Senin, 31 Oktober 2011

Closer Kick Ass Quote Ever!


Saya selalu percaya, cinta atau apalah anda memaknainya, adalah sebuah proses apa boleh buat yang kadang terjadi secara alami. Tak perlu sedu sedan atau sebuah roman hiperbolis yang menjadikan cinta itu tereduksi maknanya. Banyak orang yang tak setuju dengan saya namun ada beberapa pula yang sepakat dengan pemahaman saya.

Sampai pada sekitar awal 2005 lalu saya menonton film Closer yang di tulis oleh Patrick Marber dan disutradarai oleh Mike Nichols. Film ini dengan kritis menyatakan penggambaran empatorang asing, dengan satu persamaan yaitu keterasingan dan birahi. Definisi cinta disini menjadi kabur dan menjadi sangat cair karena pemaknaan masing masing karakter tentang cinta sangat bias.

Karakter itu adalah Dan (Jude Law) seorang penulis obituari yang juga novelis gagal, Anna (Julia Roberts) fotografer profesional, Alice (Natalie Portman) penari telanjang dan Larry (Clive Owen) seorang dokter kulit. Masing-masing latar belakang yang berbeda ini menjadikan pemahaman mereka mengenai cinta menjadi beragam.

Plot film ini mengalir sederhana. Sesederhana anda melihat sebuah daun jatuh di taman atawa meramalkan reaksi seseorang yang sedang muak. Namun kesederhanaan inilah yang menjadikan Closer buat saya sangat personal dan intim. Karena tidak mengumbar romansa secara memuakan atau menebarkan dialog-dialog boros yang tak berguna.

Pada mulanya kisah dimulai dengan pertemuan antara Dan dan Alice yang terjadi secara tidak sengaja. Saat itu Dan menolong Alice yang mengalami kecelakaan, lalu membawanya ke rumah sakit. Dalam trailernya produser film ini membuat sebuah kutipan yang sangat monumental "Love is an accident, waiting to happens". Serupa dengan segala macam kecelakaan, jatuh cinta, bisa terasa sangat menyakitkan.

Pertemuan Alice dan Dan sendiri dimulai dengan sebuah dialog yang sangat manis. "Hello Stranger," sebuah diktum komikal. Bahwa tak pernah seorang manusia waras jatuh cinta pada orang yang dikenalnya. Rasa asing dan sikap penasaran akan seseoranglah yang membuat kita jatuh cinta.

Kisah berlanjut dengan momen dimana Dan dan Alice jatuh cinta lalu hidup bersama. Setahun berlalu, kini Dan sedang akan merilis buku yang dia tulis dimana buku tersebut terinspirasi dari kehidupan Alice. Saat itu Dan sedang berada di studio foto dari Anna. Ternyata perasaan yang mereka miliki lebih dari sekedar hubungan kerja. Walaupun begitu Anna tidak ingin menyakiti perasaan Alice dengan merebut Dan.

Ada pula sosok Larry yang merupakan suami Anna digambarkan sebagai pria yang merasa harus memiliki wanita yang dia cintai. Bisa dibilang ini adalah sebuah obsesi terhadap kepemilikan ketimbang rasa cinta. Tapi sekali lagi perasaan ingin memiliki orang yang kita cinta entah cinta tersebut tulus ataupun obsesi, adalah hal yang wajar. Erich Fromm menggambarkan ini sebagai sebuah penyimpangan eros yang melahirkan tuntutan akan kepemilikan individu (manusia lain). Tapi cinta semacam ini kerap kali melahirkan penyesalan. Karena kadang kita tak pernah sadar apa yang kita miliki sampai kita kehilangan mereka.

Penceritaan film ini yang unik dalam pemotongan momennya membuat kejutan menjadi hal yang sering terjadi. Tiap selesai satu momen dan melompat ke momen berikutnya kita akan disuguhi fakta baru yang cukup mengejutkan walau terkadang tetap ada juga yang tertebak. Adalah hal menarik dalam film romantis mempunyai twist yang cukup mengejutkan baik di tengah hingga di ending. Tapi sayang ada beberapa hal yang saya rasa menjadi agak dipaksakan. Salah satunya adalah pada fakta sebenarnya mengenai Alice yang diungkap di akhir film. Apabila selama 4 tahun ini dia sungguh-sungguh mencintai Dan, sungguh aneh dia menyembunyikan hal tersebut bukan? Kenapa juga dia malah mengatakan yang sebenarnya pada Larry?

Saya juga selalu percaya True love nerver run smooth. Serupa penantian Florentino Ariza demi cinta dari Fermina Daza selama 50 tahun. Tapi penantian adalah penyiksaan paling keji bagi mereka yang sedang jatuh cinta.

Selama film berlangsung saya tak henti-henti dibuat tercengang dengan dialog film ini yang konyol, profetik, romantis (tanpa harus puitis) dan cerdas. Meski tak bisa mengalahkan dialog dalam Before Sunset dan V for Vendetta. Berikut saya sampaikan beberapa kutipan yang menurut saya sangat keren dan kick ass!


Dan: I want Anna back.
Larry: She's made her choice.
Dan: I owe you an apology. I fell in love with her. My intention was not to make you suffer.
Larry: So where's the apology? Ya cunt.
Dan: I apologize. If you love her you'll let her go so she can be happy.
Larry: She doesn't want to be happy.
Dan: Everybody wants to be happy.
Larry: Depressives don't. They want to be unhappy to confirm they're depressed. If they were happy they couldn't be depressed anymore. They'd have to go out into the world and live. Which can be depressing.

Tapi kata si Idung teman saya yang imut berhidung mungil. Ini yang paling kick ass.

Dan : You think love is simple. You think the heart is like a diagram.
Larry : Have you ever seen a human heart? It looks like a fist, wrapped in blood! Go fuck yourself! You writer! You liar!

Agak nyindir sih. Mentang mentang penulis semuanya pembohong. Kutu kupret mah XD. oh ini kutipan lain yang agak sarkastik dan sedikit profetik.

Anna: Love bores you.
Dan : No, it disappoints me.

Hahaha i find it kinda funny though.
Yeah, she likes guilty fuck!

First as Tragedy, Then as Farce



You see or you better die in agony!

Sabtu, 29 Oktober 2011

The Bahamas - Pesta




Hampir setiap hari selama seminggu terakhir ini saya mendengarkan Pesta nya The Bahamas dengan volume tear your fuckin ear off! Hell yeah. Musik adalah eskapis paling waras dan cerdas, buat saya, jika sedang sumpek atau tertekan.

Siapa The Bahamas? Band ini berdiri tahun 2001 dengan formasi awal Conat (gitar, vokal), Moro (drum) dan Robin (bas, vokal). Awalnya hanya sebagai side-project dari personilnya, tapi kemudian malah keterusan.

Formasi pertama The Bahamas tidak bertahan lama, lantaran Moro harus kembali ke DKSB dan project Biosampler. Posisinya digantikan oleh Andry, mantan drumer band rock indie legendaris Puppen (Semoga mereka reuni Tuhaan). Persoalan belum selesai lantaran Robin memilih gabung dengan sebuah perusahaan di Bali. Akhirnya Chandra pada bas dan Dendy pada bas, meramaikan The Bahamas bersama Conat.

Ya, buat mereka yang paham scene lokal indie Bandung pasti setidaknya mendengar mereka dari kompilasi New Generation Calling. Satu album bersama Teenage Death Star (band nya Sir Dandy Harington), Boys Are Toys (Asukenapa mereka milih judul ini?), Superman Is Dead dan The Disconected.

In short, those big new rising star back there.

Gimana ceritanya bisa mendapat album ini waktu itu? Well ceritanya lumayan konyol. Waktu SMA kelas tiga saya suka seseorang. Cewek tentunya. Dan pada waktu itu, tak seperti hari ini, lagu-lagu bagus hanya diputar di MTV (how small minded i was?), Radio dan jika kau cukup kaya, membeli kasetnya.

Maka demi menyenangkan dan menarik perhatian gadis yang saya sukai itu. Saya mencari tahu apa musik yang ia suka. Dan tentu saja, seperti kebanyakan gadis muda pada tahun 200an, ia suka Westlife.. Fuck.

But man gotta do what he gotta do for his love right?

Dengan semangat saya mencari kaset westlife coast to coast. khusus buat diajeng saya tercinta. Tapi tentu saja, Tuhan selalu punya lelucon yang tak selesai. Perhatian saya malah terpaku pada sebuah kover kaset kumuh busuk berwarna kuning yang bertuliskan New Generation Calling.



Gambar depannya secara semiotis menyiratkan seorang remaja tanggung yang cuek sedang merokok. Sedang gambar dalamnya gitaris hangover dan mendapat jackpot di atas panggung. What The Fuck. Saya dilema antara membeli Westlife dan merusak peradaban atau membeli kaset busuk ini?

And here we are talking about those bahamas shit!

Puji segala Tuhan saya diselamatkan dari kebodohan purba yang melakukan apapun untuk seorang wanita. Come on, We all know who's got to blame when Adam got dumped out from heaven right? Jadi sebagai umat yang baik saya tak mau melakukan kesalahan yang sama.

Musik yang dimainkan oleh The Bahamas adalah punk rock dengan keceriaan. Lirik banyak ditulis oleh Conat yang banyak dipengaruhi oleh band punk rock macam J Church atau Green Day. Oke saat itu (dan sampai hari ini) musik mereka masih tetap sama. Cadas, lugas dan bertenaga kuda!

Enough talk let hear they sing shall we?

katanya semua
tak mungkin jalan kita beda
biarkan semua
jika tak bisa
tak ku paksa
sayangku
pacarku
malam pun berjalan biasa
ternyata temanku telah di depan menunggu

malam ini kami berpesta
seperti kemarin dan lusa
malam tak berbeda

dan ini bukannya
aku melupakan adanya
tetapi ini hanya
teman teman dan teman teman

malam ini kami berpesta
seperti kemarin dan lusa
malam tak berbeda

ku berjanji tak berkata
akan tetap tak menyapa
ku kan pulang dan bersulang
dengan hati yang menjulang

ku berjanji tak berkata
usah kau kirim mata-mata
dan kunyanyikan na na na

Jumat, 28 Oktober 2011

Epos Lancelot II

senyum yang kau buat itu Guinevere
akan kurobek pelanpelan
hingga segala airmata malaikat
berganti darah
saat melihatmu sekarat

Epos Lancelot

Apa yang kau cari di sunyi kelamnya danau itu?
Angsa hitam telah usai bertelur
dan merahnya darah pagan sudah mengering
batu batu, angin, pualam air, dingin malam

Apa yang kau cari Lancelot?
Apakah kepingan perasaan?
Yang dicerai berai badai

:hilang sesudah hujan

Bukankah tahta sudah berdiri
Kesatria meja bundar
dan kurusetra usai digelar
Tahta bergetar ditanah hitam
semua salib telah tegak
kabarkan tentang juru selamat dari gembala

Artur datang
malam usang
genderang perang
lumpur pedang
huru hara padang

Perigi danau hitam penuh dengan air mata
seperti tangisan Guinevere pada malam pertama
kabulkan segala jerit sengsara peri-peri
"tahta suci kerajaannya" katamu
"Adalah garba luka para pengembara sesat"

Lalu apakah kisikisi matamu itu Lancelot
Kebencian
Dendam
Amarah
Perih
Pedih
Luka?

"Lukaku adalah pengorbanan," katamu
pada seonggok bayangan di danau hitam
seperti Narsisus yang jatuh cinta pada bayangan
kau pun demikian
ditawan pesona ular
dalam cermin danau hitam

Katakan lah Apa yang kau cari Lancelot?

Putra raja agung Benoic
yang ditahbiskan langit sebagai penguasa
mengapa kau tanggalkan mahkota
menapaki jejak perunggu penjaga kepercayaan
putra raja, melata
Katakan Lancelot
apa yang kau cari di sunyi kelam danau hitam
bukankah pesona Guinevere yang ranum
atawa tahta kuasa britania
sudahkah kau menyerah pada ikatan-ikatan
"ibu suci bumi," katamu
"tak pernah usai memberi,"

Lalu apa yang tersisa untuk mu Lancelot?
simbol rune berpendar
jenggot merlin berkibar
:hati yang padam tak pantas hidupi cahaya
Lancelot malang, Lancelot malang
rima kebodohanmu sumbang
dikenang sepanjang jalan
orang-orang yang kalah
tak boleh ambil peran dalam sejarah

Lancelot malang, Lancelot malang
apalagi yang hendak kau korbankan
jika hatimu sudah tak di badan?



Kamis, 27 Oktober 2011

Ode To Broken Things



Things get broken
at home
like they were pushed
by an invisible, deliberate smasher.
It's not my hands
or yours
It wasn't the girls
with their hard fingernails
or the motion of the planet.

It wasn't anything or anybody
It wasn't the wind
It wasn't the orange-colored noontime
Or night over the earth
It wasn't even the nose or the elbow
Or the hips getting bigger
or the ankle
or the air.

The plate broke, the lamp fell
All the flower pots tumbled over
one by one. That pot
which overflowed with scarlet
in the middle of October,
it got tired from all the violets
and another empty one
rolled round and round and round
all through winter
until it was only the powder
of a flowerpot,
a broken memory, shining dust.

And that clock
whose sound
was
the voice of our lives,
the secret
thread of our weeks,
which released
one by one, so many hours
for honey and silence
for so many births and jobs,
that clock also
fell
and its delicate blue guts
vibrated
among the broken glass
its wide heart
unsprung.

Life goes on grinding up
glass, wearing out clothes
making fragments
breaking down
forms
and what lasts through time
is like an island on a ship in the sea,
perishable
surrounded by dangerous fragility
by merciless waters and threats.

Let's put all our treasures together
-- the clocks, plates, cups cracked by the cold --
into a sack and carry them
to the sea
and let our possessions sink
into one alarming breaker
that sounds like a river.
May whatever breaks
be reconstructed by the sea
with the long labor of its tides.
So many useless things
which nobody broke
but which got broken anyway
Ada beberapa hal yang kadang bisa rusak dan tak akan pernah kembali utuh seperti semula. Seperti kisah Murakami dalam Norwegian Woods atau seperti kisah Balthazar Odyssey yang disusun Amien Maalouf. Dan puisi ini ditulis Neruda entah kapan. Tentang hal-hal sepele dan sederhana. Mengenai lampu, piring, bunga dan jam.
Ada beberapa hal yang rusak dan tak akan pernah bisa kembali utuh. Tetapi tak selalu kerusakan itu terjadi karena keinginan. Bukankah segala hal yang rusak adalah konflik. Dan tak pernah ada manusia waras yang menginginkan konflik. Tapi kemudian memang ada beberapa hal yang harus rusak dan memang telah rusak tanpa pernah kita menginginkanya.

So many useless things
which nobody broke
but which got broken anyway

Hari Ngeblog Nasional

Dapat kabar dari blognya mas Hary Tanzil kalau setiap 27 Oktober secara syah dan meyakinkan dijadikan hari Blogger Nasional.


Sebenarnya saya baru ngeblog sejak dua tahun terakhir. Karena kanal kreatif menulis saya seolah mandeg. Bukan dalam artian negatif. Tapi di lembaga tempat dimana saya belajar menulis perlu juga regenerasi. Maka saya lebih memilih mengalah dan memberikan ruang bagi anak-anak baru untuk menulis.

Dan inilah saya masih mengasuh terumbukarya setelah sekitar 400 harian. Tapi bukankah setiap manusia itu ingin punya hal yang dibanggakan?

Sebuah usaha untuk meraih ad vitam aeternam. Menuju keabadian.

Jadi di era digital yang terlampau tengik ini. Kalian yang punya kemampuan membaca dan menulis. Kenapa tak buat keabadian di internet?

Putra Terbaik Jember


Orang di sebelah saya itu adalah living superstar. Seekor macan. Pejantan tangguh. Pemuda harapan bangsa. Dan one of Lucifer dearest friend. Aunuraman Wibisono A.K.A kaka Uyan is back in town.
Kemarin saya ditelpon oleh pak Dedy. Salah satu rekanan di Kantor Urusan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Jember. Beliau bertanya mengenai keberadaan Aunurahman Wibisono, imam besar the macan sangar, yang konon sedang menyepi di salah satu lereng merapi. Berbaur di antara khalayak ramai sebagai mahasiswa paska sarjana Universitas Gede Mbayare.

Pak Dedy juga bertanya kemungkinan untuk segera mendatangkan Uyan ke Jember dalam waktu dekat. Saya bilang itu bukan kuasa saya. Kedatangan Uyan itu seperti hits kangen band. Sehari bisa di puncak charts lagu terbaik Deringss. Tapi bisa juga menghilang saat 7icon memutuskan mengeluarkan single terbaru.

Tapi saya menyanggupi untuk menghubungi Uyan dan memintanya datang ke Jember sesegera mungkin. Tapi ada pertanyaan yang tertahan. Apa gerangan yang membuat pak Dedy salah satu Amtenarr di Pemda Jember mencari Uyan?

"Ohh usah kau tanyakan lagi wahai kisanak. Pukulun Aunurahman Wibisono telah mendapat restu dari Swargaloka," kata Pak Dedy.

"Restu apakah itu wahai bopo Dedy," tanya saya.

"Bahwasanya Pukulun Aunurahman Wibisono secara syah dan meyakinkan meraih predikat dan status sosial sebagai putra terbaik Jember 2011 dan selamanya,"

Bersamaan dengan pak Dedy mengucapkan itu, bumi bergetar, langit kelap kelip, ibu yang melahirkan tak jadi mengendan, dan para perjaka kehilangan kemaluannya. Dunia tak pernah jadi sama seperti sebelumnya.

Hikayat dibaliknya. Konon pihak Universitas Jember mengajukan permohonan putra terbaik daerah kepada Pemerintah Republik Indonesia. Melalui Kantor Pemuda dan Olahraga Kabupaten Jember.

Tak dinyana gayung ini bersambut. Berbekal prestasi telah menaklukan 15.000 cewek dan 1.200 lelaki. Uyan terpilih menjadi putra terbaik daerah. Meski ia mendapatkan sedikit poin tambahan dari artikel di koran lokal yang menyebutnya sebagai 'penulis muda Jember yang berprestasi hingga ke Jerman'.

Kembali ke pak Dedy yang dengan haru menunggu saya mengabarkan mengenai kepastian kedatangan pemuda besar harapan Jember, Uyan Wibisono.

Dan tuhan memang selalu punya lelucon yang tak selesai.

Langit baru mulai tergelincir. Saat Uyan, sang macan sangar itu, menelpon saya. Dengan penuh peluh dan rasa gentar yang berlebih saya menerima telpon itu. Di ujung sana suara falseto vokalis sex in the car ini menjalar penuh haru.

"Ono opo cuk?" katanya.

Sesungguhnya Tuhan pernah berfirman dalam Al Humazah. Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. Tapi saya tau seorang Uyan Wibisono, kakak yang bijak bestari bagi orin. Pemuda solehah bagi mamaknya itu tak sedang mengumpat sungguh-sungguh.

"Kowe dienteni nang Jember penting. Kesuk Jumat digolek bupati," kata saya.

Adalah seluruh keberanian dan tenaga saya kerahkan untuk bersikap biasa. Jikalau kak Uyan marah pastilah saya akan kurus berdiri seketika. Apalah hak saya selaku manusia biasa tak berderajat berbicara semacam itu dengan peraih beasiswa Jerman dari Historia Online? Seorang all time dynamic duo dari yang dipertuan agung pengasuh hifatlobrain? Tak ada hei kalian pembaca yang budiman.

Ternyata memang ma'rifat yang dimiliki seorang wali sekelas Uyan memang sangat tinggi. Ia rupanya telah dalam perjalanan menuju Jember. Oh bukan, tidak. Dia tidak sedang menaiki kereta eksekutif sancaka atawa menaiki Buraq. Tapi ia dengan rendah hati, tidak sombong dan santun serupa Rafi Ahmad. Memilih menaiki kereta ekonomi sejuta umat Sri Tanjung!

Dengan adanya kepastian kedatangan Uyan Wibisono. Hati pak Dedy langsung sumringah. Musim hujan langsung meraba Jember. Kemarau yang tak henti terjadi selama delapan dekade terakhir berakhir. Memang sesungguhnya Dajjal itu membawa kebaikan semu.

Dan inilah. Saya menunggu detik detik penyerahan penghargaan putra terbaik Jember kepada pukulun Uyan. Oh sepertinya siang terlalu terik hari ini.

Angela's Word


"Eskapisme itu candu. Lebih baik kamu menghadapinya daripada berkutat dalam eskapisme yang berlarut-larut. Karena sebesar apapun kamu coba. Kenangan mungkin bisa terlupakan, tapi rasa itu abadi. Sama dengan hukum kekekalan energi. Ingatan yang hilang tak pernah mampu menghapus rasa. Mungkin ini waktunya untuk melepaskan. Sesederhana itu."
Angela Betsy - 26-10-11

Senin, 17 Oktober 2011

a quotes from Neil Gaiman

~ S.F.K


“Have you ever been in love? Horrible isn't it? It makes you so vulnerable. It opens your chest and it opens up your heart and it means that someone can get inside you and mess you up. You build up all these defenses, you build up a whole suit of armor, so that nothing can hurt you, then one stupid person, no different from any other stupid person, wanders into your stupid life...You give them a piece of you. They didn't ask for it. They did something dumb one day, like kiss you or smile at you, and then your life isn't your own anymore. Love takes hostages. It gets inside you. It eats you out and leaves you crying in the darkness, so simple a phrase like 'maybe we should be just friends' turns into a glass splinter working its way into your heart. It hurts. Not just in the imagination. Not just in the mind. It's a soul-hurt, a real gets-inside-you-and-rips-you-apart pain. I hate love.”

Kamis, 06 Oktober 2011

Saat Malam usai dan cahaya mulai muncul




“Apakah kamu suka memandang bintang Wesi?” katanya dengan tetap tidak melihat wajahku.

Malam terlalu larut untuk bisa dipahami dengan sebuah kalimat tanya. Ada retakan-retakan kisah yang perlu ditambal untuk bisa menelaah pertanyaan sederhana semacam itu. Apalagi setelah seharian tak berhenti membaca 200 lembar naskah Bahasa jerman. Otakku terlalu letih bahkan untuk mencerna kata-kata itu sendiri.

“Kadang, tapi tidak sering. Aku tak suka melihat hal hal yang tak begitu jelas.”

“Tidak begitu jelas?”

“Ya, bintang itu.. seperti fatamorgana. Kita hanya menginterpertasikannya. Dari buku-buku sains yang seringkali gagal menyederhanakan makna,”

“Hmm.. Ribet,” jawabmu sambil tersenyum.

Ah senyum itu. membentuk sudut kecil yang melumpuhkan. Benar kata Mamadd. Kamu punya senyum sederhana paling mematikan se dunia.

“Aku suka bintang. Warnanya kuning. Aku suka kuning keemasan yang temaram dan mau pudar,”

“Kuning? Aneh. Kukira kamu suka warna jingga,”

“Kamu sok tau wesi,” katanya sambil terenyum. Ah senyum itu. Senyum paling mematikan sedunia.

Kukira malam sudah beranjak pagi. Jalanan di Sudirman sudah tiris kendaraan bising yang memperkosa sudut-sudutnya dengan beringas. Kota ini sudah waktunya dimusnahkan. Jakarta adalah sengkarut kota zombie yang menyesakkan bagi mahluk hidup. Dan aku adalah bagian dari zombie itu. menunggu untuk kemudian dihancurkan. Hilang dari peradaban busuk bernama Jakarta. Sayangnya Nuklir hanya sekali digunakan untuk menghancurkan sebuah peradaban. Itupun gagal.

“Mikir apa?” katamu memecah kesunyian.

“Kira-kira apa jadinya kalau malam itu tidak ada bintang? Seperti mati lampu masal yang tak ada akhirnya. Langit disapu kuas warna hitam pekat. Tapi kali ini untuk selamanya,” kataku asal bicara.

Wajahmu sekilas memucat. Ada ketakutan yang samar. Seperti pesakitan yang akan tamat di ujung bedil pasukan pembunuh. Ketakutan itu muncul perlahan. Samar bahkan kini hilang sama sekali. Ah brengsek kenapa aku khawatir? Dan bodohnya kenapa aku tak membawa jaket? Malam sial ini pasti akan jadi panjang.

“Kenapa? Kok malah kamu yang diam?”

“Ah tidak, mungkin pikiran tentang gelap yang abadi itu terlalu menakutkan buatku, aku selalu benci gelap,”

“Tapi kamu suka bintang. Aneh. Mana ada bintang saat terang?”

“Maksudku kegelapan yang mutlak. Itu.. menakutkan wesi,”

Menakutkan? Biar kuberitahu kau apa yang menakutkan. Besok aku harus menyelesaikan empat ratus terjemahan tentang naskah apokalips berbahasa Jerman. Dan kini kamu memaksaku mendengarkan ceracaumu tentang bintang. Hei. Jadi penerjemah itu susah. Jika bukan karena aku kangen sudut kecil senyummu itu. Senyum paling mematikan di dunia. Tak sudi aku berdiri diatas atap gedung perkantoran Jakarta yang tengik ini.

“Hmm aku kadang berfikir ada milyaran bintang diangkasa,”

“Gak sampai milyaran, mungkin hanya jutaan,”

Whatever, I mean, setiap bintang itu pasti ditujukan untuk satu hal kan? Seperti navigasi atau indikator musim,”

Kamu bersemangat sekali menjelaskan perihal bintang itu. Tentang warna kuning keemasan yang muncul sebagai reaksi radiasi nuklir. Tentang cahayanya yang akan tetap ada meski bintang itu telah mati. Tentang bagaimana susunan rasi bintang itu dibuat Berdasarkan mitologi yunani yang berbeda antar satu hal yang lainnya. Tapi buatku semua itu tak penting. Kukira melihatmu bersemangat dan bergerak kesana kesini seperti tupai jauh lebih menyenangkan.

“Hmm sampai mana aku tadi?” katamu pusing sendiri.

“Sampai bangsa viking,” jawabku singkat.

“Ah iya. Bangsa viking percaya bintang itu adalah jiwa-jiwa pemberani yang sedang bertarung di valhalla. Medan perang abadi,”

“Orang-orang bodoh,”

“Hah?”

“Cuma orang bodoh yang berperang. Apalagi perang abadi. Bodohnya kuadrat,”

“Perang. Parang. Padang. Pedang. Namamu. Parang Wesi. Kukira kamu suka hal hal yang bau kekerasan. Seperti perang,”

Aih. Kadang kala pikiranmu yang sederhana itu mengejutkan. Seperti juga pertanyaan-pertanyaan mu yang serupa petasan. Tak pernah jelas apa ujung pangkalnya.

hmm hmm nana mhhmm mumumu,”

“Nyanyi?

“Lebih seperti merintih. Kamu pernah kehilangan Wesi?”

“Tentu. Siapa yang tidak?”

“Kehilangan itu kadang menyesakan. Meninggalkan ruang hampa yang seringkali lambat untuk kemudian dipenuhi. Ruang kosong itu lalu menekan-nekan kamu seolah mendesak untuk segera diisi yang baru,”

Kamu salah alamat cerita seperti ini padaku. Penerjemah hanya mengartikan apa maksud kata-kata asing kedalam bahasa yang lebih mudah dipahami. Tapi seorang penerjemah tak pernah benar-benar paham apa maksud si penulis dalam karya-karyanya. Kalimatmu mengenai kehilangan itu tak lebih dari sekedar lalu kata yang bahkan besok tak akan kuingat.

“Kok diem? Sekarang aku yang ribet ya?”

Ada baiknya hal-hal yang terlalu menyakitkan untuk diingat kita simpan saja dalam kotak besi. Kita kunci. Lalu larung ke samudra jauh. Bersamanya lumatkan kunci pembuka kenangan itu, biar luluh lantak dan tak kembali lagi,”



Kita berdua lantas diam. Seperti bersepakat untuk tak lagi melanjutkan pembahasan mengenai kehilangan. Jakarta dan kehilangan. Dua resep manjur untuk kemudian meloncat dari gedung berlantai 70 ini. jatuh berdebam dengan kepala hancur dan otak berceceran. Mungkin judulnya akan keren di koran. Kepala penerjemah pecah. Rimanya sangat estetis.

“Tapi.. mungkin jika kamu melakukan itu Wesi. Aku akan melompat ke laut. Berenang mengejar kotak itu. membuka paksa dan mencari isinya,” katamu lirih.

“Kurang kerjaan,” kataku singkat.

Angin malam semakin jalang menerjang. Dan sialnya berkaus tanpa jaket di Jakarta yang kukira panas tak membuatku kebal angin. Sementara kamu masih asik menikmati langit. Sesekali menatap lampu-lampu kota yang berkerumun. Seperti ilalang.

“Kamu tahu? Saat kita mati. Kita hanya hidup dalam kenangan masing-masing orang yang kita kenal. Seperti hidup dalam dimensi yang berbeda. Ingatan tetang senyum. Wangi. Kata-kata. Sikap dan perilaku. Aku tak ingin mati dilupakan,” katamu tiba-tiba.

Yak kematian. Kehilangan, kematian dan Jakarta. Apalagi yang akan kamu tambahkan? Mumpung masih subuh. Dan kemungkinan besar naskahku tak akan selesai dalam waktu dekat. Ada baiknya aku meloncat dari lantai ini setelah mengetahui resep keempat kematian ala Jakarta.

“Bintangnya makin banyak. Warnanya juga indah. Kuning yang muram. Kuning yang luluh,”

“ Kukira kamu harus mulai membuat garis batas mengenai alur pikiranmu yang aneh itu R,”

“Aneh?”

“Kamu terlalu banyak berpikir aneh. Bergaul dengan Mamadd membuatmu aneh. Lelaki dengan imajinasi sepertinya sudah menerabas dinding kenyataan dengan persepsi yang tumpul,”

“Aaaah.. bisa gak sih sekali kali antara kalian berdua bicara dengan bahasa manusia yang bisa dipahami?” katamu merajuk.

“Baiklah. Begini. Akan aku buatkan sebuah garis. Misalnya ini adalah kenyataan dan sisi lainnya adalah fantasi, mimpi, atau apalah yang kamu mau,” kataku seraya membuat garis imajiner.

“Terus? Fungsinya?”

“Saat kamu berada disisi kenyataan. Berhenti mikir yang aneh-aneh. Terlalu banyak bermimpi membuat otakmu tumpul. Mungkin perlu ada orang waras yang menarikmu untuk tetap di sisi kenyataan daripada berkubang dalam imajinasi,”

“Kamu ngok sekali. Nggak banget,”

Ya. Aku nggak banget karena diam disini menemani celotehanmu soal bintang. Kemarin soal hujan dan entah besok tentang apa.

“Tapi.. mungkin itu benar. Aku butuh seseorang buat menarikku dari garis batas mimpi dan kenyataan,”

“Hah! Labil” kataku berteriak.

Lalu keheningan malam di atas langit jakarta yang bertebaran bintang itu pecah dengan suara gelak tawa. Tawa renyah yang lepas dari beban. Kamu tertawa keras sambil menahan kejang di perut. Ah oke ini resep keempat kukira. Tinggal menunggu momen untuk loncat dari gedung brengsek ini. Tapi senyum kamu. Senyum paling mematikan di dunia itu. seperti meluber keluar. Menciprati perasaanku dengan perasaan haru yang pekat.

“Hahaha ah. Oke kamu lucu sekali malam ini wesi. Lucu sekali,”

“heh? Lucu darimana pula?”

“Labil.. kamu perlu tiga tahun untuk tahu kalau aku ini labil,” katamu sambil menahan tawa.

Oke aku akan meloncat dari gedung ini sekarang juga. Tapi sebentar. Senyum itu. senyum paling mematikan dunia. Tapi tunggu sebentar. Harusnya aku sudah mati dari tadi. Oh iya, lagipula aku kan zombie. Mayat hidup yang dipaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan berak, makan, ngentot dan bergosip. Jadi ah mungkin loncatnya besok saja. Senyum sialan. Senyum paling mematikan se dunia.

“Eh mungkin kamu benar mengenai bintang-bintang ini R,”

“Ehhehe. Sebentar aku selesaikan tawa ini dulu. Err.. benar tentang apa Wesi,”

“Mengenai bintang ini diciptakan untuk suatu hal,”

“Oh ya? Jadi menerutmu bintang-bintang ini diciptakan untuk apa?”

“Untuk kamu,”

Hadeehh… come on. You gotta do more than that to flirt me,”

“Bah. Kalau aku mau merayumu. Bakal ku sayat tangan ini dan kubiarkan darahnya mengering buatmu percaya, masalahnya ini bukan rayuan,”

“Lantas?”

“Ini waktunya aku menyelesaikan naskah terjemahanku. Dan kini kamu bisa nikmati sendiri bintang yang semakin menguning terang itu,”

Aku lantas beranjak pergi dari atap gedung brengsek itu. kisi-kisi temboknya merayuku untuk segera meloncat dan mengakhiri karir penerjemahku. Kuputuskan melangkah pergi menuju pintu masuk gedung. Lalu kamu memanggilku dengan suara yang cukup kencang. Deru angin yang mulai brengsek meredam segala suara yang tak terlalu pelan.

“hmm terimakasih ya?”

“Untuk apa?”

“Menemaniku labil,”

“Bah konyol. Kamu lihat saja bintang-bintang itu. Pagi ini mereka bersinar istimewa cuma buat kamu,” kataku sambil berteriak.

“Istimewa?”

“Liat cahaya bintang-bintang itu pagi ini, mereka bikin kulit dan rambut kamu menjadi sangat indah,”

“GOMBAAL,” katamu sambil berteriak.

Tentu saja aku gombal. Tapi siapa yang tidak?


*Jember 4 Oktober

Menunggu Hujan


"Apa yang akan terjadi padamu 10 tahun lagi," katanya tiba-tiba,

Senja yang sedari tadi sibuk kupandangi seperti hendak rubuh. Apa pula maksud pertanyaan ini? Selalu saja ada pertanyaan ajaib yang kadangkala tak habis pikir muncul darimana. Seperti siapa pencipta sambal. Mengapa langit mendung warnanya keruh dan siapa sebenarnya Godot itu. Pertanyaan pertanyaan yang kerapkali harus kuhindari dengan pura-pura sakit perut.

"Nggak tahu," jawabku singkat.

Kita sama-sama tahu. Aku benci merencanakan masa depan. Itu perkara bodoh. Merencanakan masa depan itu bertindak seolah Tuhan. Belum lagi repotnya berpikir mengenai hal-hal ini dan itu. Pekerjaan yang melelahkan.

Kamu diam. Diam yang merajuk. Seperti tak puas dengan jawabanku. Tentu kamu tak puas. Aku saja tak puas. Itu sekedar jawaban. Aku malas berpanjang debat mengenai hal-hal yang bahkan kita tak tahu apa tujuannya. Seperti masa depan dan ingatan yang lunas.

"Kamu tak serius, ayolah coba pikirkan" serumu.

Bah. Sejak kapan manusia harus tahu mau jadi apa ia kedepan. Jika kujawab jadi nabi pun kamu pasti akan anggap aku bercanda. Terlalu banyak kemungkinan-kemungkinan picik dimasa depan yang membuat rencana kita itu gagal. Dan jika gagal hanya ada sedert kekecewaan yang menunggu penjelasan-penjelasan basi. Bahwa hidup tak adi. Tuhan tak ada dan bla bla bla.

"Pawang hujan,"

"Kenapa pawang hujan?"

"Menyenangkan melihat mendung. Berkuasa atas hal hal yang dibenci di perjalanan,"

"Perjalanan?"

Berbicara denganmu membutuhkan stamina seorang porter Mahalangur di puncak Everest. Kamu tak pernah puas dengan jawaban yang berkutat pada ya dan tidak. Aku sendiri heran mengapa kau tak jadi detektif atau seorang interogator. Pertanyaanmu serupa ranjau darat.

"Aiss.... Banyak pejalan yang bergantung pada cuaca untuk melakukan sebuah perziarahan,"

"Lalu?"

"Jika hujan mereka cenderung diam dirumah. Beberapa orang berpikir tetes hujan dan basah dapat membunuh mereka,"

"Ribet! Lebih singkat. Jangan pakai filsafat. Aku tak seperti kamu,"

Aih! Kenapa segala hal ini harus di jelaskan dengan sederhana?

"Pertanyaanmu rumit. Ganti yang lain sajalah,"

"Ah tidak. Kamu malas berpikir. Ayolah,"

Aku benci melihatmu memohon. Memohon dengan mata teduh dengan bulat pupil serupa anak ayam.

"Andaikan hujan adalah sebuah perjudian. Mendung dan perjalanan jauh adalah sepasang variabel yang mempengaruhi perjudian. Para peziarah pasti berharap hujan tak datang."

"Masih ribet Madd. Yang sederhana saja. Kenapa kamu gak bisa menjelaskan sederhana seperti Wesi?"

Anjing. Nama itu. Wesi, sahabatku. Jadi kamu masih berhubungan dengannya. Aku beranjak malas menjelaskan.

"Kenapa diam?"

Ah sial! Tatapan mata itu lagi.

"Andaikan kamu sedang pulang kuliah. Lapar. Tak bawa uang. Dan satu-satunya penyelamatmu adalah pulang kerumah dan makan. Sedang kamu membawa banyak kertas riset selama sebulan. Dan awan hitam datang. Mendung terlampau pekat. Disertai petir dan kilat. Apa yang kamu harapkan,"

"Menunggu seseorang mengantarkanku pulang,"

"Aih. Andaikan pula Kau sendirian,"

"Ah kamu bertele-tele katakan saja, apa maksudmu,"

"Apa yang diharapkan dari sebuah perjalanan panjang tanpa perlindungan dengan kemungkian hujan deras?"

"Tentu aku berharap tak hujan. Tapi apa hubungannya dengan pawang hujan?"

Aha. Aku selalu suka wajahmu yang mencari tahu. Ekspresi penasaran yang melahirkan kerutan di lekuk pipimu.

"Pawang hujan punya kuasa untuk menentukan hujan turun atau tidak,"

"Ah sok bersikap tuhan!"

"Baaah. Apa bedanya pertanyaanmu mengenai apa yang terjadi padaku 10 tahun lagi?"

Hening datang. Senyap yang lindap ini merongrong suasana sore di Patehan. Sementara Alun-alun Kidul masih sama seperti tadi saat kita berjalan. Ramai dengan segala keramaian dan hingar bingar para warga yang bercengkrama.

"Kalau aku Madd. 10 tahun lagi Aku akan punya anak. Banyak sekali. lima anak yang lucu-lucu," katamu.

Anak? Bah. Mengurus seekor maskoki saja kamu gagal. Bagaimana pula mengurus anak.

"Anak-anak itu manusia sempurna R. Bukan seekor maskoki yang bila mati bisa kau ganti dengan iguana,"

"Aaaaaaah. Biarlah. 10 tahun lagi aku akan jauh lebih bijak,"

Demi segala demit penguasa laut kidul. Bijak? Itu hal terakhir yang kuharapkan berubah darimu R. Membayangkanmu bijak sama seperti membayangkan Nurdin Halid berkuasa sebagai presiden.

"Kamu yang sekarang sudah sempurna. Hanya.. Sikap cerobohmu saja perlu kau rubah,"

"Ceroboh ya.."

Ada sebuah perasaan menyesal saat kamu menghela nafas. Seolah waktu berhenti dengan ditubruk serangkaian benci tertahan.

"Tapi Madd.. Kamu pernah menunggu hujan?"

"Tidak. Aku selalu melawan hujan. Perkara basah itu urusan nanti,"

"Kamu tahu. Menunggu hujan itu seperti menunggu kepastian. Seperti kamu tahu ada hal yang menyedihkan terjadi. Tapi selepas itu akan cerah,"

"It can't rains forever," kataku perlahan.

"Hah?"

"Ah nggak. Aku tak suka menunggu hujan. Kamu harus lawan basah itu untuk sampai ke tujuan,"

"Tapi tak semua orang sepertimu Madd. Cobalah untuk menunggu hujan sekali saja. Kamu akan tahu, kadang kita perlu menunggu lebih lama untuk merasakan sebuah keindahan,"

"Tak pernah ada kesenangan dalam menunggu R. Kelak di Akhirat siksaan manusia bukan neraka. Tapi menunggu kepastian itu sendiri,"

Lalu hening datang. Senja sudah rubuh. Dan lampu mulai hidup di Patehan. Seperti kunang-kunang yang beranjak terbang.

Jember. 1 Oktober.