Rabu, 30 November 2011

Gigil


: 8:03 dan waktu berjalan pelan

kukira sudah habis lukaku
di taburkan pada ingatan
tetapi dalam sekerat kisah yang belum tamat
sekali lagi tanda tanya itu hadir

adalah jeda
perih pedih pekik dan peluh itu nyata
seperti langit yang
tak hendak terang seusai senja

kukira sudah tamat sakit
kusebarkan pada kenangan
tetapi dalam potongan
masa yang tak jua akhir

koma dan titik berencana
bersepakat untuk khianat
semacam peringatan akan laku lupa
berkelindan menakik rasa pedih sedalam dalamnya
sekuat
kuatnya
sakit sakit
sakit sakit
sakit sakit sakit
perih perih perih

menggigilah
hingga pudar semua hutang
sampai lunas semua rencana
lalu meratap sampai degil

haru
menyisakan ruang pekat hati

berkata : sepertinya aku merindu

Jumat, 25 November 2011

Label

~ gelar itu mereduksi segala tanduk yang melekat pada penindak

Saya kadang geli saat membaca opini dalam surat kabar. Bukan perihal isi tulisan opini, yang meski saya tak paham, sangat berkesan dan intelektuil. Tapi mengenai label yang dilekatkan kepada si empu penulis opini tersebut. Seseorang bisa melekatkan kata pakar tape dan seni orek telur. Atau pengamat kambing. Atau yang lebih monumental kurator atwa kritikus air seni. Saya kira melekatkan label adalah masalah pelik.

Belum lagi jika opini tersebut berisi pendapat dan kutipan ilmiah nir peminat. Sepertinya para penulis opini tersebut punya pemahaman bahwa mereka membaca opini si penulis bisa lunas paham dalam sekali baca. Saya kira di masa depan, koran-koran harus berupaya lebih sederhana dalam menerima opini. Kalau tidak maka Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Google akan jadi alat pandu utama dalam memahami sebuah opini.

Perilhal label pun bisa jadi perdebatan yang seru. Karena kerapkali seorang penulis baru berkualitas bingung hendak melabeli dirinya apa. Menjadi pengamat? Bah bisa jadi salah kaprah karena pengamat adalah orang yang hanya pengamat. Ahli? Apapulak itu perlu sertifikasi dan pembuktian ilmiah terhadap label semacam ini. Pendek kata pemberian label bisa jadi masalah jika anda belum menjadi siapa-siapa atau tak berasal dari satu lembaga tertentu.

Beberapa waktu lalu seorang rekan menulis opini di Kompas. Ulasan menarik mengenai kondisi hubungan diplomatik Indonesia dan Asean. Sebenarnya secara kualitas tulisan, kawan saya itu tak usah diragukan. Dia bisa menganalisa konsep hubungan million friends zero enemies dengan sangat lugas, cerdas dan nyinyir. Tapi kemudian ia bermasalah mengenai pelabelan. Andai ia seorang cleaning service di CSIS ia bisa saja mengaku sebagai peneliti. Masalahnya ia hanya seorang guru di sebuah lembaga bimbingan belajar.

Ada masalah keotentikan kuasa akan kemampuan dan analisis dalam penulisannya. Seolah olah ada klaim ilahiah bahwa mereka yang menulis opini dalam koran besar harus berasal dari orang besar. Tak ayal tulisan kawan saya yang mengkritik keras gaya diplomasi negara ini kemudian dijawab oleh orang kementrian luar negeri. Secara sarkastik orang dari kementrian itu menyerang legitimasi dan kemampuan dari kawan saya itu. Sebagai amatur dan medioker yang sok tahu. Hanya karena kawan saya itu melabeli dirinya sebagai pengamat...

Label adalah reduksi. Karena seluruh pengalaman manusia dan kemampuannya harus dijejalkan dalam satu pemaknaan kata. Dalam banyak hal ini adalah sebuah tindakan fasisme. Karena manusia sesungguhnya unik. Ia akan selalu berbeda dengan yang lainnya meski kemiripan selalu ada. Tapi menafikan kedirian sebagai usaha diterima dalam masyarakat yang luas saya pikir adalah sebuah penindasan jati diri. Dalam hal ini label kerap kali menyakiti identitas seseorang.

Lalu bagaimanakah cara kita akan melakukan definisi diri? Mengenai identitas kedirian seseoang yang belum tentu orang itu menyukainya. Saya selalu ingat bagaimana Eddie Vedder, frontman Pearl Jam, selalu menolak label grunge yang kerap dilekatkan kepada band dimana ia tergabung. Atau bagaimana merumuskan seorang Leonardo Da Vinci. Apakah ia seorang avontour, ilmuan, seniman atau seorang filsuf? Kelak saya menemui orang seperti Da Vinci alih-alih dibebaskan dari label, mereka justru dilekatkan sebuah label menakutkan. Universalis!

Universalis adalah mereka yang dianggap tahu banyak dari banyak hal dan juga aktif sebagai praktisi di dalamnya. Indonesia mengenal Soedjatmoko, mantan rektor Universitas PBB di Jepang dan intelektual, sebagai salah satu universalis asal Indonesia. Ia disebut demikian karena luasnya cakupan pemikiran dan karya tulis yang Soedjatmoko susun.

Hal yang sama juga melekat kepada Romo Mangun Wijaya, sastrawan arsitek dan juga tokoh teologi. Romo Mangun banyak menulis mengenai kondisi sosial dalam esai-esai yang ia buat. Belum lagi berbagai cerpen dan novel yang secara satir menyigi identitas jawa (sebagai representasi fasisme) Indonesia. Meski demikian pemahaman sejarah yang luar biasa juga menjadi kekuatan seorang Romo Mangun. Lihat saja karyanya dalm Ikan-ikan Hiu, Ido Homa.

Romo Mangun dan Soedjatmoko tak berhenti pada tataran wacana pemikiran saja. Namun keduanya juga turut andil dalam pembangunan sosial masyarakat secara nyata. Contoh kanon sumbangsih Romo Mangun masih bisa kita lihat dalam perkembangan masyarakat Kali Code di Jogja. Sedangkan alur karya Soedjatmoko bisa dilihat dalam konsepsi perdamaian yang ia canangkan saat menjadi rektor Universitas PBB di Jepang. Soedjatmoko, meski kerap dikritik pro barat, merupakan salah satu peraih penghargaan Ramon Magsaysay terbaik. Karena keotentikan pemikiran dan sikapnya sebagai Indonesianis yang mendunia.

Perkara label merupakan perkara klaim yang dilekatkan. Seorang kawan yang aktif di komunitas seni Utan Kayu Jakarta bernah bercanda. "Kukira semua penyair yang punya julukan itu mabuk dulu untuk bikin gelar," katanya. "Saat minum dengan tuak mereka bersepakat. Hei kau jadi penyair burung camar, kau jadi penyair kolor dan aku jadi presiden penyair," lanjutntya. Saat itu kami berdua hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Karena secara naif menganggap gelar dan label adalah perkara pencapaian.

Tapi saya dan kawan saya itu tak sepenuhnya salah. Bagaimana jika sebenarnya label dan gelar itu hanya perkara sepakat atau tidak dari sekumpulan orang yang berkuasa. Coba tengok perihal pemberian gelar pahlawan. Masing-masing kelompok membawa nama-nama dari golongannya untuk kemudian dikarbit jadi pahlawan. Tak jelas apakah ia seorang diktaktor, pelawak atau sebenarnya seorang fasis. Pahlawan itu diciptakan, seperti juga gelar, itu masalah kesepakatan segelintir orang.

Label bisa jadi sebuah identitas. Itu jelas. Antara seorang S.Sos dan Ph.D bisa jadi perdebatan mengenai kuasa dan kemampuan akademis. Meski tak jelas apakah gelar itu hasil fotokopi atau sekedar jual beli skripsi. Yang jelas gelar bisa jadi pembeda masalah kedudukan dan penghasilan. Untuk itu label bisa menjadi perkara hidup mati dan penghasilan seseorang. Saya kira ada baiknya segala label itu dihilangkan. Diganti dengan sebuah capaian nyata.

Biar seorang maling jadi raja maling karena hasil curiannya banyak. Biarlah seorang profesor jadi profesor karena temuan yang luar biasa. Tak perlu legitimasi segelintir untuk kemudian melahirkan label-label baru. Saya kira masalah label adalah masalah pengakuan. Tentang bagaimana seseorang ingin dikenali dan diperlakukan. Dalam banyak hal itu hipokrit. Well, bukankah kita semua demikian?

Tiga cerita, Satu Narasi. Disabilitas






Anugerah Tuhan dan Luka

Seorang pria paruh baya duduk termenung sendirian. Matanya menerawang jauh entah kemana. Kerutan-kerutan di dahinya serupa perigi yang mengalir. Entah sudah berapa banyak cerita yang orang itu lalui. Asap rokok merambati mulut dan hidungnya. Sesekali ia hembuskan dengan perlahan. Ada sebuah rasa haru yang lindap dalam hati pria itu.

Pria itu adalah Modhar, warga Suko Jember, Dusun Leces. Ia sedang menunggui putrinya Siti Nurfadilah di sebuah sekolah yang terletak di kawasan patrang. Sesaat kemudian gadis cilik berusia sekitar 13 tahun datang menghampiri. Seketika itu juga wajah Modhar berubah ceria. Senyum tulus terkembang lebar dan tak jua berhenti ia lantas memeluk gadis itu. Tapi ada yang aneh, si gadis tak berkata satu kalimatpun. Ia hanya mengerjapkan bibir dan menggerakan tangannya.

“Putri saya itu tuna rungu wicara, ia tak bisa bicara dan mendengar,” jawabnya serta merta. Siti fadilah tetap bergelayut manja dibahu ayahnya. Modhar lalu mematikan rokoknya dan menuntun Siti masuk ke dalam kelas. “Saya mau ambil rapor siti dulu,” katanya tersenyum. Siti berjalan bersampingan dengan ayahnya, sesekali gadis itu tersenyum nakal dan mencuri tengok pada orang di belakangnya.

Modhar adalah salah satu orang tua wali murid yang hari itu khusus datang untung mengambil rapor di SDNLB Patrang. Sekolah itu sedikit tersembunyi dari jalan raya utama jalan patrang. Terletak tepat di Jalan. Dr Soebandi, gang Kenitu no 56 Jember. “Saya dulunya juga tak tahu kalau di sini ada SLB,” kata Modhar sambil keluar ruangan kelas. Siti sudah tak nampak di sampingnya, gadis cilik itu sedang seru bermain dengan sebayanya di lapangan sekolah.

Tak banyak orang tua yang berkenan menyekolahkan anak istimewa mereka di SDNLB. “Banyak orang tua yang malu sama anak mereka yang cacat, saya ndak gitu, saya justru makin sayang dengan Siti,” ujar Modhar tiba-tiba. Ia menyulut sebatang rokok lagi, lalu membetulkan topinya. Ada binar mata kebahagiaan saat ia melihat Siti bermain bersama temannya. “Saya gak habis pikir sama orang yang jahat sama anak cacat. Mereka itu kan titipannya Gusti Pangeran,” serunya lesu.

Siti awalnya diasuh Modhar secara pribadi. Ia tak tahu jika di Jember ada Sekolah Inklusi yang bisa merawat anak-anak berkebutuhan khusus. Sebelum sekolah di SDNLB Patrang, Siti selalu rewel dan menangis jika ada anak yang sekolah. Ia seringkali tak mampu berkomunkasi dengan baik. Siti hanya bisa menangis dan memberontak jika tak dapat dipenuhi kemauannya. “Tapi sekarang sudah bisa nulis, kadang saya diajari bahasa isarat juga sama bu gurunya,” ungkap Modhar bangga.

Tiap hari selama tiga tahun terakhir Modhar bolak balik tiap pagi mengantarkan Siti ke sekolah. Jarak yang lumayan jauh tak menjadi kendala bagi pria yang berusia 50an tahun ini. “Saya tak mau anak saya tertinggal, pokoknya harus sekolah sampek saya gak mampu lagi (biayai),” katanya tegas. Ia ingin menebus janji pada ibu Siti yang sebulan lalu meninggal. “Ibunya siti sudah meninggal sakit stroke, sebelum mati ia bilang Siti itu anugrah, jangan disia sia,” ujar Modhar. Ada rasa haru yang lindap saat Modhar mengucap kata anugrah.

Riva Akmalia Amanda, atau yang biasa disapa Icha, adalah seorang gadis berkerudung yang enerjik di usia pertengahan dua puluh. Ia tengah bermain dengan anak-anak di tengah lapangan. Ada Siti diantara mereka, dengan senyum lebar mereka bermain dan bekejaran. “Kadang orang suka menggunakan kata cacat, itu kurang tepat, lebih baik gunakan kata berkebutuhan khusus atau disabilitas,” ungkap gadis yang juga berstatus pengajar di sekolah itu. Disabilitas sendiri berasal dari kataDifferent Abled People atau orang yang memiliki kemampuan berbeda.

Icha menyebutkan bahwa penggunaan kata cacat kadang sudah berkonotasi negatif. Lebih dari itu dapat mengurangi nilai kemanusiaan dari seseorang. “Kesannya jelek,” tandasnya pendek. Lelah bermain, Icha lantas duduk di depan kelas bersama Modhar. “Anak-anak di sini itu semua istimewa, semua spesial, Allah memberi mereka semua kelebihan,” kata Icha. Modhar tak menjawab, ia hanya mengangguk perlahan-lahan.

Di kejauhan seorang anak berlari-lari riang sambil tertawa lepas. Ada seorang ibu yang mengejar anak itu seraya berteriak-teriak. Anak itu adalah Desy Mintriani, seorang penderita down syndrome, yang berkejaran dengan ibunya Mimin. Dengan telaten Mimin akhirnya bisa menangkap dan mendekap erat Desy. “Sini ibu betulkan dulu bajunya, jangan gerak-gerak,” ujar Mimin lembut. Desy seketika terdiam, ia masih saja menatap kosong pada langit langit saat ibunya mengikat erat tali di belakang bajunya. “Nah sekarang anak ibu sudah cantik,” katanya

Ibu dan anak itu lantas berpelukan mesra dan memasuki ruang kelas untuk mengambil rapor. Di dalam anak-anak yang lain sedang asik bersenda gurau dengan rekan sebayanya. Ada orang tua pula yang duduk menenangkan mereka yang mulai rusuh itu. “Sebentar lagi rapor dibagikan,” kata seorang guru. Selepas menerima rapor Mimin dan Desy keluar ruangan dan berencana pulang. “Dulu anak saya 10 bulan di sekolah biasa, tapi tak mampu. Di sini saya senang dia bisa baca tulis,” kata Mimin sambil tersenyum.

Beberapa orang tua yang anaknya memiliki kebutuhan khusus sering kali menafikan kondisi anak mereka. Orang tua semacam itu kadang memaksakan anak mereka untuk sekolah di sekolah biasa, akhirnya anak-anak tadi tertinggal dan semakin tertekan. “Desy sudah lima tahun disini, salah satu yang pertama, sekarang ia bisa juga menggambar dan mewarnai,” kata Mimin.

Hal-hal sederhana dari anak terkadang mampu membuat kebahagiaan bagi seorang ibu. “Saya terima Desy apa adanya, ia bisa nulis nama saya saja itu sudah luar biasa, bikin saya nangis,” ungkap Mimin. Dukungan keluarga dan merupakan faktor utama dalam perkembangan anak-anak disabilitas. “Bapaknya Desy jauh lebih sayang dari saya, kita sebagai orang tua kan bisa mendorong dan merawat,” katanya.

Seperti Mimin dan keluarganya, Modhar juga tak ingin Siti Nurfadilah hanya berhenti pada SDNLB. “Kalau nanti mau kuliah saya kuliahkan, pokoknya jadi orang,” kata Modhar. Kini Modhar yang hanya seorang petani berharap adanya fasilitas dan perhatian yang lebih banyak terhadap kaum disabilitas. “Buat sekolah saja jauh, memang sekarang sulit. Semoga saja nanti SLB nya makin banyak,” katanya penuh harap.

Pengabdian dan empati

Seorang gadis duduk di pelataran Pusat Rehabilitasi Anak YPAC Jember yang terang karena pantulan cahaya pagi itu. Angin datang semilir menerpa rambutnya yang ikal. Gadis itu berwajah oval, berhidung bangir, kulitnya kuning langsat dan tatapan matanya tegas. Ia punya pesona kasat mata serupa dengan bintang iklan di televisi.

“Panggil saja saya Lutfi,” ujarnya singkat. Ia sendiri adalah seorang disabilitas yang memiliki keterbatasan dalam kelengkapan anggota tubuh. Meski demikian gadis dengan senyum manis ini tak sedikitpun tampak sedih atau malu. “Ini titipan yang diberi Allah sama saya, kenapa harus malu?” katanya singkat.

Gadis asal Bondowoso itu baru saja bersiap membaca koran pagi. Radar Jember yang tergeletak di atas meja ia baca sepintas lalu. “Saya suka membaca, setidaknya memberikan pengetahuan. Kebiasaan ini sudah ada sejak saya kuliah dulu,” katanya. Ya, Lutfi adalah seorang sarjana ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Jember. Meski memiliki keterbatasan Lutfi tak hendak bergantung pada orang lain.

Awalnya Lutfi diterima di fakultas MIPA dengan jurusan Biologi. Tetapi akibat keterbatasan fisik ia ditolak untuk kuliah di sana. “Saya terima saja, meski demikian saya bertekad untuk tetap kuliah,” imbuhnya. Dengan perjuangan yang cukup keras, dalam tempo empat tahun setengah Lutfi mampu lulus dengan predikatcumlaude.

Selepas kuliah Lutfi berusaha untuk melamar kerja di beberapa instansi dan perbankan. Namun ditolak karena alasan keterbatasan fisik. Ia sempat geram dan patah arang menganggap dunia tidak adil. “Saya kecewa, belum dicoba kok dianggap tak mampu,” ungkapnya. Atas desakan dan dorongan orang tua yang selalu suport, Lutfi akhirnya kembali percaya diri. “Akhirnya saya iseng melamar di sini (YPAC), almamater saya, eh diterima ya sudah saya jalani,” ungkapnya.

Lutfi mengajar di sekolah itu dengan tujuan memberi inspirasi bagi sesamanya. “Yang dibutuhkan orang berkebutuhan khusus bukan rasa kasihan, tapi dukungan dan kesempatan yang sama,” katanya. Ia selalu berusaha memberikan semangat pada semua anak didiknya untuk dapat meraih cita-cita. “Kami juga sama dengan orang normal,” tandasnya tegas.

Seperti juga Lutfi, Nanang Ahsanurohim juga tak ingin anak didiknya yang disabilitas patah arang. Nanang, begitu ia disapa, bertekad menjadi seorang guru bagi anak-anak disabilitas karena melihat keponakannya yang berkebutuhan khusus kesulitan mencari sekolah. “Saya terenyuh melihat ponakan saya itu, dia ingin seperti anak-anak kebanyakan, bisa sekolah dan main,” ungkapnya.

Meski awalnya ia tak berniat untuk menjadi guru anak berkebutuhan khusus, Nanang tak ingin tinggal diam melihat keponakannya tak terdidik. Berbekal kenekatan ia berusaha mencari tahu informasi mengenai jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB). “Awalnya ada di Surabaya, tetapi saat saya main di IKIP PGRI Jember ternyata juga buka jurusan itu,” katanya. Ia lantas kuliah di sana dan bertekad mengabdikan ilmunya untuk dapat mengembangkan anak-anak disabilitas.

Hari itu Nanang tampak rapi dengan balutan baju batik berwarna gelap. Pria muda yang mengajar di SDNLB Patrang ini hendak membagikan rapor kepada wali murid. Wajah Nanang tampak sangat bersemangat, ia tak sabar untuk bertemu dengan para muridnya. “Jarang sekali bisa ketemu sama orang tua nya anak-anak,” katanya senang.

Nanang hanya salah satu dari beberapa anak muda yang memutuskan mengabdikan diri sebagai pengajar di SDNLB itu. Umumnya mereka ingin berbagi kepada para siswa-siswa yang istimewa tersebut. “Anak-anak di sini membutuhkan banyak perhatian dan cinta yang tulus,” kata Nanang. Ia tahu jika pekerjaan ini tak akan memberikan kemapanan apalagi kekayaan. “Saya puas jika bisa melihat senyum anak-anak ini,” katanya singkat.

Di ruang sebelah kelas Nanang, Riva Akmalia Amanda atau Icha, sedang asik bercanda dengan Siti Nurfadilah. Seorang anak tuna rungu wicara yang tersenyum sangat riang. “Saya akan kangen saat-saat seperti ini,” katanya tiba-tiba. Icha adalah seorang guru yang mencintai anak-anak disabilitas sejak remaja. “Saya aktif di PMR saat SMP dan SMA, dulu sering bertemu dengan anak-anak ini,” katanya. Melihat mata anak disabilitas yang polos membuat Icha jatuh hati dan selalu ingin bersama mereka.

“Saat saya bersama anak-anak ini, saya menjadi tenang. Mampu membuat saya lupa terhadap masalah yang ada,” katanya. Ia cenderung merasa nyaman berbagi dengan anak-anak disabilitas daripada dengan orang normal. “Kalo sama anak-anak saya bisa ngajari mereka bernyanyi, tiap anak memiliki karakter sendiri. Yang membuat saya jatuh cinta,” katany halus.

Icha sedapat mungkin bisa memberikan yang terbaik bagi anak-anak ini. Banyak orang yang tak sadar bahwa kaum disabilitas adalah manusia utuh yang punya hak untuk dihargai. “Seringkali orang acuh dan jahat, itu karena mereka tak tahu bahwa mereka punya kebutuhan khusus,” katanya. Masyarakat perlu membuka mata dan bersikap adil dan jangan bersikap apriori pada kaum disabilitas. “Jangan memusuhi apa yang tak kita ketahui,” lanjutnya.


Tersisih dan Terbuang

Gedung tua di pinggri jalan Imam Bonjol nomor 42 itu ringkih diterpa zaman. Cat tembok yang berada di masing-masing sisinya sudah terkelupas. Belum lagi rerimbunan tanaman di depan gedung itu. Jika tak jeli orang akan menganggap gedung itu berhantu dan ditinggalkan.

Ada sebuah monumen nama yang menunjukan identitas gedung tersebut. Pusat Rehabilitasi Anak YPAC Jember. Beberapa huruf di monumen itu sudah hilang entah kemana. Tangan-tangan jahil merusak kisi-kisi dinding halaman gedung itu dengan berbagai coretan. Belum lagi poster-poster dan spanduk yang dipasang seenaknya di pagar gedung itu. Gedung itu seolah sendiri di tengah degilnya masyarakat sekitarnya.

Di dalam gedung tua itu ada dua orang yang tengah bercakap-cakap. Seorang ibu muda dan gadis berambut ikal yang asik membaca koran. Ibu itu adallah Mubarokah, kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) YPAC Jember. Disampingnya adalah Lutfi, salah satu guru di sekolah itu. “Gedung ini mulai beroperasi ejak 89 yang merintis adalah istri bupati saat itu,” katanya.

Ya, gedung tua itu telah berumur lebih dari 22 tahun. “Awalnya YPAC merupakan pusat rehabilitasi bagi penderita polio,” tapi kini kondisinya tak begitu baik. Memang beberapa tahun lalu sempat ada upaya perbaikan dan penambahan fasilitas. Namun semua dirasa kurang. “Idealnya setiap kelas disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak,” katanya. Saat ini SLB YPAC Jember hanya mampu menampung dua kelas saja perangkatan.

Tak hanya kurang kelas, tenaga pengajar juga menjadi kebutuhan yang penting dipenuhi. “Saya memang kepala sekolah, tapi ikut mengajar rangkap beberapa pelajaran,” katanya. Ia sendiri telah berulang kali meminta agar ada guru baru, tapi sampai saat ini belum ada tanggapan baik dari Diknas maupun yayasan. “Sabar saja,” ujarnya seraya tersenyum.

“Saya tak banyak menuntut, tapi memang begini kondisinya,” ujar Mobarokah. Dalam ruangan utama YPAC memang ada lantai yang terkelupas sepanjang dua meter. Langit-langit yang tak tertutup internit. “Belum lagi fasilitas bagi anak anak, semacam mesin jahit dan komputer,” katanya. Meski demikian Mubarokah dan seluruh pengajar yang ada tetap berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka.

Mubarokah sendiri adalah salah satu dari sedikit pengajar yang merintis usaha pendidikan pada anak disabilitas di Jember. “Saya dulu bersama pak Tamsun (salah satu pengelola SDLB Bintoro) yang memulai mengajar disini,” katanya. Dalam 20 tahun terakhir sudah banyak perkembangan menggembirakan yang terjadi. “Kini mulai ada kesadaran untuk menyekolahkan anak-anak disabilitas, dulunya mereka diasingkan bahkan dipasung,” ungkapnya

Mubarokah telah mengecap pahit getir sebagai pendidik anak-anak disabilitas. Meski telah banyak berkembang tetapi ada beberapa hal yang masih menjadi perhatian wanita ini. “Dari lingkungan sini saja tak tau apa itu YPAC, kadang masih ragu menyekolahkan, padahal tiap anak disabilitas punya potensi,” katanya. Ada pekerjaan besar yang masih menunggu diselesaikan.

Umi Salman adalah kepala SDNLB Patrang Jember. Dalam komplek sekolah itu ada pula SMPLB dan SMALB, semua dikelola dengan swadaya dan dibantu oleh dinas pendidikan setempat. Seperti juga Mubarokah, ia masih khawatir dengan pola pikir masyarakat yang menafikan keberadaan kaum disabilitas. “Mereka (anak disabilitas) diasingkan dan tak diurus, padahal mereka manusia juga,” ungkapnya.

Perempuan yang juga telah mengabdi sejak 1989 ini tak berhenti mengembangkan sekolahnya. “Dulu hanya ada SDNLB, tapi karena banyak permintaan dari orang tua wali murid. Saya ajukan untuk membuat SMPLB dan SMALB,” aku Umi. Ia ingin memberikan kesempatan bagi para anak-anak untuk mengeyam pendidikan terbaik. “Mereka adalah anak bangsa yang berhak dapat pendidikan,” lanjutnya.

Keberadaan SDNLB Patrang sebenarnya cukup tersembunyi. Dari jalan utama dr Soebandi, sekolah ini terletak didalam sebuah gang kecil. Plang pengumuman sekolah ini pun tertutup rimbun pohon dan warung di pinggir jalan. “Memang tersembunyi, tapi ini yang ada,” ujar Umi sambil tersenyum.

Baik SDNLB Patrang dan SDLB YPAC merupakan sedikit diantara sekolah yang berbasis pendidikan inklusif bagi kaum disabilitas. “Ada juga sekolah di Bintoro, tapi ini semua terpusat di kota,” kata Umi. Ia tak hendak membandingkan apalagi berkomentar. Namun jarak yang harus ditempuh orang tua siswa demi pendidikan anak disabilitas memang lumayan jauh.

Modhar misalnya, pria asal Jelbuk ini tak tahu jika di Jember ada sekolah bagi kaum disabilitas. “Saat pertama datang kayak sekolah yang gak diurus, tapi ternyata pendidikannya baik,” ungkap pria yang memiliki anak tuna rungu wicara ini. Ia tak ambil pusing yang penting putrinya bisa mendapat pendidikan yang baik. Tetapi apakah akan seperti ini terus? “Mereka yang berkebutuhan khusus juga berhak mendapat pendidikan baik,” ujar ibu guru Mubarokah lesu.(*)

Kamis, 24 November 2011

Tentang kematian yang tak perlu jadi Melodrama

~ Saya percaya kematian itu bukan ending, tapi sekedar prolog untuk episode hidup yang berikutnya.

Apa yang lebih menyedihkan dari kematian? Saya belum tahu dan semoga saya tidak akan hidup untuk merasakan hal yang lebih menyedihkan dari kematian. Karena dalam hidup saya yang Cuma 2 dekade lebih sedikit ini, saya cukup melihat banyak kematian. Saya melihat bagaimana Ibu saya terdiam sedih melihat nenek meninggal dan 4 tahun lalu saya sendiri begitu terkapar melihat sahabat saya meninggal. Dan sejauh yang saya tahu, itulah hal yang paling menyedihkan yang bisa dirasakan manusia.

Hari ini sebenarnya saya ingin tidur seharian, bermalas-malasan, karena semalam saya memeriahkan natal bersama saudara yang kebetulan beragama nasrani. Saya sudah beranjak pada ranjang empuk saya, saat tepat pukul 10.05 ponsel saya berbunyi nyaring. Entah apa yang menggerakan tangan saya meraih ponsel itu, karena biasanya saya membiarkan saja dan lanjut tidur. Beberapa detik setelah pesan terbuka, uluhati saya seperti dihantam Mike Tyson. Ayah teman baik saya meninggal.

bapakku baru aja meninggal dunia, ak minta maaf kalo almarhum pernah punya salah

Saat itu waktu rasanya berhenti, saya mematung melihat pesan itu, statis dalam diam. Saat itu saya merasa de javu, mengingat perasaan saat kita menghadapi kematian. Saat semua kata tak mampu lagi melukiskan rasa kehilangan, maka hanya dalam diam kehilangan itu akan berbahasa.

Kesadaran saya kembali saat Ibu saya masuk dan menyuruh saya memberi makan Ayam dan bebek peliharaan kami. Saya menatap Ibu dan bercerita tentang peristiwa yang baru saja berlangsung. Beliau hanya tersenyum dan berkata “kalau kamu umat islam yang baik, tugas kamu sekarang adalah menghibur temenmu dan berdoa buat Bapaknya”. Saya bergegas bangun dan memberi melaksanakan tugas dari Ibu lalu mandi dan siap-siap menuju Jember.

Sebelum berangkat saya menyampaikan kabar duka tersebut kepada teman-teman saya. Setelah mengetik pesan singkat itu kemudian saya mengirimkannya, sekali lagi saya terdiam. Hampir separuh dari phonebook saya adalah temannya juga.

Konon anda bisa menilai karakter dan kebaikan kehidupan seseorang dari suasana kematiannya. Saya percaya itu, karena dalam hidup saya mengalami dua kali momen kematian yang dihadiri banyak orang. Dan hari ini adalah salah satunya

Hari ini saya menemani teman baik saya itu sejak dalam pengusungan jasad almarhum sampai dengan dikuburkan di liang lahat. Saya terpukau melihat dia diam dalam ketabahan, melihat dia kuat ditonjok kehilangan. Dan sesekali tersenyum bercanda dengan saya. Hari ini saya merasa dia jauh lebih dewasa dari dua kali umur saya yang tidak seberapa ini.

Ber umur




Jumat kemarin saya hampir mati. Oke itu sedikit berlebihan. Tapi yang benar hampir selama dua hari saya sekarat dan tak bisa melakukan apa-apa selain tidur dan terlentang. Duduk pun rasanya sangat sakit. Kata seorang teman yang perawat itu karena liver saya, yang lain bilang karena sondep (you know that kinda stomach ache but like hell), dan ibu saya bilang karena kelelahan. Saya pribadi entah kenapa lebih percaya pada yang terakhir.

Hampir selama dua minggu saya liputan seperti orang gila. Berkisar dari Bondowoso sampai dengan Semboro. Itu sekitar 200 km bolak balik. Setiap hari saya lakukan dengan jam kerja dari jam 08.00 sampai pulang jam 23.00. Entah kenapa waktu itu saya hanya ingin keluar, bekerja, menulis dan baca komik. Seperti ada ketakutan-ketakutan jika saya diam. Saya akan tersedot masuk kedalam sebuah ruang gelap bernama kebencian dan dendam.

Mungkin ada kaitannya dengan masalah pribadi yang saya alami dengan seorang kawan, seorang gebetan dan juga sebuah perkumpulan. Well, shit do happens right? Some handle it with care, some others handle it like shit. Kita bisa lari dari masalah dan menganggapnya selesai. Atau berdiri menghadapi sebagai seorang jantan. Sayangnya saya bukan keduanya Dan sekali lagi sepertinya saya melakukan apa yang saya bisa. Diam.

Hidup adalah keberanian menghadapi tanda tanya.

Sayangnya saya tak punya mental atau kemampuan seperti Gie. Dia bisa saja bilang begitu karena dia punya banyak teman karib, barisan groupies, pekerjaan menyenangkan, hobi asik dan sederet hal-hal keren yang lebih menarik daripada nongkrong seharian di café wifi. Hidup adalah soal hitam dan putih buat Gie. Dan sialnya saya selalu memilih untuk jadi abu-abu.

Pada bulan ini sekitar 2007 saya ikut organisasi pers mahasiswa. Namanya Tegalboto. Terlepas dari nama kampungan dan ece able. Disana saya banyak belajar mengenai kemampuan bertahan hidup. tentang bagaimana menghadapi manusia arogan, berkata kasar, sok kuasa, sok pinter (yang memang pinter) dan bagaimana cara menulis. Oh tentu saja tidak gratis. Semuanya dibayar dengan ketundukan dan rasa patuh.

Perintah pertama yang saya terima adalah membaca. Saya suka membaca tapi tidak dengan buku-buku tebal berjudul pos realitas, bumi manusia, apalagi kamus besar bahasa Indonesia. Whats the point anyway? Well memang saya tak pernah disuruh membaca semua itu, tapi seperti ada dorongan untuk membaca itu. Buku-buku tadi bergeletakan di ruang redaksi Tegalboto. And I’m a bit curious about what they read.

They said ignorance is a bliss.

Well can’t agree more. Sok tau itu berbahaya mau tahu itu lebih berbahaya. Keingintahuan kerapkali membuat orang jadi lupa diri dan akhirnya berakhir pada hal-hal buruk. Oke, tidak semuanya. Beberapa. Sebagian kecil. Oke fine! Sangat kecil dari rasa ingin tahu menyebabkan anda tidak beruntung. Tapi rasa ingin tahu saya waktu itu membuat saya terpapar nanar karena rasa malu. Apa itu KOMODIFIKASI CITRA? APA ITU MAGNUM OPUS? APA ITU TRANSENDEN?

Akhirnya saya harus berteman dengan KBBI untuk mencari itu semua. Saya terlahir pemalu. Oke maksudnya malu-maluin. Cenderung sok tahu dan sok hebat. But peoples change. As age goes by, so does maturity. Saya berusaha untuk tak lagi sok tahu dengan mencari tahu. Anehnya hal ini saya lakukan atas kesadaran sendiri. Bukan karena dorongan orang lain, ya meski kadang masih suka nanya dengan beberapa senior di Tegalboto.

Hari ini Tegalboto ulang tahun. Entahlah saya tiba-tiba ingin menulis tentang bagaimana rasa rindu yang lindap itu berjelaga. Bahwa saya merindukan diskusi kritis di malam dengan penuh makian. Tentang bagaimana hidup di luar Tegalboto itu kejam. Dan bagaimana kami harus begadang setiap malam untuk mengejar deadline. Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.

Ini muka penuh luka Siapa punya ?

Ya bahkan Chairil pun pernah labil dan krisis identitas bukan? Bahwa segala yang lalu kerap kali legit dan membuat kita mabuk kepayang. Nostaligia selalu menawarkan kisah-kisah manis hidup yang telah usai. Sedangkan hari-hari kita di depan masih menunggu untuk dirubuhkan. Saya rindu Tegalboto yang lalu. Sedangkan hari ini saya bahkan tak bisa pergi kesana untuk sekedar menghidu bau apak udaranya. Dasar gombal.

Kita semua gombal. Siapa yang tidak? Seorang penulis, apalagi jika dia penyair, adalah mahluk paling gombal kedua setelah penyanyi dangdut. Oh benar. Kasta tertinggi mahluk gombal bukan penyair. Cih! Mereka tak akan bisa bikin syair bagus macam penyanyi dangdut. Sebuah gitar, sesisir sajak. Putuslah semua urat malu para perawan. Dikejarnya kau nanti bagai seorang maling hati. Aih.

Gombal atau tidak itu perkara perspektif. Kalau kau tanyakan pada Marx dia bakal bilang, gombal itu candu kaum borjuis supaya proletar tetap tertindas. Jika kau tanyakan pada Wittgeinstein, dia bakal bilang gombal itu permainan bahasa untuk menyembunyikan makna sebenarnya. Jika kau tanya Rhoma Irama, bisa panjang urusannya. Dia punya puluhan lagu soal gombal. Dikata terlalu habis kau dikejar pemain gendang.

Tiada insan yang bebas dari ujian.

Aih manis benar bang Rhoma bikin syair. Saya kira Tegalboto juga demikian. Ia tak bebas dari ujian zaman. Jika dahulu angkatan saya menerima enam orang keparat yang sebagaian besar telah lulus dan berprestasi nasional. Maka Tegalboto juga sudah meraih berbagai penghargaan nasional. Sudah pula sampai ke Jerman dan sudah pula sampai ke Merauke.

Ini bukan tentang identitas cauvinis kolektif. Tetapi mengenai memaknai proses sebagai usaha berkelanjutan tanpa akhir. Saya bisa hilang arah, atau mentok berkarir, atau disoriensatasi hidup, atau post power syndrome atau bahkan mungkin menopouse. Tapi setiap era punya caranya sendiri beradaptasi dan membuat karya monumental. Saya kira ini yang sudah tecatat dalam masing-masing kepala alumnus Tegalboto.

Proses adalah laku hidup kepanditaan. Serupa keras hati Bambang Ekalaya yang berlatih memanah meski tanpa guru. Awak Tegalboto, pada zaman saya, kehilangan sosok guru. Karena kami merasakan kesetaraan dan kesejajaran. Tak ada yang patut di gugu dan di tiru. Karena role model dan patronase hanya akan berbuntut kekecewaan jika luput pada amanah.

Pada akhirnya perjuangan kita hanya sloganistis.

Ahmad Wahib, meski HMI tapi tidak asu, boleh berkata begitu. Embel-embel platonik ‘menuju pencerahan masyarakat’ itu berat. Saya tidak tahu siapa jancuk yang membuat kata-kata itu. Dikira gampang melakukan pencerahan. Apalagi mengajak serta masyarakat yang amoral, sakit dan gendeng ini menuju kesana. Membawa diri sendiri belum tentu bisa apalagi orang lain. Meh!

Kuncinya adalah menuju pencerahan. Itu adalah ajakan berproses. Menuju bukan hasil, karenanya proses itu sendiri di Tegalboto adalah sebuah zetgeist. Bildungprozze. Pembentukan jati diri yang dilakukan perlahan dan didasari pemahaman. Saya yakin Tegalboto bukan pabrik yang berorientasi pada hasil keluaran. Tapi lebih kepada pembentukan kedalam.

“Pengarang” sebut Pramodya Ananta Toer, “mendapatkan tekanan terberat atas perlakuan yang ditimpakan padanya, pengalaman pribadinya adah juga pengalaman bangsanya, dan pengalaman bangsanya adalah juga pengalaman pribadinya.” Maka maknai proses sebagai pengalaman. Dan kalian akan mendapati tugas seorang pengarang (penulis) adalah mahaberat. Karena harus menuliskan keabadian.

Karena Hidup adalah keberanian menjadi kita.

Saya sudah muak untuk kemudian terus menerus berproses di Tegalboto. Karena seorang bayi yang disapih pun akan sampai pada masa peralihan. Apa yang diberikan tegalboto pada saya jauh lebih dari cukup. Jauh dari memadai untuk memulai hidup sebagai seorang pemikir atau penulis. Itupun jika saya punya cukup nyali untuk melakukannya. Karena seringkali alasan lebih panjang daripada keinginan untuk memulai.

Inilah Tegalboto berusia 18 tahun. Sudah cukup dewasa untuk menonton naughty america. Dan sudah cukup matang untuk ikut SNMPTN. Tapi kembali, proses seringkali meminta tumbal atau martir. Dan kebanyakan dari mereka dilupakan. Semoga saja pengurus Tegalboto hari ini tidak perlu jadi keduanya. Semoga mereka jadi anak-anak zaman yang berlari mengejar narasinya sendiri. Narasi pencerahan. Tabik.

Rabu, 16 November 2011

Losers Campaign


Kampanye keren tentang plonco.

Sabtu, 12 November 2011

Rabu, 09 November 2011

Palagan Jumerto

~ sejarah menguburkan para pelakunya diam-diam

“Nama saya Hj Siti Romlah. Tapi dulu saya dikenal sebagai Arsiti,” kata perempuan renta itu bertutur. Ada segurat rasa curiga saat saya mendekatinya. Ia enggan bercerita lebih banyak. Namun setelah beberapa lama kami mengobrol ia lantas mau membuka diri dan sesekali tersenyum.

Bu Haji, begitu ia disapa, merupakan salah ssatu janda peristiwa palagan Jumerto. Dan satu dari sedikit saksi sejarah yang masih hidup. Di tengah usianya yang beranjak senja ia hidup secara sederhana bersama keponakan dan kerabatnya. “Saya tak punya anak. Dan dua suami saya terdahulu sudah meninggal,” katanya lirih.

Ibu yang juga janda pahlawan ini tinggal di Desa Jumerto kecamatan Patrang. Rumahnya berjarak sekitar enam kilometer sebelah utara dari kota Jember. Udara desa ini terasa sejuk. Karena masih banyak rindang pepohonan yang tumbuh dikawasan itu. “Kalau musim hukan seperti ini makin dingin. Suka sakit tengah (pinggang) kalau malam,” tuturnya.



Monumen Palagan Jumerto


Tiba-tiba raut wajah Bu Haji berubah saat melihat monumen tinggi di sebelah rumahnya. Bangunan itu adalah monumen peringatan palagan Jumerto, dibuat sebagai penghormatan pada para pahlawan yang gugur saat peristiwa peristiwa tahun 1949. “Dulu suami pertama saya mati di tembak belanda. Kakak kandung saya juga,” katanya tiba-tiba. Bagi beberapa orang menceritakan kematian bukan perkara mudah.

Tepat pada 11 Februari 1949 terjadi peristiwa heroik, perlawanan masyarakat desa Jumerto dan pasukan Mobrig (sekarang Brimob) terhadap penjajah Belanda. Saat itu pasukan Mobrig di bawah pimpinan AKP Soekari, datang ke desa Jumerto dengan kekuatan 3 Pleton atau kurang lebih 90 orang. Mereka tengah melakukan perjalanan gerilya dari daerah Malang, Lumajang dan Jember.

“Pak Soekari mampir untuk istirahat. Itu sudah malam kalo gak salah jam 1an,” tutur Bu Haji. Namun kehadiran mereka ternyata diketahui oleh salah seorang mata-mata Belanda. Sepanjang malam pasukan Mobrig yang beristirahat itu tak menyadari bahaya yang mengintai. “Kalau ingat itu saya sering menangisi saudara saya,” seru Bu Haji.

Esok harinya pukul 06.00 tentara Belanda yang terdiri dari KNIL dan Gurkha (pasukan elit India dari Inggris) mengepung tempat peristirahatan tentara Mobrig. “Waktu itu dak pake ngomong. Sukur tembak aja dor dor dor saya yang di rumah jaraknya jauh sampai dengar,” kata Bu Haji.

Pertempuran memang tak bisa dielakkan. Karena pada saat itu telah ditanda tangani perjanjian Renvile yang bersisi semua pasukan Republik harus ditarik mundur dari daerah-daerah kantongnya di wilayah pendudukan di Jawa Timur. “Kakak saya yang jadi tentara pelajar langsung kesana. Suami pertama saya juga padahal udah rame bak tembakan,” serunya.


Nama-nama korban Mobbrig


Sebagian tentara Mobrig yang tak sadar dengan mudah dihabisi oleh pasukan KNIL dan Gurkha. Mengetahui itu warga desa Jumerto yang setia pada Negara Indonesia tak terima dan melakukan pertempuran melawan pasukan Belanda. Sampai menjelang siang, disaat pertempuran berlangsung pasukan Brimob mendapatkan perintah untuk tidak melanjutkan perlawanan. “Pas mau Ashar itu pak Sukari mundur padahal sudah banyak yang mati,” runut Bu Haji.

Dari puing pertempuran ditemukan bahwa ada 13 anggota Mobrig yang gugur dan 20 warga Jumerto. Bu Haji yang kehilangan saudara dan suaminya berusaha tegar sebagai kerabat pejuang.

Nama-nama korban dari desa Jumerto


“Saya rela sungguh rela. Ini demi negara,” katanya pelan.

Kini telah 62 tahun sejak peristiwa itu terjadi Bu Haji masih sendiri memperjuangkan hidup. Rumah sederhananya tak ada yang istimewa. Dingin dan sepi dari hiruk pikuk. Tak satupun penghargaan yang ia terima selain sebuah monumen mati dan seperangkat mukena atas jasa keluarganya. “Saya pernah diberi mukena sama pak Kapolres itu saja,” katanya.

Konon bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannnya. Kini Bu Haji menikmati sisa umur dalam kesunyian. Ia ikhlas merelakan keluarganya sebagai tumbal perjuangan kemerdekaan.

“Ya sudah mungkin ini rejeki saya. Alhamdulillah seng penting merdeka,” ujarnya lirih.


Bu Haji

Senin, 07 November 2011

Skłodowska

~ I am among those who think that science has great beauty.

Saya membayangkan di ujung hidupnya, Skłodowska, sedang memandang rerumputan hijau. Mengingat masa kecilnya di pinggiran kota Warsawa. Segala kenangan berkelindan dalam pikirannya dan sebuah senyum simpul tersungging di wajahnya. Sementara seperti biasa tatapan mata Skłodowska datar. Seolah tak pernah ada emosi dalam hidupnya.

Suatu pagi di Sancellemoz Sanatorium Passy, Haute-Savoie, di timur Prancis. Skłodowska sedang terbaring sangat lemah. Kanker dalam tubuhnya sudah memasuki tahapan yang tak tersembuhkan. Ia menyadari bahwa hidupnya sudah memasuki tahap akhir dan sebentar lagi tirai tertutup. Tak ada gurat kesedihan atau penyesalan dalam hidupnya. Sebuah tahapan kebebasan yang terlepas dari hiruk pikuk dunia.

Sebuah usaha moksa dari betari ilmu pengetahuan yang menghendaki kesempurnaan hidup. Ia tak mengenal agama. Segala pengetahuan mengenai ajaran kasih sudah lama ditinggalkan dalam tumpukan tabung kimia. Namun ujung hidupnya merujuk sebuah kemiripan pada jalan para bodhi. Dukkha Nirodha Ariya Sacca. Jalan kerelaan dan keikhlasan untuk melepaskan segala keinginan.

Skłodowska muda adalah seorang ilmuan brilian yang jatuh cinta pada ilmu pengetahuan. Serupa Faustus yang menjual jiwanya untuk pengetahuan pada Mephisto, maka si gadis brilian dari Warasawa menjual jiwanya demi sains.

Apakah ia menyesal? Tidak. Sejarah mencatatkan ada harga mahal untuk sebuah perubahan. Tumbal dari martir sebagai sebuah jalan lain pencerahan. Kisah Ibrahin dan Ismail. Komodor Yos Sudarso dan berbagai kisah epik lainnya. Bahwa ada sebuah sisi tengah mata uang yang jarang sekali dipahami sebagai proses.

Tentu ada melankolia. Romantisme. Apalah arti sebuah epos tanpa kisah romantik? Si gadis kecil dari pinggiran Polandia jatuh cinta dengan seorang Pieere Curie si kutu buku dari paris. Bukan karena ia mencintai magnet sehingga Skłodowska dan Pieere bersatu. Tapi karena memang seringkali cinta terjadi dengan cara yang salah.

Maka sesungguhnya tak ada radium tanpa Skłodowska dan Pieere.

Tapi seperti setiap drama yang baik. Maka tragedi adalah salah satu ending paling monumental dalam kisah cinta manapun. Pieere harus meluluh dalam kematian karena sebuah kecelakaan tragis. Apakah sekali lagi Skłodowska kecewa? Tidak. Ia menemukan eskapisme baru. Radiologi memperoleh messiahnya.

Kita tahu tak pernah bisa dan tak boleh bermain-main dengan kematian. Seperti mendekati nuklir dan mengotak-atiknya sebagai sebuah sumbu pemanas. Melarutkannya dalam tabung-tabung kimia. Serta memaparkan sinarnya kepada tubuh. Sebuah usaha bunuh diri yang manis demi umat manusia.

Seringkali tak banyak para martir sadar akan perbuatannya. Mereka seperti sedang berbincang mengenai tiket konser untuk bertemu santo Petrus di gerbang surga. Atau meniti sirathul mustakim seperti sebuah kegiatan akhir pekan. Skłodowska tak pernah menyadar bahwa eskapisme masokisnya adalah sebuah titik balik pengobatan.

Ada ritus kemudian yang mengenang jejak mereka sebagai tindakan profetik. Bahwa ada campur tangan tuhan dalam kisah-kisah transenden penemuan umat manusia. Dimana seringkali ada sebuah mitos-mitos dan kisah kisah sampingan tak perlu dalam narasi tersebut. Bukankah semua tragedi harus diawali dari sebuah sikap nyinyir yang pejal?

Bahwa Skłodowska adalah seorang genit yang mengganggu pria muda beristri?

Entahlah. Saya tak pernah percaya santo dan rasul membawa kebaikan pada dunia. Para pendosa-lah yang memberi gigir dunia sebuah perspektif baru. Penyeimbang akan kebaikan yang harus dihindari, ditinggalkan dan dimusuhi. Tapi seringkali nilai-nilai normatif degil memberi kabut paling besar pada pencapaian yang luar biasa.

Dan inilah ia Skłodowska si Gadis Dari Pinggiran Warsawa. Masih menjadi satu-satunya wanita yang meraih dua penghargaan raja dinamit. Bahkan melampaui ekspektasi semua laki-laki, jika anda berpikir dari kaca mata feminis. Seorang wanita yang terluka bisa menemukan pengobatan dengan cara melukai diri. Konyol? Mungkin, tapi seluruh dunia menikmatinya.

Seraya mengamini Chairil Anwar bahwa hidup hanya menunda kekalahan. Karena kita tahu ada banyak hal yang tetap tidak terucapkan meski telah coba diutarakan. Kata-kata sudah kehilangan makna dan kekuatannya saat hati dan pikiran kita sudah tak lagi linier. Namun sebelum pada akhirnya kita menyerah mengapa tak buat keabadian.

Ah Marie Skłodowska Curie yang malang. Untuk apa hidupmu terbuang?



Minggu, 06 November 2011

Merah





Ini dalam kamar ini
Aku bersembunyi lagi
Mereka yang kita sayangi
Yang paling mampu melukai

Monkey to Millionaire
Merah


Jumat, 04 November 2011

[REVOLVERE PROJECT] Kau Yang Mengutuhkan Aku


Ada banyak peristiwa sederhana yang kasat mata kita pahami sebagai keseharian. Namun apabila hal tersebut dibingkai dalam sebuah sudut pandang yang berbeda. Akan ada estetika, keharuan dan perasaan bebal.

Keseharian mencengkeram kita kedalam kubikel kubikel kumal yang mengharuskan kita jadi robot. Menjadikan kita sebagai individu yang mekanis dan acuh pada sekitar. Lalu secara perlahan kita kehilangan identitas diri sebagai manusia, sebagai mahluk yang memiliki perasaan, dan yang paling mengerikan kita kehilangan cinta.

Ini yang coba diretas Revolvere Project (RP). Project hibrida sastra-musik-visual menjadi sebuah bentuk kreatif yang baru. RP ini mengajak pembacanya berinteraksi dan menikmati sebuah karya melalui rasa, mata, dan telinga sekaligus.

Tema-tema yang diangkat project ini merupakan tema-tema sederhana di keseharian namun berusaha dilihat melalui sudut pandang yang berbeda; untuk meninjau ulang maknanya dan memperdalam perannya dalam meningkatkan kualitas diri kita sebagai manusia biasa yang seharusnya luar biasa. :)

Didirikan pada pertengahan bulan Agustus 2011 di sebuah café di Bandung, project ini digawangi tiga kreator lintas-bidang: Fahd Djibran (penulis), Fiersa Besari (musisi), dan Futih Al Jihadi (seniman visual).

Mari membuka mata, telinga, dan rasa... Selamat menikmati karya mereka yang pertama.

Kau Yang Mengutuhkan Aku
Revolvere Project
Naskah Fahd Djibran

Senja makin tua ketika kita tiba di kota itu.

Kau melingkarkan lenganmu di tubuhku ketika kita melintasi bangunan-bangunan tua, ruko-ruko yang asing. Ada debar yang tak biasa, bertalu dalam hatiku; Naik turun seperti roda sepeda motor yang sedang kita kendarai bersama, menari di punggung jalan kota yang berlubang.

Selepas kelokan itu, kau mempersempit lingkar lenganmu, mendekatkan tubuhmu dengan punggungku, menyandarkan pipi kirimu di bahu kananku. Entah apa yang sedang terjadi, sesuatu membimbingku memegang tanganmu dengan tangan kiriku. Tiba-tiba debar itu semakin cepat, membuyarkan konsentrasiku: dan tubuh kita tersintak saat ban depan sepeda motorku anjlok di sebuah lubang. Kamu tertawa. Sementara aku masih manahan napas sambil berusaha mengendalikan kemudi yang oleng.

Tangan kita kembali jadi milik masing-masing. Es mencair dalam pikiran. Sejujurnya, apa yang kubayangkan, melebihi apa yang sudah terjadi. Plang-plang hotel kelas melati, reklame bergambar gadis manis berpakaian seksi, ciuman pertama: rasa waswas yang buas. Itu salahku, sungguh: pikiran-pikiran buruk telah membuyarkan konsentrasiku, dan hampir saja membuat hidup kita berakhir di jalanan kota yang asing.

“Kita sudah hampir sampai,” katamu. “Dua kelok lagi, di kanan jalan, rumah nenek bercat hijau dengan pagar putih.”

Aku mengangguk perlahan. Sedikit mempercepat laju roda sepeda motorku.

“Kamu mau menginap?” tanyamu.

Kota yang sepi, rumah yang tak dihuni siapa-siapa, nenek sudah tua, lampu jalan remang-reman, liburan yang panjang: menyamarkan kata pulang. Apakah di kota ini kita akan merayakan ciuman pertama? Bercumbu di bawah dingin bulan?

“Ah, tidak,” kataku padamu, “aku langsung pulang ke Bandung setelah Isya.”

Kamu tersenyum. Mengangguk perlahan. “Kita bisa telponan atau sms-an, kan? Kamu bisa jemput aku dua minggu lagi.”

Aku mengangguk. Kita sudah sampai.

Ciuman pertama kita, selalu urung kita rayakan. Bukan tidak bisa, tapi tidak saja. Meski sebenarnya ingin, aku harus bertahan. Kamu bukan hakku, dan aku tak mau kehilangan debar itu: rasa rindu yang tak habis-habis menghadirkan bayangmu di malam-malam insomniaku.

Kencan kita adalah pertemuan-pertemuan biasa: bioskop, toko buku, pertunjukan teater, makan malam di pinggir jalan. Kita selalu punya banyak kesempatan untuk berciuman, bahkan lebih dari itu. Kita punya banyak kesempatan untuk bisa seperti pasangan kekasih yang lain, selayaknya mereka yang kasmaran di zaman ini. Tapi kita saling bertahan, aku dan kamu: Kita harus menunggu.

“Ada dua jenis kerinduan,” katamu suatu hari, “Kerinduan pertama tersebab kita pernah merasakan sesuatu dan kita menginginkannya kembali. Kerinduan kedua tersebab kita tak pernah mengalaminya dan benar-benar ingin merasakannya, setia menunggu dalam penantian yang lugu.”

“Aku memilih yang kedua,” kataku.

“Aku juga,” katamu. Tersenyum.

Dari sekian banyak pasangan kekasih di zaman ini, barangkali cara kita yang paling asing. Untuk tidak mengatakannya aneh. Dulu kamu selalu marah. Kamu ingin seperti pasangan kekasih lain yang mendapatkan pelukan dan ciuman. Tapi, seperti sudah aku jelaskan, “Yang penting bukan itu. Apa artinya kita berdua, bermesraan, tapi tak pernah saling mendoakan?”

Waktu itu, kamu terdiam. Aku juga tak tahu dari mana aku mendapatkan kata-kata itu. Kamu menangis. Kamu minta maaf. Tapi itu bukan salahmu, kok. Aku juga manusia biasa yang menginginkannya. Kita hanya perlu kesabaran, sebab aku benar-benar mencintaimu. Aku tak ingin merusak kesungguhan cintaku dengan keinginan-keinginan yang merendahkan. Syukurlah kamu setuju.

“Bersabarlah, sebentar lagi, dua bulan lagi kita akan menikah.” Kataku, sebelum berpamitan pulang malam itu.

Kamu tersenyum. Mengangguk perlahan. “Aku mencintaimu,” katamu.

“Aku juga. Kau yang mengutuhkan aku.”
Nanyikan lagu kesukaan kita
Percepat laju roda
Ku tak peduli dengan mereka
Asal kau di sini

Jangan pergi
Kau yang mengutuhkan aku
Bertahanlah sebentar lagi
Sampai kuikat dirimu

Tak bosan-bosan
aku ucapkan tiga kata itu
Aku tak pernah merasa lengkap
Sampai kau datang

Jangan pergi
Kau yang mengutuhkan aku
Bertahanlah sebentar lagi
Sampai kuikat dirimu

…dan dunia seakan membenci kita
Raih tanganku agar kutahu ku tak sendiri
…dan aku melihat segalanya
Saat aku melihatmu

Lalu kita berpamitan. Berpisah lagi, seperti biasa. Kembali bersalin rupa menjadi sepasang kekasih yang mengakrabi makna cinta dari dua tempat yang berbeda.

Dari mana aku belajar bersabar mencintaimu, menunda segala hal yang terus-menerus menggoda kita berdua? Aku juga tak tahu. Aku hanya ingin mencintaimu tanpa alasan-alasan yang pada saatnya akan tiada—wajahmu yang cantik, rambutmu yang hitam dan panjang, kulit kencangmu. Biarlah cinta tumbuh sebagaimana para petani bersabar menanti padi, hingga saatnya panen akan tiba.

Demi apapun, aku mencintaimu. Cintamu telah mengubahku menjadi lelaki yang tak tunduk pada kelaminnya sendiri. Lalu aku akan tidur dengan tenang; memimpikanmu menari di taman bunga; lalu kupu-kupu hinggap di rambutmu yang puitis, melengkungkan senyummu yang manis.

Pagi-pagi, selepas sembahyang, aku akan mendoakanmu dan kamu mendoakanku. Hingga pada saatnya sebuah SMS akan tiba, berisi tiga kata seperti biasanya: aku cinta kamu.


Bertahanlah,
sebentar lagi,
sampai kau ikat diriku...

Bingkai Cahaya






~ Great music and great photo. And we do hate our miserable life right?
Saya tak kenal Robert Frank sebelum membaca dan meliat kumpulan foto yang berjudul The Americans. Tapi sekarang saya tahu, jika James Nacthwey adalah Perseus dalam dunia fotografi. Maka Robert Frank adalah Hommer. Tidak, saya tidak sedang membicarakan mengenai penciptaan fotografi. Karena itu akan sama saja dengan memperdebatkan mengenai kuasa tuhan atas cahaya.

Nachtwey adalah begawan genre fotografi perang dan kemanusiaan. Lewat salah satu film semi biografi dokumenternya, the war photographer, Nachtwey menelanjangi peperangan sebagai sebuah keegoisan yang hanya berujung pada kemusnahan masal. Namun tak berhenti sampai disitu ia juga berusaha lebih dekat menyusun narasi kemanusiaan tentang kemiskinan. Sebuah usaha platonik yang naif.



Kemiskinan adalah klise. Sebuah tema usang yang sekalu sukses meruntuhkan air mata. Nachtwey sukses menggarap tema itu sampai kepelosok dunia (bahkan Indonesia) dan mengembangkannya sebagai isu sentral perubahan. Ada ketakutan yang tak teraba dalam setiap karyanya. Bahwa manusia cenderung selalu mengulang sejarah. Sialnya, bukan sejarah kegemilangan tetapi darah.

Dalam suatu fragmen dalam bukunya yang berjudul Inferno ia berkata "I have been a witness, and these pictures are my testimony." Sebuah prolog atas teror yang ia lanjutkan "The events I have recorded should not be forgotten and must not be repeated." Sebuah ketakutan dan teror yang berjelaga dalam diri Nachtwey.




Seperti perasaan Valkyrie saat ia harus menunggu dan menyaksikan para pejuang tewas meregang nyawa di medan perang. Menggenapkan epigraph Dante dalam “Inferno

“Through me is the way to the sorrowful city. Through me is the way to join the lost people.”

Berbeda dengan Nachtwey yang cenderung frontal menyuarakan perang, kepedihan, kehilangan, kematian dan kesedihan. Robert Frank lebih lembut dan landai menyuarakan isu isu minor. Mengenai rasisme kulit hitam di Amerika. Jim Crows Laws dan bagaimana black power berusaha mengangkat derajat kaum tertindas itu.

Sangat luar biasa jika melihat bagaimana sebuah foto dapat mempengaruhi kebijakan. konon foto-foto yang dibuat oleh Robert Frank mampu menggugah publik Amerika untuk lebih arif bersikap. Dan mengakhiri ratusan tahun penindasan atas nama warna kulit.

Foto-foto yang dibuat oleh Robert Frank dalam The Americans, cenderung tidak artistik dalam kaca mata kesenian. Ia lebih banyak bicara dengan bahasa kemanusiaan. Seperti gambar-gambar yang disusun secara tak sengaja dan bukan by design. Hal inilah yang juga menjadi dasar mengapa beberapa orang menganggap Robert Frank sebagai bapak street potography atau fotografi jalanan.




Sebagian besar foto yang dibuatnya berkisar di jalanan Mississippi, Bronk, dan juga daerah dengan persinggungan kulit hitam putih yang besar. Disana ia bisa mengolah foto dengan begitu nadir, satir dan getir. Membuat bingkai seolah-olah paradoks kemanusiaan atas nama warna kulit itu hanya sekedar imaji. Repetoir inilah yang kerap membuatnya diburu oleh Klu Klu Klan karena dianggap anti segregasi kelas.

The Americans juga membawa Jack Kerouac, Allen Ginsberg, dan gerombiolan beat lainnya untuk bersinggungan dengan Robert Frank. Dari intimasi ini lahirlah dokumenter kontroversial the Rolling Stones. Hal inipula yang kelak membawa begawan street photography ini untuk melakukan perlawanan sunyi dengan caranya sendiri. Melalui frame foto yang mengambarkan kedegilan hidup.


Saya kira fotografi hari ini sudah terlalu jengah dengan model, inframerah dan segala hal kerdil macam hobi-hobi kekanakan. Fotografi bisa jadi cara lain untuk melakukan pekerjaan kemanusiaan. Dan juga bisa jadi sebuah katalis untuk menggambarkan pemberitaan. Sebuah narasi berita memang tak akan jadi menarik tanpa adanya foto-foto yang baik. Tapi juga bukan berarti semua orang bisa dan serta merta jadi pandai hanya karena punya kamera mahal seharga mobil.

Euforia instagram juga menenggelamkan esensi paling subtik dari fotografi. Yaitu medium untuk menyampaikan sebuah momen yang apa adanya. Kini pelukis cahaya bisa merasa menjadi paling nyeni hanya dengan sisipan elemen tambahan dari software. Kita pelan-pelan dipaksa menerima, bahwa apa yang telah dipoles lebih indah dan lebih benar dari kejadian yang apa adanya.

Akhir-akhir ini saya dibuat sedikit tidak nyaman dengan keberadaan label pada foto yang ditasbihkan dengan nama pembuatnya. Hampir dalam setiap karya baru para pembuatnya muncul dalam setiap foto yang ditautkan di laman facebook saya. Semisal Condet Photography, Japrak Photoworks dan Juleha Photo Studio. Saya tak pernah ingat melihat foto-foto yang dibuat Robert Frank atau James Nachtway (bahkan pada awal karir mereka sekalipun) menyertakan nama-nama labil.

Pada masa awal saya belajar fotografi saya juga menyertakan idiom-idiom labil dalam setiap foto yang saya buat. Ini mengingatkan saya bahwa toh ada fase-fase belajar dalam fotografi. Juga dalam setiap karya yang dibuat kita butuh pengakuan dan diakui. Namun apakah ini harus terus menerus dan selalu dilakukan? Dan apakah objek foto melulu hanya model yang (maaf) setengah telanjang dan menonjolkan sensualitas?

Tapi, entahlah, bukankah dulu fotografi hanya hobi bagi segelintir. Mereka yang terasing dan hanya mampu melihat suatu hal dari perspektif lain. Bahkan hingga hari ini fotografi di hollywood (bukan Amerika) dicitrakan sebagai kegiatan kaum nerd. Tapi entah kenapa di sini (kota saya) jadi parade orang-orang snobs. Ah.. mungkin saya hanya sirik saja.




82 Tatal mengenai Cinta Yang Terlampau Usang



Sebermula rasa penasaran. Seorang kenalan saya Idham Rahmanarto fotografer jenius muda berbakat mentwtit tentang buku. The book of waiting, katanya dalam sebuah tweet. Seperti kebanyakan kaum snobs buku saya tertarik untuk kemudian mencari tahu dan meminta Idham untuk memberinya kepada saya. Dan inilah buku yang ia berikan. A Lover's Discourse, sebuah gumam, racauan dan kicau resah mengenai cinta.

Saya tidak pernah tahu bila Roland Barthes, sang filsuf dandy ini, adalah seorang yang melankolis. Setidaknya itu yang saya raba dari kumpulan 82 tatal perihal cinta yang ia buat. Barthes, merangkai sekumpulan fragmen-fragmen definisi dan perenungan mengenai perasaan yang ia curigai sebagai cinta. Tentu saja tidak melulu pemaknaan yang rapuh, lembek, menye, atau memuakkan.
Salah satu fragmen tatal yang saya sukai adalah exil / exile. Sebuah kondisi kalah, atawa pengakuan terhadap superioritas terhadap liyan. Atau dalam bahasa Barthes, "Deciding to give up the amorous condition," katanya. Sebagai sebuah bentuk penyesalan dan ketidakmampuan menghadapi kenyataan. "The subject sadly discovers himself exiled from his Image-repetoire."

Jika Barthes menulis Mythology dalam keadaan geram terhadap kondisi sastra Perancis saat itu. Maka saya boleh menduga Ia menulis A Lover's Discourse dalam keadaan galau yang akut. Banyak fragmen-fragmen kisah, cerpen, puisi dan gumaman tak jelas yang melingkupi tatal ini. Seolah tak hendak memberikan penjelasan yang utuh terhadap permasalahan yang kerap menempel ketat pada cinta itu sendiri.

Seperti penjelasan Barthes pada fading / fade-out. Saya merasa kondisi ini merupakan titik nadir Barthes dalam mendefiniskan cinta yang gagal. "Painful ordeal in which the loved being appears to withdraw from all contact," katanya. Sekilas kondisi ini mirip dengan exil / exile karena menggambarkan sebuah pelarian dan sikap desertir. Namun Barthes lebih ingin mengambarkan fading / fade-out sebagai sebuah sikap nyepi daripada harus menghadapi permasalahan cinta secara frontal.

Barthes menggambarkan penokohan seseorang yang pengecut. "Without such enigmatic indifference even being directed against the amorous subject or pronounced to the advantage of anyone else, world or rival." katanya. Ada rasa getir dan lelah dari tatal ini. Seperti kisah cinta Lancelot dan Guinevere yang berkubang di bawah tahta Artur. Kondisi dilematis yang kerapkali diselesaikan dengan penyerahan diri terhadap super-ego.

Sedikit banyak selama beberapa waktu ini saya merasa didewasakan. Kerapkali dengan cara yang tengik dan brengsek. Namun diam-diam buku ini memberikan semacam pencerahan terhadap cinta. Sebuah usaha merekonstruksi definisi dan pemahaman terhadap cinta. Tapi pada akhirnya, jika saya boleh meminjam sajak Chairil Anwar, cinta serupa nasib. Adalah kesunyian masing-masing.