Sabtu, 18 Juni 2011

Menua, Membesar dan Berkarat


Saya Sekarang, gendut dan berkarat

Sepertinya saya akan mati muda. Pola hidup saya yang berantakan tak memberikan ruang saya untuk cukup istirahat. Ditambah lagi kebiasaan makan yang tak teratur dan konsumsi kopi yang gila-gilaan. Semua akan mengurangi jatah hidup saya yang tak seberapa ini.

Dalam banyak hal saya yakin akan menyusul rombongan para perusuh yang berakhir dalam kesunyian. Chairil, Hendrix, Joplin dan Anarki. Bukan, jika kalian berpikir saya menyamakan diri dengan mereka. Kalian salah besar, saya bilang saya akan mati muda sepertinya jika tak segera mengubah kebiasaan hidup saya.

Saat kecil saya bisa bertahan dari demam berdarah, kata ibu selama seminggu saya koma dan tak bangun bangun. Itu terjadi saat saya berumur delapan tahun, saat saya baca literatur tentang demam berdarah saya jadi tahu kalau ibu saya hanya khawatir berlebihan. Saya mungkin sakit demam berdarah, tapi tak sampai koma.

Lalu menginjak SMA saya sakit tipus setelah ikut orientasi pendidikan Pecinta Alam di sekolah. Padahal hanya latihan fisik selama seminggu di gunung Putri, tapi memang dasarnya saya lemah. Dua minggu saya harus terkapar di kamar karena tipes. Sepertinya daya tahan tubuh saya berbanding terbalik dengan ukurannya.

Tapi ibu saya yang bijak memang luar biasa. Dalam satu kesempatan ia berkata bahwa semua penyakit yang saya terima adalah berkah. Sebuah penanda bahwa ada alarm untuk berhenti berkegiatan atau berproses. "Awakmu kui musti loro yen kebacut kerjo, kebacut moco, ngerti artine? Kudu rumongso waras yen awakmu due batas," ujarnya dengan kecut. Kalian tahu? Pengetahuan dan kebijakan seorang ibu terkadang bisa mengalahkan filsuf paling jenius sekalipun.

Sepertinya saya ingin mabuk malam ini, tidak dengan minuman keras tentunya. Saya menolak alkohol, tuak dan segala macam yang menghilangkan kesadaran. Lebih dari itu, meminjam istilah Baudelaire, Drunk Wine, poetry or virtue, as you wish. Ah, puisi dan kebajikan tentu itu lebih baik. Saya tak percaya dengan minuman keras seperti saya tak percaya tembakau. Keduanya hanya racun, dan saya tak suka menjejali tubuh saya dengan racun.

Lalu mengapa tak sekalian saja kita bacakan be drunk yang masyur itu? Salah satu nukilan sajak Les Fleurs du mal atawa The Flowers of Evil (Bunga-bunga Kejahatan) yang sempat membuat geram aparatus negara dan gereja di Prancis kala itu. Bahkan menuai pujian dari 'Papinya' Madame Bovary. Dalam satu kesempatan Gustave Flaubert berkata "Baudelaire telah menemukan cara untuk meremajakan Romantisisme," katanya yang dilanjutkan "Ia memiliki sikap keras kepala seperti marmer, dan bertingkah seperti penyibak kabut sastra Inggris."
Seperti setiap terbitnya matahari, tentu gemilang mentari, sastra Prancis harus berakhir pada sebuah senja tanggal 31 Agustus 1867. Baudelaire meninggal dalam kesakitan stroke, penyakit yang menggerogoti dan hutang yang melilit. Sajak tak membuat seorang penyair menjadi kaya dan terjamin. Si pemabuk dibaptis sesaat sebelum kematianya dengan rindu yang membuncah pada kekasihnya yang jauh disana. Dan inilah senukil sajaknya yang masyur itu. Saat Baudelaire masih jalang dan mabuk. Be drunk..

Be Drunk

You have to be always drunk.

That's all there is to it--it's the only way.

So as not to feel the horrible burden of time

that breaks your back and bends you to the earth,

you have to be continually drunk.

But on what?

Wine, poetry or virtue, as you wish.

But be drunk.

And if sometimes, on the steps of a palace

or the green grass of a ditch,

in the mournful solitude of your room,

you wake again, drunkenness already diminishing or gone,

ask the wind, the wave, the star, the bird, the clock,

everything that is flying,

everything that is groaning,

everything that is rolling,

everything that is singing,

everything that is speaking. . .

ask what time it is and wind, wave, star, bird, clock

will answer you:

"It is time to be drunk! So as not to be the martyred slaves of time,

be drunk, be continually drunk! On wine, on poetry or on virtue as you wish."

Semua pasti punya akhir, seperti juga saya, mati muda pun tak masalah. Tapi harus tercatat dalam sejarah. Saya tak hendak mati lalu dilupakan. Saya tak hendak jadi orang biasa yang dalam kuburnya hanya diziarahi saat lebaran tiba. Kelak kematian saya akan dikenang sebagai suatu yang luarbiasa. Kematian dan sejarah, kalian akan mencatat saya dengan tinta terang.

6 komentar:

  1. sak durunge mati koe kudu ngerasakno lembut dan manisnya bibir perempuan, sedap :)

    BalasHapus
  2. lambemu wae piye? di masak rica rica

    BalasHapus
  3. Orang-orang hebat matinya muda lho! Mati aja deh, gpp.. Ntar jatah oksigenmu di Jakarta yang dobel itu tak ambil yo?

    BalasHapus
  4. ojo mati disik. penggawean gurung mari, lha opo gak pingin ngurusi PPMI mu sing absurd kui.

    mumpung gurung lulus, mumpung gurung kecantol pupu sing mulus,

    BalasHapus
  5. @arnis : kamu aja gimana? bibirmu sini aku rujak.
    @Citra D : Ora iso. pokokmen aku kudu ngono

    BalasHapus
  6. saya ambil bukunya saja kalau mati. yang lainnya enggak.hehehe

    BalasHapus