Minggu, 29 Mei 2011

116 So Called Karya dan Pertentangan Mengenai Gerhana

~ Dimana letak keabadian dalam kata-kata?

Hari ini pada 585 sebelum masehi terjadi sebuah perang hebat di Kızılırmak, sebuah sungai di Turki, yang terjadi antara kaum Medes dan kaum Lydians. Setidaknya begitu menurut catatan Herodotus sang pencatat kronik. Pada hari itu juga salah satu filsuf tertua dunia, Thales, memprediksikan mengenai sebuah gerhana. Dan ia benar, tepat pada siang hari, Gerhana yang saat itu dimaknai sebagai kuasa dewa muncul.

Helios sang dewa matahari dikabarkan sedang libur menaiki chariot nya yang membawa serta cahaya dan panas. Tapi tentu saja bukan tentang itu saya akan bercerita. Kali ini saya hendak bercerita tentang blog yang anda baca saat ini. Tentang bagaimana saya memulainya dengan semangat riya’ dan pamer. Lalu dengan sangat naif ingin menjadikan blog ini semacam sarana pencerahan. Oh yeah, I made this fuckin blog to show ya all I can write!

Tentu semua berakhir konyol. Kalian bisa melihat sendiri alasannya, saya dalam banyak posting hanya menulis segala remeh temeh tentang curhat menye-menye yang tak memiliki pengaruh tehadap tatanan dunia global. Jangankan mempengaruhi kebijakan Amerika yang telah dikakangi AIPAC, untuk sekedar membungkam cocot Ruhut Si Tompel aja tak bisa. Dalam banyak hal, blog ini gagal.

Saya membuat blog ini pada tanggal 28 Mei 2010, tujuh hari setelah saya lahir, dan dua minggu setelah almarhum kakak saya juga dilahirkan. Tak ada alasan khusus mengenai kenapa saya memilih tanggal ini, tapi yang jelas saya membuat blog ini karena ajakan bigot bernama Aunurahman Wibisono. Tidak, bukan karena saya menghamba pada dia. Tapi alasan yang ia kemukakan untuk memaksa saya membuat blog sangat masuk akal. “Kalau kita mati besok, apa yang akan dikenal orang tentang kita? Blog cuk! Biar kamu diingat,” katanya.

Selayaknya Adam yang dirayu ular di surga untuk menikmati buah khuldi. Saya nunut gitu saja, patuh pada rayuan setan. Saya menulis layaknya orang kesetanan, tentu saja niatnya adalah riya’ dan posting yang ada sebagian besar merupakan tulisan lama saat saya di Tegalboto. Hasilnya adalah kesia-siaan yang berbuntut pada rasa pesimis dan inferior. “Ah taik buat apa juga nulis?” ujar pikiran saya.

Tapi pada suatu kesempatan seorang kawan membawakan saya film Ikiru karya Akira Kurosawa. Film yang tak akan saya jelaskan ini berkisah tentang kemauan seseorang mencapai tujuan terakhirnya. Terlepas dari rasa ingin dikenal dan disanjung tokoh dalam film itu memberikan pemahaman baru tentang integritas diri. Bukan tentang siapa yang menulis, tetapi tentang untuk apa kita menulis.

And that hit me, saya pikir saya membuat kekeliruan besar. Menulis adalah kerja untuk pencerahan dan segala niat busuk di antaranya hanya akan membuat tulisan itu sia-sia. Padahal di lemari ada setumpuk buku Pramoedya Ananta Toer, yang selama hidup ia dikenal menulis hanya untuk meberikan pengetahuan. Saya malu untuk mengakui bahwa saya gagal sejak dalam pikiran.

Dalam satu fragment film Ikiru, Watanabe, sang tokoh utama mendapatkan pencerahan mengenai alasan hidup justru saat ia akan mati. Tentunya jika saja ia hidup lebih awal dengan tahu alasan ia hidup, maka karya yang akan ia buat akan lebih maksimal. Perjuangan untuk meraih tujuan sepertinya sangat keras. Tapi itulah harga sebuah kehidupan.

Watanabe dan Thales dari Miletus memang tak saling kenal. Tetapi usaha mereka untuk mencapai pemikiran yang lebih baik adalah sama. Thales yang menolak penjelasan mitologis menemukan jalan hidupnya setelah berhasil memprediksikan datangnya gerhana. Sedang Watanabe menemukannya dalam vonis kanker lambung yang dimilikinya.

Gerhana, dalam pemikiran Thales, adalah sebuah momen dimana segala yang ada dijagat raya ini gelap. Sebuah periode pasti yang akan selalu hadir. Dan ia benar, sejarah manusia mengenal perang, genosida, drugs, lady gaga, alay, Djenar Maesa Ayu, dan segala hal yang menunggu untuk tercerahkan.

Saya tidak ingin bertindak seperti Walter Benjamin yang dengan sangat gagah melakukan dikotomi atas apa yang disebutnya high art atau low art. Segala seni, sebutnya, menuju tahapan post auratic dimana segalanya akan dipahami dan dicerna dengan sederhana. Thales dan Benjamin kemudian larut dalam definisi Andy Warhol sebagai Pop Art, yes in the future everybody will be famous kata Andy, for fifteen minutes.

Tapi seperti juga Thales yang mencari alur hidup tak lurus, saya juga demikian. Setidaknya dalam blog ini saya bisa merdeka, atau saya pikir saya merdeka, who knows akan ada orang yang menganggap blog ini sebagai spam, melaporkannya dan sejarah terumbukarya hanya akan jadi nothing but a minor history.

Tapi seperti juga kata Thales, Nothing is more active than thought, for it travels over the universe, and nothing is stronger than necessity for all must submit to it. Saya percaya, suatu saat saya akan menjadi sejarah dan bukan sekedar gerhana.

Sabtu, 28 Mei 2011

At Midnight

I'm the poet and you're the poem

we lost in the universe, seeking the truth

mine or yours?

shall we become one?

or just seperated?


just like the sea, the sky and the rainbow

find each other in solitude

"Eureka" it is yours to be said?

nor heaven or earth speak but lies


and then we all failed

as a humans and as a gods

Kamis, 26 Mei 2011

Hikayat Sekarmadji

~ tersesat melawan atau diam terjajah?

Sekarmadji Maridjan sedang duduk dan dengan tekun mendengarkan Haji Oemar Said di sebuah rumah pemondokan di Surabaya. Ia tak sendirian ada pria muda yang kelak akan menjadi seorang ‘bung besar’ di negeri ini. Saat itu tak ada Indonesia, tak ada pancasila. Hanya sebuah cita-cita tentang nation yang berdaulat dan bebas dari pencoleng yang berkulit putih.

Pria asal Cepu Jawa Tengah ini adalah anak seorang mantri candu Belanda. Seperti kebanyakan priyayi saat itu ia mendapat kesempatan untuk belajar di Inlandsche School der Tweede Klasse (ISTK). Karena kecerdasan dan kejeniusan yang ia miliki, Sekarmadji melanjutkan sekolahnya Europeesche Lagere School (ELS) dan terakhir mengeyam pendidikan dokter di Nederlands Indische Artsen School (NIAS).

Mengenal nasionalisme, komunisme dan islam pada saat kekuasaan Belanda sama dengan menjadi subversif disaat ini. Tiga pemikiran yang menjadi duri dan onak dalam kekuasaan kolonial saat itu. Sekarmadji yang kedapatan menyimpan buku-buku tentang komunisme dan nasionalisme dipaksa memilih. Berhenti berpikir tentang kebebasan atau keluar dari NIAS.

Sekarmadji tak peduli, untuknya kebebasan berpikir jauh lebih penting daripada status dokter pada zaman hindia yang menjanjikan kemapanan. Demi menjaga integritas diri dan idealisme, Sekarmadji memilih untuk dikeluarkan dari posisi dokter jawa. “Bukan untuk itu aku belajar, rakyat harus bermartabat. Insyaallah aku akan hidup,” ungkapnya kepada residen Belanda yang memaksanya memilih.

Selepas dikeluarkan dari sekolah kedokteran, Sekarmadji yang mendapat didikan keras dari haji Oemar Said, menemukan laboratoriumnya. Melihat perjuangan rakyat Indonesia yang ditindas ia mengamini satu hal. “Negara ini harus merdeka, dengan islam itu jalannya,” ungkap Sekarmadji pada dirinya sendiri. Lalu berbekal keilmuan, agama dan kemampuan bernegosiasi. Sekarmadji bergabung dalam barisan bung besar demi satu cita-citra Negara yang merdeka.

Sekarmadji lalu melakukan perjuangan gerilya untuk memuali tentang nation yang berdaulat. Ia bergerak dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Satu kota ke kota lainnya. Bergelut dengan para pejuang republik yang mengimpikan ide sama. Tak peduli ia kiri, kanan, tengah, merah, biru, hijau. Semua golongan semua jalan demi satu tujuan kemerdekaan.

Negara baru kemudian lahir pada 17 Agustus 1945, Indonesia namanya. Tetapi tak lama, sekarmadji kecewa, negara muda ini dipaksa tunduk melalui perjanjian yang menurutnya cuma akal-akalan. “Renvile adalah penghinaan, najis untukku tunduk pada seruan kafir,” katanya. Sekarmadji memutuskan berontak, seperti juga Ronggolawe yang berontak pada Majapahit. 7 Agustus 1949 ia mengumandangkan Darul Islam. Dengan gelar diri "Panglima Tertinggi Tentara Islam Indonesia."

Bung besar muntab, bung besar merasa dikibuli. Dengan segala daya dan upaya bung besar menekan ruang gerak Sekarmadji. Selama 13 tahun ia dipaksa bergerilya di hutan-hutan jawa barat. Ditemani keris "Ki Dongkol" dan "Ki Rompang" Sekarmadji menganggap dirinya sebagai imam mahdi, ratu adil, mesias yang akan mengembalikan kedaulatan negeri yang terjajah ini. perjuangan jihad dengan gerilya, laku prihatin, puasa dan dakwah islam merupakan jalan hidup NII. Tidak ada cuci otak, tidak ada pemaksaan dan tak ada Jizyah (uang pungutan).

Dan seperti saat ia pertama kali belajar mengenai nation, Sekarmadji Maridjan tengah terduduk di sebuah gubuk tua di hutan gunung Rakutak Jawa Barat. Salah satu kakinya terluka dalam temaram langit sore 3 Juni 1962 itu. “Sudahlah, ini mungkin waktu saya,” ungkapnya kepada Letda Suhanda dari Batalyon 328 Kujang, pemimpin bala tentara republik yang kala itu datang. Setelah 13 tahun melakukan perlawanan ia menyerah, negara islam yang ia idamkan sudah tamat.

Seolah ingin menggenapi Death Alone, sebuah sajak karya Pablo Neruda. Pada September 1962, Sekarmadji Maridjan yang juga bernama Kartosuwiryo menghembuskan nafas terakhir sebagai seorang desertir yang makar pada negara. Ironi, karena negara yang menghukum mati adalah negara yang turut ia bidani kelahirannya.

Kematiannya sunyi, tak banyak yang hadir. Hanya seorang ustad, beberapa petugas dan tempat yang senyap. Sebuah panggung kematian yang sunyi untuk seorang pemimpin besar. Lamat-lamat di pelosok ujung Indonesia terdengar sajak Neruda. “Death is drawn to sound, like a slipper without a foot, a suit without its wearer.”(*)

Selasa, 10 Mei 2011

Mengingat Gie dan sekedar catatan tentang Persma

~ Pada akhirnya kita memilih jadi tumbal atau martir.

Jadi dimana saya harus memulai untuk berkisah tentang pers mahasiswa. Sungguh sebenarnya bercerita mengenai sejarah adalah usaha melawan kebosanan. Seperti kamu, saya juga benci untuk duduk dan mendengarkan orang tak jelas bercerita tentang hal yang sebenarnya tak menarik. Persma adalah segala puncak dari ke-tak-menarikan.


Pers mahasiswa adalah sebuah entitas organ mahasiswa yang bergerak dalm bidang jurnalistik. Seharusnya demikian, tetapi praktek dilapangan seringkali tak jauh beda dengan ekskul menulis. Ya menulis. Sekedar mencurahkan uneg-uneg dalam kata dan ditautkan seolah itu menjadi karya hebat.


Saya mungkin terdengar nyinyir, tapi lebih baik kamu sekalian yang hendak berproses dalam pers mahasiswa tahu lebih awal. Bergelut dengan persma adalah bergelut dengan segala yang bernama absurditas dan kedegilan pemikiran. Menjadi orang yang diasingkan karena berbeda dan kritis. Karena bukanlah persma jika tak kritis, ia hanya sekedar penulis medioker kampungan.


Pers mahasiswa dimulai dari ratusan tahun lalu. Pada saat para mahasiswa hindia di Belanda berusaha menulis untuk menuntut pelaksanaan politik etis. Sebuah usaha mencerdaskan pribumi dengan akses pendidikan yang merata dan lebih luas. Kala itu belum dikenal pers mahasiswa. Hanya perjuangan atas dasar kesukuan demi kemajuan daerahnya masing-masing.


Kemudian hal ini berkembang setelah ide-ide nasionalisme kebangsaan dikenal. Tentu saja hal ini dimulai pada tanggal 28 Oktober 1928 yang konon adalah hari sumpah pemuda. Melalui sumpah “berbahasa satu bahasa Indonesia” kanal perjuangan yang dahulu berupa diplomasi dan perjuangan perang. Kini perjuangan menemukan jalannya yang baru. Kata-kata.


Tulisan dan kaitannya dengan pers mahasiswa, adalah perjuangan untuk mengabarkan. Informasi dan usaha menarasikan perlawanan. Kamu akan memulai proses panjang yang diawali satu huruf, kata, kalimat dan pamflet yang bisa menggugah dan menggerakan hati. Dalam banyak peradaban, sebuah tulisan bisa mengawali sebuah revolusi pemikiran.


Adalah Soe Hok Gie, seorang tionghoa pemikir cum wartawan, yang menyadari hal tersebut. Menulis untuknya adalah sebuah usaha untuk melakukan perjuangan. Lebih dari itu, sebagai wartawan mahasiswa, Gie secara frontal melakukan kritik terhadap pemerintah dan tokoh berkuasa kala itu. Takut? Tentu tetapi apalah arti seorang intelektual yang gagal memanfaatkan kemampuannya untuk kebaikan bersama. Mereka tak lebih dari sampah.


Jika kemudian saya harus bertanya maka pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Gie telah menjawabnya dengan garang ia berkata :


Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: Kebenaran.


Bukankah kebenaran merupakan hal yang paling hakiki? Lalu kemanakah kebenaran itu kemudian akan berjalan. Saya pikir ia akan berjalan melalui kata-kata menuju setiap hati nurani para pembacanya. Dan pers mahasiswa sebagai salah satu organ yang bergerak di dalamnya harus konsisten untuk melakukan hal itu.


Kemudian di manakah pers mahasiswa harus berada? Saya pikir pers mahasiswa yang aktif berkegiatan di kampus, harus mulai bekerja dan peduli dengan segala hal di sekitar kampusnya. Hal-hal remeh temeh yang terkait dengan permasalahan kampus. Semisal; dedikasi dosen terhadap proses perkuliahan atau akses terhadap berkegiatan. Jangan terpaku pada hal-hal besar yang nantinya akan membuat kita melayang dan lupa diri. Tulislah hal di sekitar kampus kamu dan kabarkan dengan lantang tanpa embel-embel.


Lalu apakah yang harusnya dikerjakan oleh pers mahasiswa untuk menghasilkan sebuah tulisan yang baik? Banyaklah membaca dan membaca dan membaca dan membaca. Karena mustahil memiliki tulisan yang baik jika kamu tak pernah membaca. Gie adalah seorang pembaca yang rakus. Ketika ia sekolah setingkat SMP ia telah melahap buku-buku karya Andre Gide, Ghandi dan juga Chairil. Maka tak heran jika ia memiliki kualitas tulisan tajam yang kuat.


Bagaimana setelah kita membaca? Banyaklah berdiskusi dan ingat CATAT SEGALA HAL PENTING selama diskusi berlangsung. Carilah teman diskusi yang kamu anggap ia menguasai hal yang ingin kamu atau telah kamu baca. Dengan demikian kamu akan punya pandangan yang lebih menyeluruh dan lebih baik. Setelah itu lakukan proses pengendapan, membiarkan pemikiran dengan cara kontenplasi, lalu meminjam sajak Saut Sitompul “Tulis, Tulis, Tulis!”


Menulis bukan untuk gaya-gayaan dan unjuk kepintaran, lebih dari itu, menulis adalah usaha perjuangan. Sudah berapa kali saya gambarkan dalam tulisan ini, bagaimana sebuah tulisan dapat mempengaruhi seseorang. Sebagai contoh kalian perlu membaca Sebongkah Emas Di Kaki Pelangi karya wartawan gaek Bondan Winarno. Sebuah penulisan investigastif yang mampu membuat mentri pada zaman Soeharto meradang.


Jangan takut saat menulis, seperti yang dikatakan Napoleon Bonaparte, “Aku lebih memilih menghadapi seribu bayonet dari pada sebuah pena,” Ia tak sedang gombal. Menulis kawan akan menjadikan kamu seroang pejuang tersembunyi. Tetapi perlu diingat jangan kemudian privilage itu membuat kalian merasa lebih baik dari orang lain. Jika demikian kalian boleh masuk tong sampah secara hina.


Ini bukan panduan, semacam rasa semangat untuk berbagi saja. Kamu bisa belajar dengan sendirinya. Pers mahasiswa sejatinya adalah sekedar usaha untuk mencari jati diri melalui organ penulisan jurnalistik. Jangan telan bulat-bulat apa yang saya tulis. Itu hanya akan menjadikan kamu boneka dan kacung saja. Jadilah besar karena kemampuan kamu sendiri, bukan karena orang lain. Seperti apa yang dikatakan Gie.


Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.


Tetapi itu adalah Gie, kamu boleh setuju, boleh tidak, boleh juga meludahinya sebagai ide absurd yang gila. Setiap masa punya Zeitgeist-nya sendiri, semangat zaman yang menginspirasi jalannya sebuah perjuangan. Definisikan apa perjuangan yang hendak kalian lakukan melalui pers mahasiswa. Sekedar mengisi waktu kosong, sekedar usaha mencari pacar, atau berdialektika mencari pemahaman. Dan selebihnya dusta.


Satu hal yang ingin saya tekankan jika kalian memutuskan untuk berjuang melalui pers mahasiswa. Jangan pernah menulis hal yang tak pernah kalian yakini itu adalah sebuah usaha untuk mencerahkan. Jangan terjebak pada hal global-masal-banal yang sebenarnya bacin. Kamu bingung? Tontonlah televisi dan pikirkan mana yang lebih penting antara pernikahan William-Kate dengan kondisi petani yang ditembak TNI di Kebumen. Dalam banyak hal kawan, kamu harus berpikir sadis demi perubahan.


Pada akhirnya Gie berkata demikian “Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.” Sebuah sumpah yang keras. Lalu bagaimana dengan kamu?

Ceracau Tanah

aku mau berkisah tentang negri kalah

yang tanahnya tandus tiada terkira

lama sudah awan mendung tak lagi membawa hujan

sehingga mereka yang memiliki mata lupa

betapa indah warna pelangi sesudah hujan


aku mau berkisah tentang negri belah

yang tetuanya serupa buduk-buduk parlente

yang amboi isi mulutnya

tak lebih baik dari comberan

dimana seonggok tahi pun tak sudi mampir didalamnya


aku mau berkisah tentang negri terjajah

yang rakyatnya menjadi budak layar mini buatan cina

yang konon mereka puja dari hasil berternak keringat di pojok-pojok jalan

sambil mengiba menjual muka

lalu habis tenaga disudut kicau pertanyaan "what is your thinking?"


aku mau berkisah tentang negri resah

yang para pemuda-pemudinya sibuk berlomba untuk jadi badut tenar

karena tak tahu cara lain untuk hidup

selain merengek-rengek minta dukungan menjadi bintang layar kaca

yang pada akhirnya akan diingat sejarah sebagai sampah


aku mau berkisah tentang negri lelah

yang pada setiap harapan dan cita-cita telah tertambat harga

berlomba untuk jadi abdi negara

agar kelak tua tak perlu sengit berebut harta

sehingga dengan santun menunggu antrian kematian


aku mau berkisah tentang negeri gerah

tak ada angin, tak ada air, dan tak ada kenangan

yang menjadi basuh, tetirah dan jalan pulang

semua samar-samar, semua buram

dan akhirnya hilang

merayakan kehancuran