Selasa, 10 Mei 2011

Mengingat Gie dan sekedar catatan tentang Persma

~ Pada akhirnya kita memilih jadi tumbal atau martir.

Jadi dimana saya harus memulai untuk berkisah tentang pers mahasiswa. Sungguh sebenarnya bercerita mengenai sejarah adalah usaha melawan kebosanan. Seperti kamu, saya juga benci untuk duduk dan mendengarkan orang tak jelas bercerita tentang hal yang sebenarnya tak menarik. Persma adalah segala puncak dari ke-tak-menarikan.


Pers mahasiswa adalah sebuah entitas organ mahasiswa yang bergerak dalm bidang jurnalistik. Seharusnya demikian, tetapi praktek dilapangan seringkali tak jauh beda dengan ekskul menulis. Ya menulis. Sekedar mencurahkan uneg-uneg dalam kata dan ditautkan seolah itu menjadi karya hebat.


Saya mungkin terdengar nyinyir, tapi lebih baik kamu sekalian yang hendak berproses dalam pers mahasiswa tahu lebih awal. Bergelut dengan persma adalah bergelut dengan segala yang bernama absurditas dan kedegilan pemikiran. Menjadi orang yang diasingkan karena berbeda dan kritis. Karena bukanlah persma jika tak kritis, ia hanya sekedar penulis medioker kampungan.


Pers mahasiswa dimulai dari ratusan tahun lalu. Pada saat para mahasiswa hindia di Belanda berusaha menulis untuk menuntut pelaksanaan politik etis. Sebuah usaha mencerdaskan pribumi dengan akses pendidikan yang merata dan lebih luas. Kala itu belum dikenal pers mahasiswa. Hanya perjuangan atas dasar kesukuan demi kemajuan daerahnya masing-masing.


Kemudian hal ini berkembang setelah ide-ide nasionalisme kebangsaan dikenal. Tentu saja hal ini dimulai pada tanggal 28 Oktober 1928 yang konon adalah hari sumpah pemuda. Melalui sumpah “berbahasa satu bahasa Indonesia” kanal perjuangan yang dahulu berupa diplomasi dan perjuangan perang. Kini perjuangan menemukan jalannya yang baru. Kata-kata.


Tulisan dan kaitannya dengan pers mahasiswa, adalah perjuangan untuk mengabarkan. Informasi dan usaha menarasikan perlawanan. Kamu akan memulai proses panjang yang diawali satu huruf, kata, kalimat dan pamflet yang bisa menggugah dan menggerakan hati. Dalam banyak peradaban, sebuah tulisan bisa mengawali sebuah revolusi pemikiran.


Adalah Soe Hok Gie, seorang tionghoa pemikir cum wartawan, yang menyadari hal tersebut. Menulis untuknya adalah sebuah usaha untuk melakukan perjuangan. Lebih dari itu, sebagai wartawan mahasiswa, Gie secara frontal melakukan kritik terhadap pemerintah dan tokoh berkuasa kala itu. Takut? Tentu tetapi apalah arti seorang intelektual yang gagal memanfaatkan kemampuannya untuk kebaikan bersama. Mereka tak lebih dari sampah.


Jika kemudian saya harus bertanya maka pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Gie telah menjawabnya dengan garang ia berkata :


Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: Kebenaran.


Bukankah kebenaran merupakan hal yang paling hakiki? Lalu kemanakah kebenaran itu kemudian akan berjalan. Saya pikir ia akan berjalan melalui kata-kata menuju setiap hati nurani para pembacanya. Dan pers mahasiswa sebagai salah satu organ yang bergerak di dalamnya harus konsisten untuk melakukan hal itu.


Kemudian di manakah pers mahasiswa harus berada? Saya pikir pers mahasiswa yang aktif berkegiatan di kampus, harus mulai bekerja dan peduli dengan segala hal di sekitar kampusnya. Hal-hal remeh temeh yang terkait dengan permasalahan kampus. Semisal; dedikasi dosen terhadap proses perkuliahan atau akses terhadap berkegiatan. Jangan terpaku pada hal-hal besar yang nantinya akan membuat kita melayang dan lupa diri. Tulislah hal di sekitar kampus kamu dan kabarkan dengan lantang tanpa embel-embel.


Lalu apakah yang harusnya dikerjakan oleh pers mahasiswa untuk menghasilkan sebuah tulisan yang baik? Banyaklah membaca dan membaca dan membaca dan membaca. Karena mustahil memiliki tulisan yang baik jika kamu tak pernah membaca. Gie adalah seorang pembaca yang rakus. Ketika ia sekolah setingkat SMP ia telah melahap buku-buku karya Andre Gide, Ghandi dan juga Chairil. Maka tak heran jika ia memiliki kualitas tulisan tajam yang kuat.


Bagaimana setelah kita membaca? Banyaklah berdiskusi dan ingat CATAT SEGALA HAL PENTING selama diskusi berlangsung. Carilah teman diskusi yang kamu anggap ia menguasai hal yang ingin kamu atau telah kamu baca. Dengan demikian kamu akan punya pandangan yang lebih menyeluruh dan lebih baik. Setelah itu lakukan proses pengendapan, membiarkan pemikiran dengan cara kontenplasi, lalu meminjam sajak Saut Sitompul “Tulis, Tulis, Tulis!”


Menulis bukan untuk gaya-gayaan dan unjuk kepintaran, lebih dari itu, menulis adalah usaha perjuangan. Sudah berapa kali saya gambarkan dalam tulisan ini, bagaimana sebuah tulisan dapat mempengaruhi seseorang. Sebagai contoh kalian perlu membaca Sebongkah Emas Di Kaki Pelangi karya wartawan gaek Bondan Winarno. Sebuah penulisan investigastif yang mampu membuat mentri pada zaman Soeharto meradang.


Jangan takut saat menulis, seperti yang dikatakan Napoleon Bonaparte, “Aku lebih memilih menghadapi seribu bayonet dari pada sebuah pena,” Ia tak sedang gombal. Menulis kawan akan menjadikan kamu seroang pejuang tersembunyi. Tetapi perlu diingat jangan kemudian privilage itu membuat kalian merasa lebih baik dari orang lain. Jika demikian kalian boleh masuk tong sampah secara hina.


Ini bukan panduan, semacam rasa semangat untuk berbagi saja. Kamu bisa belajar dengan sendirinya. Pers mahasiswa sejatinya adalah sekedar usaha untuk mencari jati diri melalui organ penulisan jurnalistik. Jangan telan bulat-bulat apa yang saya tulis. Itu hanya akan menjadikan kamu boneka dan kacung saja. Jadilah besar karena kemampuan kamu sendiri, bukan karena orang lain. Seperti apa yang dikatakan Gie.


Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.


Tetapi itu adalah Gie, kamu boleh setuju, boleh tidak, boleh juga meludahinya sebagai ide absurd yang gila. Setiap masa punya Zeitgeist-nya sendiri, semangat zaman yang menginspirasi jalannya sebuah perjuangan. Definisikan apa perjuangan yang hendak kalian lakukan melalui pers mahasiswa. Sekedar mengisi waktu kosong, sekedar usaha mencari pacar, atau berdialektika mencari pemahaman. Dan selebihnya dusta.


Satu hal yang ingin saya tekankan jika kalian memutuskan untuk berjuang melalui pers mahasiswa. Jangan pernah menulis hal yang tak pernah kalian yakini itu adalah sebuah usaha untuk mencerahkan. Jangan terjebak pada hal global-masal-banal yang sebenarnya bacin. Kamu bingung? Tontonlah televisi dan pikirkan mana yang lebih penting antara pernikahan William-Kate dengan kondisi petani yang ditembak TNI di Kebumen. Dalam banyak hal kawan, kamu harus berpikir sadis demi perubahan.


Pada akhirnya Gie berkata demikian “Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.” Sebuah sumpah yang keras. Lalu bagaimana dengan kamu?

Ceracau Tanah

aku mau berkisah tentang negri kalah

yang tanahnya tandus tiada terkira

lama sudah awan mendung tak lagi membawa hujan

sehingga mereka yang memiliki mata lupa

betapa indah warna pelangi sesudah hujan


aku mau berkisah tentang negri belah

yang tetuanya serupa buduk-buduk parlente

yang amboi isi mulutnya

tak lebih baik dari comberan

dimana seonggok tahi pun tak sudi mampir didalamnya


aku mau berkisah tentang negri terjajah

yang rakyatnya menjadi budak layar mini buatan cina

yang konon mereka puja dari hasil berternak keringat di pojok-pojok jalan

sambil mengiba menjual muka

lalu habis tenaga disudut kicau pertanyaan "what is your thinking?"


aku mau berkisah tentang negri resah

yang para pemuda-pemudinya sibuk berlomba untuk jadi badut tenar

karena tak tahu cara lain untuk hidup

selain merengek-rengek minta dukungan menjadi bintang layar kaca

yang pada akhirnya akan diingat sejarah sebagai sampah


aku mau berkisah tentang negri lelah

yang pada setiap harapan dan cita-cita telah tertambat harga

berlomba untuk jadi abdi negara

agar kelak tua tak perlu sengit berebut harta

sehingga dengan santun menunggu antrian kematian


aku mau berkisah tentang negeri gerah

tak ada angin, tak ada air, dan tak ada kenangan

yang menjadi basuh, tetirah dan jalan pulang

semua samar-samar, semua buram

dan akhirnya hilang

merayakan kehancuran

O_O Zaki

~ Tapi bukankah kita selalu datang sembari mempersiapkan kepergian?

Kawan saya Arys pernah berkata “Jika kamu duduk dekat Zaki, bersiaplah untuk tersedot masuk kedalam dunianya”. Saya kira dia hanya hiperbola, main-main, sekedar memuji dan basa-basi. Tapi ternyata tidak. Arys benar, dalam kata sederhana, berada di dekat Zaki, kita akan diajak menggenapi ramalan Bertold Brecht soal Gelap Masa.

Entah kenapa pada suatu ba’da maghrib yang tidak terlalu terang. Saya iseng membuka file di hardisk portable. Ada kumpulan file orang-orang yang titip data di situ, saya iseng mengintip, lalu nama Zaki loncat keluar. Sebagai orang iseng yang sudah banyak makan asam garam dengan sikap kurang ajar. Saya membuka file itu dengan istiqomah, tentu tidak lupa basmalah.

Saya main-main dalam folder Zaki, menjelajah segala isinya yang sebagian besar adalah file java script. Saya tak jelas apa itu, susunan notes yang bikin pusing. Lalu dengan sengaja membuka folder yang dinamakan ‘catatan kecil’. Didalamnya saya membaca renungan, seperti suara sumbang, seperti bisikan, seperti kalimat yang putus, seperti kata yang ditahan, seperti seperti seperti apapun. Saya tidak tahu cara mendefinisikannya. Mungkin cuma Zaki, dua malaikatnya dan Tuhan yang tahu.

Folder itu merupakan bisik pribadi Zaki. Saya tak hendak mengungkapnya disini. Saya bukan pecinta gosip yang suka mengumbar kata-kata dan aib. Meski saya kadang suka mengumbar aib sendiri. Namun jika boleh saya mengutip salah satu sajaknya, Si penelusur rupa rupa jejak purba yang sok berguna ini, / hanya ingin meneruskan lagi luka batu / pada titik kediamannya yang paling letih dan tragis. Ada semacam jeda yang ragu ragu disana. Dan secara resmi saya tenggelam dalam hidup Zaki.

Baru kemarin rasanya saya duduk berbincang dengan mas Edi, Arys dan saya lupa sisanya. Mungkin Fandy atau mas Ebi. Dalam kantin ekonomi yang ramai itu, saya hanya menangkap satu kalimat. “Zaki sudah seperti GM” kata mas Edy. Hari ini saya sepakat, tanpa syarat dan tanpa debat. Zaki dalam tulisan, adalah GM muda, tapi dalam sikap? Entahlah, saya hanya bisa membayangkan penyair pinggir sungai Praha di film before sunrise, kumal dan jenius.

Awal mula saya kenal Zaki samar-samar, mungkin dalam ruang diskusi, atau dijalanan saat unjuk rasa. Dahulu turun kejalan adalah semacam etalase diri. Entahlah saya benar-benar lupa tapi yang jelas, saat itu saya tidak begitu tertarik dengan Zaki. Penampilannya serampangan, citra seniman atau penyair saya tidak terlalu hapal. Saya menjaga jarak dengan orang-orang semacam itu. Selain karena saya bukan Homo, saya memang tidak menyenangi sastra, terutama puisi.

Buat saya saat itu, puisi tidak menyelesaikan masalah, ia hanya membahasakan masalah dengan lebih syahdu. Sekeras apapun William Blake mengkritik gereja, pada zamannya toh ia tetap tak berhasil. Sekeras apapun Wiji Tukul bersyair, ia akhirnya hilang ditelan zaman. Puisi, menurut saya dahulu, adalah semacam lekat buta pesakitan. Apologi paling murah untuk menolak realitas.

Dalam suatu esei GM bilang saat revolusi tak ada lagi, maka semua akan mati. Sempat kemudian saya bertanya. Semua itu mengacu pada apa? Apakah kehidupan? Apakah sastra? Apakah gerakan? Atau apakah semangat? Biar GM saja yang berpikir. Tetapi jika saya mengingat puisi-puisi Zaki. Saya percaya bahwa negativitas dan nihilisme adalah semacam lelucon saja baginya. Dalam bising sunyi sajak dan perilaku Zaki. Saya dipaksa mengamini diktum Chairil Anwar 'hidup hanya menunda kekalahan'.

Zaki membuat saya melacur pada degil mesra dunia sastra. Mengamini segala bentuk ekspresi kata-kata sebagai senjata yang bahkan lebih tengik dari serbuan bayonet.

Hari ini Zaki berulang tahun, tetapi saya tak tahu ia dimana. Pernah saya merasa sangat rindu lalu membikinkan sajak untuknya. Tentu sajak abal-abal, apalah arti sajak saya itu dihadapan Zaki. Dalam sajak itu saya menyebutnya sebagai gembala kata-kata. Entahlah mungkin akan ia anggap lalapan saja. Tetapi bukankah kamu selalu berkata, tak pernah ada kata selesai pada proses. Seperti puisi yang ia bacakan pada launcing majalah Tegalboto kemarin 'Ambil gunting lalu tusukan'.

Selamat berkurang masa Zak. Kita adalah orang-orang yang terbuang. Yang dipaksa menyerah pada pilihan-pilihan paling picis. Semoga kau terberkati, carilah jalan belakang lain jika suatu saat kau jatuh cinta, perjuangkanlah. Jangan menyerah, puisimu adalah senyawa prana yang memberi hidup.


*28 Maret saat saya pikir telah selesai dengan puisi

Rani

~ Sepertinya mata jadi hulubalang jalang

Saya benci untuk mengakui bahwa dalam banyak hal saya kangen kamu. Hahaha tolol ya? Padahal dekat, mau ketemu tinggal loncat pager juga ketemu. Tapi ya itu lagi, lelaki punya ego yang kadang terlalu tolol untuk bisa dipahami dengan kesabaran paling bebal. Lagipula kamu juga menghilang, untuk itu saya pikir kamu menjaga jarak.

Tapi bukan untuk itu saya menulis ini. Ya kamu tahulah sebagai pria muda yang jadi idola remaja sekarisidenan Mozambique saya ini sibuk. Tapi pas kemarin lagi kondangan di Westminster Abbey ada reminder dari I Phone saya. Katanya kamu ulang tahun. Nah itu dia, saya gak pernah tahu kalau kamu juga dilahirkan. Saya kira seperti kebanyakan manusia kamu dibuat dari tanah. Ternyata saya salah, kamu diciptakan setidaknya bercampur dengan cahaya.

Oke, jadi dimana saya harus bercerita. Hmm saya sebenarnya lupa kapan pertama kali kita bertemu. Saya hanya ingat Fuad. Selebihnya sekedar blur, ya karena dunia ini jadi lonjong miring karena pesona yang kamu buat. Gombal ya? Biar, wong kodrat kok seorang perempuan di gombali. Tapi bukan kodrat lelaki untuk selingkuh, itu adalah penistaan. Jadi entah kamu sekarang berpacaran dengan siapa, selingkuh adalah vonis mati perasaan. Ingat itu.

Kemarin kamu bikin puisi indah sekali, malah saya baru lihat ada puisi yang mengalir. Puisi kamu yang lelaki jingga itu, ah sial benar bagusnya. Kapan-kapan kamu kirim saja itu ke tikungan. Biar nanti diapresiasi. Kalau perlu nanti ikut rencana kami bikin antalogi puisi Jember - Jogja. Kamu musti ikut, biar ada pembanding penyair wanita. Tak melulu Zaki, Halim atau Arys saja. Kukira kamu punya warna sendiri sebagai penyair lugas dan sendu.

Jika pun saya harus menyamakan puisimu mirip sekali dengan puisi Emily Dickinson. Emily dilahirkan di Amerika tepatnya di Amherst, Massachusetts pada tahun 1830. Ia dikenal sebagai salah satu penyair paling cantik yang pernah ada. Tentunya tak kalah beda dengan kecantikan kamu 11-12 saya kira. Seperti juga kamu, Emily tak selalu berhasil kisah cintanya. Beberapa kali kandas dan berakhir dengan perang dingin.

Emily dikenal sebagai penyair yang mengutamakan diksi dan jalinan puisi yang deskriptif. Artinya menjelaskan latar, suasana, dan perasaan yang ia rasakan. Dipengaruhi kondisi 'galau'nya. Seperti kesepian, kesunyian, kerinduan, jatuh cinta dan patah hati. Sejenak sama kan? Hanya saja kamu lebih beruntung, memiliki keluarga dan teman yang tulus. Emily tak sempat memilikinya. Untuk itu kamu pantas bersyukur.

Jika kamu mau berlatih membaca dan menulis. Saya yakin kamu akan bisa mengalahkan novel dan narasi liris dari Nukila Amal. Tapi apalah saya bercerita ini dihari ulang tahunmu yang telat sehari. Maaf, saya tak sempat kasih kado. Belum gajian, maklum wartawan medioker, pemula pula. Sekedar sapa salam doa dan mungkin secarik sajak

Ini ada puisi Emily Dickinson yang paling saya sukai judulnya There is no Frigate like a Boo. Tentu kamu tahu alasannya, karena saya suka buku. Dan puisi ini berkisah tentang buku.

There is no Frigate like a Book

There is no Frigate like a Book

To take us Lands away,

Nor any Coursers like a Page

Of prancing Poetry –

This Traverse may the poorest take

Without oppress of Toll –

How frugal is the Chariot

That bears a Human soul.

Lalu apakah kamu sekarang sudah selesai membaca buku Puthut EA yang saya pinjamkan? Ah biarlah, kadang seperti kenangan, buku itu hadir sesukanya. Tak kenal momen. Mau kita ulang tahun atau tidak. Tetapi bukankah itu yang indah? Menjalani hidup seperti buku. Melalui baris demi baris dan lembar demi lembar. Seperti kisah yang kita tak pernah tahu apa akhirnya.

Dan inilah saya, buta sama sekali dengan kondisi yang ada padamu. Saya tak tahu usia kamu berapa, pacar kamu siapa, atau kapan kamu mau lulus. Yang jelas segala kebaikan dan proses semoga akan menjadikan kamu pribadi yang lebih bijak, lebih baik dan lebih anggun. Dan akhirnya malam memang terlalu larut di luar.

*30 April tengah malam Mei