Jumat, 15 April 2011

Malleus Spectacle (catatan perihal wanita)


~Dalam diam hati wanita mengutuk-kutuk perilaku lelaki yang demikian. (Kartini)


Pada tahun 1486 Heinrich Kramer menyusun sebuah buku yang berisi hukum berbasis prasangka pada wanita. Dimana buku itu kemudian menjadi awal mula pembantaian 200.000 wanita pada kurun waktu 200 tahun. Buku itu adalah Malleus Maleficarum atawa Palu Penyhir. Sebuah buku panduan mengenali dan menghukum wanita yang dianggap dan diduga sebagai penyihir. Sejarah manusia yang seringkali maskulin,membenarkan pembunuhan tersebut atas depresi abad kegelapan di Eropa.


Sebelum melanjutkan tulisan ini saya tak hendak berlagak semacam feminis. Sungguh mati bukan, saya tak paham benar dengan wacana mengenai feminisme itu. Dalam banyak tulisan saya menghindari perdebatan dalam pemahaman tentang wanita. Tetapi sejak beberapa hari terakhir saya merasa gemas dengan tayangan di TV, yang Nauzubillah menyudutkan dan merendahkan kaum hawa begitu rupa.


Pertama adalah tayangan serupa orkes melayu yang muncul di MNC TV. Acara yang bertajuk 'Tarung Dangdut' itu dengan sedemikian rupa memperlakukan wanita bagaikan ternak yang dipajang untuk dijual. Mereka diminta berjoget erotis, berdandan seronok dan tampil heboh. Hanya untuk di komentari dan dihina bak pesakitan saja. Okelah kita katakan bahwa acara tersebut adalah hiburan. Sekedar just for fun, tetapi apakah harus merendahkan martabat (wanita)?. Maka tak salah jika saya percaya, cerita dalam surat-surat Kartini tak berhenti pada masanya. Kisah penindasan itu masih terjadi hingga kini.


Pada satu episode (benar saya menonton acara ini sampai habis) Deswita Maharani (katanya pesohor) memanggil peserta yang tampil paling seronok. Dada terbuka lebar, onepiece diatas lutut dan muka menor. Dan demi segala peradaban manusia yang mengenal pengetahuan dan budi pekerti. Peserta itu hanya menjadi bahan guyonan dan lelucon dari Olga, Ivan Gunawan dan entah siapa saya tak kenal. Salah satu dari mereka berkata "Huh heboh banget bu, mau mangkal ya?" Dengan segala hormat, pernyataan demikian ini tak pantas ditampilkan diwaktu prime time dimana hampir usia produktif (8-25 tahun) masih banyak menonton.


Tayangan kedua adalah pariwara yang ditampilkan ekstra josh. Minuman suplemen berenergi itu menempatkan perempuan sebagai pihak subordinat dan liyan sekaligus. Subordinat karena ada kata "Laki-laki kok minum rasa-rasa" mengacu pada konsep minuman berenergi lelaki adalah ekstra josh. Pada saat saya di Bali saya melihat beberapa kuli dan petani adalah wanita. Sebagaimana buruh kasar mereka juga mengkonsumsi ekstra josh sebagai suplemen penambah tenaga. Jika saja mereka paham ide besar dari penindasan jender terselubung yang dilakukan oleh ekstra josh. Saya khainul yakin mereka akan berhenti mengkonsumsi ekstra josh.


Pariwara ekstra josh tersebut juga memuat adegan yang menampilkan buruh kasar pria namun bersuara wanita. Idenya adalah menempatkan mereka sebagai pihak lemah dan tak berdaya yangse harusnya tak ada disitu (bekerja menggunakan otot). Hal ini merupakan pelecehan wanita yang teramat sangat. Sektor informal Indonesia menaafikan keberadaan wanita sebagai tulang punggung perekonomian. Saya memang belum memiliki data yang valid untuk membenarkan statement ini. Argumen saya hanya berdasar pada analisis pemberitaan di koran dan televisi yang "menyosokan" lelaki sebagai pemantik ekonomi paling besar. Peran perempuan bahkan kurang diakui dalam industri yang notabene banyak menggunakan tenaga mereka.


Saya tak selalu sepaham dengan ide feminisme, tetapi tak membuat saya serta merta menolak. Dalam banyak hal feminisme perlu, mereka kaum wanita, berhak memperoleh keadilan. Sebagai manusia dalam segala hal. Maya Anggelou dalam sebuah sajaknya pernah mengungkap kegarangan diri wanita tanpa harus menjadi bitchy atawa menye-menye. Tak perlu berpijak pada pakaian yang serba wah, dandanan yang serba menor, kata-kata yang keras lagi membabibuta, juga tak perlu serta merta diam mengafirmasi. Hidup adalah sebagaimana jalan hujan. Proses yang dimulai dari titik terendah laut.


Phenomenal woman

Pretty women wonder where my secret lies.

I'm not cute or built to suit a fashion model's size

But when I start to tell them,

They think I'm telling lies.

I say,

It's in the reach of my arms

The span of my hips,

The stride of my step,

The curl of my lips.

I'm a woman

Phenomenally.

Phenomenal woman,

That's me.

I walk into a room

Just as cool as you please,

And to a man,

The fellows stand or

Fall down on their knees.

Then they swarm around me,

A hive of honey bees.

I say,

It's the fire in my eyes,

And the flash of my teeth,

The swing in my waist,

And the joy in my feet.

I'm a woman

Phenomenally.

Phenomenal woman,

That's me.

Men themselves have wondered

What they see in me.

They try so much

But they can't touch

My inner mystery.

When I try to show them

They say they still can't see.

I say,

It's in the arch of my back,

The sun of my smile,

The ride of my breasts,

The grace of my style.

I'm a woman

Phenomenally.

Phenomenal woman,

That's me.

Now you understand

Just why my head's not bowed.

I don't shout or jump about

Or have to talk real loud.

When you see me passing

It ought to make you proud.

I say,

It's in the click of my heels,

The bend of my hair,

the palm of my hand,

The need of my care,

'Cause I'm a woman

Phenomenally.

Phenomenal woman,

That's me.


Seperti halnya Naif yang memuja wanita dalam salah satu lagunya. Saya tak hendak membela mereka. Di sini saya hanya mau bercerita tentang bagaimana saya memandang beberapa tayangan yang terlalu memojokan itu. Dan sisanya biar mereka sendiri yang membela diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar