Sabtu, 30 April 2011

Fandy Ahmad


~ jangan biarkan timur berkembang

Saya lupa sebenarnya yang mengucapkan kata itu. tapi saya pikir ia benar. Orang-orang (baca peradaban) timur adalah fondasi awal peradaban dunia. Kalian tentu tau peradaban Sumeria, Tigris Eufrat dan Persia. Segala yang menjadi dalih kemajuan bangsa dunia saat ini, asalnya dari timur. Orang orang dari timur adalah para pembaharu yang dipaksa menyerahkan keagungan mereka pada barat.

Ada seorang kawan saya yang berasal dari timur Indonesia. Menurut pengakuan terakhir darinya, ia sempat tinggal di Jayapura, Makasar dan terakhir di Sorong. Kawan saya itu bernama Fandy Ahmad. Orang yang sebenarnya malas mau saya bicarakan. Karena selain baik hati dan tidak sombong, selebihnya ia adalah epigon cita-cita Syahrir tentang Indonesia.

Jika GM menggambarkan Syahrir berdiri di Banda Naira dengan segala kesederhanannya. Saya membayangkan Fandy turun pertama kali di tanah jawa dengan dagu terangkat dan tangan terkepal. Dalam amuk semangat hatinya mungkin ia berujar "hei ko tanah jawa, sa trada takut, sa taklukan ko punya tanah, sonder mundur!" Memang semua itu sekedar imaji. Tetapi setelah sekian tahun bersamanya. Saya rasa imaji itu benar.

Fandy adalah manusia biasa, mukanya standar sekali untuk dibilang tampan. Selain muka kotak dan badan tegap berotot, ia tak punya pesona lain. Jika tak kenal benar dengannya, anda mungkin akan menganggap ia sebagai seorang buruh tani atau Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan sana. Petani militan yang kerap dipaksa baku pukul dengan aparat demi sejengkal tanah yang menjadi penghidupan.

Adalah ayam jantan dari timur, julukan Hasanudin, Raja Gowa ke-16 yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Sejarah Indonesia terlalu sempit untuk menuliskan namanya dengan tinta yang lebih terang. Tetapi suatu saat, saya percaya Fandy akan menuliskan sejarahnya sendiri. Sebagai pembaharu, bukan lagi sebagai penjilat macam Malarangeng tentunya.

Pernah dalam suatu masa yang sial ia dipaksa menjadi sekertaris jendral sebuah organisasi tengik yang seolah-olah ingin memberikan perubahan pada bangsa ini. Sebagai pejuang dari tanah timur 'pantang kata ditarik, wajib beban ditakik'. Segala macam kisah dan perjuangan yang kuanggap semu itu pun kau jalani. Jika kalian bertanya apa itu, cukup kau ingat PPMI.

Pada 19 Maret lalu ia terpaksa harus lulus kuliah. Entah kenapa saya tak merasa senang. Dalam senyum kecut yang ia paksa untuk tunjukan. Ada sebuah beban yang besar disana. Ia harus lulus, orang tua dikampung sudah tak sudi lagi menopang idealismenya. Saya selalu benci keadaan yang memaksa manusia untuk jadi murah. Fandy sebenarnya masih punya semangat lain. Ia hendak menjadikan Pers Mahasiswa dimana ia sempat besar untuk jadi lebih besar lagi. Tapi Tuhan rupanya hendak menguji nyalinya lagi.

Selamat lulus dik. Dalam tengik riuh membahana para wisudawan itu saya mendengar Pushkin, si penyair bebal Rusia itu bersajak tentang pertemuan kita.

A magic moment I remember:

A magic moment I remember:

I raised my eyes and you were there,

A fleeting vision, the quintessence

Of all that's beautiful and rare

I pray to mute despair and anguish,

To vain the pursuits world esteems,

Long did I hear your soothing accents,

Long did your features haunt my dreams.

Time passed. A rebel storm-blast scattered

The reveries that once were mine

And I forgot your soothing accents,

Your features gracefully divine.

In dark days of enforced retirement

I gazed upon grey skies above

With no ideals to inspire me

No one to cry for, live for, love.

Then came a moment of reinessance,

I looked up - you again are there

A fleeting vision, the quintessence

Of all that's beautiful and rare

Jikalau kau harus melacur pada bank dunia, ingatlah Dik. Bahwa akupun pernah melacur. tak ada yang mati perawan kawan. Setidaknya dalam dunia yang terlanjur banal dan pesing ini. Kita telah menuliskan kisah kita sendiri. Lengkap dengan segala tanda bacanya. Sesekali banyak koma yang tertinggal, sedikit titik, berbagai tanda tanya dan selalu ada tanda seru untuk segala penindasan. Ingat Dik, saat kita duduk minum kopi kita mau hidup seribu tahun lagi dan menunda kekalahan!

*ditulis saat rindu skripsi

Sarkasme

not that 'Marx'

“A child of five could understand this. Fetch me a child of five.”
Groucho Marx

Buat saya kesalahan terbesar Voltaire, adalah saat ia percaya pada sarkasme akan merubah pemikiran orang bebal. Voltaire salah, sebagaimana Groucho Marx dalam komedi-komedinya. Sarkasme hanya berguna bagi mereka yang berpikir, mengenal ironi dan paham terhadap aforisme. Selebihnya, sarkasme adalah perayaan terhadap kebodohan orang lain.

Perdebatan yang dilakukan Candide yang mencita-citakan dunia ideal ala Leibnizian optimism cuma humor kitsch Voltaire. Ia berpikir dengan mengejek dan melakukan penghinaan maka mereka (pemangku kebijakan) akan berubah menjadi santo. Well, saya yakin Voltaire belum pernah ikut UKM dan belum pernah tinggal di Indonesia. Ia tidak tahu rasanya berteriak mengkritik lewat sindiran dan sarkasme namun hanya dibalas dengan prihatin.

Candide merupakan proyeksi diri Voltaire dalam mewujudkan dunia utopis dimana terbentuk masyarakat terdidik yang emansipatoris, empathis dan sadar sosial. Ia salah, ia hanya sekedar meneruskan cita-cita bodoh dari para pendahulunya. Kesalahan yang sama dilakukan oleh para penerusnya. Para pemikir yang terlalu kaffah berpikir dan menempatkan orang politik memiliki kecerdasan setara mereka. Para pemikir yang melakukan kritik dengan sindiran. Buat saya mereka hanya menggarami laut.

Salah satu pemikir itu adalah Nietzsche. Perancis, kata Nietzsche dalam beberapa fragmen pengantar Beyond Good and Evil. Mengatakan bahwa Perancis merupakan Episentrum peradaban dan intelektualitas dunia. Sebuah ironi, karena mana ada orang intelek yang suka nyopet dan menolak bayar angkot? Hal ini saya ketahui dari seroang teman yang pernah mampir ke Prancis dan melihat kondisi real dil sana. Ia melihat sebagaian warga Prancis yang katanya intelek itu suka nyopet dan tak bayar angkot. Well Nietzsche tentu tak tahu ini.

Sarkasme paling purna menurut saya keluar dari begawan pop art Andy Warhol "in the future," ujarnya pelan "everyone will be world-famous for 15 minutes." Sebuah seruan jijik yang menyenangkan tentang eufimisme yang menganggap diri sendiri suci. Warhol mungkin hendak melanjutkan cita-cita dari Guy Debord dalam Spectacle Society yang keras menyindir masyarakat Perancis. Namun sekali lagi mabi Situasionist ini hanya mengawang-awang dan tak dapat menghujamkan kritiknya ke bumi. Kritiknya gagal!

Karena dalam abad Media, Citra adalah segalanya. Dan sarkasme yang tak dapat dipahami tak akan berguna. Berapa poster dan tulisan yang sudah menyindir Nurdin Halid? Atawa berapa forum yang menghina dan nyinyir berkata tentang Marzuki Alie? Tapi tentu saja kebebalan dan kebodohan luarbiasa mereka tak sanggup mencerna sarkasme paling gampang sekalipun.

Di sisi lain saya mengingat kisah dari fragmen cerpen AA Navis tentang robohnya surau kami. Dimana ia menceritakan kisah seorang haji yang masuk neraka pada seorang lebai masjid. Sebuah kisah sederhana yang hendak menyentil hati nurani. Dan tentu saja bagi ia yang paham mereka akan sangat tersindir dan sakit hati. Kita semua tahu ending dari cerita AA Navis itu bukan?

Lalu apa guna Sarkasme? saya cenderung menyetujui William Faulkner yang berkata “He has never been known to use a word that might send a reader to the dictionary.” Sarkasme hanya mempan digunakan saat kondisi masyarakat kita sudah seperti negara semacam Israel atawa Jepang. Dimana mereka dengan sedikit saja guyonan dan sarkasme yang berdasar akan menyentuh hati nurani. Well itu yang saya yakin kita tak akan pernah capai.

Untuk Ratih


the Nugraheni

“In solitude we give passionate attention to our lives, to our memories, to the details around us.” Virginia Woolf

Ada suatu masa dimana aku sangat jatuh cinta pada kejujuran. Pada kepolosan serupa embun pagi hari. Dalam banyak hal aku percaya bahwa tuhan menggenapkan ramalan tentang kecantikan ratu Bilqiz dalam laku manusia. Aku jatuh cinta pada saat membaca buku Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia. Dan gadis dengan perilaku cantik itu adalah Annelies Mellema.

Percayalah, aku jatuh cinta dengan segala sedu sedan kemanjaan Annelies yang dengan sempurna dilakonkan Pram dalam kata-kata. Membuat saya mabuk kepayang dan kelimpungan. Apakah benar ada gadis sesempurna itu di dunia? Dengan segala manja, kecerdasan, keras kepala, tak kenal takut dan hati tulusnya?

Tapi tuhan selalu punya lelucon yang tak selesai. Pada suatu sore yang tak terlalu lampau auh dari malam ini. Aku mengenal seorang gadis dengan poni lucu dan suara lembut. Gadis itu menyebut dirinya Ratih. Ya, gadis itu kamu. Kamu yang pernah menjadi teman baik dan dekatku

Apa kabarmu? Dalam doa paling sederhana kuharapkan kau baik-baik saja. Sungguh hanya doa tulus atas kebahagiaanmu yang bisa kulalukan. Karena kupikir aku tak lagi punya kuasa pada hidupmu atas apa yang telah kulakukan padamu. Ya aku ingat, dengan sangat keji aku telah berbuat jahat padamu.

Aku belum sempat mengucap maaf secara langsung. Sungguh, aku tak hendak menyakiti kau. Kau yang diberi tuhan hati sangat baik, senyum paling indah dan perasaan tulus. Mana mungkin dengan sengaja hendak kuremuk redamkan? Jikalau ada manusia tengik itu, biarlah semoga aku saja.

Taukah kau apa yang paling kurindukan? Adalah bisik sapa dan suara sengau tawamu yang bahkan para parkit tak mampu tandingi indahnya.

Tetapi bukankah segala musim telah mendewasakanmu sekarang? Kau jadi lebih dewasa sekarang. Lebih cantik. Lebih baik dan lebih anggun. Kerudung yang kau gunakan, meraut kecantikanmu hingga sangat tajam. Bahkan sempat menggoresku sedikit.

Apa kabar Ratih? Apakah kau bahagia? Semoga demikian. Sampaikan salamku untuk ibumu dan doa tulus untuk ayahmu. Segala macam kebaikan hendaknya selalu erat menempel pada mereka. Seperti tulus cintamu pada mereka.

Hari ini kau ulang tahun kan? Tak banyak yang bisa kuberikan. Selain ini. Aku adalah penulis, apa yang bias dilakukan penulis selain merajut kata? Mungkin hanya sedikit doa dan harapan atas segala kebahagiaanmu.



*Senin 28 Maret 2011. Saat malam sepertinya terlalu bergincu.

Rasisme

~Kebencian selalu menemukan jalan pulang kehati manusia.

Voltaire adalah pribadi yang gelisah akan ide egalitarian. Buatnya persamaan hak sebagai manusia bukanlah sesuatu yang perlu diperjuangkan, buatnya egalitarian adalah hal yang mutlak ada. Saat dia menyusun Traktat toleransi (Treatise on Tolerance 1763) yang berisi usaha pembelaan investigatif terhadap vonis mati kepada salah satu keluarga protestan.

Secara garang Voltaire mengumbar kebencian terhadap fanatisme sektarian yang menelikung tiap sanubari masyarakat perancis pada abad ke 18.

"It does not require great art, or magnificently trained eloquence, to prove that Christians should tolerate each other. I, however, am going further: I say that we should regard all men as our brothers. What? The Turk my brother? The Chinaman my brother? The Jew? The Siam? Yes, without doubt; are we not all children of the same father and creatures of the same God?"

Ada sedikit catatan saat saya menonton even Jember Basketball League (JBL) di Gelora Perjuangan 45 Politeknik Jember. Ada kejadian yang membuat saya jijik saat beberapa suporter yang menonton, kemudian menghina pemain dan suporter dari SMAK Santo Paulus. Saya sangat terganggu dengan ucapan ''cina-cina'' yang mereka katakan. Dalam usia semuda itu, mereka telah mengenal kebencian dan rasisme. Buat saya itu lampu merah yang perlu diwaspadai.

Olahraga sejauh yang saya paham mengajarkan sportifitas dan kerjasama. Respek terhadap lawan dan berani mengakui kelemahan diri. Saya teringat saat Etoó dihina di Santiago Bernabeu kala kontra Madrid. Ia dihina dengan ucapan monyet hanya karena ia berkulit hitam. Maka diktum kick out racism from football bukan sekedar slogan, ia harus menjadi zeitgeist!

Sebelum rapat malam


moon over the grave

Malam mau mampir

kubilang "tunggu dulu juitaku sedang dijalan. Jangan bikin gelap awan,"

kita berdebat, baku ludah dan sambit

Lalu senja datang berwarna malu-malu

ia hendak genapkan rinduku.

"Juitamu aman, malah sedang berdendang lagu pop," kata senja

akhirnya aku pulang, dan temukan juita sedang karaoke

tapi tak sendiri

ada hujan dimatanya






*Minggu , 17 April 2011. Tepat sebelum SmS jauh datang dan rapat terlalu malam.

Untuk Tatah Di Ulang Tahunnya Yang Kesekian

Foto Thalita Aprillia, As She Be My Sunshine Once


~ pada satu titik kita harus memilih sebuah akhir atau memulai awal

Saya selalu tahu bahwa kamu itu akan berhasil. Meski kadang sikap acuh dan leletmu itu membuat saya merasa muskil. Tetapi kamu selalu tahu bahwa dengan segala anggapan yang melekat, kamu bisa membuktikan bahwa keyakinan akan mempermudah segala yang susah. Meski kadang dalam melakukan sebuah keinginan harus tertatih bukan terbata. Ya ya kamu selalu bisa mencapai apa yang mungkin orang anggap remeh padamu.

Kita semua, kamu dan saya dan orang orang yang kita sayang, pernah punya cerita. Tak utuh, kadang ada bopeng di keempat ujung cerita yang memuat kisah kita. Dan tentu saja semua itu tak penting, bukan kisah indah ala cinderela yang hendak kita lalui. Serupa kisah perjalanan Don Quixote dan Sancho Panza yang konyol menggelikan. Juga sedikit dibumbui sedu sedan supaya hidup tak melulu mencecap manis.

Kamu lalu memutuskan pergi, tak jauh, hanya diseberang kota. “Hendak belajar lebih tinggi,” kamu bilang. Ya Saya tau Tah, mungkin dalam banyak pandangan orang yang terlanjur percaya. Kamu hanya sekedar guyonan, tak percaya atas kapabilitas nalarmu yang tajam. Mereka, kebanyakan orang yang jahil, tak hendak mencari tahu siapa kamu Tah. Mereka hanya menilai permukaan saja.

Lalu kamu kini berulang tahun, seperti orang lain, saya masih merindukan kamu. Kangen dengan segala tawa canda kita. Berbicara tentang langit dan layout sesekali makan di pizza hut, berdebat mengenai siapa yang pantas dipuja di club eighties. Serta segala macam umpatan dalam kazanah kebun binatang Uganda yang tak berbatas itu. Bukankah kenangan adalah ilalang yang selalu datang meski dipangkas?

Pada hari ulang tahunmu yang entah keberapa saya tak tahu. Membayangkan segala yang kado yang kamu mau. Mungkin hadiah berupa lensa baru atau kelulusan yang segera. Apapun itu kudoakan dengan lantun kidung yang paling khusyuk. Dan sedikit puisi dari William Blake. Ah! Sunflower. Puisi yang bercerita tentang semangat masa muda. William yang mencintai seroang gadis, dulu harus merelakannya, karena ia tahu si gadis akan lebih bahagia dalam kebebasan.

Ah! Sunflower

Ah Sunflower, weary of time,

Who counts the steps of the sun;

Seeking after that sweet golden clime

Where the traveler’s journey is done;

Where the Youth pined away with desire,

And the pale virgin shrouded in snow,

Arise from their graves, and aspire

Where my Sunflower wishes to go!

Sekarang kita berjanji Tah, pada usia kita yang tak lagi anak-anak. Memupuk kedewasaan dan mengenang masa lalu sebagai sebuah tantangan. Kedepan kamu dan cita-citamu, saya dan cita-cita saya. Kita berjalan beriringan selayaknya sahabat baik. Pada satu titik nanti kita akan berjumpa, kamu jadi orang yang hebat, Saat itu kamu akan membuktikan, bahwa segala serapah lelet dan lemot yang dahulu melekat hanya sekedar cerita basi.



*ditulis dihari Minggu, 10 April 2011 saat rindu berkecambah jadi pohon Oak.

Sabtu, 16 April 2011

Tegalboto Mother Marry


~ Sahabat itu pendengar yang bisu

Pada saat saya pertama kali membaca Mother karya Maxim Gorky, saya seperti sedang melihat sebuah drama. Kisah satir yang harusnya tak pernah terjadi tetapi seringkali hadir di sekitar kita. Untuk itu setelah membaca Mother saya terisak. Menangis layaknya manusia yang sembilu melihat kesengsaraaan.

Dalam kisah itu Mother, yang dikisahkan Gorky dengan sangat purna, menampilkan sosok ibu yang nrimo sekaligus single fighter. Gambaran yang kemudian mengingatkan saya pada bunda Theresa dan tokoh Momma dalam film Forest Gump. Seorang sosok keibuan yang tak peduli label mengenai status hidup. Hanya berpaku pada usaha untuk membahagiakan kehidupan orang lain. Sepertinya citra ideal ini hanya cemooh komikal dalam dunia nyata dewasa ini.

Ada kalanya dimana saya menjadi sangat skeptis terhadap sosok semacam ini. Saya yakin tak akan pernah ada lagi sosok semacam ini. Sampai suatu hari pada bulan Nopember 2008 saya memutuskan untuk ikut UKPKM Tegalboto. Semacam organisasi paramiliter sok intelektual yang bergerak dalam bidang jurnalistik. Sebuah pseudo pers mahasiswa yang bercita-cita mencerahkan masyarakat. Saya pikir mereka ini adalah sekumpulan pemimpi utopis yang terlena.

Di dalam organisasi tersebut saya bertemu banyak orang, seperti fotografer partikelir asal mbatu, bromocorah pinggiran yang belagak penggemar musik hair metal, orang batak yang menyaru menjadi ateis KW2, desainer grafis berkrudung yang tak jelas orientasi seksnya dan berbagai macam yang lainnya. Saya lupa, karena beberapa ingatan tentang itu menyebabkan kondisi traumatis dalam kondisi kejiwaan saya yang labil ini.

Tetapi dari sekian banyak orang yang aneh itu ada seorang ibu-ibu muda yang terngiang jelas dalam ingatan saya. Seorang pengungsi asal papua yang menyaru dalam wujud gadis berkerudung lebar serupa konstituen PKS, namanya Artitik Dyah Iksanti. Saat itu ia adalah pemimpin redaksi dari Tegalboto, satu-satunya pemred perempuan yang pernah ada dalam organisasi semi patriarkhis itu. Atau mungkin sebenarnya dia adalah lelaki? Entahlah.

Sejak awal bertemu dengan Dyah saya merasa ada aura-aura keibuan yang memancar darinya. Tetapi di kemudian hari saya menyesali pemikiran saya ini. Karena aura yang saya pikir keibuan itu adalah aura-aura semi transendental perusak jiwa. Yah hingga akhirnya saya menjadi pecandu baca, pemikir koplak, dan penulis payah. Dalam banyak hal saya menyalahkan Dyah karena telah menjadi salah satu orang yang membuat saya cinta mati dengan dunia tulis dan buku.

Dyah adalah representasi gadis paruh baya yang baru saja menginjak dewasa. Saat saya pertama bertemu ia masih berstatus mahasiswa jurusan Sastra Inggris angkatan sekian. Dengan kata lain salah satu dari beberapa relik purba yang belum juga lulus. Ia tak lulus bukan karena bodoh atawa tak mampu mencerna kuliah dengan baik. Saya dengar ia tak lulus karena matakuliah agama beberapa kali ia mendapat D. Tentu hal ini bukan lantaran Dyah adalah penganut agama pagan dari Papua, samasekali bukan. Konon karena dosen Dyah tak suka saja dengan pemikiran cerdas yang dimilikinya.

Dyah memang selalu berpakaian lebar-lebar, bekerudung besar, berbicara tenang dan halus. Pada awalnya saya kira Dyah adalah penganut wahabi dan salah satu dari pengaku ahlus sunah wal jama’ah. Tetapi tak demikian adanya, Dyah hanya sekedar menjaga aurat. Dan definisi menjaga aurat yang ia pahami ya begitu, dengan menggunakan jilbab ekstra besar.

Sejalan dengan diterimanya saya sebagai anggota UKPKM Tegalboto, pertemuan saya dengan Dyah semakin intens. Ya tentu saja dengan sikapnya sebagai senior dan pemred ia memerintahkan saya membaca banyak buku, banyak latihan menulis dan sesekali memaki saya. Oh benar, dia memaki. Jangan anda pikir karena ia menggunakan jilbab besar, membaca buku Hasan Al Banna, Ibnu Taimiyah dan Salim A Fillah membuat ia menjadi sosok idola ala A’a Gym. Tidak sama sekali tidak. Dengan logat lucunya, Dyah kerap menghujani saya dengan kata Jancuk.

Sebagaimana hidup masa muda yang indah lagi ceria saya pun pemuda tampan ideal idola remaja ini pun pernah mengalami masa-masa patah hati. Dan Dyah, seringkali tanpa pamrih, menjadi orang yang bersedia berbagi dengan saya. Entah karena kesamaan narasi cerita patah hati awata karena dia memang senang melihat orang menderita. Dyah menjadi tempat sampah kami, dimana saya dan teman-teman di Tegalboto bercerita keluh kesah. Ia selalu mendengarkan kami dan jarang sekali memotong. Hanya mendengar, seolah dalam hidupnya yang menjelang paruh baya itu tak pernah memiiki masalah.

Selain itu Dyah adalah pribadi hangat yang tak segan menjadi bank donatur bagi saya yang sering bokek. Tak terhitung jumlah waktu saat Dyah dengan semangat filantropis mentraktir saya makan atawa memasakkan saya makanan. Meski saya tahu, Dyah sendiri kesulitan uang dan kurang makan. Tetapi apalah arti itu semua demi saya yang kece ini? Tetapi bukan pada saya saja Dyah begitu, hampir semua rekan saya di Tegalboto adalah para klien yang ditolongnya. Mungkin Dyah bertekad masuk sorga dengan amalan memberi makan kaum fakir.

Dan hari ini Dyah ulang tahun. Sebagai penganut euforia globalisasi yang memuja tradisi barat. Saya hendak merayakan hari kelahiran Dyah. Saya hendak memberinya gelar Mother Mary, terlepas dari perdebatan teologis nantinya. Buat saya Dyah memberikan kesempatan saya untuk jadi lebih baik, dan hanya ini yang saya bisa beri. Sekedar catatan konyol goblok yang mungkin pada 2089 nanti akan dicerca orang sebagai teks banal yang worthless. Tetapi peduli setan dengan mereka, bukankah sejarah adalah apa yang kita tulis hari ini?

Untukmu, entah apa yang bisa kuberi. Selain beberapa rapal doa mengenai jodoh yang semoga segera kau temukan. Entah itu bersama kepala suku di Papua sana, juragan batik di Solo, atawa fotografer asal ponorogo. Entahlah, jikalaupun kau memaksa hendak berjodoh dengan pesakitan asal Depok. Maka biarlah. Dyah dalam teks ini saya hendak berterimakasih padamu. Tentang semangat, jancuk, makanan, malam-malam penuh curhat dan segala ingatan kita tentang masa lalu. Kamu adalah Ave Maria dan selamanya demikian. Tabik.

Langit Seusai Mendung


untuk idz

Dan kulihat ia tak lagi keruh dengan ingatan tentang luka
Larik-larik cahaya lurus memancar mata
"Telah kutemukan lagi langit yang baru,
adalah ia sahabat luka" katamu dengan wajah berbinar

bukankah hidup mengenai runtut kebahagiaan?
dalam suram kisah purba,
semua cinderela menemukan sepatu kaca
kaupun demikian kukira
kau temukan sahabat dalam luka.

Kebahagiaan kini telah hadir.
Lebih dekat dari dua helai nafas.
Jangan menangis lagi, cahayamu terlalu terang
untuk dirundung mendung.

post scriptum


Jika memang pada satu jeda aku harus dipaksa menyerah
maka biarlah
bukan kemenangan yang dituju
sekedar keberadaan

"Kau tentu tau apa jua jawabku"

seperti langit yang terlajur merah saat senja
dan mengalirnya sungai bedadung
kita akan bertemu nanti saat awan mendung
pasti

Jauh

untuk SFK

jarak rupanya telah bersepakat
dan malam seperti juga siang pun mufakat
ciptakan lelah panjang pucat
yang terlampau jauh tercatat

dimana keheningan ini bermuara?
dan segala akhir bercerita

"Melipat rindu puan, sungguh hamba tak bisa"
teriakku lantang
demi perigi yang mengalir panjang
jauh, kan kutebas hingga terlentang!

Tentang Tiga Firman

Muhammad menangis keras berdoa lantang
hingga di ujung nafasnya yang rapuh itu suaranya tak lagi bimbang
"ummati, ummati, ummati," kata Muhammad
di langit sebisik suara menjawab
"tunggu, Ku update status dulu," ujar Nya.


Jesus merajuk sepi tertancap darah paku berbisik lirih satusatu
Di bukit Golgota tiga pasak salib berjajar rapi
"Eli-eli lama sabachtani" kata Jesus
di kerajaan Nya sebising suara menjawab
"Sorry, Kau sudah Ku remove dari friendlistku" kata Nya

Musa berdebat keras dengan batubatu tentang Cahaya Terang
di bukit Sinai tanpa alas kaki ia menerima yang sepuluh tanpa debat lagi
"Eved HaShem, Avi haNeviim zya"a " kata Musa
di sebuah Api yang terang selirih suara menjawab
"oke cuy, jangan lupa folbek yah" seru Nya

Jumat, 15 April 2011

Tentang Sepetak Mata

untuk : Imanda D Salsabila


Adalah ia yang mengaliri kenangan dengan air yang tak mungkin surut.
"aku sedang menunggu es krim" kau bilang
seraya memandang malam yang terlajur uzur
bukankah kita semua sedang menunggu dik?
menunggu untuk menjadi hitam dalam sekilat matamu yang tertutup.


Proficiat?
tidak, tak perlu ada perayaan atas kemenangan.
tentang es krim, maskara, dan celak hitam mata.
Matamu yang sederhana telah meruntuhkan segala yang banyak,
tetapi yang diam pun akhirnya akan bersuara.
entah kapan..


Jember 14.2.2011 di tengah malam sebelum hujan

Tarikh Massa Muda

Untuk Dodik Yulianto


Kau pernah berkata padaku jangan takut menerjang ombak
karang yang keras takan mampu lukai hati yang serak
kau suruh aku mendaki bukit paling terjal dan meludahi segala rintangan
karena kau percaya, aku yang mereka sebut pesakitan ini
akan mampu sudahi tantangan



kau sahabat lekat serupa langit dan ujung awan itu
bertautan tak hendak lalu
merobek bendera putihku dan memaksaku melaju


"deru deru deru campur debu
kibaskan segala luka dan ilalang kering
dibalik terjal malam ada cahaya siang"
ujarmu di waktu subuh.

sementara telah tuntas langit kau takik
bukit kau daki
samudra kau terjang


O yang bijak
O yang terang
O yang menyejukan

padamu aku berkata, aku rindu kau saudaraku



* Senin 24 Maret 2011, Saat perut lapar dan undangan makan ditinggalkan.

Demos-Kratos dan Sekedar Catatan Mengenai Sahabat

~ pada saatnya semua lelaki berjuang sendiri.

Saya mengingat sembilan April sebagai hari kematian Mohammad Baqir al-Sadr, seorang filsuf dan pemikir syiah dari Iraq sekaligus juga menantu pejuang kemerdekaan berpikir Iraq, Muqtada al-Sadr. Mohammad Baqir al-Sadr pernah mengagumi ide menganai kilafah dan salah satu dari sedikit sekali pemikir syiah islam yang bergulat dengan ide-ide kontenporer diluar konsepsi imam mahdi. Buat Mohammad Baqir al-Sadr, Islam adalah keseluruhan yang mutlak dan tak perlu menjadi berbeda-beda. Hal ini terbukti dalam karyanya Wilayat Al-Umma, atawa pemerintahan umat. Ia hendak mengkonsepsikan khilafah ala Hizbut Tahrir yang pernah ia geluti dan pemikiran marxisme yang sempat ia cicipi.

Meski pada akhirnya Mohammad Baqir al-Sadr harus gugur dalam siksaan kuasa rezim Sadam Husein. Mohammad Baqir al-Sadr memberikan sebuah warisan pada dunia. Dalam salah satu jaryanya Lamha fiqhiya, Mohammad Baqir al-Sad hendak mengabarkan keberpihakan islam pada ide-ide demokratis.

'Islamic theory rejects monarchy as well as the various forms of dictatorial government; it also rejects the aristocratic regimes and proposes a form of government, which contains all the positive aspects of the democratic system.'

Demokrasi, saya selalu berpikir apalah arti kata itu sehingga begitu murah dan megah diucapkan oleh banyak orang. Sejenak saya mengingat seorang kawan. Demos, yang dalam bahasa latin adalah rakyat, adalah teman baik saya saat SMA dulu. Orang yang baik benar dan mengerti bagaimana bersikap, setidaknya itu menurut saya. Seorang mantan ketua Osis dan juga Ketua kelas 1 F. Entah kenapa ia dipilih menjadi kelas, tetapi kemudian dalam banyak kesempatan ia selalu menunjukan kualitasnya sebagai seorang pemimpin.

Tapi sayang seribu sayang, tuhan menciptakannya terlalu pendek. Padahal dalam beberapa catatan pacar yang ia miliki, semuanya tinggi dan jangkung. Dalam banyak hal saya selalu percaya, tuhan selalu punya lelucon yang tak selesai. Ia menciptakan anomali dalam setiap keindahan. Pacar Demos adalah segala yang bernama keindahan dan Demos itu anomalinya.

Saya mengenang Demos saat ia masih SMA, karena selepas sekolah ia memutuskan pisah ranjang dengan saya. Mungkin karena alasan ketidakharmonisan antara kami berdua membuatnya jengah dan tak lagi nikmat berdua bersama saya. Ya sebagai seorang yang tahu diri, saya ya manut manut saja. Wong hidup itu mengenai pilihan. Seingat saya Demos kemudian memilih untuk kuliah perhotelan di Surabaya. Saya curiga dia pergi kesana karena hendak dekat dengan seorang pria jalang bekulit hitam legam.

Saat SMA saya dan Demos duduk berdua. Kami melalui masa indah bersama, berlarian di padang rumput, berdendang riang di taman bunga, kadang berkejaran di hutan. Eh? Maaf itu kajol dan amir khan bintang film bollywood kesukaan Demos. Demos memang menyukai pelm india, jauh sebelum briptu Norman terkenal, Demos sudah mengenal kuch-kuch ho ta hai dan Govinda. kalau tak percaya anda bisa main ke kamarnya yang terpampang poster besar amitabachan dengan tulisan kecil 'i love you' dari Demos.

Demos adalah seorang seniman. Selain hobi sesekali menggambar, ia tercatat sebagai seorang keybordis terbaik pada masanya. Terkenal seantero Bondowoso dan sekitarnya. Bersama sebuah band yang dilabeli Master Q, ia mencatat sejarah sebagai keybordis paling cilik yang bisa memenangi sebuah festival. singkatnya memenangi kebanggaan atas prestasi mukanya yang pas-pasan itu.

Kenangan yang tak mungkin bisa saya lupakan adalah saat-saat dimana kami berdua harus cabut saat pelajaran bahasa Indonesia dan makan pecel di warung pak toyo. Makan pecel bersama dan musti ketemu kepala sekolah di kantin. Dalam banyak hal Demos merupakan potret kecil masyarakat kebanyakan di Indonesia. Kecil, melarat, kumuh dan tak berdaya. Sebagai sahabat yang kaffah baik pribadi maupun fisik (namun sama-sama melarat) kami berbagi. ya itung-itung amal

Dalam banyak hal seharusnya saya mendendam pada Demos. Ia merebut cahaya hatiku, pelita cintaku dan semangat hidupku. Ya benarm, dia merebut gadis yang saya sukai, Fatimah anak wan abdul. Hati saya hancur berkeping keping serupa surai kuda yang dihembus angin. Tetapi karena persahabatan tulus dan kenangan indah bersama. saya rela mengalah.

Untuknya di hari ini, ulang tahunnya, saya hendak membacakan sebuah syair dari Walt Whitman. Yang pernah menjadi sebuah simbol persahabatan dalam film Dead Poet Society. Sebuah film yang bercerita tentang persahabatan yang tak lekang oleh waktu dan perbedaan.

O CAPTAIN! my Captain!

O CAPTAIN! my Captain! our fearful trip is done;
The ship has weather'd every rack, the prize we sought is won;
The port is near, the bells I hear, the people all exulting,
While follow eyes the steady keel, the vessel grim and daring:

But O heart! heart! heart!
O the bleeding drops of red,
Where on the deck my Captain lies,
Fallen cold and dead.

O Captain! my Captain! rise up and hear the bells;
Rise up--for you the flag is flung--for you the bugle trills; 10
For you bouquets and ribbon'd wreaths--for you the shores a-crowding;
For you they call, the swaying mass, their eager faces turning;

Here Captain! dear father!
This arm beneath your head;
It is some dream that on the deck,
You've fallen cold and dead.

My Captain does not answer, his lips are pale and still;
My father does not feel my arm, he has no pulse nor will;
The ship is anchor'd safe and sound, its voyage closed and done;

From fearful trip, the victor ship, comes in with object won; 20
Exult, O shores, and ring, O bells!
But I, with mournful tread,

Walk the deck my Captain lies,
Fallen cold and dead.

Untukmu Mos, adalah semangat yang tak kunjung padam. Serupa pelita pengetahuan yang di curi Prometheus dalam mitologi yunani. Saya mengingatmu sebagai pribadi gelisah yang hendak berjuang lebih tinggi. Jauh lebih tinggi dari ukuran tubuhmu yang mini. Selamat ulang tahun kawan. Sodara Sampai Mati.

Sabtu, 9 April 2011. Saat malam terlampau keji menindas ulu hati.