Senin, 14 Februari 2011

Untuk Mamadd yang Terkutuk Bujang Sepi

Di Dropsie Avenue Assylum


Sebelumnya aku tidak tahu bagaimana harus menjawab semua surat dan pesan yang kau berikan padaku Madd. Karena ya kamu tahu, aku bukan penyair dan aku bukan insinyur. Aku adalah aku, sesederhana itu. Aku tak tahu bagaimana harus menanggapi segala kisah tentang langit, rintik hujan, deru angin dan segala warna kelam yang diciptakan mendung yang kau ceritakan itu Madd. Sungguh aku tak tahu, aku hanya gadis sederhana yang tak pernah perduli dengan segala hal sentimentil yang telah kau banyak perhatikan itu.

Dalam banyak hal, aku berterima kasih atas segala perhatian yang telah kamu berikan Madd. Sungguh itu adalah pujian, segala yang bernama perhatian bukankah adalah pujian? Merupakan sebuah kebahagiaan bagi seorang gadis untuk memperoleh segala puja-puji kecantikan, dan rayuan paling gombal sekalipun. Sungguh dalam banyak hal itu, aku merasa menjadi gadis paling cantik sejagat. Untuk itu aku berterima kasih. Tetapi seperti halnya kaviar yang dimakan dengan begitu rakus, kenikmatan pun menemukan titik nadir kejenuhannya Madd.

Kamu tentu tak pernah peduli jika kemudian aku bilang bahwa aku sudah memiliki pacar. Pacar ganteng, kaya, cerdas, priyayi dan yang paling penting dia sehat juga tegap. Surat tengik yang kau kirimkan itu, salah satunya tanpa senganja nyasar pada pacarku. Surat tengik yang membuat kami ribut, surat sontoloyo yang merusak segala suasana liburanku di Paris. Kamu tentu tidak mau peduli, karena dalam otak kecilmu yang bangkotan itu, kamu tak mengenal realitas! Hidupmu adalah mimpi fakir yang terlambat dikabulkan.

Sesungguhnya aku tidak peduli dengan segala racauanmu tentang hujan yang tak lagi datang dengan menyapa. Yang datang tiba-tiba, tanpa pamit, kurang ajar dan seringkali diam diam. Serupa kentut yang tak tertahan, berhembus diantara barisan awan mendung yang kelam itu. Sungguh aku tak peduli Madd. Apa peduliku jika kemudian mendung itu runtuh dan menghujani bumi dengan bau apak darah? Aku tak peduli, aku tak butuh rasa peka terhadap segala yang bukan urusanku Madd. Sungguh aku tak peduli.

Karena kamu tahu? Dalam lontar riwayat hidupku, kini aku sudah hidup dalam kenyamanan yang begitu rupa. Aku pernah mengenal rasa pahit getir kemelaratan dan tak berminat untuk merayakannya kembali bersamamu Madd. Pemimpi miskin yang diludahi kemapanan. Oh Cmon Madd, its twentyfirst century for Christ sake! Siapa orang tolol yang mau mendengarkan syair, rima dan berbait puisi tengik yang tak membuat orang lain kaya. Siapa orang di kolong langit yang masih menerima puisi wujud rasa cinta? Tidak ada Madd! Tidak ada! Mungkin otakmu yang soak karena terlalu banyak kau gunakan merancap itu sudah out of date. Godverdamnt! Sini kuberi kau tips, get a diamond! Its Women Bestfriend!

Mamad yang malang dan sial, sebenarnya apa salahku sampai-sampai kamu mengirim surat tengik konyol itu berulang-ulang? Apa yang aku lakukan sehingga kamu melakukan hal sontoloyo semacam ini kepadaku? Apakah aku berhutang sehingga kau mengejarku begitu rupa dengan harapan membayar hutangmu itu? Jawab Madd, Jawab! Aku tak habis mengerti dengan segala isi otakmu yang absurd itu. Apakah buku-buku dan segala ruang diskusi yang kau gandrungi itu telah mencuci otakmu dengan tuntas? Sehingga di zaman ketika gadis menjadi presiden dan Yacht merupakan kado perkawinan, kau masih terjebak di abad XVII dimana Shakespeare dan William Blake masih perjaka?

Kamu tahu Madd? Dunia sudah banyak berubah, peradaban manusia kini telah menemukan tuhan bernama kartu kredit yang membuat segala ibadah belanja menjadi khusyuk. Kamu tahu Madd? Untuk dicintai seorang gadis cukup kamu miliki saja rekening gendud, wajah tampan, tubuh berotot dan status sosial. Sesederhana itu Madd. Tak tahukah kau bahwa Mark Zuckenberg adalah person of the year time tahun 2010 hanya karena dia menciptakan berhala bernama Facebook? Ia memiliki lebih dari 500 juta umat yang begitu salih updating status for their miserable fate of unable adapting in REAL social life! Sepertinya kamu butuh Facebook Madd.

Oh Mamadd yang tolol, Mamadd yang obesitas dan Mamadd yang lapuk. Tak tahukah kau jika manusia modern tidak lagi mengenal empati? Mereka telah menukarnya dengan sehelai kemapanan bernama pesta. Aku bahkan sudah menjual segala empatiku lama sekali. Untuk apa? Hidup yang keras ini tidak membutuhkan perasaan untuk bertahan. I’m not being an asshole poor Mamadd, it is a mere strugle for survival of the fittest. Perasaan hanya akan menghambat karir dan kehidupan orang. Perasaan, terutama nurani, adalah sampah paling tolol yang dimiliki manusia. Dan kebetulan kau punya stok terlalu banyak Madd, perasaanmu yang halus itu akan membunuhmu pelan-pelan. Sistem yang kelewat busuk tapi nikmat ini akan melindasmu sampai lumat!

Oh Mamadd, mungkin saat kamu membaca ini kamu akan berlari keras dan mencariku. Tapi hentikan Madd. Dengan segala sisa kewarasan yang mungkin masih Kamu miliki. HENTIKAN! Aku sudah tidak lagi di Indonesuck. Ah negeri sampah yang bahkan aku tak sudi menyebutkan dalam surat menyedihkan ini. Negerimu, negeri yang kamu cintai dengan segala detak jantung dan aliran darahmu itu. Negeri munafik yang masyarakatnya tolol. Negeri macam apa yang tidak memberikan warganya ruang untuk berkeyakinan? Negeri macam apa yang pemimpinya diam melihat rakyatnya ditebas dalam sebuah pembantaian? Aku pergi Madd! Pergi dari negeri barbar yang pemimpinya hanya bisa prihatin diatas darah rakyatnya yang berkeyakinan.

Sungguh aku mohon kepadamu untuk tidak lagi mencari atau mengirimiku surat Madd. Sungguh dalam segala hangover ku selepas pesta pora, aku merutuki pertemuan kita. Sungguh Madd, aku mengutuk pertemuanku dengan manusia tengik macam kamu. Manusia yang terlalu ringkih, pengeluh, cengeng yang pengecut! Laki-laki macam apa yang tak juga lulus kuliah karena rasa takut menghadapi kehidupan? Kamu jangan berbohong! Pecundang macam kamu itu sudah terlalu banyak berbohong dan yang paling menyedihkan dari itu semua. Kamu membohongi diri kamu sendiri lalu meyakininya sebagai sebuah realitas, beserta sederet lurus apologi, afirmasi, identifikasi dan pembenaran dari otakmu yang pendek itu. Sungguh hidupmu adalah kesia-siaan yang paling sial.

Sudah terlalu lama kamu berbohong Madd. Sudah terlalu lama kamu mengasihani diri kamu sendiri. Dulu aku sempat kasihan, tetapi kini tak lebih dari rasa jijik terhadap bau anyir sikap pengecutmu. Laki-laki macam apa yang sudah berumur segitu, hidup dalam sokongan ketek orang tua, tak jua bekerja menjadi sampah. Biar kuberi tahu padamu Madd. Pada hidupmu yang super sial itu. Tak ada. Sekali lagi kujelaskan. TAK ADA SATUPUN GADIS YANG HENDAK BERTARUH HIDUP PADA SEORANG PENGANGGUR KECUT! Tidak ada Madd. Dan kamu adalah seburuk-buruknya penganggur. Yaitu penganggur pemimpi yang tak lebih merana dari pada orang impoten!

Biar kubandingkan kau dengan hidup pacarku. Agar kau tahu, aku bukan kejam Madd. Aku hanya gadis yang membutuhkan kepastian hidup. Dimana tentu saja, No offense yang tak mungkin pernah akan kudapat darimu. Pacarku adalah seorang lulusan perguruan tinggi luar negeri, keluarganya adalah priyayi, seorang pensiunan kapten, yang memiliki enam perusahaan tambang, selusin kapal tangker, dan puluhan rumah mewah di dalam atau luar negeri. Oh aku tahu apa yang akan kau pikirkan, ‘bagaimana seorang kapten memiliki harta sebanyak itu?” Well you know Madd? I don’t give a shit! Aku bahkan tak perduli jika keluarganya semasa hidup adalah pembantai PKI, koruptor sumbangan bencana Aceh, siluman babi ngepet, rentenir petani gurem, Bankir Century, atau bahkan antek yahudi. Aku tak peduli Madd! Harta adalah sahabat manusia hidup!

Aku hanya sekedar realistis. Hidup butuh kesenangan dan aku adalah pemuja kesenangan yang paling taat. Lupakan idealisme, Hegel sudah lama membusuk dalam kuburnya dan Mahaguru Marx selalu akan benar Madd. Semua faktor produksi tidak akan pernah dimiliki oleh kaum proletar. Dan borjuis selalu akan jadi cukong pengakang nasib buruh! Selamanya, karena kalian para rakyat miskin yang hanya peduli dengan isi perut dan Blackberry. Tidak akan pernah mengetahui kesadaran kolektif untuk melakukan perubahan. Tidak akan pernah! Untuk itu aku memilih untuk menjadi bagian dari sistem yang mapan dan menjadi borjuis sejak dalam pikiran! Aku hanya gadis sederhana yang meminta sebuah berlian 200 karat sederhana untuk hadiah valentine, Lamborgini mungil untuk hadiah ulang tahun, dan liburan murah ke Hawaii untuk menghilangkan ngambek. Well Madd, I ask you, can you afford this? If you can, you win my heart. Or whatever you want.

Aku hanya mencoba jujur Madd, tidak menjadi munafik dengan segala kediaman yang bangsamu pernah lakukan. Oh ya, aku akan berpindah kewarganegaraan menjadi Israel. At least, mereka memiliki solidaritas sosial. Satu orang terluka adalah luka semua bangsa. Bangsamu yang katanya beragama, bangsamu yang katanya berPancasila, bah itu taik kucing paling sengti yang pernah kudengar. Seluruh bangsamu adalah Machievelian yang lebih dari Machieveli! Bangsa apa yang membantai habis 2 juta manusia atas nama prasangka komunisme? Bangsa apa yang diam melihat perampokan tanah adat suku lalu menjadikannya korporasi tambang multi nasional? Bangsa apa yang merintih kalau ditindas menindas jika berkuasa? Bangsa macam apa yang melarang keyakinan orang lain atasnama puritanisme sakau? Bangsa macam apa yang menghukum seorang ibu atas nama konspirasi skandal bank besar? Bangsa penganut Machievelian paling munafik sejagat!

Untuk itu, ijinkan aku menjadi busuk dimatamu. Menjadi jahat dimatamu. Maaf Madd. Bertold Brecht benar mengenai Gelap Massa! Biar ku tuliskan padamu, sebuah puisi paling realistis mengenai bangsamu dan seluruh jagat raya yang mblegedesh ini!

Bertold Brecht dalam “To Posterity,”

Truly, I live in dark times!

An artless word is foolish. A smooth forehead

Points to insensitivity. He who laughs

Has not yet received

The terrible news.

What times are these, in which

A conversation about trees is almost a crime

For in doing so we maintain our silence about so much wrongdoing!

And he who walks quietly across the street,

Passes out of the reach of his friends

Who are in danger?

Sudah kau baca? Tentu kau paham apa artinya bukan? Kau tentu tahu? Kau adalah segala yang bernama so called mahasiswa aktifis yang hanya bisa baca dan mengerti. Tanpa bisa mempraktikkann segala pengetahuanmu. Kamu adalah tenokrat gagal! Maka bacalah puisi itu, kabarkan pada anak cucumu (itu pun jika ada wanita yang mau padamu -yang aku sangsi mengenainya) bahwa bangsamu adalah bangsa jahiliyah yang tak mengenal peradaban. Bangsa yang dihuni mahluk fasis yang setengah paham terhadap segala yang diyakininya. Dan aku, si gadis malang yang mungkin kamu benci ini. Hanya mencoba jujur. Puisimu memang indah tetapi maaf, itu tidak mengeyangkanku, tak mampu memberiku sebuah sabuk Dolce Gabana paling murah sekalipun.

Dalam keremangan senja musim panas Prancis, di sebuah kamar presidental suit hotel Ritz Paris aku menulis surat balasan sederhana untuk suratmu yang sontoloyo itu. Langit sudah perlahan menjadi ungu, samar-samar aku mencium wangi Champagne dan lobster panggang untuk makan malamku. Maaf Madd, waktuku tak banyak. Aku ada janji dengan Carla Bruni untuk menyaksikan peragaan busana terbaru dari Armani. Dengan ini aku mengutuk segala hidupmu yang menyedihkan itu. Cepat sadar Madd atau matilah. Dunia sudah tak butuh penyair.

Au Revoir

Tertanda R.

NB: Jangan dibalas, karena akan percuma. Setelah ini Aku dan pacarku berlibur di pulau pribadi di Karibia. Lalu kami akan menikah dan tinggal di rumah baru kami di suatu tempat di Eropa barat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar