Jumat, 30 Desember 2011

Gambar Huanjing



Saya menemukan gambar modifikasi the last supper karya Leonardo Da Vinci di laman Facebook seorang kawan hari ini. Gambarnya lucu, karena yesus dan 12 rasul diganti dengan tokoh-tokoh populer dunia. Seperti Ernesto Guevara, Tintin, Groucho Marx (atau Charlie Caplin ), Spiderman, John Lennon, Nelson Mandela, Bart Simpson, Mickey Mouse  dan lainnya saya tak kenal.

Ini seperti memandang ulang kreasi post moi indie yang dibikin oleh Pidi Baiq. Mungkin ada yang tau siapa artist pembuat gambar lukisan ini? Saya penasaran sekali.

Natal dan Islam yang penuh Kasih


Dan selamat sejahteralah atasnya dihari dilahirkan, dihari dia meninggal dan dihari dia akan dibangkitkan hidup kembali. (QS. Maryam : 15)

Ada sebuah pertanyaan yang sering membuat saya bangun dari tidur dengan keringat yang deras mengalir. Apa jadinya jika saya dilahirkan bukan sebagai orang islam. Atau bagaimana jika islam itu bukan sebuah kebenaran. Ada sebuah celah dimana sebagai umat saya dituntut untuk bertauhid tanpa tanya. Tentu demikan karena ide mengenai keimanan yang lima berawal dari rasa pasrah total terhadap sesuatu yang transenden. Sebuah gagasan mengenai ketundukan total.

Tapi dalam hidup saya yang tak seberapa panjang ini. Saya menemukan bahwa nikmat islam bukan sesuatu yang given. Ia membutuhkan sebuah pergulatan dan perjuangan untuk mendapatkannya.

Islam, seperti juga seluruh agama lain, mengajarkan kebajikan, sikap welas asih dan terkadang juga kekerasan. Tergantung darimana perspektif anda melihatnya. Namun satu hal yang jelas islam tak pernah mengajarkan kesompralan untuk mengatur klaim kebenaran terhadap firman agama lain. Well, anda bisa membaca surat Al Kafirun. Seorang dengan IQ paling tiarap dapat memahami makna surat itu sebagai kartu kuning terhadap liturgi umat lain. Semacam kredo New Yorker untuk berkata mind your own religion.

Selang semalam sebelum natal tiba. Puluhan akun twitter dan blog beramai ramai mempersoalkan keabsahan natal umat Kristiani. Bahwa 25 Desember adalah perayaan kaum pagan (beberapa menuliskan kafir) terhadap pemujaan dewa matahari Apollo.

Beberapa negara di Eropa Timur seperti Ukraina, Russia dan Macedonia melaksanakan natal di antara 7 dan 19 Januari. So? Sama juga berbedanya umat islam yang berebut kuasa perihal penentuan satu Syawal. Sekali lagi perbedaan adalah fitrah. Karena jika Allah berkehendak fasis dengan menyatukan seluruh umat. Maka hal itu adalah pekerjaan maha mudah bagi Nya.

Perdebatan mengenai keabsahan natal. merupakan perdebatan yang menurut saya terlalu tolol untuk dimasuki. Karena jauh daripada itu substansi natal bukan pada kapan itu berlangsung. Karena Natal bagi umat kristiani (dalam hal ini Khatolik) tak melulu tentang perayaan dan hadiah. Namun juga tentang masa advent, sebuah penantian, persiapan untuk menyambut kelahiran sang putera Tuhan. Merujuk diskusi saya dengan Romo Yudhi, pastor Paroki Gerjea Katolik Santo Yusup, masa advent adalah masa pertaubatan. Dengan kata lain sebuah sikap (lagi-lagi) pasrah untuk mengakui kejumudan diri.

Natal juga sebagai momen retrospeksi. Bahwa pada saat kelahiran - Nya. Yusuf dan Maria yang hamil tua sedang berjalan di tengah malam di kota Bethlehem. Di malam dimana seluruh bintang bersinar sangat terang. Setelah berjalan di seluruh penjuru kota, dengan perut melilit, Maria tetap tabah meski ditolak menginap dimana mana. Seperti juga dalam islam, sebelum terjadinya hijrah, muslim diasingkan oleh kaum Quraish Mekah.

Maria dan Yusuf terus berjalan. Tentu tak mudah dengan perut membesar dan sebuah tanggung jawab iman, Maria merasa menanggung beban seluruh umat manusia. Mereka berjalan sampai menemukan sebuah kandang untuk tempat berteduh dan melahirkan bayi Yesus. Hingga orang-orang majusi yang menyembah api merasa berbahagia karena bintang terang telah lahir di Betlehem.

Apakah Yesus lahir 25 Desember? Itu bukan perkara penting. Sama dengan perdebatan mengenai Nabi terakhir Ahmad atau Muhammad. Karena semua ini adalah perkara Tauhid dan Tauhid adalah masalah keyakinan. Apa yang menjadi keputusan bahwa 25 Desember, terlepas itu perayaan kaum pagan romawi terhadap Apolo, adalah hak dan milik umat katolik. Dan jika umat islam, atau siapapun mereka yang mengklaim menjadi pewaris kebernaran Islam tak punya hak apapun untuk ambil bagian.

Imam Syamsuidin As Sarakhsy al Mabsuth dalam Darul Ma'rifah mengatakan natrukuhum wamaa yadiinun (biarkan saja masing-masing mereka menenukan pilihan aqidah mereka). Umat non islam atau kalangan ulama menyebut ahludz dzimmah (artinya tanggung jawab merujuk kepada nasib mereka merupakan tanggung jawab Allah). Berhak dilindungi dan diberikan kebebasan untuk melakukan segala liturgi dan akidah yang mereka yakini.

Mengenai tafsir umat kristiani (dalam banyak surat Allah menyebut mereka nasoro atawa ahlul kitab) bahwa 25 Desember adalah hari kelahiran kristus putra Allah. Itu sepenuhnya adalah tauhid dan aqidah milik mereka. Sebagai umat islam kita bahkan dituntut untuk menjamin kemerdekaan dan hak mereka untuk beribadah sesuai dengan ajarannya. Termasuk juga saat mereka ahludz dzimmah melakukan da'wah.

Logikanya sederhana. Jika kita sebagai muslim punya kewajiban untuk berdakwah dan menyebarkan agama dengan imbalan surga firdaus yang kekal. Maka mereka dengan tauhid dan aqidah yang mereka yakini juga pasti memiliki pemahaman serupa. Adalah sebuah oxymoron jika kemudian kita mengaku beriman dan bertakwa tetapi takut saat ada umat lain berdakwah. Apakah selemah itu iman kita sehingga perlu mengekang dan menindas umat lain dalam beribadah?

Dalam Islamologi karangan Maulana Muhammad Ali, ulama Ahmadiyah Lahore, mengatakan bahwa jika iman kita kuat. Tidak perlu takut terhadap perubahan yang bagaimanapun. Karena ajaran awal yang diberikan kepada Nabi adalah kesabaran dan ketaatan yang tulus. Ia juga membedah dua tahapan dakwah awal islam. Sebagai fase Mekah dan fase Madinah. Dimana pada fase Mekkah belum ada syariat dan seluruh umat diminta untuk bersabar. Karena kesabaran itulah kunci dari sebenar benarnya iman.

Dalam sejarah dan kesepakatan konsili Nicea, Gereja Katolik berusaha untuk berkembang dan beradaptasi dengan masyarakat yang ada. Seperti juga umat islam bersepakat mengenai hal-hal yang tak tertulis dalam Al Quran dan Hadist. Ini merupakan ijtihad versi gereja Katolik, yang menurut pendapat saya pribadi, patut dihormati dan dihargai.

Gereja katolik dan seluruh sekte dalam kristen bersepakat melalui konsili Nicea. Seperti juga islam bersepakat dalam sidang isbat penentuan idul fitri (yang konyolnya tak pernah ada perdebatan mengenai idul adha). Semua agama memiliki perdebatannya sendiri. Bagaimana Calvinis, Opus Dei, Katolik dan Orthodox memiliki akidah dan tauhidnya sendiri. Kita sebagai umat islam hendaknya bertoleransi saja.

Islam adalah agama kedamaian. Seperti etimologi awal As Salaam yang berarti perdamaian. Islam merupakan rahmatan lil alamin. Tak hanya bagi umat muslim sendiri tapi juga untuk seluruh umat manusia dan mahluk hidup di antaranya. Kita bahkan dilarang dan dilaknat Allah untuk tak menghina tuhan umat lain. Seperti dalam Al An'aam ayat 108. "dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan mereka selain Allah. Karena mereka akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan,"

Islam juga melakukan adaptasi, infiltrasi dan modifikasi. Seperti saat permulaan masuknya islam ke Indonesia melalui pesisir utara. Tentu kita kenal tembang lir ilir gubahan Sunan Kalijaga dan bagaimana ia memanfaatkan kebudayaan tersebut sebagai infilitrasi islam ke tanah jawa. Gereja Katolik juga sama. Pada saat kekaisaran Konstatinus agung, mereka menyadari bahwa tak mungkin memaksakan ajaran kasih yang luas tanpa ada kesepakatan melngenai kanon-kanon keimanan. Tanpa ini mustahil ajaran kasih bisa masuk kedalam relung warga romawi dengan kerelaan.

Adaptasi adalah kunci keberlangsungan sebuah ajaran. Islam, saya kira juga demikian. Bukankah islam hanya ada satu di masa Rasulullah Muhammad? Namun kini ada ratusan sekte dan aliran yang mengklaim kebenaran tunggal. Belum lagi perdebatan Fiqih, Tauhid dan Syar'i antara Sunni dan Syiah. Gereja katolik juga demikian sampai dimana mereka terpaksa harus berpisah dengan saudara-saudara protestan. Bahwa tafsir adalah sebuah efek apa boleh buat dari sebuah agama.

Tak perlu memaksakan logika agama sendiri terhadap agama lain. Anda yang muslim tak akan dapat menemukan satupun alasan rasional mengenai trinitas. Seperti juga umat katolik tak dapat menemukan rasionalitas terhadap ajaran hindu mengenai tertidurnya Wisnu untuk menciptakan dunia pararel lain. Karena memang agama tak masuk akal. Dan melogikakan agama adalah pekerjaan paling tolol setelah menjadi dubing sinetron mak lampir di Indosiar.

Saya lahir dari keluarga dengan latar belakang islam yang sangat beragam. Kakek saya adalah seorang Kyai di Banyuwangi, ayah saya adalah pengurus cabang Muhammadiyah Bondowoso, Kakak saya yang pertama adalah simpatisan hizbut tahrir dan yang lain adalah self proclaimed eslam protestan. Ini bukan upaya gagah-gagahan. Ini adalah curhat karena lahir dalam keluarga semacam ini bisa jadi semacam neraka atau surga tergantung perspektif anda melihat.

Dari sekian banyak pendapat mengenai tafsir saya diajarkan untuk memiliki kehendak bebas. Semacam keberanian mencari tahu tentang apa sebenarnya agama islam itu. Bukan hanya diam saja dan duduk menerima bahwa islam adalah A B C dan seterusnya. Kritis bukan berarti nyinyir dan liberal. Ada beberapa batas yang tak perlu lagi dipertanyakan. Seperti keesaan Allah dan kenabian Muhammad. Tetapi dari kebebasan itu saya malah mendapatkan banyak pemahaman. Meminjam istilah Romo Yudhi, dalam setiap kebudayaan/literatur ada bibit-bibit keimanan tuhan.

Terakhir ada baiknya kita melaksanakan wasiat Umar Ibn Khatab perilhal ahludz dzimmah seperti yang diriwayatkan Imam Bukhori. Uushiikum bidzimmatillahi fainnahuu dzimmatu nabiyikum. (Aku berwasiat kepada kalian agar menjaga Dzimmah Allah, karena sesungguhnya ia juga merupakan Dzimmah kalian)

Kamis, 29 Desember 2011

Sayembara Kecil Menulis Resensi Retrospektif Album HOMICIDE; "Godzkilla Necronometry"



2012 sudah hampir datang dan jika nubuat suku Maya benar, maka ini tahun terakhir hidup kita di Bumi. Namun bukan tentang itu anda membaca posting ini. Yak benar, sepuluh tahun lalu album Homicide pertama, "Godzkilla Necronometry" dirilis dalam dua bentuk; sebagai album dan sebagai bagian split dengan Balcony, grup hardcore dari Bandung Juga. Album ini cukup penting bukan karena sebagai album HOMICIDE pertama, tapi karena merubah tak hanya wajah hiphop lokal namun juga wajah musik Indonesia.

Untuk sekedar merayakannya kecil-kecilan, pengelola FB Unofficial Homicide berniat membuat sebuah lomba menulis essay retrospektif tentang album tersebut. Mereka membuat ini sebagai bentuk tribute. Penghargaan sadar atas kerja keras dan karya kanon Homicide. Hadiahnya pun sederhana. Hanya sebuah T-Shirt HOMICIDE dan 2 buah poster HOMICIDE ukuran A3 yang belum keluar dari plastiknya sejak dibeli dulu, akan diberikan kepada seorang pemenang dengan tulisan terbaik. Penilaian tidak akan dilakukan sendirian. Rencananya mereka akan meminta bantuan beberapa penulis/jurnalis musik yang sudah kenal. Beberapa waktu lalu Taufiq Rahman, co founder dan editor Jakartabeat, tertarik untuk menjadi juri dan menaruh review terbaik di situs kolektif itu.

Karya penulisan tidak dibatasi secara teknis, tapi mungkin 2000 kata udah cukup panjang. Silahkan kirim tulisannya ke pusakakalam@gmail.com, dan batas pengirimannya sampai dengan akhir Januari 2012. Ingat sebelum kiamat!


Untuk lebih jelas mengenai apa dan bagaimana Godzkilla Necronometry" bisa main ke SINI.

Kamis, 22 Desember 2011

Anak Mama


"Dhani nggak apa2? jng lp mkn. jg kesehatan y mama syg dhani"
Ibu saya itu reinkarnasi Nostradamus. Mungkin juga Jayabaya. Atau Ronggowarsito. Atau Merlin. Entahlah. Tapi yang jelas dia tahu kapan saya sedang jatuh, sedih dan membutuhkan dukungan. Padahal saya bukan orang yang suka bicara. Dalam banyak hal saya menyimpan masalah sendiri. Meski sering labil untuk kemudian mempostingkan perasaan ke dalam social media. Well, mungkin ini penyakit masyarakat digital paska industri. Scizhocybernia. Kecemasan digital.

Ibu saya gagap teknologi. Gagap informasi. Tapi tak membuat ibu saya buta terhadap masalah yang ada. Saya dulu ingat saat SD ibu saya berujar "Pak Harto mari ngene mudun, wes wayahe mandeg," itu sekitar tahun 96. Jauh sebelum gejolak ekonomi dan politik 98 terjadi. Dan entah karena kebetulan atau karena ibu saya 'mandhi' pak Harto benar-benar mundur. Dalam setiap ibu selalu ada kekuatan tersembunyi yang akan membuat anaknya merasa bangga telah dilahirkan.

Ibu saya tak tahu facebook atau twitter atau blog. Dia hanya tahu Al Quran, Dapur dan Masjid. Tapi dia tahu jika saya ada masalah, sakit atau sedih. Pernah saat kuliah semester 3 saya sakit tipes di kosan. Saya tak memberi tahu Ibu dan ia datang pada hari kedua dengan air mata. Ibu saya mimpi kakinya di injek gajah. Entahlah analogi gajah dan ukuran tubuh saya mungkin memiliki kemiripan.

Ibu saya marah karena tak diberitahu sedang sakit. Dan ia menjemput paksa saya untuk pulang beristirahat di rumah. 

Sampai hari ini saya tak tahu apa yang mendorong ibu saya untuk datang kala itu. Ibu sepertinya punya indra keenam untuk bisa meramalkan kondisi anaknya. Semacam radar untuk mendeteksi kebohongan, keadaan atau bahkan perasaan paling tersembunyi dari diri anaknya. Semua ibu memiliki indra ini. Tak hanya ibu saya tapi seluruh ibu yang melahirkan anak-anak paling hebat di dunia.

Hari ini ibu saya tiba-tiba menegur keadaan saya. Meminta anaknya yang badung ini untuk menjaga diri, jangan telat makan dan jaga kesehatan. Entahlah apa yang mendorong dia untuk melakukan itu. Mungkin ibu tahu kalau saya sedang sedih. Atau tahu saya sedang sangat labil. Apapun itu saya percaya tak ada satupun anak di dunia yang sanggup sembunyi dari perhatian ibunya.

Tak banyak yang mengetahui jika hari ini terjadi Kongres Perempuan Indonesia (1) pada 22-25 Desember 1928 (beberapa bulan seusai sumpah pemuda pemudi). Muhidin M Dahlan, seorang kronik sejarah Indonesia merekam ini dari majalah Isteri yang mencatat dengan detil kongres itu. Kongres itu diikuti 30 pergerakan semasa. Di situ ada Nyi Hajar Dewantara. Ny Ali Sastroamidjojo dll. Perdebatan paling mencuat saat itu adalah Poligami (Organ Sedar dan Aisjijah bertarung keras dalam forum).

Untuk memperingati Hari Kongres Perempuan Indonesia yang jatuh hari ini 84 tahun lalu itu di Yogyakarta. Saya ingin menulis ulang kisah ini. Tentang bagaimana kepedulian sederhana dari seroang perempuan bisa jadi mood booster paling ampuh. Ini juga tulisan untuk segala ibu, tak melulu bagi mereka perempuan yang melahirkan tapi dengan asih dan asuh merawat anak-anak, yang dengan rock and roll telah tulus mencintai kita. 


Terimakasih mamah. Dhani juga sayang mamah.

Kamis, 15 Desember 2011

Catatan kecil yang panjang


~ Boleh lapar tapi tak boleh berhenti tulis membaca.

Apa yang lebih indah daripada sore hari, dengan sebuah senja keemasan yang pecah di horison, sambil menulis sebuah catatan dan ditemani secangkir kopi hitam pahit yang pekat? Kopi yang memiliki rasa pahit getir dimana saat kau rasakan di ujung lidahmu akan tersisa getir yang teramat sangat. Seperti film tengah malam yang mengantarkanmu tidur namun berhasil merebut perhatianmu hingga ia usai.

Catatan kecil yang muncul dari rasa heboh dan meletup-letup seusai kau membaca sebuah buku yang sangat menarik. Catatan yang awalnya hendak kau buat pendek, namun berubah menjadi epos panjang, sehingga kau butuh semua keberanianmu untuk menghentikan catatan panjang ini. Seperti semua anak mami yang mesti lepas dari sapihan ibunya untuk pertamakalinya bermain di pantai.

Awalnya kau hanya sedang ingin menghabiskan waktu senggangmu akibat hujan deras, yang bulir bulirnya riuh berjatuhan di halaman rumah, yang wanginya mengirimkan sepasukan aroma tanah basah. Dan kau pun terdiam lalu teringat sebuah buku baru yang tak sempat kau baca. Lalu diam-diam mencari-cari diantara ratusan tumpukan buku. Seperti kerinduan di sebuah terminal yang menunggu kedatangan.

Jari-jarimu terus menulis dan menulis dan menulis. Sampai sebuah aroma pisang goreng melayang dan menghentikan konsentrasimu dalam menulis catatn kecil yang panjang. Lalu kau sesap lagi hangat kopi pahit itu dan menunggu manis getirnya hilang. Lalu kau mengambil sepotong pisang goreng dan mengunyahnya perlahan lahan. Seperti kesabaran seorang suami yang menunggu istrinya berdandan.

Kukira menulis itu soal menuangkan apa yang ada dalam pikiranmu dan membiarkanya melantur seperti anak-anak yang bermain perang. Lalu merapikannya pelan-pelan dan memberikan sebuah batasan yang jelas perihal apa saja yang hendak disampaikan dan apa yang tidak. Tapi rupanya menulis itu semacam membuka keran air dengan tangki sebesar lautan. Seperti banjir air bah yang kemudian menghanyutkan hal-hal remeh yang terlalu susah untuk ingat.

Lalu kau melihat senja yang pudar itu pelan-pelan menjadi gelap yang terlalu pekat. Saat kau sedang asik menulis pada bagian klimaks catatn kecilmu yang panjang, sebuah riuh bebunyian terdengar. Tapi kau terlalu acuh untuk kemudian berhenti dan peduli. Bebunyian itu terus nyalang berteriak dari sebuah benda yang berpendar-pendar. Seperti lonceng peringatan bagi umat untuk kemudian larut dalam komuni putra maria.

Kau masih terus dan terus menulis sebuah catatan kecil yang kini sudah menginjak usia halaman kelima. Kau yang awalnya hanya menulis tentang sebuah fragment buku, kini berkembang menulis perihal kebencian, kemarahan, dendam dan sebuah rasa nyeri yang tertahan. Kau terus menulis tanpa menyadari air hangat asin berderai-derai mengalir dari kedua matamu yang kosong menatap nanar monitor. Seperti sebuah aliran perigi pada musim hujan paling deras.

Malam akhirnya benar-benar tiba dan serangkaian cahaya serupa barisan kunang-kunang mulai bermunculan. Menciptakan bias warna merah, biru, kuning, hijau, dan putih polos. Tembok tembok yang kemudian temaram menjadi angkuh dengan lunturan warna. Kau masih tak peduli dan terus menulis catatan kecil yang menjadi panjang. Seperti sebuah janji  tak akan ada istirahat sebelum usai penaklukan.

 "Kriiuiuiuiuiuiuiuik" dan bunyi keparat itu benar-benar memecah konsentrasimu yang sedari pagi kau bangun dengan keangkuhan. Kau terpaksa harus tunduk kali ini. Pisang goreng hangat tadi sudah tandas tak bersisa, sementara cangkir kopi pahitmu sudah selesai dan tinggal ampas. Dengan malas kau berdiri menjerang air dan mulai menyedu kopi pahit lain. Seperti kebeblan yang tak pernah mengakui kekalahan

Sedikit lagi selesai. Begitu saja dalam pikiranmu terus menerus berulang-ulang dan terus menerus. Menyelesaikan catatan kecil yang panjang dan telah tamat berumur 20halaman. Kau membacanya pelan-pelan. Dengan kerendahan hati seorang pendosa. Di tengah keheningan malam yang bahkan tak satupun setan yang sudi gentayangan. Lantas kau berkata lirih "Meh kok jadinya puisi galau?"

Terdengar ketukan panjang pada keyboard.

"Ctrl A Del."

Tampilan Baru Dapur Blogspot



Almarhun Harry Roesli pernah berkata. Perubahan sebuah zaman tak bisa ditentang atau dilawan. Tapi ada baiknya dikendalikan dan diarahkan. Saya setuju dengan diktum musisi kanon asal Bandung itu. Seperti juga arus sungai, ia bisa dibelokan, dibendung, ditahan tapi tak akan bisa dibalik arusnya. Sebuah kodrat.

Saya kira ini juga yang terjadi pada Blogspot (blogger) hosting di mana saya menulis selama dua tahun ini. Tampilan dapur (dashboard?) kini semakin cantik, semakin rapi dan ibarat seorang gadis. Sudah menemukan pesonanya sendiri tanpa perlu banyak menggunakan gincu.


Well, saya suka blog saya.

Rabu, 14 Desember 2011

Majalah Combine Edisi September 2011





Beberapa bulan lalu seorang kawan meminta saya untuk menulis di Majalah Combine. Produk berbasis oline dari Resource Institution. Sebuah lembaga yang mendukung pengembangan jaringan informasi berbasis komunitas. Komunitas yang menggali, mengolah, dan mengkomunikasikan informasi demi penguatan masyarakat sipil di Indonesia.

Beberpa pegiat majalah ini adalah kawan saya saat masih aktif dalam gerakan Pers Mahasiswa. Anam, kawan saya yang bekerja di Combine, mengatakan proyek ini untuk mereka pegiat persma yang sudah purna jabatan. Dalam banyak hal ini membantu saya untuk terus berkarya diluar media di mana saya biasa menulis. Selain itu ia menjamin bahwa Combine akan tetap netral dan berusaha sejauh mungkin untuk tidak dikooptasi oleh korporasi manapun.

Anda bisa mendapatkan majalah Combine edisi September 2011 dengan gratis di sini.

Panjang umur perlawanan. Panjang umur perjuangan. Jabat erat.

Sabtu, 10 Desember 2011

Sondang Hutagalung


~ Revolusi memangsa anak-anaknya sendiri
Kukira saat itu Sondang dengan gigil yang teramat sangat bolak balik berjalan di antara kerumuman orang. Berlalu di antara palang besi garis batas pengamanan istana negara. Ada rasa kesal, takut , kalut dan muak tercampur jadi satu. Semua berkelindan dan merasuki nalarnya. Mungkin sedari pagi ia tak makan. Ia mual. Amuk amarah telah merebut kebenarannya sendiri.

Kukira Sondang, seperti juga kebanyakan dari kita, adalah orang biasa. Mengangumi senja yang berlarian di permukan kaca-kaca gedung dingin Jakarta. Megutuk kemacetan di sudirman kala sore tiba. Menikmati sejuk dingin es degan di Taman Ismail Marzuki. Diam berfikir saat rekan sebayanya riuh berdebat dalam diskusi. Dan tentu saja sesekali ia memaki kerbau saat demonstrasi terjadi.

