Minggu, 09 Januari 2011

Untuk R yang baik dan keras kepala



Ijinkan aku menulis surat pendek yang isi didalamnya adalah barisan kekagumanku pada semua pesonamu yang sederhana. Tentang rindang indah suaramu, dahimu yang teduh, rambutmu yang lembut, tingkahmu yang menggemaskan, kudusnya suasana saat kamu merajuk, sifat manjamu yang tulus dan betapa dalam senyummu, Tuhan menitipkan riuh sabda pesona Hawa.

Kutulis surat ini dalam lantunan nada Erik Endarto, lagu sederhana tentang salah persepsi, tapi bukankah itu tak penting R? Karena semua hal yang akan kutulis adalah tentangmu, tentang sepetak cahaya indah yang memancar dari matamu yang lugu.

Di luar hujan turun dengan ramai R, seolah gemas menungguku bergegas bercerita tentangmu. Sesekali langit mengirim geletar petir putih di pematang sawah, dimana camar, kadal, kodok dan pak tani sedang santai mendengkur. Dan angin pun tak mau kalah mendesau jalang, diterbangkannya segala bungkus rokok, kutang, kupon togel dan lembar-lembar skripsiku.

Apakah yang sedang kau lakukan R ? Apakah kamu sedang memasak Indomie ? Apakah kamu sedang memikirkan indah gaun malam Chanel ? Atau kamu masih saja mendengar sajak kecil Yellow Chris Martin dan berharap ia datang ke depan pintu kamar kosmu mendendangkan lagu itu seolah kau adalah Gwyneth Paltrow ? Entahlah Tapi semoga kau baik-baik saja disana dan yakinlah R, semua gemintang cahaya langit memang hanya bercahaya untukmu.

Kutulis ini surat ini dengan sendu R, bukan karena sedih, karena entah mengapa setiap kali aku mengingat senyummu itu, kehendak mataku tak mau tunduk lalu mengalirkan semacam getaran, yang centil, yang manja dan cerewet.

Sementara kudengar hujan hujan tak lagi badai, namun perlahan menjadi gerimis yang damai, dan cahaya matahari subuh lambat naik di jalurnya. Secara tangkas ia membagi adil cahayanya dibilik bilik bumi, diatas pondok, di pinggir kali dan sepetak sawah. Tetapi sekali lagi bukankah itu tak penting untukmu R?

Sepetak sawah yang gugup disinari matahari subuh mungkin tak begitu menarik untukmu R. Sama seperti semua kabar yang dibisikan tipiwan, tentang harga cabai yang melambung, Nurdin Halid yang menolak mundur, cerpen-cerpen Djenar maesa, buku baru Goenawan Moehamad, album baru Lady Gaga, bau kentut atau warna kulit tembok yang semakin memudar…

Apakah kamu tahu R, kita bisa saja SMSan seperti biasanya, begitu biasa, seperlunya, berbasa basi, aku mengirim pesan gombal, kau membalas karena kesal, atau bahkan itu adalah sejawat sikap dermamu padaku. Berbuat baik pada pria gendut kasmaran – tapi, kali ini biarkan aku menulis ini untukmu, demi sesuatu yang bisa kau ingat. Sebuah hal kecil yang melahirkan kenangan. Siapa tahu, karena kenangan adalah benda paling kejam yang bersembunyi pada bilik-bilik perasaan manusia. Dan aku berharap saat kau mengenangku, mengenang tentang sebuah perjuangan untuk mengagumi keindahan ciptaan Tuhan. Dan itu kamu R.

Siapa tahu. Kita kan boleh berharap segala sesuatu yang paling kecil, paling sepele, paling tidak penting, tapi mungkin indah bagi kita berdua, bisa tetap tinggal abadi ? Seperti daun melayang tertiup angin, yang kita tidak tahu lagi di mana, namun masih tetap tinggal indah dalam kenangan kita.

Kukira kamu masih ingat sepotong waktu di depan angkringan itu R. Dalam taburan hujan abu merapi yang mempertemukan kita, mempertemukan nasib dan kita dalam sebentuk jaring laba laba bernama kenangan. Entah apa yang kau pesan saat itu R, karena waktu, cahaya, warna dan perasaanku berhenti bekerja, saat aku sesekali mencuri pandang padamu. Betapa segala teorema energi waktu dari Einstein, Hawking ataupun James T Kirk tak berguna dihadapan pesonamu.

Begitulah memang aku ketemu kamu R, di sebuah ruang di bagian semesta yang gelap di mana waktu tak tercatat, seperti bisikan, di mana kita hanya saling menyentuh, dan tak selalu ketemu, tapi bisa saling merasa, dan dengan itu toh bisa membangun dunia kita sendiri. Dari kelam ke kelam kita arungi waktu R, dan dengan gumam perlahan-lahan karena ruang bukan milik kita, dan setiap orang selalu merasa punya kepentingan yang sama besarnya. Barangkali juga karena kepentingannya jauh lebih besar dari urusan kita. Bisakah diterima perasaan kita begitu penting untuk sebuah kota yang gemerlapan di mana senja tiada artinya ?

Awan serak yang membawa serta hujan itu sepertinya betah berlama-lama hinggap diaatas rumahku R. Mungkin ia ingin turut serta memastikan detik-detik yang berlalu saat ini adalah usahaku untuk mengisahkanmu. Mungkin dia curiga, cemburu dan penasaran, tentang bagaimana aku akan menggambarkanmu R. Awan yang sejak semalam hingga saat ini dengan setia mengintai dibalik atap genting bocorku yang sudah selama ini kubiarkan menganga, tak apa toh itu tetap tak penting buatmu kan R?

Sinar matahari pagi juga mulai datang R, sinar yang mungkin kamu luput temui jika bangun kesiangan. Lalu mengumpat karena hari itu kau ada jam kuliah dan presentase video bersama kelompokmu yang menyebalkan, tapi tetap kamu cintai dengan tulus. Beruntungnya mereka, karena andai saja aku disana, aku ingin dicintai kamu dengan secukupnya saja, tidak berlebihan. Barangkali aku hanya harus merasa semua ini sudah cukup, dan bersyukur karena sempat mengalami saat-saat yang indah. Saat secara wajar kita berkenalan. Dan Seperti itulah perasaan kita ketika memandang matahari subuh yang jujur dan pekat, meresapi keindahan sewajarnya.

R yang berlesung pipi paling juara di Jawa,

Barangkali memang kita memang tidak usah terlalu peduli dengan semua ini. Karena serbuk-serbuk perasaan yang tersisa, juga telah lenyap ditiup angin bercampur baur dengan debu yang berterbangan, yang hanya kadang-kadang saja akan kita kenali kembali, jika arah angin menuju ke arah kita. Perasaan-perasaan yang akan membuat kita berkata : ” Aku seperti pernah berada di sini, pada suatu masa entah kapan , dari masa lalu atau masa depan.” Memang banyak hal yang tidak harus kita mengerti R, ada saatnya kita tidak harus mengerti apa-apa, tidak perlu memaklumi apa-apa dan tidak perlu menyesali apa-apa,

Tapi ya biarlah, que sera-sera, kita simpan saja sedikit kenangan tentang pertemuan pertama kita itu. Biarlah mengendap jika kau ingin buang, silahkan buang R, karena mungkin kenangan itu tak lebih berharga dari ingatanmu tentang senin, sroto koya dan pengalaman pertama naik motor melintasi Kudus. Bukankah kita cukup bahagia, meskipu hanya sekedar menyapa ?

Karena sekedar kata ‘hai’ atau ‘helo’ tidak akan menyakiti begitu banyak. Seperti halnya begitu banyak bencana yang datang, tentang ruang dan bumi yang selalu mengeluh. Begitu banyak kepedihan di jalanan, darah berceceran, dan kita begitu sibuk dengan perasan kita sendiri — tapi apalah salahnya ? Aku sering berpikir tentang betapa fana hidup kita. Sepotong riwayat di tengah jutaan tahun semesta. Dua orang di belantara peristiwa. Apakah kamu sempat bertanya R? Mungkinkah kita masih punya arti, dalam ukuran tahun cahaya ?

Aku pun sering tergagu dalam sekelebat pertanyaan, tentang apa maksud kita hidup, atau kali ini tentang arti pertemuan kita ? Tentang nuansa Jogja yang pilu, tentang angka 13/11/2010, tentang kecintaanmu pada Coldplay, tentang persahabatanmu yang tulus, cintamu pada ibu, tentang empati yang mempertemukan kita. Semuanya kabur, tak pernah tamat, tak pernah lunas dan tak mungkin termaknai secara tuntas – namun siapa juga yang menuntut semua ini sempurna?

Kita sudah tahu semua ini memang tidak bisa jadi apa-apa, dan barangkali memang tidak perlu menjadi apa-apa. Kita toh sudah senang meski hanya saling memandang, dan menengok segala penyesalan sebelum pertemuan, dan tahu memang tidak ada yang bisa disalahkan, sehingga kita memang tidak perlu bertanya, ” Kenapa harus jadi begini ?”

Ya sudahlah, mau bagaimana lagi? Hidup barangkali memang seperti sinetron, barangkali seperti itulah hidupku R – seperti sinetron. Dari satu tragedi ke tragedi lainnya, dari satu ironi ke ironi lainnya, dari satu elegi ke elegi lainnya. Dengan satu episode berbeda setiap kali pulang dan berangkat, sementara aku tidak punya banyak kuasa untuk menentukan endingnya.

Kudengar suara cicit tikus di atas atap, suara siul burung belibis dan derik jangkrik yang mulai hilang. Barangkali kamu juga mendengarnya R, begitu riuhnya pagi ini, seperti tidak ada lagi ruang untuk do’a-do’aku yang sampai padamu. Sementara Gedung-gedung terus tumbuh ke atas, hanya untuk menampung manusia. Mereka semua akan menjadi bagian dari Sinetron itu R, sinetron dengan musim yang baru tentang orang-orang yang terus-menerus memburu sensasi dalam hidupnya. Barangkali, ya barangkali, kita memang harus berpesta sebelum tenggelam dalam sebuah perkabungan yang panjang.

Aku disini saja R, menulis pesan untukmu, disalah satu gubuk di pinggiran desa yang temaram dan sejuk. Pastilah hidup ini mengaharu biru R, sangat sering membuat kita lupa pada kebahagiaan. Atau bahkan sebaliknya? Hidup adalah riuh ramai pasar malam yang menenggelamkan kita dalam sesak umur yang tak seberapa? Entahlah, Aku malas memikirkannya R, karena sejak semalam tadi Aku terus menulis pesan ini untukmu R. Sekedar seremoni pada keagungan Tuhan yang telah menciptakanmu begitu sempurna, ode pada gairah hidup dalam sepiring tempe mendoan, atau bahkan bisik lirih dzikir atas album baru Pure Saturday.

Mungkin aku sekedar mencoba merasa bahwa kehidupan yang fana itu masih ada, masih menggerakkan serat-serat halus perasaan kita, sekedar untuk membuktikan bahwa kita belum menjadi dodol yang lumutan.

Jika saja aku bisa mengatakan pesan ini langsung pada hatimu R, aku akan melakukannya, seperti geletar sifat hangat yang tersublim dalam cahaya mentari pagi ini R, yang setiap hari kita rasakan tanpa mengenali rupa kehangatan itu. Tetapi aku tak bisa melakukannya R, aku hanya bisa berceloteh dalam pesan ini, karena kamu tahu, seringkali aku tak mampu berbicara lancar dihadapan wanita, barangkali agak kacau dalam berkata-kata, tidak seperti dalam pesan ini, aku bebas berkata dan mengumbar perasaan dengan leluasa. Maafkanlah aku R, barangkali aku memang tidak dilahirkan untuk dapat menikmati kebersamaan berdua dengan wanita tanpa melakukan hal kikuk bodoh.

R yang manis, yang baik, anggun dalam kesederhanaan

Diluar matahari pagi sudah beranjak remaja, dan tiba-tiba aku merasa ringkih. Cahaya merah keemasan yang perlahan menjadi kuning terang bagaikan akhir dari sebuah episode sinetron yang karam. Dimana perlahan-lahan tokoh utama cerita telah busuk dimakan kebahagiaan dan kenyang diludahi kegetiran, sementara tunas-tunas mudan yang ranum telah siap secara seronok untuk tampil kehadapan panggung kehidupan ini.

Sementara aku masih disini R, masih dalam petak sempit gubug di tengah cakrawala peradaban bit dan nir kabel. Di kejauhan aku mulai menangkap desir suara pabrik-pabrik motor yang mulai menguapkan mesin mereka. Entah mengapa kebisingan yang mulai ramah ini tak mampu mengalihkan ingatanku tentangmu R. Apakah aku harus nekat datang ke Banjar, dengan sebelumnya kursus intensif untuk memahami frase dan segala imbuhan dalam bahasa Banyumasan? Entahlah R, aku masih takut untuk memulai. Bukankah segala hal yang pertama, membuahkan luka?

Aku sudah capek R, capek memanjakan perasaan. Barangkali memang sudah waktunya kita harus menjadi kejam kepada diri kita sendiri. Membiarkan perasaan kita menggelepar seperti ikan, dan mencoba hidup bersama dengan kenyataan. Masalahnya, apakah kenyataan mau hidup sama kita ?

Sementara dalam pikiranku yang paling liar, aku meyakini jika umurku tak akan sampai 30. Dan aku akan meratap disisa umurku dalam kesendirian, mematung tanpa kawan dan sesekali rambutku rontok karena uban. Atau jangan-jangan aku akan mati dan melupakanmu R, secara tersembunyi menikmati kehidupan yang merangkak gelap, ketika aku sedang menulis pesan untukmu.

Baru saja secercap aroma terhidu R, aroma sambal terasi dan ikan asin yang dibungkus dalam daun jati. Apakah kau cukup makan selama ini R? Apakah kau cukup istirahat? Dan apakah migrain keparat itu sudah lekang menggodamu lagi? Karena memang kamu yang selalu, selalu, dan selalu kukenang dan kucemaskan. Ah—sedang apa kamu R, sedang duduk melamun sendirian atau pusing membikin laporan ? Apakah kamu masih minta ditemani untuk buang air di tengah malam, sementara langit-langit malam begitu santun menjagamu dari gelap ? seandainya aku bisa sekali menunaikan tugas suci itu. Seandainya R, bolehkan aku berharap? karena harapan tak selalu mahal R.

Inilah suratku R, surat seseorang yang menyandarkan kehidupannya pada kenangan, dan kenangan itu adalah kamu. Kita semua memang menjadi tua R, tak apa, langit diluar menjadi biru, terang dan muda – tapi siapakah yang akan merasa kehilangan ? Kita tidak akan pernah pergi ke mana-mana R, percayalah, kita, kamu dan aku, akan tetap tinggal di sini, saling mengenang ketika hujan tiba, selamanya, karena aku telah menulis surat tentang kita, dalam huruf-huruf yang membentuk kata-kata cetak, yang tidak akan pernah hilang lagi untuk selama-lamanya.



*) sebagian kata dan paragraf dikutip dari Novel Seno Gumira Adjidarma ”Jazz Parfum dan Insiden”,

1 komentar: