Selasa, 30 Agustus 2011

Ied Mubarak?


er.. Ied Mubarak Everyone. Yes, You too :)

Rabu, 24 Agustus 2011

Comfort Zone

Peradaban dimulai dari sebuah pertentangan. Kekuatan yang lalim dan yang lemah. Saling memangsa dalam identitas yang kemudian melebur dalam ikatan ikatan komunal. Di ujung hari manusia mengenal penaklukan dan kekuasaan. Terselamatkan konsensus bersama yang kemudian kita kenal sebagai norma.

Tapi semua seperti menjadi bahan ejekan dalam film idiocracy. Bahwa kita hanya terbentuk dari persepsi dimana kita tinggal. Bahwa sesungguhnya apa yang menjadi kebenaran diri bukan berarti menjadi kebenaran bersama. Sebuah pencarian yang berubah menjadi bildungsprozess. Pencarian jati diri.

Sekam-sekam definisi antar komunal membenturkan pencarian tadi. Bahwa apa yang menjadi sebuah standar normatif di satu kelompok, belum tentu menjadi kebenaran bagi pihak yang lainnya. Ada sebuah chaos yang bersembunyi dalam setiap definisi normal dan wajar.

Akhirnya manusia dan seperti kebanyakan dari kita mengamini bahwa normal dalam definisi normatif. Adalah mereka yang tak berbeda, tak macam-macam dan biasa-biasa saja. Seperti pepatah, menyembunyikan daun di dalam hutan, keseragaman merupakan jalan tengah bagi sebuah keselamatan.

Namun menjadi normal dan menjadi biasa saja adalah sebuah penjara. Khianat karena pada dasarnya tak pernah ada manusia yang seragam, tak pernah ada kisah yang serupa, dan tak huruf yang benar-benar sama. Maka menjadi normal adalah abnormal dan menjadi biasa adalah tidak biasa.

Mungkin ini yang kemudian menjadikan Cristopher McAndles untuk kemudian berziarah mencari pelarian. Menyigi hidup dengan jalan yang paling pejala. Melarung diri ke alam raya, sendiri dan tanpa bantuan manusia lain. Dalam pandangan manusia normal McAndles-atawa Alexander Supertramp, merupakan liyan. Kutil dan aib yang musti disimpan.

Serupa kisah dari Gadel. Dimana kejujuran Siami (yang konon merupakan nilai normatif) merupakan awal mula perusakan dan kedengkian. Kejujuran untuk mengungkap sebuah praktik curang terpaksa membuat seorang Siami harus angkat kaki dari rumahnya. Pergi karena ia adalah kutil adalah aib diantara para tengik yang sudah nyaman dalam kebohongan degil.

Kenyamanan, meski dalam comberan, adalah sebuah surga kecil yang seringkali sulit untuk ditinggalkan. Pekerjaan, status sosial, istri dan rasa sakit. Merupakan surga kecil yang tak sudi ditinggalkan. Meski sebenarnya comfort zone tadi adalah sebuah living hell. Ada ketakutan bahwa memulai dari awal lebih menyusahkan daripada bertahan dengan siksaan yang sudah ada.

Jika demikian maka benar kata Jamie Cullum dalam twenty something. Bahwasanya i'm an expert in Shakespeare, but world doesnt seem need it. Bahwa segala yang kita nilai pemberontakan sebenarnya adalah sebuah comfort zone baru. Bahwa Che yang merupakan simbol segala perlawnan harus bersanding dengan sexpistols dalam remang butik mahal di Milan. Definisi surga lebih cair daripada comfort zone itu sendiri. Bahwa ruang yang tak nyaman adalah surga, dan segala neraka adalah kenyaman itu sendiri.

Kamis, 04 Agustus 2011

Lissist


Apa yang spesial dari 4 Agustus? selain hari ini 100 tahun yang lalu nabi besar Jazz Louis Armstrong lahir di New Orleans? Aku pikir tak ada yang spesial semua masih sama saja. Tak pernah ada jazz yang benar-benar jazz. Karena apa yang kita pahami sebagai jazz adalah yang ada dalam festival! Sementara televisi tetap menyiarkan sampah bernama sinetron dan Nazarudin merasa gagah dengan caping tololnya. Semua sama, seperti komedi satir yang terlalu sering diulang.

Mungkin akan sedikit berbeda jika hari ini adalah hari lahir desainer pakaian bernama Louis Vuitton. Sialnya kamu tak pernah peduli dengan pakaian. Dengan trend terbaru atau bagaimana konstruksi masyarakat dibentuk oleh sebuah mode. Kamu dan aku percaya bahwa trend fashion adalah apa yang disebut Barthes sebagai, humiliated repetition. Sebuah bentuk pengulangan brengsek dari kebudayaan masa!

Ini hari juga hari dimana catatan hari Anne Frank ditemukan. Dimana semua yang bernama kenangan ditautkan dalam kisah. Serupa menjalin yang kokoh lagi keras. Sementara semua catatan harus bersikap bodoh dan tolol seperti Raditya Dika atau Pocongg. Padahal ada kisah kemanusiaan yang luput dijawab dari catatan Anner Frank. Ia dibunuh dan kisahnya dikabarkan karena ia menulis!

Jadi bagaimana cara merayakan kelahiran yang menurutmu tak penting ini? Ceremoni ulang tahun, sepertiu juga wisuda, adalah basa basi tengik yang sangat kau benci. Sebenci kau pada tugas menumpuk dan riset thesismu yang berlembar-lembar itu. Mungkin kita sama, sama merutuki tugas-tugas sebagai sebuah basa basi.

Lalu apakah yang menarik untuk kuberikan padamu pada hari ini? Ah kupikir sepotong sajak Maya Angelou sangat pas jika kubacakan menjelang subuh dengan segelas kopi pahit.

When You Come

When you come to me, unbidden,
Beckoning me
To long-ago rooms,
Where memories lie.

Offering me, as to a child, an attic,
Gatherings of days too few.
Baubles of stolen kisses.
Trinkets of borrowed loves.
Trunks of secret words,

I cry.

Lalu dimanakah kita? Kukira sama seperti kemarin. Masih mencari antara realitas dan hiper realitas. Serupa cita-cita Guttenberg dalam mesin cetak, bahwa sesungguhnya Alkitab berhak dibaca oleh siapa saja dan dimana saja. Bahwa kita masih mencari keping identitas diri di tengah gempuran segala yang kitsch segala yang banal dan segala yang artifisial. Tapi lekuk tawa dan kutukan itu jujur. Dan kita sama-sama mencintai kebebasan.

Kritik


In the finest critics one hears the full cry of the human. They tell one why it matters to read. Harold Bloom
Saya suka kritik. Jika kritik dimaknai sebagai sebuah hinaan, cercaan dan kata-kata pedas dari orang yang anda kenal. Well, saya suka kritik itu. Tapi bukan berarti saya kebal. Sesekali saat mood dan emosi tidak stabil saya kadang ikut tersulut dan marah. Tapi selebihnya kritik membuat saya tahu apa yang salah dan memperbaikinya dengan seksama. Mungkin terdengar naif dan sangat bijak, tapi sebenarnya itu tindakan pragmatis yang perlu dilakukan jika kita ingin terus berkembang.

Adalah Cicero yang kemudian mempekerjakan seorang budak untuk selalu berbisik kepadanya di tengah kerumunan. "Kamu adalah manusia biasa, manusia yang punya banyak salah," kira-kira seperti itu si budak berkata pada Cicero. Sebagai salah satu pemikir dan orator t terhebat Roma, Cicero selalu dalam lingkaran pujian yang tak henti-henti. Ia membutuhkan seseorang yang mengingatkan bahwa seorang Cicero adalah manusia biasa yang bisa gagal dan salah.
Adapula Louis Amstrong, legenda Jazz asal New Orleans yang lebih dikenal sebagai penyanyi (di Indonesia) daripada seorang pemain trumpet. Ia kerap kali menolak membuat satu repetoire jazz yang sama setiap manggung. Akan ada sebuah karya dan teknik baru yang ia kembangkan. Meski berulang kali menyanyikan lagu yang sama. "I will not let people to criticizes me. That Why i made whole new songs," ujarnya suatu saat. Kritik kerap kali terjadi karena repetisi dan miskinnya improvisasi.

Saya membenci kritik yang didasari oleh prasangka dan kebencian pribadi. Meski kadang saya pernah melakukannya, tapi saya tahu kebencian membuat kritik jadi tidak objektif. Seperti menilai sebuah sambal pedas tanpa mencobanya.

Selasa, 02 Agustus 2011

Pelajaran Dari Ribbon




Ada banyak hal di jagat raya ini yang menurut saya bukanlah sebuah keadilan. Tentang siapa yang mesti mendapatkan berkah dan siapa saja yang harusnya mendapatkann kutuk serapah. Namun apa menariknya dunia yang sudah pasti? Kita hanya menjadi manusia-manusia mekanis yang mengekor pada keadaan yang sudah jamak.

Salah satu hal yang menurut saya tak adil adalah saat salah satu karib perempuan saya menikah. Bukan karena saya cemburu dan merasa ditinggalkan. Tapi karena keputusannya menikah dengan kawan saya yang menyebalkan (Yes Nu kowe iku Lucky Fucking Bastard). Juga keputusannya menikah itu adalah sebuah sikap luar biasa yang menunjukan kedewasaannya. Bahwa ia telah memilih untuk menjadi seorang wanita syang benar-benar muslimah.

"Karena menikah menyempurnakan separuh agama," katanya suatu hari.

Keputusan itu entah membuat saya mengingat hari-hari jauh dibelakang saat kami pertama kali bertemu. Suatu malam di pertengahan Nopember 2007 saat rapat redaksi malam di organisasi tempat saya berproses, kedatangan seorang gadis cantik. Dengan penampilan modis yang high end dan sikap ramah yang menyenangkan. Saya tahu bahwa orang ini adalah orang yang menyenangkan.

Kelak saya mengenalnya sebagai Fatati Nur Diana. Gadis yang saat ini jumpalitan dan berjibaku dalam dunia fashion. Untuk yang satu ini saya mengagumi mentalitas dan vitalitasnya. Karena saya percaya kesuksesan itu  hasil dari akumulasi proses yang tanpa jeda. Ribbon, begitu saya memanggilnya, adalah sebenar-benarnya orang yang mampu berproses dengan runut dan liat.

Ribbon saat itu sepertinya baru saja jadian dengan Inu, salah satu fans dan penggemar saya. Meski sebenarnya saya merasa kasihan pada Ribbon yang mesti bersanding dengan lelaki tambun yang kerap tertawa sendiri sambil mengorek kuping. Tapi sekali lagi dunia memang tak adil dan keseragaman hanya melahirkan kebosanan.

Kami jarang bertemu. Saya selalu merasa kikuk, malu dan bersikap bodoh di depan wanita cantik. Ribbon jelas punya kualifikasi sebagai wanita cantik, lagi pula ia cerdas, meski terbukti tak pintar-pintar amat karena menikahi lelaki berkacamata dengan pantat super montok hehehe. 

Tapi toh Ribbon bukan gadis kebanyakan. Ia masih mau bergaul, berteman dan berbincang dengan saya yang tak jelas apa bentuknya.

Dari situ kami mulai berani bertukar kata, smsan, berbincang via telpon dan banyak hal. Karena tanpa diduga lingkaran kawan Ribbon dan saya sama. Beberapa malah kawan dekat dan sahabat baik. Ia, dalam banyak hal, mengajarkan saya bahwa penampilan bisa menipu. Sikap menghakimi juga bisa lahir dari siapapun. Bahkan saya,

Ribbon punya cita-cita sederhana. Entah masih sama atau sudah berubah. Ia ingin memiliki sebuah brand pakaian muslim. Pakaian yang mampu menyembunyikan aurat, nyaman dipakai dan juga memiliki keindahan estetik. Saya kira bertahun-tahun ditempa di kawah Candradimuka sekolah fashion terbaik Indonesia, Esmod, membuatnya menjadi seorang betari.

Jika ada hal lain yang membuat saya kagum dan benar-benar membuatnya sebagai sosok istimewa. Adalah keluasan hatinya dalam memaafkan dan bergerak maju ke depan. Ia pernah dikhianati, disakiti dan juga dibohongi. Tapi dengan sikap bijak ia bisa melalui itu. Sikapnya mengingatkan saya pada laut, yang tak pernah menuntut, pada sungai yang mengalirkan berbagai macam sampah pada dirinya.





"Ada sebuah rasa malu saat berhijab. Malu karena tak bisa beriman dengan baik. Mungkin ini munafik. Tapi saya bersyukur menjadi orang islam,"
Hal lain yang istimewa pada Ribbon adalah konsistensinya dalam berhijab. Saya akui memakai kerudung adalah sebuah sikap berat. Laku prihatin karena mempercayai bahwa aurat adalah hal sakral yang mesti dijaga. Saya kira sebagai wanita yang terpapar teknologi modern, pengetahuan barat dan pergaulan yang luas, keputusannya untuk berhijab akan melahirkan konsekwensi-konsekwensi yang tak murah.

"Ada rasa malu saat berhijab. Malu karena tak bisa beriman dengan baik," katanya.

Di atas atap rumahnya, yang juga berfungsi sebagai taman kanak-kanak, saya memandang senja yang perlahan turun. Menunggu adzan maghrib dan mengakhiri satu hari di bulan Ramadhan yang sangat magis. Kami berbincang panjang lebar mengenai keraguannya untuk menikah. Juga mengenai bagaimana ia harus bersikap mengenai karirnya. Ia, dalam imaji saya, seperti seorang pelukis yang hati-hati mengguratkan warna untuk mendapat sebuah mahakarya.

Hari ini Ribbon ulang tahun. Tak banyak lagi yang bisa saya ucapkan. Selain sepotong doa sederhana tentang hidup. Stay foolish, stay hungry.

Senin, 01 Agustus 2011

Menempuh Ramadhan, Menempuh Perjuangan


Saya benci basa-basi. Meski kadang seringkali dipaksa untuk melakukan itu. Jika sudah muak saya biasanya mohon diri dan pergi. Seperti beberapa hari ini saya menerima banyak sekali ucapan selamat berpuasa. Saya sedikit jengah dengan kata-kata yang dikirimkan kepada saya. Seperti sedang pamer moral bahwa dalam bulan Ramadhan tingkah kita harus diperbaiki. Memangnya bulan lain kita amoral?

Lalu saya juga sedikit risih dengan jahitan kata-kata yang kadang serupa basa-basi tengik. Seperti bahwa sikap baik dan kerendahan hati itu hanya akan muncul saat Ramadhan tiba. Lalu kemana saja mereka sebelas bulan sebelumnya?

Saya memang bukan santo, ulama atau umat yang baik. Setidaknya tidak berusaha membuat diri saya tampak baik dengan bersikap seolah-olah salih dengan kata-kata itu. Well Memangnya pamer moral itu penting?

Selamat menempuh Ramadahan. Ini bulan perjuangan.