Sabtu, 25 Juni 2011

Melodia - Sebuah Puisi dari Umbu Landu Paranggi


Melodia

cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan. karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan. baiknya mengenal suara sendiri. dalam mengarungi hidup di luar sana. sekali waktu mesti berjaga dan pergi membawa langkah ke mana saja. karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati pengembara.

dalam kamar berkisah taruhan jernih memberi arti kehadirannya. membukakan diri bergumul dan menyeri hari-hari tergesa berlalu. meniup deras usia mengitari jarak dalam gempuran waktu. tak kan jemu napas berdegup di sini, dengan sunyi dan rindu menyanyi. dalam kerja bergumul suka duka, hikmah pengertian melipur damai.

begitu berarti kertas-kertas di bawah bantal penanggalan penuh coretan. dalam sepenanggungan mengadu padaku dalam manja bujukan. rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri, manis bahagia sederhana. di rumah kecil papa, tapi bergelora hidup kehidupan dan jiwa. kadang seperti terpencil, tapi gairah bersahaja harapan dan impian. yang teguh mengolah nasib, dengan urat biru di dahi dan kedua tangan.


*Umbu Landu adalah sosok misterius dalam dunia sastra Indonesia. Ini adalah salah satu sajak yang susah saya temukan. Ada rasa haru getir dan perih tapi manis yang terpancar. Suatu saat saya hendak bercerita tentang Umbu. Tapi tidak sekarang.

Buku Dan Kerakusan Diri


Saya benci keramaian. Apalagi keramaian yang diisi dengan banyak orang banal atau dalam terminologi saat ini gaul. Saya merasa terasing di antara mereka. Oleh karena itu saya membenci mall, konser musik band populer, bandara dan pernikahan. Tapi jika ada keramaian yang sudi saya hadiri. Well, itu adalah kenduri langsung Rage Againt The Machine, pengajian live Pure Saturday, kuliah umum bersama Amien Maalouf atau pameran buku. Untuk yang terakhir saya rela berdesakan dengan sejuta orang sekaligus.

Tiga minggu lalu Jember kedatangan tim Bukabuku dari Jogjakarta. Sebuah event organizer yang bergerak dalam bidang pameran buku. Saya sendiri kenal baik dengan mas Tri Prasetyo, atau TP, direktur eksekutif dari Bukabuku Production. Dengan semangat juang serupa gerilyawan Maoist Nepal saya mendatangi Gedung Soetardjo lokasi dimana pameran itu diadakan. Di pintu masuk saya bertemu mbak Elok, mantan bos saya dulu saat nguli bersama Bukabuku, yang datang bersama putrinya.

"Lho urung lulus Dhan?" katanya.

"Durung mbak, sik arep ujian,"

"Ket rong taun wingi ngunu, sampe aku mbrojol anak awakmu urung lulus pisan," lanjutnya seperti petasan banting.

"eh wes mbak yo, aku tak masuk dulu,"

Saya tahu mbak Elok tidak akan berhenti sampai di sana. Dia bakal nanya apa saya masih sholat, kapan nikah, sudah punya pacar dan sebagainya. Sebagai orang baik, mbak Elok punya cara menyebalkan dalam bertanya. Oleh karena itu saya memutuskan kabur sebelum ditanya yang macam-macam.

Di pintu masuk saya bertemu mas TP. Dia masih saja seperti dulu, kurus kering dan workaholic. Dalam banyak hal saya mengagumi pribadi mas TP yang keras. Ia punya jabatan tinggi dalam Bukabuku, tapi tak membuat dia segan untuk jaga parkir, mengangkut sampah, dan mengusung kardus. Ia sepertinya berbakat menjadi direktur sekaligus kuli pasar.

"Dhan," kata mas TP wajahnya tampak sangat berbinar dan bijak,

"Ya mas?"

"Raimu panggah welek jeh, ra mutu tenan," katanya.

Saya sebenarnya ingin menginjak muka dan menggampar mas TP. Namun karena saya masih sadar diri atas fakta empiris yang memang ada saya tahan. Selepas cipika-cipiki saya langsung berhambur ke area pameran buku. Seperti yang saya duga sebelumnya, pameran buku di Jember di dominasi oleh buku-buku keagamaan (islam). Seolah apa yang ada di Al Quran tak cukup dan mereka butuh 'text book' penunjang demi menambah keimanan mereka. Buat saya ini adalah tanda-tanda senjakala keimanan.

Tapi tentu saja saya tak ingin membalas hal itu. Terlalu banyak hal yang lebih penting daripada sekedar membela atau menjaga kekuasaan tuhan. Saya hendak berburu buku langka. Dimana lagi jika bukan di Yusuf agency. Bagi para penggila buku yang sudah malang melintang di pameran buku. Nama Yusuf Agency sudah tak asing lagi. Ia dikenal sebagai satu-satunya juragan buku yang bisa memuaskan nafsu birahi penggila buku klasik, murah dan langka. Mengapa demikian?

Berawal pada medio 2004 dimana pak Yusuf, pemilik usaha ini melihat peluang usaha dari tumpukan buku di sebuah gudang percetakan. Berbekal kenekatan ia membeli tumbukan buku itu berdasarkan kardusan. Catat KARDUSAN, terlepas dari isi dan penulis bukunya, ia membeli sekitar 20 kardus buku ukuran besar dengan harga 1 juta rupiah.

Lantas ia mengikuti pamrean buku di Jogja. Ia lantas menjual buku dengan harga yang sangat murah, sekitar 5.000-50.000. Ia menjual buku itu berdasarkan insting dan kondisi buku saja. Tak disangka jualannya laku keras. Sampai beberapa tahun kemudian ia bisa membuka sebuah gerai toko di dekat UIN Sunan Kali Jaga Jogja di sebelah Social Agency.

Tapi saat saya datang pada hari pertama pameran buku gerai Yusuf belum buka. Baru pada hari kedua mereka buka. Nah ini dia salah satu foto gerai dari Yusuf Agency. Lihat harga yang tertera? Anying sekali kan? Di tumpukan harga buku 5.000 itu saya menemukan karya klasik Gabriel Garcia Marquez yang berjudul Calidas, The Space Betwen Us karya Thrity Umrigar, Puisi Ajip Rosidi dan The Picture of Dorian Gray karya Oscar Wilde.

Di satu sisi saya senang karena bisa membeli buku-buku kanon tadi dengan harga murah. Namun di sisi lain saya muntab dan jengah karena buku tidak dihargai secara semestinya. Saya pernah membaca kegelisahan semacam ini juga dirasakan oleh Alfathri Adlin. Salah satu mantan redaktur jalasutra, ia kesal karena masyarakat Indonesia suka sekali membeli barang mahal semacam gadget hanya untuk gaya-gayaan. Namun enggan sekali membeli buku yang relatif lebih murah untuk pengetahuan. Saya selalu meyakini, bangsa yang gagal memaknai nilai buku sebagai cara perubahan sosial, maka bangsa itu akan hancur segera.

Di Yusuf Agency sebenarnya ada beberapa buku yang sangat menarik. Seperti sejarah keagamaan dunia versi Lux, buku tentang fremasonary di Indonesia dan sebuah buku karya Maman S Mahayana tentang kritik cerpen.Tapi karena keterbatasan uang yang saya miliki, saya terpaksa menghemat keuangan saya dan beralih pada gerai toko berikutnya. Di sana saya menemukan buku klasik Naguib Mahfouz yang berjudul Lelaki dalam Pasungan, sebuah buku novel Ernest Hemmingway dan buku tentang laporan kompas mengenai orang Tionghoa. Dengan uang 25.000 saja saya bisa membawa semua buku itu pulang.

Di toko berikutnya saya menemukan buku terbaru dari begawan kajian budaya dan posmodernisme Indonesia, Yasraf Amir Pilliang, Multiplisitas dan Diferensiasi. Tanpa ragu saya menawar buku itu. Kebetulan ada teman saya yang datang, Qomar, seorang pemain futsal dan wining eleven kelas wahid. Saya paksa dia untuk membeli buku itu. Dia setuju meskipun awalnya enggan. Tentu saja saya ingin dia membeli biar suatu saat saya bisa meminjamnya hehe.

Di tempat yang sama saya juga menemukan buku klasik dari Anne Frank. Seorang gadis yahudi yang dikenal dunia karena catatan hariannya. Ia meninggal di kamp konsentrasi Naxi Jerman. Selain itu saya juga menemukan sebuah buku Novel yang berjudul Saudagar Buku Dari Kabul karya Asne Seierstad. Hari itu saya membeli banyak buku. Di bawah ini gerai buku itu.




Ini hasil perburuan saya hari itu.

Sebenarnya di rumah saya memiliki beberapa buku. Well, saya memang sangat menyukai buku. Jika kalian bertanya apa semua buku itu saya baca. Jawabannya iya. Jika anda tanya sekali lagi apakah saya hapal dan ingat isi buku itu. Tentu saja tidak. Beberapa buku itu saya beli karena kebutuhan riset tulisan. Beberapa karena memiliki nilai historis dan yang lain karena saya sangat suka buku itu.

Kegemaran saya membaca mungkin adalah warisan dari Ibu dan Bapak saya. Ibu saya adalah penggemar berat karya Ko Ping Ho. Di rumah saya yang lama kami punya lengkap semua bukunya. Sedangkan bapak saya, sebagai muhamadiyin, mengoleksi banyak sekali buku-buku kajian hadis dan pemikiran dari timur tengah. Pernah ada cerita lucu saat bapak saya menemukan buku Irsyad Manji dan Ali Syariati di kamar. Bapak mendudukan saya dan bertanya dengan serius.

"Awakmu sik islam kan?"

"Iyo," jawab saya heran.

"Isih percoyo nabi Muhammad kan?" lanjutnya.

"Iyo, opo'o pak?"

"kok Moco buku iki," sambil menunjuk buku itu.

Sontak saya tertawa lebar. Saya bilang saja buku-buku itu hanya buku bacaan ringan. Tak menjadikan saya liberal atau syiah. Bapak belum percaya, dia minta saya buang buku itu. Tentu saya menolak, kami sempat bersitegang tapi akhirnya dia menyerah. Buat saya buku, terlepas pengarangnya siapa, tak punya dosa. Bukan salah J.D Sallinger jika kemudian Lee Harvey Oswald, seorang pembunuh, mengakhiri John F Kennedy karena membaca cathcer in the rye. Buku adalah benda mati, manusia lah yang melakukan interpertasi terhadapnya.

Saya hanya punya satu lemari buku. Sisanya tak cukup saya taruh di meja belajar saya. Ini dia buku-buku itu. Terakhir saya ingat saya punya sekitar 300 an buku. Gabungan koleksi warisan dari punya bapak dan kakak saya. Ini dia mereka.


Kumpulan buku yang berantakan sempat mau dikilokan

Lalu saya kadang bertanya. Buat apa buku sedemikian banyak? Tak membuat saya lulus tepat waktu apalagi dapat pacar. Dalam diam saya seringkali merutuki kegemaran saya yang satu ini. Bagaimana tidak? Seringkali saya harus menghemat dengan tidak makan dan jajan, dimana hal ini hobi saya, untuk membeli buku. Apalagi jika buku itu hardcover dan langka sudah pasti akan mahal. Belum lagi jika buku itu tak ada di Jember, terpaksa saya harus pergi ke Jogja atau surabaya untuk mencari buku itu. Well, i think i'm mad!

*buku sepertinya adalah kutukan cinta saya yang pertama. Entah dengan anda.

Mitos Diplomasi Dan Kedaulatan

~ Het is geen roman,’t is een aanklacht!

Mari kita mulai catatan ini dari sebuah fragmen dari film 300 garapan Zack Snyder. Saat utusan Kaisar Xerses dari Persia datang menemui Raja Leonidas penguasa Sparta. Membicarakan penyerahan dan kepatuhan total Sparta kepada Xerses dengan imbalan keamanan dan kejayaan. Namun di sisi lain harus tunduk sebagai budak dan menjadi jajahan. Melihat kekuatan Persia yang Maha Kuasa seolah tuhan, Xerses menyebut dirinya God Kings, raja biasa akan gentar dan sesegera mungkin akan mengiyakan ketundukan.

Tapi Leonidas bukan sembarang raja. Dia adalah Leonidas yang mengalami upacara kedewasaan di alam bebas dengan segala keliarannya. Dengan buas Leonidas menolak tawaran itu sembari menendang utusan Persia itu ke dalam the bottomless pitt. Akhir diplomasi sudah dapat jelas terlihat. Tidak ada tawaran untuk sebuah ketundukan, lebih baik mati berkalang tanah daripada diinjak sebagai budak.

Lalu kita pindah sedikit ke fragmen lain dimana 280 pasukan Republik Texas dibawah pimpinan William Travis dan James Bowie terkepung dalam benteng Alamo. Sementara itu ke 2.400 barisan pasukan Gubernur Antonio López de Santa Anna dengan garang mengepung benteng itu lebih dari 13 hari. Segala macam diplomasi yang diberikan Gubernur Antonio tak juga diterima oleh benteng Alamo. Segalanya tumpul di depan semangat nasionalisme dan tanggung jawab yang bebal.

Apakah mereka menang? Tentu tidak, ke 280 pasukan Republik Texas berujung pada kematian yang terhormat. Sedangkan Gubernur Antonio terpaksa kehilangan 600 lebih pasukannya. Hanya itu? Tidak, sebuah gerakan revolusioner muncul di Texas dengan masif meluluh lantakan segala invasi Meksiko. Dengan teriakan “Remember the Alamo,” batalion intifada Texas mampu mengusir gerombolan Gubernur Antonio jauh-jauh. Kedaulatan lahir diantara tumpukan tumbal (atau martir?) yang dihormati sebagai semangat kolektif dan bukan hanya statistik mortalitas perang belaka.

Tak perlu berlama-lama untuk kita menuju Singasari sekitar Abad XI dimana Raja Kertanegara sedang duduk dihadapan dua utusan Kubilai Khan. Penguasa mutlak daratan mongol yang sedang menjadi pengendali langit dan bumi. Dengan sedikit basa basi dua utusan itu meminta Kertanegara untuk tunduk. Dengan imbalan menjadi bagian dari kerajaan adikuasa Mongol, jika menolak maka balatentara Khan agung akan menggetarkan Javadwipa. Apakah Kertanegara gentar?

Sedikitpun Kertanegara tak gentar, malah dengan gahar ia mengambil sebilah keris di punggungnya dan mengiris telinga kedua utusan itu. “Khan boleh datang ke Javadwipa, dengan jalan duduk dan meminta maaf padaku, selebihnya ia berujung sebagai bangkai,” teriaknya geram. Apakah ia berbuat naif? Tentu, melihat peta kekuatan Singasari dan Mongol saat itu. Tindakan Kertanegara tak lebih dari bunuh diri. Tapi sekali lagi kedaulatan bukan sesuatu yang kita pelajari di buku dan dalam kelas. Ia berada dalam diri dan pikiran.

Ketiga kerajaan dan negara di atas sudah tumpas, hancur, bubar dan gulung tikar. Mereka berujung pada kefanaan karena tak mampu memenuhi diktum Darwin mengenai “Survival of the fittest.” Tetapi semangat mereka tetap menginspirasi masing masing pewarisnya dengan kebanggan (atau fasisme?) akan negara dan tanah airnya. Bahwa segala penghinaan yang tak berbalas merupakan kehinaan. Dan hanya ada satu padang Kurusetra untuk menyelesaikan segala sengketa itu.

Katakan bahwa adigium John Dingell, anggota senat terlama dan rekan dekat lebih dari 4 presiden Amerika, yang berujar bahwa “Perang adalah kegagalan diplomasi” adalah benar. Namun dalam perspektif kedaulatan negara orang orang yang saya sebutkan sebelumnya, “Diplomasi adalah kegagalan dari perang.” Tak ada satupun dalam perang yang mewakili diplomasi, namun dalam diplomasi segalanya adalah perang kepentingan.

Diplomasi sesungguhnya hanya tentang kompromi, mengenai bargaining dari komprador dan penjajah, mengenai kedegilan intelektual di depan mitos negara adi kuasa, paranoia atas statistik jumlah senjata dan kekuatan ekonomi, serta impotennya nyali untuk melakukan perjudian terhadap kekuatan diri sendiri. Menyitir kata-kata pukulun diplomasi Amerika, Henry A Kissinger, Diplomasi adalah seni untuk tetap berkuasa.

Lalu sebenarnya apa itu diplomasi? Mengapa begitu penting? Atau malah sebenarnya, seperti banyak kebudayaan pop, dibuat seolah-olah sangat dibutuhkan. Secara sederhana diplomasi adalah upaya menengahi, menyelesaikan, dan membuat kesepakatan bersama terhadap suatu masalah dan keinginan. Tak lebih dari itu, namun kebutuhan dan pola pikir manusia yang terlampau (dibuat) kompleks menjadikan diplomasi suatu hal yang susah dilakukan.

Dalam banyak hal diplomasi dilakukan karena suatu permasalahan yang terjadi sudah terlampau pelik dan mentok. Seperti utang yang terlampau banyak, hukuman yang terlalu berat atau arogansi yang teramat sangat. Semua adalah ranah dan tujuan dari diplomasi. Kembali meminjam pemikiran Kissinger dalam Diplomacy, yang mengungkapkan, bahwa kebutuhan bersama dan kepentingan yang berbeda menjadi faktor utama dalam terhambatnya penyelesaian (rekonsiliasi).

Tetapi apakah sebutuh itu? Diplomasi dalam konteks kekinian adalah seni berkata-kata, berdebat dan berjualan. Seperti seorang makelar di pasar maling. Ia selalu diliputi rasa takut salah membuat keputusan dan gagal lalu berujung pada penjara. Sementara itu diplomat (sebutan orang yang jago diplomasi?), yang entah apa fungsinya, seringkali malah menjadi sekedar jabatan kosong atau liburan bergaji.

Terlalu banyak kegagalan permasalahan politi luar negeri kita untuk dimaklumi. Afirmasi atas kurangnya kekuatan ekonomi, politik dan militer selalu jadi kambing hitam. Mereka yang demikian ini apa tak malu kepada Dalai Lama yang negaranya bahkan tak punya kekuatan militer, namun berani melakukan kampanye dan perlawanan terhadap Cina.

Okelah Dalai Lama memang tak menang, tak berkuasa, tapi setidaknya ia berani menjadi diplomat tanpa perlu berbasa basi. Tak perlu melumat banyak buku politik namun pada akhirnya hanya stagnan pada wacana kosong dan busa debat. Saya bahkan sangat malu untuk menuliskan nama Teuku Tiro dan Aung San Su Kyi. Karena dua nama itu terlalu heroik dan suci jika dibandingkan dengan diplomat kelas kacang yang ada di Indonesia. Apakah saya sedang melankolis? Tidak, ini hanya Het is geen roman,’t is een aanklacht! Bukan sekedar roman, ini adalah gugatan!

Saya sudah terlanjur jijik dan antipati terhadap mereka yang mengaku sebagai diplomat. Entah karena fungsi mereka yang seringkali tak berguna atau keberadaan mereka yang sebenarnya malah menambah ruwet masalah. Saya ingat permasalahan Indonesia, GAM, dan perdamaian diselesaikan oleh orang-orang yang malah bukan diplomat. Yang satu insinyur, yang satu sarjana sosial dan yang terakhir bahkan lulusan ekonomi.

Sebenarnya bagaimana cara kita memperoleh diplomat? Sejauh pemahaman saya belum pernaha da sekolah tinggi pendidikan diplomat di Indonesia. Kalau sekolah camat yang luar biasa kampret bertebaran di mana-mana. Saya malah jadi sinis, dari 350 juta penduduk Indonesia apakah tak ada satupun yang bisa berani berbuat dan melakukan perubahan sigifikan?

Semua yang saya kenal telah belajar politik luar negeri dan diplomasi selalu berkata. “Semua terlalu kompleks untuk bisa dimengerti otakmu yang sederhana itu,” well, try me. Apakah saya harus terus menunggu kegagalan demi kegagalan kebijakan politik? Seperti kematian buruh migran, pencaplokan wilayah, penistaan kedaulatan dan sebagainya dan sebagainya.

Mereka yang saya tanya selalu menjawab sistem politik Indonesialah yang korup dan rusak sebagai biang keladinya. Lalu apa guna segala macam ilmu, buku dan pertemuan-pertemuan yang dikonsumsi oleh para diplomat? Sekedar show of force atawa retorika? Kata-kata, diluar usaha pemberdayaan, adalah taik kucing. Serupa orasi sompral dari mahasiswa baru yang tak tuntas mengeja marxisme sebagai gerakan sosial.

Sejarah terlampau banyak membuktikan bahwa kedaulatan negara tak selalu diraih dari diplomasi. Kedaulatan negara diraih dari konsistensi sebuah pemerintahan/kerajaan terhadap apa yang mereka yakini sebagai tanggung jawab. Lupakan pancasila, uud, dan segala simbol brengsek mengenai nasionalisme. Semangat kolektif yang lahir karena kesamaan nasib dan kepedulian sosial merupakan inisiasi paling awal untuk memulai kedaulatan. Memulai segalanya dari nol, peduli setan dengan orang lain dan kerja keras bersama.

Tentu semua itu tak mudah. Manusia adalah mahluk sosial paling manja yang pernah diciptakan tuhan. Manusia akan sulit bertahan hidup tanpa blackberry, mall, buku, musik, listrik, viagra, facebook, Justin Bieber dan segala macam residu televisi. Kita mungkin hidup tanpa mereka, tapi akan sangat sulit sekali. Egoisme yang terlalu pekat karena paparan egosentrisme teknologi dan ketersesatan kebutuhan membuat manusia terlampau nyinyir terhadap perubahan yang merujuk pada kebersamaan.

Meminjam istilah Adorno dan Horkheimer, masyarakat paska industri, merupakan citra manusia yang hanya bisa merengek terhadap kesulitan dan menghamba pada kemudahan. Kedaulatan yang diimpikan akan selalu imajiner jika tak dibarengi usaha nyata melakukan perubahan. Semacam onani tanpa meraih orgasmus. Lalu sampai kapan diplomasi kita, yang didasari kedaulatan rakyat, akan dicapai dan diperoleh? Tak satu setan pun tahu! Ujar Gie dalam liang kuburnya.

Tapi tentu saja semua yang saya tulis ini hanya sekedar omong kosong. Apalah saya yang tak pernah belajar tentang diplomasi, politik dan basa basi bacot mengenai negara (yang saya anggap tak lebih menarik daripada mendengarkan hairmetal dan membaca Ary Ginandjar). Tetapi dengungan kata-kata Max Havelar, yang ditulis Multatuli, membuat saya terlampau jengah. Dengan memegang kepala dan mendelik pada resident Hindia, Max berkata “Saya tak suka menggugat siapa pun,” teriaknya kasar. “Tapi kalau harus, biar dia kepala tentu saya akan gugat.” Ah Max kau hanya sok tahu!(*)

Jumat, 24 Juni 2011

Bapak Desain Grafis Persma Jember



Begini saja, jika ada anak Persma Jember yang mengatakan bahwa ia mampu ngelayout dengan baik tapi tak mengenal nama Widi Widahyono. Well anda boleh kenalkan saya padanya untuk saya injak muka dan meludahinya pelan-pelan. Benar, jika anda membaca judul sontoloyo dari tulisan ini maka anda tahu bahwa saya sedang melakukan sebuah klaim. Klaim terhadap suatu titel dan identitas kedirian.

Saya ingin bercerita tentang seseorang yang saya hormati sebagai begawan, wali, suhu, master, sinuhun, dosen dan ustad sekaligus. Seseorang yang dikenal tak banyak bicara tetapi dikenal dengan sejuta karya yang membahana. Orang itu adalah Widi Widahyono. Punggawa desain grafis Persma Jember dan orang yang mampu mengangkat derajat layouter dalam sebuah organisasi pers setara dengan pemimpin umum dan pemimpin redaksi.



Mas Widi tinggal di daerah paling tertinggal di Jember. Ledok Ombo, menurut BPS Jember, merupakan kantong buta huruf terbesar di Jember. Hampir 80% orang disana putus atau tak sekolah. Ini data valid tanya saja sama kepala desa Ledok Ombo kalau anda tak percaya. Sangat mengagetkan dari tempat semacam itu bisa lahir seorang dengan kemampuan jenius dalam melayout.

Mas Widi sebenarnya baru berkenalan dengan layout saat beliau mulai aktif di UKPKM Tegalboto. Diperkenalkan software desain oleh Pukulun Semiotika, Poskolonialisme, dan Multikulturalisme, Sigit Budi Setiawan, membuat mas Widi jadi keranjingan layout. Meski sebelunya ia pernah kuliah di ITS dalam jurusan teknik informatika, Mas Widi mulai serius mendesain sejak di Tegalboto.

Software yang pertama digauli Mas Widi adalah Page Maker yang konon katanya sangat anying sekali. Butuh berlayer layer dan kejelian tinggi untuk menata sebuah gambar dan kata menjadi sinergis. But Widi the All Mighty membuktikan bahwa ia memang dilahirkan untuk jadi tukang layout. Seingat saya Newsletter Tegalboto Pos yang bertajuk Sandal merupakan salah satu karya, yang segera menjadi klasik, dari Mas Widi.

Dalam banyak hal dia tak sekedar belajar dan menautkan apa yang ia terima dalam kanvas kosong. Ada sebuah tanggung jawab sosial dan hati (bukan moral) untuk berkarya dan melawan. Hingga pada akhirnya Mas Widi menciptakan sebuah alterego perlawanan gerilya grafis. Kick by Grapic the Aestethic of Propaganda. Well jika anda pernah melihat sebuah poster mirip gambar korek api dengan judul, awas ada maling di sekitar kita, well itu karya mas Widi.




Mari kita coba lepaskan Anxiety of Influence dalam mitos-mitos yang melingkupi Mas Widi. Seperti fakta bahwa dia Cina, tapi gak pelit, bahwa ia sebenarnya adalah alien dari galaksi Tuetentmonto yang menyaru dalam bentuk manusia labil, atau bagaimana Mas Widi bisa sangat cool dan jarang bicara, atau bagaimana bisa mempesona banyak wanita tanpa menjadi ganjen. Mas Widi adalah mitos itu sendiri.

Hari ini sinuhun begawan Widi telah melakukan ruwat skripsi sebagai alih jenjang mahasiswa abadi menjadi pengangguran terdidik. Kini tongkat maraton sebagai koboi kampus melekat pada saya. Well dalam banyak hal saya akan sedih, tapi kali ini saya akan terima dengan penuh kebanggaan. Karena yang memberi adalah mas Widi. Tentu ia tak ingin saya terus diam dan tak segera lulus. Saat memberi gelar itu ia berkata "Ndang lulus le, sumpek delok raimu."



Mas Widi yang terkasih dan metal selalu. Mungkin ini hanya sekegar gumaman tak penting. Sekedar Rendesvousez dari hidupmu yang selalu Rawk itu. Tapi sekarang dengan gelar ditangan. Mari Mas kita MAJU BERKARYA!

Kamis, 23 Juni 2011

Sepertinya Usai


~ Untuk Nindya Noor

Lelaki itu sudah sejak semalam tidak menyandarkan tubuhnya di atas kasur. Mungkin, sekedar menutup mata untuk istirahat pun dia jengah. Lelaki itu sedang menulis surat, katanya untuk gadis yang ia cintai. Aku selalu bingung dengan kelakuan lelaki itu. Lelaki yang aku cintai dalam diam.

Sebenarnya aku tak paham juga apa yang membuat aku jatuh cinta pada lelaki itu. Lelaki dengan sepasang luka di matanya. Aku kira, luka dan kedalaman perih itu yang membuat aku cinta. Setiap aku melihat matanya kuingat waktu hujan. Seperti dalam hujan deras yang terlampau pekat. Tak ada ruang bagi tanah kering untuk mencuat. Segalanya basah.

Lelaki oh lelaki yang tak pernah tersenyum. Apa kiranya yang kamu pikirkan sekarang? Adakah rindu ataukah luka? Luka siapa lagi yang kau simpan? Kenapa tak kau bagi luka itu pada dunia? Lelaki oh lelaki, kau terlalu congkak. Bahkan mendung yang paling gelap menemukan masa terangnya. Tak perduli seberapa lama hujan turun.

Lalu kenapa kau berkeras terluka lelaki oh lelaki? Tak adakah sepotong senyum untukmu di dunia? Dimana kiranya senyummu itu lelaki? Ah dan kenapa kiranya kau menulis surat hai lelaki? Tak tahukah kau dunia telah berkelindan dalam jaringan nirkabel dan jejaring maya. Lelaki oh lelaki kepada siapakah surat itu kau kirimkan melalui jarak? Ceritakan lelaki oh lelaki.

Karena jarak mengajarkan rindu. Kau selalu suka sajak itu lelakiku. Dimana rindu itu? Siapakah rindu itu? Beruntungnya ia lelakiku. Kau yang terluka sangat hebat, apakah telah temukan hidup yang baru? Atau sekedar menanti luka baru? Lelaki oh lelaki yang terluka dalam kesunyian. Kenapa tak ada teriak dalam sekerat lukamu?

Kita pernah sepakat untuk mengubur luka, menyumpahinya dicerna belatung dan cacing tanah. Kemudian berziarah pada rumah hati yang baru, yang bebas dari tumbal dan sesaji. Kepada setiap langkah kita berbisik, mengepak huma dan rasa. Lelaki oh lelaki yang terluka merah perih. Dimana kau temukan terumbu itu?

Kamu masih diam terpaku duduk yang tak lagi tegak. Penamu dengan bebal terus menulis seolah tak hendak usai. Menyusun kata-kata yang memburai cemas seperti lautan ganas. Lelaki oh lelaki yang tak usai meragu dimanakah ketenangan itu kau buang? Ijinkan aku menjadi satu menjadi kamu menjadi segala resahmu.

Aku menanti tinta pena itu mengering dan melambatkan segala amarah yang kau tikam pelan-pelan dalam hatimu itu. Lelakiku oh lelaki yang malang, mengapa kau sedemikan lemah dan rapuh? Tak tahukah kau lelakiku yang malang bahwa mereka yang menyebut diri pejantan tak sudi menangis seperti yang kau lakukan. Meratapi sebuah kertas dengan pena ditangan.

Remang hari yang mulai jalang melarut dalam mendung pekat serupa aspal cair di jalanan. Lelakiku yang gundah, lelakiku yang resah ceritakan padaku. Ceritakan padaku tentang semua cinta menahun terlanjur mengakar di rasamu itu. Kenapa lelakiku oh lelaki yang pendek akal jua lemah pikiran. Mengapa kau tak sadar aku disini? Seseorang yang menantimu memandangmu haru di tiap tiap detik waktu berganti.

Lelakiku yang hina, lelakiku yang kucinta dengan luka. Tak tahukah kau ada cara mengiba tanpa jadi hina. Bukan lagi menghamba serupa budak meronta pada junjungan terhadap perasaan yang tak lagi mampu dibungkam. Kenapa lelakiku oh lelaki yang tiada punya nyali, mengapa kau diam dalam bahasa dan menggurah pena serupa bicara? Dimana kuasamu lelakiku. Lelakiku yang kucinta.

Kepada siapa lalu aku harus berharap jika kau terus begini lelakiku? Mengapa kau lakukan lagi lagi kebodohan yang tak berkesudahan. Berbicara tentang tengik bacin yang bahkan kau tak pernah paham artinya. Demi apa? Lalu saat semua tata jagadpramuditamu bergejolak kau terluka. Mengadu pada kata-kata seolah mereka adalah mesias yang membasuh sembuh lukamu. Lelakiku oh lelakiku naifnya dirimu.

Setiap jalan terjal memiliki akhir yang degil lagi muram. Seperti kau lelakiku, lelaki yang tak usai disakiti namun tak juga berhenti mencintai. Serupa laron yang mencintai lelampu yang membuatnya mati terbakar. Kenapa jika boleh bertanya kenapa kau lakukan ini lelakiku? Lelaki yang tak juga paham saat untuk berhenti. Berhenti disakiti dan bangkit berdiri.

Apakah yang kau tunggu? Waktu kian menua dan tak pernah ada detik yang terulang lelakiku. Apakah kau sadari bahwa setiap luka yang ditoreh tak akan mengring secepat kau menghela nafas. Lelakiku oh lelakiku yang malang kian muram. Dia pikir bahwa kata-kata dalam suratnya akan menyembuhkan segala luka yang terlanjur mengendap perih. Apa yang hendak kau katakan lelakiku oh lelakiku yang bebal.

Sudah turun hujan dan pecah segala yang kering dengan air. Saat kau lelakiku yang diam dan bodoh kemudian selesai. Selesai menuliskan kata-kata penuh amarah yang bahkan tak kumengerti isinya. Lelakiku oh lelaki yang pintar tapi bodoh bukan buatan. Hendak kemana kau sehabis hujan? Mengirimkan kertas lusuh dalam surat bodoh dan berharap dunia kembali sempurna?

Lalu kau pergi dalam rinai hujan yang terlampau berat. Mengajak basah semua tubuhmu. Menghilang di keramaian derik tetes air yang meliar. Sementara surat tengik itu separuh terbuka. Teronggok begitu saja di tepi meja. Hanya kulihat satu kalimat menyeruak dalam barisan kata surat itu. Lelakiku oh lelakiku salahkah jika kemudian aku mengintip?

Kuputuskan menjual rasa maluku, rasa jengahku dan kehormatanku pada langit yang memuntahkan petir. Kudekati pelan-pelan surat itu dan melihat sebaris kalimat yang teronggok. Kubaca satu persatu kalimat yang terjalin rapi itu. Lalu seutas senyum merambati bibirku. Aku tahu kau akhirnya bisa bertindak bijak. Aku tahu kau pada akhirnya bisa menjadi pintar untuk sekali saja dalam hidupmu yang tengik itu lelakiku yang kucinta.

***

Sepucuk surat terbuka diantara tumpukan buku-buku yang tak jelas apa judulnya. Keempat sudut surat itu tertekuk lusuh dan hampir basah dengan air hujan. Sebuah kertas tak masuk sempurna dalam surat lusuh itu. Samar-samar terlihat sebuah kalimat yang menyembul. Sebuah peringatan atau permintaan, entahlah.

Sayang kau terlalu bodoh untuk percaya aku akan diam saja kau lukai, go fuck yourself!

Minggu, 19 Juni 2011

Sekedar Perbincangan di Sore Hari

Iqra Anugrah

Saya terinspirasi seorang kawan dari jauh. Mengenai bagaimana kita mengejar mimpi dan berupaya lebih keras untuk menjadi yang terbaik. Tunggu wawancara dan perbincangan saya bersama Iqra Anugrah. Seorang kolumnis Global Politics Magazine, Analis kebijakan internasional dan juga peraih beasiswa master di Ohio University.
Ini merupakan satu dari 10 rencana wawancara yang saya anggap orang hebat dan bisa menginspirasi. Sebuah usaha menyebarkan semangat positif dan memulai perubahan. Well saya selalu yakin tulisan dan orang hebat akan memberikan kita semangat baru untuk memulai insureksi. Tunggu wawancara saya dan Iqra. :)

Sabtu, 18 Juni 2011

Menua, Membesar dan Berkarat


Saya Sekarang, gendut dan berkarat

Sepertinya saya akan mati muda. Pola hidup saya yang berantakan tak memberikan ruang saya untuk cukup istirahat. Ditambah lagi kebiasaan makan yang tak teratur dan konsumsi kopi yang gila-gilaan. Semua akan mengurangi jatah hidup saya yang tak seberapa ini.

Dalam banyak hal saya yakin akan menyusul rombongan para perusuh yang berakhir dalam kesunyian. Chairil, Hendrix, Joplin dan Anarki. Bukan, jika kalian berpikir saya menyamakan diri dengan mereka. Kalian salah besar, saya bilang saya akan mati muda sepertinya jika tak segera mengubah kebiasaan hidup saya.

Saat kecil saya bisa bertahan dari demam berdarah, kata ibu selama seminggu saya koma dan tak bangun bangun. Itu terjadi saat saya berumur delapan tahun, saat saya baca literatur tentang demam berdarah saya jadi tahu kalau ibu saya hanya khawatir berlebihan. Saya mungkin sakit demam berdarah, tapi tak sampai koma.

Lalu menginjak SMA saya sakit tipus setelah ikut orientasi pendidikan Pecinta Alam di sekolah. Padahal hanya latihan fisik selama seminggu di gunung Putri, tapi memang dasarnya saya lemah. Dua minggu saya harus terkapar di kamar karena tipes. Sepertinya daya tahan tubuh saya berbanding terbalik dengan ukurannya.

Tapi ibu saya yang bijak memang luar biasa. Dalam satu kesempatan ia berkata bahwa semua penyakit yang saya terima adalah berkah. Sebuah penanda bahwa ada alarm untuk berhenti berkegiatan atau berproses. "Awakmu kui musti loro yen kebacut kerjo, kebacut moco, ngerti artine? Kudu rumongso waras yen awakmu due batas," ujarnya dengan kecut. Kalian tahu? Pengetahuan dan kebijakan seorang ibu terkadang bisa mengalahkan filsuf paling jenius sekalipun.

Sepertinya saya ingin mabuk malam ini, tidak dengan minuman keras tentunya. Saya menolak alkohol, tuak dan segala macam yang menghilangkan kesadaran. Lebih dari itu, meminjam istilah Baudelaire, Drunk Wine, poetry or virtue, as you wish. Ah, puisi dan kebajikan tentu itu lebih baik. Saya tak percaya dengan minuman keras seperti saya tak percaya tembakau. Keduanya hanya racun, dan saya tak suka menjejali tubuh saya dengan racun.

Lalu mengapa tak sekalian saja kita bacakan be drunk yang masyur itu? Salah satu nukilan sajak Les Fleurs du mal atawa The Flowers of Evil (Bunga-bunga Kejahatan) yang sempat membuat geram aparatus negara dan gereja di Prancis kala itu. Bahkan menuai pujian dari 'Papinya' Madame Bovary. Dalam satu kesempatan Gustave Flaubert berkata "Baudelaire telah menemukan cara untuk meremajakan Romantisisme," katanya yang dilanjutkan "Ia memiliki sikap keras kepala seperti marmer, dan bertingkah seperti penyibak kabut sastra Inggris."
Seperti setiap terbitnya matahari, tentu gemilang mentari, sastra Prancis harus berakhir pada sebuah senja tanggal 31 Agustus 1867. Baudelaire meninggal dalam kesakitan stroke, penyakit yang menggerogoti dan hutang yang melilit. Sajak tak membuat seorang penyair menjadi kaya dan terjamin. Si pemabuk dibaptis sesaat sebelum kematianya dengan rindu yang membuncah pada kekasihnya yang jauh disana. Dan inilah senukil sajaknya yang masyur itu. Saat Baudelaire masih jalang dan mabuk. Be drunk..

Be Drunk

You have to be always drunk.

That's all there is to it--it's the only way.

So as not to feel the horrible burden of time

that breaks your back and bends you to the earth,

you have to be continually drunk.

But on what?

Wine, poetry or virtue, as you wish.

But be drunk.

And if sometimes, on the steps of a palace

or the green grass of a ditch,

in the mournful solitude of your room,

you wake again, drunkenness already diminishing or gone,

ask the wind, the wave, the star, the bird, the clock,

everything that is flying,

everything that is groaning,

everything that is rolling,

everything that is singing,

everything that is speaking. . .

ask what time it is and wind, wave, star, bird, clock

will answer you:

"It is time to be drunk! So as not to be the martyred slaves of time,

be drunk, be continually drunk! On wine, on poetry or on virtue as you wish."

Semua pasti punya akhir, seperti juga saya, mati muda pun tak masalah. Tapi harus tercatat dalam sejarah. Saya tak hendak mati lalu dilupakan. Saya tak hendak jadi orang biasa yang dalam kuburnya hanya diziarahi saat lebaran tiba. Kelak kematian saya akan dikenang sebagai suatu yang luarbiasa. Kematian dan sejarah, kalian akan mencatat saya dengan tinta terang.

Selasa, 14 Juni 2011

Semalam Di Atap Langit


keranda awan datang
bawa bayangan
serupa detak waktu
menghambur rindu
di sela pikuk zaman


kukira kita telah memisahkan diri
menyatakan perang terhadap kebersamaan
melarung segala ingatan dan kenangan
kupikir ini sebuah kepastian
semacam nubuat yang telah digenapi

kukira kita setuju jika rindu
tak melulu tentang rasa pilu
tentang sendu yang tertahan di uluhati
merambati setiap pembuluh birahi
sekedar getar haru, menikam serupa belati

kukira kita sudah lunasi semua perasaan kita
di kotamu malam itu
seusai rancak lagulagu menlantun seirama lalu angin
lindap jalan, kalis hujan, dan pekat malam
menjelajahi segala yang senyap dalam bahasa sunyi

kukira kita memaafkan kebodohan
sebagaimana adam meratapi keterlanjangan
"cinta" katamu. bukan kata murah yang diobral dipasar
di hutanhutan, di peraduan
tapi bukankah segala rusuk merindu satu bersama tubuh?

kukira kukira kukira kukira kukira kukira
kukira sampai kapan kau kira kira?

semua sudah selesai
agas tak lagi sengatkan haru pada pembulu
malam ini kita hadapi
api jadah
ati gundah
rebah


4-6-2011 - Sragen selepas Surakarta

Sambil mendengarkan The Mars Volta

Sabtu, 11 Juni 2011

Ada yang Salah Dengan Jatuh Cinta?


Ada yang salah dengan jatuh cinta? Lalu kenapa bila kita sedang mengalami kondisi tersebut? Maksud saya adalah, apakah salah dengan jatuh cinta? Dalam banyak hal Jatuh cinta seperti menjadi sangat memalukan dan kekanak-kanakan. Saya tak setuju itu. Sesungguhnya kita harus merayakan saat-saat jatuh cinta.

Lalu saya liat mural ini di dekat kontrakan saya. Pembuat mural itu adalah seorang pemuda setempat yang konon patah hati karena diputus kekasihnya. Buat saya tak adil melakukan generalisasi terhadap suatu hal dan dibikin saat sedang galau. Emosi selalu membuat pandangan tak jernih dan seringkali berujung pada penyesalan yang pilu.

Lalu saya teringat sebuah puisi liris dari Walt Whitman, seorang pujangga kanon dari Amerika, yang kelak menginspirasi Gie dan Generasi Beat di Amerika. Buat saya, ia adalah salah satu pujangga terbesar Amerika seperti juga Charil Anwar di Indonesia.

Ia membuat puisi yang penuh dengan kegetiran, emosional dan suasana labil. Saya suka puisi yang semacam ini. Puisi yang selalu berusaha jujur dan apa adanya. Sometimes with one I love, ujarnya. I fill myself with rage. Mengisi diri dengan amarah. Sungguh sebuah sikap yang jujur. Inilah yang membuat saya menyukai Whitman sejak pertemuan saya dengan nama besar beliau difilm Dead Poet Society.

Sometimes with one I love,

Sometimes with one I love
I fill myself with rage, for fear I effuse
unreturned love;
But now I think there is no unreturned love
The pay is certain, one
way or another;

(I loved a certain person ardently, and my love was not returned;
Yet out of that, I have written these songs.)

Lalu Kenapa takut jatuh cinta? Bukankah itu semua kodrat?

Pertanyaan Yang Sempat Luput Dijawab



Ada sebuah pertanyaan yang kerap mengganggu saya. Seperti sebuah bersin yang ditahan, undian yang tak dicabut, dan salam yang tak berbalas. Sebuah perasaan pilu yang sepertinya mendesak-desak hendak keluar. Ini pertanyaan itu.

may i ask you, boy

are you give every girl your Poetry

are you give every girl your sign

are you give every girl your love

and boy,

if, one of your girl say yes to you

will you,

stay just for one girl…?

Saya percaya keraguan itu selalu muncul. Dan saya tak akan mengatakan bahwa kamu yang pertama yang saya cintai. Karena itu adalah kebohongan dan dusta. Tapi yakinlah bahwa hanya kamu yang ingin saya temani sampai mati. Tetapi untuk menjawab keraguan kamu itu saya ingin membacakan sedikit puisi dari Octavio Paz, penyair dari Meksiko.

Judulnya pas sekali dengan segala keraguan kamu, no more clichés. Seolah mengatakan bahwa segala yang aku tulis kelak akan berpotensi menjadi basa-basi. Tetapi inilah hidup, seperti sedang berdiri dalam kondisi yang kita sama-sama tak tahu apa hasilnya.

No More Clichés

Beautiful face

That like a daisy opens its petals to the sun

So do you

Open your face to me as I turn the page.

Enchanting smile

Any man would be under your spell,

Oh, beauty of a magazine.

How many poems have been written to you?

How many Dantes have written to you, Beatrice?

To your obsessive illusion

To you manufacture fantasy.

But today I won't make one more Cliché

And write this poem to you.

No, no more clichés.

This poem is dedicated to those women

Whose beauty is in their charm,

In their intelligence,

In their character,

Not on their fabricated looks.

This poem is to you women,

That like a Shahrazade wake up

Everyday with a new story to tell,

A story that sings for change

That hopes for battles:

Battles for the love of the united flesh

Battles for passions aroused by a new day

Battle for the neglected rights

Or just battles to survive one more night.

Yes, to you women in a world of pain

To you, bright star in this ever-spending universe

To you, fighter of a thousand-and-one fights

To you, friend of my heart.

From now on, my head won't look down to a magazine

Rather, it will contemplate the night

And its bright stars,

And so, no more clichés.


Sepertinya saya sedang rindu kamu yang jauh :)

11-06-2011 -Bondowoso

Sambil mendengarkan Asian Kung Fu Generation


Jumat, 10 Juni 2011

Soal Perjalanan dan Kehilangan


Sepertinya pada setiap perjumpaan kita tak pernah benar-benar siap untuk kehilangan. Kepergian, seperti juga kematian, adalah keniscayaan yang sering kali gagal dimengerti. Sepertinya demikian, tapi kamu yang selalu semerawut itu seolah tak percaya. “Kepergian itu sekedar permisi kencing, akan selalu kembali, siapa juga yang betah-betah di kakus,” serumu disuatu saat.

Tapi kamu kini menghilang, berbulan-bulan, tanpa jejak dan pesan. Seolah apa yang kau sebut kencing itu memang membutuhkan waktu yang sedemikian lama. Kukira, kita semua, aku dan orang orang yang juga merindukanmu telah terbiasa dalam kecemasan. “Untuk apa cemas? Toh kalau aku memang ditakdirkan mati di singgasana saat mabuk atau di altar saat berdoa sama saja,” katamu marah. Kamu sepertinya tak mengenal rasa lindap perih ditahan saat khawatir.

Hari ini pun sama saja, kecemasan itu datang menyergap pelan-pelan. Lalu tanpa sadar aku melelehkan air mataku. Kamu tahu? Rasanya malu sekali tiba-tiba menangis saat sibuk menawar buah. Aku sebenarnya juga tak begitu paham mengapa kemudian menangis. Sekedar memori yang mampir kukira. Kau suka buah apel atau jeruk? Sedang aku tak pernah akur dengan kedua buah itu. “Kamu itu aneh, buah enak kok gak doyan. Malah suka rambutan pantes rambutmu keriting,” katamu sambil tertawa.

Sebenarnya apa maumu? Datang dan pergi sesukanya tak tahukah kamu? Musim yang empat itu pun masih bisa ditebak apa tabiatnya. Sedang kamu dan segala sikap sontoloyo mu adalah misteri. Kenapa kemudian kau harus datang untuk kemudian pergi lagi? Seperti hujan musim panas. “Aku hanya ingin melihat kamu senyum, itu saja cukup, aku harus pergi lagi,” katamu seraya membawa ransel besar yang entah apa isinya.

Sementara aku benci melihatmu semakin kurus disetiap perjumpaan kita yang singkat itu. “Bah kau pikir aku harus makan seberapa banyak untuk jadi babi?” aku benci jika kamu berkata itu. Seolah olah segala kejijikan adalah milik babi. Seekor babi tak pernah hendak dilahirkan menjadi babi, seperti juga seekor elang tak selayaknya ingin selalu terbang. “Tapi elang gaya, kan gede kaya punyaku,” dan kita tertawa lepas seolah hal semacam itu nisbi saja.

***

“Tuhan tidak pernah adil membagi waktu”

“Kenapa begitu?”

“Kenapa setiap kita berjumpa, waktu sepertinya menguap secepat concord,”

“Kamu berlebihan, kiranya terlalu banyak jumpa kawanan alay,”

“Tidak ada hubungan!”

“Sangat berhubungan, eh lagu kita ini? Anyone else but you..”

“Lupakan lagu, kita sedang bicara. Kamu bisa serius gak sih? Pantas kamu tak lulus juga!”

“Nah ini ad hominem, kelulusanku tak ada hubungannya dengan lagu,”

Ada, kamu saja yang terlalu tolol,”

“Tolol. Memang dan aku selalu bangga jadi tolol,”

Aku menyesal mengataimu tolol. Tapi kamu memang tolol menolak lulus hanya karena berdebat mengenai ya dan tidak dengan dosen. Sudah kubilang setiap dosen memiliki ego yang tak mungkin bisa diredam. Kamu selalu begitu berlari menjauh seolah dikejar kemungkinan untuk larut dalam kedegilan. Sementara yang kamu sebut kedegilan itu adalah cara hidup. Apakah kau selalu akan begitu?

“Jangan pergi, setidaknya jangan hari ini,”

“Ah manja, biasanya juga kamu ingin aku cepat pergi,”

“Tidak sekarang, kamu disini saja temani aku, kita jalan telusuri kota aku mohon,”

“I wish I can,”

“Kita seolah akan berpisah dan tak akan pernah bertemu lagi,”

“Aku tak pernah percaya perpisahaan, karena mereka yang pergi tak pernah benar-benar hilang. Selalu ada ruang dimana kita mengingat, disitulah sebenarnya kita berada. Saling bertemu hanya saja realitas fisik yang tak genap,”

“Apakah kau selalu berkata seperti itu? Aku muak mendengar katamu yang seolah pintar itu,”

“Mungkin, terkadang aku pikir itulah alasan mengapa kita tak mungkin selalu satu. Kita butuh jeda dan jarak,”

“Tapi haruskah sejauh dan sesering ini?”

“Entah, setiap kereta butuh stasiun untuk berhenti bukan?”

“Stasiun itu banyak..”

“Tidak untukku, hanya ada satu stasiun, keretaku mungkin hanya mampir, tapi segala pemberhentian hanya pada satu ruang saja,”

Seru panggilan kereta berbunyi dan itulah saat terakhir aku melihat kamu dan senyummu yang sontoloyo itu. “Aku mau kencing, mungkin agak lama, kamar mandinya jauh,” saat kamu katakan itu ada semburat keraguan yang meluber. Kamu tak yakin akan bisa kembali. Sepertinya kau hendak pergi ke tempat jauh yang tak menemukan tiket kembali. “Hati-hati dan jangan lupa makan,” itu saja yang bisa kuucap.

***

Lalu kutemukan pesan itu disebuah sudut kamarmu. Sepertinya sebuah surat yang urung kamu kirimkan. Hari ini adalah dua bulan sejak kamu pergi untuk yang kesekian kalinya. Surat usang itu berlumur kopi dan semua sudutnya telah habis dimamah rayap. Untuk sesaat aku merasakan cemburu, seperti kebencian yang tiba-tiba. Siapakah orang yang kamu kirimkan surat itu? Bahkan aku tak pernah kamu beri kabar, untuk sekedar ucapan natal atau paskah pun kamu luput utarakan.

Tetapi rasa penasaranku lebih seru mengudara daripada kecemburuanku. Aku tak peduli lagi jika nanti kamu kembali dan marah. Yang jelas aku tak ingin dibebani rasa ingin tahu dan sakwasangka. Kubuka pelan kertas itu sebagaimana benda ringkih yang hancur hanya karena angin. Lalu sambil menahan nafas kubaca pelan kata pertama surat itu.

Untuk Dia

Sepertinya kencing yang kutahan ini tak akan pernah menjadi sebuah pemberhentian. Aku memutuskan untuk berlari dari bising masjid dan keheningan doa. Seperti kamu yang terpasung pilihan pilihan. Apel dan jeruk. Langit dan bumi. Hujan dan mendung. Semua tentang pilihan.

Aku juga terpaksa memilih. Tapi bukan kamu.

Aku tak tahu bagaimana harus bereaksi. Sepertinya segala waktu dan udara berhenti. Seluruh tubuhku sesak dengan kegetiran. Apa yang kamu lakukan? Kamu membuat keputusan seolah-olah hal itu adalah hal yang biasa. Yang tak perlu adanya alasan dan penjelasan. Kamu pengecut! Kamu kurang ajar. Kamu tak tahu rasanya berharap dan kemudian dihadapkan pada kenyataan bahwa kamu tak akan mendapat apa-apa.

Sepertinya duniaku berakhir detik itu juga. Menggemakan sepasukan sepi yang perlahan masuk kedalam bulu romaku. Suratmu itu selayaknya vonis mati yang terlambat datang. Aku yang terombang-ambing amarah, sedih dan kesunyian ini lantas berteriak, menangis dan kemudian terduduk. Ibu dan ayahmu pun tiba. Mereka tak tahu apa yang terjadi, yang mereka lihat hanya seroang perempuan yang terduduk dan menangis sendirian dengan sebuah surat dekil ditangan.

Pasangan sepuh itu kemudian mengangsurku ke atas ranjang. Memberiku segelas air yang tiba-tiba saja hadir. Kamu tahu, saat kita sedih, Kita tak pernah akan memperdulikan detail-detail kecil itu. Tentang kenapa langit sore itu tampak sangat cerah meski baru saja hujan. Tentang debu yang menumpuk dalam kamarmu yang berantakan itu. Dan beberapa buku puisi dan filsafatmu yang mulai menjamur di dekat kamar mandi. Semua menjadi tak pening saat dunia yang kita yakini ada ternyata harus hancur karena perasaan.

Sore itu aku pulang dari rumahmu sebagai orang yang kalah. Ayah dan ibumu memandangku pergi. Melihat punggungku hilang perlahan di kejauhan. Mereka tau bahwa luka yang kamu torehkan ini tak akan pernah sembuh sempurna. “Maafkan putra kami Dia,” kata Ibumu. Aku sedikit marah, apa haknya meminta maaf atas namamu? Kupikir luka ini tak akan pernah selesai. Seperti juga kisah hidup kita yang kau putuskan tuntas dalam secarik surat itu.

***

Pagi ini Praha masih dingin menusuk seperti biasanya. Musim gugur di Praha sama dengan bersekutu dengan mendung. Matahari tak akan tampak setidaknya untuk enam bulan kedepan. Sudah empat tahun sejak kamu memutuskan untuk pergi dan meninggalkan aku. Tapi bodohnya aku masih saja merasa kamu tak pernah benar-benar serius. Aku masih percaya kamu sekedar kencing. “Kepergian itu sekedar permisi kencing, akan selalu kembali, siapa juga yang betah-betah di kakus,” aku masih percaya itu. Aku akan menunggu kamu untuk kembali menemaniku memilih apel atau jeruk.

05-06-2011 Ngawi, selepas tengah malam.

Sambil mendengarkan Pure Saturday