Sabtu, 30 April 2011

Rasisme

~Kebencian selalu menemukan jalan pulang kehati manusia.

Voltaire adalah pribadi yang gelisah akan ide egalitarian. Buatnya persamaan hak sebagai manusia bukanlah sesuatu yang perlu diperjuangkan, buatnya egalitarian adalah hal yang mutlak ada. Saat dia menyusun Traktat toleransi (Treatise on Tolerance 1763) yang berisi usaha pembelaan investigatif terhadap vonis mati kepada salah satu keluarga protestan.

Secara garang Voltaire mengumbar kebencian terhadap fanatisme sektarian yang menelikung tiap sanubari masyarakat perancis pada abad ke 18.

"It does not require great art, or magnificently trained eloquence, to prove that Christians should tolerate each other. I, however, am going further: I say that we should regard all men as our brothers. What? The Turk my brother? The Chinaman my brother? The Jew? The Siam? Yes, without doubt; are we not all children of the same father and creatures of the same God?"

Ada sedikit catatan saat saya menonton even Jember Basketball League (JBL) di Gelora Perjuangan 45 Politeknik Jember. Ada kejadian yang membuat saya jijik saat beberapa suporter yang menonton, kemudian menghina pemain dan suporter dari SMAK Santo Paulus. Saya sangat terganggu dengan ucapan ''cina-cina'' yang mereka katakan. Dalam usia semuda itu, mereka telah mengenal kebencian dan rasisme. Buat saya itu lampu merah yang perlu diwaspadai.

Olahraga sejauh yang saya paham mengajarkan sportifitas dan kerjasama. Respek terhadap lawan dan berani mengakui kelemahan diri. Saya teringat saat Etoó dihina di Santiago Bernabeu kala kontra Madrid. Ia dihina dengan ucapan monyet hanya karena ia berkulit hitam. Maka diktum kick out racism from football bukan sekedar slogan, ia harus menjadi zeitgeist!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar