Selasa, 10 Mei 2011

Rani

~ Sepertinya mata jadi hulubalang jalang

Saya benci untuk mengakui bahwa dalam banyak hal saya kangen kamu. Hahaha tolol ya? Padahal dekat, mau ketemu tinggal loncat pager juga ketemu. Tapi ya itu lagi, lelaki punya ego yang kadang terlalu tolol untuk bisa dipahami dengan kesabaran paling bebal. Lagipula kamu juga menghilang, untuk itu saya pikir kamu menjaga jarak.

Tapi bukan untuk itu saya menulis ini. Ya kamu tahulah sebagai pria muda yang jadi idola remaja sekarisidenan Mozambique saya ini sibuk. Tapi pas kemarin lagi kondangan di Westminster Abbey ada reminder dari I Phone saya. Katanya kamu ulang tahun. Nah itu dia, saya gak pernah tahu kalau kamu juga dilahirkan. Saya kira seperti kebanyakan manusia kamu dibuat dari tanah. Ternyata saya salah, kamu diciptakan setidaknya bercampur dengan cahaya.

Oke, jadi dimana saya harus bercerita. Hmm saya sebenarnya lupa kapan pertama kali kita bertemu. Saya hanya ingat Fuad. Selebihnya sekedar blur, ya karena dunia ini jadi lonjong miring karena pesona yang kamu buat. Gombal ya? Biar, wong kodrat kok seorang perempuan di gombali. Tapi bukan kodrat lelaki untuk selingkuh, itu adalah penistaan. Jadi entah kamu sekarang berpacaran dengan siapa, selingkuh adalah vonis mati perasaan. Ingat itu.

Kemarin kamu bikin puisi indah sekali, malah saya baru lihat ada puisi yang mengalir. Puisi kamu yang lelaki jingga itu, ah sial benar bagusnya. Kapan-kapan kamu kirim saja itu ke tikungan. Biar nanti diapresiasi. Kalau perlu nanti ikut rencana kami bikin antalogi puisi Jember - Jogja. Kamu musti ikut, biar ada pembanding penyair wanita. Tak melulu Zaki, Halim atau Arys saja. Kukira kamu punya warna sendiri sebagai penyair lugas dan sendu.

Jika pun saya harus menyamakan puisimu mirip sekali dengan puisi Emily Dickinson. Emily dilahirkan di Amerika tepatnya di Amherst, Massachusetts pada tahun 1830. Ia dikenal sebagai salah satu penyair paling cantik yang pernah ada. Tentunya tak kalah beda dengan kecantikan kamu 11-12 saya kira. Seperti juga kamu, Emily tak selalu berhasil kisah cintanya. Beberapa kali kandas dan berakhir dengan perang dingin.

Emily dikenal sebagai penyair yang mengutamakan diksi dan jalinan puisi yang deskriptif. Artinya menjelaskan latar, suasana, dan perasaan yang ia rasakan. Dipengaruhi kondisi 'galau'nya. Seperti kesepian, kesunyian, kerinduan, jatuh cinta dan patah hati. Sejenak sama kan? Hanya saja kamu lebih beruntung, memiliki keluarga dan teman yang tulus. Emily tak sempat memilikinya. Untuk itu kamu pantas bersyukur.

Jika kamu mau berlatih membaca dan menulis. Saya yakin kamu akan bisa mengalahkan novel dan narasi liris dari Nukila Amal. Tapi apalah saya bercerita ini dihari ulang tahunmu yang telat sehari. Maaf, saya tak sempat kasih kado. Belum gajian, maklum wartawan medioker, pemula pula. Sekedar sapa salam doa dan mungkin secarik sajak

Ini ada puisi Emily Dickinson yang paling saya sukai judulnya There is no Frigate like a Boo. Tentu kamu tahu alasannya, karena saya suka buku. Dan puisi ini berkisah tentang buku.

There is no Frigate like a Book

There is no Frigate like a Book

To take us Lands away,

Nor any Coursers like a Page

Of prancing Poetry –

This Traverse may the poorest take

Without oppress of Toll –

How frugal is the Chariot

That bears a Human soul.

Lalu apakah kamu sekarang sudah selesai membaca buku Puthut EA yang saya pinjamkan? Ah biarlah, kadang seperti kenangan, buku itu hadir sesukanya. Tak kenal momen. Mau kita ulang tahun atau tidak. Tetapi bukankah itu yang indah? Menjalani hidup seperti buku. Melalui baris demi baris dan lembar demi lembar. Seperti kisah yang kita tak pernah tahu apa akhirnya.

Dan inilah saya, buta sama sekali dengan kondisi yang ada padamu. Saya tak tahu usia kamu berapa, pacar kamu siapa, atau kapan kamu mau lulus. Yang jelas segala kebaikan dan proses semoga akan menjadikan kamu pribadi yang lebih bijak, lebih baik dan lebih anggun. Dan akhirnya malam memang terlalu larut di luar.

*30 April tengah malam Mei

2 komentar: