Kamis, 08 Desember 2011

Purgatori

oleh Malcolm Browne


There it seemed we both burned; ..... Fix your eyes here, reader, firmly on the truth
Dante Alighieri dalam Divine Comedy

Musim gugur di Praha. Jan Palach pemuda tanggung dengan wajah murung menatap nanar bendera-bendera komunis. Dalam hatinya ia merasa perih, marah dan tersakiti. Negeri yang semula baik-baik saja menjadi tiran dalam sekejab mata. Dan dekadensi masyarakat membuih seperti air laut. Ia dikepung keinginan keinginan.

Komunisme telah membawa demoralisasi di Cekoslovakia. Seperti narasi-narasi muram dalam kisah Kafka, Jan Palach, merasa terasing dengan kondisi itu. Sebagai pemuda dengan pendidikan yang cukup baik. Ia tahu kata-kata tak lagi berguna dihadapan kebebalan dan moncong senjata. Hal ini membutuhkan tindakan nekat. Sebuah aksi revolusioner yang membiak mata lebar.

Ia tahu dalam kondisi masyarakat yang ditindas dan ditekan. Segala perlawanan adalah tabu. Pemerintah tiran punya kendali represif yang sadis. Panoptikon. Kendali aparat dan prasangka. Merasa dikeroyok Jan Pallach mengamini satu tindakan drastis. Pembakaran diri.

Tindakan ini 20 tahun kemudian memicu apa yang disebut sebagai Velvet Revolution. Revolusi damai yang berujung pada tergulingnya tiran komunis di Ceko. Pengorbanan Jan Pallach (dan tiga orang temannya) membawa pemahaman baru. Bahwa tiran tak mesti dilawan dengan kekerasan. Namun dengan kesadaran dan patronasi terhadap martir. Tapi apakah selalu butuh kurban dalam perubahan?

Meminjam istilah Abu Hanifah. "Revolusi (selalu) memangsa anak kandungnya sendiri:

Enam tahun sebelum kematian Jan Pallach ada Thich Quang Duc seorang biksu budha mahayana. Pada suatu siang 10 Juni 1963. Biksu Thich menuliskan surat untuk presiden Vietnam saat itu, Ngo Dinh Diem. Intinya berisi permohonan tentang rasa tenggang rasa dan kesungguhan untuk memberikan kesetaraan dalam beragama.

Ia merasa sangat sedih dan kesal karena Gereja Katolik mendapatkan privilage dan wewenang berlebih dalam konversi keyakinan. Ia merasa takut keyakinan budha akan hilang karena upaya ini. Berbulan sebelumnya ia mengirimkan surat dan mengajukan protes pada Ngo Dinh Diem. Namun tak ada balasan. Terdesak akan kondisi dan rasa cinta pada budhisme. Ia mengajukan diri melakukan jalan pengorbanan.

Pembakaran diri demi menyentuh hati penguasa.

Momen ini lantas diabadikan oleh Malcolm Browne, yang kelak memperoleh pulitzer, mengejutkan dunia. Sebuah pengurbanan untuk kepedulian. Sebuah usaha nekat drastis yang menjadikan masyarakatnya sendiri sebagai tumbal. Rage Againts The Machine lantas menggunakan foto Browne ini dalam sampul albumnya.

Hari ini 8 Desember 2011. Hari dimana Munir Said Thalib dilahirkan.

Jika ia masih hidup, hari ini Munir akan berumur 46 tahun. Usia yang cukup matang untuk menjadi jugador dalam pemberantasan pelanggaran HAM. Ia tak mati dengan membakar diri. Tapi diracun dalam pesawat yang hendak membawanya ke Amsterdam Belanda.

Sampai hari ini tak pernah ada kelanjutan perkara ini. Seolah-olah kasus ini terhenti. Terlupakan. Dan berusaha dihilangkan. Dalam masyarakat yang gemar gegar sejarah ini, apalah arti seorang Munir? Entah. Bagi saya ia adalah imam mahdi. Setara dengan seluruh intifada Palestina yang membela tanah airnya. Dan milyaran kali lebih baik dari seluruh moral anggota DPR digabungkan.

Hari ini entah saya sangat emosional sekali. Mungkin karena kemarin, pada akhirnya ada orang yang nekat membakar diri. Melakukan tindakan nekat untuk membuka mata pemimpin negeri ini. Tapi demi segala jembut di kolong langit. Pengorbanan pria malang ini tak lebih berharga dari melodrama ayu ting ting dan rafi ahmad.

Sepertinya saya hendak membakar republik ini. Dengan amarah dan dendam.

1 komentar: