Selasa, 15 Februari 2011

In My Life, Kredo untuk Ahmad Dahlan Asyari


(1 januari 1986 – 15 Februari 2007)

Foto Oleh Ahmad Faruqie



Ijinkan saya berkisah tentang seorang laki-laki yang serupa Matahari bulan Januari. Seorang pria baik hati yang keras kepala, terang dan tanpa kompromi. Seorang laki-laki paling romantis yang bisa diciptakan Tuhan dengan citra matahari. Dimana pada setiap ingatan dalam hati sahabatnya hanya bisa dilukiskan dengan kata ‘senyum’, ‘baik’, ‘ramah’, ‘sengit’ dan ‘kangen’. Seorang laki laki yang akan selalu tetap abadi dalam hati saya. Adakah kalian mengenalnya? Jika tidak, sekali lagi ijinkan saya berkisah tentang hidupnya yang terang benderang.

There are places I remember, all my life, though some have changed

Kami berdua berkenalan di sebuah sekolah swasta muslim sederhana di Bondowoso. Sekitar tujuh belas tahun yang lalu. Kami berdua bersekolah di SD Muhammadiyah, sekolah samping kali yang baunya sering menyengat. Sekolah yang kami cintai meski dalam kelas kami terisi tak lebih dari 11 orang anak. Hal inilah yang selalu memacu kami untuk berusaha dengan segala keterbatasan untuk jadi yang terbaik. Saya dan juga sahabat saya ini selalu pulang siang setelah melaksanakan sholat Dzuhur berjama’ah - meski seringkali kami hanya bercanda. Suatu saat kami pernah berdebat sengit, saling marah, membenci dan memutuskan untuk melakukan duel. Ditepi sungai itu. Kami berduel selayaknya dua samurai mempertahankan kehormatan. Selepas baku hantam yang sengit kami berdua terduduk. Tanpa sadar saya tertawa bukan karena menang, tetapi karena rasa bersalah. Entah mengapa segala kebencian kami itu hilang. Berganti dengan rangkulan hangat seorang teman. Kebencian selalu mempunyai cara sendiri untuk meneguhkan sebuah persahabatan.

Sekolah yang akan saya ingat. SD Muhammadiyah Bondowoso yang kini mungkin sudah berdiri gagah tak seperti dulu, tetapi kenangan kami banyak tertinggal dalam tiap tembok kelasnya, tiap datar lapangannya, dan tiap ilmu yang diajarkannya. Semua masih ada pada tempatnya dan tak pernah terlupakan.

Some forever not for better, some have gone and some remain

Kisah saya adalah sebuah kisah persahabatan. Tentu dengan segala perdebatan, tangis haru, riang tawa dan debat sengit. Apalah arti sebuah persahabatan yang datar dan tanpa cela. Saya dan sahabat saya berpisah setelah lulus dari SD Muhammadiyah. Saya memutuskan untuk melanjutkan ke SMP 1 Bondowoso. Sedangkan Sahabat saya ini kemudian melanjutkan di MtSN. Sekolah lanjutan Islam dimana Ayahnya mengajar. Hampir selama tiga tahun kami berpisah, tetapi bukan tanpa kabar, bukan tanpa hubungan. Sesekali saya masih sempat bermain kerumahnya. Entah mengapa sekali lagi kami diikat oleh sebuah takdir yang aneh. Kami berdua, saya dan sahabat saya, sama-sama menyukai Base Jam. Sama-sama suka mendendangkan ‘bukan Pujangga’ dan ‘Radio’. Dalam banyak hal saya meyakini sebenarnya saya dan sahabat saya adalah sepasang saudara yang ditakdirkan untuk hidup berdampingan selamanya, saling berbagi, saling bersaing, saling berdebat dan saling mengikat. Tetapi tentu saja, Tuhan selalu punya lelucon yang tak selesai.

Sekarang kaset Base Jam saya sudah hilang entah ada dimana. Tetapi ingatan tentang ‘bukan pujangga’ dan bagaimana kami tiba-tiba tertawa karena menyanyikan lagu itu akan selalu ada. Tentang bagaimana kami berdebat mengenai alasan Sita keluar dari base jam. Semua masih ada pada tempatnya dan tak pernah terlupakan.

All these places have their moments, with lovers and friends, I still can recall

Saya adalah pria cengeng yang tak ragu menangis akan hal-hal sentimentil nan sepele. Sebaliknya dia adalah seorang gagah yang selalu tegar menyembunyikan segala permasalahannya rapat-rapat. Terkadang saya ingin marah pada sahabat saya ini karena sikap kerasnya dan ia pun tak kalah jengah melihat saya menjadi terlalu melankolis dengan segala permasalahan yang ia anggap sepele. “Bukankah dalam hidup kita hanya bisa meratap?” saya berkata. “tidak” jawabnya tegas “ada perbedaan besar antara meratap dan manja” lanjutnya. Ia bilang saya terlalu manja, terlalu sentimentil, terlalu cengeng dan terlalu lembek dalam hidup. Sebuah perbincangan yang mungkin akan nampak konyol sekali saat ini. Kami berdua bicara dalam sebuah wartel, didepan rumahnya, sambil menonton berita dan makan kacang koro. Saya pikir sahabat saya itu akan sangat kecewa jika ia mengetahui bahwa saya masih tidak berubah sejak kami bicara tujuh tahun lalu. Waktu seringkali terlalu cepat berjalan dan segala yang bernama penyesalan hanyalah debu yang harus dihilangkan.

Sekarang saya sudah bisa menerima kekurangan saya, mulai belajar untuk memperbaiki. Perlahan tetapi pasti saya tidak mau dia disana kecewa. Setiap mozaik waktu yang telah saya lewati bersamanya adalah nasehat, seringkali adalah teguran. Semua masih ada pada tempatnya dan tak pernah terlupakan.

Some are dead and some are living, in my life, I've loved them all

Hingga pada akhirnya datang hari itu. Limabelas januari duaribu tujuh. Sebuah pesan singkat dari teman yang berkata bahwa sahabat saya itu telah meninggal. Meninggal dalam kecelakaan pulang menuju Malang dimana ia menuntut ilmu. Saya dan beberapa sahabat ACC Brotherhood bergegas menuju Lumajang. Tempat dimana sahabat saya disemayamkan. Disana kami bertemu dengan ayah sahabat saya. Seorang bijak yang telah tiga kali dipaksa melihat kematian dan tetap tegar menerimanya sebagai takdir Allah. Seorang bijak yang menggenggam erat tangan saya dan menahan air mata berkata “terima kasih sudah mau datang, tolong maafkan Ari kalu ada salah”. Dengan segala beban dan ketegaran yang bersisa, saya dan beberapa sahabat ACC Brotherhood menuju tanah dimana ia mendapat kehormatan untuk mengebumikan sahabt saya itu. Saat itu segala pertahanan saya untuk tetap tegar hancur berantakan. Didepan nisan sahabat saya yang sederhana saya menangis. Menangis dengan kampungan. Dengan ingus yang meleler. Dengan tolol dan gagal menerima kematianmu sebagai takdir. Saya merasakan benar apa perasaan Chairil Anwar dalam ‘Nisan’ Bukan kematian benar menusuk kalbu / Keridhaanmu menerima segala tiba / Tak kutahu setinggi itu di atas debu / Dan duka maha tuan tak bertahta.

Tak ada Musafir yang gugur lalu masuk neraka dalam perjalanan menuntut ilmu” saya berkata itu dalam hati. Saya berdo’a bahwa kamu akan masuk surga sahabatku. Segala pesanmu tentang pentingnya ilmu dan membaca buku akan tetap ada. Semua masih ada pada tempatnya dan tak pernah terlupakan.

But of all these friends and lovers, there is no one compares with you

Entah mengapa kemudian saya mengingat momen-momen kami semasa di SMA. Sekali lagi kami diikat oleh sebuah takdir yang aneh. Sejak kelas satu SMA sampai dengan kelas tiga kami duduk dalam kelas yang sama. Kelas satu E, dua E dan IPA Empat. Takdir adalah lelucon paling aneh yang diciptakan tuhan. Kami berkumpul kembali, dengan sahabat-sahabat baru juga. Sahabat yang saling berbagi dalam kesederhanaan. Sahabat yang selalu berbagi dalam suka. Sahabat yang selalu punya cara satir untuk menertawakan ironi. Sahabat yang saya anggap saudara. Sahabat ACC Brotherhood. Saya dan sahabat saya mulai sering berkumpul dengan ACC Brotherhood sejak kelas satu dan menjadi aktif berkumpul saat kelas tiga. Alasanya sederhana, kami adalah orang-orang yang memiliki kesamaan visi tentang masa remaja. Ingin melewatinya dengan perlahan dan penuh lelucon. ACC Brotherhood sendiri tak saya ingat siapa yang membuat. Nama itu muncul karena kami sering berkumpul di sebuah corong disudut sekolah. Anak corong club, beberapa orang yang nyinyir menyebut kami gerombolan anak manja yang playboy. Saya dan sahabat saya tak habis tertawa. Anak manja dan playboy? Entahlah, terserah apa kata orang. Saya dan sahabat saya di ACC Brotherhood merasa diterima sebagai apa adanya kami, bukan sebagai siapa kami di sekolah. Sangat mengherankan bagaimana sebuah kenangan bisa mampir dan membuat segalanya nampak lucu. Padahal kita sudah berulang kali mengingatnya.

ACC Brotherhood adalah sekeping kecil fragmen saya dan sahabat saya yang tidak akan pernah dilupakan. Tentang lelucon yang garing, teh hangat manis gratis, adik kelas yang lucu, mushola yang bising. Semua masih ada pada tempatnya dan tak pernah terlupakan.

And these memories lose their meaning, when I think of love as something new

Dalam hati saya selalu meyakini. Tidak ada hal yang lebih menakutkan daripada dilupakan. Dilupakan merupakan sebuah hukuman yang paling keji kepada manusia. Mereka yang dilupakan adalah mereka yang dianggap tidak pernah mengecap kehadiran di muka bumi. Keberadaannya dinisbikan dan terserak dalam sejarah sebagai tumbal. Dengan alasan itu saya menulis kredo ini, karena saya ingin sabahat saya dapat tetap hidup dalam kenangan. Dalam ingatan tiap-tiap sahabatnya. Dalam hidup yang seringkali terlalu ramai dengan hingar bingar cerita remeh. Saya ingin tetap mengingat sahabat saya sebagai orang yang santun. Mengingatnya sebagai orang yang selalu taat beribadah. Mengingatnya sebagai pemberani yang tidak pernah percaya dengan pocong maupun setan. Seorang pemuja Manchester United yang fasis. Seorang laki-laki yang selalu sukses menyembunyikan perasaannya pada perempuan. Seorang laki-laki yang tak pernah pelit berbagi saran. Seorang laki-laki yang rajin sholat di sepertiga malam. Semuanya dilakukan dengan cinta dan bukan ketaatan buta.

Terkadang saya merasa Tuhan terlalu cepat memanggilnya dan disisi lain saya merasa Tuhan begitu bijak memanggilnya disaat yang paling purna. Saat ia masih menjadi orang yang baik dan soleh. Dengan segala perilakunya yang konyol dan naif. Semua masih ada pada tempatnya dan tak pernah terlupakan

Though I know I'll never lose affection, for people and things that went before

Kami telah sama-sama berpisah, baik raga maupun jiwa. Di sudah tenang berada di alam sana. Mungkin sudah berkumpul dengan orang-orang yang ia cintai. Sudahkah saya ceritakan bahwa sahabat saya adalah orang yang tegar menghadapi kehilangan? Jika belum akan saya akan ceritakan. Sekitar kelas dua sekolah dasar, sahabat saya itu harus dihadapkan dengan kenyataan pahit. Bahwa kakak perempuan yang dia sayangi telah meninggal dunia. Saya ingat sekali waktu itu, kami dikumpulkan seperti sedang upacara, kami diberitahukan tentang berita ini. Kemudian kami berdoa bersama-sama. Lantas secara bergantian kami, saya, teman-teman dan para guru memberikan semangat pada sahabat saya itu. Ia nampak tegar, atau bahkan mungkin masih belum paham tentang arti kematian itu. Enam tahun kemudian ia dipaksa menerima kehilangan lagi. Kali ini tepat pada tanggal satu januari, hari ulang tahunnya, sang Ibu yang saya ingat begitu baik itu, meninggal dunia. Sahabat saya itu, sekali lagi sangat tegar. Dengan senyum yang samar ia berkata “maafkan ibu saya kalau ada salah”.

Hal yang saya sesali sampai hari ini adalah, saya tidak sanggup menjadi sahabat yang baik yang memberikan semangat padanya. Saya, sampai kapanpun, mungkin tak akan pernah bisa tegar menghadapi kematian. Semua masih ada pada tempatnya dan tak pernah terlupakan.

I know I'll often stop and think about them, in my life I love you more, in my life I love you more

Kita adalah sahabat, selamanya demikian, selalu akan demikian. Waktu boleh berubah, saya perlahan akan menjadi egois dan pikun. Sampai pada suatu saat nanti saya akan melupakan kamu dan segala kenangan tentang kehidupan kita. Saya tahu bahwa dengan kelemahan saya sebagai manusia kamu telah menerimanya. Seringkali saya hanya bisa menyusahkan. Mungkin sekarang saya hanya bisa berharap. Bahwa Kamu, Saya dan semua sahabat kita di ACC Brotherhood akan selalu dicatat dalam sejarah. Sebagai seklompok teman yang saling mengingatkan, saling berbagi, saling mengenang dan saling berkembang. Pada akhirnya saya berdoa agar kamu selalu bahagia dan selamat di alam sana. Dan perlahan saya berbisik lirih pada bilik waktu Semua masih ada pada tempatnya dan tak pernah terlupakan”.

Kamu akan dikenang. Beberapa orang menyebut kamu Klasik, sebagian lainnya memanggilmu Dahlan, dan selamanya saya akan mengenang kamu sebagai Ari. Semua boleh punya kenangan tentangmu. Boleh mempunyai nama tentangmu. Karena kamu selamanya akan kami ingat. Amicitiae nostrae memoriam spero sempiternam fore”.

Senin, 14 Februari 2011

Insureksi dalam Melodi


Pada awalnya adalah keheningan, saat saya berjalan beramai-ramai dalam sebuah demonstrasi di awal masa kuliah. Melakukan long march dari depan gedung fakultas menuju rektorat yang cukup jauh, demi satu tuntutan pencabutan uang gedung. Namun seketika keheningan itu dipecahkan oleh salah seorang mahasiswa senior yang menyanyikan lagu sederhana ‘Berderap dan Melaju’. Saat itu saya tahu satu hal, musik dan aksi masa adalah sepasang kekasih yang saling mencintai dalam keramaian.

Irama nada ‘Berderap dan Melaju’ yang repetitif dan easy listening langsung merayu pendengarnya untuk memBeo dalam sebuah nyanyian massal. Lirik yang lugas, sederhana dan mudah diingat membuat saya kecanduan sekedar bergumam atau malah latah ikut bernyanyi. Siapapun anda, jika asyik dalam kerumunan aksi dan mendengar lagu ini. Saya jamin akan ikut dihipnotis untuk ikut bernyanyi atau sekedar mengepal tangan lalu bersiul mengikuti nadanya. Inilah kekuatan musikalitas crowd, mampu menarik anda dalam sebuah hingar bingar pergerakan sosial.

Dalam suatu masa, Njoto salah satu dedengkot Politbiro PKI pernah berkata “Musik adalah sendjata, sendjata yang menggembleng barisan sendiri, memperkuat front dengan sekutu maupun mengobrak-abrik lawan”. Ia menyampaikannya didepan rombongan paduan suara “Tak Seorang Berniat Pulang” yang baru saja selesai berlomba dalam ulang tahun KSSR tahun 1964. Seolah berkata, Jika anda mengamini revolusi adalah hiruk pikuk jalanan, maka anda boleh ambil barisan. Jika tidak, diam atau bersiaplah disingkirkan. Setidaknya begitu saya menafsirkan kata-kata Njoto tersebut.

Njoto bukan asal bicara atau waton muni, karena yakinlah Ia adalah seorang Violist jempolan. Salah satu Pemikir PKI paling jitu dan kata-kata itu ia refleksikan dari jati dirinya sebagai musisi. Ia menyaksikan sendiri bagaimana gendjer-gendjer menjadi begitu hip dikalangan keluarga PKI dan bagaimana Internationale mampu menggugah para sosialita marxist di Moskwa saat itu. Musik adalah salah satu sarana revolusi, maka agitasi dimulai di udara!

Maka pada saat kelahiran adigium Medium is the Message! akhir tahun 60an, McLuhan sebenarnya hanya memuntahkan kembali atas apa yang diamini Njoto. Musik adalah medium sekaligus pesannya. Maka tidak salah jika kemudian musik menjadi salah satu insrumen perjuangan sosial. Entah itu dilakukan dalam sebuah konser, jam sessions, atau bahkan pada aksi sebuah massa. Musik telah menemukan perannya sendiri dalam hiruk pikuk demonstrasi.

Dalam pergerakan sosial sendiri, dalam hal ini demonstrasi, musik adalah salah satu elemen penunjang yang mampu membentuk kesadaran kolektif. Seringkali malah dalam lirik yang didendangkan ia sendiri telah menyuarakan tuntutan dan ratapan dalam satu waktu. Ia ikut serta menjadi ‘orang tak nampak’ yang meramaikan sebuah aksi massa.

Saya sendiri setidaknya pernah ikut merasakan sublimasi semangat dalam lirik profetik lagu-lagu pergerakan sosial yang jamak dinyanyikan saat demonstrasi. Sebut saja Darah Juang, Totalitas dan Buruh Tani. Sebagai mahasiswa yang juga pernah mengikuti euforia ‘agent of change’ ikut demonstrasi adalah sebuah keharusan dan demonstrasi tanpa ketiga lagu tersebut, rasanya seperti menonton konser Rage Againt The Machine tanpa kehadiran Zack De La Rocha. Terasa Hambar!

Dalam sebuah berita pagi, sekilas saya menonton berita tentang protes mahasiswa di Jambi. Tanpa sengaja ada sepotong fragmen berita yang memperlihatkan seorang mahasiswa dengan ikat kepala bertuliskan ‘keadilan’, mengepalkan tangan kiri ke udara, menutup mata dan menyanyikan sepotong lirik Darah Juang. Dan demi setiap tetes keringat perjuangan Munir dan Marsinah, getaran lirih semangat perlawanan dalam lirik ‘Darah Juang’ itu masih mampu membuat saya meneteskan air mata.

Darah Juang boleh jadi adalah anthem dalam setiap demonstrasi mahasiswa. Dia adalah zetgeist yang mengingatkan para mahasiswa untuk senantiasa berjuang (itu pun kalo demonya beneran niat tulus dan bukan pesanan. Mereka dirampas haknya / tergusur dan lapar / bunda relakan darah juang kami / tuk membebaskan rakyat. John Sonny Tobing dan Andi Munajat adalah duo Mahasiswa UGM yang konon mengaransemen lagu ini. Seolah-olah ingin menyampaikan pada semua pseudo mahasiswa agar tak lupa turun ke jalan menjadi oposisi bagi rezim yang ada.

Seakan merayakan liturgi dari kebudayaan massa, lagu-lagu demonstrasi di Indonesia juga memiliki pasar tersendiri. Meski tidak berorientasi pada keuntungan, peredaran lagu-lagu ini biasanya dimulai dari komunitas/organisasi kemahasiswaan yang kemudian merembet pada segenap komunitas/organisasi kemasyarakatan atau kesenian yang merasakan semangat perjuangan dalam lagu-lagu tersebut.

Apakah kemudian lagu tersebut kemudian berhenti menjadi bahan bakar semangat pergerakan? Saya kira tidak, setidaknya mahasiswa Indonesia khususnya meyakini bahwa semangat juang itu mengalir dalam lagu-lagu yang lain. Coba saja anda menyimak bait lirik dari lagu Totalitas Perjuangan. Kepada para Mahasiswa / yang merindukan kejayaan / Kepada rakyat yang kebingungan / Di persimpangan jalan. Seakan berkata bahwa peran mahasiswa adalah mutlak dan perlu dalam sebuah perjuangan. Dan lebih jauh lagi Ia berbunyi Kepada pewaris peradaban / Yang telah menggoreskan Sebuah / catatan kebanggaan / Di lembar sejarah manusia. Lirik lagunya masih optimistik memandang peran mahasiswa sebagai gembala perubahan.

Perkembangan lagu-lagu pergerakan yang ada dari jaman ke jaman juga mengalami perubahan baik secara konteks lirik dan isu yang dituntut. Jika pada angkatan 66 lagu-lagu perjuangan mahasiswa Indonesia masih berkutat pada perbaikan nasib rakyat, pembubaran PKI dan bobroknya sistem. Maka pada era digital keong racun pada saat ini lirik-lirik lagu juga mengalami perubahan dramatis. Memang isu isu kerakyatan masih menjadi tema sentral, tapi lirik-lirik yang digunakan tidak lagi menjadi gegap gempita dan patriotik. Beberapa malah menjadi sangat centil dan lucu.

Lirik lagu Cinta Demonstran misalnya, lagu ini menggambarkan sepasang kekasih yang sedang berpamitan. Mirip dialog seorang prajurit yang dilepas perang oleh kekasihnya. Sudah berulang kali abang katakan / Jangan bermain cinta dengan demonstran / Nanti ditangkap polisi / Sakit-sakit sekali. Lagu ini memang tidak banyak dikenal oleh kalangan aktifisme mahasiswa, karena seringkali memang hanya digunakan sebagai lagu nongkrong. Namun liriknya yang seakan-akan memberikan peringatan tentang resiko hubungan pacaran dengan aktifis membuat lagu ini digunakan sebagai lagu pelepas lelah paska aksi.

Dalam suatu fragmen pemberitaan Tempo pada tahun 21 Januari 28 tahun yang lalu tergambar situasi panas yang menyelimuti kamous ITB. Terik matahari membakar kampus "Ganeca" ITB Bandung. Dimana Tak kurang dari 3.000 mahasiswa berkumpul di sana dari hari Senin siang sebelumnya. Selembar spanduk merah terpampang di mulut pintu kampus. Bunyinya serem, senada dengan pernyataan mereka: "Tidak mempercayai dan tidak menginginkan Suharto kembali sebagai Presiden Republik Indonesia." Sambil menyanyikan lagu perjuangan seperti halo-halo bandung, para mahasiswa seakan ingin meminjam semangat para pejuang untuk meneriakan ketidak adilan yang saat itu terasa menekan.

Hardeep Phull sendiri dalam bukunya STORY BEHIND THE PROTEST SONG ; A Reference Guide to the 50 Songs That Changed the 20th Century, mengungkapkan lagu-lagu yang dalam sejarah tercatat menjadi mesin pendorong perubahan sosial. Hardeep Phull berkata bahwa sebenarnya ingin menunjukkan tentang makna dan bagaimana lagu-lagu tersebut bisa mempengaruhi dunia. Lagu we shall overcome yang dipopulerkan oleh Joan Baez pada tahun 63. Sebenarnya telah memiliki sejarah lebih lama dari itu. Setidaknya pada awal tahun 1900 dan berkembang menjadi lagu kebangsaan pergerakan sosial pada tahun 1960an.

Lalu saya teringat tentang Marthin Luther King Jr. Seorang tokoh Afrika Amerika yang sangat luar biasa. Seorang tokoh yang ikut andil dalam meruntuhkan kebijakan rasialis Jim Crows Laws di Amerika melalui aksi "The Great March on Washington". Sebuah aksi yang dipicu rasa muak atas segala diskriminasi terhadap warga kulit hitam di Amerika. Mengingat momen dimana Marthin Luther King Jr bersama ratusan ribu orang saling bergandengan tangan menyanyikan we shall overcome. Sebuah lagu yang menyiratkan semangat untuk tetap konsisten melawan ketidakadilan.

Beberapa Band di Indonesia kemudian mengadopsi lirik-lirik yang secara cerdas melawan, mengkritik dan mengejek kondisi sosial kemasyarakatan kita. Band seperti Efek Rumah Kaca, Melancolic Bitch, dan Grup Hip-Hop Homicide misalnya. Mereka telah meninggalkan kelas perjuangan jalanan, dan menjadikan panggung musik sebagai arena perang wacanan dan pemikiran. Dalam banyak hal saya menilai musik-musik mereka memiliki kelemahan. Yaitu musik mereka hanya bisa dinikmati oleh golongan kelas menengah terdidik.

Lirik lagu Boombox Monger dari Homicide misalnya, lebih menuntut pemahaman pendengarnya atas wacana Marxist secara utuh. Jika konsumen adalah raja / maka industri adalah Kasparov / dan setiap vanguard lapangan / tak lebih Lenin dari Ulyanov / mencari poros molotov. Karena sangat susahnya pemahaman atas lirik ini, pendengar dari Homicide bisa jadi adalah mereka para pegiat buku yang sudah tamat membaca pengantar filsafat dan kajian budaya.

Melancolic Bitch dan Homicide dalam liriknya selalu menggunakan istilah yang multi tafsir yang saya ragu para tukang becak di Indonesia bisa mengerti padu padan arti dari lirik lagu mereka. Saya sendiri kemudian mengartikan bahwa dalam genre lagu perjuangan, terdapat pembagian kelas tentang dimana ia akan berperang. Lagu-lagu semacam we shall overcome dan Darah Juang akan menempati pergerakan kelas bawah, karena liriknya lugas dan mudah dimengerti. Sedang Tantang Tirani nya Homicide dan Take B.Y.O.B dari System of Down adalah lagu perjuangan pada golongan kelas menengah.

Dalam banyak hal saya mengagumi Iwan Fals karena mampu membuat lagu-lagu cerdas yang memiliki lirik musik dekat dengan kondisi realitas kerakyaatan. Seperti sore tugu pancoran, orang pinggiran, sugali dan ujung aspal pondok gede misalnya. Iwan Fals secara cerdas menangkap fenomena sosial yang terlihat (namun jarang kita akui keberadaannya) menjadi lirik-lirik yang cerdas, menghibur, nakal dan juga menyindir dalam satu waktu.

Pada lagu sore tugu pancoran misalnya Iwan Fals menangkap fenomena sederhana tentang para pedagang asongan di lampu merah yang sering kita lihat namun tidak kita sadari realitasnya. Si budi kecil kuyup menggigil / Menahan dingin tanpa jas hujan / Di simpang jalan tugu pancoran / Tunggu pembeli jajakan koran. Secara sederhana ia merekonstruksi sebuah kondisi di pertigaan ibu kota, dimana anak kecil menjadi pelaku usaha sektor informal. Padahal seharusnya ia larut dalam permainan dan masa sekolah.

Dalam kesempatan lain ia bisa sangat satir menyindir penguasa melalui lagu Bento. Namaku Bento rumah real estate / Mobilku banyak harta berlimpah / Orang memanggilku bos eksekutive / Tokoh papan atas atas s'galanya asyik. Lagu yang sampai saat ini menimbulkan polemik dan mitos tentang siapa sebenarnya Bento tersebut. Beberapa orang menyebut tokoh Bento adalah Soeharto ada pula yang berkata itu adalah Tommy Soeharto. Entahlah yang jelas lagu itu pernah membuat Iwan Fals diciduk tentara dan ditahan beberapa hari.

Iwan Fals boleh jadi salah satu dari sekian banyak musisi yang kemudian menjadi patron dalam lagu-lagu yang bertemakan kondisi sosial di Indonesia. Namun tetap pergerakan lagu-lagu perjuangan mahasiswa masih menjadi sangat ekslusif. Peredaran lagu yang masih berkutat pada komunitas, lirik yang cenderung terlalu patriotik dan kebanyakan tidak digarap dengan audio mixing yang baik boleh jadi. Genre musik demonstrasi (saya menyebutnya demikian) hanya menjadi musik-musik yang seremonial saja. Terbatas pada saat terjadi aksi-aksi saja.

Beberapa band indie grassroot yang memang dekat dan konsistenn dengan isu-isu sosial seperti Marjinal dan Lontar dari Surabaya, mulai coba menggarap serius musik-musik perjuangan jalanan tadi dengan audio mixing yang baik. Alhasil perkembangan genre musik ini sedikit banyak mulai berkembang dari scene-scene punk di Indonesia. Lalu beralih pada gig gig di konser konser kesenian. Dalam banyak komunitas lagu perjuangan mahasiswa diidentifikasi sebagai lagu-lagu yang senada dengan cita-cita perjuangan mereka.

Semangat dalam lagu-lagu perjuangan mahasiswa adalah semangat perlawanan. Hal ini selalu tergambar dalam setiap lirik lagu-lagu mereka. Lagu perjuangan mahasiswa adalah kisah tentang perjuangan yang tak selesai, perjuangan yang kemudian seakan-akan menjadi pertarungan tanpa henti. Karena selama masih ada penindasan kepada rakyat, maka selamanya lagu-lagu perjuangan mahasiswa ini tidak akan berhenti.

Suatu sore di Kereta Laju


Kereta pakuan ekpress itu berhenti dengan bunyi jesss perlahan di Stasiun Tanah Abang pada sore hari tepat pada pukul 17.15 wib. Kereta itu sederhana, meski menggunakan kata ekspress ia tak bisa dibandingkan dengan kereta super cepat Shinkansen di Jepang. Gerbong keretanya seragam, berwarna putih pucat dengan garis kuning di sepanjang badannya. Ia disambut oleh kerumunan manusia yang sudah berdiri tegang di belakang garis putus-putus di tepi Rel. Setelah berhenti sempurna, tiga pintu di salah satu sisinya terbuka perlahan. Udara dingin kereta segera menyambut, pengunjung yang masuk kemudian duduk lemas di atas bangku sambil menikmati sejuk udara dari hembusan kipas angin dilangit-langit kereta.

Ada sekitar 4 bangku biru panjang diantara pintu kereta dan 4 bangku biru pendek yang terletak diantara kompartemen penghubung gerbong kereta itu. Warnanya kontras dengan warna putih yang dingin dalam kereta itu. Setelah menunggu beberapa menit, kereta itu melaju perlahan dengan kekuatan penuh menuju stasiun berikutnya. Tidak banyak suara dalam kereta yang mulai melaju kencang itu, selain derap rel yang beradu dengan roda kereta, sesekali terdengar bunyi tuit-tuit dari kereta yang berpapasan. Kesunyian itu karena hanya ada beberapa orang saja dalam gerbong nomor 4, beberapa penumpang yang ada bersandar pada bangku biru yang empuk itu menunduk memejamkan mata, sebagian asyik memainkan blackberry, yang lainnya diam membaca.

Penumpang diujung bangku kompartemen sisi kiri kereta itu memakai cardigan hitam, dilehernya bergantung slayer semacam batik, rambutnya hitam di ikat keatas. Mendekap sebuah tas jinjing dengan sangat erat. Badannya terayun-ayun seirama perjalanan kereta. Saat kereta oleng ke kanan, penumpang itu hampir tersungkur lalu kembali duduk sempurna.

Ia mengangkat tangan kiri dan menyibakan ujung kardigannya, menatap arloji. Ia terbelalak dan tergesa-gesa mengeluarkan ponsel, matanya nanar, mulutnya yang mungil mulai komat kamit. Ponsel itu ditempelkan pada telinga kiri. Tidak ada jawaban. Ia mencoba lagi, kini mata sipitnya semakin terbelalak, duduknya menegak, tangan kanannya meremas tas jinjing warna hitam itu makin keras. Mungkin ada jawaban, ia mulai berbicara, suaranya tak terdengar, karena kalah beradu dengan deru kereta.

Duduknya tak lagi tegak menegang, tas jinjing itu mulai di biarkan bersandar malas di perutnya, mukanya yang tadi mengeras perlahan tenang. Ia mulai tertawa memperlihatkan barisan rapi gigi yang dibalut kawat warna hijau. Lalu greeeeettt Pakuan Ekpress mulai berulah lagi. Kereta itu melaju tersendat, nampaknya ia akan berhenti pada stasiun berikutnya. Laju kereta semakin tertahan, pelan dan jesss sekali lagi berhenti sempurna. Disambut suara operator stasiun, pintu kereta pakuan ekpress terbuka lebar.

Geruduk-geruduk puluhan orang masuk serentak, beberapa berebutan duduk di bangku biru di tiap sisi kereta. Yang lain mengeluarkan kursi lipat dan bersandar di ujung lain pintu kereta. Mereka yang tak beruntung, berdiri berpegangan pada lingkaran putih yang tergantung di atas langit kereta. Hampir tak ada celah, semua ruang terisi.

Penumpang diujung kereta tadi tak lagi tertawa, ponselnya pun sudah usai dipakai. Tas hitam itu kembali di dekap keras. Namun ia tak lagi sendiri, seorang pria botak dengan banyak keringat duduk disamping kiri, pria lainnya berdiri tepat di depannya. Sementara dipintu masuk tadi telah duduk perempuan muda diatas kursi lipat. Ia terjebak.