Kukira Sondang mengenal Munir, mengenal Wiji Thukul, mengingat Kudatuli, mengingat Talang Sari, mengingat Tanjung Priuk, mendengar Ahmadiyah dan tentu saja mendengar Lapindo. Tentu ia mengenal semua itu. Gaul berintim dengan lembaga seperti Kontras akan terus mengigir nuraninya untuk terus mengingat. Menolak melupakan penindasan dan merawat ingatan mereka yang bertanggung jawab.

Kukira Sondang juga sama seperti mahasiswa lain di republik ini. Kuliah dengan teratur. Membaca buku. Mengerjakan tugas. Merayakan kesenian dengan teater dan puisi. Sesekali membolos untuk koordinasi aksi. Sibuk bercumbu dengan pacar di kafe-kafe sekitar kampus. Semua sama. Ngopi hingga tengah malam memperbincangkan hal hal remeh. Ia melakukan itu dengan sebuah kebahagiaan. Menjadi salah seorang dari sedikit yang memikul tanggung jawab sebagai agent of change.

Agent of change taik kucing...

Kukira Sondang menyadari bahwa dalam sebuah perjuangan akan selalu ada tumbal. Ia juga menyadari, bahwa hanya sedikit perbedaan antara menjadi idealis atau melakukan kebodohan. Bahwa perihal kurban itu adalah permasalahan sudut pandang. Tak ada satupun manusia di bawah kolong langit yang berhak memberikan nilai atau kuasa hukum dalam sebuah perjuangan. Perjuangan adalah perkara keyakinan diri.

Kukira Sondang pernah membaca fragmen kisah Ramayana. Saat dimana Dewi Sinta membakar diri, sebuah laku mestia, untuk membuktikan kesetian dan kesucian dirinya. Lantas ia tiba tiba mengingat Mohamed Bouazizi. Si tukang sayur asal Tunisia yang membakar diri dan menyulut revolusi Jasmine (melati?). Menumbangkan kediktaktoran degil Ben Ali yang korup lagi bebal. Apalah arti luka demi sebuah perubahan?

Kukira Sondang juga terkejut menengenai sikap bebal dan tolol anggota-anggota DPR RI yang cabul lagi rakus. Juga keputusan pemerintah yang tak juga menuntaskan kasus Munir. Atau perihal ganti rugi Lapindo yang urung tuntas. Semua permasalahan ini menyulut kesadaran. Ada pertarungan dalam dirinya. Satu sisi menolak peduli dan ingin tetap acuh seperti kebanyakan masyarakat kita. Sisi lain berontak menuntut keadilan dan pertanggung jawaban rezim. Ia terjebak dalam keinginannya sendiri.

"dua tiga cukong mengangkang, berak di atas kepala mereka"  teriak Rendra.

Kukira Sondang akhirnya muntab. Mengambil satu jerigen penuh bensin dan mengguyur basah tubuhnya. Bau apak keringat, tengik bensin dan kecut air mata menyaru dalam hidungnya. Dengan gagap Sondang berjalan ketengah jalan. Tak seorangpun peduli. Di Jakarta siapa yang peduli dengan orang lain? Apalagi orang asing aneh di jalanan.

Kukira Sondang saat itu mengingat mama. Mengingat bagaimana dengan mesra dan patuh ia memeluknya di gereja. Mendengar kidung puji. Doa tuhan bapa kami dengan khusyuk. Atau betapa ketika kecil rapal Salam Maria membuatnya pulas tertidur. Yesus yang maha kasih juga semua kegiatan gereja. Mengingat betapa natal dan keriuhan bersama keluarga adalah kenangan yang sangat indah. Dan perlahan merapal doa-doa minta maaf. Kalut ia bertanya. "apakah aku akan diampuni bapa?"

Kukira Sondang gemetaran saat menyakalan korek api miliknya. Ada ragu. Ada takut. Ada marah. Ada malu. Ada amuk. Ada dendam. Perlahan api itu lantas melentik lata pada tubuhnya. Membakar dengan giras bulir-bulir bensin yang merekat dalam tubuhnya. Api membakar hangus amarah. Seperti juga dendam membakar habis akal sehat.

"Siapa yang akan berbicara untuk kami / siapa yang sudah tahu siapa sebenarnya kami ini" tanya Sapardi

Kukira Sondang saat itu hendak berteriak. "Dengarlah wahai Indonesia yang tengik! Pemimpin goblok! Dan rakyat yang Pelupa! Ingat ini! Ingat Pengorbananku! Dan terbakarlah kalian semua dalam kepura-puraan!" tapi teriakan itu tak selesai terucap. Otaknya melecutkan rasa sakit yang teramat sangat dan membuatnya terkapar tak berdaya.

Kukira Sondang terbakar amarah. Tapi ia tak sendirian. Karena aku kini juga terbakar amarah. Atas kebodohanku. Kelemahanku. Dan ketakpedulianku pada masalah bangsa ini. Sondang menyulut api kebencian, yang pelan-pelan menyebar di udara. Menunggu para maling dan pencoleng republik ini gosong di dalamnya. Lantas berharap agar api yang membakar tadi melahirkan sebuah kondisi yang lebih baik. Sebuah bangsa yang lebih bernyali menghadapi kebenaran.

Tapi apalah arti sebuah api kecil di tengah keculasan yang menahun? Kegelapan terjadi bukan karena tak ada cahaya, namun karena cahaya tak mampu menerangi area yang muram. Kerusakan bangsa ini bukan terjadi karena banyaknya penjahat. Namun terlalu sedikit orang baik yang mau bangkit berdiri melawan. Mengatakan yang baik adalah benar dan yang buruk adalah salah. Tragedi seringkali terjadi akibat sikap diam.

Kukira Sondang akan selalu diingat. Olehku. Tidak oleh sebagian besar masyarakat republik ini. Dan kematiannya hanya akan berakhir jadi bisik dan perbincangan warung kopi. Seperti biasanya. Karena kebebalan lupa pada republik sudah terlalu akut untuk bisa disembuhkan.

Selamat jalan Sondang. Kau bodoh untuk terbakar sendirian.

Bakar Hak Asasimu!

Nobodycorps Courtesy

Dedy Hamdun HILANG Mei 1997
Ismail HILANG Mei 1997
Hermawan Hendrawan HILANG Maret 1998
Hendra Hambali HILANG Mei 1998
M Yusuf HILANG Mei 1997
Nova Al Katiri HILANG Mei 1997
Petrus Bima Anugrah HILANG Maret 1998
Sony HILANG April 1997
Suyat HILANG Februari 1998
Ucok Munandar Siahaan HILANG Mei 1998
Yadin Muhidin HILANG Mei 1998
Yani Afri HILANG April 1997
Wiji Tukul HILANG Mei 1998


Sondang Hutagalung TERBAKAR Desember 2011

Kamis, 08 Desember 2011

Purgatori

oleh Malcolm Browne


There it seemed we both burned; ..... Fix your eyes here, reader, firmly on the truth
Dante Alighieri dalam Divine Comedy

Musim gugur di Praha. Jan Palach pemuda tanggung dengan wajah murung menatap nanar bendera-bendera komunis. Dalam hatinya ia merasa perih, marah dan tersakiti. Negeri yang semula baik-baik saja menjadi tiran dalam sekejab mata. Dan dekadensi masyarakat membuih seperti air laut. Ia dikepung keinginan keinginan.

Komunisme telah membawa demoralisasi di Cekoslovakia. Seperti narasi-narasi muram dalam kisah Kafka, Jan Palach, merasa terasing dengan kondisi itu. Sebagai pemuda dengan pendidikan yang cukup baik. Ia tahu kata-kata tak lagi berguna dihadapan kebebalan dan moncong senjata. Hal ini membutuhkan tindakan nekat. Sebuah aksi revolusioner yang membiak mata lebar.

Ia tahu dalam kondisi masyarakat yang ditindas dan ditekan. Segala perlawanan adalah tabu. Pemerintah tiran punya kendali represif yang sadis. Panoptikon. Kendali aparat dan prasangka. Merasa dikeroyok Jan Pallach mengamini satu tindakan drastis. Pembakaran diri.

Tindakan ini 20 tahun kemudian memicu apa yang disebut sebagai Velvet Revolution. Revolusi damai yang berujung pada tergulingnya tiran komunis di Ceko. Pengorbanan Jan Pallach (dan tiga orang temannya) membawa pemahaman baru. Bahwa tiran tak mesti dilawan dengan kekerasan. Namun dengan kesadaran dan patronasi terhadap martir. Tapi apakah selalu butuh kurban dalam perubahan?

Meminjam istilah Abu Hanifah. "Revolusi (selalu) memangsa anak kandungnya sendiri:

Enam tahun sebelum kematian Jan Pallach ada Thich Quang Duc seorang biksu budha mahayana. Pada suatu siang 10 Juni 1963. Biksu Thich menuliskan surat untuk presiden Vietnam saat itu, Ngo Dinh Diem. Intinya berisi permohonan tentang rasa tenggang rasa dan kesungguhan untuk memberikan kesetaraan dalam beragama.

Ia merasa sangat sedih dan kesal karena Gereja Katolik mendapatkan privilage dan wewenang berlebih dalam konversi keyakinan. Ia merasa takut keyakinan budha akan hilang karena upaya ini. Berbulan sebelumnya ia mengirimkan surat dan mengajukan protes pada Ngo Dinh Diem. Namun tak ada balasan. Terdesak akan kondisi dan rasa cinta pada budhisme. Ia mengajukan diri melakukan jalan pengorbanan.

Pembakaran diri demi menyentuh hati penguasa.

Momen ini lantas diabadikan oleh Malcolm Browne, yang kelak memperoleh pulitzer, mengejutkan dunia. Sebuah pengurbanan untuk kepedulian. Sebuah usaha nekat drastis yang menjadikan masyarakatnya sendiri sebagai tumbal. Rage Againts The Machine lantas menggunakan foto Browne ini dalam sampul albumnya.

Hari ini 8 Desember 2011. Hari dimana Munir Said Thalib dilahirkan.

Jika ia masih hidup, hari ini Munir akan berumur 46 tahun. Usia yang cukup matang untuk menjadi jugador dalam pemberantasan pelanggaran HAM. Ia tak mati dengan membakar diri. Tapi diracun dalam pesawat yang hendak membawanya ke Amsterdam Belanda.

Sampai hari ini tak pernah ada kelanjutan perkara ini. Seolah-olah kasus ini terhenti. Terlupakan. Dan berusaha dihilangkan. Dalam masyarakat yang gemar gegar sejarah ini, apalah arti seorang Munir? Entah. Bagi saya ia adalah imam mahdi. Setara dengan seluruh intifada Palestina yang membela tanah airnya. Dan milyaran kali lebih baik dari seluruh moral anggota DPR digabungkan.

Hari ini entah saya sangat emosional sekali. Mungkin karena kemarin, pada akhirnya ada orang yang nekat membakar diri. Melakukan tindakan nekat untuk membuka mata pemimpin negeri ini. Tapi demi segala jembut di kolong langit. Pengorbanan pria malang ini tak lebih berharga dari melodrama ayu ting ting dan rafi ahmad.

Sepertinya saya hendak membakar republik ini. Dengan amarah dan dendam.

Selasa, 06 Desember 2011

Karbala Asyura

Ali Syari'ati pernah menulis."Tiap hari adalah Asyura dan tiap tempat adalah Karbala."
Ia sedang merujuk kepada salah satu hari besar dalam perayaan muslim Syiah. Tapi ada baiknya jika kita memulai tulisan ini dengan kesepakatan. Bahwa Syiah dan Sunni adalah saudara. Dan mereka sedang menuju satu tempat yang sama dengan jalan yang, katakan saja, berdampingan tapi tak seragam.

Peringatan Asyura dilakukan dimana saja. Ibu saya dirumah merayakan Asyura dengan berpuasa dan membuat kue. Ini bukan langkah ibadah. Sekedar keinginan pribadi dan perasaan berbagai. Beliau sempat kaget dan tak habis pikir, saat saya bercerita kalau di di Irak dan berbagai negara Islam yang bermazhab Syiah Asyura kerap dilakukan dengan melakukan kegiatan menyakiti diri sendiri.

Di Irak misalnya, banyak orang yang berkerumun dijalanan dan memukul-mukul tubuh mereka sampai berdarah. Ini upaya masokis sebagai bentuk rasa kehilangan dan duka cita mendalam. Kaum Syiah di seluruh dunia meratapi kematian Imam Hussain bin Ali. Imam Hasan dipercaya meninggal di padang Karbala karena kepicikan Bani Umayyah.

Linda Christany menulis bahwa pada masa itu Yazid bin Muawiyah, putra Muawiyah bin Abu Sofyan (orang yang pernah sangat membenci Rasulullah), memaksa siapa pun untuk mengakuinya sebagai khalifah. Tentu hal ini ditentang para ulama dan tokoh agama karena alasan yang saat itu sudah banyak diketahui.

Yazid dikenal sebagai seorang yang destruktif, despotik, perampok, dan penista kaum perempuan.Ia kerap memaksakan kehendaknya dengan kekerasan dan ancaman. Dan saat itu hanya Imam Hussain, satu-satunya yang menolak tunduk pada tirani Yazid.

Setiap perlawanan akan menimbulkan tumbal dan martir. Setelah sebelumnya Imam Hasan dibunuh akibat diracun istrinya, yang juga kerabat Muawiyah bin Abu Sofyan. Imam Hussain merasa tak ada kemungkinan berkompromi pada tiran yang kejam.

Imam Hussain lantas memutuskan hijrah dari Medinah menuju Khufah. Bersama 30 orang penunggang kuda, 40 pejalan kaki dan banyak anak-anak. Di Karbala, dekat Najaf, Irak Selatan, 30 ribu pasukan Yazid menghadangnya. Mereka membantai Hussain dan keluarga serta pendukungnya itu. Dan kejadian ini kelak akan selalu dikenang para kaum syiah sebagai Peristiwa Karbala.

Apakah Imam Hussain tak menyadari bahwa maut sedang mengintai nyawanya?

Tidak. Bahkan sejarah mencatatkan keberanian Imam Hussain lewat Muhammad Ali Hanafiah, saudara tirinya. Saat itu Imam Hussain berada di Madinah dan sedang bersiap melakukan hijrah. Saudara tirinya telah berupaya segala cara agar Imam Hussain tak pergi dan tetap di Madinah.

Namun dengan tegas Imam Hussain berkata. "Sungguh aku lebih memilih kematian dengan cara kesyahidan ketimbang harus hidup dengan seorang penindas penuh aib dan kehinaan,"

Imam Hussain yang merupakan putra Ali Bin Abi Thalib, yang juga merupakan cucu Rasulullah. Dibantai secara keji oleh Azid bin Muawiyah, Ubaidillah bin Ziyad, Syimir bin Dzil Jaushan dan para pendukung bani Ummayyah di padang Karbala. Ia dibunuh secara berkeroyok, lalu kepalanya dipancung dan dipamerkan agar seluruh pendukung Imam Hussain kecut nyali.

Namun hal ini justru melahirkan clash. Dalam A short History of Moslem yang ditulis Karen Armstrong ini merupakan Fitna ke dua yang memecah umat islam menjadi dua faksi. Sunni dan Syiah. Kelak Fitna-fitna baru semakin memecah umat islam dan menggenapi sabda Rasulullah bahwa Islam akan terpecah menjadi banyak golongan.

Linda Cristanty juga menuliskan "Apa pun kata dunia tentang orang-orang Syiah, kita harus ingat bahwa mereka yang membantu kakek moyang kita. Bahkan orang-orang Sunni yang menyatakan diri mewarisi ajaran Muhammad, semuanya melarikan diri." Sepertinya saya percaya. Klaim bahwa Sunni sebagai ahlus sunnah wal jamaah, atawa pewaris ajaran nabi perlu ditinjau ulang.

Namun saya sendiri percaya bahwa Asyura berasal dari bahasa Arab asyara yang berarti sepuluh. Bapak saya dulu pernah cerita bahwa Asyura sangat istimewa karena beberapa alasan. Pertama Allah menciptakan jagat raya pada hari kesepuluh, menciptakan Adam, Menciptakan Jibril, Kelahiran Nabi Ibrahim, kesembuhan Nabi Ayub, diselamatkannya Musa dari Firaun dan sisanya saya lupa. Dalam banyak hal, Asyura adalah kompilasi hari dimana banyak rahmat diberikan kepada manusia.

Karbala. Asyura. Serangkaian darah dan kesadaran pengorbanan. Apa yang lebih tengik dari itu?

*naskah sebagain merupakan rekonstruksi dari tulisan Linda Christanty yang berjudul sama.

Senin, 05 Desember 2011

Dear Irine

foto oleh : Monica Anggraeni Dewi


Mari kita mulai tulisan ini tentang revolusi Kuba. Sebuah fragmen sederhana saat Ernesto Guevara De La Serna berdebat dengan Fidel Castro. Saat itu 1959 dan diktaktor Kuba, Fulgencio Batista, kabur ke amerika. Di satu ruangan di pinggir Havana, Ernesto dan Fidel bersitegang mengenai apa yang akan dilakukan seusai revolusi.

Ernesto bertanya kepada Fidel. "Apa yang hendak kau lakukan kepada sisa pendukung Batista?" Dengan tegas Fidel menjawab. "Paredon!"

Wajah si tampan Ernesto langsung menjadi mendung. Sementara suasana diluar lapangan Havana masih sangat meriah. Paredon secara harfiah adalah bahasa Spanyol untuk menghadap Tembok. Namun sejarah kemudian menjadikan kata ini sebagai sebuah bentuk lain teror.

Paredon adalah istilah paska revolusi Kuba untuk ekskusi mati. Pada masa peralihan kekuasaan politik Kuba. Seluruh tawanan politik dikumpulkan dalam gedung yang luas. Seperti stadion dan gedung olahraga. Disana mereka diadili secara jamaah oleh masyarakat. Ada perwakilan pemerintah yang kemudian akan memutuskan hukuman.

Namun kamu tahu Irene? Sebagian besar pendukung Batista yang ditangkap dan diadili oleh rakyat itu berakhir tragis. Karena saat itu hanya ada satu vonis bagi mereka yang dianggap pengkhianat. "Paredon!"

Ernesto menolak ini. Menurutnya sebuah rezim otoriter yang tumbang tak harus dihabisi dengan kekerasan. Jika dengan cinta bisa memperbaiki keadaan. Maka kekerasan tak perlu ada. Tapi Ernesto bukan Fidel. Dan Fidel adalah orang yang saat itu mendapat mandat sebagai pemimpin besar Kuba. Perdebatan ini berakhir dalam kesunyian.

Ku kira kamu perlu tahu ini Irene. Apa yang akan aku ceritakan nantinya adalah tentang perasaan sakit dan dendam akibat pengkhianatan dan ketidak jujuran. Perhal rasa sakit yang kemudian tertinggal dan mengenai bagaimana kamu bertahan dari perasaan kamu sendiri.

Dalam perjalanan hidupnya kemudian Ernesto menyesali ketidakmampuannya membiarkan kebencian mengambil alih Kuba. Kebencian tak pernah menyelesaikan apapun. Ia hanya akan melumat pelan perasaan manusia dan menjadikan mereka patung. Hingga akhirnya tidak ada yang tersisa kecuali penyesalan.

Ernesto tidak sendirian Irine. Muhammad Ali Jinnah, pendiri Pakistan, adalah contoh orang yang berkhianat dan berakhir pada penyesalan. Orang yang menyerah kepada kebencian dan obsesi hingga akhirnya mengorbankan persahabatannya. Kukira kamu tahu kisah ini Irene.

Bersama Mohandas Karamchand Gandhi, Ali Jinnah memimpikan negara India yang berdaulat. Negara yang terbebas dari penindasan Inggris. Mereka berdua kemudian menjadi sahabat dalam perjuangan. Melawan tirani Inggris. Mohandas Ghandi dengan satyagraha sedangkan Ali Jinnah dengan perjuangan hukum dan politik.

Namun pada tahun 1947 Ghandi dan Jinnah harus berpisah. Terkadang dalam persahabatan ada hal-hal perih yang mesti dilakukan untuk jadi dewasa.

Jinnah mendirikan Pakistan dan meninggalkan Ghandi beserta India. Sebelum berdirinya Pakistan, kedua sahabat ini bertemu untuk terakhir kalinya. Saat itu Ghandi menangis dan sakit. Ia berkata "Tolong jangan tinggalkan India sahabatku. Ambillah posisiku. Jadilah perdana Mentri India. Tapi kau jangan pergi," namun permintaan ini ditolak Jinnah.

Kelak Jinnah menyesali keputusannya ini. Di ambang nafas menuju kematiannya Jinnah berkata. "Duh yang maha agung. Jika saja aku mendengar sahabatku," katanya.

Kukira kamu perlu tahu ini Irene. Seperti yang ku bilang. Jangan pernah mengambil keputusan saat kamu sedang emosi. Kesedihan hanya akan membutakan nalar dan kemarahan hanya akan membuat kita malu.

Semua ini diawali satu pada satu alasan. Sejak awal Fidel dan Ernesto tak pernah jujur tentang ending dari perjuangan mereka yang melahirkan Paredon. Sementara Ghandi dan Jinnah sama-sama sungkan berbicara perihal perbedaan keyakinan konsepsi negara ideal.

Segala yang berawal dari ketidakjujuran hanya akan membawa luka. Mungkin ada kebahagiaan. Seperti yang sesaat dialami Jinnah. Namun pada akhirnya penyesalan itu selamanya melekat.

Irine. Kamu gadis baik. Kamu dan aku mungkin sama. Orang yang disandera kenangan dan kerap kali menyerah pada keadaan daripada kemudian melawan. Kita sama-sama terlalu takut untuk berdiri dan berhenti berharap. Rasa nyaman akan masa lalu kerap kali berjelaga. Dan itu Irene harus kamu lawan.

Kamu punya kesempatan untuk berdiri dan berkuasa atas keinginan kamu sendiri. Tidak hanya diam meratapi nasib yang terlanjur tengik. Kamu gadis baik dengan banyak pesona. Kamu bisa nari. Bisa nulis. Bisa digoblok goblokin. Namun diatas itu semua kamu bisa membuat orang yang ada disekitar kamu nyaman. Aku tahu itu. Karena kamu bikin aku nyaman. Apalagi pas bayarin makan nasigoreng sapi.

Kukira kamu harus berhenti menangis. Berhenti menunggu penyelesaian dari orang lain. Kamu harus tahu, tak ada satupun orang di kolong langit yang berhak menentukan nasib kita. WS Rendra dalam sajak bersatulah pelacur pelacur kota Jakarta menulis :


"Sesalkan mana yang mesti kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kaurelakan dirimu dibikin korban"

Sesalkan apa yang mesti kamu sesali Irine. Itu manusiawi. Karena kamu bukan Dahlan Iskan yang hatinya sudah diganti. Kamu gadis biasa yang bisa putus asa dan sedih. Tapi jangan pernah kamu relakan diri sendiri untuk jadi kurban. Menjadi tumbal yang entah kapan bisa kamu sudahi. Jadi bangunlah Irene. Dan sudahi tangisan kamu. Cuci muka lalu tidurlah. Kutuk semua nama yang melukaimu. Lalu bangkit berdiri.

Jangan cengeng. Karena tangisan tak akan menyelesaikan masalah.

Sincerely.
Orang Jember Paling Kece di Selokan Mataram

Sabtu, 03 Desember 2011

Hai There December




Hari ini adalah hari ketika dendam mulai membatu….
Dendam yang disimpan, lalu turun ke hati, mengeras sebagai batu (Soe Hok Gie)
Entah kenapa saya ingin memulai Desember dengan kebencian. Dengan dendam. Dengan amuk marah. Dengan kegetiran dan melankolia. Saya suka jadi berlebihan. Menjadikan diri saya lebih produktif. Mungkin ini perasaan yang pernah dialami Hitler saat menulis Mein Kampf atau perasaan Heinrich Kramer saat menyusun Malleus Maleficarum. Kebencian yang menggebu.

Bulan ini seharusnya kita bisa menikmati rintihan Cholil efek rumah kaca dalam lagunya Desember. Tapi entah kenapa untuk bulan ini saya hanya ingin mendengarkan History - nya Funeral for A friend. Nama band ini semiotis. Dan lirik dalam lagu ini juga. Seperti ratapan. Kegetiran dan kemarahan. Namun di atas segalanya ketidakberdayaan.

Archers in your arches,
Raise your fingers for one last salute..
And bleed this skyline dry
Your history is mine.

So you want to hold me up and bring me down?
Yes, you want to hold me up and break me down

Selamat datang Desember. Mari kita lihat seberapa jauh kebencian membawa kita berproses.

Jumat, 02 Desember 2011

Semisal kita tak perlu rindu

Jika saja apa yang dibawa khalifah gelap itu benarbenar datang

membawa gigil malam, kalut hitam dan rupa pekat


kita sepertinya akan tersesat

menjalani waktu


: lalu meringkuk ditikam sendu di uluhati


kau berziarah memanggul zaman

aku diam meratapi kehidupan


sudahi saja piutang ini

pada satu titik yang telah kita sepakati bersama


kematian