang penyair The Odyssey dan The Illiad. Kuceritakan padanya tentang puisi epik panjang karya penyair buta dari Yunani itu. Karena Aku tahu Jim, kawanku yang bebal ini tergila-gila pada kisah Troy yang dimainkan oleh Brad Pitt. Ya meski Aku curiga Kawanku itu tak suka cerita Troy, tapi suka pada perut bidang Brad Pitt tapi sudahlah. Nah kubilang pada Kawanku itu tentang Odessey si cerdik yang berhasil merayu Achilles untuk perang dibawah pasukan Agamenmon. Nah tokoh cerita epik inilah yang kemudian menjadi bahan dasarmu untuk membikin Ulysses, mahakaryamu itu. Ya memang agak mbulet dan ribet, tapi terkadang susah sekali menjelaskan hal sederhana pada orang bebal.

Awalnya Kawanku itu manggut-manggut Jim, saat kutanya apa dia ngerti, ealah malah nyengir dan geleng kepala. Tiwas kataku dalam hati, manusia seringkali terlalu sombong dalam kebebalannya. Padahal ketidaktahuan adalah awal dari usaha terhadap pemahaman. Kawanku inilah contohnya, prototipe manusia dari bangsaku Jim. Manusia yang memuja citra, pecinta budaya massa dan bebal terhadap literasi. Bangsa yang seringkali lupa untuk belajar, membaca dan merenungi hidup lewat pengetahuan. Wong bagaimana mau membaca, sekolah aja maen-maen.

Dengan perlahan dan hati-hati kujelaskan pada Kawanku itu tentangmu Jim. Tentang James Joyce, pengarang hebat yang telah membuat banyak karya. Mulai dari Dubliners, A Potrait of The Artis as A Young Man, Exiles, Finegans Wake dan tentu saja Ulysses. Kubilang padanya Dubliners adalah sebuah kumpulan cerpen tentang kehidupan dan perilaku orang-orang di Dublin Irlandia. A Potrait of The Artis as A Young sendiri adalah kisah perjalanan Stephen Dedalus di Dublin juga. Dan mahakaryamu Ulysses, tentang petualangan Leopold Bloom yang menelusuri kota Dublin yang dibagi menjadi 18 bab, mirip dengan Odessey milik Homer.

Kawanku itu lantas bertanya, apa menariknya? Maka kujelaskan lagi bahwa, karyamu Ulysses memperkenalkan sebuah teknik menulis yang boleh dibilang jarang pada jaman itu. Stream of Consiussness, arus kesadaran, dimana secara menyeluruh tehnik ini mengaburkan deskripsi antara narasi, pemikiran tokoh, kesan sesaat, sensasi, dan alur cerita. Kira-kira begitu, toh aku yakin dia gak bakal paham. Kubilang metode ini kau Gunakan pada karakter Molly Bloom, istrinya Leopold, yang pada 40 halaman Ulysses meracau tentang kenikmatan senggama, pemikirannya, deskripsi fungsi kelamin dan sensasi yang ia rasakan.

Setelah kujelaskan panjang lebar Kawanku itu kemudian berdiri dan berlalu. Ia berucap ”ealah tak pikir sopo, gak penting blas, mending delo’ Uya Kuya, lucu”. Anjing, orang udah capek-capek jelasin, malah gitu komentarnya. Tapi ya sudahlah Jim, sekali lagi kubilang. Bahwa semua orang berhak memilih siapa idolanya, berhak memilih jalan hidupnya dan juga berhak menjadi siapapun yang ia kehendaki.

Mungkin Aku pribadi mesti berterima kasih pada Sylvia Beach pemilik Shakespeare and Co. Jika ia tidak iseng menawarkan diri untuk mencetak Ulysses, Aku tidak akan mengenal kau Jim. Dan dunia tidak perlu pusing memecahkan apa maksud dan teka-teki yang ada dalam Ulysses. Aku sendiri sedang menunggu Ulysses untuk diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Karena sedikit sekali karya sastra bermutu yang diterjemahkan dalam bahasa kami. Tidak seperti Jepang yang setiap ada buku baru. Dalam waktu sebulan pasti ada terjemahan dalam bahasa Jepang. Ya gini nasib jadi warga negara dunia ketiga.

Maaf ya Jim, seperti yang kau tahu. Negaraku, ya negara yang banyak konter pulsa dan pedagang baksonya ini adalah negara sederhana di asia tenggara. Wuits jangan asal mengira, negaraku ini kemarin dinobatkan sebagai negara maju, bukan negara berkembang lagi. Dan tentu Kau tau Borneo kan? Itu loh pulau yang kau sebut dalam Ulysses “This sister of the wild man of Borneo has just come to town”. Nah Borneo itu adanya di Indonesia. Yap Indonesia, negeri yang pernah disinggahi Neruda dan dijajah oleh Daendlles.

Sebenarnya Aku malu mau bercerita tentang Negeriku Jim, bukan, bukan karena rakyat kami yang suka menebas leher saudaranya atas nama agama, atau sepak bola kami yang luluh lantak karena megalomaniak pemimpinya, atau karena kami memiliki badan lesgislatif setingkat dibawah septic tank. Bukan Jim, bukan karena itu semua, tapi lebih karena, kau jangan tertawa yah, ya karena bangsaku tidak suka membaca dan buku itu barang yang tidak lebih penting daripada gincu. Di negaraku, khusunya para kaum mudanya, beriman pada satu pemikiran. Boleh goblok asal Gaul. Ya silahkan tertawa, silahkan. Aku tahu selepas kau membaca ini Kau pasti akan tertawa terkencing-kencing.

Negaraku bukan Irlandia Jim, bukan pula Swiss. Disini seorang penulis, betapa pun hebatnya dia tidak akan pernah dihargai apalagi diabadikan dalam mata uang. Jangankan mata uang, perangko pun aku ragu. Ya memang penulis di Negeri kami tidak ada yang pernah mendapatkan hadiah Nobel Sastra. Tidak seperti Irlandia yang memiliki William Butler Yeats atau Samuel Beckett atau Seamus Heaney. Tidak kami tidak memiliki peraih Nobel, tapi kami punya Pramoedya Ananta Toer, kami punya W.S Rendra, kami punya Chairil Anwar, Kami punya Romo Mangun, Kami punya Umar Kayam, dan kami punya sederet nama-nama penulis lain yang aku yakin bisa meraih Nobel. Ya memang gak dalam setahun dua tahun lagi, tapi nanti pasti dapatlah. Kalau sudah ada yang dapat, Kau akan Kukabari Jim

Biar kukisahkan kau sedikit tentang Pramoedya Ananta Toer. Dia itu sepertimu Jim, keras kepala, mencintai istri dengan sepenuh hati dan Ia humanis. Jika kau bisa bikin Dubliners, Pramoedya bisa bikin Cerita dari Blora, jika kau bikin a potrait of The Artist as a Young Man, Pramoedya bisa bikin Bukan Pasar Malam dan jika kau mampu membikin Ulyssys maka Pramoedya bisa bikin Tetralogi Pulau Buru. Haha! Jangan kau pikir bangsa kami yang udik ini tak bisa bikin karya sastra ya, sori-sori Jim jangan salah! Nanti liat saja, kau pasti akan liat karya dari bangsa kami. Karya orisinil yang bebas dari pertentangan kelompok. Mungkin tidak sekarang tapi entah nanti.

Ya sudahlah Jim, segini dulu Surat yang hendak kukirim padamu. Aku mau lanjut bikin skripsi, eits maaf ya. Aku gak mau dengar kuliahmu tentang pendidikan, kamu aja gak lulus kuliah mau ngajari aku yang mahasiswa ini, catat MAHASISWA, bergengsi, intelektuil dan agent of change. Ya meski belum bisa bikin karya semacam Ulysses, setidaknya Aku mau lulus kuliah dan punya gelar sarjana. Haha! Iri kan? Makanya dulu kuliah yang bener, jangan suka Mabok! Baiklah Jim, Aku pamit, salam untuk Nora dan keluargamu yang lain. Tabik.

N.B “I’ve put on so many enigmas and puzzle that it will keep the professors busy for centuries arguing over what I meant, and that’s the only way of insuring one’s immortality.

Pengantarmu dalam Ulysses ini asu sekali Jim.

Salam koprol, A.D.B.H

Minggu, 09 Januari 2011

Untuk R yang baik dan keras kepala



Ijinkan aku menulis surat pendek yang isi didalamnya adalah barisan kekagumanku pada semua pesonamu yang sederhana. Tentang rindang indah suaramu, dahimu yang teduh, rambutmu yang lembut, tingkahmu yang menggemaskan, kudusnya suasana saat kamu merajuk, sifat manjamu yang tulus dan betapa dalam senyummu, Tuhan menitipkan riuh sabda pesona Hawa.

Kutulis surat ini dalam lantunan nada Erik Endarto, lagu sederhana tentang salah persepsi, tapi bukankah itu tak penting R? Karena semua hal yang akan kutulis adalah tentangmu, tentang sepetak cahaya indah yang memancar dari matamu yang lugu.

Di luar hujan turun dengan ramai R, seolah gemas menungguku bergegas bercerita tentangmu. Sesekali langit mengirim geletar petir putih di pematang sawah, dimana camar, kadal, kodok dan pak tani sedang santai mendengkur. Dan angin pun tak mau kalah mendesau jalang, diterbangkannya segala bungkus rokok, kutang, kupon togel dan lembar-lembar skripsiku.

Apakah yang sedang kau lakukan R ? Apakah kamu sedang memasak Indomie ? Apakah kamu sedang memikirkan indah gaun malam Chanel ? Atau kamu masih saja mendengar sajak kecil Yellow Chris Martin dan berharap ia datang ke depan pintu kamar kosmu mendendangkan lagu itu seolah kau adalah Gwyneth Paltrow ? Entahlah Tapi semoga kau baik-baik saja disana dan yakinlah R, semua gemintang cahaya langit memang hanya bercahaya untukmu.

Kutulis ini surat ini dengan sendu R, bukan karena sedih, karena entah mengapa setiap kali aku mengingat senyummu itu, kehendak mataku tak mau tunduk lalu mengalirkan semacam getaran, yang centil, yang manja dan cerewet.

Sementara kudengar hujan hujan tak lagi badai, namun perlahan menjadi gerimis yang damai, dan cahaya matahari subuh lambat naik di jalurnya. Secara tangkas ia membagi adil cahayanya dibilik bilik bumi, diatas pondok, di pinggir kali dan sepetak sawah. Tetapi sekali lagi bukankah itu tak penting untukmu R?

Sepetak sawah yang gugup disinari matahari subuh mungkin tak begitu menarik untukmu R. Sama seperti semua kabar yang dibisikan tipiwan, tentang harga cabai yang melambung, Nurdin Halid yang menolak mundur, cerpen-cerpen Djenar maesa, buku baru Goenawan Moehamad, album baru Lady Gaga, bau kentut atau warna kulit tembok yang semakin memudar…

Apakah kamu tahu R, kita bisa saja SMSan seperti biasanya, begitu biasa, seperlunya, berbasa basi, aku mengirim pesan gombal, kau membalas karena kesal, atau bahkan itu adalah sejawat sikap dermamu padaku. Berbuat baik pada pria gendut kasmaran – tapi, kali ini biarkan aku menulis ini untukmu, demi sesuatu yang bisa kau ingat. Sebuah hal kecil yang melahirkan kenangan. Siapa tahu, karena kenangan adalah benda paling kejam yang bersembunyi pada bilik-bilik perasaan manusia. Dan aku berharap saat kau mengenangku, mengenang tentang sebuah perjuangan untuk mengagumi keindahan ciptaan Tuhan. Dan itu kamu R.

Siapa tahu. Kita kan boleh berharap segala sesuatu yang paling kecil, paling sepele, paling tidak penting, tapi mungkin indah bagi kita berdua, bisa tetap tinggal abadi ? Seperti daun melayang tertiup angin, yang kita tidak tahu lagi di mana, namun masih tetap tinggal indah dalam kenangan kita.

Kukira kamu masih ingat sepotong waktu di depan angkringan itu R. Dalam taburan hujan abu merapi yang mempertemukan kita, mempertemukan nasib dan kita dalam sebentuk jaring laba laba bernama kenangan. Entah apa yang kau pesan saat itu R, karena waktu, cahaya, warna dan perasaanku berhenti bekerja, saat aku sesekali mencuri pandang padamu. Betapa segala teorema energi waktu dari Einstein, Hawking ataupun James T Kirk tak berguna dihadapan pesonamu.

Begitulah memang aku ketemu kamu R, di sebuah ruang di bagian semesta yang gelap di mana waktu tak tercatat, seperti bisikan, di mana kita hanya saling menyentuh, dan tak selalu ketemu, tapi bisa saling merasa, dan dengan itu toh bisa membangun dunia kita sendiri. Dari kelam ke kelam kita arungi waktu R, dan dengan gumam perlahan-lahan karena ruang bukan milik kita, dan setiap orang selalu merasa punya kepentingan yang sama besarnya. Barangkali juga karena kepentingannya jauh lebih besar dari urusan kita. Bisakah diterima perasaan kita begitu penting untuk sebuah kota yang gemerlapan di mana senja tiada artinya ?

Awan serak yang membawa serta hujan itu sepertinya betah berlama-lama hinggap diaatas rumahku R. Mungkin ia ingin turut serta memastikan detik-detik yang berlalu saat ini adalah usahaku untuk mengisahkanmu. Mungkin dia curiga, cemburu dan penasaran, tentang bagaimana aku akan menggambarkanmu R. Awan yang sejak semalam hingga saat ini dengan setia mengintai dibalik atap genting bocorku yang sudah selama ini kubiarkan menganga, tak apa toh itu tetap tak penting buatmu kan R?

Sinar matahari pagi juga mulai datang R, sinar yang mungkin kamu luput temui jika bangun kesiangan. Lalu mengumpat karena hari itu kau ada jam kuliah dan presentase video bersama kelompokmu yang menyebalkan, tapi tetap kamu cintai dengan tulus. Beruntungnya mereka, karena andai saja aku disana, aku ingin dicintai kamu dengan secukupnya saja, tidak berlebihan. Barangkali aku hanya harus merasa semua ini sudah cukup, dan bersyukur karena sempat mengalami saat-saat yang indah. Saat secara wajar kita berkenalan. Dan Seperti itulah perasaan kita ketika memandang matahari subuh yang jujur dan pekat, meresapi keindahan sewajarnya.

R yang berlesung pipi paling juara di Jawa,

Barangkali memang kita memang tidak usah terlalu peduli dengan semua ini. Karena serbuk-serbuk perasaan yang tersisa, juga telah lenyap ditiup angin bercampur baur dengan debu yang berterbangan, yang hanya kadang-kadang saja akan kita kenali kembali, jika arah angin menuju ke arah kita. Perasaan-perasaan yang akan membuat kita berkata : ” Aku seperti pernah berada di sini, pada suatu masa entah kapan , dari masa lalu atau masa depan.” Memang banyak hal yang tidak harus kita mengerti R, ada saatnya kita tidak harus mengerti apa-apa, tidak perlu memaklumi apa-apa dan tidak perlu menyesali apa-apa,

Tapi ya biarlah, que sera-sera, kita simpan saja sedikit kenangan tentang pertemuan pertama kita itu. Biarlah mengendap jika kau ingin buang, silahkan buang R, karena mungkin kenangan itu tak lebih berharga dari ingatanmu tentang senin, sroto koya dan pengalaman pertama naik motor melintasi Kudus. Bukankah kita cukup bahagia, meskipu hanya sekedar menyapa ?

Karena sekedar kata ‘hai’ atau ‘helo’ tidak akan menyakiti begitu banyak. Seperti halnya begitu banyak bencana yang datang, tentang ruang dan bumi yang selalu mengeluh. Begitu banyak kepedihan di jalanan, darah berceceran, dan kita begitu sibuk dengan perasan kita sendiri — tapi apalah salahnya ? Aku sering berpikir tentang betapa fana hidup kita. Sepotong riwayat di tengah jutaan tahun semesta. Dua orang di belantara peristiwa. Apakah kamu sempat bertanya R? Mungkinkah kita masih punya arti, dalam ukuran tahun cahaya ?

Aku pun sering tergagu dalam sekelebat pertanyaan, tentang apa maksud kita hidup, atau kali ini tentang arti pertemuan kita ? Tentang nuansa Jogja yang pilu, tentang angka 13/11/2010, tentang kecintaanmu pada Coldplay, tentang persahabatanmu yang tulus, cintamu pada ibu, tentang empati yang mempertemukan kita. Semuanya kabur, tak pernah tamat, tak pernah lunas dan tak mungkin termaknai secara tuntas – namun siapa juga yang menuntut semua ini sempurna?

Kita sudah tahu semua ini memang tidak bisa jadi apa-apa, dan barangkali memang tidak perlu menjadi apa-apa. Kita toh sudah senang meski hanya saling memandang, dan menengok segala penyesalan sebelum pertemuan, dan tahu memang tidak ada yang bisa disalahkan, sehingga kita memang tidak perlu bertanya, ” Kenapa harus jadi begini ?”

Ya sudahlah, mau bagaimana lagi? Hidup barangkali memang seperti sinetron, barangkali seperti itulah hidupku R – seperti sinetron. Dari satu tragedi ke tragedi lainnya, dari satu ironi ke ironi lainnya, dari satu elegi ke elegi lainnya. Dengan satu episode berbeda setiap kali pulang dan berangkat, sementara aku tidak punya banyak kuasa untuk menentukan endingnya.

Kudengar suara cicit tikus di atas atap, suara siul burung belibis dan derik jangkrik yang mulai hilang. Barangkali kamu juga mendengarnya R, begitu riuhnya pagi ini, seperti tidak ada lagi ruang untuk do’a-do’aku yang sampai padamu. Sementara Gedung-gedung terus tumbuh ke atas, hanya untuk menampung manusia. Mereka semua akan menjadi bagian dari Sinetron itu R, sinetron dengan musim yang baru tentang orang-orang yang terus-menerus memburu sensasi dalam hidupnya. Barangkali, ya barangkali, kita memang harus berpesta sebelum tenggelam dalam sebuah perkabungan yang panjang.

Aku disini saja R, menulis pesan untukmu, disalah satu gubuk di pinggiran desa yang temaram dan sejuk. Pastilah hidup ini mengaharu biru R, sangat sering membuat kita lupa pada kebahagiaan. Atau bahkan sebaliknya? Hidup adalah riuh ramai pasar malam yang menenggelamkan kita dalam sesak umur yang tak seberapa? Entahlah, Aku malas memikirkannya R, karena sejak semalam tadi Aku terus menulis pesan ini untukmu R. Sekedar seremoni pada keagungan Tuhan yang telah menciptakanmu begitu sempurna, ode pada gairah hidup dalam sepiring tempe mendoan, atau bahkan bisik lirih dzikir atas album baru Pure Saturday.

Mungkin aku sekedar mencoba merasa bahwa kehidupan yang fana itu masih ada, masih menggerakkan serat-serat halus perasaan kita, sekedar untuk membuktikan bahwa kita belum menjadi dodol yang lumutan.

Jika saja aku bisa mengatakan pesan ini langsung pada hatimu R, aku akan melakukannya, seperti geletar sifat hangat yang tersublim dalam cahaya mentari pagi ini R, yang setiap hari kita rasakan tanpa mengenali rupa kehangatan itu. Tetapi aku tak bisa melakukannya R, aku hanya bisa berceloteh dalam pesan ini, karena kamu tahu, seringkali aku tak mampu berbicara lancar dihadapan wanita, barangkali agak kacau dalam berkata-kata, tidak seperti dalam pesan ini, aku bebas berkata dan mengumbar perasaan dengan leluasa. Maafkanlah aku R, barangkali aku memang tidak dilahirkan untuk dapat menikmati kebersamaan berdua dengan wanita tanpa melakukan hal kikuk bodoh.

R yang manis, yang baik, anggun dalam kesederhanaan

Diluar matahari pagi sudah beranjak remaja, dan tiba-tiba aku merasa ringkih. Cahaya merah keemasan yang perlahan menjadi kuning terang bagaikan akhir dari sebuah episode sinetron yang karam. Dimana perlahan-lahan tokoh utama cerita telah busuk dimakan kebahagiaan dan kenyang diludahi kegetiran, sementara tunas-tunas mudan yang ranum telah siap secara seronok untuk tampil kehadapan panggung kehidupan ini.

Sementara aku masih disini R, masih dalam petak sempit gubug di tengah cakrawala peradaban bit dan nir kabel. Di kejauhan aku mulai menangkap desir suara pabrik-pabrik motor yang mulai menguapkan mesin mereka. Entah mengapa kebisingan yang mulai ramah ini tak mampu mengalihkan ingatanku tentangmu R. Apakah aku harus nekat datang ke Banjar, dengan sebelumnya kursus intensif untuk memahami frase dan segala imbuhan dalam bahasa Banyumasan? Entahlah R, aku masih takut untuk memulai. Bukankah segala hal yang pertama, membuahkan luka?

Aku sudah capek R, capek memanjakan perasaan. Barangkali memang sudah waktunya kita harus menjadi kejam kepada diri kita sendiri. Membiarkan perasaan kita menggelepar seperti ikan, dan mencoba hidup bersama dengan kenyataan. Masalahnya, apakah kenyataan mau hidup sama kita ?

Sementara dalam pikiranku yang paling liar, aku meyakini jika umurku tak akan sampai 30. Dan aku akan meratap disisa umurku dalam kesendirian, mematung tanpa kawan dan sesekali rambutku rontok karena uban. Atau jangan-jangan aku akan mati dan melupakanmu R, secara tersembunyi menikmati kehidupan yang merangkak gelap, ketika aku sedang menulis pesan untukmu.

Baru saja secercap aroma terhidu R, aroma sambal terasi dan ikan asin yang dibungkus dalam daun jati. Apakah kau cukup makan selama ini R? Apakah kau cukup istirahat? Dan apakah migrain keparat itu sudah lekang menggodamu lagi? Karena memang kamu yang selalu, selalu, dan selalu kukenang dan kucemaskan. Ah—sedang apa kamu R, sedang duduk melamun sendirian atau pusing membikin laporan ? Apakah kamu masih minta ditemani untuk buang air di tengah malam, sementara langit-langit malam begitu santun menjagamu dari gelap ? seandainya aku bisa sekali menunaikan tugas suci itu. Seandainya R, bolehkan aku berharap? karena harapan tak selalu mahal R.

Inilah suratku R, surat seseorang yang menyandarkan kehidupannya pada kenangan, dan kenangan itu adalah kamu. Kita semua memang menjadi tua R, tak apa, langit diluar menjadi biru, terang dan muda – tapi siapakah yang akan merasa kehilangan ? Kita tidak akan pernah pergi ke mana-mana R, percayalah, kita, kamu dan aku, akan tetap tinggal di sini, saling mengenang ketika hujan tiba, selamanya, karena aku telah menulis surat tentang kita, dalam huruf-huruf yang membentuk kata-kata cetak, yang tidak akan pernah hilang lagi untuk selama-lamanya.



*) sebagian kata dan paragraf dikutip dari Novel Seno Gumira Adjidarma ”Jazz Parfum dan Insiden”,

Tentang wanita yang mencintai kesunyian bernama Toer


Barangkali dalam hidupnya yang luarbiasa, Pramoedya Ananta Toer, hanya mencintai dan membuka diri sebagai mahluk komunal secara utuh pada istri keduanya Maemunah Thamrin.

Kemarin saya membaca sebuah kabar dari akun Twitter milik Saut Situmorang. Kabar tersebut adalah kabar kematian Maemunah Thamrin. Istri dari almarhum Pramoedya Ananta Toer, saat itu saya kaget sekali. Sesaat setelah memanjatkan doa, kabar itu saya teruskan di Twitter dan Facebook milik saya. Tanggapannya bermacam-macam, seorang kawan di Makasar dan Jakarta turut mengkonfirmasi kebenaran itu. Saya membenarkan kabar kematian tersebut. Yang lain hanya bisa memberi jempol tanpa ikut berdoa, semoga Allah mengampuni jempol orang-orang tersebut.

Saya pribadi tidak mengenal Maemunah Thamrin secara jelas. Karena ia bukanlah sesosok pesohor macam Shinta Jojo atau Lady Gaga. Bukan pula penyair atau sastrawan. Ia hanya seorang wanita luarbiasa yang mirip dengan ibu saya. Sesederhana itu. Saya sendiri mengenal (wajah) Maemunah Thamrin dari sampul dalam Buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu jilid II. Dan dalam beberapa bagian buku tersebut terdapat fragmen-fragmen yang menggambarkan Maemunah Thamrin sebagai wanita dengan kualitas kebaikan dan ketabahan tanpa banding.

Dalam hidup saya jarang sekali mengenal wanita-wanita tangguh yang mempunyai mentalitas seperti baja. Selain Ibu dan sahabat saya Ning, wanita yang saya kenal cenderung menye-menye dan berkualitas sandal jepit. Diam saat diinjak dan putus jika digunakan lari. Maemunah dalam banyak kesempatan, digambarkan sebagai perempuan kelas wahid yang mau mengerti dan tabah dalam menghadapi hidup. Pramoedya Ananta Toer boleh jadi dikenal sebagai sastrawan hebat yang berkali-kali dinominasikan sebagai peraih Nobel sastra, tetralogi Pulau Burunya laku dan dicari banyak orang. Tetapi awal-awal kehidupan penulisnya kondisi tak lebih baik dari anak jalanan. Miskin dan sakit-sakitan.

Kehidupan Pram yang keras dan susah ini, digambarkan dari karyanya Cerita Dari Blora dan Bukan Pasar Malam. Sehingga bolehlah kiranya kita menganggap bahwa kerasnya pendirian Pram dalam hidup, ditempa oleh pengalamannya semasa muda. Yang mungkin oleh Istri pertamanya salah ditafsir dan dimaknai sebagai hidup yang tak berguna dan sengsara. Dalam banyak kesempatan Pram menggambarkan istri pertamanya dengan kurang baik. Seperti “merongrong suaminya karena kurang keras bekerja” atau dalam Bukan Pasar Malam mata yang dulu bagus dan yang kini tak menarik hatiku lagi itu”. Tetapi sudahlah, kita tidak sedang mengenang Istri pertama Pram.

Disisi lain Pram, begitu santun, kasmaran, dan sangat centil menggambarkan Maemunah sebagai Istri yang sempurna. Kepada putri ke Empatnya Astutiek atau Tieknong, dalam sebuah surat, Pram menceritakan awal pertemuannya dengan Maemunah. Saat itu Maemunah menjaga stand buku Toko Gunung Agung. Dalam sebuah fragmen Pram berkata “Pertemuan dan perkenalan dengan ibumu membikin semangat hidupku bangkit kembali. Dengan dia aku akan hidup.” Sebelumnya Pram yakin bahwa ia akan mati sebelum umur 30, namun kini ia menemukan bara kehidupan baru. Seakan hidup Pram yang kedua dimulai pada saat ia bertemu dengan Maemunah.

Saat berkenalan dengan Maemunah ternyata Pram tidak mengetahui perihal siapakah Hadji Abdulah Thamrin, Ayahanda Maemunah yang juga saudara dari M.H Thamrin itu. Apalagi perihal kekayaan Ayahanda Maemunah yang banyak memiliki rumah di Jakarta saat itu. Maemunah pun tampaknya tidak begitu peduli dengan materi, karena dengan Pram ia tidak berbagi cerita tentang kekayaannya. Barangkali itu pula yang membuat Pram jadi Kasmaran. Dalam hal ini Pram menggambarkan perasaannya “Seakan-akan kami berdua bertemu sebagai orang yang tak punya sangkut paut dengan apapun. Hubungan kami Polos, tanpa sesuatu syarat, suatu hubungan yang sederhana, indah tanpa Pretensi.”

Dalam banyak kehidupan penulis dan pengarang besar, peran seorang istri memang sangat luar biasa. Bahkan beberapa penulis mengabadikan kisah pertemuan dengan istrinya dalam suatu cerpen atau novel, dan kisah itu malah jadi suatu magnum opus. Sebut saja James Joyce dengan istrinya Nora yang kemudian melahirkan Ulysses atau Tolstoi dan Sofya Tolstaya istrinya dalam kisah Karzak dan Penyerbuan. Pram sendiri kemudian mengabadikan kisah pertemuannya dengan Maemunah kedalam cerpen ‘Sunyi Senyap di Siang Hidup,’ sayangnya saya belum beruntung untuk dapat membaca karya tersebut.

Kehidupan mereka bukannya lancar jaya atau indah seperti kisah Cinderela. Malah mungkin sangat dramatis, lebih dramatis dan emosional daripada cerita-cerita bikinan Punjabi. Kehidupan mereka menggambarkan kehidupan kebanyakan orang Indonesia pada tahun 50-60an. Keras dan sulit dalam menghadapi kehidupan sebagai warga negara yang baru merdeka. Ajip Rosidi yang sempat sangat dekat dengan keluarga Pram menggambarkan kehidupan pengantin baru itu dengan sangat lihai, ia berkata “Saya sering mengunjungi Pram dan Maemunah di rumah petaknya…hanya satu ruangan tidur…dapur, berlantai tanah. Bagian depan rumahnya memakai Ram kawat…yang biasa dipakai untuk kandang ayam.” Bukan kehidupan yang ideal bagi pasangan Newly Wed, saya sendiri tidak yakin bisa hidup semacam itu.

Ajip Rosidi juga mengagumi sikap menerima dan ikhlas yang dijalankan oleh Maemunah dalam menghadapi kualitas kehidupan seperti itu. Ia berkata “namun tidak pernah terdengar ia mengeluh karena memilih pengarang melarat sebagai suami.” Karena perlu saya dan anda catat, saat itu Maemunah adalah putri seorang juragan tanah yang kaya raya dan memiliki banyak tanah. Namun ia tidak menuntut banyak kepada Pram, ia juga menerima sikap keras kepala dan idealis Pram yang tidak mau menerima belas kasihan orang tuanya, malah memberikan kebebasan sepenuhnya para Pram. Untuk sikapnya ini Pram dengan gemas berkomentar bahwa, sikap semacam ini sebagai suatu hal yang justru dilawan oleh women’s liberation Amerika serikat!

Setelah menikah dengan Maemunah, kehidupan Pram yang berantakan paska becerai dengan istrinya boleh dikatakan semakin membaik. Ia mulai makan dengan teratur meski hanya nasi dan lauk garam. Mulai mampu memperbaiki rumah petaknya itu. Mampu mengganti kendaraan dengan lebih baik. Lalu akhirnya mampu membangun rumah sederhana meski dengan bantuan Haji Thamrin ayahanda Maemunnah. Maemunah dengan kesabaran besar mendampingi Pram melewati itu semua. "Maemunah menemaniku melewati kemiskinan yang luar biasa" kata Pram pada anaknya yang sekaligus menepis anggapan bahwa Maemunah telah merebut Pram dari keluarganya.

Maemunah sendiri adalah sosok perempuan sederhana yang tidak neko-neko. Setiap hari ia bekerja selayaknya ibu rumah tangga. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada pemikir Feminis, Maemunah kerap kali hanya diam dan diam saat kondisi rumah tangganya dengan Pram sedang mengalami kesulitan hidup. Meski susah ia tetap mencuci pakaian milik Pram 2 kali sehari, memasak, dan merawat anak-anak Pram tanpa sekalipun tercatat ia pernah menuntut atau marah terhadap kondisi keluarga. Dari akun FB salah satu murid Pram, Muhidin M Dahlan, saya membaca bahwa Maemunah atau yang ia biasa sebut sebagai 'Oma' malah pernah berkelakar "Pram nggak boleh tahu dan ngurusi soal dapur".

Setelah membaca proto-biografi Pram Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, saya baru menyadari peran Maemunah. Ia adalah semangat hidup dan mercusuar keyakinan Pram. Lastmi Pamuntjak malah menuliskan jika “Kehadiran Maemunah Thamrin yang setia, tabah dan manis budi, bagi Pramoedya bagaikan matahari yang terbit di ufuk timur itu”. Yang saat berada dalam penjara di Roemah Tahanan Chusus (RTC) Salemba, Maemunah menemani dengan begitu sabar.

Bahkan saat mengalami pengasingannya di pulau Buru, Pram yang seorang individualis tulen itu, meminta agar Maemunah menikah lagi dan rela menceraikannya. Karena Pram sadar betul, dalam pemerintahan fasis Soeharto, entah kapan ia akan bebas. Jawaban yang diberikan dan sikap yang ditunjukan oleh Maemunah sangat mengiris-iris hati. Lebih mengharukan daripada momen dimana Nurdin Halid memutuskan mundur dan melakukan Harakiri.

Maemunah dengan telaten merawat ke anak-anaknya, meski ia tahu ia bersuamikan orang yang dicap sebagai antek PKI. Dalam surat Tieknong kepada Ayahnya di Pulau Buru, tanpa sengaja ia menceritakan betapa heroiknya Maemunah. Bahwa Ibunya itu menuntut agar Tieknong terus belajar keras, sehingga bisa sekolah di Sekolah Asisten Apoteker, bahwa kelak jika memiliki uang, Tieknong dan Yudi bisa berangkat ke pulau Buru untuk menjenguk Pram, bahwa, Ibunya dengan lembut melindungi fakta penangkapan Pram dengan penjelasan yang masuk akal, dan meyakinkan pada Tieknong dan adik-adiknya ia tak perlu malu menjadi anak Pram malah seharusnya Ia bangga. Buat saya itu adalah sikap paling manis dan sayang ibu paling hebat sepanjang masa.

Dan inilah saya mengenang ‘Oma’ yang tidak pernah saya kenal dan temui. Hanya merasakan rasa cinta dan kedekatan yang begitu rupa karena gambaran kecil melalui tulisan-tulisan yang ada tentangnya. It doesn’t need to know someone to feel sad, that why it call emphaty, kata Al Pacino dalam film Frankie and Johnie.

Kehidupan adalah kefanaan dan proses menyiapkan diri untuk menuju kematian. Setidaknya itu menurut saya, bukan menjadi fatalis. Hidup Maemunah Thamrin sebagai pendamping dan ibu dari anak-anak Pramoedya Ananta Toer telah selesai sudah. Dan yang tertinggal hanya kenangan kisah hidup seorang wanita biasa yang dicintai dengan sempurna. Sesederhana itu obituari ini dibuat. Hanya sekedar post sciptum dari segala yang telah terjadi dalam hidup Maemunah Thamrin, Dan malam di luar terus juga menelan umur manusia.