Kamis, 13 Januari 2011

Maaf,


“Whether the future is a kind or a cruel god is, of course, its own affair: Humanity too often claps with just one hand” (earth of mankind)

Pada suatu kesempatan Goenawan Mohamad (GM) pernah menulis sebuah surat kepada Pramoedya Ananta Toer (Pram). Kira-kira isinya adalah kekecewaan GM terhadap sikap Pram yang menolak permintaan maaf Gus Dur atas sikap Orde Baru terhadap Pram. Penolakan itu sendiri karena Pram menganggap permintaan maaf itu hanya basa-basi. Dan Pram tak butuh basa-basi, sudah cukup Pram ditindas, diasingkan, dikekang pendapatnya dan karya-karyanya dihancurkan. Dalam banyak hal saya masih percaya, keadilan di Indonesia masih berada entah dimana.
Penolakan Pram inilah yang oleh GM dianggapnya kurang bijaksana, atau dalam bahasa GM ‘telah bersuara parau ketidakadilan’. GM menganggap bahwa Pram sudah melupakan aspek penting dari minta maaf, seseorang seringkali dalam sikap minta maaf itu merendahkan diri untuk memohon. Gus Dur dalam hal ini selaku Presiden, sudah meminta maaf atas nama Pemerintah, pemimpin NU dan seorang yang egaliter. Tak cukupkah itu semua bagi Pram? Lalu siapakah yang benar dalam konteks masalah ini? Entahlah, yang jelas soal ‘Maaf” saya punya pendapat sendiri.
Buat Saya meminta maaf atau memberi maaf itu persoalan mudah. Tinggal berucap, serong tangan, bersalaman, tuntas sudah prosesi maaf itu. Tetapi jauh yang lebih subtantif dari permasalahan Maaf dan Memaafkan itu lebih kompleks, dan jauh lebih kaffah dari yang nampak di permukaan. Maaf membutuhkan tindak lanjut baik perubahan sikap, aksi nyata atau dalam banyak kesalahan ganti rugi atas ketaknyamanan yang dibuat. Karena seringkali (bangsa ini) menganggap semua permasalahan bisa diselesaikan dengan sekedar maaf.
Kemarin (12 Januari 2010) seorang kawan aktifis Migran Care mengirim pesan pada Saya. Isinya seruan untuk patungan sebesar seribu rupiah. Uang tersebut hendaknya akan dikumpulkan dan digunakan untuk membantu kepulangan para buruh migran, yang kini terdampar di sebuah kolong jempatan di Arab Saudi. Sontak saya marah dan kesal, bukan karena ia minta uang. Tapi karena rasa marah atas ketakberdayaan saya selaku manusia, selaku warga negara dan selaku umat beragama. Pemerintah macam apa yang tidak mampu menolong warga negaranya, sampai-sampai rakyatnya diminta patungan untuk membantu rakyat lainnya? Pemerintah yang gagal atau saya yang naif?
Saya adalah manusia, terlepas keberadaan Tuhan, kita memiliki empati dan simpati. Empati untuk bisa merasakan penderitaan orang lain dan simpati untuk ikut peduli atas persoalan orang lain. Tetapi kenapa, permasalahan macam ini tidak lekas kelar? Kemana kepedulian saya dan manusia-manusia lain? Apakah semua hati manusia sudah beku dan mati seperti halnya tokoh Scrooge dalam Crishtmas Carol nya Charles Dickens? Manusia yang hanya peduli pada urusan perut dan citranya sendiri, manusia yang terjebak pada pragmatisme semu hidup.
Sampai detik ini saya masih tercatat sebagai warga kabupaten Bondowoso, yang berada di Jawa Timur, dan kebetulan masih di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dimana mungkin saja saya masih diwakilkan di DPR dan mungkin juga masih dipimpin oleh Presiden. Sepertinya demikian, tetapi entah mengapa saya jadi ragu-ragu. Mungkinkah pemerintah saya ini akan melindungi saya? Mengayomi saya? Mensejahterakan saya? Atau melayani saya? Sementara pada buruh migran yang per Desember 2010 telah memberi pemasukan devisa lebih dari 5,031 milyar dollar, pemerintah tidak mampu melindungi, mengayomi, mensejahterakan apalagi melayani?
Kebetulan saya lahir dalam keluarga yang agamanya islam. Dan kebetulan pula keluarga saya adalah keluarga yang moderat. Tidak dalam artian mengatasnamakan agama dalam legitimasi perbuatan. Masih diberi kelonggaran untuk mencaritahu, memperdebatkan dan mempelajari agama saya. Meyakini konsepsi Syahadat bukan sekedar habluminallah tetapi juga habluminannass. Tetapi buat menolong orang-orang itu kok rasanya berat? Rasanya sulit? Ngapain ditolong? Mereka sendiri yang ke Arab Saudi, jadi TKI gelap. Kalo disiksa ya resiko, kalo mati ya takdir, kenapa saya musti peduli sementara pemerintah aja gak mau tahu.
Malamnya (12 Januari 2010) Menkopolhukam membuat jumpa Pers. Bercerita bahwa Prseiden tidak berbohong. Tentang data kemiskinan, tentang komitmen memberantas korupsi dan tentang penanggulangan mafia hukum. Soal TKI gmana? Seingat saya pada kasus Sumiati, TKI yang bibirnya digunting, tubuhnya disiksa itu, Presiden kita yang katanya terhormat itu pernah bikin janji, mau menangani secara serius. TKI yang terlantar akan dibantu, pengawasan akan diperketat. Tapi sejak tahun kemarin sampai hari ini gak ada tuh buktinya. Ini saya yang goblok atau presidennya yang bohong?
Kembali pada Pram tadi dalam surat jawabannya untuk GM, Pram berujar ‘Orang seperti saya menderita karena tiadanya hukum dan keadilan. Saya kira masalah ini urusan negara, menyangkut DPR dan MPR, tetapi mereka tidak bicara apa-apa. Itu sebabnya saya menganggapnya sebagai basa basi. Saya tidak mudah memaafkan orang karena sudah terlampau pahit menjadi orang Indonesia.’ Barangkali Pram benar, tidak perlu kita percaya pada orang-orang itu, lembaga-lembaga itu. Karena harapan yang kosong seringkali terlalu menyakitkan daripada pukulan fisik.
Pada akhirnya saya kemudian larut dalam ketidakberdayaan dan hanya mampu mengutuk. Melawan dari luar hanya akan membentur tembok, sedangkan menjadi bagian dari sistem sama artinya kita menyerahkan diri untuk dipancung. Keduanya bukan pilihan mudah, saya tidak punya konsistensi mental yang kuat. Mungkin saya hanya bisa mengamini Pram ‘Goenawan mungkin mengira saya pendendam dan mengalami sakit hati yang mendalam. Tidak, saya justru sangat kasihan dengan penguasa yang sangat rendah budayanya, termasuk merampas semua yang dimiliki bangsanya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar