Minggu, 30 Januari 2011

pL31d01 4n4k 4l4y!


Akuh gak ngerti deh kenapa yah orang-orang pada ribut dengan keberadaanku, dengan perilakuh yang kulakuhkan, bahasa yang kugunakan, pakaian yang kukenakan, musik yang kudengar dan idola yang kupilih. Cape deh, kenapa yach orang usil banget ama hidup yang kujalani. Apa mereka iri karena dulu waktu muda mereka gak jadi 4l4y, gak bisa melakuhkan hal-hal 4l4y, atau bahkan sebenarnya mereka 4l4y sejak dalm pikiran? Entahlah. Yang jelas akuh benci benci benci amah merekah, kalo nanti aku sweet seventeen akuh gak mau undang mereka ke parti akuh! Benciiiii beud deh.


Orang-orang itu pada tau gak seh kalo ada istilah yang namanya zeitgeist? Semangat zaman, sebuah tata perilakuh yang mengilhami sebuah peradaban berjalan pada masanya. Ya boleh dong kalo sekarang zeitgeist nya adalah 4l4y, adalah Sm*sh, adalah Bieber, adalah sepeda vixie, adalah unyu-unyu, adalah twitter (jangan lupa follow akuhh ya? @4l4y_kiYut). Kenapa sih semua pd ribut? Padahal tau gak seeeh mereka ada opa Heidegger yang menyebut keadaan semacam ini sebagai ‘Answesenheit’, ‘yaitu dimengerti dengan tekanan pada sebentuk waktu tertentu, yang mengacu pada masa kini’. Gak tau? ihhh dudul deh kalian ini, sebel. >,<

Lebih jauh lagi Opa Heidegger menulis teks berjudul Bauen Wohnen denken (Membangun Bermukim Berpikir) dan Was Heiβt Denken? (Apakah Berpikir itu?) ingin merevolusi pola pikir kebanyakan orang. Yah akuh cedikit pucying sih but th4kns to om FX Budi Hardiman yang imoed abies, akuh jadi paham siyh meski cumah dikit. Menurut om Budi, Opa Heidegger ingin mengatakan bahwa “Berpikir, lebih daripada ‘roh’ (Geist) atau ‘otak’ (Gehirn). Tuch kan? Gak penting banget kaleee mikir pake otaak, ngapain juga? Mikir pake otak itu bikin pusing tauk. Mending gaul, party atoh dengerin JB (oh Justien kamuh kiyut banget seeeh? >.<)

Opa Heidegger kemudian jelasin dengan baik, (eh btw Opa Heidegger punya twitter g ya? Akuh pengen pollow nih, nanti akuh retweet) berkata bahwa berpikir itu ‘hati’ (Herz) karena hati bersifat sentral untuk setiap tindakan merekam (Aufnehmen) yang mengilhami pemikiran sejati. nah hati kami berkata ‘loe musti g4uL dan 3k5is 4bi35’ Nah, sebagai remajah yang kreatif lucu dan imoet kamih hanya ingin mengikuti kata hati kami! :3

Akuh curiga orang orang bersikap apriori (akuhh siyh Cuma paham tradisi pemikiran Kant yang Critic of Pure Reason) karenah mereka belum penah nongkrong bareng kitah-kitah. Menjalani semacam dialektika bersamah. Uhh sebel gak sih gals en boys kaloh kita udah ngalamin prasangka sebelum kita kenal? Gak banget kan? Coba deh mereka yang benci amah 4l4y kaya akuh ini jalan bareng, jalananin leisure timesamah-samah. Ih benci deh, pasti mereka udah gak suka duluan buad jalan bareng. 

Padahal tau gak sih boys en gals? Kaloh om Thomas Aquinas dan Eyang Immanuel Kant udah berusaha menjernihkan pemikiran para anusia dari konsep “Unkownable” dan “Knowable”. Gak percaya? Ih kamuuuuh kenapa sih kalian jahat beud amah akuh? Coba deh kalian baca “Summa Theologica” nya om Aquinas atau yang tadi akuh bilang Critic of Pure Reason eyang Kant. Nah disituh kalian pasti deh bisa cedikit mengerti, kenapa sih kitah-kitah ini anak 4l4y pengen diakui sebagai zeitgeist yangterlepas dari konsep ‘telah ada’ dan ‘dibayangkan ada’. Kita ini anak-anak gaul tauk! Selalu orisinil! Liat deh lady Gaga. Omigaga! Keren banget gak sih dia? Dia ituh beyond! Dari konsep apriori atau aposteriori dalam kasanah seni! Alehandro Alehandro!

Soal taste musik, atoh dalam hal ini, musik. Kenapa cih orang-orang pada ribut kalo akuh suka ama Sm*sh? Suka wali? Suka Kangen band? Memang salah? Kalian tau gak sih kalo om Walter benjamin udah ngerumusin tentang seni Post Auratic? Kesenian yang terlepas dari kepemilikan eksklusitiftas pemahaman parsial. Sudah gak jaman lageh high art dan low art. Buat kami apaan sih Efek Rumah Kaca itu, Frau, Muddy Waters, Incognito, Tori Amos atau bahkan RATM (berisik beud deh mereka). Kitah gak ngertiiih! Mending dengerin my Baby Biieber honey. Nyanyiin somebody to love, peduli setan kalo judulnya mirip ama Queen. Yang penting akoh suka!

Kesenian itu fungsi utamanya adalah memberikan manfaat langsung kan? Ngapain sih akuh musti pusing-pusing paham bla-bla-bla buat ngerti apa yang diomongin ama Homicide, Melbitch, atau U2. Gak penting beud! Buang buang waktu. Padahal yah, dulu akuh pernah clubingm teyus temen akuh yang dari ausie ceritah, katanyah ada promotor musik yang namanya Bill Graham bilang kalo “music is the sign of the opressed masses. It is the heart in a heartles world”. Gilak banget gak sih boys en gals? Akuh pikir ini cucok banget ama kondisi kita 4l4y yang terdiskriminasi oleh dunia yang seakan-akan intelek. Dunia yang seolah olah menempatkan diri merekah lebih baik daripada kitah kaum 4l4y. aku yakin kita 4l4y pasti bisa melewati ini semuah Cayo go 4l4y go!

Emang cyiiih akuh ngelakuin apah yang disebut ama om Josef Pieper sebagai Abuse of Language. Akuh ngaku deh kalo aku melakukan sebuah pengkhianatan terhadap fungsi dan kedudukan bahasa. Iya akuh ngakuh, kenapa cih kalian jahad beud? Aku kan masih muda, masih mencari eksistensi, boleh dunk kaloh akuh maen maen. Emang sih. Bahasa yang akuh gunain adalah sebuah Abuse of Power kata om Josef Pieper. Akuh memang menggunakan bahasa sebagai kendaran politik yang mengontrol dan memanipulasi kesadaran untuk kepentingan unyu-unyu kuh. Ciapah ciyh dijagat raya ini yang tidak mengunakan bahasa sebagai alat propaganda? Kalo gituh boleh dunk akoh sebagai anak 4l4y menggunakan bahasa 4l4y sebagai alat propaganda sosial?

Makanya opa Wittgeinstein menciptakan Language Game, untuk melepaskan bahasa dari sifat-sifat yang tendensius. Aaah tapih menurut akuh opa Wittgeinstein terlalu ambisiuuus! Ah masa sih bahasa bisa bebas nilai? Padahal teks katah temen akuh bisa berjender, bisa berpihak, dan bisa merekonstruksi pemikiran manusia. Akuh yakin kaloh opa Wittgeinstein baca bahasa kitah dia akan pucing deh kaya akuh. Apanya cobak yang mau dibebaskan dari struktur bahasa kitah? Bahasa 4l4y? Cuma bahasa Bahasa 4l4y yang bebas dari nilai. Horeeeee!

Dalam banyak hal, akuh anak 4l4y g4uL dan 3k5is 4bi35. Meyakini apa yang dikatakan oleh Om Idy Subandi, bahwa ‘dalam abad media’ dia bilang ‘citra adalah segalanya’. Nah karena citra adalah segalanya, maka udah sewajarnya dong sebagai anak 4l4y g4uL dan 3k5is 4bi35 akuh harus dandan yang unyuu. Pake celana pensil, pakeh bajuh distro, rambutna emo, teyus pake spatu bermerek. Iihh pengen tas hermes juga, tapi mahal L. Sejalan dengan ituh, papih akuh Nietzche pernah pesen lewat Also Sprach Zarathustra, ‘berbaur dengan orang banyak merusak watak seseorang, terutama kalau ia tak punya apa-apa’. Akuh sebagai anak 4l4y g4uL dan 3k5is 4bi35 kan gak punya otak, (ada siiih tapi dikiit beud) jadi setidaknyah akuh musti punya Fashion Statement!

Uhh capeeee bicara dari tadih, akuh yakin mereka yang bencih ama kitah gak bakal mauh dengeriin. Abies mereka kan benci beud ama kitah. Mereka anggap kitah semua begoo dan oo’on. Bencih beud ama orang yang sok pinter macam ituuuh. Akuh sih pecaya ama kata-kata dari om Wilhelm Reich dalam Mass Psychology of Fascism. Bahwa ketidaksadaran merupakan kekuatan politik dan fasisme merasuk kedalamnya seperti yang terjadi pada tahap-tahap sejarah. Mereka sebenarnya tidak sadar bahwa keberadaan kita anak 4l4y adalah konsekwensi zaman. Dengan berlaku prasangka, mereka mengafirmasi fasisme pada kitah anak-anak 4l4y g4uL dan 3k5is 4bi35. Fasis teriak fasis, what could be worst?

Masa ya boys en gals kemarin di bebe akuh ada yang neg bebein aku kaloh aku ini katanya one dimensional man. Akuh benci beuuud mereka yang ngatain kitah sebagai one dimensional man! Harusnya one dimensional cute girls, atau one dimensional awesome boys. Mereka kug gitu yah ama kita ngatain gitu. Padahal menurut opa Herbert Marcuse, one dimensional man merujuk pada masyarakat yang mekanis dan tanpa kritik terhadap perubahan zaman. Kitah loh anak 4l4y g4uL dan 3k5is 4bi35 berusaha medekonstruksi segala tatanan masyarakat yang ada. Mulai dari bahasa, kebudayaan, politik dan sosial masyarakat. Anak 4l4y g4uL dan 3k5is 4bi35 telah melakukan apa yang gagal dilakukan oleh opa Marcuse, opa Adorno dan opa Benjamin di Institute of Social research atoh mazhab Frankfurt! Menciptakan masyarakat yang dialektis! Kitah dong anak 4l4y g4uL dan 3k5is 4bi35 selalu dialektis di Twitter dan BB.

Udah ah akuh lelah dengan segala ini. Mungkin kakak akuh Gie benar “Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.’ Huuh mahasiswa itu, sok tau, sok ngerti, padahal baca sedikit udah ngecap kita anak 4l4y lebih goblok dari mereka. Akuh gak sukah tuh ama mahasiwa gitu. Nanti kalok aku udah lulus es em ah. Akuh mau ikutan Indoensian Idol, akuh mau kaya Rini Idol! Pokoknya akuh mau jadi kaya Luna Maya, maen sinetron, terkenal teyus kaya raya. Gak mau jadi mahasiswa yang kerjanya sok tauuuh. Ohhh om Andy Warhol pernah bebein akuh kata-kata bagus “in the future, everybody will get famous” makaciiih ooom “for fifteen minutes”.



Bátard Eifel

Paris masih tetap malam saat kamu tiba dengan serangkaian marah yang ditahan. Matamu merah, tapi tak nampak barang sebiji airmata. Itulah kamu, terlalu angkuh pada dunia. Bahkan pada dirimu sendiri. Bukankah tangis adalah sebuah eskapis luka-luka yang tak bersembuh? Kamu duduk menghadap jendela. diam, diam dan diam. Kamu memang tidak suka ditanyai perihal warna merah matamu. dan aku tahu itu, terlalu banyak mata-mata merah yang kamu tunjukan padaku.

"Aku ingin jadi pawang hujan"

"Buat apa?"

"Aku mau bikin hujan besar, terus sungai Seine meluap dan meruntuhkan Eifel jahat itu!"

“kenapa jahat?”

“pokoknya jahat”

“kamu kekanak-kanakan”

“memang, aku masih muda, lalu kenapa? Selama muda hak ku untuk berbuat seenaknya”

“ya ya ya”

Ucapanmu menghamburkan lamunan tentang tugas akhir yang akan selesai. Apalagi ini? Kamu selalu saja begitu, datang serupa petasan yang merepet, keras, dan bising lalu kemudian menyisakan kesunyian serupa kuburan. Mengisi kesunyian itu dengan hela napas yang tertahan. Dan seringkali aku yang musti kerja keras menghiburmu dengan coklat panas.

Kamu adalah gadis yang dicintai matahari. Gadis periang yang begitu murah hati memberikan senyum. Bahkan pada musuh paling keji yang bisa dikenal sejarah. Orang yang selama hidupnya hanya mengenal dua jenis manusia, orang yang baik hati dan orang yang sangat baik hati. Aku percaya kamu diciptakan dari embun pertama bulan januari.

Dan disinilah, di flat murah hati di pinggir sungai Seine kamu duduk termanggu. Murung, manyun dan menggerutu. Kamu masih memakai syal warna hijau kesukaanmu itu. Syal butut yang kamu dapat dari pasar Senen. Yang kamu curigai milik Audrey Tautou. Menghela napas setarikan, meletakan segenap penat yang kukira masi tersimpan separuh itu.

"ada apa lagi dengan Eifel?"

"tahu gak? aku apa sih pikiran orang-orang Perancis tentang kerinduan, romantisme, revolusi dan bohemian-nitas!, yang jelas Eifel itu merusak pemandangan langit yang mendung saat mau malam, mestinya besi itu di kilokan saja"

"kan kasian orang-orang yang mencintai Eifel?"

"huh, biar mereka tahu diatas Eifel itu ada hamparan biru kelabu yang lebih indah dari seonggok besi angkuh"

“kenapa angkuh?’

“ya angkuh, besi sebanyak itu dibuang percuma atas nama estetika?”

“memang indah kok”

“masih lebih indah langit, liat juga gak bayar”

“kenapa musti marah sama eifel? Kan benda mati”

“ya pokoknya Eifel yang salah!”

wooo ngotot gak jelas”

“biarin!”

Mau tidak mau aku harus tertawa mendengar ucapanmu. Sebuah ucapan paling tolol atau paling jujur yang bisa kamu ucapkan tentang langit. Aku melihat matamu mendelik, lalu acuh memandang ke arah jendela sekali lagi. Kamu sadar, Cuma aku, dan mungkin hanya aku yang boleh dan bisa melihat serta menerima kemarahanmu. Gadis yang dicintai matahari.

Aku menghela napas, menggaruk rambut yang tak gatal. Sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk dihadapanmu dan mulai bicara. Aku tak tahu harus memulai bicara darimana. Karena kamu bukan pelajaran fisika nuklir yang dengan mudah aku kerjakan dengan bantuan rumus dan buku. Kamu jauh lebih kompleks dari itu. Butuh gabungan fenomenologi, psikoanalisa, linguistik dan hermenutika untuk sekedar mentafsirkan bibir monyong serupa cemberutmu saat ini. Dan aku tak mampu, karena aku hanya seorang mahasiswa fisika biasa.

Ada apa wahai Reene Luna d’Angelis lova beud” ujarku sambil nyengir.

“jangan panggil aku pake namaaa ituuu MaMadd jeleeeek!” teriaknya sambil melempar bantal kemukaku.

“lho itu kan namamu sendiri? Friendster punya, 6969 teman”

“yang kukenal bahkan tidak sepersepuluhnya”

“lalu kenapa diterima?”

“aku baik, malas nge reject. Kok kamu masih inget saja nama konyol itu?”

“kamu mungkin lupa, tapi aku selalu ingat, apalagi tentang kamu”

Momen banal, artifisal dan romantis mulai cair diruangan ini. Kamu menyunggingkan senyum, senyum yang dicintai matahari. Karena aku tahu, selalu tahu, bahkan jauh sebelum Musa mengenal sepuluh perintah. Kamu akan tertawa dengan sebuah panggilan sederhana dari nama absurd buatanmu saat masih sekolah menengah dulu. Nama yang mengharap pencitraan imut, lucu dan menggemaskan. Artifisial, namun siapa yang tak pernah mengalami pubertas selain adam dan hawa?

“MaMadd, Eifel itu untuk apa sih? Kenapa orang begitu menyukainya?”

“Eifel adalah Paris, dan Paris adalah Perancis dan Perancis adalah segudang bla-bla-bla yang tadi kamu sebutkan”

“Aku kangen rumah Madd, disana sawahnya lebar, langitnya luas, dan menara besi paling tinggi Cuma punya RRI”

“kenapa harus di Rumah? Di Paris kan banyak langit yang luas?”

emoh! Pokoknya aku mau langit tanpa ada yang nantang!”

Aku mengamini permintaanmu, percuma mendebat permintaan gadis yang mempunyai keinginan sekeras cadas. Aku akan selalu kalah pamor dan hanya akan kalah wibawa. Kamu sekali lagi terdiam, menunduk dengan mata tetap terpaku pada jendela. Dan jauh disana sungai Seine meliuk seperti ular kawin.

Aku tahu pembicaraan tentang Eifel ini hanya pelarian, yah seperti appetizer sebelum main course. Dan aku tahu, aku harus sabar menunggu sampai kamu sendiri yang mengantarkan makanan utama itu. Tak perlu lama, aku tahu, setelah sebuah tangis yang disertai sesengukan yang panjang. Kamu akan bercerita, semuanya, karena Cuma padaku, air bah kegalauanmu bisa dicurahkan. Aneh memang, aku yang hanya teman sekolah, tidak terlalu akrab, bisa menjadi sebuah spons besar yang melingkupi semua perasaanmu.

Tangismu perlahan pecah, tangisan yang terlalu angkuh kamu tunjukan pada dunia, kamu hujamkan padaku. Ya hanya padaku seorang, seorang laki-laki yang bercita-cita jadi astronot. Hanya karena kamu bilang akan menikahi laki-laki yang membawakanmu batu dari bulan. Tapi kamu tak pernah sadar, karena kamu gadis luarbiasa polos, yang diciptakan Tuhan dari embun.

Aku tahu ini saatnya aku membuat coklat panas. Setelah kamu menangis dan sesenggukan panjang. Hanya coklat panas obat mujarab yang memberimu ketenangan. Aku berdiri, membiarkanmu sendiri di kursi panjang dekat jendela. Kearah dapur dan membuat coklat panas. Aku tak tahu minuman macam apa ini, aku hanya membuat, tak pernah mencoba menikmatinya.

“Madd, bisa gak kalo malam ini gak usah ada coklat?”

“lho kenapa?”

“aku gak ingin tenang, aku ingin menangis sepuasnya”

“aneh”

“gak seaneh namamu. Mamadd dengan dua de”

“mulai lagi deh”

“kamu duluan, banyak nanya, kayak hansip”

Itu ucapan paling aneh, lebih aneh dari keinginanmu menjadi mentri Agama atau pawang Hujan. Kamu yang tak suka menangis, kenapa malam ini jadi sangat sentimentil? Aku tahu ada yang tak benar, namun belum bisa meraba apa itu. Ah kamu, gadis yang dicintai matahari. Gadis periang yang begitu murah hati memberikan senyum. Ada apa sebenarnya?

“R, aku mencintaimu” kataku tiba-tiba.

“oh Madd? Haruskah sekarang kita berdebat lagi? Bukankah sudah kubilang, kita lebih dari itu semua. Aku menyukaimu sebagai seorang laki-laki, tetapi sebagai kekasih? Kamu sudah tahu jawabannya”

“ya, tapi kamu tak pernah bilang kenapa?”

Kuputuskan untuk berdiri, memutar sebuah lagu, Paris Combo, Fibre de vere. Lantunan lagu jazz lembut itu mulai merambati dinding flat murah hati ini. Diseberang lampu-lampu kota Paris sepertinya ikut menikmati deru saksofon ini. Semuanya terasa lekas temaram.

“sederhana saja, apa yang bisa kamu berikan Madd? Cinta? Puisi? Kata-kata? Hanya itu yang bisa kudapatkan darimu.”

“bukankah semua butuh cinta R? dan puisi salah satu cara menunjukannya”

“jangan melawak Madd, kamu itu mahasiswa jurusan astrofisika, bukan sastra!”

“bukankah kamu cerita ingin menikahi astronout?”

“tentu Madd, astronout, yang mampu memberikanku gaun Versace, parfum Calvin Klein, mobil Bentley dan sebuah vila di Monaco. Apa kamu sanggup Madd?”

“tidak”

“oh Madd, tolong, aku butuh kamu, MaMadd, seorang pria romantis yang bisa memberikanku semangat kapan saja. Please? Aku butuh laki-laki itu sekarang”

“ya ya ya ya, baiklah-baiklah”

Aku tidak tahu hubungan macam apa kami ini, seperti sepasang sahabat? Bukan, kami jauh lebih dari itu? Bersaudara? Aku harap tidak, setidaknya bukan anak bapaknya. Entahlah, semacam friend with benefit. Minus hubungan badan kami, adalah sepasang kekasih. Setidaknya begitu kupikir. Kemudian aku alihkan semua pikiranku keluar jendela. Memandang langit paris yang mendung dalam kegelapan. Menelan semua warna bintang. Sementara dikejauhan kelap-kelip Eifell merayap pelan. Tetapi tak ada yang lebih indah dari kamu. Dan kamu tak pernah sadar itu, karena kamu gadis luarbiasa polos, yang diciptakan Tuhan dari embun.

“kamu marah?”

“gak, kenapa harus?”

“maaf Madd, aku perempuan biasa, aku mencintai dunia, sedangkan kamu hidup dalam angan-angan”

“bisa kita tidak membahas ini?”

ojo nesu” wajahmu merajuk.

Aku benci wajahmu yang merajuk itu, sungguh benci setengah mati. Wajah itu yang membuatku pecah berantakan dulu. Yang membuatku pontang-panting kerja keras sampai akhirnya aku berakhir disini. Di Prancis. Hanya untuk melihatmu merajuk sekali lagi.

“ya ya ya, lalu kenapa kamu menangis?”

“Piere mencampakanku”

“lagi?”

“ya, demi gadis kurus kering bodoh kurang gizi itu Madd!”

“maksudmu gadis kurus kering bodoh kurang gizi yang jadi model majalah Vogue itu?”

“bisa tidak kamu mendukung aku malam ini Madd?”

“aku hanya bicara tentang kenyataan R”

“arggghh! Kamu itu”

Entah kenapa kamu menangis lagi, kini lebih sesak, lebih tertahan dan aku tahu lebih perih.

“aku mencintaimu R”

“maMadd, please. Kita berdua tau kemana hubungan ini akan berakhir”

“aku tahu, dan aku akan selalu mencoba”

“kamu bodoh, pemimpi dan keras kepala”

“karena kamu”

“bukan, kamu hanya mencintai ide tentang ku Madd. Tentang R yang kamu sukai.”

“apa bedanya?”

“R mu adalah ia yang mau menerimamu tanpa syarat, mencintaimu dengan ikhlas”

“kamu tidak?”

“tidak Madd, aku hanya gadis biasa, aku tidak mungkin mencintaimu, aku mencintai dunia dan segala kerakusannya. Sementara kamu hidup dalam bayang-bayang”.

“bukankah hidup ini sekedar bayang-bayang”

“ tidak bagiku”

Kita sebenarnya sama-sama hidup dalam bayangan R. Kita sama-sama dibayangi pilihan dan logika masing-masing. Kamu hanya gadis sederhana yang merindukan kemapanan hidup, kepastian, sesederhana itu. Bukan yang lainnya. Sedangkan aku adalah pemimpi, tololnya masuk ilmu sains, untuk percaya ada dunia yang lebih ideal tanpa bom atom dan alkohol. Kamu dan aku, terjebak dalam ruang sempit di tepi sungai Seine, memandang mendung yang mulai bergulung. Meski dalam gelap malam, kita masih bisa merasai keangkuhan warna kelam mendung yang tak pandang bulu itu. Kusam dan muram.

“apakah kamu mencintaiku Madd? Maksudku benar-benar mencintaiku?”

“ya”

“dengan sepenuh hati?”

“tidak, itu konyol. Aku mencintaimu secara sederhana tanpa embel-embel”

“Kupikir Piere mencintaiku sepenuh hati, tapi kemudian dia menyakiti”

“dia menggigitmu?”

“tidak, diam-nya lebih kejam”

“lalu bagaimana kamu tau dia mencintaimu?”

“pokoknya tau saja, sikapnya, pandangan matanya”

Kamu diam, aku diam, kita semua diam. Menunggu datangnya suara. Paris Combo sudah lama usai bernyanyi, dalam kesederhanaan Aku mendengar Sia melantunkan Soon We’ll be Found.

Let’s not fight I’m tired can’t we just sleep tonight

Turn away it’s just there’s nothing left here to say

Turn around I know we’re lost but soon we’ll be found

Bukankah begitu R? Sebenarnya kita adalah orang-orang yang tersesat dan lupa jalan pulang. Kita tidak pulang bukan karena tidak bisa, tapi kita hanya terlalu malas dan mencari jalan kembali. Kita sudah duduk terlalu nyaman dalam ketersesatan, kita sudah hidup terlalu enak dalam tempat yang entah ada dimana lalu meyakinkan diri sendiri seolah-olah kita sudah dirumah. Padahal kita tersesat. Tetapi kamu adalah gadis yang dicintai matahari. Gadis periang yang begitu murah hati memberikan senyum. Tentu kamu tidak peduli dengan semua itu bukan?

“Madd, terima kasih ya?”

“untuk?”

“semuanya, selalu ada buat aku, dengerin aku”

“makasih doang, duit dong! Minimal terima cintaku kek ato ajak nikah gitu”

“Mamadd jelek” katamu sambil tersenyum.

Dan akhirnya kaupun tersenyum. Memberikan senyum yang dirindukan dunia, yang dirindukan malam, dan yang pasti kurindukan. Kita duduk berdua, tertawa, menikmati momen yang mahal ini. Tapi tidak lama. Karena setelah kau tertawa, pintu flat murah ini diketuk. Terdengar tok tok yang ritmis. Yang dinamis. Semacam perayaan atas sebuah keakraban. Siapa?

Kuputuskan untuk berdiri. Meninggalkanmu sendiri dengan semacam muka yang bertanya. Aku berjalan menuju pintu. Saat pintu kubuka sesosok tubuh berlari menuju kearahmu. Sementara di balik pintu berdiri sesosok wanita bertubuh tinggi kurus. Kau pun berlari bergegas menghampiri tubuh kecil yang juga bergerak menyongsongmu. Akhirnya sosok yang kau cintai itu muncul juga. Sosok yang kau cintai lebih dari aku. Muncul dan menjanjikanmu kedamaian. Aku diam, berpikir harus bersikap bagaimana.

“Piereeeeeeeeeeeee sayank, maafkan aku sayang, jangan pergi lagi aku mencintaimu” jawabmu sambil menangis. Kamu memeluk Piere erat, seolah-olah hanya kau dan dia di jagat raya.

“guk” Piere menjawab pelan.

Mantra Lambe Lamis

Langit sore itu seperti habis berkelahi dengan hujan. Sisa-sisa awan mendung pekat gelap masih asik menggantung diujung cakrawala. Sinar matahari yang bersembunyi dibalik awan-awan itu semakin usang. Cahaya matahari yang sendu, yang resah, karena segala pesonanya habis ditelan awan gelap, awan mendung yang senantiasa berdiri paling depan saat hujan akan datang. Sementara sinar matahari sore, selalu saja muncul malu-malu, tekun dan tak berubah sejak awal waktu diciptakan.

Kota Bleketek masih saja gugup atas basah yang diberikan hujan sebelumnya. Masih banyak sisa genangan air disana sini. Diujung jalan menuju gedung DPR, di tengah jalan menuju pasar, di pinggir jalan menuju pabrik, pokokny disegala jalan yang hendak menuju suatu tempat pasti ada lubang air yang menggenang. Pemerataan pembolongan jalan sudah menampakan hasilnya. Dimana-mana di kota Bleketek jalan pasti ada yang bolong. Dan masyarakatnya asik-asik aja dengan kondisi ini.

Perlahan-lahan awan mendung yang tadinya pekat itu membubarkan diri. Mereka seperti sudah puas melaksanakan aksi pembasahan bumi. Sudah tuntas menyuarakan kebasahan di bumi. Sudah lega menuntaskan hajat mereka untuk memberikan tetes air kepada bumi. Lalu dengan damai tanpa ribut-ribut kumpulan awan pekat itu menghilang. Diganti bias sinar sore yang sepertinya sudah mulai pasang aksi. Sudah berani muncul sendiri, dengan garang melukis warna di atap-atap bumi. Senja telah tiba, senja emas yang membawa cahaya malas telah datang.

Sementara langit sedang sibuk menyambut datangnya senja, dibumi, dibawah mereka. Ada sebuah pertigaan yang paling ramai di kota Bleketek. Pertigaan paling prestisius yang ada di kota Bleketek. Karena hanya pertigaan itu, lubang air paling sedikit berada. Pertigaan kebanggaan kota Bleketek. Dipertigaan itu tampak seorang pemuda yang gendut, duduk, kepalanya mendongak menantang langit. Sendiri, ditengah buas ramai kota yang tak pernah ramah.

Sudah dua hari dua malam Mamadd tidak tidur barang semenit. Konon katanya ia sedang belajar ilmu kebatinan yang haibat betul. Ilmu yang konon bisa membuat orang-orang hanya bisa berkata-kata manis. Dari mana ceritanya Mamadd bisa memperoleh pengetahuan ilmu ini juga menjadi misteri. Konon dari salah satu surat kabar ternama ibu kotaSililit-sebanyak selulit”, Mamadd mendapatkan cerita Ilmu itu saat sedang mengembara di negeri Kutang. Mana yang benar orang-orang dikota Bleketek tidak ada yang tahu.

Mamadd duduk di bawah lampu merah pertigaan pasar dan gedung DPR yang terhormat. Sepanjang jalan sebelum lampu merah, orang berhenti beramai-ramai memandang Mamadd, ada pak tua diatas becak, ada bini muda pejabat dalam mobil Ferari, ada mahasiswa cabul diatas motor bahkan pengemis musiman berhenti barang sebentar untuk melihat kejaiban Mamadd.

“ngapain orang itu?” kata salah seorang oknum Ambtenaar yang bolos kerja.

“Mamadd dengan dua de pak” kata pedagang Aqua.

“Mamadd dengan dua de? Mamadd siapa?” Ambtenaar itu tanya lagi.

“itu pak, Mamadd yang suka kencing berdiri di pinggir kali, aqua pak? ” kata pedagang Aqua .

“oh Mamadd yang suka makan di ke ef si itu?” Ambtenaar itu tanya lagi.

“iya pak dia, Tisu pak?” kata pedagang Aqua.

“kenapa dia?” Ambtenaar itu tanya terus.

“katanya kumat gilanya, rokok pak?” kata pedagang Aqua.

“wah Bahaya! Nanti aku ketularan gila! Gak dapat gaji ke 16! Cilakak! Harus cepat-cepat pergi dari sini!” kata Ambtenaar itu bergegas pergi menjauh.

“wooh Ambtenaar keree! Tanyak doang! Cupu lu” kata pedagang Aqua.

Ambtenaar itu pergi ngebut naek Ducati Multistrada full custom dengan kecepatan yang wus wus wus nyaris tiada henti, hampir menabrak bakul rujak, tapi dengan sigap berhasil menghindar. Saat Ambtenaar itu pergi, orang-orang yang lain berdatangan, semakin ramai mendekat. Malah ada ibu-ibu yang membuka warung dadakan, fans dadakan, guide dadakan, ojek dadakan, copet dadakan, dan penggalangan koin peduli Mamadd dadakan. Pokoknya pertigaan itu ramai sekali. Kota Bleketek jadi ramai, ramai pertunjukan.

Tapi Mamadd tetap cuek, tetap sontoloyo, tetap cool abies. Mamadd masih duduk sendiri dengan mulut mangap dan kepala mengadah ke atas langit. Tangannya terlipat didada, matanya tertutup, mukanya kumuh, pakaiannya compang-camping, badannya bau. Pokoknya Mamadd sudah sah seperti para penganut ilmu hitam di film-film sinetron indosiar jaman dulu. Mamadd sepertinya tidak peduli dia tetap saja melanjutkan diamnya. Seolah-olah dipertigaan itu hanya ada dirinya sendiri dan segala ramai riuh orang-orang itu tidak ada. Mamadd mengamini kesunyian yang gaib.

Seorang gadis datang tergopoh-gopoh, ia datang dengan pria berseragam. Menunjuk-nunjuk tubuh Mamadd. Orang-orang diminta minggir oleh orang berseragam itu, minta diberi jalan. Tapi pertigaan itu sudah terlalu ramai, sudah terlali sesak, sudah terlalu banyak orang-orang. Mungkin ada puluhan ribu, ratusan ribu entahlah. Awalnya mereka hanya datang untuk melihat Mamadd. Tetapi karena disekitar pertigaan jalan itu muncul warung-warung dadakan. Orang jadi lupa pulang, mereka semua nongkrong menunggu aksi Mamadd selanjutnya.

“heh minggir! Petugas mau lewat” kata pria berseragam itu.

“dih enak aja! Antri dong emang ente pikir ane kagak ngantri pengen liat”

“saya ini petugas, kamu mau ditindak karena menghalangi tugas petugas yang sedang bertugas?” kata pria berseragam itu.

“emang ente pikir ane siapa? Saya ini pengantri yang sedang mengantri dalam antrian! Jangan maen-maen! Mentang-mentang petugas ente bisa seenaknya?” kata orang itu.

Gadis yang tadi ada dibelakang petugas itu kemudian maju. “maaf pak, saya ini pacar orang itu, orang yang sedang ngelmu itu”. Awalnya orang yang berdebat dengan petugas berseragam itu tidak peduli, tetapi orang-orang didepan antrean berteriak teriak. Membenarkan perihal hubungan si gadis dengan Mamadd.

“oi! Itu R! pacarnya si Mamadd” kata orang dikejauhan.

“R? lha R yang katanya ninggalin Mamadd pergi ke planet Mars itu?” jawab orang dibelakang.

“iya itu!, kasih jalan! Kasih jalan!” kata orang dikejauhan.

Akhirnya R dan pria berseragam melalui jalan sempit di sekitar orang-orang itu. Jalanan yang dipenuhi oleh ratusan ribu orang. Yang panjang melingkar seperti antrean tiket sepak bola. R dan pria berseragam terus melaju melalui jalan sempit itu. Setelah tiga jam yang melelahkan R akhirnya sampai di tempat Mamadd. R heran mengapa sampai selama itu untuk berjalan melalui jalanan yang sebenarnya tidak terlalu jauh. Tetapi bukankah di kota itu kemacetan adalah hal biasa, apalagi didekat pertigaan. Kota selalu punya apologi terhadap kemacetan.

Setibanya di dekat Mamadd, R terkejut bukan kepalang. Mulut Mamadd jadi sangat lebar, penuh dengan air, mungkin air hujan yang datang terus-menerus dua hari terakhir. Didalam mulut Mamadd bahkan ada jentik-jentik nyamuk, telur kecoak dan alahmak sandal bekas. Mungkin ada orang iseng yang melempar sandal kemulut Mamadd. Tapi bukan hanya itu yang membuat R terkejut, muka Mamadd menjadi terang bersinar meski kotor dan kusam, rambutnya putih gondrong, janggutnya lebat memutih, padahal Mamadd baru dua hari di pertigaan itu.

“Mad, Mamadd bangunlah sayang, ini aku R, bangunlah sayang” kata R seraya membersihkan muka Mamadd dengan tisu basah.

“hei sodara, dengar kata nona ini, sodara harus bangun, sodara telah melanggar ketertiban umum, sudah mengganggu stabilitas negara, sudah merusak tatanan umum” kata pria berseragam itu.

“Mamadd sayang ayolah bangun, lihatlah, ini aku gadismu, aku tak akan pergi ke Mars, aku akan berada disampingmu, tidak akan meninggalkanmu” kata R mengiba. Matanya yang indah mulai basah. Dengan sekuat tenaga ia berusaha nampak tegar, tapi sekuat-kuatnya ia menahan, toh ia terlihat sangat khawatir.

“heh Sodara! Ayo bangun berhenti bercanda, yang anda lakukan ini adalah pelanggaran hukum berat. Semacam penistaan konstitusi” kata pria berseragam itu.

“apanya yang melanggar pak?” kata seorang penonton dibelakang.

“ya ini, mengganggu kenyamanan publik, meresahkan warga masyarakat, menggunakan fasilitas umum, membuat macet dan sebagainya dan sebagainya” sahut pria berseragam itu mantab.

“ah bapak lebih mengganggu, lebih meresahkan, seenaknya aja maen peluit suit suit” jawab sebuah suara.

“heh siapa itu? Hayoh maju! Ini pencemaran nama baik petugas! Biar jelek-jelek gini saya gak punya rekening gendut! Saya gak bisa disuap untuk jalan-jalan ke akherat! Saya ini petugas bersih! Jangan maen slonong boy gitu kalok bicara. Sontoloyo!” teriak pria berseragam itu.

Syahdan bahkan R dan petugas berseragam itu pun tidak mampu membuat Mamadd bangun dan berhenti bertapa. Waktu berjalan dengan cepat, kerumunan yang tadinya ratusan ribu itu berubah jadi jutaan orang, yang awalnya hanya dua hari berlalu sekarang sudah menjadi tiga tahun, Mamadd dengan tabah berlaku tapa selama itu tanpa makan dan minum. Kelakuan Mamadd menjadi berita umum diseluruh dunia. Mengalahkan insureksi yang terjadi di Tunisia, revolusi di Mesir, Banjir bandang di Australia, terpilihnya kembali Nurdin Halid, bahkan mengalahkan berita konser Justien Bieber di negara itu. Pokoknya Mamadd jadi semacam pemberitaan yang mahadaya. Luarbiasa.

Tepat setelah tiga hari, tiga bulan, tiga jam dan tiga puluh menit berlalu sejak Mamadd melakukan tapa brata itu. Mamadd akhirnya membuka mata, menundukan kepala, membuang isi mulutnya yang kini bertambah banyak. Ada sandal bekas, tiket sepak bola, celana dalam, botol aqua, majalah bekas dan masih banyak yang lainnya. Mulut yang lebarnya seluas lapangan kasti itu, perlahan-lahan mengecil, dan kembali keukuran semula.

Para penonton yang berjuta-juta itu ramai sendiri, riuh dengan pertanyaan yang terpendam, penasaran dengan Mamadd. Dalam riuh keramaian yang seperti dengung suara lebah itu. Ukuran mulut Mamadd kembali menjadi normal, ia berdiri tegak, membersihkan tubuhnya yang penuh sarang laba-laba, bekas kencing, grafitti dan selebaran sedot WC. Melihat itu semua, para wartawan lokal dan interlokal semua merangsek maju dan berusaha berbicara dengan Mamadd. Termasuk juga R dan petugas berseragam yang sudah menunggu selama tiga hari, tiga bulan, tiga jam dan tiga puluh menit sejak Mamadd melakukan tapa brata itu.

“sabar sodara-sodara sekalian” ujar Mamadd kalem. “biarkan saya minum dulu dan bicara sama saya punya pacar”.

“halo sayang, apa kabar? Katanya mau ke Mars? Gak jadi?” kata Mamadd bertanya.

“jadi-jadi gundulmu! Gak lihat apa aku khawatir! Huuu uuu uu” jawab R sambil menangis.

“lho kok gitu, kan kamu sendiri yang bilang, bahwa kamu ingin kesana” kata Mamadd. “bukankah kamu sendir yang bilang, aku ini goblok, tengik, keparat, jancuk, asu dan sebagainya dan sebagainya”

“ya itu kan dulu, kan aku gak nyadar kalo ngomong gitu sama kamu huuu uuu uu “ jawab R.

“nah itulah, bukankah kata-kata seringkali meluncur tanpa kendali?” jawab Mamadd. “ yang seringkali tidak disadari menyakiti orang lain”.

“untuk itulah sodara-sodara sekalian” lanjut Mamadd dengan bergaya “melakukan tapa mantra lambe lamis ini

“what is tapa mantra lambe lamis mister Mamadd?” tanya seorang wartawan asing.

“ you know lah, tapa mantra lambe lamis, is somekind of laku sepi ing pamrih untuk getting some wisdom dalam keadaan tiada bicara and yet open his cangkem” kata Mamadd.

“untuk apa?” tanya wartawan yang lainnya.

“seringkali kita, atau saya, atau anda, atau siapapun yang kebetulan punya mulut. Terlalu banyak bicara, terlalu banyak bersuara, terlalu banyak ngomong, terlalu banyak berdebat, terlalu banyak mengumpat, terlalu banyak bergunjing, terlalu banyak berencana dan terlau banyak dan sebagainya dan sebagainya” Mamadd diam sebentar, menggaruk pantat dengan tangan, lalu mencium tangan yang menggaruknya tadi.

“bau, and yet, kita seringkali lupa untuk mendengar! Dan yang paling penting! Kita seringkali lupa untuk berkata baik! Berkata benar! Berkata jujur! Berkata Tulus! Berkata Sederhana! Berkata lurus! Berkata jelas! Dan sebagainya dan sebagainya!” jawab Mamadd.

“dan untuk itu tapa mantra lambe lamis, dilakukan untuk memberikan semacam pengetahuan, semacam kedigdayaan, semacam pencerahan dan semacam macam lainnya” kata Mamadd semakin pelan.

“minta aer, saya haus” ujar Mamadd lalu lanjut. “tapa mantra lambe lamis akan membuat pemiliknya hanya berkata yang benar, hanya berkata jujur, hanya berkata santun, hanya berkata tulus, hanya berkata sopan, hanya berkata lurus, hanya berkata kebenaran, dan hanya berkata kesederhanaan!”

“it is posible mister Mamadd?” kata seorang wartawan.

Sure! In your dream” kata Mamadd lalu pergi minggat.

Meninggalkan penonton yang berjuta-juta itu kebingungan di pertigaan paling ramai di kota Bleketek.

Bondowoso, 30 Januari 2011.

Tiga Puluh

Hari ini Mamadd dengan dua de berulah lagi. Kemarin dulu dia sibuk bertapa dibawah pertigaan lampu merah. Sekarang dia jalan-jalan di depan Gedung Perwalian Ingatan (DPI). Mamadd berjalan layaknya pragawan yang sedang membawakan pakaian mahal nan megah. Bedanya, Mamadd hanya pakai celana cutbray warna hijau terang, kemeja safari warna biru tanpa dikancing, tubuhnya yang tambun berlemak penuh selulit bergelambir kemana-mana. Mamadd sedang kumat.

Konon katanya Mamadd datang ke DPI untuk mengajukan semacam hal yang namanya protes. Ya seperti biasa, hidup Mamadd yang kacau balau, sontoloyo, kuper, sengit itu seperti kurang greget kalo gak pake sensasi.

“hari ini aku mau protes pada DPI” kata Mamadd dengan gagah “agar tanggal tigapuluh dihapus saja dari semua kalender!” lanjutnya lagi. Ada apa ini? Mamadd selalu saja begitu, selalu gemebyar rame padahal kosong. Dipinggir jalan orang-orang ramai berkumpul. Senang melihat Mamadd, senang melihat orang mempermalukan dirinya sendiri, padahal orang-orang yang menonton itu sebenarnya tak punya malu.

“ealah, kenapa Madd?” kata bakul rokok.

“ya agar dicapai suatu kesepakatan dimana orang-orang tidak perlu mengingat tanggal tiga puluh” kata Mamadd acuh.

“wo gendeng! Masak tanggal tigapuluh mau dihapus?” kata hansip.

“kamu yang gendeng, kok mau-maunya ada tanggal tiga puluh” kata Mamadd teriak teriak. “Cuma orang goblok yang suka tigapuluh, tiga puluh itu tanggung jawab, dewasa, hutang, janji” kata Mamadd bersikeras “life begin at thirty?, mblegedes! Sontoloyo! Siapa yang berhak menentukan itu semua?”

“semua orang wajib dewasa Madd” kata guru PMP

“semua orang kecuali Aku!” kata Mamadd.

“semua orang pasti akan berumur tigapuluh Madd” kata guru ngaji.

“tidak, aku akan langsung berumur tigapuluh satu”. Kata Mamadd.

“hah bertele-tele, kutu kupret, babi gendeng! Hayoh jelaskan kenapa harus tiga puluh” kata seorang preman.

“wealah! Dasar! Orang egois, manusia tengik, gegar sejarah! Pasti dulu tiap pelajaran sejarah tidur! Tiap ada tragedi liat sinetron! Jadi nya gini, tengik culas dan gak mau tau!” kata Mamadd.

“siapa yang tengik dan culas Madd, gak usah banyak bacot!” kata tukang becak.

“heh kalian manusia tengik” ujar Mamadd, lalu berdiri diatas tugu gedung DPI. “kalian tahu? Pada tanggal 30 Mei 1619 VOC merebut pelabuhan Jakatra di pantai utara Pulau Jawa.”

“gak penting! Gak bikin kenyang!” kata calo tiket berteriak.

“gak penting gundulmu!” teriak seorang kakek tua. “anak muda tolol macam kamu, tahu apa soal sejarah? Soal membela tanah air? Soal memperjuangkan kemerdekaan!” jawab kakek yang ternyata pensiunan veteran yang sudah kecewa nasibnya dikadali pemerintah gak tau diri.

“pak’e sabar! Sabar! Nanti jantungnya kumat!” ujar seorang anak perempuan yang mungkin cucunya. “jangan sakit dulu Pak’e, rumah sakit masih mahal, biaya pengobatan masih selangit, kakek jangan mati dulu, setidaknya sampai nanti, pemerintah memberikan tunjangan pahlawan ke tiga belas” ujar si gadis kalem.

“DIAAAM! DIAAAM SEMUA! Dasar semua kafir! Semua sesat! Pemuja setan! Syahwat! Bisa-bisanya kumpul disini semua! Kapitalis! Yahudi! Ini pasti ingin merongrong agama dan sunah!” teriak orang bersorban dengan janggut lebat. “jadi ada apa disini, tolong saya dikasih tahu, sebelum menebas leher orang kafir. Lanjutnya singkat.

“wooo sok alim lu!”

“sok beragama koe”

“sok tauuu!”

Kondisi makin ricuh. Makin ramai, para bakul makanan, tukang copet, hansip dan perangkat negara saling berdebat. Saling teriak. Saling bicara. Ingin pendapatnya diperhatikan. Ingin suaranya didengar. Semua ramai, semua sontoloyo, dan semuanya seperti binatang.

“hehe hehe hehe hehe he he”

“oi Madd! Kenapa ketawa! Dasar wong gendeng!”

“ya lucu! Liat kalian”

“ini kan gara-gara kamu, ngomong gak penting”

“apanya gak penting?”

“ya omonganmu soal tanggal tiga puluh!”

“kenapa gak penting?”

“lhaaaa! Kenapa juga kami harus ingat ada apa tanggal 30 Mei 1619?” ujar orang itu. “padahal sekarang kan tiga puluh januari duaribu sebelas!”

“emang benar! Bukan masalah tanggal berapa, tapi apa yang terjadi tanggal segitu!”

kan sudah kami bilang, gak penting!”

“buatku penting! Saat itu pasukan kompeni datang ke Indonesia dan menaklukan batavia, membunuh banyak bangsa kita dan mengambil alih tanah bangsa kita”

“buat kami tidak penting”

“sapa suruh kalian mikir itu penting”

Orang-orang jadi pada ribut sendiri, mulai berpikir, memang benar. Mamadd tidak menyuruh mereka untuk mementingkan tanggal tiga puluh. Sama saja seperti tanggal duabelas, tanggal duasatu. Orang-orang mulai pusing, mulai gerah, mulai panas. Lalu tiba-tiba dari gedung DPI yang terhormat tergopoh-gopoh dua orang yang tak kalah gendud dari Mamadd. Tak kalah tengik dari Mamadd. Dan yang jelas lebih kaya dari Mamadd.

“sodara-sodara, tenang, sebagai anggota dewan yang terhormat” kata orang itu. “semua masalah pasti bisa diselesaikan seara konstitusional, secara beradap, kalo perlu kami akan menggunakan hak poling kami” kata anggota dewan tersebut.

“buuuuuuh! Telat!”

“sok pinter!”

“sok penting”

“sok peduli, padahal rapat kerjaannya tidur!”

“sok! Waktu kerja malah studi banding, maling lu!”

Orang orang malah menumpahkan kekesalan kepada Anggota dewan tersebut. Mukanya merah. Takut. Berkeringat. “tenang sodara-sodara sekalian, kami dari Dewan Perwalian Ingatan akan membentuk Satgas Kenduri” kata anggota dewan tersebut. “kami akan mengusut tuntas segala permasalahaan ini. Soal apa tadi? Oh iya, soal tanggal tigapuluh”

“boros gak guna!”

“satgas memble!”

Tiba-tiba Mamadd yang berada di atas tugu DPI meloncat dan salto diudara. Mendarat tepat didepan anggota dewan yang sekarang sama sekali tidak terhormat itu. Semua orang terpukau, semua orang diam, semua orang memperhatikan Mamadd.

“hei kamu kacung!” kata Mamadd menunjuk muka anggota dewan tersebut. “iya kamu, kacungku kan? Babu? Pembantu? Pelayan?”

“heh! Jangan kurang ajar! Saya ini anggota dewan yang terhormat!” kata nya “jelek-jelek gini saya sudah habis sawah 800 hektar supaya terpilih jadi anggota dewan, enak aja situ panggil saya”

“lho, kerjaanku kan mewakili aku di sana, di DPI, ya kamu jadi kacung dong! Hayo jongkok!”

“iya jongkok!”

“pelayan!”

“kacung”

“babu”

Melihat kondisi massa yang makin tak terkendali. Si anggota dewan terpaksa jongkok. Memang benar mungkin, hanya dalam keadan marah, dalam keadaan tertekan dan melawan. Masyarakat akan didengar oleh wakilnya.

“dengar ya? Titahku ini, titah dari rakyatmu, rajamu, yang kamu wakili, yang sering kamu lupakan, yang sering kamu tinggal tidur, yang sering kamu tinggal reses” uajar Mamadd sambil menunjukan jari telunjuk ke muka anggota dewan tersebut.

“kamu, babuku, pelayanku, kacungku! Dengar! Sekarang ini tanggal tigapuluh, persetan bulan apa. Kamu ingat? Tanggal tiga puluh Mei 2007 ada penembakan di Alastlogo, Pasuruan” mata Mamadd merah menahan marah, perutnya yang gendut menegang, dan badanya tegak berdiri.

“kalo dulu kompeni rebut tanah milik pribumi, kini militer yang bunuh rakyat sendiri. Dimana keadlian itu? Hah?” kata Mamadd teriak. “ ah jangankan peduli, ingat pun kau tak mungkin!”

“kamu tahu? Kerjamu yang gak becus sebagai Dewan Perwalian Ingatan! Yang mustinya ingat, yang mustinya tidak lalai, yang mustinya tidak lupa, gagal kamu laksanakan.”

“Empat orang yang mati tanggal tiga puluh itu akan terus menunggu keadilan!, akan terus menunggu pertanggung jawaban!” ujar Mamadd berapi-api.

“kalo kamu tidak bisa menuntaskan permasalahan ini, kalo kamu tidak kuasa menyelesaikan masalah ini! Kamu punya dua jalan! Satu kamu harus mundur!”

“tapi.. tapi.. tapi..” ujar anggota dewan itu mengiba. Mukanya melas.

“ya ya ya, saya tau, saya paham, orang tengik, gak tau diri macam kamu mana berani mundur untuk sebuah tanggung jawab?” kata Mamadd tegas. “oleh karena daripada itu, maka Kamu babuku, pelayanku, kacungku! Dengar! Harus menghapus tanggal tiga puluh disemua bulan, disemua kalender, agar tidak ada tanggal tigapuluh, agar tidak ada yang ingat, agar tidak ada yang mengenang, dan yang jelas! Tidak perlu ada hutang! Cukup sekian terima kasih.”

Setelah mengucap itu Mamadd, mundur, kabur, hilang.

Jumat, 28 Januari 2011

Gymnastiar


dok. nova


Menjadi seorang Abdullah Gymnastiar, atau televisi menyebutnya sebagai Aa’ Gym, boleh jadi bukan perkara mudah. Menjadi Gymnastiar saat ini adalah menjadi kesabaran. Karena entah mengapa, sebagai bagian dari bangsa yang kebanyakan mau tau kehidupan orang lain, bangsa ini mungkin sudah terlalu banyak menuntut pada Gymnastiar terlalu banyak.

Gymnastiar pernah menjadi konotasi nama yang merujuk pada seorang ahli ibadah, pusat patron ibu-ibu pengajian, korporasi syariah Manajemen Qolbu dan ustad santun sederhana dari sunda. Sepanjang tahun 2000-2007 karirnya bersinar begitu baik, dia bisa ditemukan di hampir setiap acara ceramah keagamaan. di sebagian besar acara siraman rohani tiap bulan puasa dan menjadi langganan pengajian untuk beberapa pengajian elit di ibukota.

Itu dulu, namun setelah Gymnastiar memutuskan untuk mengikuti panggilan hatinya melaksanakan salah satu sunnah. Karena poligami, Gymnastiar dicerca, dihinakan, dianggap pesakitan dan diakhiri dengan serangkaian pemboikotan atas acara-acaranya. Para penentang, dalam hal ini ibu-ibu pengajian, menganggap Gymnastiar munafik. Apakah Gymnastiar marah? Saya tidak tahu, tetapi sebagai manusia dia pasti kecewa, sangat kecewa saya pikir.

Apakah poligami adalah cela? Adalah dosa? Adalah pelanggaran? Tidak, poligami merupakan tindakan sah berdasarkan syariah. Perbedaan Perspektif yang membuat poligami menjadi semacam stigma atas ketidaksetiaan, pengkhianatan, nafsu berahi, dan perzinahan terlembaga. Apakah salah stigma itu? Tentu tidak sepenuhnya salah, toh memang benar banyak manusia yang menggunakan dalih poligami berkedok sunnah untuk memuaskan nafsu berahinya. Pertanyaannya adalah siapakah dijagat raya ini yang berhak menentukan seorang manusia laki-laki melakukan poligami karena nafsu dan bukan ibadah? Saya kira tidak ada.

Kalaupun ada, itu hanya sekedar indikasi-indikasi. Indikasi selalu bermuara pada kecurigaan dan kecurigaan seringkali bersumber pada sikap Suudzon. Lalu apa bedanya mereka yang belajar agama dengan para pencoleng gibah di tengah pasar? Gymnastiar bukan tuhan, tetapi sekedar mahluk yang sedang memanggul tanggung jawab sebagai penasihat umat. Ini baik, tetapi sebagai umat yang baik pula, seharusnya kita memiliki sikap tenggang rasa, pengertian dan toleransi. Bukan sekedar menuntut kesempurnaan.

Naif sekali seorang umat yang menuntut kesempurnaan pada manusia lain yang kebetulan menjadi pemimpin. Bukan berarti pemimpin bisa menjadi seenaknya dan berlinding dibalik ‘kemanusiaan-nya’. Ada hal-hal sederhana yang membutuhkan pengertian, seperti dalam hal ini poligami, adakah yang salah? Jika kemudian Gymnastiar menikahi seorang janda, yang kebetulan cantik, merupakan kehinaan? Tidak dia melakukan tindakan legal syah atas nama agama, sedangkan pada diri sendiri kita sering munafik dan menunjuk hidung orang lain atas kebusukan yang kita lakukan. Sementara Gymnastiar mencoba jujur pada diri sendiri, ia berpoligami, karena ia manusia yang berusaha mencegah kemungkinan berzina.

Seharusnya mereka yang mencibir, menghina, terutama yang dengan tempik sorak mengabarkan kehidupan Gymnastiar dengan begitu rupa, meminta maaf. Kalau perlu dengan sujud, apalah hak mereka untuk menilai dan menautkan ukuran pada nilai moralitas kehidupan orang lain? Apakah dengan beristri ganda seorang Gymnastiar menjadi pesakitan bermental residivis? Apakah dengan beristri satu Gymnastiar akan menjadi santo yang membawa segerombolan umat penuntut masuk sorga? Tidak, seringkali bangsa ini semakin mirip dengan umat Musa dikaki bukit Sinai. Menuntut terlalu banyak hasil instan pada satu orang dan terlalu malas berusaha berubah untuk diri sendiri.

Gymnastiar adalah seorang manusia yang umum ada, tetapi karena sedikit ilmu tentang agama yang dimilikinya ia hendak berbagi, hendak mengingatkan, hendak menyampaikan kabar dan hendak memberikan pengetahuan keimanan. Sejatinya hal ini perlu mendapatkan perhatian atau setidaknya sedikit rasa hormat terhadap pilihan hidupnya. Adakah itu terlalu banyak? Entahlah saya bukan umat yang baik, malah seringkali saya mencintai pemimpin spiritual saya dengan cara egois. Saya tidak ingin ia hidup untuk dirinya sendiri, saya ingin ia hidup lurus untuk saya sendiri, saya ingin ia hidup baik agar dapat saya contoh, dan yang lebih penting saya hanya ingin memonopoli kebaikannya untuk saya pribadi.

Semoga Gymnastiar memiliki hati yang lapang atas sikap saya ini. Memaafkan dengan tulus, karena perubahan sikap saya yang dulu mengagumi, lantas mencerca karena ia tak lagi hidup dalam proyeksi ideal saya tentang seorang pengayom umat. Seringkali sebagai umat yang terlalu banyak menuntut, saya ingin Gymnastiar tidak berubah, selalu seperti dulu. Hidup hanya untuk umat dan tidak untuk dirinya sendiri. Persetan dengan kehidupan pribadinya, karena saya adalah orang sesat yang butuh orang lain untuk kehidupan yang lebih lurus. Semoga Gymnastiar memaafkan.

Tentang maaf dan memaafkan Saya jadi Ingat seorang filsuf perempuan Yahudi bernama Hannah Arendt. Kebencian mengenai partai Nazi diakhirinya dengan pengampunan. Buat saya itu hal yang luarbiasa, karena dengan tidak memaafkan, kita akan terjebak pada luka masa lalu selamanya tidak akan bisa melangkah kedepan. Soal itu saya percaya, sangat percaya dan mempercayainya tanpa syarat.

Memaafkan dan menerima keadaan manusia lain sebagai manusia yang bisa salah itu luar biasa sulit. Seperti melihat uang milyaran euro teronggok dijalanan, tanpa pengamanan dan kita terjebak pada dilema manusiawi. Mengambilnya atau menyerahkan kepada orang yang mungkin dianggap bertanggung jawab. Akan ada selalu tanya yang tergenang disitu, iya kalau mereka melaksanakan tugasnya, kalau tidak? Uang itu dikakangi sendiri bagaimana?

Hidup seringkali merupakan perjuangan menghadapi kecurigaan. Tentang menghadapi yang tanda tanya. Itulah yang membuat manusia jadi manusia, berjuang mengenai sesuatu yang hasilnya tidak pasti. Lalu menjalaninya dengan penuh kesederhanaan. Mungkin dalam prosesnya kita akan dihina, disakiti dan diasingkan. Hal itu bukan perkara mudah tetapi bukan tidak mungkin. Menjadi manusia purna seringkali harus melalui jalan penuh rintangan. Soal itu mungkin saya harus banyak belajar kepada Gymnastiar.

Tentang Jatuh Cinta :


Untuk R

R apakah kamu pernah jatuh cinta? Rasanya itu seperti tanah kering yang mengalami kemarau panjang, lalu tiba-tiba datang segerombolan awan gelap yang menjanjikan batalion air untuk merangsek ke bumi. Jatuh cinta adalah perjanjian damai antara perih dan kebahagian. Mungkin, tapi bukankah kita terlalu sering jatuh cinta, sehingga tanah yang dulunya kering kini menjadi becek dan serangkaian awan gelap hanya menjadi kutuk seru manusia yang membenci basah? Apakah kau merasakannya R?


Oh ya, apa kabar R? Apakah disana kau baik-baik? Dan apakah kau tersenyum hari ini? Dan bagaimana hari-harimu? Apakah kau isi dengan semangat menggebu untuk jadi yang terbaik? Apapun itu kuharap segala macam yang baik dan barokah menempel erat padamu. Semacam doa tapi bukan basa-basi, aku sudah terlalu banyak basa-basi sehingga seringkali aku susah membedakan mana yang tulus dan mana yang bulus. Tetapi jika kau tanyakan kabarku, ya seperti biasa, aku sedang berusaha mengembalikan semangat untuk skripsi. Kata itu sudah terlalu lama menindasku. Keparat yang tak lekang juga ingin kubuang.


Entahlah R, tiba-tiba aku ingin berbagi. Berbagi tentang bagaimana rasanya jatuh cinta serta segala sontoloyo-nya, segala tindakan kampungannya dan segala sikap kekanak-kanakannya. Ya selama jatuh cinta bukan dosa dan jatuh cinta tidak dilarang negara, boleh dong aku bercerita. Aku yakin sebenarnya kita semua adalah seorang pecinta, yang mungkin telah berpengalaman, sehingga terlalu sibuk melupakan kisah jatuh cinta lama untuk mulai segala sontoloyo baru dengan kisah jatuh cinta yang baru. Ya R, manusia cenderung gegar sejarah terhadap hal-hal yang membuat mereka bersedih.

Tentu kamu tahu dengan siapa aku jatuh cinta, karena kita mungkin sudah terlalu banyak berbagi tentang kisah-kisah, tentang cerita-cerita dan segala tetek bengek mengenai perasaan yang terlalu menye-menye untuk dibagi kepada dunia. Karena dunia, seperti yang kamu dan aku pahami. Adalah dunia yang memuja segala macam materalisme, yang mengecam rasa sentimentil, yang mengecam perasaan sendu tentang segala macam harmoni. Kamu tentu tahu, jika seorang pria berkisah tentang awan, musim semi dan hujan dengan cara indah. Maka tanpa ragu-ragu dunia dengan segala macam norma, konsensus dan taik kucingnya akan memberi stempel besar pemimpi lembek pada pria semacam itu. Dan kita sudah terlalu lama menyerah pada rasa keras hati dan melupakan cita rasa kelembutan.

Tapi seperti yang aku bilang tadi R, aku mau bercerita tentang jatuh cinta tentu saja. Bukan tentang langit sore Jember yang menjadi kelabu seperti kuas pelukis yang gagal menaati kehendak warna cerah. Bukan R, bukan itu. Aku mau bercerita tentang rasanya jatuh cinta pada kesekian kalinya dalam hidupku yang berantakan -mendekati kesia-siaan ini. Tentu kamu mau mendengar bukan? Karena seperti mendung R, kupikir kau cukup adil dalam menyikapi segala macam ceracau dan sikap sontoloyoku selama ini. Makanya hendak kubagi padamu saja perasaan ini R, karena mungkin temanku yang lain terlalu sibuk menaklukan dunia beserta segala hal-hal brengsek yang menyertainya.

R, seperti yang mungkin kau belum tahu. Ya karena aku mungkin belum bercerita. Aku sangat menyukai Soe Hok Gie, sangat menyukai keparat etnis tionghoa yang cerdas itu R. Tetapi bukan kepada dia aku jatuh cinta R, ya kuharap kamu tahu, tentu kamu tahu kepada siapa aku jatuh cinta. Tapi boleh dong aku sekedar melakukan semacam intermezzo terhadap suratku kepadamu. Nah tentang Gie, dia adalah prototipe pria romantis idaman yang hendak kutiru habis-habisan perilaku dan gayanya R. Bukan, jika kemudian kau pikir aku sedang mengalami semacam disorientasi jati diri kau salah besar R. Kau Salah. Salah besar.

Kepada Gie aku menemukan cara jatuh cinta yang tepat R, tentang bagaimana memperlakukan perasaan yang sedang tumbuh untuk dapat bertanggung jawab. Karena, seperti yang kamu tahu R, terkadang jatuh cinta adalah penistaan terhadap suatu kehormatan perempuan. Dan dalam banyak kasus, jatuh cinta adalah awal dari kehancuran cinta-cinta yang lainnya. Bukankah sudah banyak kau baca dalam kisah-kisah so called feminism literature, tentang seorang pria keparat menempatkan jatuh cinta seonggok lebih baik daripada nafsu. Nah untuk itu Raku mau berkisah tentang Gie. Tentang bagaimana Gie memperlakukan rasa jatuh cinta itu. Ya karena, sebagai manusia adalah naif menanyakan suatu hal yang tak pernah terjadi, tapi buatku meyakini hal yang telah dialami orang lain adalah sebuah pembelajaran.

Gie berucap ‘Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.’ Itulah resep Gie dalam menjaga perasaan jatuh cinta agar dapat adil dan tidak melukai R. Adalah dapat mencintai dengan iba hati dan merasai kedukaan. Adakah kita yang mungkin terlalu santun mengakui bahwa jatuh cinta adalah sikap tengik yang tidak bertanggung jawab? Bukan R, bukan bermaksud menggurui, karena jatuh cinta pada setiap manusia adalah kisah yang berbeda. Maksudku seringkali, jatuh cinta digunakan sebagai pledoi paling murahan yang membenarkan sikap konyol dan kampungan terhadap orang lain. Tentu kamu tahu, karena aku tidak jatuh cinta pada satu orang saja. Dan itulah sikap tengik yang tidak bertanggung jawab.

Siapalah manusia yang mampu mengalami jatuh cinta pada dua orang tanpa memiliki sikap berat sebelah? Atau adil dalam membagi rasa? Bukankah Rasul kita pun mengakui kefanaanya dengan memilih melabuhkan cinta yang terlalu pada salah satu istrinya? Ah R, kadang aku berpikir jatuh cinta adalah merayakan kepura-puraan yang seolah baik, tulus, bening dan suci. Padahal jatuh cinta tak lebih dari seonggok taik kucing dengan kemasan yang gegap gempita.

Jatuh cinta adalah perjuangan R, tentu kau tau, harus tahu. Karena dengan tahu manusia akan belajar untuk memahami. Mereka yang gagal memahami adalah mereka yang tidak tahu. Untuk itu aku menulis ini R. Karena seperti halnya layar kapal pinisi yang melaut, kita hanya perlu tahu kemana arah angin bergerak untuk dapat sampai ketujuan. Dan bukankah tujuan jatuh cinta adalah menunjukan rasa dan berharap mampu berbagi kebahagiaan dengan orang lain? Jatuh cinta bukan sekedar ijab sepakat kepemilikan yang mereka bilang pacaran. Bukan, bukan tentang itu. Hal ini jauh daripada itu R. Jatuh cinta adalah proses menuju kebijaksanaan, yang mungkin dilalui dengan terluka dan air mata.

Apalah arti seorang manusia yang tidak pernah mengalami kegagalan, duka, airmata, kesedihan, dan penindasan dalam hidupnya? Kukira ia orang yang gagal, karena dictum homo homini lupus adalah vonis mati kehidupan. Segala macam kegagalan, duka, airmata, kesedihan, dan penindasan yang kubilang tadi karena ya, tentu saja, sering kali disebabkan oleh manusia lain R. Dan bukankah kisah manusia adalah kisah tentang kekalahan? Jatuh cinta pun tak luput dari skenario paling purba ini. Mungkin kemudian kau akan berpikir? ‘apa yang membuat kisah jatuh cintamu berbeda mas Dhani?’. Akan kujawab nanti R, tidak sekarang, karena jawaban itu hanya bisa muncul setelah jatuh cinta ini usai. Bukankah sikap adil seorang pengamat adalah saat penelitiannya usai? Dan kisah jatuh cinta ini belum menemukan endingnya R.

Aku hanya mau berbagi tentang proses Jatuh Cinta. Karena seringkali kita melupakan proses, dimana semua mata, telinga dan perhatian berpaku pada hasil. Tentu saja, manusia adalah manusia. Selamanya demikian. Hasil akhir adalah tolok ukur, dan peduli setan dengan proses. Karena proses hanya dinikmati, dialami dan dirasakan oleh si empunya hidup dan bukan orang lain. Termasuk jatuh cinta R. Bukankah jatuh cinta itu seringkali yang ditunggu adalah tentang ‘berhasilkah si fulan mendapatkan si nona?’ atau semacam ‘akhirnya si fulan berantakan setelah ditolak si nona’. Kukira hal ini karena sinetron dan film-film kitsch buatan Punjabi itu R. Karena siapapun yang menikmati sinetron tidak peduli pada proses akting, lakon, cerita atau bahkan estetika. Mereka hanya peduli ending cerita indah dari tokoh utama yang kerap kali disiksa tanpa logika. Mereka sekedar penonton.

Lalu dimana kedewasaan itu, Jika semua adalah tentang hasil akhir? Bukankah jatuh cinta adalah tentang menikmati perasaan. Tentang malu-malu yang lugu, tentang kesenangan sederhana, tentang meresapi hal-hal konyol, dan menautkan segala rindu pada bayang-bayang. Jatuh cinta itu personal R, entahlah mengapa kemudian kebanyakan orang yang sedang jatuh cinta terlalu mengumbar perasaan dengan cara yang bodoh. Aku misalnya, adalah contoh orang bodoh itu. Harusnya aku paham, jatuh cinta ialah tentang kerahasiaan yang paling rahasia dari kesenyapan. Dengan pelan-pelan menikmati debar-debar jawaban atas perasaan yang meluber. Bukankah itu suatu hal yang indah R, jatuh cinta itu.

Perasaan itulah yang entah bagaimana caranya tiba-tiba tak patuh lagi pada kehendak otakku. Ia subversif, kurang ajar dan melawan dengan jalan klandestin. Perasaan jatuh cinta itu mengarak segala macam nalar dan logikaku keluar jalan. Menipunya lalu membenamkan segala macam rasa malu dalam-dalam ditengah belantara hutan yang angker dan jarang disinggahi. Jatuh cinta itu pun kurang ajar, bukankah ia seringkali menyaru pada rupa-rupa orang? Warna-warna tembok, jalanan becek berlubang, bau amis ikan, cucian kotor dan anak jalanan yang mengasong diperempatan jalan. Jatuh cinta itu yang membuatku seperti dikencingi mahluk fasis yang tidak mau tahu dengan orang lain. Jatuh cinta ini R, yang diam-diam merengut kesadaranku dan merobek pelan kendali diriku. Dalam jatuh cinta, aku kehilangan kendali diri.

Karena seperti halnya hidup, jatuh cinta adalah seringkali adalah proses kompromi diri terhadap keadaan baru. Didalamnya ada berbagai macam statuta yang berkelindan antara kepentingan satu dan yang lainnya. Bertubrukan begitu rupa dan melemahkan hal-hal yang lainnya. Itulah jatuh cinta R, itulah yang mungkin, jika boleh, kujadikan alasan untuk tidak memulai sebuah hubungan baru. Karena aku terlalu capek, bosan dan keras kepala untuk menerima yang liyan. Adakah jalan tengah untuk hal ini? Aku pikir tidak ada, tapi entahlah? Bukankah kisah hidup manusia tidak berakhir hanya pada proses jatuh cinta semata. Lebih dari itu, kisah hidup manusia seringkali berisi tentang pergolakan antara yang tebal dan yang tipis, yang wangi dan yang busuk, yang keras dan yang lembut, yang radikal dan konservatif. Mungkin semuanya berkisar tentang perbedaan-perbedaan yang berulang ulang.

Kamu masih menyimak R? Kuharap kau tidak tertidur di tengah surat, karena aku sendiri tahu, aku seringkali melantur pada hal-hal yang mungkin tidak penting. Seperti mendung kelabu yang menelan habis kepongahan warna. Seperti keharibaan mendung yang adil dalam kusam suasana. Segala macam desis umpatan kata kebun binatang pada mendung yang terlalu pekat. Segala macam remeh temeh tak penting yang membuat surat ini menjadi terlalu panjang dan dimengerti. Tapi kuharap kau mengerti R, karena aku yakin, kamu adalah salah seorang yang sedikit bisa memahami isi batok kepalaku yang tak lebih besar dari kacang kedelai.

Ah soal jatuh cinta itu, atau hampir semua jatuh cinta yang kualami R. Selalu berakhir dengan kekalahan, mungkin benar kata Chairil Anwar, ‘hidup hanya menunda kekalahan’. Tetapi mengapa kekalahanku selalu dalam jatuh cinta? Sempat kupikir demikian, tapi tak lama. Setiap orang punya kekalahannya masing-masing. Mustinya aku bersyukur karena kekalahanku adalah tentang jatuh cinta dan bukan yang lain. Sebab dalam sejarah hidupku yang tak begitu lama ini, aku melihat banyak sekali kekalahan yang lain. Mereka yang dikalahkan tuhan, mereka yang dikalahkan kedengkian, mereka yang dikalahkan dendam, mereka yang dikalahkan sekolah, mereka yang dikalahkan pemerintah, mereka yang dikalahkan kata-kata atau yang paling menggelikan mereka yang dikalahkan televisi. Sekali lagi Chairil benar, kupikir dalam kekalahan ‘ada yang tetap tidak terucapkan, sebelum pada akhirnya kita menyerah’.

Saat aku menulis surat ini, langit sedang sibuk bergemuruh, sesekali angin mulai ribut menggoda langit untuk sekalian menurunkan hujan. Sementara diseberang rumah barisan tanaman padi bersikukuh untuk berbaris rapi menantikan hujan. Entahlah apa yang mereka pikirkan, tetapi jika Rasululah benar, mereka sedang bertasbih. Kepada yang Maha Esa atas segala kesempatan hidup. selintas dengan segera aku punya pertanyaan, ‘apakah jatuh cinta itu milik manusia saja?’ Bagaimana dengan Batu? Tanah? Langit? Awan? Hujan? Semut? Kodok? Ular? Dan sederet panjang tak terhingga benda mati dan hidup lainnya? Adakah mereka jatuh cinta? Mungkinkah mereka jatuh cinta pada sesamanya? Atau berlainan jenis? Mungkin saja langit jatuh cinta pada bulan, sementara bumi jatuh cinta pada matahari? Bukankah cocok, jika bumi tak jatuh cinta pada matahari, mengapa ia dengan tulus selama jutaan tahun begerak mengikuti poros yang ada? Lalu jika langit tak jatuh cinta pada bulan, mengapa ia membiarkan bulan bergantung mesra pada tiap malamnya?

Jika demikian, kupikir segala hal dijagat raya ini merupakan semacam pertunjukan atas jatuh cinta. Dan segalanya bukan tentang hasil, tetapi tentang proses dimana jatuh cinta tersebut menghasilkan harmoni. Sungguh, kupikir ini harus dikabarkan, pada dunia, pada semesta. Bahwa jatuh cinta bukan sekedar memiliki, tetapi tentang menunjukan perasaan, lalu jika beruntung kau bisa berbagi dengan orang yang kau cintai. Namun hidup bukan dongeng, dan kisah manusia seringkali adalah komedi satir yang jarang menuai tawa. Apakah aku sentimentil R? Atau aku mulai hiperbolis? Apapun itu tolong hentikan aku dengan segala cara, tampar mukaku, jambak rambutku atau gelitiki tubuhku agar aku bangun. Sungguh, seringkali hidup dalam mimpi buruk itu membutakan hati manusia. Dan aku tak mau kehilangan hatiku R.

Sementara langit, awan mendung dan petir bersepakat hujan. Otakku tak lepas dari jatuh cinta. Kamu tahu R? Diluar langit semakin muram, biru warna yang indah itu sudah hilang entah kemana, diganti serangkaian awan kelabu yang semakin tua, cerewet dan ringkih. Mungkin sebentar lagi hujan yang dijanjikan gelap akan datang. Apalah itu artinya jika aku sendiri tak tahu apa mauku? Tentang jatuh cinta itu mungkin seperti kehendak gelap awan yang membawa hujan. Mereka tidak pernah tahu kapan mereka akan menjauhkan air, seberapa lama dan bagaimana caranya. Jatuh cinta adalah mendung kelabu yang tidak tahu kapan akan berakhir menjadi pelangi atau malah berujung badai. Ah peduli setan pada ending, bukankah menunggu hasil yang tidak terjamin adalah sebuah kenikmatan?

Sudahlah, aku terlalu banyak meracau kali ini. Surat ini sudah terlalu banyak berisi kalimat-kalimat yang bermakna ganda, barangkali tidak penting. Kuharap kau maklum, bukankah jatuh cinta membuat orang jadi goblok? Dan kuharap kau mau membacanya juga, syukur kalo dibalas, tetapi bukan balasan yang kuharapkan. Tetapi sebuah sikap pengertian, bahwa menjadi orang yang jatuh cinta membutuhkan ruang tersendiri untuk egois dan keras kepala. Jatuh cinta membuat orang jadi berkepala batu. Seringkali malah membuat mereka buta lalu terluka. Perlahan aku mendengar, Rendra berbisik pelan ‘Semuanya akan beres. Pasti beres. Mengeluhkan keadaan tak ada gunanya. Kesukaran selalu ada. Itulah namanya kehidupan’.

Tabik.

ADBH