Jumat, 25 November 2011

Label

~ gelar itu mereduksi segala tanduk yang melekat pada penindak

Saya kadang geli saat membaca opini dalam surat kabar. Bukan perihal isi tulisan opini, yang meski saya tak paham, sangat berkesan dan intelektuil. Tapi mengenai label yang dilekatkan kepada si empu penulis opini tersebut. Seseorang bisa melekatkan kata pakar tape dan seni orek telur. Atau pengamat kambing. Atau yang lebih monumental kurator atwa kritikus air seni. Saya kira melekatkan label adalah masalah pelik.

Belum lagi jika opini tersebut berisi pendapat dan kutipan ilmiah nir peminat. Sepertinya para penulis opini tersebut punya pemahaman bahwa mereka membaca opini si penulis bisa lunas paham dalam sekali baca. Saya kira di masa depan, koran-koran harus berupaya lebih sederhana dalam menerima opini. Kalau tidak maka Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Google akan jadi alat pandu utama dalam memahami sebuah opini.

Perilhal label pun bisa jadi perdebatan yang seru. Karena kerapkali seorang penulis baru berkualitas bingung hendak melabeli dirinya apa. Menjadi pengamat? Bah bisa jadi salah kaprah karena pengamat adalah orang yang hanya pengamat. Ahli? Apapulak itu perlu sertifikasi dan pembuktian ilmiah terhadap label semacam ini. Pendek kata pemberian label bisa jadi masalah jika anda belum menjadi siapa-siapa atau tak berasal dari satu lembaga tertentu.

Beberapa waktu lalu seorang rekan menulis opini di Kompas. Ulasan menarik mengenai kondisi hubungan diplomatik Indonesia dan Asean. Sebenarnya secara kualitas tulisan, kawan saya itu tak usah diragukan. Dia bisa menganalisa konsep hubungan million friends zero enemies dengan sangat lugas, cerdas dan nyinyir. Tapi kemudian ia bermasalah mengenai pelabelan. Andai ia seorang cleaning service di CSIS ia bisa saja mengaku sebagai peneliti. Masalahnya ia hanya seorang guru di sebuah lembaga bimbingan belajar.

Ada masalah keotentikan kuasa akan kemampuan dan analisis dalam penulisannya. Seolah olah ada klaim ilahiah bahwa mereka yang menulis opini dalam koran besar harus berasal dari orang besar. Tak ayal tulisan kawan saya yang mengkritik keras gaya diplomasi negara ini kemudian dijawab oleh orang kementrian luar negeri. Secara sarkastik orang dari kementrian itu menyerang legitimasi dan kemampuan dari kawan saya itu. Sebagai amatur dan medioker yang sok tahu. Hanya karena kawan saya itu melabeli dirinya sebagai pengamat...

Label adalah reduksi. Karena seluruh pengalaman manusia dan kemampuannya harus dijejalkan dalam satu pemaknaan kata. Dalam banyak hal ini adalah sebuah tindakan fasisme. Karena manusia sesungguhnya unik. Ia akan selalu berbeda dengan yang lainnya meski kemiripan selalu ada. Tapi menafikan kedirian sebagai usaha diterima dalam masyarakat yang luas saya pikir adalah sebuah penindasan jati diri. Dalam hal ini label kerap kali menyakiti identitas seseorang.

Lalu bagaimanakah cara kita akan melakukan definisi diri? Mengenai identitas kedirian seseoang yang belum tentu orang itu menyukainya. Saya selalu ingat bagaimana Eddie Vedder, frontman Pearl Jam, selalu menolak label grunge yang kerap dilekatkan kepada band dimana ia tergabung. Atau bagaimana merumuskan seorang Leonardo Da Vinci. Apakah ia seorang avontour, ilmuan, seniman atau seorang filsuf? Kelak saya menemui orang seperti Da Vinci alih-alih dibebaskan dari label, mereka justru dilekatkan sebuah label menakutkan. Universalis!

Universalis adalah mereka yang dianggap tahu banyak dari banyak hal dan juga aktif sebagai praktisi di dalamnya. Indonesia mengenal Soedjatmoko, mantan rektor Universitas PBB di Jepang dan intelektual, sebagai salah satu universalis asal Indonesia. Ia disebut demikian karena luasnya cakupan pemikiran dan karya tulis yang Soedjatmoko susun.

Hal yang sama juga melekat kepada Romo Mangun Wijaya, sastrawan arsitek dan juga tokoh teologi. Romo Mangun banyak menulis mengenai kondisi sosial dalam esai-esai yang ia buat. Belum lagi berbagai cerpen dan novel yang secara satir menyigi identitas jawa (sebagai representasi fasisme) Indonesia. Meski demikian pemahaman sejarah yang luar biasa juga menjadi kekuatan seorang Romo Mangun. Lihat saja karyanya dalm Ikan-ikan Hiu, Ido Homa.

Romo Mangun dan Soedjatmoko tak berhenti pada tataran wacana pemikiran saja. Namun keduanya juga turut andil dalam pembangunan sosial masyarakat secara nyata. Contoh kanon sumbangsih Romo Mangun masih bisa kita lihat dalam perkembangan masyarakat Kali Code di Jogja. Sedangkan alur karya Soedjatmoko bisa dilihat dalam konsepsi perdamaian yang ia canangkan saat menjadi rektor Universitas PBB di Jepang. Soedjatmoko, meski kerap dikritik pro barat, merupakan salah satu peraih penghargaan Ramon Magsaysay terbaik. Karena keotentikan pemikiran dan sikapnya sebagai Indonesianis yang mendunia.

Perkara label merupakan perkara klaim yang dilekatkan. Seorang kawan yang aktif di komunitas seni Utan Kayu Jakarta bernah bercanda. "Kukira semua penyair yang punya julukan itu mabuk dulu untuk bikin gelar," katanya. "Saat minum dengan tuak mereka bersepakat. Hei kau jadi penyair burung camar, kau jadi penyair kolor dan aku jadi presiden penyair," lanjutntya. Saat itu kami berdua hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Karena secara naif menganggap gelar dan label adalah perkara pencapaian.

Tapi saya dan kawan saya itu tak sepenuhnya salah. Bagaimana jika sebenarnya label dan gelar itu hanya perkara sepakat atau tidak dari sekumpulan orang yang berkuasa. Coba tengok perihal pemberian gelar pahlawan. Masing-masing kelompok membawa nama-nama dari golongannya untuk kemudian dikarbit jadi pahlawan. Tak jelas apakah ia seorang diktaktor, pelawak atau sebenarnya seorang fasis. Pahlawan itu diciptakan, seperti juga gelar, itu masalah kesepakatan segelintir orang.

Label bisa jadi sebuah identitas. Itu jelas. Antara seorang S.Sos dan Ph.D bisa jadi perdebatan mengenai kuasa dan kemampuan akademis. Meski tak jelas apakah gelar itu hasil fotokopi atau sekedar jual beli skripsi. Yang jelas gelar bisa jadi pembeda masalah kedudukan dan penghasilan. Untuk itu label bisa menjadi perkara hidup mati dan penghasilan seseorang. Saya kira ada baiknya segala label itu dihilangkan. Diganti dengan sebuah capaian nyata.

Biar seorang maling jadi raja maling karena hasil curiannya banyak. Biarlah seorang profesor jadi profesor karena temuan yang luar biasa. Tak perlu legitimasi segelintir untuk kemudian melahirkan label-label baru. Saya kira masalah label adalah masalah pengakuan. Tentang bagaimana seseorang ingin dikenali dan diperlakukan. Dalam banyak hal itu hipokrit. Well, bukankah kita semua demikian?

2 komentar:

  1. tulisan saudara mengingatkan saya pada obrlan lama bersama kawan saya. Saya bertanya padanya "Siapa yang berhak memberikan label seniman?" Jawaban teman saya hanya gelengan kepala.

    Ternyata berbicara label, sebuah penjara, kelas, pembunuhan. Salam kenal, maaf jika saya sok tahu.

    BalasHapus
  2. nggak kok. saya setuju sama sampean :D

    BalasHapus