Minggu, 27 Maret 2011

Menggugat Proses Literasi


Outside of a dog, a book is man's best friend. Inside of a dog it's too dark to read. ~Groucho Marx

Apa jadinya jika J.D Salingger, salah satu penulis cerpen terbaik Amerika, menyerah di awal-awal karir penulisannya? Mungkin kita tak akan pernah sempat membaca karya kanon macam The Cathcer in The Rye. Salingger sendiri dikenal publik amerika sebagai cerpenis yang hanya mau menulis cerpen untuk majalah Newyorker. Sebuah majalah kelas wahid yang ada di kota New York dan dikenal selektif dalam memilih karya.

Salingger tidak serta mereta mencapai kemasyuran sebagai cerpenis dengan jalan yang mudah. Ia harus menguji mental menulis dengan berulang kali ditolak. Tetapi proses membuatnya menjadi pribadi yang tak menyerah. Ia terus menerus mencoba, memperbaiki konsep penulisan dan mengembangkan cerpennya dengan semaksimal mungkin. Dan hasilnya bisa ditebak, pada suatu saat Newyorker bersedia memuat salah satu cerpennya.

Tak sedikit sebenarnya penulis yang kemudian menyerah karena sebuah penolakan. Beberapa malah kemudian banting stir berhenti menjadi penulis karena gagal menaklukan kerasnya dunia literasi. Lalu sebenarnya apakah yang menjadikan sebuah penulis menjadi baik? Apakah kualitas karya diukur dari kerasnya usaha atau memang ada suatu hal yang dinamakan bakat?

Saya pribadi tidak percaya bakat, saya percaya kerja keras dan integritas diri akan membentuk keahlian. Lupakan Mozart dan lupakan Will Hunting dalam film “Good Will Hunting.” Mereka adalah sebuah kebetulan. Semacam momen dimana anda bertemu dengan seseorang yang ada kenal di jalan. Sebuah serendipity.

Seorang kawan pada sebuah malam tiba-tiba bercerita tentang kegalauannya menghadapi permasalahan dalam sebuah organisasi yang pernah ia asuh dulu. Ia mantan aktifis pers mahasiswa, ia mengalami dilema transisi melepaskan kondisi nyaman pengurus menjadi sebuah stagnansi bernama alumni. Ia bingung bagaimana hendak melakukan perubahan di organisasinya dulu, karena ia pikir pengurus yang sekarang terlalu lembek dan kurang militan.

Ceritanya organisasi dimana ia dulu pernah bergabung baru saja melakukan pergantian kepengurusan yang ditandai dengan seremoni laporan pertanggung jawaban para pengurusnya. Pada seremoni itu ia berlakon bak pengadil yang hendak mendebat segala hal yang ia anggap salah. Maklum, apalah arti seorang alumni jika ia tak pernah marah dan mengkritik kinerja adik-adik organisasinya. Pleidoinya selalu sama, untuk menjaga kualitas organisasi. Buat saya sih penyebabnya klasik, yaitu post power syndrome.

Si kawan ini mengeluhkan betapa proses itu menjadi alasan paling murahan untuk menutupi ketidak becusan sebuah usaha. Ia mencontohkan pada saat LPJ organisasi tempat ia bernaung, hampir segala kegagalan dan kekurangan yang terjadi dipersalahkan kepada ‘proses’. Padahal dulu saat ia masih tergabung sebagai mahasiswa yang menggiatkan organisasi, proses ia maknai sebagai sebuah kerja keras dalam mengembangkan diri. Bukan sekedar melakukan das sein yang memang sudah menjadi kodrat diri.

Proses menurutnya adalah dimana ia berusaha lebih dari hal yang memang diwajibkan kepadanya. Saya sendiri memaknai proses sebagai usaha menjadi liyan yang tak tersubordinasi. Sederhananya adalah menjadi diri sendiri untuk berbeda dengan kebanyakan. Saat saya masih aktif menjadi anggota pers mahasiswa saya berusaha untuk banyak belajar mengembangkan kemampuan menulis saya. Bukan karena hal itu diwajibkan oleh LPM dimana saya bernaung, tetapi karena memang saya ingin jadi lebih baik.

Proses juga saya artikan ‘work your ass up twice’. Saat kawan-kawan saya menulis sekali, saya coba untuk menulis dua kali. Saat kawan saya membaca tiga buku maka saya harus membaca empat. Hal ini karena saya menyadari bahwa orang kebanyakan hanya akan melakukan hal yang diperintahkan kepadanya, sedangkan orang yang sedikit melakukan lebih banyak dari apa yang diperintahkan. Untuk mencapai keparipurnaan.

Secara implisit Nietzche dalam Beyond Good and Evil dan Thus Spoke Zarathrusta meramalkan sebuah kondisi kelompok liyan yang terbebas dari segala macam norma. Menjadi kelompok yang terbebas ari segala aturan karena mereka mencapai keparipurnaan pemikiran, tindakan dan diri. Superman yang hadir sebagai penyelamat manusia.

Sesungguhnya apa dimaksud Nietzche sebagai superman tidak serta merta muncul gletek tanpa dilandasi proses sebelumnya. Menilik kisah dari para santo, untuk mencapai kondisi kesucian yang beberapa derajat itu, mereka harus melalui serangkaian peristiwa. Santo Petrus misalnya, sang penjaga pintu surga dalam keyakinan nasrani itu. Menjadi salah seorang dari 12 belas rasul pilihan, karena mencapai pencerahan saat melakukan tugas ketuhanan. Serta keyakinan tak tergoyahkan selama penyebaran agama kristus di tanah Roma. Proses yang tak tergoyahkan disertai oleh keyakinan akan perubahan membawa hasil yang baik.

Proses yang berbeda dari manusia kebanyakan itulah yang membedakan keistimewaan seorang individu. Kawan saya tadi mencak-mencak karena proses yang dianggapnya sakral itu dijual murah sebagai pledoi kemalasan. “Masak diskusi tak mau, menulis malas, baca segan gitu dikatakan proses?” katanya dengan menggebu. Saya pikir kawan saya tak salah, ia cuma buta melihat kondisi kekinian.

Era kejumawaan Zuckenberg dengan facebook dan kicau bising Twitter telah meruntuhkan budaya literasi dan semangat keberaksaraan kita. Jangankan mengharap orang untuk membaca, untuk sekedar melihat tontonan yang pantas saja orang susah. Sinetron, sitkom dan reality show sudah mereduksi pemikiran kita pada tataran yang paling nadir.

Dalam sebuah kuliah Umberto Eco memberikan makalah yang berjudul “From Guttenberg to Internet,” Eco memberikan semacam kronik budaya literasi manusia dari era Pharaoh mesir hingga kemunculan world wide web. Dengan sangat satir ia memberikan analogi yang tertuang dalam kisah Notre Dame de Paris. Dalam sebuah fragmen kisah itu ia menggambarkan perkiraan pendeta Claude Frollo, bahwa akan tiba sebuah masa, dimana buku akan menghancurkan gereja. “Ceci tuera cela,” ujarnya

From Guttenberg to Internet Sejatinya adalah upaya untuk memberi cagar budaya pemikiran intelektualitas. “In order to be a free person, we need to learn about Life and Death.” tulis Eco “And only books can give such wisdom.” Keberadaan buku memang tidak dinafikan dapat menjadi sebuah stimulus untuk mengembangkan pemikiran si pembacanya. Tetapi kalau tak ada kemauan untuk membaca ya akan sangat percuma sekali. Proses akan berarti apabila dimulai dari diri sendiri yang ditautkan pada sebuah tujuan.

Pers mahasiswa sebagaimana saya bernaung dulu memberikan pemahaman itu. “Bagaimana mau menulis baik jika baca saja tidak,” ujar Diyah pimred saya dulu. “Kalo bacaannya sampah ya tulisannya jadi sampah,” saya lupa yang berkata itu. Tetapi jika kemudian menulis, membaca dan berdiskusi alam tataran pers mahasiswa dianggap sebagai proses, buat saya itu konyol. Tak perlu jadi aktifis pers mahasiswa jika hanya sekedar menulis, membaca dan berdiskusi. Jadi juru ketik atau tukang catat resep obat pun bisa.

Namun bagaimana memiliki pemahaman utuh dan mendalam tentang apa yang ditulis, dibaca dan dibicarakan itulah yang penting. Pers mahasiswa berbeda dengan organ mahasiswa lainnya. Karena mereka dituntut untuk dapat menyajikan berita, analisis dan kebenaran dengan proporsional. Seringkali proses yang pers mahasiswa lakukan terpaku pada euforia masa lalu. Tentang masa-masa 45, 66, 73 dan 98. Saya kira pers mahasiswa kini terlalu melankolis dan labil.

Saya menggugat itu semua. Harusnya pers mahasiwa bisa lebih paham tentang apa yang mereka lakukan. Bukan sekedar menjalankan proker organisasi. Semacam membaca, diskusi, reportase dan menulis. Lebih dari itu, proses dalam pers mahasiswa harus dimaknai sebagai bildungprozezse. Terminologi Hegelian untuk pembentukan karakter diri, Heidegger kemudian meminjamnya dalam Sein und Zeit sebagai mencandra keseharian. Atau dalam bahasa sederhana saya “dig deeper to understand more.’

Lalu jawabannya berpulang kepada anda sekalian. Kawan saya yang juga mantan aktifis pers mahasiswa itu kemudian hendak membuat semacam manifesto untuk mengingatkan para pengurus di tempat ia dulu pernah berorganisasi. Untuk kembali ke fitrahnya dalam berproses. Semacam usaha Muhammad ibn Abd al-Wahhab, pendiri waham wahabisme di Arab Saudi, mengembalikan islam pada Al Quran dan Hadist.

Saya sendiri menolak bikin yang begituan. Karena tidak signifikan, apapun yang telah terjadi dalam sejarah, kemungkinan kecil bisa terulang dengan sama besar. Saya menolak diktum Hegel bahwa sejarah akan selalu berulang. Misalnya, apabila (memang pernah) pers mahasiswa turut ambil bagian dalam penumbangan Soeharto. Saya yakin, khainul yakin, bahwa hal yang sama tidak akan pernah terjadi pada SBY dan Bakrie.

Alasannya sederhana, jika kamu tidak pernah mau mengenal musuhmu, bagaimana kamu akan mengalahkannya? Mau mengalahkan musuh dengan pena, tapi tak hendak menulis dan membaca. Mustahil bisa. Samar samar saya mendengar tawa tengik Zizek di kejauhan. Berbisik, saya mendengar ia berujar “We can no longer, as we did in the good old times.” Dan matahari terlalu terik pagi ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar