Rabu, 06 Juli 2011

Surga dan Sedikit Kesepakatan Masa Depan


"If you have a garden and a library, you have everything you need."
— Marcus Tullius Cicero —

Apa itu surga? Buat saya surga adalah saat bersama orang yang kita cintai, membaca buku sambil meminum kopi pahit, memandang senja di sebuah pematang sawah, alunan khusyuk tartil seorang anak mengaji, memandang mata orang yang kita cintai di pagi hari saat ia bangun tidur dan berkata "Aku suka rambut lusuhmu, caramu menguap, mata bengkakmu dan masam wangimu,"

Adalah Marcus Tullius Cicero, seorang orator, pengacara, filsuf dan juga pemikir paling penting romawi. Ia berasal dari keluarga terdidik yang mencintai pengetahuan. Lewat membaca dan menulis ia mengembangkan bakatnya sebagai penerjemah, linguis, dan juga penulis yang handal. Beberapa karya terbaiknya adalah kumpulan surat untuk sahabatnya Aticcus, sebuah kontenplasi sebagai anggota senat romawi dan juga tulisan pemikirannya terhadap alam.

Untuk Cicero, membaca buku, berpikir tenang, berkebun dan menikmati sore hari di Roma adalah sebuah kemewahan setara surga.

Tapi surga kecil saya untuk saat ini adalah sebuah kamar kumuh dengan berbagai buku berserakan rapi, sebuah jendela besar menghadap sawah, omelan ibu tiap pagi, komentar teman yang cadas dan lagu-lagu moody di earphone. Bagaimana dengan kalian?

Senin, 04 Juli 2011

How " Pasti " Are You?


Universitas Kampret of Cambridge, calon kampus saya :D


Oke, sebelumnya saya ingin mengingatkan bahwa ini bukan tulisan motivasi. Bukan pula tulisan penyemangat yang diharapkan setelah lunas membaca ini kalian akan langsung masuk surga. No, in fact half of this writings is almost shit.

Berawal dari keisengan saya dan kawan-kawan di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berkata "Kalau ngerasa pasti bisa, pasti bisa beneran." Saat sedang capek menulis dan membaca. Sekedar penyemangat saat sedang sumpek atau merasa sesak dengan kondisi diri sendiri. Tak disangka mantra itu ampuh untuk membuat saya dan kawan-kawan mencapai apapun yang kami inginkan.

Ada kawan yang berkata Pasti Bisa juara satu Desain. Dan dia menang juara tak hanya juara satu tapi juga juara umum. Ada kawan yang berkata Pasti Bisa lolos beasiswa. Dan dia lolos beasiswa selama setahun. Ada juga seorang bigot kawan saya yang bersumpah akan menziarahi makam tuhan Jim Morrison. And that mother fucker fly to paris and meet his god! FUCK!

Ini bukan kisah "man jadda wa jadda" ala Ahmad Fuadi. Bukan sama sekali. Jika AF adalah fatalis akut yang berhamba pada doa akan menyelesaikan segala. Saya dan kawan-kawan saya merupakan budak matrealisme logis yang bertumpu pada kerja keras dan usaha diri. Rumus Pasti Bisa itu seringkali membuat saya tak percaya. Seperti saat saya bermimpi bisa ikut kelas jurnalisme sastrawi Pantau, atau melancong ke Sulawesi atau menemukan buku langka Amartya Sen. Semua karena keisengan berkata "Pasti Bisa"

Dan ini mimpi saya. Untuk kuliah di Universitas Kampret of Cambridge. Salah satu universitas terbaik dan (termahal di Dunia). Saya ingin belajar bagaimana universitas yang didirikan para desertir Oxford ini melakukan riset, menganalisa dan bagaimana produk penelitian mereka bisa melakukan perubahan kebijakan. Well, saya pasti bisa. Pasti. Entah kapan.

Minggu, 03 Juli 2011

Sekedar Perbincangan di Sore Hari II


Setelah kemarin saya selesai berbincang bersama Iqra Anugerah. Orang berikutnya yang saya ingin wawancarai adalah Wimar Witoelar. Buat saya dia adalah tokoh yang luar biasa. Seseorang yang open minded, cerdas, sarkastis dan tahu bagaimana bersikap. Dia juga sempat dan masih aktif menjadi kolumnis di (Today, Business Week, News week, Australian Financial Review), komentator TV (ABC, CNBC, CNN).

Pada masa rezim Soeharto berkuasa, Wimar pernah membuat acara talkshow yang bertajuk perspektif. Sebuah bincang-bincang yang mengundang tokoh-tokoh kontroversial yang secara nyata beroposisi dengan penguasa kala itu. Seperti Sri Bintang Pamungkas dan Munir. Dalam perbincangan itu ia bisa saja menjadi sangat tajam bertanya. Lalu tiba-tiba menjadi sangat konyol dengan guyonan cerdasnya. Oh ya Wimar juga dikenal sebagai salah satu dari sedikit sekali stand up comedian yang dimiliki oleh Indonesia.

Tunggu saja wawancara saya dengan beliau. :D

Iqra Anugrah dalam sebuah Dialog




Ini merupakan sedikit fragmen dari perbincangan saya bersama Iqra Anugrah. Mahasiswa master dari Ritsumeikan Asia Pacific University yang juga akan melanjutkan kuliah master dalam bidang politik di Ohio University. Ia merupakan sosok pribadi yang menarik. Saya sendiri mengenalnya lewat Facebook. Berawal dari rasa kagum terhadap analisisnya di Blog pribadinya, saya kemudian banyak bicara dan berdiskusi dengan Iqra. Ini adalah sedikit perbincangan kami.

Bisa cerita dikit gak latar belakang pendidikan lo?

o Well, dari TK/SD-SMA gw sekolah di Indonesia, di Jakarta lebih tepatnya, dan semenjak kuliah gw berada di luar negeri. S1 gw di Hubungan Internasional (HI) dan S2 gw di Kajian Kawasan (Asia Pacific Studies, bahasa bulenya), yang mana dua-duanya gw dapatkan di Ritsumeikan Asia Pacific University atau APU di Jepang. InsyaAllah gw September tahun ini lulus S2 dan abis itu bakal ngambil S2 (ya, yang kedua, dan kalo lo bingung kenapa gw “suka sekolah” nanti bakal tau jawabannya) di jurusan Ilmu Politik di Ohio University di Amrik.


o Itu latar belakang pendidikan formal gw, tapi jujur gw lebih banyak belajar dari pendidikan non-formal atau informal gw. Dari SMP gw udah ikut berbagai kegiatan organisasi dan lain-lain yang sifatnya luar sekolah, sampai dengan sekarang




On Political Parties and Religious Bylaws in Post-Suharto Indonesia


Kenapa lo lebih memilih kuliah di luar negeri?


o Pertama-tama, tentu karena kualitas. Gw merasa kualitas akademik, non-akademik, dan kemampuan gw bakal lebih berkembang di luar. Kedua, exposure, di luar negeri kita bisa belajar banyak hal tentang kehidupan, apalagi kalau tinggal di negeri orang, belajar bahasa baru, dan ketemu orang-orang baru. Sebagai informasi, univ gw adalah univ internasional di Jepang di aman sekitar 40% mahasiswa, staff, dan dosen adalah orang asing, jadi selain kuliahnya pake bahasa Inggris, gw punya kesempatan ketemu dengan teman-teman dari 90 negara lebih. Ketiga, tentunya karena gw dapet beasiswa, karena kalo gak gw gak bakal bisa kuliah di luar. Pertama-tama gw cuma dapat beasiswa uang sekolah, dalam artian sekolah gratis, terus gw coba kerja part-time atau paruh waktu dan daftar beasiswa lain sana-sini. Alhamdulillah sekarang gw kuliah gratis plus dapat uang bulanan buat biaya hidup yang bahkan bisa ditabung.

· Proses lo buat dapet beasiswa gimana?


o Untuk kuliah gw yang sekarang di Jepang, beasiswa gw dari univ-nya langsung. Kebetulan univ gw ini ada kantor perwakilannya di Jakarta, jadi gw daftar dari situ. Terus pas nyampe di Jepang, gw beasiswa gado-gado daftar sana-sini dan juga kerja part-time, sampai akhirnya dapat beasiswa dari pemerintah, lebih tepatnya mendiknas Jepang, yang full. Alhamdulillah secara finansial gw cukup independen sampai dengan sekarang.


o Untuk S2 gw yang selanjutnya dari Amrik, Alhamdulillah gw juga dapat beasiswa dari universitasnya sendiri sekaligus dapat beasiswa dari ETS (lembaga yang mengurusi tes TOEFL), yang kurang lebih full lah hitungannya, mencakup uang sekolah dan uang hidup gw. Untuk yang ini, gw juga daftarnya langsung ke universitasnya.

· Kenapa ambil jurusan politik?


o Minat awal gw itu dulu filsafat, dan religious studies atau kajian keagamaan, terutama Islamic studies. Kebetulan gw lahir dari keluarga aktivis, dan dari kecil nyokap secara gak langsung mendidik tentang pentingnya jadi orang yang tanggap dan peduli dengan keadaan sosial.


o Satu hal yang mungkin sangat berpengaruh dalam keputusan gw menekuni bidang politik adalah setiap kali gw naik bis buat berangkat dan pulang sekolah pas SMP dan SMA, gw jadi sadar akan realita kehidupan.


o Kemudian, karena gw merasa gw perlu mempelajari sesuatu yang riil untuk menjawab realita hidup (sori, bahasanya sok-sok berat, hehe), akhirnya gw memutuskan “banting setir” belajar Ilmu Politik. Spesialisasi gw sekarang adalah Politik Perbandingan di Asia Tenggara.


o Mungkin yang gw lakukan emang belum begitu banyak sebagai orang yang belajar Ilmu Politik, tapi gw berusaha berkontribusi semaksimal mungkin dengan cara ikut berbagai kegiatan kemahasiswaan di dalam dan di luar negeri, ngadain seminar, bikin tulisan, dsb.


· Lo percaya gak kaum muda bisa berbuat sesuatu di Indonesia dengan jurusan yang mereka ambil di luar negeri?


o Gw rasa permasalahannya bukan percaya ato gak percaya, tapi lebih ke lo mau gak mewujudkan ide-ide lo, lo mau gak bertindak. Udah banyak pertanyaan emang dan bahkan pesimisme betapa banyaknya anak Indonesia lulusan LN tapi apa dampaknya terhadap kemajuan Indonesia, tapi gw yakin, berdasarkan apa yg gw lihat dan kerjakan bareng teman-teman Indonesia yang juga lagi sekolah di LN, sekelompok orang yang berkomitmen buat Indonesia itu selalu ada dan merekalah yang akan menggerakkan potensi orang-orang Indonesia di LN.


o Sekedar informasi, perkembangan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di berbagai negara ini sedang pesat banget loh. Kegiatannya juga bukan sekedar nari-nari atau pertunjukkan budaya Indonesia secara simbolik (yang mana penting juga tetep), tapi kita berusaha mempengaruhi apa yang terjadi di tanah air, dengan diskusi, membangun koneksi, mempengaruhi dan mengkritisi politisi-politisi kita (apalagi pas mereka lagi “dinas” ke LN, ha!). So far kita fokus ke membangun jaringan antar PPI di berbagai negara dan tentunya menjaga independensi, dan kita mau tetap seperti itu.


Sebenarnya kita bisa bersaing gak sih di luar negeri?


o Kalau boleh jujur, kita itu sangat bersaing dan memiliki potensi yang besar. Sayang kadang-kadang kita gak menyadari itu dan support dari yang di dalam negeri juga kurang.


o Gw sendiri sudah menyaksikan buktinya. Gw udah ketemu orang-orang Indonesia yang jadi profesor dan professional di LN. Mahasiswa-mahasiswa kita juga berprestasi loh. Dari pengalaman gw sendiri, Alhamdulillah gw juga udah pernah misalnya menang kompetisi esai atau diundang ke simposium internasional yang isinya orang-orang dari berbagai belahan dunia yang datang dari univ-univ dan lembaga-lembaga top. Jujur, pas nyampe di Jepang, gw bilang ke diri gw sendiri “gw gak bakal kalah sama orang-orang dan bule-bule dari negara lain!”, dan gw rasa semangat itu yang juga mendorong gw untuk aktif ikut berbagai kegiatan dan juga di kelas, terutama yang ada diskusinya, hehe.


o Makanya, sekarang PPI di berbagai negara sedang giat-giatnya membangun jaringan dengan berbagai potensi Indonesia di LN ini. Mudah-mudahan dengan adanya network ini kita bisa makin bersaing di LN.


o Contoh nyata, gw baru bulang dari Simposium Internasional, namanya St. Gallen Symposium, di Swiss, bulan Mei kemarin. Gw ketemu dengen orang-orang Indonesia yang sempat jadi First Winner kontesnya, mengalahkan mahasiswa Harvard dan LSE. Ada juga wirausahawan dari Indonesia yang satu panel dengan mahasiswa MBA Harvard. Selain itu, Pak Gita Wirjawan, Kepala BKPM, juga memberik kuliah di Panel Utama, satu sesi dengan Menkeu Perancis, Christine Lagard, dan Editor Senior Financial Times, Martin Wolf. Jadi, potensi kita untuk bersaing itu ada, selama kita percaya dan mau menggunakannya.


· Ngalamin cultural shock ga?


o Jujur, bisa dibilang gak. Begitu nyampe asrama kampus, gw langsung berasa excited, mungkin karena kesempatan untuk ngobrol dan berinteraksi dengan temen-temen se-asrama yang datang dari berbagai macam negara. Satu faktor lain adalah mungkin karena orang Indonesia di kampus gw dan di Jepang pada umumnya cukup banyak, jadi gw makin gak berasa homesick. Cultural shock mungkin sedikit terjadi ketika ngelihat cara kerja orang Jepang dan kerja bareng mereka, yang misalnya kalau meeting cenderung lama dan kalau ngomong gak to the point. Tapi selebihnya, pengalaman gw di LN menyenangkan karena bisa banyak belajar hal-hal baru, terutama di kehidupan.


· Perlu berapa lama buat adaptasi?


o Untuk lingkungannya, gak begitu lama. Untuk bahasa, gw baru bener-bener PD ngomong pasca setaun tinggal di sini, yang mana itu juga kebantu dengan pelajaran bahasanya yang intensif dan interaksi dengan orang Jepang dan mahasiswa asingnya yang maksimal. Masalah akademik, gw ngerasa baru bener-bener bisa nulis akademik yang bener mungkin setelah 1.5 tahun kuliah dalam bahasa Inggris.


· Apakah lo nerd? dalam artian buat dapet beasiswa itu lo harus jadi kutu buku?


o Well, gw suka baca buku, kalo gak malu sama nama sendiri, yang artinya adalah “membaca”, haha. tapi kalo lo ngebayangin orang yang suka baca buku kayak ilmuwan-ilmuwan yang belajar sains dan teknik di film-film, gw jamin gw bukan kayak gitu, haha. So, gw bukan nerd, haha. Jujur, gw dulu pas SMA juga bukan termasuk yang jago-jago amat, dan iya dulu jurusan gw IPA, biasa lah konformitas di masyarakat kita, sampai akhirnya gw sadar gw musti kembali ke passion gw, apa yg pengen bgt gw pelajari dari dulu yaitu ilmu sosial.


o Dari berbagai macam proses pendaftaran beasiswa yang pernah gw jalani (fyi, gw juga banyak gak dapetnya, hehe, tapi coba terus), gw sadar klo kekuatan, atau istilahnya “yang bisa di jual” dari gw adalah aktivitas gw di berbagai kegiatan dan tulisan-tulisan gw di berbagai tempat. Nilai memang cukup penting, tapi bukan segalanya. Dan yang terpenting, lo musti tau cara menikmati hidup, yang mana itu juga masuk penilaian para pemberi beasiswa, karena mereka pengen ngasih beasiswa ke orang yang aktif dalam hal-hal serius tapi juga bisa diajak santai dan asik juga, hehe.


· Suka musik jenis apa?


o Favorit gw adalah Classic Rock, Oldies, Acid Jazz, Europop/Eurorock, sama Brit Music. Untuk Classic Rock, yang mana adalah music kebangsaan gw, The Rolling Stones udah the best of the best lah, Mick Jagger gak ada matinye. Tentunya gw suka the Beatles. Yang rada modern, gw suka banget sama Muse. Untuk Acid Jazz, gw fans beratnya Jamiroquai, dan untuk yg berbau Euro, gw demen banget sama Kings of Convenience, Sondre Lerche, and Mew.


o Musik-musik selain itu gw juga suka sih, tapi buat selingan aja, biar tetap “terjaga” dan “murni” lah selera kupingnya, hehe.


· Konser musik yang terakhir lo liat?


o Terakhir kali gw nonton Konser-nya Coldplay, bela-belain deh jauh-jauh ke Osaka biar kata tinggalnya jauh dari sana. Gak nyesel sih tapi nonton itu, benar-benar keren dan puas, apalagi liat aksi panggungnya Chris Martin.


· Tayangan/film yang terakhir lo liat?


o Kalau di yang di Bioskop sih, terakhir kali gw liat Avatar, maklum di sini selain rada mahal nonton Bioskop, di kota kecil tempat gw tinggal ini rada susah, sampe mesti ke kota sebelah dulu untuk nonton film.


o Abis itu gw nonton beberapa film dan tayangan lainnya via internet, cuman gw udah lupa apa aja, haha.


· Kenal Justin Bieber atawa SM*SH gak?


o Secara pribadi gak kenal. Kalo kenal as in tau lagu-lagunya sih ya. Jujur gw gak “kuat” denger lagu mereka, alias rada-rada males dan geli gitu klo denger, no offense buat Bieber dan SM*SH, haha. Klo yg suka sih yah gmn lagi ya, silakan aja, namanya pilihan orang musti dihormatin. Gw sih, ya itu, lo tau kan maksudnya apa :D



· Sebutin 5 buku yang paling berpengaruh dalam hidup lo? dan kenapa?


o 5 buku paling berpengaruh, hmm, susah juga ya, menantang ini, hehe, tapi kalau boleh disebut 5 doang, mungkin ini daftarnya kurang lebih:


o Pertama, tulisan-tulisan pemikir dan aktivis gerakan kiri dan progresif, dari Marx dan Adorno hingga Chomsky dan Sartre. Tulisan-tulisan mereka, baik dalam bentuk buku, maupun yang lain, jadi inspirasi buat gw.


o Kedua, buku-buku dan tulisan-tulisan pemikir Islam progresif di Indonesia, terutama Cak Nur. Tulisan-tulisan dan buku-bukunya tetap relevan hingga sekarang, dan menunjukkan bahwa kita bisa religius, kritis, demokrat atau socially concerned, dan juga memiliki pergaulany yang luas.


o Ketiga, untuk literature atau novel, gw suka baca sastra-sastra non-Barat, tapi yang paling nampol adalah novel-novel Orhan Pamuk, yang ceritanya sangat menyentuh, dan isu-isu yang dibawa juga sangat relevan untuk sekarang, yaitu bagaimana menerima perbedaan, perdamaiaan antar peradaban, dan pembelaan terhadap kemanusiaan.


o Keempat, untuk ilmu ekonomi, secara khusus gw suka tulisan-tulisannya Paul Krugman, ekonom AS yang menang Nobel, taun 2009 kalau gak salah, terutama karyanya dia yang The Conscience of a Liberal. Karya dia menunjukkan bahwa untuk memajukan ekonomi dan menyejahterakan orang, kita gak perlu mengorbankan keadilan dan solidaritas, terutama buat orang-orang yang kurang beruntung.


o Kelima, buku Chomsky for Beginners yang gw baca pas SMP betul-betul inspiratif. Noam Chomsky, sebagai salah satu intelektual kenamaan Amrik betul-betul menjadi semacam panutan gw semenjak saat itu. Buku yang isinya tentang biografi Chomsky ini mengajarkan bahwa kita juga bisa berbuat sesuatu buat orang banyak, seperti layaknya Chomsky.


· Dalam 10 tahun lo mau jadi apa?


o Sebagai “dasar”nya, gw mau jadi profesor atawa dosen, ngajar di universitas, bisa di dalam atau di luar negeri. Di saat yang sama, gw juga pengen terlibat di beberapa kegiatan atau gawean yang lain. Gw juga pengen jadi peneliti di beberapa LSM yang emang fokus di penelitian untuk bidang-bidang politik seperti pemantau dan survey hasil pemilu. Sebagai alternatif, gw juga mungkin bisa merintis karir sebagai salah satu peneliti atau officer di salah satu LSM/NGO internasional, terutama yang fokus untuk program-program demokratisasi dan pemantau pemilu.


o Tentunya, gw juga berharap gw sudah memiliki reputasi sebagai penulis,baik untuk tulisan tulisan akademik seperti jurnal dan buku maupun tulisan populer seperti artikel di media massa maupun buku populer. Gak tertutup kemungkinan gw juga bersentuhan dengan media, baik sebagai pengamat politik misalnya atau host/pembawa acara diskusi sosial-politik. Gawean-gawean yang lain seperti jadi konsultan PR untuk institusi publik dan korporasi, punya publishing house sendiri yang fokus untuk mempromosikan karya-karya penulis bahasa Indonesia dalam bahasa Inggris misalnya, juga mungkin dilakukan.


o Intinya, gw berharap sudah bisa membangun dasar yang kuat sebagai pemikir atau intelektual yang juga aktivis, bisa bertindak dan mengakar di masyarakat. Hopefully gw berharap gw sudah bisa pulang ke Indonesia pada saat itu, berbuat sesuatu, sebelum mungkin nantinya bisa berkontribusi di kancah internasional juga (Sekarang ngerti kan kenapa gw “seneng sekolah”, karena fleksibilitasnya dan juga dengan modal pendidikan ini gw pikir gw bakal bisa mewujudkan apa yang gw mau dan suka. Kerjaan bukan Cuma kerja perusahaan aja man! And it feels good to help people, so that’s why I, an average guy with a bigger mouth, decided to focus on this particular field).


· Jika punya kuasa menulis sejarah lo pengen dikenang sebagai apa?


o Gak neko-neko. Jadi orang baik dan jujur aja cukup deh. Kalau bisa jangan sampai diingat jadi orang yang pernah berbuat gak bener. Berat tanggung jawabnya sama yang di Atas :D


· Just joke question, jika ada reinkarnasi, lo berharap masa lalu lo sebagai siapa? Karl Marx, Hitler, atau Da Vinci?


o Musti milih di antara tiga ini nih? Bisa milih yang lain gak? Hehe *Nawar. Gw lebih cenderung ke Karl Marx mungkin ya, tapi kalau bisa mungkin jadi Gandhi lebih baik :D Beliau levelnya udah deket ke nabi-nabi dan utusan Tuhan yang lain tuh, haha. Tapi gw seneng sih dengan diri gw yg sekarang, jadi, jadi siapapun itu gw gak begitu masalah, asal mirip-mirip ama diri gw yang sekarang kali yak, hehe.


James Dauglas Morrison


He said he a lizard king, he can do anything

Saya mengenal Jim Morrison, atau lebih lengkapnya James Dauglas Morrison, dari kakak saya yang pertama. Dia penggemar berat musik jazz dan psydelic yang tentu saja sangat diakomodiasi oleh The Doors nya Morrison. Ada saat-saat dimana pada saat kakak saya sedang suntuk dia akan memutar keras Light My Fire dan Riders on the Storm dengan volume penuh. Well, saat itu saya masih kelas dua SD. Dan buat saya repertoire Light My Fire yang lebih dari tujuh menit itu terlalu bising dan membosankan.

Lalu pertemuan kedua saat saya kuliah dan masuk sebuah organisasi pers. Di sana saya bertemu seorang begundal yang menyaru jadi musisi bernama Nuran. Sekali waktu dia memutar The End nya Doros. Sontak saya kaget, kok bisa ada orang Jember yang kenal dan mendengar The Doors. Mana orangnya relatif muda. Mindset saya saat itu mereka yang mendengarkan musik-musik semacam Jazz, Psydelic, hanya orang-orang uzur yang termakan usia. Ternyata saya salah.

Tanpa sadar saya juga mulai menikmati musik The Doors. Tentu, saya menafikan ketokohan Jim. Buat saya mereka yang terlalu menokohkan, dalam konteks ini band, biasanya band yang akhirnya akan bubar seiring ego dari sang patron. Well, setelah saya mencari tahu tentang Doors. Semakin saya tahu, keberadaan Jim dan Doors serupa dengan keberadaan Atlas dan Dunia dalam mitologi Yunani. Keberadaan mereka terpisah sebagai individu namun saling menyokong satu sama lain.

Sosok Jim adalah sosok mistis, dari tulisan Nuran kawan saya yang pemuja Denie Sakrie itu, Jim memiliki alter ego. Beberapa sosok yang terbangun seiring dengan masa hidupnya. Terkadang ia adalah Mr. Mojo Rising lalu berganti menjadi Jimbo sang pemabuk beralih rupa menjadi Lizard King lalu tiba tiba kembali menjadi James Dauglas Morrison.

Hari ini adalah hari dimana Jim meninggal. 40 tahun lalu di sebuah apartemen, Jim ditemukan meninggal. Tidak ada yang tahu pasti apa penyebabnya. Konon ini hanya isu, bahwa sebenarnya Jim masih hidup dan mengejar mimpi Arthur Rimbaud ke Afrika. Namun satu hal yang pasti sosoknya sebagai James Dauglas Morrison manusia biasa belum pernah terungkap. Ini hanya sekedar pengantar. Nanti kalau sudah selesai meriset akan saya lanjut lagi. Untuk sekarang ini dulu. :D

Sabtu, 25 Juni 2011

Melodia - Sebuah Puisi dari Umbu Landu Paranggi


Melodia

cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan. karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan. baiknya mengenal suara sendiri. dalam mengarungi hidup di luar sana. sekali waktu mesti berjaga dan pergi membawa langkah ke mana saja. karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati pengembara.

dalam kamar berkisah taruhan jernih memberi arti kehadirannya. membukakan diri bergumul dan menyeri hari-hari tergesa berlalu. meniup deras usia mengitari jarak dalam gempuran waktu. tak kan jemu napas berdegup di sini, dengan sunyi dan rindu menyanyi. dalam kerja bergumul suka duka, hikmah pengertian melipur damai.

begitu berarti kertas-kertas di bawah bantal penanggalan penuh coretan. dalam sepenanggungan mengadu padaku dalam manja bujukan. rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri, manis bahagia sederhana. di rumah kecil papa, tapi bergelora hidup kehidupan dan jiwa. kadang seperti terpencil, tapi gairah bersahaja harapan dan impian. yang teguh mengolah nasib, dengan urat biru di dahi dan kedua tangan.


*Umbu Landu adalah sosok misterius dalam dunia sastra Indonesia. Ini adalah salah satu sajak yang susah saya temukan. Ada rasa haru getir dan perih tapi manis yang terpancar. Suatu saat saya hendak bercerita tentang Umbu. Tapi tidak sekarang.

Buku Dan Kerakusan Diri


Saya benci keramaian. Apalagi keramaian yang diisi dengan banyak orang banal atau dalam terminologi saat ini gaul. Saya merasa terasing di antara mereka. Oleh karena itu saya membenci mall, konser musik band populer, bandara dan pernikahan. Tapi jika ada keramaian yang sudi saya hadiri. Well, itu adalah kenduri langsung Rage Againt The Machine, pengajian live Pure Saturday, kuliah umum bersama Amien Maalouf atau pameran buku. Untuk yang terakhir saya rela berdesakan dengan sejuta orang sekaligus.

Tiga minggu lalu Jember kedatangan tim Bukabuku dari Jogjakarta. Sebuah event organizer yang bergerak dalam bidang pameran buku. Saya sendiri kenal baik dengan mas Tri Prasetyo, atau TP, direktur eksekutif dari Bukabuku Production. Dengan semangat juang serupa gerilyawan Maoist Nepal saya mendatangi Gedung Soetardjo lokasi dimana pameran itu diadakan. Di pintu masuk saya bertemu mbak Elok, mantan bos saya dulu saat nguli bersama Bukabuku, yang datang bersama putrinya.

"Lho urung lulus Dhan?" katanya.

"Durung mbak, sik arep ujian,"

"Ket rong taun wingi ngunu, sampe aku mbrojol anak awakmu urung lulus pisan," lanjutnya seperti petasan banting.

"eh wes mbak yo, aku tak masuk dulu,"

Saya tahu mbak Elok tidak akan berhenti sampai di sana. Dia bakal nanya apa saya masih sholat, kapan nikah, sudah punya pacar dan sebagainya. Sebagai orang baik, mbak Elok punya cara menyebalkan dalam bertanya. Oleh karena itu saya memutuskan kabur sebelum ditanya yang macam-macam.

Di pintu masuk saya bertemu mas TP. Dia masih saja seperti dulu, kurus kering dan workaholic. Dalam banyak hal saya mengagumi pribadi mas TP yang keras. Ia punya jabatan tinggi dalam Bukabuku, tapi tak membuat dia segan untuk jaga parkir, mengangkut sampah, dan mengusung kardus. Ia sepertinya berbakat menjadi direktur sekaligus kuli pasar.

"Dhan," kata mas TP wajahnya tampak sangat berbinar dan bijak,

"Ya mas?"

"Raimu panggah welek jeh, ra mutu tenan," katanya.

Saya sebenarnya ingin menginjak muka dan menggampar mas TP. Namun karena saya masih sadar diri atas fakta empiris yang memang ada saya tahan. Selepas cipika-cipiki saya langsung berhambur ke area pameran buku. Seperti yang saya duga sebelumnya, pameran buku di Jember di dominasi oleh buku-buku keagamaan (islam). Seolah apa yang ada di Al Quran tak cukup dan mereka butuh 'text book' penunjang demi menambah keimanan mereka. Buat saya ini adalah tanda-tanda senjakala keimanan.

Tapi tentu saja saya tak ingin membalas hal itu. Terlalu banyak hal yang lebih penting daripada sekedar membela atau menjaga kekuasaan tuhan. Saya hendak berburu buku langka. Dimana lagi jika bukan di Yusuf agency. Bagi para penggila buku yang sudah malang melintang di pameran buku. Nama Yusuf Agency sudah tak asing lagi. Ia dikenal sebagai satu-satunya juragan buku yang bisa memuaskan nafsu birahi penggila buku klasik, murah dan langka. Mengapa demikian?

Berawal pada medio 2004 dimana pak Yusuf, pemilik usaha ini melihat peluang usaha dari tumpukan buku di sebuah gudang percetakan. Berbekal kenekatan ia membeli tumbukan buku itu berdasarkan kardusan. Catat KARDUSAN, terlepas dari isi dan penulis bukunya, ia membeli sekitar 20 kardus buku ukuran besar dengan harga 1 juta rupiah.

Lantas ia mengikuti pamrean buku di Jogja. Ia lantas menjual buku dengan harga yang sangat murah, sekitar 5.000-50.000. Ia menjual buku itu berdasarkan insting dan kondisi buku saja. Tak disangka jualannya laku keras. Sampai beberapa tahun kemudian ia bisa membuka sebuah gerai toko di dekat UIN Sunan Kali Jaga Jogja di sebelah Social Agency.

Tapi saat saya datang pada hari pertama pameran buku gerai Yusuf belum buka. Baru pada hari kedua mereka buka. Nah ini dia salah satu foto gerai dari Yusuf Agency. Lihat harga yang tertera? Anying sekali kan? Di tumpukan harga buku 5.000 itu saya menemukan karya klasik Gabriel Garcia Marquez yang berjudul Calidas, The Space Betwen Us karya Thrity Umrigar, Puisi Ajip Rosidi dan The Picture of Dorian Gray karya Oscar Wilde.

Di satu sisi saya senang karena bisa membeli buku-buku kanon tadi dengan harga murah. Namun di sisi lain saya muntab dan jengah karena buku tidak dihargai secara semestinya. Saya pernah membaca kegelisahan semacam ini juga dirasakan oleh Alfathri Adlin. Salah satu mantan redaktur jalasutra, ia kesal karena masyarakat Indonesia suka sekali membeli barang mahal semacam gadget hanya untuk gaya-gayaan. Namun enggan sekali membeli buku yang relatif lebih murah untuk pengetahuan. Saya selalu meyakini, bangsa yang gagal memaknai nilai buku sebagai cara perubahan sosial, maka bangsa itu akan hancur segera.

Di Yusuf Agency sebenarnya ada beberapa buku yang sangat menarik. Seperti sejarah keagamaan dunia versi Lux, buku tentang fremasonary di Indonesia dan sebuah buku karya Maman S Mahayana tentang kritik cerpen.Tapi karena keterbatasan uang yang saya miliki, saya terpaksa menghemat keuangan saya dan beralih pada gerai toko berikutnya. Di sana saya menemukan buku klasik Naguib Mahfouz yang berjudul Lelaki dalam Pasungan, sebuah buku novel Ernest Hemmingway dan buku tentang laporan kompas mengenai orang Tionghoa. Dengan uang 25.000 saja saya bisa membawa semua buku itu pulang.

Di toko berikutnya saya menemukan buku terbaru dari begawan kajian budaya dan posmodernisme Indonesia, Yasraf Amir Pilliang, Multiplisitas dan Diferensiasi. Tanpa ragu saya menawar buku itu. Kebetulan ada teman saya yang datang, Qomar, seorang pemain futsal dan wining eleven kelas wahid. Saya paksa dia untuk membeli buku itu. Dia setuju meskipun awalnya enggan. Tentu saja saya ingin dia membeli biar suatu saat saya bisa meminjamnya hehe.

Di tempat yang sama saya juga menemukan buku klasik dari Anne Frank. Seorang gadis yahudi yang dikenal dunia karena catatan hariannya. Ia meninggal di kamp konsentrasi Naxi Jerman. Selain itu saya juga menemukan sebuah buku Novel yang berjudul Saudagar Buku Dari Kabul karya Asne Seierstad. Hari itu saya membeli banyak buku. Di bawah ini gerai buku itu.




Ini hasil perburuan saya hari itu.

Sebenarnya di rumah saya memiliki beberapa buku. Well, saya memang sangat menyukai buku. Jika kalian bertanya apa semua buku itu saya baca. Jawabannya iya. Jika anda tanya sekali lagi apakah saya hapal dan ingat isi buku itu. Tentu saja tidak. Beberapa buku itu saya beli karena kebutuhan riset tulisan. Beberapa karena memiliki nilai historis dan yang lain karena saya sangat suka buku itu.

Kegemaran saya membaca mungkin adalah warisan dari Ibu dan Bapak saya. Ibu saya adalah penggemar berat karya Ko Ping Ho. Di rumah saya yang lama kami punya lengkap semua bukunya. Sedangkan bapak saya, sebagai muhamadiyin, mengoleksi banyak sekali buku-buku kajian hadis dan pemikiran dari timur tengah. Pernah ada cerita lucu saat bapak saya menemukan buku Irsyad Manji dan Ali Syariati di kamar. Bapak mendudukan saya dan bertanya dengan serius.

"Awakmu sik islam kan?"

"Iyo," jawab saya heran.

"Isih percoyo nabi Muhammad kan?" lanjutnya.

"Iyo, opo'o pak?"

"kok Moco buku iki," sambil menunjuk buku itu.

Sontak saya tertawa lebar. Saya bilang saja buku-buku itu hanya buku bacaan ringan. Tak menjadikan saya liberal atau syiah. Bapak belum percaya, dia minta saya buang buku itu. Tentu saya menolak, kami sempat bersitegang tapi akhirnya dia menyerah. Buat saya buku, terlepas pengarangnya siapa, tak punya dosa. Bukan salah J.D Sallinger jika kemudian Lee Harvey Oswald, seorang pembunuh, mengakhiri John F Kennedy karena membaca cathcer in the rye. Buku adalah benda mati, manusia lah yang melakukan interpertasi terhadapnya.

Saya hanya punya satu lemari buku. Sisanya tak cukup saya taruh di meja belajar saya. Ini dia buku-buku itu. Terakhir saya ingat saya punya sekitar 300 an buku. Gabungan koleksi warisan dari punya bapak dan kakak saya. Ini dia mereka.


Kumpulan buku yang berantakan sempat mau dikilokan

Lalu saya kadang bertanya. Buat apa buku sedemikian banyak? Tak membuat saya lulus tepat waktu apalagi dapat pacar. Dalam diam saya seringkali merutuki kegemaran saya yang satu ini. Bagaimana tidak? Seringkali saya harus menghemat dengan tidak makan dan jajan, dimana hal ini hobi saya, untuk membeli buku. Apalagi jika buku itu hardcover dan langka sudah pasti akan mahal. Belum lagi jika buku itu tak ada di Jember, terpaksa saya harus pergi ke Jogja atau surabaya untuk mencari buku itu. Well, i think i'm mad!

*buku sepertinya adalah kutukan cinta saya yang pertama. Entah dengan anda.