Kamis, 10 Februari 2011

(a)Pers

“A free press can of course be good or bad, but, most certainly, without freedom it will never be anything but bad. . . . Freedom is nothing else but a chance to be better, whereas enslavement is a certainty of the worse.”

Albert Camus

Dalam suatu hikayat Alfred Nobel, seorang yang menjadi kaya raya karena menemukan dinamit, sedang membaca sebuah koran. Pada salah satu sudut koran tersebut terdapat obituari yang membuat Nobel terkejut, sebuah berita kematian tentang dirinya. Namun yang lebih mengejutkannya lagi adalah isi dari berita. Kira-kira berita itu berisi “Telah meninggal Albert Nobel pada tanggal sekian bulan sekian” dan yang mencengangkan adalah “seorang pembunuh yang menciptakan Dinamit”. Dengan berita semacam itu siapa yang tak marah atau tersinggung? Tetapi Albert Nobel lain, ia berpikir jernih dan berkontenplasi. Ia tidak mau mati dan dikenal sejarah sebagai “Seorang Pembunuh”.

Mahadaya sebuah pemberitaan mampu membuat seorang bersikap baik atau menjadi gila. Alfred Nobel salah satu contohnya. Ia menjadi Filantrophis dan sponsor penghargaan paling bergengsi di dunia, penghargaan Nobel karena sebuah pemberitaan (yang salah). Sumber dari segala perubahan yang dilakukan oleh Nobel tentu bukan semata-mata karena ia takut mati dan dikenang sebagai pembunuh. Tetapi karena sebuah pemberitaan (yang meski salah jika disikapi secara waras) mampu membuat perubahan. Dan bangsa ini saya pikir masih belum bisa melakukannya. Di Indonesia-meminjam sebuah judul artikel- Keadilan dalam bersikap, masih entah ada dimana.

Kira-kira 64 tahun lalu pada tanggal 9 Pebruari, PWI didirikan. Indonesia mulai mengenal sebuah keorganisasian pekerja jurnalistik, -yang belakangan kemudian di sepakati menjadi hari pers nasional. Dan kebetulan hari ini perayaan hari pers itu dilangsungkan di Kupang Nusa Tenggara Timur dengan ironi. Ditengah perayaan yang megah itu, dunia pers tanah air masih meninggalkan sederet PR yang masih belum selesai dikerjakan. Mulai dari masalah akurasi informasi, keberanian mengungkap kebenaran, integritas, kualitas hidup para pekerjanya dan apalagi kalau bukan masalah idealisme? Rasa-rasanya segala perayaan yang fantastis itu jadi semacam seremoni yang tak berguna saja.

Saya memang bukan seorang pekerja jurnalistik atau katakanlah wartawan profesional, tidak mau sok tau dengan keberadaan mereka. Namun saya tahu bagaimana beratnya kerja seorang wartawan. Mulai dari reportase wawancara, penulisan berita, uji validitas informasi, dan liputan berbahaya dan yang jelas Jam kerja yang tak tentu. Malah seringkali wartawan dianggap sebagai profesi tidak terhormat karena kurang menjanjikan kemapanan finansial. Buntutnya tentu disebabkan kemunculan wartawan-wartawan bodrek yang kala-kala muncul-kala-kala tidak. Oknum macam inilah yang hanya bisa membuat profesi wartawan tercoreng.

Sebenarnya apa itu wartawan? Saya memahaminya sebagai pekerjaan orang yang sial. Orang yang memiliki tanggung jawab untuk mengabarkan sebuah peristiwa dengan fakta dan kebenaran yang apa adanya. Berbeda dengan saya, Gabriel Garcia Marquez mengakatakan bahwa Wartawan adalah pekerjaan terbaik di dunia. Karena memberikan pengalaman “kegembiraan yang dibangkitkan oleh berita yang dihasilkan berita”, kemudian “kegirangan atas hasil pertama sebuah upaya berita” dan yang terakhir “ kekecewaan moral bila mengalami kegagalan berita”. Atau dalam bahasa sederhana Marquez ingin mengatakan bahwa Wartawan adalah pekerjaan paling manusiawi yang menyangkut perasaan manusia

Mungkin Marquez terlalu berlebihan, ia tidak bekerja di Indonesia. Jika saja ia di Indonesia saat ini mungkin pendapatnya akan berubah. Di Indonesia pemberitaan adalah apa yang dikehendaki redaksi, dan bukan apa yang harus diketahui oleh masyarakat. Ujung-ujungnya tentu saja para wartawan yang harus menerima imbasnya. Mereka sering dituduh menulis hanya untuk uang, Roshian Anwar punya julukan untuk wartawan semacam ini, ia menyebut ‘wartawan roti’. Mereka yang menulis berita hanya untuk cari makan dan bukan untuk sebuah pemberitaan.

Apakah hal ini salah? Tidak, tentu tidak. Manusia butuh makan, itu kodrat. Namun menjadikan sebuah profesi luhur sebagai sandaran pengisi perut, itu adalah hal naif jika saya tidak boleh mengatakan salah. Wartawan harus dibayar oleh kapasitas kerjanya dalam pemberitaan. Bayangkan seorang wartawan yang meliput kasus jaringan narkoba, memiliki bayaran sama dengan wartawan yang menulis tentang kontes anjing lucu. Buat saya itu nonsens dan keterlaluan.

Hal lain yang musti menjadi perhatian adalah keberanian untuk menulis secara apa adanya. Tentu dengan didasari oleh fakta yang benar dan melalui verifikasi yang ketat. Sehingga didapat sebuah berita dengan akurasi yang seksama. M. Said Budairy, wartawan senior yang pernah menjadi Ombudsman majalah pantau mengatakan, “informasi sepihak yang tak lengkap” tulisnya “potensial merugikan publik karena beritanya tak benar dan bisa merugikan pihak yang diberitakan.” Hal ini adalah pedoman standar yang pasti diketahui oleh semua orang yang merasa dirinya wartawan. Tetapi pertanyaannya adalah bagaimana pelaksanaan hal ini dilapangan?

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan peristiwa pembantaian empat orang anggota jemaah Ahmadiyah oleh “Masyarakat”. Tetapi pembritaan itu mengalami pembiasan makna. Apakah anggota jemaah Ahmadiyah tersebut bukan bagian dari warga negara Indonesia yang boleh jadi bagian integral dari “masyarakat” kita secara keseluruhan? Dari wahana twitter dan facebook serta jejaring sosial dunia maya lainnya. Telah banyak dikabarkan mengenai siapa sebenarnya ‘masyarakat’ yang menyerang anggota jemaah Ahmadiyah tersebut. Bukti-buktinya sudah ada dan tinggal melakukan verifikasi lalu pemberitaan secara luas. Namun kenapa semua media di Indonesia takut mengatakan hal yang sebenarnya?

Dalam sebuah kesempatan wawancara dengan media di Amerika, Pramoedya Ananta Toer pernah berkata. “masyarakat indonesia terlalu sibuk dengan masalahnya sendiri” katanya dengan lirih “sehingga tak peduli dengan yang lainnya”. Ia benar, saya juga merupakan bagian dari masyarakat yang disebut oleh Pram tadi. Manusia yang merintih kalau di injak, mengharap bantuan, namun diam saja jika ada orang lain yang ditindas.

Wartawan dan pers hari ini adalah salah satu komponen penting yang saya pikir bisa merubah itu semua. Seperti Nobel, mungkin masyarakat kita butuh “berita kematian tentang dirinya”, akankah mereka semua mau dikenang sebagai orang yang apatis dan ahumanis karena tak peduli dengan sesamanya? Saya tidak tahu, karena dalam banyak hal saya juga masih terlalu takut untuk bersuara. Mungkin seperti keadilan, keberanian di Indonesia entah ada dimana.

1 komentar:

  1. Setiap orang kan butuh untuk meng"ada"kan dirinya toch, jadi wajar hal ini terjadi, lagipula media massa sudah banyak yang jadi alat politik, piye truz?
    Masih mau jadi orang yang Lurus?

    BalasHapus