Kamis, 06 Oktober 2011

Saat Malam usai dan cahaya mulai muncul




“Apakah kamu suka memandang bintang Wesi?” katanya dengan tetap tidak melihat wajahku.

Malam terlalu larut untuk bisa dipahami dengan sebuah kalimat tanya. Ada retakan-retakan kisah yang perlu ditambal untuk bisa menelaah pertanyaan sederhana semacam itu. Apalagi setelah seharian tak berhenti membaca 200 lembar naskah Bahasa jerman. Otakku terlalu letih bahkan untuk mencerna kata-kata itu sendiri.

“Kadang, tapi tidak sering. Aku tak suka melihat hal hal yang tak begitu jelas.”

“Tidak begitu jelas?”

“Ya, bintang itu.. seperti fatamorgana. Kita hanya menginterpertasikannya. Dari buku-buku sains yang seringkali gagal menyederhanakan makna,”

“Hmm.. Ribet,” jawabmu sambil tersenyum.

Ah senyum itu. membentuk sudut kecil yang melumpuhkan. Benar kata Mamadd. Kamu punya senyum sederhana paling mematikan se dunia.

“Aku suka bintang. Warnanya kuning. Aku suka kuning keemasan yang temaram dan mau pudar,”

“Kuning? Aneh. Kukira kamu suka warna jingga,”

“Kamu sok tau wesi,” katanya sambil terenyum. Ah senyum itu. Senyum paling mematikan sedunia.

Kukira malam sudah beranjak pagi. Jalanan di Sudirman sudah tiris kendaraan bising yang memperkosa sudut-sudutnya dengan beringas. Kota ini sudah waktunya dimusnahkan. Jakarta adalah sengkarut kota zombie yang menyesakkan bagi mahluk hidup. Dan aku adalah bagian dari zombie itu. menunggu untuk kemudian dihancurkan. Hilang dari peradaban busuk bernama Jakarta. Sayangnya Nuklir hanya sekali digunakan untuk menghancurkan sebuah peradaban. Itupun gagal.

“Mikir apa?” katamu memecah kesunyian.

“Kira-kira apa jadinya kalau malam itu tidak ada bintang? Seperti mati lampu masal yang tak ada akhirnya. Langit disapu kuas warna hitam pekat. Tapi kali ini untuk selamanya,” kataku asal bicara.

Wajahmu sekilas memucat. Ada ketakutan yang samar. Seperti pesakitan yang akan tamat di ujung bedil pasukan pembunuh. Ketakutan itu muncul perlahan. Samar bahkan kini hilang sama sekali. Ah brengsek kenapa aku khawatir? Dan bodohnya kenapa aku tak membawa jaket? Malam sial ini pasti akan jadi panjang.

“Kenapa? Kok malah kamu yang diam?”

“Ah tidak, mungkin pikiran tentang gelap yang abadi itu terlalu menakutkan buatku, aku selalu benci gelap,”

“Tapi kamu suka bintang. Aneh. Mana ada bintang saat terang?”

“Maksudku kegelapan yang mutlak. Itu.. menakutkan wesi,”

Menakutkan? Biar kuberitahu kau apa yang menakutkan. Besok aku harus menyelesaikan empat ratus terjemahan tentang naskah apokalips berbahasa Jerman. Dan kini kamu memaksaku mendengarkan ceracaumu tentang bintang. Hei. Jadi penerjemah itu susah. Jika bukan karena aku kangen sudut kecil senyummu itu. Senyum paling mematikan di dunia. Tak sudi aku berdiri diatas atap gedung perkantoran Jakarta yang tengik ini.

“Hmm aku kadang berfikir ada milyaran bintang diangkasa,”

“Gak sampai milyaran, mungkin hanya jutaan,”

Whatever, I mean, setiap bintang itu pasti ditujukan untuk satu hal kan? Seperti navigasi atau indikator musim,”

Kamu bersemangat sekali menjelaskan perihal bintang itu. Tentang warna kuning keemasan yang muncul sebagai reaksi radiasi nuklir. Tentang cahayanya yang akan tetap ada meski bintang itu telah mati. Tentang bagaimana susunan rasi bintang itu dibuat Berdasarkan mitologi yunani yang berbeda antar satu hal yang lainnya. Tapi buatku semua itu tak penting. Kukira melihatmu bersemangat dan bergerak kesana kesini seperti tupai jauh lebih menyenangkan.

“Hmm sampai mana aku tadi?” katamu pusing sendiri.

“Sampai bangsa viking,” jawabku singkat.

“Ah iya. Bangsa viking percaya bintang itu adalah jiwa-jiwa pemberani yang sedang bertarung di valhalla. Medan perang abadi,”

“Orang-orang bodoh,”

“Hah?”

“Cuma orang bodoh yang berperang. Apalagi perang abadi. Bodohnya kuadrat,”

“Perang. Parang. Padang. Pedang. Namamu. Parang Wesi. Kukira kamu suka hal hal yang bau kekerasan. Seperti perang,”

Aih. Kadang kala pikiranmu yang sederhana itu mengejutkan. Seperti juga pertanyaan-pertanyaan mu yang serupa petasan. Tak pernah jelas apa ujung pangkalnya.

hmm hmm nana mhhmm mumumu,”

“Nyanyi?

“Lebih seperti merintih. Kamu pernah kehilangan Wesi?”

“Tentu. Siapa yang tidak?”

“Kehilangan itu kadang menyesakan. Meninggalkan ruang hampa yang seringkali lambat untuk kemudian dipenuhi. Ruang kosong itu lalu menekan-nekan kamu seolah mendesak untuk segera diisi yang baru,”

Kamu salah alamat cerita seperti ini padaku. Penerjemah hanya mengartikan apa maksud kata-kata asing kedalam bahasa yang lebih mudah dipahami. Tapi seorang penerjemah tak pernah benar-benar paham apa maksud si penulis dalam karya-karyanya. Kalimatmu mengenai kehilangan itu tak lebih dari sekedar lalu kata yang bahkan besok tak akan kuingat.

“Kok diem? Sekarang aku yang ribet ya?”

Ada baiknya hal-hal yang terlalu menyakitkan untuk diingat kita simpan saja dalam kotak besi. Kita kunci. Lalu larung ke samudra jauh. Bersamanya lumatkan kunci pembuka kenangan itu, biar luluh lantak dan tak kembali lagi,”



Kita berdua lantas diam. Seperti bersepakat untuk tak lagi melanjutkan pembahasan mengenai kehilangan. Jakarta dan kehilangan. Dua resep manjur untuk kemudian meloncat dari gedung berlantai 70 ini. jatuh berdebam dengan kepala hancur dan otak berceceran. Mungkin judulnya akan keren di koran. Kepala penerjemah pecah. Rimanya sangat estetis.

“Tapi.. mungkin jika kamu melakukan itu Wesi. Aku akan melompat ke laut. Berenang mengejar kotak itu. membuka paksa dan mencari isinya,” katamu lirih.

“Kurang kerjaan,” kataku singkat.

Angin malam semakin jalang menerjang. Dan sialnya berkaus tanpa jaket di Jakarta yang kukira panas tak membuatku kebal angin. Sementara kamu masih asik menikmati langit. Sesekali menatap lampu-lampu kota yang berkerumun. Seperti ilalang.

“Kamu tahu? Saat kita mati. Kita hanya hidup dalam kenangan masing-masing orang yang kita kenal. Seperti hidup dalam dimensi yang berbeda. Ingatan tetang senyum. Wangi. Kata-kata. Sikap dan perilaku. Aku tak ingin mati dilupakan,” katamu tiba-tiba.

Yak kematian. Kehilangan, kematian dan Jakarta. Apalagi yang akan kamu tambahkan? Mumpung masih subuh. Dan kemungkinan besar naskahku tak akan selesai dalam waktu dekat. Ada baiknya aku meloncat dari lantai ini setelah mengetahui resep keempat kematian ala Jakarta.

“Bintangnya makin banyak. Warnanya juga indah. Kuning yang muram. Kuning yang luluh,”

“ Kukira kamu harus mulai membuat garis batas mengenai alur pikiranmu yang aneh itu R,”

“Aneh?”

“Kamu terlalu banyak berpikir aneh. Bergaul dengan Mamadd membuatmu aneh. Lelaki dengan imajinasi sepertinya sudah menerabas dinding kenyataan dengan persepsi yang tumpul,”

“Aaaah.. bisa gak sih sekali kali antara kalian berdua bicara dengan bahasa manusia yang bisa dipahami?” katamu merajuk.

“Baiklah. Begini. Akan aku buatkan sebuah garis. Misalnya ini adalah kenyataan dan sisi lainnya adalah fantasi, mimpi, atau apalah yang kamu mau,” kataku seraya membuat garis imajiner.

“Terus? Fungsinya?”

“Saat kamu berada disisi kenyataan. Berhenti mikir yang aneh-aneh. Terlalu banyak bermimpi membuat otakmu tumpul. Mungkin perlu ada orang waras yang menarikmu untuk tetap di sisi kenyataan daripada berkubang dalam imajinasi,”

“Kamu ngok sekali. Nggak banget,”

Ya. Aku nggak banget karena diam disini menemani celotehanmu soal bintang. Kemarin soal hujan dan entah besok tentang apa.

“Tapi.. mungkin itu benar. Aku butuh seseorang buat menarikku dari garis batas mimpi dan kenyataan,”

“Hah! Labil” kataku berteriak.

Lalu keheningan malam di atas langit jakarta yang bertebaran bintang itu pecah dengan suara gelak tawa. Tawa renyah yang lepas dari beban. Kamu tertawa keras sambil menahan kejang di perut. Ah oke ini resep keempat kukira. Tinggal menunggu momen untuk loncat dari gedung brengsek ini. Tapi senyum kamu. Senyum paling mematikan di dunia itu. seperti meluber keluar. Menciprati perasaanku dengan perasaan haru yang pekat.

“Hahaha ah. Oke kamu lucu sekali malam ini wesi. Lucu sekali,”

“heh? Lucu darimana pula?”

“Labil.. kamu perlu tiga tahun untuk tahu kalau aku ini labil,” katamu sambil menahan tawa.

Oke aku akan meloncat dari gedung ini sekarang juga. Tapi sebentar. Senyum itu. senyum paling mematikan dunia. Tapi tunggu sebentar. Harusnya aku sudah mati dari tadi. Oh iya, lagipula aku kan zombie. Mayat hidup yang dipaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan berak, makan, ngentot dan bergosip. Jadi ah mungkin loncatnya besok saja. Senyum sialan. Senyum paling mematikan se dunia.

“Eh mungkin kamu benar mengenai bintang-bintang ini R,”

“Ehhehe. Sebentar aku selesaikan tawa ini dulu. Err.. benar tentang apa Wesi,”

“Mengenai bintang ini diciptakan untuk suatu hal,”

“Oh ya? Jadi menerutmu bintang-bintang ini diciptakan untuk apa?”

“Untuk kamu,”

Hadeehh… come on. You gotta do more than that to flirt me,”

“Bah. Kalau aku mau merayumu. Bakal ku sayat tangan ini dan kubiarkan darahnya mengering buatmu percaya, masalahnya ini bukan rayuan,”

“Lantas?”

“Ini waktunya aku menyelesaikan naskah terjemahanku. Dan kini kamu bisa nikmati sendiri bintang yang semakin menguning terang itu,”

Aku lantas beranjak pergi dari atap gedung brengsek itu. kisi-kisi temboknya merayuku untuk segera meloncat dan mengakhiri karir penerjemahku. Kuputuskan melangkah pergi menuju pintu masuk gedung. Lalu kamu memanggilku dengan suara yang cukup kencang. Deru angin yang mulai brengsek meredam segala suara yang tak terlalu pelan.

“hmm terimakasih ya?”

“Untuk apa?”

“Menemaniku labil,”

“Bah konyol. Kamu lihat saja bintang-bintang itu. Pagi ini mereka bersinar istimewa cuma buat kamu,” kataku sambil berteriak.

“Istimewa?”

“Liat cahaya bintang-bintang itu pagi ini, mereka bikin kulit dan rambut kamu menjadi sangat indah,”

“GOMBAAL,” katamu sambil berteriak.

Tentu saja aku gombal. Tapi siapa yang tidak?


*Jember 4 Oktober

Tidak ada komentar:

Posting Komentar