Rabu, 24 Agustus 2011

Comfort Zone

Peradaban dimulai dari sebuah pertentangan. Kekuatan yang lalim dan yang lemah. Saling memangsa dalam identitas yang kemudian melebur dalam ikatan ikatan komunal. Di ujung hari manusia mengenal penaklukan dan kekuasaan. Terselamatkan konsensus bersama yang kemudian kita kenal sebagai norma.

Tapi semua seperti menjadi bahan ejekan dalam film idiocracy. Bahwa kita hanya terbentuk dari persepsi dimana kita tinggal. Bahwa sesungguhnya apa yang menjadi kebenaran diri bukan berarti menjadi kebenaran bersama. Sebuah pencarian yang berubah menjadi bildungsprozess. Pencarian jati diri.

Sekam-sekam definisi antar komunal membenturkan pencarian tadi. Bahwa apa yang menjadi sebuah standar normatif di satu kelompok, belum tentu menjadi kebenaran bagi pihak yang lainnya. Ada sebuah chaos yang bersembunyi dalam setiap definisi normal dan wajar.

Akhirnya manusia dan seperti kebanyakan dari kita mengamini bahwa normal dalam definisi normatif. Adalah mereka yang tak berbeda, tak macam-macam dan biasa-biasa saja. Seperti pepatah, menyembunyikan daun di dalam hutan, keseragaman merupakan jalan tengah bagi sebuah keselamatan.

Namun menjadi normal dan menjadi biasa saja adalah sebuah penjara. Khianat karena pada dasarnya tak pernah ada manusia yang seragam, tak pernah ada kisah yang serupa, dan tak huruf yang benar-benar sama. Maka menjadi normal adalah abnormal dan menjadi biasa adalah tidak biasa.

Mungkin ini yang kemudian menjadikan Cristopher McAndles untuk kemudian berziarah mencari pelarian. Menyigi hidup dengan jalan yang paling pejala. Melarung diri ke alam raya, sendiri dan tanpa bantuan manusia lain. Dalam pandangan manusia normal McAndles-atawa Alexander Supertramp, merupakan liyan. Kutil dan aib yang musti disimpan.

Serupa kisah dari Gadel. Dimana kejujuran Siami (yang konon merupakan nilai normatif) merupakan awal mula perusakan dan kedengkian. Kejujuran untuk mengungkap sebuah praktik curang terpaksa membuat seorang Siami harus angkat kaki dari rumahnya. Pergi karena ia adalah kutil adalah aib diantara para tengik yang sudah nyaman dalam kebohongan degil.

Kenyamanan, meski dalam comberan, adalah sebuah surga kecil yang seringkali sulit untuk ditinggalkan. Pekerjaan, status sosial, istri dan rasa sakit. Merupakan surga kecil yang tak sudi ditinggalkan. Meski sebenarnya comfort zone tadi adalah sebuah living hell. Ada ketakutan bahwa memulai dari awal lebih menyusahkan daripada bertahan dengan siksaan yang sudah ada.

Jika demikian maka benar kata Jamie Cullum dalam twenty something. Bahwasanya i'm an expert in Shakespeare, but world doesnt seem need it. Bahwa segala yang kita nilai pemberontakan sebenarnya adalah sebuah comfort zone baru. Bahwa Che yang merupakan simbol segala perlawnan harus bersanding dengan sexpistols dalam remang butik mahal di Milan. Definisi surga lebih cair daripada comfort zone itu sendiri. Bahwa ruang yang tak nyaman adalah surga, dan segala neraka adalah kenyaman itu sendiri.

5 komentar:

  1. "i'm an expert in Shakespeare, but world doesnt seem need it" JLEB!

    begitulah hidup dhan. kamu baru dikatakan berarti kalau bisa berguna buat orang lain. bagi2 thr mu misalnya :p

    BalasHapus
  2. ah kamu sok tau.. emang udah pernah plesirn di surganya akhirat? hehe.

    BalasHapus
  3. Menjadi biasa saja adalah sebuah penjara... *bravo!* *bravo!*
    :))

    BalasHapus
  4. Berubah! *dan belalang tempur pun datang dari jauh*

    BalasHapus
  5. penjara tanpa terali yang mengikuti kemanapun saya pergi

    BalasHapus