Minggu, 09 Januari 2011

Tentang wanita yang mencintai kesunyian bernama Toer


Barangkali dalam hidupnya yang luarbiasa, Pramoedya Ananta Toer, hanya mencintai dan membuka diri sebagai mahluk komunal secara utuh pada istri keduanya Maemunah Thamrin.

Kemarin saya membaca sebuah kabar dari akun Twitter milik Saut Situmorang. Kabar tersebut adalah kabar kematian Maemunah Thamrin. Istri dari almarhum Pramoedya Ananta Toer, saat itu saya kaget sekali. Sesaat setelah memanjatkan doa, kabar itu saya teruskan di Twitter dan Facebook milik saya. Tanggapannya bermacam-macam, seorang kawan di Makasar dan Jakarta turut mengkonfirmasi kebenaran itu. Saya membenarkan kabar kematian tersebut. Yang lain hanya bisa memberi jempol tanpa ikut berdoa, semoga Allah mengampuni jempol orang-orang tersebut.

Saya pribadi tidak mengenal Maemunah Thamrin secara jelas. Karena ia bukanlah sesosok pesohor macam Shinta Jojo atau Lady Gaga. Bukan pula penyair atau sastrawan. Ia hanya seorang wanita luarbiasa yang mirip dengan ibu saya. Sesederhana itu. Saya sendiri mengenal (wajah) Maemunah Thamrin dari sampul dalam Buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu jilid II. Dan dalam beberapa bagian buku tersebut terdapat fragmen-fragmen yang menggambarkan Maemunah Thamrin sebagai wanita dengan kualitas kebaikan dan ketabahan tanpa banding.

Dalam hidup saya jarang sekali mengenal wanita-wanita tangguh yang mempunyai mentalitas seperti baja. Selain Ibu dan sahabat saya Ning, wanita yang saya kenal cenderung menye-menye dan berkualitas sandal jepit. Diam saat diinjak dan putus jika digunakan lari. Maemunah dalam banyak kesempatan, digambarkan sebagai perempuan kelas wahid yang mau mengerti dan tabah dalam menghadapi hidup. Pramoedya Ananta Toer boleh jadi dikenal sebagai sastrawan hebat yang berkali-kali dinominasikan sebagai peraih Nobel sastra, tetralogi Pulau Burunya laku dan dicari banyak orang. Tetapi awal-awal kehidupan penulisnya kondisi tak lebih baik dari anak jalanan. Miskin dan sakit-sakitan.

Kehidupan Pram yang keras dan susah ini, digambarkan dari karyanya Cerita Dari Blora dan Bukan Pasar Malam. Sehingga bolehlah kiranya kita menganggap bahwa kerasnya pendirian Pram dalam hidup, ditempa oleh pengalamannya semasa muda. Yang mungkin oleh Istri pertamanya salah ditafsir dan dimaknai sebagai hidup yang tak berguna dan sengsara. Dalam banyak kesempatan Pram menggambarkan istri pertamanya dengan kurang baik. Seperti “merongrong suaminya karena kurang keras bekerja” atau dalam Bukan Pasar Malam mata yang dulu bagus dan yang kini tak menarik hatiku lagi itu”. Tetapi sudahlah, kita tidak sedang mengenang Istri pertama Pram.

Disisi lain Pram, begitu santun, kasmaran, dan sangat centil menggambarkan Maemunah sebagai Istri yang sempurna. Kepada putri ke Empatnya Astutiek atau Tieknong, dalam sebuah surat, Pram menceritakan awal pertemuannya dengan Maemunah. Saat itu Maemunah menjaga stand buku Toko Gunung Agung. Dalam sebuah fragmen Pram berkata “Pertemuan dan perkenalan dengan ibumu membikin semangat hidupku bangkit kembali. Dengan dia aku akan hidup.” Sebelumnya Pram yakin bahwa ia akan mati sebelum umur 30, namun kini ia menemukan bara kehidupan baru. Seakan hidup Pram yang kedua dimulai pada saat ia bertemu dengan Maemunah.

Saat berkenalan dengan Maemunah ternyata Pram tidak mengetahui perihal siapakah Hadji Abdulah Thamrin, Ayahanda Maemunah yang juga saudara dari M.H Thamrin itu. Apalagi perihal kekayaan Ayahanda Maemunah yang banyak memiliki rumah di Jakarta saat itu. Maemunah pun tampaknya tidak begitu peduli dengan materi, karena dengan Pram ia tidak berbagi cerita tentang kekayaannya. Barangkali itu pula yang membuat Pram jadi Kasmaran. Dalam hal ini Pram menggambarkan perasaannya “Seakan-akan kami berdua bertemu sebagai orang yang tak punya sangkut paut dengan apapun. Hubungan kami Polos, tanpa sesuatu syarat, suatu hubungan yang sederhana, indah tanpa Pretensi.”

Dalam banyak kehidupan penulis dan pengarang besar, peran seorang istri memang sangat luar biasa. Bahkan beberapa penulis mengabadikan kisah pertemuan dengan istrinya dalam suatu cerpen atau novel, dan kisah itu malah jadi suatu magnum opus. Sebut saja James Joyce dengan istrinya Nora yang kemudian melahirkan Ulysses atau Tolstoi dan Sofya Tolstaya istrinya dalam kisah Karzak dan Penyerbuan. Pram sendiri kemudian mengabadikan kisah pertemuannya dengan Maemunah kedalam cerpen ‘Sunyi Senyap di Siang Hidup,’ sayangnya saya belum beruntung untuk dapat membaca karya tersebut.

Kehidupan mereka bukannya lancar jaya atau indah seperti kisah Cinderela. Malah mungkin sangat dramatis, lebih dramatis dan emosional daripada cerita-cerita bikinan Punjabi. Kehidupan mereka menggambarkan kehidupan kebanyakan orang Indonesia pada tahun 50-60an. Keras dan sulit dalam menghadapi kehidupan sebagai warga negara yang baru merdeka. Ajip Rosidi yang sempat sangat dekat dengan keluarga Pram menggambarkan kehidupan pengantin baru itu dengan sangat lihai, ia berkata “Saya sering mengunjungi Pram dan Maemunah di rumah petaknya…hanya satu ruangan tidur…dapur, berlantai tanah. Bagian depan rumahnya memakai Ram kawat…yang biasa dipakai untuk kandang ayam.” Bukan kehidupan yang ideal bagi pasangan Newly Wed, saya sendiri tidak yakin bisa hidup semacam itu.

Ajip Rosidi juga mengagumi sikap menerima dan ikhlas yang dijalankan oleh Maemunah dalam menghadapi kualitas kehidupan seperti itu. Ia berkata “namun tidak pernah terdengar ia mengeluh karena memilih pengarang melarat sebagai suami.” Karena perlu saya dan anda catat, saat itu Maemunah adalah putri seorang juragan tanah yang kaya raya dan memiliki banyak tanah. Namun ia tidak menuntut banyak kepada Pram, ia juga menerima sikap keras kepala dan idealis Pram yang tidak mau menerima belas kasihan orang tuanya, malah memberikan kebebasan sepenuhnya para Pram. Untuk sikapnya ini Pram dengan gemas berkomentar bahwa, sikap semacam ini sebagai suatu hal yang justru dilawan oleh women’s liberation Amerika serikat!

Setelah menikah dengan Maemunah, kehidupan Pram yang berantakan paska becerai dengan istrinya boleh dikatakan semakin membaik. Ia mulai makan dengan teratur meski hanya nasi dan lauk garam. Mulai mampu memperbaiki rumah petaknya itu. Mampu mengganti kendaraan dengan lebih baik. Lalu akhirnya mampu membangun rumah sederhana meski dengan bantuan Haji Thamrin ayahanda Maemunnah. Maemunah dengan kesabaran besar mendampingi Pram melewati itu semua. "Maemunah menemaniku melewati kemiskinan yang luar biasa" kata Pram pada anaknya yang sekaligus menepis anggapan bahwa Maemunah telah merebut Pram dari keluarganya.

Maemunah sendiri adalah sosok perempuan sederhana yang tidak neko-neko. Setiap hari ia bekerja selayaknya ibu rumah tangga. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada pemikir Feminis, Maemunah kerap kali hanya diam dan diam saat kondisi rumah tangganya dengan Pram sedang mengalami kesulitan hidup. Meski susah ia tetap mencuci pakaian milik Pram 2 kali sehari, memasak, dan merawat anak-anak Pram tanpa sekalipun tercatat ia pernah menuntut atau marah terhadap kondisi keluarga. Dari akun FB salah satu murid Pram, Muhidin M Dahlan, saya membaca bahwa Maemunah atau yang ia biasa sebut sebagai 'Oma' malah pernah berkelakar "Pram nggak boleh tahu dan ngurusi soal dapur".

Setelah membaca proto-biografi Pram Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, saya baru menyadari peran Maemunah. Ia adalah semangat hidup dan mercusuar keyakinan Pram. Lastmi Pamuntjak malah menuliskan jika “Kehadiran Maemunah Thamrin yang setia, tabah dan manis budi, bagi Pramoedya bagaikan matahari yang terbit di ufuk timur itu”. Yang saat berada dalam penjara di Roemah Tahanan Chusus (RTC) Salemba, Maemunah menemani dengan begitu sabar.

Bahkan saat mengalami pengasingannya di pulau Buru, Pram yang seorang individualis tulen itu, meminta agar Maemunah menikah lagi dan rela menceraikannya. Karena Pram sadar betul, dalam pemerintahan fasis Soeharto, entah kapan ia akan bebas. Jawaban yang diberikan dan sikap yang ditunjukan oleh Maemunah sangat mengiris-iris hati. Lebih mengharukan daripada momen dimana Nurdin Halid memutuskan mundur dan melakukan Harakiri.

Maemunah dengan telaten merawat ke anak-anaknya, meski ia tahu ia bersuamikan orang yang dicap sebagai antek PKI. Dalam surat Tieknong kepada Ayahnya di Pulau Buru, tanpa sengaja ia menceritakan betapa heroiknya Maemunah. Bahwa Ibunya itu menuntut agar Tieknong terus belajar keras, sehingga bisa sekolah di Sekolah Asisten Apoteker, bahwa kelak jika memiliki uang, Tieknong dan Yudi bisa berangkat ke pulau Buru untuk menjenguk Pram, bahwa, Ibunya dengan lembut melindungi fakta penangkapan Pram dengan penjelasan yang masuk akal, dan meyakinkan pada Tieknong dan adik-adiknya ia tak perlu malu menjadi anak Pram malah seharusnya Ia bangga. Buat saya itu adalah sikap paling manis dan sayang ibu paling hebat sepanjang masa.

Dan inilah saya mengenang ‘Oma’ yang tidak pernah saya kenal dan temui. Hanya merasakan rasa cinta dan kedekatan yang begitu rupa karena gambaran kecil melalui tulisan-tulisan yang ada tentangnya. It doesn’t need to know someone to feel sad, that why it call emphaty, kata Al Pacino dalam film Frankie and Johnie.

Kehidupan adalah kefanaan dan proses menyiapkan diri untuk menuju kematian. Setidaknya itu menurut saya, bukan menjadi fatalis. Hidup Maemunah Thamrin sebagai pendamping dan ibu dari anak-anak Pramoedya Ananta Toer telah selesai sudah. Dan yang tertinggal hanya kenangan kisah hidup seorang wanita biasa yang dicintai dengan sempurna. Sesederhana itu obituari ini dibuat. Hanya sekedar post sciptum dari segala yang telah terjadi dalam hidup Maemunah Thamrin, Dan malam di luar terus juga menelan umur manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar