Jumat, 22 Juli 2011

God

god is greed

Hari ini saya sekali lagi gak Jumatan. Bukan menjadi Atheis, tapi sedang memikirkan ulang keimanan kepada agama yang saya pilih. Daripada melakukan ibadah sebagai sebuah rutinitas, saya lebih memilih tak melakukan apapun. Akhirnya memutuskan untuk tidur di UKM daripada turut duduk khusyuk mendengarkan khotbah jahil yang menyeru kepada kebencian sektarian. Well, itu saya lakukan secara sadar.

Selepas masa pulang sholat Jumatan saya kemudian keluar UKM untuk mencari makan. Tapi sebelumnya buang air dahulu. Celana dilipat hingga diatas mata kaki, meski percuma, saya usahakan agar najis kencing tak menciprat ke celana. Lalu saat hajat sudah hilang waktu pergi ke warung untuk makan.

Di warung saya bertemu kawan saya. Sebut saja ia Udin. Kami sudah lama tak bertemu hampir selama tiga tahun. Rupanya selama tiga tahun terakhir ia aktif dalam sebuah organisasi yang mengusung khilafah agama arab sebagai idiologi. entah kenapa gaya bicaranya kini menjadi bernuansa arab. Padahal jelas-jelas saya tahu dia kelahiran Lumajang.

"Subhanallah Antum sehat ya? Banyak rejeki," katanya
"Alhamdulillah doa sampean juga," entah kenapa saya ingin berbasa basi.

Selepas itu ia kemudian menceritakan pencerahan yang ia klaim semenjak bergabung dengan organisasi berbasis khilafah agama arab itu. Mengenai kafir-isasi umat A, monopoli kekuasaan yahudi di Indonesia, komprador-komprador thagut, serta dajjal-dajjal yang menyaru dalam tontonan televisi.

Dengan berapi-api ia menyalahkan bobroknya iman karena sekulerisme dan liberalisme ala barat yang dianut sebagian bangsa ini. Mengenai bagaimana golongan muda yang semakin terjebak nafsu syahwat dan kebebasan yang kebablasan.

"Hanya khilafah yang mampu menyelamatkan bangsa ini. Dengan akidah dan penerapan hukum yang sesuai ajaran maka kita akan bahagia dunia akherat,"

Biasanya saya sebal sekali jika ada orang yang berkata demikian. Meski dalam hati kecil saya setuju bahwa akidah dan syar'i mampu membawa kebaikan, namun penempatanya perlu konteks sosial yang jelas. Saya biarkan dia ngoceh ngalur ngidul tentang bagaimana ia ingin merapatkan barisan untuk mengganti sekulerisme negeri ini dengan sistem yang sudah berabad lalu musnah.

"Pokoknya tuhan akan merestui kita. Dengan kembali kepada ajaran rasul dan para sahabat niscaya Indonesia akan dirahmati,"

Dirahmati? Oh come on, saya ingin sekali menanyakan kemana rahmat tuhan itu saat Marsinah tewas di bantai, saat Munir diracun, atau saat tiga juta manusia di nusantara dibantai atas nama prasangka? Tapi sebagai teman yang baik saya hanya tersenyum sambil menghabiskan sisa krupuk di meja.

Udin rupanya semakin giras dan binal melihat reaksi positif yang saya berikan. Dia pikir saya mendengarkan, padahal sedikitpun tidak. Padahal saya sedang kesal dan berkhayal saat ini sedang di Jogja dan berkumpul bersama Pidi Baiq. Imam besar The Panasdalam. Sambil menghabiskan sisa teh tawar, saya mendengar ia semakin garang berbicara.

"Kita harus menumpas habis para infidel yang hidup dalam tampilan-tampilan generasi muda kita. Melawan kapitalisme Amerika dan sekutunya yang merusak persaudaraan umat sedunia,"

Saya mau tertawa keras sekali. Selepas ia mengucapkan kata kapitalisme dering Blackberry di sakunya terdengar. Melawan kapitalisme dengan memakai jasa simbol kapitalis di negara dunia ketiga? Sama seperti berkotbah tentang bahaya homoseksualitas sambil melakukan anal seks di Sodom.

Saya memutuskan untuk menghentikan kawan baik saya ini. Ia sudah terlalu berisik.

"Jadi kamu menyembah siapa?" saya iseng bertanya.
"Ya tuhan lah, aneh kamu ini,"
"Iya tuhan siapa? Tuhan yang menciptakan Muhammad atau tuhan yang menciptakan Dajjal,"
"Tentu saja tuhan yang menciptakan Muhammad," katanya.
"Tuhan yang menciptakan hitler atau Sayid Qutb?" lanjut saya.
"tentu saja tuhan yang menciptakan Sayid Qutb," jawabnya.
"tuhan yang menciptakan Abu Lahab atau tuhan yang menciptakan Abu Bakar As Sidiq?"
"Ya tuhan yang menciptakan abu bakar. Apa-apaan kamu tanya begitu?

Sambil berdiri saya menuju pemilik warung untuk membayar makanan. Udin ternyata masih penasaran dengan pertanyaan saya. Seperti anak kecil yang merajuk-rajuk. Ia memaksa saya untuk menjelaskan maksud pertanyaan saya.

Sambil lalu menaiki motor saya kemudian menjawab pertanyaan si Udin itu.
"Maaf din, saya sudah lama bersyahadat untuk menyembah tuhan yang menciptakan Hitler, Abu Jahal, dan yang kelak menciptakan Dajjal,"
"astagfirullah antum kafir! antum sudah terjebak kedalam sekulerisme bertaubatlah," jawab Udin.
"hahaha kamu itu yang perlu tobat,"

Saya biarkan Udin sendiri di warung itu yang tampak sangat kebingungan. Sepertinya saya rindu kotbah mbah saya soal nabi Khaidir.

7 komentar:

  1. wadduh, kasian si Udin mas. Kata Derrida Tuhan realitas yang pending. Ah saya berdo'a di depan layar monitor saya sajalah. atau bersama PS, main stik dan ngopi sampai pahit

    BalasHapus
  2. tuhan brsama orang2 pemberani, trmasuk yg berani meniadakannya

    BalasHapus
  3. Itu si Udin, jangan jangan habis dicuci otaknya seperti para pelaku bom bunuh diri.
    Jadi takut saya, kalo banyak orang orang seperti Udin dinegeri ini. He he..

    Salam.. .

    BalasHapus
  4. Ojo lali sholat Dan.. Biar hatinya jernih dan analisanya akurat :)

    BalasHapus
  5. apik Dhan! sangat bagus. tapi alangkah lebih bagus apa yang dibilang ustadzahmu.

    Kamu bisa kritisisasi orang-orang macam Udin dengan kamu melakukan hal yang baik. jadi rol model ngono loh Dhan.

    aku mbaca perkataannya Si Udin kok aku dadi ketakuaan ya?. Jangan-jangan Indonesia mau dibuat seperti Somalia. perang sodara yang akibatnya rakyat jadi kelaparan. :( *gidig ngeri*

    BalasHapus
  6. andai si mase nyodorin tuhan yang menciptakan jessica snsd kira-kira udin tertarik gak ya..? ;D

    tulisannya bagus mas..

    BalasHapus