Sabtu, 25 Juni 2011

Buku Dan Kerakusan Diri


Saya benci keramaian. Apalagi keramaian yang diisi dengan banyak orang banal atau dalam terminologi saat ini gaul. Saya merasa terasing di antara mereka. Oleh karena itu saya membenci mall, konser musik band populer, bandara dan pernikahan. Tapi jika ada keramaian yang sudi saya hadiri. Well, itu adalah kenduri langsung Rage Againt The Machine, pengajian live Pure Saturday, kuliah umum bersama Amien Maalouf atau pameran buku. Untuk yang terakhir saya rela berdesakan dengan sejuta orang sekaligus.

Tiga minggu lalu Jember kedatangan tim Bukabuku dari Jogjakarta. Sebuah event organizer yang bergerak dalam bidang pameran buku. Saya sendiri kenal baik dengan mas Tri Prasetyo, atau TP, direktur eksekutif dari Bukabuku Production. Dengan semangat juang serupa gerilyawan Maoist Nepal saya mendatangi Gedung Soetardjo lokasi dimana pameran itu diadakan. Di pintu masuk saya bertemu mbak Elok, mantan bos saya dulu saat nguli bersama Bukabuku, yang datang bersama putrinya.

"Lho urung lulus Dhan?" katanya.

"Durung mbak, sik arep ujian,"

"Ket rong taun wingi ngunu, sampe aku mbrojol anak awakmu urung lulus pisan," lanjutnya seperti petasan banting.

"eh wes mbak yo, aku tak masuk dulu,"

Saya tahu mbak Elok tidak akan berhenti sampai di sana. Dia bakal nanya apa saya masih sholat, kapan nikah, sudah punya pacar dan sebagainya. Sebagai orang baik, mbak Elok punya cara menyebalkan dalam bertanya. Oleh karena itu saya memutuskan kabur sebelum ditanya yang macam-macam.

Di pintu masuk saya bertemu mas TP. Dia masih saja seperti dulu, kurus kering dan workaholic. Dalam banyak hal saya mengagumi pribadi mas TP yang keras. Ia punya jabatan tinggi dalam Bukabuku, tapi tak membuat dia segan untuk jaga parkir, mengangkut sampah, dan mengusung kardus. Ia sepertinya berbakat menjadi direktur sekaligus kuli pasar.

"Dhan," kata mas TP wajahnya tampak sangat berbinar dan bijak,

"Ya mas?"

"Raimu panggah welek jeh, ra mutu tenan," katanya.

Saya sebenarnya ingin menginjak muka dan menggampar mas TP. Namun karena saya masih sadar diri atas fakta empiris yang memang ada saya tahan. Selepas cipika-cipiki saya langsung berhambur ke area pameran buku. Seperti yang saya duga sebelumnya, pameran buku di Jember di dominasi oleh buku-buku keagamaan (islam). Seolah apa yang ada di Al Quran tak cukup dan mereka butuh 'text book' penunjang demi menambah keimanan mereka. Buat saya ini adalah tanda-tanda senjakala keimanan.

Tapi tentu saja saya tak ingin membalas hal itu. Terlalu banyak hal yang lebih penting daripada sekedar membela atau menjaga kekuasaan tuhan. Saya hendak berburu buku langka. Dimana lagi jika bukan di Yusuf agency. Bagi para penggila buku yang sudah malang melintang di pameran buku. Nama Yusuf Agency sudah tak asing lagi. Ia dikenal sebagai satu-satunya juragan buku yang bisa memuaskan nafsu birahi penggila buku klasik, murah dan langka. Mengapa demikian?

Berawal pada medio 2004 dimana pak Yusuf, pemilik usaha ini melihat peluang usaha dari tumpukan buku di sebuah gudang percetakan. Berbekal kenekatan ia membeli tumbukan buku itu berdasarkan kardusan. Catat KARDUSAN, terlepas dari isi dan penulis bukunya, ia membeli sekitar 20 kardus buku ukuran besar dengan harga 1 juta rupiah.

Lantas ia mengikuti pamrean buku di Jogja. Ia lantas menjual buku dengan harga yang sangat murah, sekitar 5.000-50.000. Ia menjual buku itu berdasarkan insting dan kondisi buku saja. Tak disangka jualannya laku keras. Sampai beberapa tahun kemudian ia bisa membuka sebuah gerai toko di dekat UIN Sunan Kali Jaga Jogja di sebelah Social Agency.

Tapi saat saya datang pada hari pertama pameran buku gerai Yusuf belum buka. Baru pada hari kedua mereka buka. Nah ini dia salah satu foto gerai dari Yusuf Agency. Lihat harga yang tertera? Anying sekali kan? Di tumpukan harga buku 5.000 itu saya menemukan karya klasik Gabriel Garcia Marquez yang berjudul Calidas, The Space Betwen Us karya Thrity Umrigar, Puisi Ajip Rosidi dan The Picture of Dorian Gray karya Oscar Wilde.

Di satu sisi saya senang karena bisa membeli buku-buku kanon tadi dengan harga murah. Namun di sisi lain saya muntab dan jengah karena buku tidak dihargai secara semestinya. Saya pernah membaca kegelisahan semacam ini juga dirasakan oleh Alfathri Adlin. Salah satu mantan redaktur jalasutra, ia kesal karena masyarakat Indonesia suka sekali membeli barang mahal semacam gadget hanya untuk gaya-gayaan. Namun enggan sekali membeli buku yang relatif lebih murah untuk pengetahuan. Saya selalu meyakini, bangsa yang gagal memaknai nilai buku sebagai cara perubahan sosial, maka bangsa itu akan hancur segera.

Di Yusuf Agency sebenarnya ada beberapa buku yang sangat menarik. Seperti sejarah keagamaan dunia versi Lux, buku tentang fremasonary di Indonesia dan sebuah buku karya Maman S Mahayana tentang kritik cerpen.Tapi karena keterbatasan uang yang saya miliki, saya terpaksa menghemat keuangan saya dan beralih pada gerai toko berikutnya. Di sana saya menemukan buku klasik Naguib Mahfouz yang berjudul Lelaki dalam Pasungan, sebuah buku novel Ernest Hemmingway dan buku tentang laporan kompas mengenai orang Tionghoa. Dengan uang 25.000 saja saya bisa membawa semua buku itu pulang.

Di toko berikutnya saya menemukan buku terbaru dari begawan kajian budaya dan posmodernisme Indonesia, Yasraf Amir Pilliang, Multiplisitas dan Diferensiasi. Tanpa ragu saya menawar buku itu. Kebetulan ada teman saya yang datang, Qomar, seorang pemain futsal dan wining eleven kelas wahid. Saya paksa dia untuk membeli buku itu. Dia setuju meskipun awalnya enggan. Tentu saja saya ingin dia membeli biar suatu saat saya bisa meminjamnya hehe.

Di tempat yang sama saya juga menemukan buku klasik dari Anne Frank. Seorang gadis yahudi yang dikenal dunia karena catatan hariannya. Ia meninggal di kamp konsentrasi Naxi Jerman. Selain itu saya juga menemukan sebuah buku Novel yang berjudul Saudagar Buku Dari Kabul karya Asne Seierstad. Hari itu saya membeli banyak buku. Di bawah ini gerai buku itu.




Ini hasil perburuan saya hari itu.

Sebenarnya di rumah saya memiliki beberapa buku. Well, saya memang sangat menyukai buku. Jika kalian bertanya apa semua buku itu saya baca. Jawabannya iya. Jika anda tanya sekali lagi apakah saya hapal dan ingat isi buku itu. Tentu saja tidak. Beberapa buku itu saya beli karena kebutuhan riset tulisan. Beberapa karena memiliki nilai historis dan yang lain karena saya sangat suka buku itu.

Kegemaran saya membaca mungkin adalah warisan dari Ibu dan Bapak saya. Ibu saya adalah penggemar berat karya Ko Ping Ho. Di rumah saya yang lama kami punya lengkap semua bukunya. Sedangkan bapak saya, sebagai muhamadiyin, mengoleksi banyak sekali buku-buku kajian hadis dan pemikiran dari timur tengah. Pernah ada cerita lucu saat bapak saya menemukan buku Irsyad Manji dan Ali Syariati di kamar. Bapak mendudukan saya dan bertanya dengan serius.

"Awakmu sik islam kan?"

"Iyo," jawab saya heran.

"Isih percoyo nabi Muhammad kan?" lanjutnya.

"Iyo, opo'o pak?"

"kok Moco buku iki," sambil menunjuk buku itu.

Sontak saya tertawa lebar. Saya bilang saja buku-buku itu hanya buku bacaan ringan. Tak menjadikan saya liberal atau syiah. Bapak belum percaya, dia minta saya buang buku itu. Tentu saya menolak, kami sempat bersitegang tapi akhirnya dia menyerah. Buat saya buku, terlepas pengarangnya siapa, tak punya dosa. Bukan salah J.D Sallinger jika kemudian Lee Harvey Oswald, seorang pembunuh, mengakhiri John F Kennedy karena membaca cathcer in the rye. Buku adalah benda mati, manusia lah yang melakukan interpertasi terhadapnya.

Saya hanya punya satu lemari buku. Sisanya tak cukup saya taruh di meja belajar saya. Ini dia buku-buku itu. Terakhir saya ingat saya punya sekitar 300 an buku. Gabungan koleksi warisan dari punya bapak dan kakak saya. Ini dia mereka.


Kumpulan buku yang berantakan sempat mau dikilokan

Lalu saya kadang bertanya. Buat apa buku sedemikian banyak? Tak membuat saya lulus tepat waktu apalagi dapat pacar. Dalam diam saya seringkali merutuki kegemaran saya yang satu ini. Bagaimana tidak? Seringkali saya harus menghemat dengan tidak makan dan jajan, dimana hal ini hobi saya, untuk membeli buku. Apalagi jika buku itu hardcover dan langka sudah pasti akan mahal. Belum lagi jika buku itu tak ada di Jember, terpaksa saya harus pergi ke Jogja atau surabaya untuk mencari buku itu. Well, i think i'm mad!

*buku sepertinya adalah kutukan cinta saya yang pertama. Entah dengan anda.

5 komentar:

  1. hehehe...kayaknya masih lebih banyak bukuku, Mas. (Tentunya textbook kuliah juga masuk hitungan.) Mas, kamu pernah menemukan the motorcycle diaries? Dari dulu aku cari buku itu tp blm pernah dapat. Sekarang lagi coba pesan di toko buku online tp blm dpt kepastian. Kasih info ya Mas kalau kmu tahu dimana bs dpt buku itu..makasih lho..hehe

    BalasHapus
  2. ada bahasa inggriskok, di Freedom institute kamu bisa fotokopi hanya dengan 36.000 saja.
    atau cari di Yusuf agency kalo sabr pasti ada :D

    wah tika bukumu njuk ono piro?

    BalasHapus