Jumat, 28 Januari 2011

Gymnastiar


dok. nova


Menjadi seorang Abdullah Gymnastiar, atau televisi menyebutnya sebagai Aa’ Gym, boleh jadi bukan perkara mudah. Menjadi Gymnastiar saat ini adalah menjadi kesabaran. Karena entah mengapa, sebagai bagian dari bangsa yang kebanyakan mau tau kehidupan orang lain, bangsa ini mungkin sudah terlalu banyak menuntut pada Gymnastiar terlalu banyak.

Gymnastiar pernah menjadi konotasi nama yang merujuk pada seorang ahli ibadah, pusat patron ibu-ibu pengajian, korporasi syariah Manajemen Qolbu dan ustad santun sederhana dari sunda. Sepanjang tahun 2000-2007 karirnya bersinar begitu baik, dia bisa ditemukan di hampir setiap acara ceramah keagamaan. di sebagian besar acara siraman rohani tiap bulan puasa dan menjadi langganan pengajian untuk beberapa pengajian elit di ibukota.

Itu dulu, namun setelah Gymnastiar memutuskan untuk mengikuti panggilan hatinya melaksanakan salah satu sunnah. Karena poligami, Gymnastiar dicerca, dihinakan, dianggap pesakitan dan diakhiri dengan serangkaian pemboikotan atas acara-acaranya. Para penentang, dalam hal ini ibu-ibu pengajian, menganggap Gymnastiar munafik. Apakah Gymnastiar marah? Saya tidak tahu, tetapi sebagai manusia dia pasti kecewa, sangat kecewa saya pikir.

Apakah poligami adalah cela? Adalah dosa? Adalah pelanggaran? Tidak, poligami merupakan tindakan sah berdasarkan syariah. Perbedaan Perspektif yang membuat poligami menjadi semacam stigma atas ketidaksetiaan, pengkhianatan, nafsu berahi, dan perzinahan terlembaga. Apakah salah stigma itu? Tentu tidak sepenuhnya salah, toh memang benar banyak manusia yang menggunakan dalih poligami berkedok sunnah untuk memuaskan nafsu berahinya. Pertanyaannya adalah siapakah dijagat raya ini yang berhak menentukan seorang manusia laki-laki melakukan poligami karena nafsu dan bukan ibadah? Saya kira tidak ada.

Kalaupun ada, itu hanya sekedar indikasi-indikasi. Indikasi selalu bermuara pada kecurigaan dan kecurigaan seringkali bersumber pada sikap Suudzon. Lalu apa bedanya mereka yang belajar agama dengan para pencoleng gibah di tengah pasar? Gymnastiar bukan tuhan, tetapi sekedar mahluk yang sedang memanggul tanggung jawab sebagai penasihat umat. Ini baik, tetapi sebagai umat yang baik pula, seharusnya kita memiliki sikap tenggang rasa, pengertian dan toleransi. Bukan sekedar menuntut kesempurnaan.

Naif sekali seorang umat yang menuntut kesempurnaan pada manusia lain yang kebetulan menjadi pemimpin. Bukan berarti pemimpin bisa menjadi seenaknya dan berlinding dibalik ‘kemanusiaan-nya’. Ada hal-hal sederhana yang membutuhkan pengertian, seperti dalam hal ini poligami, adakah yang salah? Jika kemudian Gymnastiar menikahi seorang janda, yang kebetulan cantik, merupakan kehinaan? Tidak dia melakukan tindakan legal syah atas nama agama, sedangkan pada diri sendiri kita sering munafik dan menunjuk hidung orang lain atas kebusukan yang kita lakukan. Sementara Gymnastiar mencoba jujur pada diri sendiri, ia berpoligami, karena ia manusia yang berusaha mencegah kemungkinan berzina.

Seharusnya mereka yang mencibir, menghina, terutama yang dengan tempik sorak mengabarkan kehidupan Gymnastiar dengan begitu rupa, meminta maaf. Kalau perlu dengan sujud, apalah hak mereka untuk menilai dan menautkan ukuran pada nilai moralitas kehidupan orang lain? Apakah dengan beristri ganda seorang Gymnastiar menjadi pesakitan bermental residivis? Apakah dengan beristri satu Gymnastiar akan menjadi santo yang membawa segerombolan umat penuntut masuk sorga? Tidak, seringkali bangsa ini semakin mirip dengan umat Musa dikaki bukit Sinai. Menuntut terlalu banyak hasil instan pada satu orang dan terlalu malas berusaha berubah untuk diri sendiri.

Gymnastiar adalah seorang manusia yang umum ada, tetapi karena sedikit ilmu tentang agama yang dimilikinya ia hendak berbagi, hendak mengingatkan, hendak menyampaikan kabar dan hendak memberikan pengetahuan keimanan. Sejatinya hal ini perlu mendapatkan perhatian atau setidaknya sedikit rasa hormat terhadap pilihan hidupnya. Adakah itu terlalu banyak? Entahlah saya bukan umat yang baik, malah seringkali saya mencintai pemimpin spiritual saya dengan cara egois. Saya tidak ingin ia hidup untuk dirinya sendiri, saya ingin ia hidup lurus untuk saya sendiri, saya ingin ia hidup baik agar dapat saya contoh, dan yang lebih penting saya hanya ingin memonopoli kebaikannya untuk saya pribadi.

Semoga Gymnastiar memiliki hati yang lapang atas sikap saya ini. Memaafkan dengan tulus, karena perubahan sikap saya yang dulu mengagumi, lantas mencerca karena ia tak lagi hidup dalam proyeksi ideal saya tentang seorang pengayom umat. Seringkali sebagai umat yang terlalu banyak menuntut, saya ingin Gymnastiar tidak berubah, selalu seperti dulu. Hidup hanya untuk umat dan tidak untuk dirinya sendiri. Persetan dengan kehidupan pribadinya, karena saya adalah orang sesat yang butuh orang lain untuk kehidupan yang lebih lurus. Semoga Gymnastiar memaafkan.

Tentang maaf dan memaafkan Saya jadi Ingat seorang filsuf perempuan Yahudi bernama Hannah Arendt. Kebencian mengenai partai Nazi diakhirinya dengan pengampunan. Buat saya itu hal yang luarbiasa, karena dengan tidak memaafkan, kita akan terjebak pada luka masa lalu selamanya tidak akan bisa melangkah kedepan. Soal itu saya percaya, sangat percaya dan mempercayainya tanpa syarat.

Memaafkan dan menerima keadaan manusia lain sebagai manusia yang bisa salah itu luar biasa sulit. Seperti melihat uang milyaran euro teronggok dijalanan, tanpa pengamanan dan kita terjebak pada dilema manusiawi. Mengambilnya atau menyerahkan kepada orang yang mungkin dianggap bertanggung jawab. Akan ada selalu tanya yang tergenang disitu, iya kalau mereka melaksanakan tugasnya, kalau tidak? Uang itu dikakangi sendiri bagaimana?

Hidup seringkali merupakan perjuangan menghadapi kecurigaan. Tentang menghadapi yang tanda tanya. Itulah yang membuat manusia jadi manusia, berjuang mengenai sesuatu yang hasilnya tidak pasti. Lalu menjalaninya dengan penuh kesederhanaan. Mungkin dalam prosesnya kita akan dihina, disakiti dan diasingkan. Hal itu bukan perkara mudah tetapi bukan tidak mungkin. Menjadi manusia purna seringkali harus melalui jalan penuh rintangan. Soal itu mungkin saya harus banyak belajar kepada Gymnastiar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar