Kamis, 24 November 2011

Ber umur




Jumat kemarin saya hampir mati. Oke itu sedikit berlebihan. Tapi yang benar hampir selama dua hari saya sekarat dan tak bisa melakukan apa-apa selain tidur dan terlentang. Duduk pun rasanya sangat sakit. Kata seorang teman yang perawat itu karena liver saya, yang lain bilang karena sondep (you know that kinda stomach ache but like hell), dan ibu saya bilang karena kelelahan. Saya pribadi entah kenapa lebih percaya pada yang terakhir.

Hampir selama dua minggu saya liputan seperti orang gila. Berkisar dari Bondowoso sampai dengan Semboro. Itu sekitar 200 km bolak balik. Setiap hari saya lakukan dengan jam kerja dari jam 08.00 sampai pulang jam 23.00. Entah kenapa waktu itu saya hanya ingin keluar, bekerja, menulis dan baca komik. Seperti ada ketakutan-ketakutan jika saya diam. Saya akan tersedot masuk kedalam sebuah ruang gelap bernama kebencian dan dendam.

Mungkin ada kaitannya dengan masalah pribadi yang saya alami dengan seorang kawan, seorang gebetan dan juga sebuah perkumpulan. Well, shit do happens right? Some handle it with care, some others handle it like shit. Kita bisa lari dari masalah dan menganggapnya selesai. Atau berdiri menghadapi sebagai seorang jantan. Sayangnya saya bukan keduanya Dan sekali lagi sepertinya saya melakukan apa yang saya bisa. Diam.

Hidup adalah keberanian menghadapi tanda tanya.

Sayangnya saya tak punya mental atau kemampuan seperti Gie. Dia bisa saja bilang begitu karena dia punya banyak teman karib, barisan groupies, pekerjaan menyenangkan, hobi asik dan sederet hal-hal keren yang lebih menarik daripada nongkrong seharian di café wifi. Hidup adalah soal hitam dan putih buat Gie. Dan sialnya saya selalu memilih untuk jadi abu-abu.

Pada bulan ini sekitar 2007 saya ikut organisasi pers mahasiswa. Namanya Tegalboto. Terlepas dari nama kampungan dan ece able. Disana saya banyak belajar mengenai kemampuan bertahan hidup. tentang bagaimana menghadapi manusia arogan, berkata kasar, sok kuasa, sok pinter (yang memang pinter) dan bagaimana cara menulis. Oh tentu saja tidak gratis. Semuanya dibayar dengan ketundukan dan rasa patuh.

Perintah pertama yang saya terima adalah membaca. Saya suka membaca tapi tidak dengan buku-buku tebal berjudul pos realitas, bumi manusia, apalagi kamus besar bahasa Indonesia. Whats the point anyway? Well memang saya tak pernah disuruh membaca semua itu, tapi seperti ada dorongan untuk membaca itu. Buku-buku tadi bergeletakan di ruang redaksi Tegalboto. And I’m a bit curious about what they read.

They said ignorance is a bliss.

Well can’t agree more. Sok tau itu berbahaya mau tahu itu lebih berbahaya. Keingintahuan kerapkali membuat orang jadi lupa diri dan akhirnya berakhir pada hal-hal buruk. Oke, tidak semuanya. Beberapa. Sebagian kecil. Oke fine! Sangat kecil dari rasa ingin tahu menyebabkan anda tidak beruntung. Tapi rasa ingin tahu saya waktu itu membuat saya terpapar nanar karena rasa malu. Apa itu KOMODIFIKASI CITRA? APA ITU MAGNUM OPUS? APA ITU TRANSENDEN?

Akhirnya saya harus berteman dengan KBBI untuk mencari itu semua. Saya terlahir pemalu. Oke maksudnya malu-maluin. Cenderung sok tahu dan sok hebat. But peoples change. As age goes by, so does maturity. Saya berusaha untuk tak lagi sok tahu dengan mencari tahu. Anehnya hal ini saya lakukan atas kesadaran sendiri. Bukan karena dorongan orang lain, ya meski kadang masih suka nanya dengan beberapa senior di Tegalboto.

Hari ini Tegalboto ulang tahun. Entahlah saya tiba-tiba ingin menulis tentang bagaimana rasa rindu yang lindap itu berjelaga. Bahwa saya merindukan diskusi kritis di malam dengan penuh makian. Tentang bagaimana hidup di luar Tegalboto itu kejam. Dan bagaimana kami harus begadang setiap malam untuk mengejar deadline. Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.

Ini muka penuh luka Siapa punya ?

Ya bahkan Chairil pun pernah labil dan krisis identitas bukan? Bahwa segala yang lalu kerap kali legit dan membuat kita mabuk kepayang. Nostaligia selalu menawarkan kisah-kisah manis hidup yang telah usai. Sedangkan hari-hari kita di depan masih menunggu untuk dirubuhkan. Saya rindu Tegalboto yang lalu. Sedangkan hari ini saya bahkan tak bisa pergi kesana untuk sekedar menghidu bau apak udaranya. Dasar gombal.

Kita semua gombal. Siapa yang tidak? Seorang penulis, apalagi jika dia penyair, adalah mahluk paling gombal kedua setelah penyanyi dangdut. Oh benar. Kasta tertinggi mahluk gombal bukan penyair. Cih! Mereka tak akan bisa bikin syair bagus macam penyanyi dangdut. Sebuah gitar, sesisir sajak. Putuslah semua urat malu para perawan. Dikejarnya kau nanti bagai seorang maling hati. Aih.

Gombal atau tidak itu perkara perspektif. Kalau kau tanyakan pada Marx dia bakal bilang, gombal itu candu kaum borjuis supaya proletar tetap tertindas. Jika kau tanyakan pada Wittgeinstein, dia bakal bilang gombal itu permainan bahasa untuk menyembunyikan makna sebenarnya. Jika kau tanya Rhoma Irama, bisa panjang urusannya. Dia punya puluhan lagu soal gombal. Dikata terlalu habis kau dikejar pemain gendang.

Tiada insan yang bebas dari ujian.

Aih manis benar bang Rhoma bikin syair. Saya kira Tegalboto juga demikian. Ia tak bebas dari ujian zaman. Jika dahulu angkatan saya menerima enam orang keparat yang sebagaian besar telah lulus dan berprestasi nasional. Maka Tegalboto juga sudah meraih berbagai penghargaan nasional. Sudah pula sampai ke Jerman dan sudah pula sampai ke Merauke.

Ini bukan tentang identitas cauvinis kolektif. Tetapi mengenai memaknai proses sebagai usaha berkelanjutan tanpa akhir. Saya bisa hilang arah, atau mentok berkarir, atau disoriensatasi hidup, atau post power syndrome atau bahkan mungkin menopouse. Tapi setiap era punya caranya sendiri beradaptasi dan membuat karya monumental. Saya kira ini yang sudah tecatat dalam masing-masing kepala alumnus Tegalboto.

Proses adalah laku hidup kepanditaan. Serupa keras hati Bambang Ekalaya yang berlatih memanah meski tanpa guru. Awak Tegalboto, pada zaman saya, kehilangan sosok guru. Karena kami merasakan kesetaraan dan kesejajaran. Tak ada yang patut di gugu dan di tiru. Karena role model dan patronase hanya akan berbuntut kekecewaan jika luput pada amanah.

Pada akhirnya perjuangan kita hanya sloganistis.

Ahmad Wahib, meski HMI tapi tidak asu, boleh berkata begitu. Embel-embel platonik ‘menuju pencerahan masyarakat’ itu berat. Saya tidak tahu siapa jancuk yang membuat kata-kata itu. Dikira gampang melakukan pencerahan. Apalagi mengajak serta masyarakat yang amoral, sakit dan gendeng ini menuju kesana. Membawa diri sendiri belum tentu bisa apalagi orang lain. Meh!

Kuncinya adalah menuju pencerahan. Itu adalah ajakan berproses. Menuju bukan hasil, karenanya proses itu sendiri di Tegalboto adalah sebuah zetgeist. Bildungprozze. Pembentukan jati diri yang dilakukan perlahan dan didasari pemahaman. Saya yakin Tegalboto bukan pabrik yang berorientasi pada hasil keluaran. Tapi lebih kepada pembentukan kedalam.

“Pengarang” sebut Pramodya Ananta Toer, “mendapatkan tekanan terberat atas perlakuan yang ditimpakan padanya, pengalaman pribadinya adah juga pengalaman bangsanya, dan pengalaman bangsanya adalah juga pengalaman pribadinya.” Maka maknai proses sebagai pengalaman. Dan kalian akan mendapati tugas seorang pengarang (penulis) adalah mahaberat. Karena harus menuliskan keabadian.

Karena Hidup adalah keberanian menjadi kita.

Saya sudah muak untuk kemudian terus menerus berproses di Tegalboto. Karena seorang bayi yang disapih pun akan sampai pada masa peralihan. Apa yang diberikan tegalboto pada saya jauh lebih dari cukup. Jauh dari memadai untuk memulai hidup sebagai seorang pemikir atau penulis. Itupun jika saya punya cukup nyali untuk melakukannya. Karena seringkali alasan lebih panjang daripada keinginan untuk memulai.

Inilah Tegalboto berusia 18 tahun. Sudah cukup dewasa untuk menonton naughty america. Dan sudah cukup matang untuk ikut SNMPTN. Tapi kembali, proses seringkali meminta tumbal atau martir. Dan kebanyakan dari mereka dilupakan. Semoga saja pengurus Tegalboto hari ini tidak perlu jadi keduanya. Semoga mereka jadi anak-anak zaman yang berlari mengejar narasinya sendiri. Narasi pencerahan. Tabik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar