Kamis, 27 Oktober 2011

Putra Terbaik Jember


Orang di sebelah saya itu adalah living superstar. Seekor macan. Pejantan tangguh. Pemuda harapan bangsa. Dan one of Lucifer dearest friend. Aunuraman Wibisono A.K.A kaka Uyan is back in town.
Kemarin saya ditelpon oleh pak Dedy. Salah satu rekanan di Kantor Urusan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Jember. Beliau bertanya mengenai keberadaan Aunurahman Wibisono, imam besar the macan sangar, yang konon sedang menyepi di salah satu lereng merapi. Berbaur di antara khalayak ramai sebagai mahasiswa paska sarjana Universitas Gede Mbayare.

Pak Dedy juga bertanya kemungkinan untuk segera mendatangkan Uyan ke Jember dalam waktu dekat. Saya bilang itu bukan kuasa saya. Kedatangan Uyan itu seperti hits kangen band. Sehari bisa di puncak charts lagu terbaik Deringss. Tapi bisa juga menghilang saat 7icon memutuskan mengeluarkan single terbaru.

Tapi saya menyanggupi untuk menghubungi Uyan dan memintanya datang ke Jember sesegera mungkin. Tapi ada pertanyaan yang tertahan. Apa gerangan yang membuat pak Dedy salah satu Amtenarr di Pemda Jember mencari Uyan?

"Ohh usah kau tanyakan lagi wahai kisanak. Pukulun Aunurahman Wibisono telah mendapat restu dari Swargaloka," kata Pak Dedy.

"Restu apakah itu wahai bopo Dedy," tanya saya.

"Bahwasanya Pukulun Aunurahman Wibisono secara syah dan meyakinkan meraih predikat dan status sosial sebagai putra terbaik Jember 2011 dan selamanya,"

Bersamaan dengan pak Dedy mengucapkan itu, bumi bergetar, langit kelap kelip, ibu yang melahirkan tak jadi mengendan, dan para perjaka kehilangan kemaluannya. Dunia tak pernah jadi sama seperti sebelumnya.

Hikayat dibaliknya. Konon pihak Universitas Jember mengajukan permohonan putra terbaik daerah kepada Pemerintah Republik Indonesia. Melalui Kantor Pemuda dan Olahraga Kabupaten Jember.

Tak dinyana gayung ini bersambut. Berbekal prestasi telah menaklukan 15.000 cewek dan 1.200 lelaki. Uyan terpilih menjadi putra terbaik daerah. Meski ia mendapatkan sedikit poin tambahan dari artikel di koran lokal yang menyebutnya sebagai 'penulis muda Jember yang berprestasi hingga ke Jerman'.

Kembali ke pak Dedy yang dengan haru menunggu saya mengabarkan mengenai kepastian kedatangan pemuda besar harapan Jember, Uyan Wibisono.

Dan tuhan memang selalu punya lelucon yang tak selesai.

Langit baru mulai tergelincir. Saat Uyan, sang macan sangar itu, menelpon saya. Dengan penuh peluh dan rasa gentar yang berlebih saya menerima telpon itu. Di ujung sana suara falseto vokalis sex in the car ini menjalar penuh haru.

"Ono opo cuk?" katanya.

Sesungguhnya Tuhan pernah berfirman dalam Al Humazah. Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. Tapi saya tau seorang Uyan Wibisono, kakak yang bijak bestari bagi orin. Pemuda solehah bagi mamaknya itu tak sedang mengumpat sungguh-sungguh.

"Kowe dienteni nang Jember penting. Kesuk Jumat digolek bupati," kata saya.

Adalah seluruh keberanian dan tenaga saya kerahkan untuk bersikap biasa. Jikalau kak Uyan marah pastilah saya akan kurus berdiri seketika. Apalah hak saya selaku manusia biasa tak berderajat berbicara semacam itu dengan peraih beasiswa Jerman dari Historia Online? Seorang all time dynamic duo dari yang dipertuan agung pengasuh hifatlobrain? Tak ada hei kalian pembaca yang budiman.

Ternyata memang ma'rifat yang dimiliki seorang wali sekelas Uyan memang sangat tinggi. Ia rupanya telah dalam perjalanan menuju Jember. Oh bukan, tidak. Dia tidak sedang menaiki kereta eksekutif sancaka atawa menaiki Buraq. Tapi ia dengan rendah hati, tidak sombong dan santun serupa Rafi Ahmad. Memilih menaiki kereta ekonomi sejuta umat Sri Tanjung!

Dengan adanya kepastian kedatangan Uyan Wibisono. Hati pak Dedy langsung sumringah. Musim hujan langsung meraba Jember. Kemarau yang tak henti terjadi selama delapan dekade terakhir berakhir. Memang sesungguhnya Dajjal itu membawa kebaikan semu.

Dan inilah. Saya menunggu detik detik penyerahan penghargaan putra terbaik Jember kepada pukulun Uyan. Oh sepertinya siang terlalu terik hari ini.

2 komentar:

  1. emang dalam rangka apa gitu bang ?

    btw wartawan radar gak tau paska itu salah? :p yang bener pasca bang

    BalasHapus