Sabtu, 30 April 2011

Sarkasme

not that 'Marx'

“A child of five could understand this. Fetch me a child of five.”
Groucho Marx

Buat saya kesalahan terbesar Voltaire, adalah saat ia percaya pada sarkasme akan merubah pemikiran orang bebal. Voltaire salah, sebagaimana Groucho Marx dalam komedi-komedinya. Sarkasme hanya berguna bagi mereka yang berpikir, mengenal ironi dan paham terhadap aforisme. Selebihnya, sarkasme adalah perayaan terhadap kebodohan orang lain.

Perdebatan yang dilakukan Candide yang mencita-citakan dunia ideal ala Leibnizian optimism cuma humor kitsch Voltaire. Ia berpikir dengan mengejek dan melakukan penghinaan maka mereka (pemangku kebijakan) akan berubah menjadi santo. Well, saya yakin Voltaire belum pernah ikut UKM dan belum pernah tinggal di Indonesia. Ia tidak tahu rasanya berteriak mengkritik lewat sindiran dan sarkasme namun hanya dibalas dengan prihatin.

Candide merupakan proyeksi diri Voltaire dalam mewujudkan dunia utopis dimana terbentuk masyarakat terdidik yang emansipatoris, empathis dan sadar sosial. Ia salah, ia hanya sekedar meneruskan cita-cita bodoh dari para pendahulunya. Kesalahan yang sama dilakukan oleh para penerusnya. Para pemikir yang terlalu kaffah berpikir dan menempatkan orang politik memiliki kecerdasan setara mereka. Para pemikir yang melakukan kritik dengan sindiran. Buat saya mereka hanya menggarami laut.

Salah satu pemikir itu adalah Nietzsche. Perancis, kata Nietzsche dalam beberapa fragmen pengantar Beyond Good and Evil. Mengatakan bahwa Perancis merupakan Episentrum peradaban dan intelektualitas dunia. Sebuah ironi, karena mana ada orang intelek yang suka nyopet dan menolak bayar angkot? Hal ini saya ketahui dari seroang teman yang pernah mampir ke Prancis dan melihat kondisi real dil sana. Ia melihat sebagaian warga Prancis yang katanya intelek itu suka nyopet dan tak bayar angkot. Well Nietzsche tentu tak tahu ini.

Sarkasme paling purna menurut saya keluar dari begawan pop art Andy Warhol "in the future," ujarnya pelan "everyone will be world-famous for 15 minutes." Sebuah seruan jijik yang menyenangkan tentang eufimisme yang menganggap diri sendiri suci. Warhol mungkin hendak melanjutkan cita-cita dari Guy Debord dalam Spectacle Society yang keras menyindir masyarakat Perancis. Namun sekali lagi mabi Situasionist ini hanya mengawang-awang dan tak dapat menghujamkan kritiknya ke bumi. Kritiknya gagal!

Karena dalam abad Media, Citra adalah segalanya. Dan sarkasme yang tak dapat dipahami tak akan berguna. Berapa poster dan tulisan yang sudah menyindir Nurdin Halid? Atawa berapa forum yang menghina dan nyinyir berkata tentang Marzuki Alie? Tapi tentu saja kebebalan dan kebodohan luarbiasa mereka tak sanggup mencerna sarkasme paling gampang sekalipun.

Di sisi lain saya mengingat kisah dari fragmen cerpen AA Navis tentang robohnya surau kami. Dimana ia menceritakan kisah seorang haji yang masuk neraka pada seorang lebai masjid. Sebuah kisah sederhana yang hendak menyentil hati nurani. Dan tentu saja bagi ia yang paham mereka akan sangat tersindir dan sakit hati. Kita semua tahu ending dari cerita AA Navis itu bukan?

Lalu apa guna Sarkasme? saya cenderung menyetujui William Faulkner yang berkata “He has never been known to use a word that might send a reader to the dictionary.” Sarkasme hanya mempan digunakan saat kondisi masyarakat kita sudah seperti negara semacam Israel atawa Jepang. Dimana mereka dengan sedikit saja guyonan dan sarkasme yang berdasar akan menyentuh hati nurani. Well itu yang saya yakin kita tak akan pernah capai.

1 komentar:

  1. entah kenapa sekarang di Indonesia sarkasme itu dianggap keren. emm, mungkin memang keren. tapi sayangnya, ya itu tadi *tunjuk tulisan author*

    BalasHapus